Showing posts with label Filipina. Show all posts
Showing posts with label Filipina. Show all posts

Apr 12, 2017

Manila Pada Suatu Hari

April 12, 2017 2 Comments
Sore itu hujan deres di Manila. Saya baru saja cek in ke Hostel setelah melalui proses panjang untuk menemukan lokasinya yang nyelip di samping fly over. Di kamar khusus perempuan itu saya mengambil bed di pojok bawah bersebelahan dengan mbak dari Filipina bernama Rizza. Ga banyak yang bisa dilakukan kecuali ngobrol berkenalan dengan seluruh penghuni kamar. Di bed sebelah ada Carol dari China, di atasnya traveller dari Vietnam tapi belum pulang. Di atas bed saya crew hostel yang lagi pulas terbuai mimpi. Satu bed kosong di atasnya Rizza. Kami bercengkerama sampai akhirnya terlelap dengan sendirinya.

Keesokan harinya setelah mandi saya menyeduh mie instant dan cereal bekal dari Indonesia, di dapur lantai paling atas sebelah resepsionis. Ruangan berukuran 2x3 m itu menyediakan kitchen set yang lumayan lengkap diantaranya 3 rice cooker dengan berbagai ukuran, toaster dan microwave. Saya cukup pinjem mug dan sendok lalu nuang air panas dari dispenser.


Sarapan praktis bekal dari kost

Selesai mengganjal perut pakai mie rasa emesge, siaplah saya untuk muterin Manila. Saya akan ke Rizal Park tempat monumen pahlawan nasional Filipina dan ke Intramuros yang merupakan kota tua di Manila. Rizza berpesan hati-hati jangan berpenampilan mencolok, jaga tas baik-baik, jangan banyak ngobrol dengan sembarang orang, jangan naik taksi, cukup naik jeppney atau jalan kaki. Kalau ketauan orang asing katanya bakal dipalak. "Just jeepney or walking, no taksi" kalimat ini diulang berkali-kali buat meyakinkan saya. Takut takut gimana gitu tapi pasrah Allah always with me.

Denger cerita dari para suhu traveller memang kisah scam di Filipina lumayan tinggi. Makanya agak deg-degan saat tiket confirmed. Berhubung penasaran berangkat juga dengan Bismillah. Sampai disana pun ga seseram yang saya bayangkan. Asal ga banyak ngomong pasti dikira orang sana. Secara fisik mirip ama orang Indonesia.

Pagi itu saya berangkat bareng Rizza ke Stasiun Buendia yang berjarak kurang lebih 500 meter dari penginapan. Berbekal selembar peta dan sesekali nanya orang di jalan karena Rizza tidak yakin akan letak stasiun yang tinggal lurus aja. Berhubung asli Filipina pastinya tidak ada kendala dalam menggunakan bahasa lokal. Enak banget serasa punya guide gratis. Namun sayang kami harus berpisah di stasiun karena beda tujuan. Saya ke arah Taft Avenue dan Rizza ke sebaliknya.

Sampai Taft Avenue saya lanjut naik LRT 1 Yellow Line ke United Nation Station. Antrian panjang ke LRT lumayan membuat geleng-geleng karena harus melewati security bersenjata lengkap dan diperiksa satu per satu. Di Manila apapun dijaga security yang membawa senjata laras panjang, entah polisi atau security bahkan di toko atau di gerai fastfood.


Antrian ke LRT mengular sepanjang lantai mall

Keluar dari stasiun banyak di sambut oleh pedagang kaki lima persis kya di Jakarta. Salah satunya adalah pisang goreng yang ditusuk lidi dan dilumuri gula. Kirain gemblong kya di Bogor. Warnanya sangat menggoda. Saya beli 1 tusuk yang berisi 2 potong pisang. Rasanya beneran double sweety, udah pisangnya manis dilumurin gula full sampe ke ujung lidinya. Mak nyiirrr... Bikin gigi ngilu ngilu manja. Orang Filipina suka yang manis manis kyanya, makanya gue laris manis juga disono.. #wuueekkk...



