Showing posts with label Norway. Show all posts
Showing posts with label Norway. Show all posts

Nov 20, 2018

Anak Kost Di Kapal Pesiar

November 20, 2018 2 Comments
Jam 22.00 waktu Tromso saya dan Amel pamit dari hotel. Smart Hotel Tromso. Setelah seharian titip koper dan numpang ngemper di lobby.

"Jam berapa kapal kalian?" tanya mbak resepsionis.
"Jam 01.30 mbak"
"Mending tunggu disini aja, jalan kesitu hanya 10 menit"
"Kata website jam 23.00 sudah bisa check in"
"Ya udah sejam lagi aja kalian kesana, diluar dingin"
"Gak apa-apa mbak kita nunggu disana aja"

Maklum takut telat. Takut proses check in nya lama. Mending menunggu di pelabuhan biar tenang. Suhu di luar minus 14 derajad. Tapi lumayan bersahabat tidak berangin dan tidak hujan salju. Salju sisa hujan seharian masih menumpuk di segala tempat. Menghalangi roda koper berputar sehingga semakin berat untuk digeret.

Sampai di pelabuhan, petunjuknya mengarahkan ke tempat terbuka di pinggir pantai. Tidak ada ruang tunggu maupun kantor. Tidak ada bangunan apapun hanya pelataran dibeton. Tidak ada pula kapal yang bersandar. "Lha trus ruang tunggunya dimana? Mosok kapal pesiar gak punya ruang tunggu, kalah dengan kapal roro di Merak" Tanya kemana ya? Entahlah tidak ada orang. Sepiiii...

Ditengah kebingungan, tiba-tiba angin datang disertai butiran salju turun dari langit. Semakin lama semakin lebat dan menghalangi jarak pandang. Dinginnya menusuk tulang. Badan membeku, menggigil, hidung meler dan pusing. Coba ya tadi dengarkan saran mbak resepsionis pasti tak akan jadi gembel begini. Pertama naik kapal pesiar pakai drama keleleran bok.

Amel sebelumnya pernah pelesiran dengan orang tuanya dari Singapura ke Thailand naik kapal pesiar. Menurutnya tidak ada acara membingungkan. Seperti biasa masuk ke pelabuhan, check in, menunggu di lounge mewah lalu naik ke kapal. Ya seperti difilm-film gitu deh.

Hujan salju semakin lebat. Bergumpal-gumpal. Nyelip diantara lipatan jaket, syal dan cupluk. Ajegile maaaakkk dinginnyaaaa...!! Satu-satunya tempat yang bisa dipakai berteduh hanya teras Hotel Scandic. Tidak jauh dari pelabuhan. Kami berteduh disana ternyata tetap tidak bisa melawan angin salju yang berhembus dari segala arah. Berlindung di balik tembok tetap dikejar salju. Tangan dan muka perih semua. Sadis.

Kami masuk ke lorong antara pintu masuk dan pintu lobby hotel. Lumayan bisa berlindung dari angin walaupun tidak terlalu hangat. Koper ditinggal di luar. Percaya tidak akan diambil orang. Norwegia negara aman negara kaya mana mau koper butut begitu.

Amel mencoba bertanya ke resepsionis, memastikan tempat untuk menunggu kapal. Jangan-jangan kami salah. Jangan-jangan kapalnya batal berangkat. Kenapa sudah sejam lewat belum juga ada penampakan. Kata mas resepsionis memang benar tempat tunggunya di depan Hotel Scandic. Tunggu saja kapalnya belum datang. Biasanya sudah datang tapi tampaknya telat.

Beberapa kali saya mengecek ke pinggir pantai belum juga ada penampakan. Hujan salju masih belum berhenti. Sekitar jam 00.30 barulah terlihat ada kapal besar menepi. Lampunya gemerlapan bagaikan gedung tinggi mengambang tengah laut. Semakin mendekat ke pelabuhan terbaca tulisan di bawahnya HURTIGRUTEN - MS Vesteralen. Ya, itulah kapal yang kami tunggu-tunggu, yang membuat kami bermandikan salju ditengah malam.

