Showing posts with label Arab Saudi. Show all posts
Showing posts with label Arab Saudi. Show all posts

Apr 5, 2017

Umroh Mandiri

April 05, 2017 1 Comments
Dulu saya menyebutnya umroh backpacker. Tapi setiap terdengar orang lain kok kesannya bakal keleleran ga punya tempat bersandar yang penting bisa pergi ke masjid. Tak jarang timbul pertanyaan tidurnya dimana, makannya gimana, apa semua cari sendiri? Saya pun membayangkan seperti itu. Seperti kalau backpacking ke negara sebelah.

Beberapa kali diajak temen untuk umroh backpacker saat nongol si tiket promo turun drastis, tapi sering terbentur cuti. Maklum tuan putri hanya punya jatah 12 hari setahun dan sering dibagi untuk berbagai keperluan seperti tugas dari Allah untuk menikmati dunia.

Banyak nasehat dari teman-teman "Kalau sekedar jalan-jalan sih boleh, tapi untuk ibadah jangan yang backpacker donk". Emang backpacker tuh seperti apa? Kalau saya mengartikan pejalan mandiri yang tidak memakai travel agen, bukan seperti borjuis sossialitah unyu-unyu, bukan pejalan seirit mungkin yang bisa sampai kemana-mana melalui jalur terjal melintang kawat berduri makin sengsara makin disebut backpacker sejati. Eits mau jalan-jalan apa menyiksa diri. Jadi lupakan. Intinya berangkat sendiri pakai nyali doank, mau jalur mahal atau murah ya tergantung selera.

Kembali ke umroh. Ternyata yang dikatakan umroh backpacker setelah dijalani ya bukan backpacker seperti yang dikira kebanyakan orang. Mungkin akan lebih cucok disebut umroh mandiri. Agar tidak membayangkan pergi umroh dengan menggendong ransel butut. Kenyataannya persis seperti umroh menggunakan travel agen pada umumnya hanya bedanya beli tiket pesawat sendiri.

Ceritanya begini. Suatu pagi yang cerah sekitar jam 10 pagi di bulan Agustus, saya buka pesbuk grup backpacker, sekedar cari info ya kali aja bikin pinter. Tiba-tiba ada yang share tiket murah KL-Jeddah 600 ribuan periode terbang antara bulan Januari - April tahun berikutnya. Hanya 1,3 jete pulang pergi Apaahh?? Lebih mahalan tiket ke Jogja waktu saya pulang lebaran. Gimana ga kebakaran jenggot. Meluncurlah jempol saya ke web yang dimaksud dan ternyata benar adanya. Di grup pun sudah banyak yang berhasil issued.

Sambil utak-atik booking jadi mikir juga, sepertinya buat wanita mustahil bisa pergi umroh sendiri. Secara usia di bawah 45 tahun harus pakai mahrom. Tapi gapapa lah teman bisa cari belakangan yang penting beli dulu, bisa berangkat atau ga urusan nanti. Eh ga taunya banyak masalah, sudah masukin data pas waktunya payment error. Dicoba berkali-kali tetap ga bergerak. Yo wes lah hoax x selamat deh buat yang beruntung. Setelah itu lupa begitu saja saya tinggal kerja masuk siang...

Pulang kerja jam 10 malem saya meluncur ke pesbuk lagi. Mak plenggong! Ternyata banyaaaakkk banget yang berhasil. Waduh!!!! Ketinggalan jaman. Seketika kaki lemes. Masih adakah satuuuu aja tiket tersisa. Please sudah naik 6-10jt. Hiks! Ga pantang menyerah donk masih lanjut coba lagi dan coba lagi. Untuk tanggal berapanya ga peduli lagi. Begitu harga nongol langsung klik. Giliran payment kadang harganya jadi 24jt, 36jt bahh apa pula ini. Sampai ga terasa waktu bergerak ke jam 00.30 weibe. Baiklah ternyata bukan rejeki saya. Lalu cuci muka ke kamar mandi, lanjut pakai cream-cream pengawet, matiin lampu dan merebahkan diri. 

Rasanya masih berat meletakkan hp sebelum merem, masih pengen coba sekali lagi kalau ga berhasil ya udah bukan rejeki. Klik klik klik klik... Jeddeeerr.. Silahkan transfer 1,3jt ke nomer rekening ini sampai pukul... Entahlah ga dibaca sampai selesai. Langsung loncat ganti baju ambil atm dan lari keluar. Tuan putri masih udik ga punya e-banking. Sambil dzikir baca-baca doa yang dihafal, jalan setengah lari lewat bawah pohon mangga yang gelap. Deg-degan juga hampir jam 1 malem masih keluyuran ke atm pula.