Tadinya ga ngerti nih gorengan apa ngebayanginnya gurih kya seafood atau ayam ternyata mmuuaannisss... Karena kepoto sekalian aja buka kenorakan, saya kalo keluyuran ga pernah bawa dompet, duit cukup diselipin ke tempat yang paling aman. Buat ongkos harian misahin secukupnya diplastik ziplock bekas bungkus kacang. Tuh dilipat lipet sampe dekil... Sering diketawain lho tapi ya woddoamat...

Rizal Park hanya selemparan kolor dari UN Station bisa ditempuh dengan jalan kaki. Saya sempat membaur saat melewati kerumunan orang banyak yang saya pikir orang jualan atau travel fair dan sejenisnya tapi setelah diperhatiin kok sepertinya tempat maen judi atau apalah, banyak undian-undian, tapi ga ngerti juga sih bahasanya tagalog semua. Hiiyy takut..!! Balik badan seketika.

Rizal Park yang juga dikenal sebagai Luneta Park adalah sebuah taman seluas 58 hektar yang dibangun untuk mengenang pahlawan nasional Filipina yaitu Jose Rizal. Di dalamnya terdapat monumen tempat Jose Rizal dieksekusi mati oleh Spanyol pada tahun 1896 saat Filipina masih dijajah oleh Spanyol. Hanya beberapa meter dari tempat eksekusi terdapat monumen dari perunggu dan batu granit setinggi kurang lebih 12 meter yang dijaga oleh polisi konon adalah tempat penyimpanan jenazah Jose Rizal. Di depannya terdapat marka kilometer nol, titik awal pengukuran semua jarak di Filipina. Selain monumen juga terdapat taman Jepang dan Korea, berhubung masuknya pakai acara bayar jadinya dilewatkan, mending ke tempat aslinya aja. Foto di depan rumah orang aja bagus-bagus, gratis, dan asli pastinya.


Joze Rizal National Monument


Tempat eksekusi Pak Jose, masuknya bayar 5 Peso ada guide yang menerangkan


Relief ilustrasi


Marka Titik Nol

Setelah keliling sebagian dari Rizal Park saya beranjak ke intramuros yang jaraknya kurang lebih 1 km lewat pedestrian yang rindang oleh pepohonan. Abang calessa (semacam delman) yang sedari saya datang memata-matai, sangat mengganggu kenyamanan. Inget pesan temen sekamar "be careful only walking or jeepney". Katanya suka malak ga kira-kira. Pasang muka jutek aja walaupun deg-degan setengah mati.

Intramuros adalah distrik tertua dan inti dari sejarah Manila. Kota ini merupakan bagian dari pusat pemerintahan Spanyol selama masa Kolonial Spanyol di Filipina. Mirip kota tua kalau di Jakarta. Begitu sampai di salah satu gerbangnya sebentar sebentar saya diikuti abang becak yang nawarin keliling dengan berbagai tarif. Kemanapun pergi nongol lagi nongol lagi tuh si abang. Katanya kalo terganggu suruh bilang gini "I'm not interest don't follow me!!". Eh beneran pergi. Sebenernya pengen keliling pakai becak berhubung dikintilin mulu jadi ilfil lebih tepatnya sih takut. Tapi bangunan highlight yang banyak diceritakan di google tampaknya banyak yang udah terjabanin seperti Palacio De Gobernador, Gereja San Agustin yang digadang sebagai gereja tertua di Manila, Manila Metropolitan Cathedral Basilica dan masih banyak lagi bagunan tua yang sampai sekarang masih difungsikan dengan baik.


Istana Gubenur


Manila Metropolitan Cathedral Basilica


Seamen's Hospital, pengen masuk pura-pura jadi pasien cuma pengen tau dalemnya doank tapi lihat securitynya jadi ciut, ga jadi.


Kampus Universitas, baca aja namanya

Puas keliling saya keluar area intramuros dari salah satu gerbang dan naik jeepney yang bertulisan TM Kalaw. Sebelumnya pernah lihat ada jeepney TM Kalaw lewat di tempat yang saya kira tempat judi. Tempat itu tidak jauh dari UN Station. Tak berapa lama jeepney sampai di tempat judi saya pun turun. Tiba-tiba saya melihat jeepney jurusan Buendia. Saya pikir pasti bakal lewat Stasiun Buendia, stasiun yang paling dekat dengan penginapan. Jadilah berubah haluan pengen pulang naik jeepney biar tau rute lain.