Hurtigruten adalah perusahaan kapal pesiar Norwegia yang melayani rute pantai barat dan utara Norwegia antara Bergen sampai kota yang berbatasan dengan Rusia yaitu Kirkenes. Lama perjalanan 12 hari pulang pergi. Kami tidak mengambil penuh rute ini hanya dari Tromso ke Svolvaer dengan lama perjalanan 17 jam. Selain di Norwegia, Hurtigruten juga mengoperasikan kapal pesiar di area lain seperti Greenland, Kanada, Amerika Selatan, Islandia, Svalbard dan Antartika.

Kapal semakin menepi hujan salju semakin lebat. Antrian penumpang mulai berderet tak mempedulikan serbuk es mulai menutupi Kota Tromso. Sering kali harus menggerakkan badan melawan dingin dan mengibaskan es yang menumpuk di badan.

Pintu di lambung kapal mulai dibuka. Setelah mendahulukan penumpang yang turun kami dipersilahkan naik ke kapal lalu antri check in di dalam. Amel menyodorkan tiket ditukar dengan kunci kamar mirip atm bertulisan nama kami dan kota tujuan. Kamar berada di lantai 4 nomer 428 di ujung lumayan jauh. Semua lantai dilapisi karpet seperti hotel berbintang.

Banyak fasilitas di kapal ini seperti sauna, lounge, tempat pertunjukan, souvenir shop, cafe dan restoran. Tidak ada yang ingin saya lakukan malam itu selain tidur dan tidur. Tak lupa mengaktifkan radio supaya terdengar pengumuman jika tiba-tiba muncul Aurora Borealis. Walaupun rasanya mustahil karena cuaca tidak cerah. Tapi ya siapa tau terjadi keajaiban. Sensasi naik kapal pesiar di daerah kutub saat musim dingin salah satunya melihat Aurora di malam hari. Orang bule menyebutnya Northen of Lights.

Pagi hari saya terbangun 30 menit sebelum alarm subuh berbunyi. Mata langsung kinclong biarpun baru tidur 2 jam. Masih merasakan efek jetlag. Selama di Scandinavia mata saya tetap terbiasa dengan jam di Indonesia. Masih sore sudah ngantuk, dini hari kinclong mencorong. Sedangkan Amel sudah terbiasa karena beberapa bulan terakhir sering berada di Eropa. Pagi itu masih pulas di dalam selimutnya tidak terusik dengan suara grusak grusuk saya yang sedang siap-siap sholat subuh.

Selesai subuh saya merebus air membuat minuman jahe dan mengisi termosnya Amel. Lalu masak ala anak kost, bihun rebus bekal dari Indonesia yang baunya bisa membangunkan Amel. Sisa air panas dipakai Amel untuk menyeduh bubur instant. Biarpun dapat jatah breakfast di restoran tapi bekal makanan tetap harus dimasak. Selain buat ganjel juga agar mengurangi bawaan. Sekalian untuk makan siang saya memasak nasi liwet dengan bahan seadanya, dicampur teri dan bawang putih ditambah sedikit garam. Lauk masih punya abon dan kering kentang, nanti bisa cari tambahan saat breakfast di restoran kata Amel bisa dibungkus. Perut Indonesia kalau belum makan nasi artinya belum makan.

Lihat Sunrise sebelum breakfast, dikira pakai jaket seadanya cukup ternyata harus didouble.

Breakfast menyediakan beragam menu. Kebarat-baratan semua tentunya dan tidak ada nasi. Saya mengambil jus buah, croisant, sereal, telur rebus, salad sayur dan sarden bermacam-macam ikan. Rasanya mirip sarden kalengan tapi lebih enak. Anak kost sudah menyiapkan tupperware buat ngebungkus. Tapi noleh ke kanan-kiri kok gak enak, gak jadi deh hahaha... Tapi pelan-pelan bisa mengantongi 3 telur rebus dan jeruk. Selagi perut masih muat dicoba semua sampai sekenyang-kenyangnya.

View sepanjang jalan "Gunung Digulain".
 
Penumpangnya oppa oppa dan omma omma semua, jarang ada brondong.