Proses tranfer selesai dan 2 menit kemudian masuk notifikasi e-ticket anda telah terbit. Hwaaa... Alhamdulillah Ya Allah berhasil... Masih terbengong-bengong beneran ini tuh mau umroh???

Keesokan harinya dan selanjutnya rajin tanya ke grup, adakah yang punya tiket untuk tanggal 15-22 Februari? Bareng donkk... Ternyata ada, saya... saya... saya... Makin hari makin banyak sampai kira-kira bulan November terkumpul 54 orang dari berbagai kota dan ga ada satu pun yang saya kenal di dunia nyata.

Lalu dibentuklah grup whatsaap untuk koordinasi beli LA (land arrangement) mau yang seperti apa dan ke travel agen yang mana. Setelah berunding terpilihlah salah satu travel agen di Jakarta dengan harga 385$ + visa 90$. Dengan fasilitas bus antar jemput dari dan ke airport, city tour, hotel bintang 3, makan 3 x sehari, muthowif, air zam-zam 5 liter dan lain-lain persis seperti travel agen pada umumnya. Sebenarnya banyak pilihan harga mau bintang 4 5 atau kejora tergantung selera. Ada juga pernak pernik perlengkapan seperti seragam batik, koper, buku manasik, slayer seharga 700 ribu tapi opsional boleh beli boleh tidak, saya memilih tidak... Tau kan alasannya hihihi...

Sedangkan berkas-berkas yang diperlukan untuk membuat visa seperti paspor dan lain-lain, cukup mengirimkan lewat pos atau diantar langsung ke rumah bapaknya. Begitu juga setelah visa selesai akan dikirim ke alamat masing-masing atau diambil sendiri. Praktis bukan. Untuk manasik diadakan serentak di Jakarta bareng dengan grup-grup lain yang memakai jasa bapak itu. Saya usahakan datang setidaknya agar kenal dengan teman segrup.

Tiba dihari yang ditunggu-tunggu. Kami menentukan tempat meeting point di KLIA depan mekdi untuk membagikan name tag. Karena berangkat dari kota masing-masing ga serentak. Ada yang berangkat sehari sebelumnya dan ada yang pagi. Akhirnya bisa terkumpul semua di ruang tunggu dan kenalan beberapa saat sebelum naik pesawat. Selanjutnya perjalanan umroh berjalan lancar sampai pulang hanya ada sedikit drama dengan bagasi saat pulang. Nanti dicerita berikutnya .




Inilah perincian biayanya
- Tiket Jkt - KL PP : Rp 1.200.000
- Tiket KL - Jeddah PP : Rp 1.300.000
- LA + visa : 475$ = Rp 6.400.000
- Vaksin Meningitis : Rp 300.000
- Mahrom : Rp 500.000
- Manasik : Rp 100.000

Totalin aja, habisnya segitu
Alhamdulillah...
Semoga yang udah punya niat dilancarkan Allah hingga sampai ke Baitullah ya, Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

Mar 13, 2015

Cerita Dari Tanah Suci

March 13, 2015 4 Comments
Menyimak pengalaman orang saat berada di tanah suci, kadang seperti sesuatu yang sulit dipercaya. Masa sih? Kok Bisa? Ya memang benar adanya. Begitulah dahsyatnya kekuasaan Allah. Perbuatan dan perkataan apapun entah baik atau buruk begitu cepatnya akan mendapat balasan dari-Nya. Wallahualam saya sendiri beberapa kali pernah merasakan. Dikira hanya berlaku buat jamaah haji ternyata umroh pun juga begitu.

Saat di Madinah beberapa hari saya tidak pernah bermasalah meletakkan sandal di rak. Asalkan hafal nomer pintu dan raknya pasti tidak susah menemukannya lagi. Tapi hari terakhir sebelum pindah ke Mekah saya meletakkan sandal sambil bercanda dengan teman “Di sini mah sandal ga bakal ilang”. Setelah itu jadi membayangkan seandainya sandal hilang pulangnya gimana ya?. Ternyata benar saat pulang sandal tidak ada. Padahal disatukan dengan teman-teman yang lain berempat. Hanya tersisa sandalnya ibu-ibu, saya berdua teman sesama jomblo harus nyeker pulang ke hotel sambil panas-panasan.

Pernah iseng bareng teman di lift hotel. Kebiasaan orang Indonesia kalau antri lift suka dorong-dorongan tidak sabar. Saat itu kami bareng dengan jamaah di lantai 3 dan 4, hanya tersisa kami berdua yang akan ke lantai 7 tapi mencet tombol sampai lantai 10 sehingga akan bergerak terus ke atas dan berhenti di setiap lantai. Padahal di bawah masih ada yang antri. Dua hari kemudian setelah pindah ke Mekah, tidak ada yang iseng atau apa, tapi lift yang kami naiki tiba-tiba jatuh. BREGGGGG!!!! Baju saya ketumpahan kopi yang dibawa seorang bapak. Astaghfirullahaladzhim… Seketika gemetar ingat keisengan di Madinah. Kapok banget Ya Allah tidak akan pecicilan lagi. Kapoookk. Ampun Ya Allah.