Ternyata pemirsa lha kok malah kemana-mana masuk perkampungan macet, belok sana belok sini dan ke daerah yang sama sekali ga saya kenal. Penumpang naik turun ganti-gantian entah berapa kali dari penuh, kosong, penuh lagi dan kosong lagi. Biarlah, saya tetap duduk cantik coba mau lihat sampai mana drama ini berakhir. Akhirnya sampailah di sebuah pasar tradisional lewat jalan-jalan sempit, semua penumpang turun dan pak sopir nanya ke saya pakai bahasa tagalog, mungkin artinya "Turun dimana?" Saya hanya bales dengan senyum manis lalu turun sambil pasang muka dipolos-polosin sok tau maksudnya biar ga kelihatan orang asing. Padahal dalam hati mewek Ya Allah ini dimanaa...??


Angkot Filipina

Saya minggir ke emperan toko di deket lampu merah. Di seberangnya ada mall mirip ramayana banyak baju diskonan diaduk-aduk di keranjang. Sekilas daerahnya mirip Pasar Baru Tangerang. Beruntung saya melihat segerombolan ibu-ibu berkerudung, tanpa pikir panjang saya deketin beliau dan nanya jalan pulang. Lalu saya dianter nyebrang perempatan dan ditungguin sampai naik jeepney. Katanya stasiun MRT ga seberapa jauh, tapi untuk ke Stasiun Buendia harus naik MRT melewati 3 stasiun lagi. Alhamdulillah saya telah kembali ke jalan yang benar.


Macetnye same aje kya di Jakarte

Lalu pulang ke penginapan untuk sholat dzuhur dijamak ashar, makan, istirahat dan dari pada tulisan ini kepanjangan nantikan cerita selanjutnya kapan-kapan disambung lagi...

Aug 19, 2015

Emang Saya Ibumu?

August 19, 2015 6 Comments
Begitu menginjakkan kaki di Ninoy Aquino International Airport saya merasa aneh dengan orang-orang Filipina yang memanggil saya. Serasa telinga ini diutak utek pakai sapu ijuk. Sampai-sampai males ngobrol dengan orang selain memang ga bisa bahasa tagalog juga sih (bahasa Inggris juga kalee). Mungkin ini yang dinamakan gegar budaya atau bahasa sononya disebut culture shock. Atau mungkin karena saya termasuk golongan menolak tua.

Di mulai dari ibu-ibu petugas x-ray di pintu keluar. "Please, put your bag here mam". Apa maksudnya panggil-panggil mam? Mam tuh mommy apa gimana ya? Emang saya udah emak-emak banget gitu...? Sak ser mu lah! Tanpa memperpanjang masalah saya letakkan ransel dan daypack di conveyor belt kecil yang tersambung dengan box x-ray di depannya. Kemudian saya gendong lagi setelah badan saya di cek pakai metal detektor dan tas-tas saya dinyatakan aman, so pasti aman karena hanya berisi baju dan mie instant doank.

Karena belum punya uang peso saya bermaksud mencari money changer yang menurut penjelasan di google, rate money changer di airport lebih bagus dari pada di kota Manila. Saya nanya ke pusat informasi sekalian meminta peta.
"Hello..." sapa saya pada salah satu petugas.
"Hello, may I help you mam?"
Aih manggil mam lagi, emang saya istri bapak...

Setelah diberi selembar peta besar dilipat-lipat saya melangkahkan kaki menuju ke money changer yang berderet setelah pintu keluar. Saya pilih salah satu diantaranya yang ratenya tertinggi, lumayan beda-beda 20 peso. Saya sodorkan selembar USD ke petugasnya melalui lobang kecil yang hanya cukup untuk meletakkan uang. Kemudian saya diberi beberapa lembar uang peso dengan berbagai pecahan. Sambil melempar senyum manisnya petugas itu mengucapkan terima kasih. "Thank you mam" Haaishh bilang mam lagi... kebalik kali harusnya saya yang panggil tante mam...