Selesai breakfast keliling melihat isi kapal. Kapal MS Verteralen diluncurkan tahun 1983 dengan panjang 108 meter, bisa mengangkut 510 penumpang. Kapal milik Hurtigruten memang tidak terlalu besar dibanding dengan kapal yang saya naiki setelahnya, dari Stockholm ke Estonia dan dari Estonia ke Helsinki yaitu Tallink-Silja Line. Nanti ya di cerita berikutnya. Fasilitas di dalamnya juga tidak selengkap Tallink Silja karena lebih mengutamakan view di luar daripada kegiatan di dalam kapal. Pertunjukan utama di Hurtigruten adalah menikmati pemandangan alam dari balik kaca yaitu fjord adalah semacam teluk yang berasal dari lelehan gletser, gunung es dan rumah berwarna-warni khas Scandinavia. Perjalanan ini bahkan disebut-sebut sebagai "The World's Most Beautiful Sea Voyage".

Kapal ini akan berhenti di beberapa tempat. Salah satunya adalah di Storkmarknes kota kecil yang berselimut salju seperti di negeri dongeng. Penumpang diberi waktu 1 jam untuk mengunjungi Museum Hurtigruten. Di sini, Kapten Richard With mendirikan Perusahaan Hurtigruten pada tahun 1893 dan kapal pertama disebut MS Vesteralen, di mana saat ini kami berlayar pada generasi ke-4. Selain museum juga dapat mengunjungi kapal MS Finnmarken yang dibangun pada tahun 1956.

Keluar masuk kapal wajib menunjukkan kartu dan discan oleh petugas. Selanjutkan kami banyak menghabiskan waktu di deck depan dengan view yang kurang lebih masih sama "Gunung Digulain". Disini waktu terasa sangat lambat. Mata dari mulai seger, ngantuk, kinclong, ngantuk lagi masih dengan pemandangan yang sama. Memang indah sekali, negeri dongeng berselimut salju yang selama ini hanya lihat di film sekarang bisa dinikmati sejauh mata memandang. Sampai sampai timbul rasa ingin segera turun. Tak tahan juga akhirnya tanya ke Amel yang sedang mengutak-atik hpnya.

"Mel lo jenuh gak sih?"
"Jenuh gw pengen cepetan turun"

Sudah ketebak. Saya dan Amel punya hobby yang hampir sama suka jalan serampangan kemana saja dan tidak betah diam di tempat. Diam di kapal seharian yang kemana-mana mentok berasa mati gaya sampai garing njengking. Beruntung sinyal masih okey hanya sesekali tersendat saat kapal menjauh ke tengah. Wifi disini bayar 50 NOK 12 jam, daripada bengong ya terpaksa beli. Kebayanglah gimana jika ikut paket one-way 6 hari atau round-trip 12 hari. Ikut yang 17 jam aja berasa laaama sekali. Alhamdulillah sudah lebih dari puas...

Oct 18, 2018

Harga Nasi Uduk Di Kutub

October 18, 2018 0 Comments
Gara-gara kedinginan di kutub saya jadi bolak balik masuk ke toko, supermarket dan sebangsanya. Numpang nganget sekaligus survey harga. Tidak heranlah kalau harga disana teramat jauh dibanding dengan negri sendiri, secara memang bukan negara industri apalagi pertanian. Adanya hanya sawah es. Kutub yang saya maksud yaitu di Norwegia utara yang secara geografis memang masuk ke dalam lingkaran kutub utara. Saya berkesempatan pergi ke Tromso dan Kepulauan Lofoten dalam rangka menjalankan tugas dari Allah untuk menikmati dunia.