Sholat di Masjidil Haram tenang sekali tidak banyak suara anak kecil nangis seperti di Masjid Nabawi. Saya membatin “Disini kok ga ada anak kecil nangis ya”. Eh pas sholat-sholat berikutnya ada saja anak nangis teriak-teriak malah ada yang persis di sebelah saya.

Pernah di sebelah saya entah orang mana, di depannya ada ibu-ibu Turki berbadan gede. Rakaat pertama masih lancar, rakaat kedua beliau susah berdiri dan melanjutkan sambil duduk. Tapi duduknya terlalu ke belakang sehingga menghalangi orang di sebelah saya untuk sujud. Jadi harus mendorong pantat ibu gede itu tapi karena terlalu gede susah bergeser sedikitpun dan sujud di tempat seadanya hampir mencium pantat orang. Selesai sholat beliau marah-marah menegur ibu Turki itu. Saya ketawa melihatnya. Tiba-tiba saat sholat berikutnya saya mengalami hal yang sama persis, susah sujud ada pantat gede di depan menghalangi. Astaghfirullahaladzhim... Tuh kan gara-gara menertawakan orang...

Melihat banyak burung berterbangan di atas Ka’bah, saya hanya berpikir “Burung segitu banyak apa ga ada yang buang kotoran ya?” karena Masjidil Haram selalu bersih tidak ada kotoran burung. Tak berapa lama tiba-tiba melihat kotoran burung yang sudah kering menempel di atap lantai satu. Jalan beberapa langkah melihat lagi, jalan sebentar melihat lagi terus saja sampai berkali-kali. Bahkan ada yang masih basah. Saya berdoa “Ya Allah sudah cukup jangan tunjukkan kotoran burung lagi”. Benar saja tidak pernah melihatnya lagi.

Tenggorokan sering terasa kering jadi harus sering minum. Tapi setelah minum selalu beser. Paling males terasa pengen pipis saat di dalam masjid. Masjidnya besar sekali kadang muter cari toilet tidak ketemu. Jadi mending ditahan sampai pulang ke hotel. Sejak itu sebelum minum air zam-zam selalu saya tambahkan doa “Ya Allah mohon jangan dikasih beser” dan benar saja selalu kerasa pengen pipis jika sudah sampai di hotel. Alhamdulillah.

Cerita dari seorang teman, sebelum berangkat umroh beliau berniat akan mengutamakan ibadah tidak akan belanja-belanja. Ternyata baru sehari sampai di Madinah diminta tolong temannya buat anter belanja. Rupanya jadi tergiur dan belanja juga. Eh pulangnya tersesat sampai 2 jam tidak ketemu jalan ke hotel dan ke masjid padahal jaraknya tidak seberapa jauh. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya ketemu tapi sampai di masjid kakinya sakit luar biasa. Sholat berikutnya tidak bisa ikut ke masjid. Lalu nangis memohon ampun kepada Allah sambil mencuci kakinya dengan air zam-zam dan Alhamdulillah sembuh.

Satu lagi cerita teman sekamar, kami hendak ke sholat ke masjid. Sebutlah Ibu Dian beliau akan bareng suaminya yang kamarnya bersebelahan dengan kamar kami. Kami pergi duluan. Ternyata suaminya tidak jadi berangkat dan Ibu Dian nekad berangkat sendiri.

"Emang berani?" tanya suaminya. 
"Berani" jawabnya dengan perasaan kesal. 

Tak taunya pulang dari masjid beliau tersesat sampai dua jam tidak ketemu jalan pulang. Padahal jarak hotel dengan halaman Masjidil Haram hanya 100 meter. Atap hotelnya pun terlihat dari pintu 1 King Abdul Aziz. Tapi kata beliau benar-benar lupa dan tidak melihat hotel itu. Akhirnya kembali ke masjid nangis sambil berdoa kepada Allah minta ditunjukkan jalan pulang, setelah itu baru kelihatan hotelnya "Ternyata deket banget". Sampai di hotel beliau nangis gemetaran.

Saya dan Ain teman iseng.

Doa yang dipanjatkan disana katanya akan dikabulkan. Saya berdoa pengen ke tanah suci lagi bersama ibu baik pergi haji ataupun umroh, alhamdulillah 2 tahun kemudian diberi kesempatan umroh lagi bersama ibu. Ada juga doa-doa yang lain yang terkabul tapi rahasia ah hehehe...

Suatu hari saya, ibu dan nenek teman sekamar, duduk di Masjid Nabawi selesai sholat dhuha. Tiba-tiba ada seorang ibu dari Indonesia yang terlihat jalan terburu-buru hendak ke Raudhah. Kami coba mengikutinya dan ternyata Raudhah masih dibuka. Saat itu jam 10.15, jika sampai jam 11.00 belum bisa masuk, kami akan balik ke hotel karena belum mandi ikhrom. Selepas dzuhur harus berangkat ke Mekah. Ternyata tidak sampai 30 menit bisa masuk ke Raudhah dengan gampang sekali tidak berdesakkan seperti sebelum-sebelumnya. Awalnya susah sekali tidak ada tempat sholat tergeser lagi tergeser lagi. Jangankan sholat berdiri saja susah. Saya berdoa dalam hati " Ya Allah mohon berikan kami tempat sholat". Dan seketika orang-orang disekitar kami seperti minggir sendiri-sendiri sehingga kami bisa sholat dengan membuat shaf bertiga. Seandainya di depan dibuat 1 shaf lagipun masih bisa. Benar-benar merinding begitu kecilnya Raudhah, taman surga tempat mustajab yang diinginkan oleh umat muslim di seluruh dunia, saat itu terasa longgar sekali. Kami bisa sholat dengan tenang tanpa tersenggol oleh jamaah lain. Subhanallah benar-benar kuasa Allah. Tepat jam 11.00 kami kembali ke hotel dengan perasaan seperti mimpi.

Selain pengalaman-pengalaman diatas ada juga pengalaman lucu. Saat saya, ibu dan nenek teman sekamar sholat subuh ke Masjid Nabawi bersama Mbak Ida, ibu dan adenya. Kami duduk tidak satu shaf tapi berdekatan sehingga pulangnya masih bisa bersama. Ibu menggandeng nenek, saya mengikuti di belakangnya. Ibu Mbak Ida digandeng adenya diikuti Mbak Ida dari belakang. Tiba-tiba karena berdesakan saya kehilangan jejak ibu dan malah mengikuti ibunya Mbak Ida. Akhirnya misah mencari ibu tapi malah ketemu dengan Mbak Ida.

"Mbak ibu saya mana ya?"
"Tadi ada di depan gw, gw juga nyari emak gw mana ya?"
"Tadi juga ada di depan saya mbak"
"Waduh gimana ini emak kita ilang"
"Sandal saya dibawa ibu mbak"
"Sama gw juga"
"Gimana sih mbak ga bisa njagain ibunya"
"Lo juga ga bisa jagain ibunya" hahaha...

Kami mencari ke segala arah tidak juga melihat beliau-beliau semua. Sekian lama menunggu di halaman masjid akhirnya kami berdua pulang ke hotel sambil nyeker. Kami langsung ke restoran dan rupanya beliau semua sudah berada disana.

"Tadi nyasar ga bu?"
"Sedikit"
Hiks.. Kasian :(

Waktu di Mekah pulang dari masjid saya pernah kehilangan ibu juga. Saya pegang mukenanya dari belakang, hanya sebentar sekali ditinggal melirik cowok ganteng tau-tau kok jadi megang mukenanya orang. Sumpah ganteng bangeeett. Dan lagi-lagi ketemu dengan Mbak Ida yang juga kehilangan ibunya gara-gara lihat pedagang. Entah pedagang atau dagangannya yang dilihat.

Paling berkesan lagi, kami segrup kebanyakan manula dari 26 orang hanya beberapa saja yang masih muda termasuk saya (ciee..masih muda ya). Semua kompak sekali saling menjaga satu sama lain. Nurut semua tidak ada yang ketinggalan karena kebanyakan belanja. Ada nenek-nenek yang ribut mulu dengan anaknya, ada sepasang kakek nenek yang biasa kami panggil pak haji dan bu haji. Pak haji suka menghilang tapi tiba waktunya berangkat tiba-tiba nongol sendiri. Sedangkan bu haji, sandalnya dibawa siapa, tasnya dibawa siapa, handphonenya dibawa siapa, orangnya tidak ada. Kalau ketemu teman segrup senangnya luar biasa. "Alhamdulillah inna ma'al yusri yusron, untung ketemu neng ibu takut ga bisa pulang ".

Saya, Ibunya Mbak Ida, Nenek, Ibu dan Mbak Ida

Jika mengingat semuanya rindu sekali ingin kembali lagi ke tanah suci. Semoga suatu saat Allah memberikan kesempatan buat kita semua untuk pergi haji ataupun umroh. Aamiin Ya Robbal Alamin. Dan semoga semua ini bisa menjadi pelajaran untuk senantiasa menundukkan diri kepada Allah SWT dimanapun dan kapanpun. Insya Allah.