Mamam lagi di Ninoy Aquino International Airport

Akses dari Ninoy Aquino Airport menuju ke kota Manila hanya bisa menggunakan taksi dan beberapa bus tapi saya tidak tau rutenya. Belum tersedia MRT seperti di negara-negara maju, masih 11 12 dengan Soekarno Hatta. Taksi katanya tidak begitu mahal karena jarak ke kota tidak terlalu jauh, hanya saja harus berhati-hati karena banyak taksi gelap. Banyak sekali cerita nyeseg tentang taksi di Manila. Saya mencoba cari jalan lain agar tidak sampai naik taksi. Saya keluar dari area airport untuk mencari jeepney (semacam angkot kalau di Jakarta). Menurut petunjuk dari google setelah pintu keluar ke kiri jalan lurus sampai ke ujung parkiran. Ada beberapa orang yang berlalu lalang ke arah itu saya coba mengikutinya. Di tengah jalan beberapa kali saya dihadang oleh sopir taksi. "Taksi mam... Taksi mam..." Eh busyet dah... Ga bakalan naik, udah mah ga bisa dipercaya panggil-panggil mam lagi... Ogahlah pap mamam mo jalan kaki ajah...

Benar saja sampai di ujung parkiran tampak jeepney yang mangkal bertuliskan Nichol - EDSA MRT - Baclaran. Sebelum naik angkutan unik itu saya pastikan dulu ke sopirnya apakah benar lewat EDSA MRT? Karena saya akan turun disana kemudian lanjut naik MRT ke daerah Makati, tempat saya akan menginap. Di dalam jeepney baru ada 3 orang. Sebelumnya saya browsing cara membayar ongkos jeepney yaitu secara estafet dengan penumpang sebelah, karena posisi saya di belakang sopir maka harus siap menjadi pembantu pak sopir. Yaitu menerima uang dari penumpang diberikan ke pak sopir dan kembalian dari pak sopir diberikan ke penumpang. Kalau mau nguntit uangnya langsung disakuin aja hehehe... Yang masih bingung kapan bayarnya? Setelah duduk di dalam jeepney saya diem aja sambil memperhatikan stiker tulisan yang banyak ditempel di dinding dalam bahasa tagalog, salah satunya mungkin artinya begini "Tuhan tahu jika anda tidak bayar".

Tak berapa lama kemudian ada penumpang naik dan langsung memberikan ongkosnya "Bayad Po" saya bantu memberikannya, hampir sama seperti di Indonesia "Bayar Pak". Nah baru tahu ternyata begitu duduk langsung bayar. Saya pun ikut memberikan uang kertas 20 peso, biarpun tau ongkosnya hanya 8 peso tapi takut kurang biar saja dikembalikan berapa. Dan ternyata dikembalikan 12 peso. Baru tau juga ternyata jauh dekat ongkosnya sama 8 peso atau sekitar 2500 rupiah. Murah banget, lebih mahal ongkos angkot di Indonesia.

Ini dia si mungil Jeepney

Semakin lama jeepney penuh dan mulai bergerak menjauhi airport. Banyak petugas airport yang hendak pulang kerja, kelihatan dari label di seragamnya. Mereka semua ngobrol dengan bahasa tagalog, saya sama sekali ga ngerti. Mbak-mbak di sebelah sering terdengar seperti mengatakan "EDSA EDSA" saya pikir mungkin akan turun di EDSA MRT, lumayan bisa diikuti karena saya tidak tau dimana letak maupun ciri-ciri EDSA MRT. Demi keamanan saya mengurangi bertanya ke kanan kiri agar tidak ketahuan bahwa saya orang asing. Secara fisik dan penampilan orang Filipina dan Indonesia sama banget, 10 11 lah. Nah akan kelihatan dari percakapannya.