Perlu diingat Norwegia adalah negara Nordik yang terkenal sebagai negara mahal di Eropa. Konon merupakan negara paling bahagia di dunia. Rating setiap tahunnya hanya naik turun di 5 teratas dengan negara di sebelah sebagai tandingannya. Seperti Finlandia, Denmark, Swedia dan satu lagi agak jauh ke seberang yaitu Swiss. Bahagia karena sekolah gratis, jaminan kesehatan gratis, standar gaji besar, fasilitas umum lengkap dan modern tentunya, pemandangan alam yang sangat bagus serta tingkat kriminalitas yang rendah. Memang nyaman sekali tinggal di negara-negara itu, hanya yang tidak nyaman duitnya, bikin nyeseg, perih, pedes, mual dan gumoh. Ongkos bus dengan jarak 3 km 100 ribu, sup ikan semangkuk 150 ribu, burger sepotong 150 ribu, air minum sebotol 600 ml 50 ribu. Aje gileee... Biaya hidup sehari disana bisa dibelikan bedak apon atau oriplem dari muka sampai kaki, bisa buat modal gegayaan bling-bling di kampung.

Lucu-lucu gemes itu saat ketemu sere di supermarket di daerah Leknes. Hanya 3 bijik kalau dirupiahkan 22 rebuk. Bayangkaaan itu harga lipen saya bisa dipakai antara 6 bulan sampai setahun. Padahal sere kalau di kampung tinggal metik sendiri, minta tetangga atau kalau hanya 3 biji mah suka dikasih gratis ama abang tukang sayur. Jadi kepikiran kalau mau jualan nasi uduk berapa ya sebungkus, secara serenya aja mahal sekali. Coba kita hitung yuk berapa harga bahan dasar untuk membuat nasi uduk disana, yang sekedar ketemu aja ya tidak lengkap seperti di kampung. Selama disana gak pernah melihat bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, lengkuas, ketumbar dan cabe, paling hanya bawang bombay dan paprika.

View depan hotel di Svolvær (Kepulauan Lofoten) saat musim dingin. Saat musim panas banyak rumput hijau tapi sere mungkin tidak bisa tumbuh. Hasil bumi hanyalah ikan, secara memang daerah nelayan.

Beras instan 400 gram : 47 ribu, beras biasa 500 gram : 30 ribu

Santan kelapa sekotak : 68 ribu

Sere tiga biji : 22 ribu

Sambel elek (maksudnya uleg mungkin) sebotol keciill : 54 ribu

Saos sebotol : 69 ribu

Daun bawang seiket : 49 ribu (buat goreng telor)

Telur 6 biji : 45 ribu

Lalapan : 45 ribu

Wortel kecil-kecil seplastik : 30 ribu

Jadi dengan modal harga diatas kira-kira sebungkus nasi uduk dijual berapa? Kalau ada yang kurang lagi misal garem atau merica bubuk bisa minta ke ibu kost, tetangga atau siapalah yang lewat diajak kenalan. Nah semoga ini bisa bermanfaat bagi yang berminat jualan nasi uduk di kutub. Tapi bai the wey kalau jualan disana yang mau beli juga siapa secara orang lewat aja bisa dihitung dengan jari apalagi di kepulauan Lofoten yang kampung nelayan agak pinggiran, sepiii seperti gak ada kehidupan. Saya mah pengen jualan sere aja yang gak usah masak-masak. Bawa sekoper bisa kebeli motor. Tapi lagi-lagi siapa yang mau beliiikk??

Oct 3, 2018

Bodo

October 03, 2018 0 Comments
Selama travelling ke Norwegia ada beberapa teman yang rajin menanyakan kabar. Sampai mana, lagi dimana, gimana dan sebagainya. Walaupun dengan komunikasi yang lumayan tersendat. Selain karena perbedaan zona waktu sekitar 6 jam, juga karena saya hanya mengandalkan wifi gratisan. Saya hanya membalas pesan saat menemukan sinyal.

Lucunya mereka rela browsing sebelum dan sesudah bertanya ke saya. Katanya biar gak bodoh-bodoh amat setidaknya obrolan nyambung. Karena tempat yang saya kunjungi lumayan asing untuk didengar sebagian orang Indonesia. Diantaranya adalah desa nelayan di Kepulauan Lofoten Norwegia Utara. Sebutlah Stokmarknes, Svolvaer, Leknes dan sekitarnya. Sering kali mereka sambil menunjukkan skrinsut dari google map, "Lagi di sini bukan?"

Suatu malam hampir jam 11 waktu setempat saya baru saja check in ke hotel setelah pindahan dari kota sebelumnya naik kapal ferry. Letak hotel sekitar 700 meter dari pelabuhan. Tidak seberapa jauh buat saya tapi harus menggeret koper diantara salju tebal dan badan menggigil, sangat bikin sengsara. Sampai di kamar badan masih kedinginan dan mata mulai lengket. Sesegera mungkin harus meringkuk ke dalam selimut.

Sambil merebahkan badan saya membuka henpon menyambungkan dengan wifi hotel. Tentunya banyak pesan yang masuk dari teman-teman. Salah satunya pertanyaan dari adek Junior yang belum lama kenal "Kakak... Udah sampai mana?" Dengan sisa-sisa tenaga saya hanya menjawab singkat "Bodo" lalu tertidur.

Bangun tidur lumayan banyak pesan dari adek ini dengan nada bersalah.

"Maaf ya kak kalau mengganggu. Aku cuma pengen tau aja dan seneng denger kakak jalan-jalan. Aku jadi banyak pengalaman juga dari cerita kakak. Abis kakak perginya menclak-menclok kemaren ke sini tiba-tiba udah ke situ. Dijawab kalau lagi sempat aja gak apa-apa kak, maaf ya..."

Bingung kenapa adek ini ya? Perasaan dari kemaren baik-baik aja seperti biasa suka bercandaan. Kenapa tiba-tiba aneh. Mungkin kelamaan jawabnya? Entahlah... Jadi ngetik agak panjang cerita ulang.

"Gak apa-apa dek sorry jawabnya telat baru nemu sinyal. Gini ya jadi kemaren dari Tromso pindah ke Lofoten naik cruise sehari semalem, nginep 1 malem di Solvaer, 1 malem di A dan sekarang udah pindah lagi ke Bodo kemaren sore naik kapal ferry, nginep semalem di sini"

"Ooohh... Jadi Bodo itu nama tempat kak????"
"Iya"
"Ya ampun... Kirain kakak lagi marah karena aku bawel nanya-nanya mulu"
"Lha biasanya kan browsing kalau denger tempat baru"
"Iya, tapi aku udah down duluan, aku takut kirain kakak marah trus bilang Bodo, kirain aku yang bodoh banget dijelasin gak ngerti-ngerti huaaa..."

Haduuuhh kasian sekali sih dek hahaha...

Ngomong-ngomong soal Bodo di sini ada kejadian yang beneran bodo banget. Kami jam 4 pagi harus check out dari hotel karena akan ke Oslo pesawat jam 06.00. Letak airport hanya 10 menit memakai kendaraan. Jalan kaki juga kuat asal suhunya tidak ekstrim dan tidak bebawaan berat. Bodo hanya kota kecil.

Kami pesan taksi malam sebelumnya di resepsionis hotel untuk jam 4 pagi. Taunya terlewat jam 04.15 kami baru keluar. Tidak ada taksi yang datang entah sudah pergi atau memang tidak ada. Sepiiiii banget di sekitar hotel. Kebetulan resepsionis tidak buka 24 jam. Jalan kaki memang tidak jauh tapi mengingat waktu boarding yang tinggal sejam lagi tidak memungkinkan... Aaahh... Bodo banget emang bisa-bisanya telat, di negara tepat waktu telat semenit aja bisa fatal.

Kami jalan ke arah airport sambil tak hentinya mengintip ke mobil yang terparkir di pinggir jalan. Barang kali ada orang di dalam dan bisa minta tolong. Rupanya tidak ada orang satu pun. Ya ngapain juga tidur di dalem es.

Syukurlah kami melewati hotel yang agak besar dan di dalam terlihat security sedang berjaga. Lupa hotel apa namanya. Amel lari ke dalam untuk minta bantuan. Saya menjaga koper di luar. Alhamdulillah ibu security itu membantu menelponkan taksi dan mempersilahkan kami untuk menunggu di lobby. Badan saya lumayan meleleh setelah masuk ke dalam karena di luar suhunya -15°C.