Jalanan di kota Manila sama kacrutnya seperti di Jakarta. Jakarta sepertinya lebih mending. Motor, mobil, jeepney dan bus umpel-umpelan jadi satu dan menimbulkan kemacetan. Yang sama lagi, ada pengamen anak kecil berbaju kucel sambil nyodorin amplop, ada pedagang asongan trus sopir jeepney beli rokok 2 batang, ini sama banget kya sopir angkot di Indonesia. Ga terasa suasana di luar negeri rasanya seperti di daerah Pasar Senen atau Tanah Abang. Pengen sih mengabadikan setiap moment, tapi takut ngeluarin kamera. Kalung kamera di daerah kya gitu sepertinya cari apes. Denger-denger di Filipina kalau jeprat jepret bisa tiba-tiba dipepet orang trus dimintai duit. Hiyyy... Emang iya, entahlah... Demi keamanan ya ga usah neko-neko.

Masih di jalan kecil diantara kemacetan dan belum tampak tanda-tanda seperti stasiun. Tiba-tiba mbak di sebelah bilang "Para" artinya mau turun. Lah berarti ga turun di stasiun EDSA donk, waduh tiwas tak enteni... Trus piye?

Jeepney melanjutkan perjalanan semakin memasuki daerah perkotaan. Penumpang naik turun silih berganti. Saya jadi deg-degan takut terlewat. Saya mengintip keluar ke samping kanan dan kiri mencari stasiun yang ada malah semakin bingung. Lalu saya beranikan diri bertanya ke mas penumpang di sebelah.
"Bro EDSA MRT udah lewat belum?"
"Not yet, if arrive there I tell you mam"
"Thank you" mam mem mam mem emang gue emak lo...

Ternyata mas-mas itu turun di EDSA MRT juga sehingga saya diantar sampai di depan pintu masuk. Daerah ini bernama metro point mall yang mana di dalamnya ada 2 stasiun yaitu EDSA untuk LRT dan Taft Avenue untuk MRT. Karena saya akan ke daerah Makati sehingga mengambil jalur MRT. Stasiunnya bener-bener mirip dengan Stasiun Pasar Senen hanya saja antrinya lebih rapi ga pakai dorong-dorongan. Di pintu masuk dijagain banyak security, beberapa ada yang membawa laras panjang. Serem banget sih. Eh security apa polisi ya? Mbuh lah yang pasti pakai seragam lengkap. Sebelum masuk tasnya harus diperiksa dulu diobok-obok pakai kayu satu per satu jadi menimbulkan antrian yang panjang. Nah tas ransel saya juga harus dibuka tuh, tapi securitynya baik-baik dibantuin semuanya biar ga ngelamain antrian. 

Sebelum membeli tiket saya tanya dulu ke salah satu petugas di loket sambil memperlihatkan peta tempat saya akan menginap. Petanya ga detail banget hanya berupa garis-garis doank, kanan kirinya apa juga kurang jelas. Tapi diperkirakan berada di antara Stasiun Buendia dan Guadalupe. Feeling ibu itu sih lebih dekat dengan Stasiun Guadalupe sehingga saya disarankan turun disana. Dan lagi-lagi mereka semua memanggil saya mam. "Take care mam". Hiks Qamfret..!!!

Setelah mendapatkan tiket saya ikut antri masuk ke kereta. Disini penumpang yang akan masuk ke kereta di tahan dulu di tangga pakai tali pembatas, menunggu penumpang yang turun dari kereta sampai habis. Jika kereta bener-bener kosong baru deh tali di lepas. Setiap gerbong di jaga 1-3 security yang akan berdiri di dekat pintu. Jadi penumpang merasa aman. Kalau ini sih beda dengan di Stasiun Pasar Senen. Di dalam kereta juga ada pengumuman setiap akan berhenti di stasiun berikutnya walaupun dengan bahasa tagalog.

Sampai di Stasiun Guadalupe saya turun dan tanya ke beberapa orang sambil menunjukkan peta dimana kira-kira letak penginapan saya tapi semua menjawab tidak tau. Saya terpikir pindah haluan mencari penginapan lain. Saya coba masuk ke hotel yang dekat dengan Stasiun Guadalupe, tulisan di depannya sih murah 250 peso tapi ternyata harga segitu hanya untuk 2 jam saja. Tarif per malamnya 1600 peso. Jiaah... Ga jadi. Di Our Awesome Hostel Manila 1500 peso untuk 3 malam. Hostel itu (hostel ya bukan hotel) terletak di ABBA Building jalan Kelayaan Avenue, ke Bonifacio Global City hanya 8 menit jalan kaki. Itu saja petunjuk yang di jelaskan di websitenya. Selebihnya terserah anda... Recommended lah tempatnya nyaman, bersih, lumayan strategis dan murah.

Saya melangkahkan kaki mencari Jalan Kelayaan Avenue mengikuti perasaan kira-kira. Melihat peta buta itu sih sepertinya ga terlalu jauh. Belok ke jalan kecil lewat pasar yang jualan sayur dan buah. Persis kya pasar di Indonesia. Lalu lewat ruko, rumah-rumah penduduk dan akhirnya ketemu jalan besar lagi. Disana saya coba tanya ke orang yang lewat.

"Pak Jalan Kelayaan Avenue dimana ya?"
"Disini.."
"Ouw, benarkah... (mak plong). Kalau ABBA Building dimana pak?"
"Disebelah sana, tapi jauh"

Seperti saya lagi di Kebon Jeruk trus nanya Taman Anggrek, nah kalau jalan kaki kan gempor. Saya dipanggilkan abang three cycle (becak motor) oleh bapak yang baik hati itu agar diantarkan ke ABBA Building dengan ongkos 15 peso sekitar Rp 4500. Setelah berterima kasih, saya naik ke angkutan mungil dan lucu yang sebenarnya hanya motor di tambahin tempat duduk disampingnya. Ga ada 10 menit becak motor berhenti di depan sebuah gedung.

"This is ABBA Building mam". 

Ternyata tulisannya kecil doank di terasnya. Kalau ga jeli mah bakal kelewat apalagi yang masih baru kya saya sampai jungkir sepertinya ga bakal ketemu. Begitu masuk ke lobby ga akan ketemu dengan resepsionis tapi hanya ada security. Selain hostel disana ada beberapa kantor yang salah satunya adalah refil air minum. Sempat bingung ini hostel apa pabrik air minum ya? Ternyata resepsionis hostelnya berada di penthouse di lantai 10 dan kamar-kamarnya kalau ga salah dari lantai 7 sampai 9 hehe kebalik ya jadi kalau mau cek in harus ke lantai paling atas...

Stafnya ramah-ramah banget parasnya seperti orang Indonesia semua. Awalnya saya ditanya pakai bahasa tagalog, pas kelihatan cuma bengong aja baru deh ditanya "Where are you from?" Hahaha dari tadi atuh mbak...

Setelah mengisi data dan membereskan administrasi saya diantar ke kamar oleh salah satu stafnya sambil ngoceh sepanjang jalan, "Okey follow me mam... Why do you come here mam? Are you alone mam? Okey mam this is your room and you can choose one bed whatever you like mam... 

Haiiissshhh... si cempreng ini, emang saya ibumu?? Masih ada 3 tempat tidur yang kosong dan saya memilih di pojok. Di sebelah ada mbak-mbak dari Vietnam, China dan Filipina (Mindanao).

Setelah terkonek dengan wifi saya browsing-browsing kenapa sih di Filipina panggilannya pakai mam? Rasanya ga rela masak saya diemak-emakkan. Rupanya maksudnya tuh "Ma'am" yaitu singkatan dari "Madam" jadi bukan "Mommy" yang selama ini saya kira. Maaf deh kalo gitu hahaha.... Tapi gara-gara itu saya jadi akrab dengan temen-temen sekamar dan berujung saling berbagi makanan.

Bagaimana cerita selanjutnya, ngapain aja saya selama di Manila nanti ya kalau ga males diterusin lagi...

Saya dan Mae asli Filipina, paling enak pagi dan sore nongkrong di roof top ketemu dengan penghuni hostel yang lain


Persis kya orang Indonesia kan? Saya juga sering dikira asli Filipina sering diajak ngomong pakai bahasa tagalog.

Dari atas penginapan, tampak kemacetan di beberapa ruas jalan di Manila