Tidak sampai 15 menit taksi datang, mobil berwarna hitam kinclong mirip Alphard. Bapak sopir membantu mengangkatkan koper untuk diletakkan di bagasi. Tak lupa dadah-dadah berterimakasih ke ibu security yang baik hati lalu mobil bergerak meninggalkan hotel. Saya dan Amel duduk manis di belakang sambil was-was melototin argo. Untungnya hanya dekat sekali, tidak sampai 10 menit sudah sampai di airport yang berjarak hanya 2.5 km. Berapakah ongkosnya? Kalau dirupiahkan 335 ribu. Alamaaakk.. Mahalnyaaa. Tapi segitu juga tidak terasa. Masih kalah bahagia dengan tepat waktu sampai di airport sehingga tidak tertinggal pesawat. Alhamdulillah...

Jul 14, 2018

Mahalnya Pipis Di Eropa

July 14, 2018 0 Comments
"Asyik banget sih bisa maen salju..." kata beberapa sahabat saat melihat foto saya berpose ala Princess Elsa di film Frozen. Ketawa ketiwi ngakak sok melempar pasir beku berwarna putih mirip garam tabur di meja makan. Memang fenomena yang jarang atau malah tidak pernah ditemui di negara sendiri ini terlihat indah saat difoto. Tapi taukah sebenarnya apa yang saya rasakan dibalik itu semua? Badan menggigil, hidung meler, kepala pusing, meriang belina, tangan beku, licin, kepleset, lensa kamera dan kacamata berembun... Aarrghh rasanya mau mewek pengen cepat pulang. Paling betah ya diam di cafe minum yang anget-anget dan duduk paling dekat ke penghangat ruangan. Setidaknya 100 ribuan harus melayang demi kehangatan. Tidak ada acara gratis emang punya mbahmu. Nah kalau minuman hangat sudah diolah di dalam tubuh lalu bakal muncul kerepotan yang baru lagi yaitu kebelet pipis. Huaaa....

Urusan kebelet pipis ini yang paling sering menghantui sepanjang jalan. Kedinginan di ruang berAC saja, setidaknya sejam sekali harus bolak balik ke toilet, apalagi di tempat beku ya beser pastinya. Sedangkan toilet umum di Eropa kebanyakan tidak gratis, harus masukin koin dulu pintunya baru bisa kebuka sekitar 50 sen - 1 yuro (1€ = Rp 17.000). Berbayar mahal pun masih mending jika mudah ditemukan, biasanya muter kesana kemari tidak ada. Sekalinya ada kadang tidak ada petugasnya, bahasanya lokal dan tidak tau cara pakainya. Solusi termudah ya cari yang gratisan tapi dengan syarat beli sesuatu dulu di cafe. Sama bae!!!


Bagaimana jika tidak punya koin? Beberapa tempat biasanya menyediakan mesin penukar koin di dekat pintu masuk, kadang juga ada loket khusus untuk bayar langsung ke petugasnya. Bahkan ada yang bayarnya pakai gesek kartu, bisa debit atau kredit. Seperti yang saya temui di Terminal Bus Oslo. Biarpun bahasanya tidak bisa dimengerti tapi gambar ilustrasinya cukup menerangkan. Tinggal digesek lalu muncul ceklist warna ijo dan pintu bisa didorong. Berapakah tagihannya? 20 RIBU. Alamak sekali pipiiiiiissss.....!!!! Maap orang miskin dilarang beser yaa...


Mesin gesek di toilet Terminal Bus Oslo Norway

Jangan dikira toilet mahal itu serba kinclong. Seperti biasa tidak pernah ada bidetnya (semprotan buat cebok). Hanya tersedia tissue gulung. Kadang malah ketemu rejeki jika penghuni sebelumnya tidak beres ngeflushnya, masih meninggalkan benda purbakala di dalam kloset. Belum lagi tissue di tempat sampah yang ketempelan sisa pembuangan, baunya semerbak memenuhi ruangan. Sudah bayar mahal pengennya benar-benar dipakai maksimal, selamaaaa mungkin di dalam toilet biar tidak rugi. Tapi jangankan lama, sebentar aja megap-megap nahan nafas.


Saya pernah suatu hari di Amsterdam, saking kebeletnya masuk ke hotel berbintang pura-pura nanya ke resepsionis, ngobrol sebentar lalu minta ijin ke toilet numpang pipis. Paling suka dengan toilet di hotel pastinya bersih.



Struk bayar ke toilet di Moscow (sekitar 14 - 15 ribu rupiah)

Sekedar tips sebaiknya selalu membawa botol kosong bekas air minum. Jangan lupa sebelum masuk ke toilet isi dengan air bersih, lalu bawa masuk dan buat cebok. Selalu sediakan juga tissue basah di dalam tas. Manfaatkan dengan sangat toilet gratis seperti di airport, hotel, mall, cafe atau restoran sebelum membaur di alam indah nan beku atau kalau mau silahkan pakai popok hahaha...


Botol air model ini paling praktis tidak blepotan

Sejauh saya melangkah, toilet umum yang bersih, gratis dan mudah ditemukan yaitu di Asia adalah di Jepang dan Korea. Toilet Jepang menurut saya paling okey, tombolnya banyaaakk ada flush, semprot gede, semprot kecil, blower, airnya anget, klosetnya dilapisin kain beludru dan macem-macem.

Mar 19, 2018

Lofoten Islands Norway

March 19, 2018 2 Comments
Norway

Kepulauan Lofoten terletak di Norwegia bagian utara yang secara geografis masuk ke dalam Artic Circle. Lofoten terkenal dengan keindahan alamnya yang luar biasa. Pegunungan, pantai, desa nelayan dan fjord (celah sempit semacam teluk di pantai yang berasal dari lelehan gletser atau tumpukan es yang besar).

Lofoten mempunyai iklim yang jauh lebih hangat dibanding bagian lain di dunia pada garis lintang yang sama. Antara bulan Mei sampai pertengahan Juli mengalami Midnight Sun atau matahari bersinar hampir 24 jam. Sementara Aurora Borealis atau disebut Northen Lights dapat dilihat pada malam hari di musim dingin antara bulan September sampai pertengahan April. Namun untuk menikmati keindahannya tergantung pada keberuntungan yang dipengaruhi oleh faktor cuaca. Saat cerah hampir semua tempat di Lofoten bisa terlihat aurora. Selain berburu aurora, hal yang dapat dilakukan di Lofoten diantaranya memancing, bermain ski, sea safari, hiking, caving dan bersepeda.

Moskenes

Pulau-pulau di Lofoten terhubung dengan jembatan atau tunnel sehingga memudahkan transportasi antara pulau yang satu dengan yang lain. Terdapat beberapa armada bus umum dengan hanya beberapa kali keberangkatan per hari. Harus hati-hati dengan jadwalnya karena dihari-hari tertentu ada beberapa bus yang tidak beroperasi. Jika ingin lebih mudah bisa menyewa mobil dan menyetir sendiri.

Kota atau desa yang menjadi tujuan wisata di Lofoten antara lain KabelvÃ¥g, Svolvær, Ã…, Ramberg, Nusfjord, Leknes dan Reine.

View dari dalam bus dari Svolvaer ke Leknes. Saat musim dingin sepanjang jalan disuguhi pemandangan gunung berselimut salju serta pantai yang tenang dan membeku.

View sunset dari dalam bus dari Leknes ke Ã…, nama desa paling irit sedunia hanya 1 huruf. Dibaca "O" seperti baca "Gulo Jowo".

Di setiap pulau terdapat desa-desa nelayan dengan rorbu atau kabin tradisional dengan ciri khas berwarna merah yang merupakan tempat pemondokan nelayan. Banyak rorbu yang disewakan untuk penginapan wisatawan. Selain rorbu salah satu yang menjadi ciri khas dari Lofoten adalah Hjelle atau tempat jemuran ikan cod yang disebut Tørrfisk. Perairan Norwegia kaya akan ikan cod. Puncak penangkapannya pada bulan Januari hingga April ketika gerombolan ikan cod berpindah dari Laut Barentz menuju Vesfjorden. Saat itulah kegiatan memancing menjadi sangat menarik terutama di Lofoten.

Rorbu di Reine

Ikan cod yang belum kering digantung di teras rumah penduduk.
Jemuran ikan cod banyak dijumpai di Lofoten. Foto by Mbak Anna Khristriantri.
Ikan cod kering di Circle K tertulis di bandrol, harga per kg 950 KR x Rp 1800 = Rp 1.710.000,- Wuuaaaajegileeeeyy...

Ada berbagai cara untuk menuju ke Lofoten tentunya penerbangan adalah pilihan yang tercepat. Diantara beberapa pilihan rute yang bisa dilalui adalah : 

1. Dari Oslo penerbangan ke Bodo lalu dari Bodo naik ferry ke Moskenes (kepulauan Lofoten yang paling ujung) atau lanjut penerbangan ke Svolvær (ibukota Lofoten) atau ke Leknes.
2. Dari Oslo penerbangan ke Harstad/Narvik lalu naik bus ke Svolvær.
3. Dari Oslo penerbangan ke Tromso lalu lanjut ke penerbangan ke Svolvær atau bisa juga naik Hurtigruten Cruise.

Hurtigruten Cruise adalah kapal pesiar yang menyusuri sepanjang pesisir garis pantai barat dan utara Norwegia, dimulai dari Bergen sampai ke kota paling ujung yang berbatasan dengan Rusia yaitu Kirkenes lalu kembali lagi ke Bergen. Dengan total perjalanan selama 12 hari dan 11 malam. Cruise akan singgah di beberapa kota atau desa nelayan di sepanjang pantai utara Norwegia. Jika ingin ke Lofoten menggunakan cruise ini bisa mengambil beberapa rute saja yaitu naik dari Tromso ke Svolvær. Saat itu saya pergi bersama Ameilia memilih opsi ini atas saran dari sahabat mbak Anna Kristriantri, sang suhu yang kami contek itinerarynya.

Hurtigruten Cruise. MS Vesteralen singgah 1 jam di Stokmarknes.
View Forjd sepanjang perjalanan saat di Hurtigruten Cruise.
Penginapan kami di rumah Tante Oda di Ã…, booking via Airbnb. Saat itu ada 3 kamar di lantai 3 yang disewakan. Kamar saya dan Ameilia, kamar Babang Kamsun India beserta pasangannya dan kamar mbak bule 2 orang entah dari mana. Tante Oda dan keluarga berada di lantai 2.

Melihat Aurora dari loteng penginapan yang berada tepat di depan jendela kamar. Tujuan utama kami kesini bukan untuk berburu si Tricky Lady ini, kalau ketemu syukur tidak juga tidak apa-apa. Malam itu sekitar jam 21.00 kami sudah ngantuk berat dan tidur seperti biasa. Satu jam kemudian ada suara grudak-gruduk babang dan mbak dari India di kamar sebelah lari-lari ke loteng. "Kamsun..kamsun..." panggil babang ke pasangannya (come soon). Saya terperanjat ikut lari keluar, begitu juga dengan mbak bule berdua di kamar sebelah. Dan ternyata si lady sedang menari-nari diatas kepala kami berwarna hijau kadang menipis kadang menebal. Subhanallah... Indah banget. Sayang sekali saya hanya berbekal Hp jadul dan kamera seadanya jadi tidak bisa menangkapnya dengan jelas. Selama 20 menit menari-nari lalu si lady menghilang. Saya kembali tidur ke kamar. Jam 00.00 ada suara grudak-gruduk lagi, si babang manggil "Kamsun... kamsun..." Saya ngintip dari jendela, kali ini si lady muncul lebih banyak dan lebih jelas. Saya serobot jaket dan kerudung lalu keluar menerobos hawa dingin di loteng. Alhamdulillah Ya Allah kami diberi kesempatan melihat fenomena spektakuler yang tidak akan pernah ditemukan di Indonesia. Terimakasih buat babang kamsun yang telah brisik membangunkan kami. Foto ini dari Hp Iphone partner saya Ameilia.

Aurora adalah fenomena alam yang menyerupai pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer dari sebuah planet sebagai akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh Matahari (angin surya). Di bumi, aurora terjadi di daerah sekitar kutub Utara dan kutub Selatan magnetiknya.

***Dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi...