Showing posts with label Malaysia. Show all posts
Showing posts with label Malaysia. Show all posts

Nov 22, 2018

Berdebar Di Imigrasi Bandara

November 22, 2018 0 Comments
Hal yang paling mendebarkan diantara serangkaian perjalanan adalah saat melewati imigrasi di bandara. Dipelototin oleh sang muka datar, dingin dilipet tanpa senyum, dahi berkerut tak jarang bikin gemetaran dan lemas di sekujur tubuh. Biarpun berusaha setenang mungkin tetap saja deg-degan gemuruh menggelegar. Apalagi kalau sudah dipelototin berkali-kali dan paspor dibolak balik "Ya Allah pasrah deh".

Pertanyaan yang paling sering biasanya mau kemana, berapa lama, ada tiket pulang, tinggal dimana, itinerary dan masih banyak lagi yang kadang diluar dugaan. Hanya Allah dan petugas imigrasi yang tau. Selagi jawaban meyakinkan Insya Allah lancar. Misalkan memang hanya liburan ya jawab saja apa adanya dan bisa menjelaskan mau kemana setidaknya punya gambaran tentang tempat yang pengen dikunjungi. Jangan sampai ngekngok tidak tau apalagi cengengesan. Kalau beruntung ya tidak akan ditanya apa-apa. Lancar jaya bebas hambatan.

Saya pernah parno banget saat masuk ke Rusia. Segala dokumen yang kira-kira bakal ditanya disiapkan semua. Tiket pulang, reservasi hotel, tiket flight dan kereta domestik, itinerary bahkan tiket nonton ballet juga disiapkan. Jadi segepok di dalam map holder trus ditenteng. Biar kalau ditanya gampang ambilnya. Pasrah mau diapain juga. Eh malah gak ditanya sedikitpun. Proses imigrasinya memang lumayan lama. Satu orang bisa lima menit kadang lebih. Petugasnya ketak ketik sambil sesekali menatap muka. Setelah itu paspor dikembalikan dan sudah.

Gemetaran lagi saat pertama kali masuk ke Eropa yaitu di Amsterdam. Konon kalau bareng rombongan paspornya diserahkan bersamaan. Saya berenam dan dipercaya mewakili maju ke depan. Petugasnya mbak-mbak dan mas-mas masih muda. Ada 2 orang di loket.

Pertama dihitung jumlah paspor.
"Kamu berenam ya dengan teman-teman yang baju merah itu?"
"Ya betul"
"Kamu baru pertama ke Eropa?"
"Iya" pura-pura tenang padahal hampir ngompol.
Kedua ditanya itinerary. Dibolak balik dibaca dari awal sampai akhir lalu didiktekan ke saya sambil manggut-manggut.
"Kamu kesini mau liburan??"
"Iya"
"Ke Belgia, Jerman, Prancis, Belanda lagi lalu kembali pulang?"
"Iya"
"Okey enjoy your holiday" semua paspor dikembalikan sambil tersenyum baiiik sekali. Alhamdulillah...

Di Jepang pernah ditanya bukti reservasi hotel. Syukurlah sudah saya print. Tapi petugasnya bingung. Ditatap berulang-ulang.
"Dimana penginapan ini?"
"Di Minami Senju"
"Saya baru dengar ada penginapan ini" lha piye to bang mosok ngarang sendiri, print-print'annya juga langsung dari website. Itu guest house bang bukan hotel.
"Tahun kemaren saya pernah menginap disini"
Lalu abangnya ngutak atik henpon browsing sesuatu. Entah apa yang diketik, huruf kanji semua. Jangan-jangan smsan ama pacarnya juga gak tau. Akhirnya paspor distempel dan dikembalikan.

Pertanyaan yang paling neko-neko saat di KLIA. Beberapa kali keluar masuk ke Malaysia selalu dapat pertanyaan yang tak diduga.
"Kamu pernah kerja di Saudi?"
"Kamu pernah kerja di Malaysia?" emang nasib gue punya tampang...

Pernah juga saat transit tapi bukan petugas imigrasi hanya mbak-mbak petugas di loket transit. Flight dari Seoul delay sehingga di Malaysia waktu transit jadi mepet sekali. Baru juga landing sudah ada panggilan boarding ke Jakarta. Saya minta ijin nyelak antrian. Sampai di depan malah kena sewot
"Kenapa terlambat?!!"
"Pesawatnya yang delay" kok saya yang dimarahi toh mbak ee...
"Bongkar semua tasnya" hastagaa udah mepet tetep suruh bebongkaran. Lagian baru turun dari pesawat gak keluar bandara, emang bawa apaan. Noh lihat isinya duit semua... Petugas disini paling seneng ngerjain. Okey gak apa-apa ya memang tugasnya mereka.

Saat ke imigrasi jangan memakai case pasport, copot dulu semua aksesoris di pasport

Sedangkan di Airport Norway saya sering kena random check. Diajak masuk ke ruangan dioles-oles apa saya gak tau, seperti di mall disuruh nyobain parfum, lalu diraba terutama bagian kerudung dan dicek pake alat detektor seluruh badan. Isi tas juga dilihat semua. Untunglah tidak ada masalah. Malahan di Airport Bodo kerudungnya suruh dibuka. Kaget, ya mau gimana lagi dari pada panjang urusan. Tapi baru mau dibuka petugasnya bilang, stop stop tidak usah. Cukup. Alhamdulillah...

Saat keluar dari Helsinki petugasnya mas-mas ganteng. Menatap muka sambil senyum ramah. Tiba-tiba nanya, terdengarnya seperti 
"Have you been to Than More??" waduh mati apaan ya... Emang Than More dimana?
"Saya abis dari Helsinki mau ke Singapur" yang penting jawablah.
Nanya lagi "Have you been to Than More??" 
Than more apaan sih mas. Grogi serasa mau pingsan dan mendadak zonk. Bolak balik menatap saya lalu paspor distempel dan ditunjukkan visa schengen saya. Ya Allah Denmark... Kenapa masuk ke telinga saya jadi Than More... Saya membuat visa dari kedutaan Denmark padahal keluar masuk schengennya dari Finland. Okey tidak ada masalah masnya hanya iseng pengen ngobrol.

Nah yang ini sebenarnya gak terlalu bikin deg-degan. Karena saatnya keluar dari Singapura. Keluar memang lebih lega dibanding saat masuk. Takut ditolak dideportasi. Tapi kali ini hanya transit dan akan terbang ke Helsinki. Kebagian petugas ibu-ibu usianya sekitar 50an.

Pertama ditanya tiket pulang. Semua tiket flight saya serahkan termasuk extend ke negara sebelah hingga tiket pulang ke Indonesia. Kedua ditanya,
"Benar ini foto kamu, kenapa beda-beda semua?" sambil melihat foto di visa-visa sebelumnya.
"Benar buk itu saya semua" meragukan memang di paspor tampang inem aslinya lebih mirip kakak saya mbak Dian Sastro.
Ketiga lebih dipelototin lagi,
"Kamu masih sekolah?" saking groginya jawab agak blepotan...
"Oh tidak, sudah kerja"
"Kerja dimana?"
"Indonesia"
"Ya saya taulah...!!" sedikit bentak kesel-kesel gemes.
"Oh maap, di Hospital" mati gue!!
"Kamu dokter?" 
"Bukan di bagian babibu...." saya jelaskan agak panjang mulai dari nyuci piring sampe gosok baju.
"Trus kamu sekarang mau kemana?"
"Helsinki" alisnya ibuk mengkerut, saya jawab lagi "Hmm Finland" masih mengkerut lagi... Ya Allah apa yang salah ya...
"Sekolah disana?"
"Bukan hanya liburan"
"Jauh sekali kamu liburan, berapa lama?"
"2 minggu"
"Sama siapa kamu pergi"
"Berdua dengan teman saya"
"Mana teman kamu?!!" Ya Allah buk penting banget toh... Tolah toleh cari teman saya untung masih kelihatan, jarak 2 line di sebelah dan sudah beres lebih cepat.
"Yang itu baju kotak-kotak disana"
"Teman kamu kerja juga?"
"Iya"
"Kamu sering seperti ini, kerja kamu bagaimana?"
"Kalau ada cuti iya, selesai cuti kerja lagi" jawaban anak TK sampai keluar.
"Mau kemana saja nanti"
"Copenhagen, Oslo, Stockhom, Tallinn, Helsinki trus pulang" menatap dalam-dalam sambil mlorotin kacamatanya, lalu manggut-manggut dan paspor dibolak balik. Waduh apalagi nih...
"Ya sudah hati-hati yaa..." paspor distempel dan dikembalikan.
"Thank you"

Ya Allaaaah... Leganya sampai ke ubun-ubun. Nanya panjang lebar dikira mau dikasih ongkos buk. Tapi lumayan dikasih senyum sedikit. Kebanggaan tersendiri kebagian petugas imigrasi yang bisa senyum.

Dari pengalaman yang sudah terlewati, saya jadi punya point yang harus diperhatikan saat masuk ke suatu negara. Tapi hanya sebatas liburan karena belum pernah tujuan lain yang menetap lama misalkan sekolah atau kerja.
  • Sebaiknya punya foto copy paspor dan visa, lebih baik lagi disimpan dalam file di flashdisk atau email. Mitamit jangan sampai hilang sih, tapi seandainya terjadi yang paling buruk masih ada copynya dan gampang ngceknya.
  • Di pesawat biasanya pramugari akan membagikan Disembarkation Card untuk foreign nationals, isi dengan jelas dan sejujurnya. Biasanya minta dituliskan alamat tinggal dan nomor telpon. Lha alamatnya segambreng kertasnya kecil. Ya sudahlah diatur aja. Selipkan di dalam paspor dan jaga baik-baik jangan sampai hilang.
  • Print tiket pulang pergi termasuk tiket apa saja yang sudah dibooking misalkan tiket bus atau kereta pindah kota/negara atau apa saja yang bakal meyakinkan bahwa ke negara itu sekedar liburan dan pasti akan pulang bukan mencari kerja.
  • Print semua bukti reservasi hotel.
  • Itinerary / rencana perjalanan, persiapkan dengan matang. Ketik sedetail mungkin dari mulai masuk sampai keluar negara itu mau kemana saja dan ngapain aja, tulis sejelas-jelasnya.
  • Siapkan uang cash secukupnya, jika kena random check bisa jadi ditanya bawa uang berapa? Intinya ke negara orang ya punya duitlah ga bakalan gembel disana.
  • Bersikap tenang, sopan dan tidak mencurigakan. Patuhi aturan yang ada. Tidak memainkan hp atau gadget. Tidak memotret dan antri yang rapi. Tunjukkan pada petugas bahwa datang baik-baik ke negara itu.
  • Setidaknya bisa ngomong enggres biarpun hanya yes no aiem fain syukur-syukur bisa ailopyu mister.
  • Catat alamat dan nomer telpon KJRI, teman atau nomer penting lainnya, seandainya sewaktu-waktu perlu bantuan.
  • Tidak perlu takut atau merasa diintimidasi oleh petugas imigrasi maupun petugas yang lain di bandara karena memang tugas utama mereka. Maklumlah mereka pintu gerbang suatu negara punya peran penting untuk melindungi negara. Hargai profesi mereka dengan sikap kooperatif, menjawab pertanyaan dengan jujur dan sebaik-baiknya. Jangan lupa berdoa, Bismillah, Insya Allah lancar. 

Mar 9, 2015

Travelling Never Alone

March 09, 2015 3 Comments
Jalan-jalan sendirian memang terdengar aneh. Memang tidak punya teman sama sekali? Tidak takut tersesat, diculik, dijahatin dan seabreg pertanyaan lainnya. Walaupun judulnya jalan-jalan sendiri tapi di perjalanan atau sampai di tempat tujuan pasti tidak akan sendiri. Banyak sekali teman. Malah kalau sudah merasakan sekali ada perasaan menyesal, hari gini baru solotravelling kemaren kemana aja?

Saya pernah membuktikan. Suatu hari dari Langkawi (Malaysia) hendak ke Satun, Hatyai lalu ke Krabi (Thailand). Dua hari sebelumnya saat baru tiba di Langkawi, ada bapak sopir taksi yang baik hati membantu saya membeli tiket ferry Langkawi - Satun. Beliau mencarikan sampai ketemu, sampai rela muter bolak balik di Jetty Point memastikan jadwal ferry agar saya bisa memperkirakan waktu sebelumnya.

Dua hari kemudian sambil menunggu imigrasi di Jetty Point saya duduk bersebelahan dengan turis Amerika. Kami bercerita tujuan masing-masing. Beliau bersama suaminya hendak ke Trang sedangkan saya ke Krabi lewat Hatyai. Saya belum tau dari Satun ke Hatyai naik apa, rencana sambil jalan sambil tanya. Ternyata dikasih tau beliau kalau ke Krabi tidak usah lewat Hatyai. Katanya jelek tidak ada apa-apa, mending lewat Trang. Bisa naik bus atau van. Oh baiklah suhu. Terimakasih.

Di pintu keluar imigrasi Satun, banyak sekali travel yang menjual tiket ke berbagai tempat di Thailand Selatan dari mulai Trang, Koh Lanta, Krabi, Koh Phi Phi, Phuket, Hatyai, Koh Samui dan masih banyak lagi. Saya asal beli tiket van ke Krabi pada ibu berkerudung seharga 600 THB. Rupanya tidak banyak yang beli ke ibu itu tapi ke travel sebelah yang teriakannya lebih kenceng. Sempat khawatir salah beli. Ternyata tidak, beli dimanapun harganya sama dan akan dikumpulkan untuk berangkat bersama.

Hanya menunggu 15 menit saya diantar oleh ibu penjual tiket ke mobil van berkapasitas 18 orang. Saat itu hanya saya dan sopirnya yang berkulit cokolate. Semua bule Eropa berkulit putih kemerahan dan berambut pirang. Untung pakai kerudung jadi tidak kelihatan rambut hitam saya. Ada dari Norwegia, Finlandia, Jerman, Belgia, Belanda dan Denmark. Kami duduk diatur oleh sopirnya sesuai dengan tujuan masing-masing. Yang paling jauh di kursi belakang dan yang akan turun duluan di dekat pintu. Begitu juga dengan ransel, yang paling atas yang akan turun duluan. Salut dengan mereka tidak ada yang protes satu pun. Padahal ada yang separo kursinya kena tas ransel sehingga duduknya agak berdesakkan. Tidak masalah.

Setengah perjalanan menuju Trang (setelah 2.5 jam) mobil berhenti di pom bensin. Kami diberi waktu 30 menit untuk istirahat. Saya ditunjukkan oleh pak sopir warung makanan yang penjualnya ibu berkerudung “Muslim muslim halal...” Wuih Alhamdulillah...



Inilah van kami.

Dari Satun, Trang sampai Krabi banyak orang muslim jadi tidak susah mencari makanan halal.

Tepat 30 menit kami semua kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Satu setengah jam kemudian mobil berhenti di depan stasiun Trang. Rupanya disini kami dipisah-pisah. Tujuan Koh Lanta dipindahkan ke mobil yang lain. Saya dan penumpang tujuan Krabi dan Phuket juga dipindahkan. Entahlah sisanya kemana. Di mobil yang baru bertemu lagi dengan teman baru. Salah satunya adalah mbak-mbak dari Australia yang bisa bahasa Thailand jadi bisa menerjemahkan dialog antara kami dengan sopir van. Saya dikira dari Malaysia, setelah tau dari Indonesia beliau merespon dengan baik karena pernah ke Bali.

Sampai di Krabi sopir van menawarkan, “Mau turun di Krabi Town dan naik songthew sendiri atau nyewa van lagi dengan menambah 100 THB?” Tentunya setelah 7 jam perjalanan kami sepakat menambah 100 THB diantar sampai penginapan. Pak sopir tanya ke semua penumpang "Where do you stay?" Ao Nang Villa, Ao Nang Resort, Beach Resort Suit Suit, Grand grand apalah... Dari namanya terlihat tempat berbintang semua. Giliran saya, Ao Nang Backpacker... Mak jleb!!! Tuiiingg.... Valing qere bok.

Saya orang kedua yang diturunkan oleh pak sopir setelah mbak Australia, tepat di depan hostel. Saya bertemu dengan teman baru di kamar female dorm 6 orang dengan harga 300 THB semalam (Rp 117.000). Sekamar dengan turis dari Finlandia 2, Belgia 1, Hawai 1 dan 1 lagi kalau tidak salah dari Denmark. Lagi-lagi kulit dan rambut saya beda sendiri. Alhamdulilah baik-baiiik semua. Mbak Belgia menawarkan jalan bareng besoknya, mbak Hawai ngajak cari makan bareng dan semua mengijinkan saya untuk sholat di kamar.

Sore hari saya jalan-jalan ke pantai Ao Nang, dalam keadaan masih galau antara ikut mbak Belgia, tour James Bond atau ke Phi Phi Island. Sebenarnya lebih tertarik ke Phi Phi tapi berat rasanya berpisah dengan teman sekamar yang baik-baik itu. Selesai sholat maghrib saya duduk di masjid menunggu isya sambil berdoa memohon pada Allah agar ditunjukkan kemana harus melangkah. Anak-anak kecil yang sedang belajar mengaji memberikan salam akrab seperti kedatangan teman baru. Semakin memberatkan langkah saya untuk pergi dari Ao Nang. Tak terasa air mata meleleh, lebay sih tapi disitu saya merasa sedih.

Mbak Belgia mengajak rock climb, saya kurang tertarik karena takut ketinggian. Ikut tour James Bond rasanya masih trauma mabuk laut saat ke Anak Krakatau. Jadi yang sangat mungkin ke Phi Phi Island. Tiket ferry ke Phi Phi rata-rata 450 THB one way, banyak dijual di travel yang bertebaran di sepanjang pantai Ao Nang. Tapi alhamdulillah saya menemukan satu travel yang menjual 300 THB dijemput di penginapan. 



Selalu kangen dengan tempat ini

Biar berantakan tapi kamar ini bersih dan tetap wangi, bed saya diatas yang selimutnya biru.

Besoknya tepat jam 12 siang setelah cek out saya dijemput oleh mobil van bersama dengan 3 teman sepenginapan tapi beda kamar. Di dalam van sudah ada beberapa turis dari penginapan lain. Kami diantar ke pelabuhan tempat ferry jurusan ke Phi Phi. Masih sedih teringat segala suasana hangat selama di Ao Nang. Semoga di Phi Phi akan bertemu dengan teman yang baik lagi.



Ferry Ao Nang - Phi Phi

Setelah 1.5 jam mengarungi lautan, ferry merapat di pelabuhan Phi Phi. Begitu turun disambut oleh porter dan travel-travel yang menawarkan penginapan maupun paket tour. Saya bingung karena belum memegang peta. Beberapa tempat yang bertuliskan Information Center tidak mau membantu karena saya menolak menginap di hotel yang mereka tawarkan. Saya mencoba melangkah menyusuri lorong-lorong seperti pasar sambil bertanya dimana letak penginapan yang sudah saya booking. Hasilnya nihil.

Pundak saya mulai pegel kelamaan menggendong ransel. Saya pun pasrah dan akan menginap dimana saja. Saya coba menawar ke salah satu kamar dorm seharga 400 THB menjadi 300 THB. Kata pemiliknya kalau mau yang 300 THB akan diantar ke penginapannya yang satu lagi. Okey hanya buat selonjoran semalem yang murahan aja. Setelah melewati gang kecil dan belok belok akhirnya sampailah di penginapan yang bernama Lucky House. Dan ternyata penginapan inilah yang saya cari-cari sebelumnya. Lhadhalaah bikin tercengang, kok bisa sih nyasar ke tempat yang bener.

Penginapan itu memang punya review yang kurang bagus, tapi penasaran dengan stafnya yang katanya baik banget. Kalau tidak betah pengen pindah uangnya bisa dikembalikan. Saya diantar ke kamar dan ternyata benar adanya, seperti barak sekamar 20 orang campur cewek cowok, jarak antara bed hanya cukup dilewati sambil miring-miring. Sprei dan sarung bantalnya bersih tapi selimutnya agak bau, lantainya banyak pasir yang terbawa di kaki bule-bule yang abis dari pantai. Gubrakk... Sesuailah dengan harga.

Kalau diperhatikan sepertinya saya satu-satunya orang asia. Kebanyakan cowok berbadan gede dan berbulu. Hampir semuanya telanjang dada. Yang cewek hanya ber-6 termasuk saya. Semua bajunya hanya sepotong cukup untuk menutupi bagian yang terpenting. Biar sekamar rame-rame tapi semua cuek tidak saling mengganggu. Untungnya saya bisa menikmati segala suasana, malahan jadi membuka mata "Seganteng-gantengnya cowok bule pirang, I just wanna say no!" Cukup tau ajalah.

Setelah istirahat sejenak saya bermaksud melihat sunset ke view point. Muter kesana kemari mencari tangga menjulang yang katanya bikin nangis tidak ketemu. Petunjuknya tidak begitu jelas hanya nemu 2 kali itupun kecil-kecil. Tanya ke beberapa orang malah tersesat tembus ke pantai, ke penginapan orang dan akhirnya terdampar di warung makan halal. Sampai menjelang maghrib belum ketemu juga. Yo wes pindah haluan cari masjid. Ada petunjuk mosque tapi dicari tidak ketemu. Coba tanya ke salah satu orang eh malah diantar padahal lumayan jauh. Tampaknya tau ditunjukkin sampe dower juga tidak akan ketemu karena posisinya nyelip dipojokan dan tidak kelihatan seperti masjid. Alhamdulillah bertemu orang baik.

Selesai isya tiba-tiba ada mas-mas Pakistan menegur saya “Assalamu’alaikum, where are you from?" Sebut saja Mas X. Rupanya beliau merhatiin saya sejak maghrib, beliau adalah imamnya. Kami ngobrol sebentar lalu saya diantar ke restoran halal milik temannya untuk makan malam. Ternyata orang yang mengantarkan saya ke masjid sebelumnya. Lah... kok bisa? Biar disitu harganya mahal-mahal tapi okey lah sebagai rasa terima kasih.

Selesai makan saya dan Mas X jalan-jalan ke pantai, ngobrol sampai malem. Banyak yang lagi bermesraan tentunya kami tetap jaga jarak ya karena saya anak sholeha. Usut punya usut ternyata penginapan saya milik temannya. Dan orang yang punya penginapan seharga 400 THB juga temannya. Disitu tempat tinggal Mas X. Phi Phi sesempit daun kacang. Saat saya diantar pulang, pemilik penginapan keheranan dikira kami sudah saling kenal sebelumnya.

Saya tidur tidak nyenyak, suara pintu sebentar-sebentar bergeser dan juga bisik-bisik tiada habisnya. Entah apa yang dilakukan bule-bule itu. Saya berharap malam itu segera berlalu. Jam 04.00 kurang saya tidak bisa memejamkan mata lagi. Suasana sepi hanya terdengar suara mendengkur bersahut-sahutan. Pagi itu saya janjian dengan Mas X ke masjid, masih ada waktu 1 jam untuk sholat malam. Saat mau keluar, ternyata masih tersisa dua bule yang sedang maen film dewasa di depan kamar di sebuah kursi yang disediakan untuk bersantai. Saya tertahan di dalam menunggu mereka selesai. Astaqhfirullah….!! Kucing sepertinya lebih beradab.

Sampai di Masjid masih tersisa sedikit waktu untuk sholat malam sebelum adzan subuh berkumandang. Muadzin dan imamnya Mas X sendiri. Selesai sholat, dzikir dan ngaji, Mas X mengajak saya melihat sunrise ke view point. Tempat yang saya cari dari kemarin tidak ketemu. Alhamdulillah ada guide gratis.



Biasa aja kok tempatnya sama aja kya di Indonesia melihat sesuatu dari ketinggian. Tapi disitu saya merasa senang.

Berlanjut trekking mengelilingi sebagian pulau Phi Phi. Lewat jalan setapak naik turun bukit, masuk ke kampung mirip kampung Baduy di Banten. Saya lebih excited kesini dari pada ikut tour james bond. Sudah kebayang paling begitu doank foto-fotonya di google juga seabreg. Kami berkeliling selama 4 jam sampai kakinya Mas X keseok-seok, alhamdulillah saya baik-baik saja.



Gubuknya penduduk Phi Phi

Lewat jalan setapak

Trekking

Long Beach, pantainya resort-resort mahal

Maya Bay (tempat syuting film James Bond) tampak dari kejauhan

Loh Dalam Beach

Island Hopping

Saya dan Mas X

Setelah mandi dan cek out saya tiduran di masjid menunggu sholat dzuhur. Lalu berpamitan dengan Mas X yang saat itu masih duduk berdzikir. Saya melanjutkan gelandangan ke Phuket naik ferry kedua jam 14.00. Saya pilih duduk di dalam ruang berAC bukan di atas seperti para bule kebanyakan. Sekejab saya tertidur, tiba-tiba terbangun karena mencium sesuatu seperti bau amis ikan busuk. Mak breenggg…. Setelah membuka mata rupanya di sebelah saya ada bapak-bapak gendut dari Perancis bersama pasangannya. Tiap kali bergerak mak breeng baunya. Hadeeuuhh… Bikin kepala pusing. Ada ya parfum aromanya ikan busuk. Untunglah tak berapa lama mereka pindah. Lega hidup saya.

Sampai di pelabuhan Phuket saya naik ojek ke Phuket town. Bosen tinggal di sekitar pantai kali ini akan menginap di tengah kota. Saya telah mengincar Win Backpacker Hostel seharga 200 THB semalam. Tempatnya cukup strategis dekat pangkalan bus, songthew ke segala arah dan fresh market yang ada makanan halal. Hanya saja tidak dekat masjid. Saya sekamar dengan cewek solo traveler dari Korea (Yoona) dan Swedia (Frida), dan cowok Argentina 2 orang, cowok Jerman 1 orang.

Malam itu saya bersama Frida dan Yoona jalan-jalan di sekitar Phuket Town, membeli buah ke pasar dan makan sea food di pinggir jalan. Saya tidak ikut makan karena ada menu pork. Saya hanya duduk menemani sambil makan buah dan telor rebus. Karena pelayannya susah berbahasa Inggris sehingga pesanan kami tidak sesuai semua. Seperti pesen nasi dikasih bubur. Jadi tidak mengenyangkan dan mencari tempat makan lagi. Ada salah satu cafe mewah yang di dalamnya banyak orang berkerudung. Tapi melihat tempatnya kami semua ragu takut mahal dan ternyata memang mahaal pemirsa tidak cucok untuk kantong backpacker. Ukuran orang Swedia aja mahal apalagi saya. “Oke I will come back tommorow” kata Frida. Sampai di luar “No... I don’t want to come back here “ Hahaha...



Saya, Frida dan Yoona

Kami kembali ke penginapan. Saya menyeduh bubur instan bekal dari Indonesia, mereka ikut mencicipi dan katanya enak. Kalau saya sih karena tidak ada makanan lagi jadi ya enak. Yoona suka dengan Indonesian food mie goreng with egg, karena masih menyimpan indomie maka saya bagikan satu-satu biar mengobati kerinduan mereka.

Saat saya sholat mereka diam melihat, lalu nanya-nanya pengen tau ini apa? Sajadah, Mukena. “Praying berapa kali?” “Sehari lima kali” “Haaahh…!! Banyak banget, I have no religion” hahahaa...

Jadwal biologis kami berbeda, saya jam 11 malem sudah teler sedangkan mereka masih pergi keluar entah kemana dan tidak tau pulang jam berapa. Pagi hari saya bangun mereka masih lelap. Saya keliling sendiri ke pasar bertemu ibu-ibu berkerudung yang semangat sekali menunjukkan tempat makanan halal. Padahal sudah duduk diatas bus jurusan Patong Beach tapi disuruh turun, katanya makanan halal di Patong susah dan mahal.

Di Patong Beach saya bertemu dengan pak cik dari Malaysia yang pada akhirnya ikut saya pulang ke Phuket Town. Jadi guide dadakan ceritanya. Alhamdulillah semuanya dibayarin dari ongkos bus, beli minum, jalan-jalan ke old town dan ke pasar. Sebelum perpisahan kami beli ayam goreng dan ketan lalu dimakan sambil duduk di pinggir jalan "Anggap aja kita duduk di cafe ya pak cik" hahaha....

Bersyukur sekali atas segala kemudahan yang Allah berikan. Rasanya bukan hanya kebetulan tapi Allah telah mengaturnya sedemikian rupa. Kembali juga pada niat, jika niat kita baik Insya Allah akan diberikan yang terbaik pula. Selain selalu bersama kita, Allah akan menghadirkan teman-teman baik yang tidak disangka-sangka. Jadi travelling sendirian siapa takut.

Perjalanan saya sebenarnya belum berakhir di Phuket masih berlanjut ke Bangkok dan bertemu dengan Simon (England) dan Summer (China) tapi nampaknya tulisan ini sudah kepanjangan jadi kapan-kapan dilanjut lagi ya... :)

Feb 26, 2015

Sepenggal Cerita Dari Penang

February 26, 2015 2 Comments
Jam 02.20 dini hari diiringi gerimis kecil saya menggendong ransel yang beratnya lebih dari 7 kg, keluar dari kost menuju ke pangkalan ojek. Mata masih lengket karena baru tidur 2 jam. Tidur juga hanya setengah karena takut kebablasan. Saya akan naik flight pertama jam 06.20 setidaknya 2 jam sebelumnya harus siap di bandara.

Beruntung ada ojek 24 jam yang siap mengantarkan ke pol damri tujuan bandara. Saya masih bisa terangkut oleh bus yang pertama. Di jadwal jam 03.00 tapi kenyataannya jam 03.30 baru berangkat. Itu pun masih ngetem ambil penumpang di beberapa titik. Jam 04.10 baru lancar masuk tol. Jantung dag dig dug karena closing gate jam 05.20. Perjalanan paling cepet pakai ngebut nyalib sana sini ala Michael Schumaker 1 jam lebih. Sedangkan bus umum pastinya lelet, bisa-bisa 2 jam lebih baru sampai.

Sambil gemeteran membayangkan ditinggal pesawat saya utak atik hp mencari web check in. Sebelumnya selalu self check in di bandara, jadi masih coba-coba. Setelah beberapa kali bermasalah akhirnya berhasil. Lega rasanya bisa tidur nyenyak tanpa dibayang-bayangi rasa takut walaupun akhirnya tidak tidur juga.

Jam 05.15 bus damri menurunkan saya di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Setelah melewati x-ray di pintu masuk saya segera lari menuju ke mesin self check in untuk cetak tiket. Berkali-kali scan barcode tidak berhasil jadi mundur dulu kasih kesempatan yang di belakang. Belum lama beranjak dari tempat itu datanglah bapak-bapak crew maskapai yang rupanya melihat kebodohan saya lalu membantu scan barcode dan cling... ngek ngek ngek ngeeekk... Keluarlah tiket dari lubang print di mesin itu. Eh kok gampang banget sih… #ndeso.

Setelah tiket di tangan saya ke imigrasi. Tidak ada antrian sama sekali dan “cetok” paspor saya diberi stempel. Masih jam 05.30 alhamdulillah urusan beres. Saya ke mushola untuk sholat subuh, karena musholanya kecil tas ransel saya letakkan di lantai depan mushola. Agak khawatir tapi ya bismillah aja kalau rejeki tidak akan kemana. Benar saja sampai selesai masih tergeletak seperti semula.

Baru duduk sebentar sudah ada panggilan untuk boarding pesawat yang menuju “Pineng” maksudnya “Penang” tapi dibaca enggres. Setelah antri menyobek tiket saya dan semua penumpang diangkut oleh bus ke tempat pesawat parkir. Langit masih sendu tidak tampak sang mentari dan gerimis juga belum berhenti. Ada perasaan lega saat meletakkan ransel dikabin karena beratnya lebih dari 7 kg, melebihi berat maksimal yang diijinkan. Mungkin lebih 1-2 kg. Menggendongnya pundak lumayan pegel.

Saya kebagian seat 22C di sebelah jendela, lumayan bisa mengintip awan tapi tak enaknya kalau mau ke toilet harus mengganggu kursi sebelah. Menunggu take off adalah saat-saat biasanya dikaruniai rasa ngantuk. Safety demo dari mbak pramugari terdengar seperti sayup-sayup mimpi. Tiba-tiba terdengar suara brisik “Ubruk ubruk ubruukkk…” saya kaget sampai melotot dikira ada gempa dahsyat hampir saja teriak maling-maling, rupanya pesawat sedang take off.

Beberapa kali pesawat mengalami guncangan. Pikiran mengembara membayangkan tragedi QZ 8501 yang pada saat itu masih dalam tahap evakuasi para korban. Saya memasrahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa Insya Allah semua akan baik-baik saja.

Kira-kira 2.5 jam melayang akhirnya pesawat landing di Penang International Airport. Cuaca cerah matahari lumayan menyengat tidak seperti di Jakarta yang sehari-hari hujan. Beres urusan imigrasi saya mampir ke money changer karena belum punya uang ringgit. Biasanya kurs di airport lebih mahal maka hanya menukar 10 SGD sisa jalan-jalan dari Spore hanya untuk ongkos naik bus ke pusat kota. Tak lupa meminta koin karena bus di Penang tidak ada kembalian, harus uang pas.

Sambil agak bingung dan mengabaikan tawaran sopir taksi, saya ucluk-ucluk mencari tempat Bus Rapid Penang. Ada dua bus terparkir tapi entahlah jurusan kemana. Saya akan naik bus 401 atau 401E jurusan Terminal Jetty dan akan turun di Masjid Kapital Keling. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya bus nomer 401 datang. Sebelum duduk harus membayar ongkos dengan memasukkan uang pas ke dalam box seperti celengan yang terletak di samping kursi pak sopir. Ke Masjid Kapital Keling 2.70 RM. Lalu pak sopir akan memberikan selembar tiket kecil.

Bus Rapid Penang

Sebelum duduk harus membayar tambang pakai uang pas dimasukkan ke celengan ini. Gimana mau ambil kembalian kalau begini?

Karena baru pertama kali ke Penang saya duduk di kursi paling depan yang sebetulnya adalah kursi prioritas dan minta tolong pak sopir untuk kasih tau jika sudah sampai di Masjid Kapital Keling. Dikira tidak seberapa jauh makanya tas ransel tetep saya gendong sambil duduk. Lha ternyata kok jauuuhh… banget sampai 1,5 jam belum nyampe-nyampe, pegel juga pundak dan punggung. Secara duduknya hanya separo yang separo buat ransel.

Setelah hampir dua jam bus mulai masuk ke jalan yang kanan-kirinya dipenuhi toko, belok sana belok sini, saya yakin pasti hampir sampai. Mulai deg-degan melihat tulisan “Pastikan Lorong Anda” kenapa sampai ada seperti itu apa banyak yang kesasar? Nah lo.. wes mbuh lah. Benar saja tak berapa lama pak sopir memberi tau untuk turun tapi bukan di depan Masjid Kapital Keling. Di sana tidak ada halte. Bus di Penang tidak boleh berhenti sembarangan. Jadi harus jalan kaki kira-kira 200 meter dengan petunjuk dari pak sopir. Jreng jreeeng ketemu juga masjidnya. Tapi tujuan pertama bukan ke masjid. Itu hanya patokan untuk mencari penginapan yang sudah saya booking yaitu di Red Inn Court. Dari masjid luruuuuss sambil nengok ke kanan. Alhamdulillah ketemu kira-kira 100 meter, tempatnya kecil seperti ruko tapi tulisannya jelas.

Dari luar biasa aja, tapi dalemnya okey dan stafnya ramah.

Penginapan ini selain murah juga lumayan strategis dekat dengan masjid, terminal jetty, pelabuhan, halte bus rapid penang, halte bus hop on hop off dan halte CAT free bus. Sekitarnya juga banyak makanan halal. Saya memilih Red Inn Court hanya random karena semata-mata murah dan punya review yang bagus. Semalem Rp 90.000 per orang include breakfast. Kadang malah diskon jadi Rp 78.000. Saya booking via Traveloka.

Jam masih di angka 10.30 waktu Malaysia sedangkan waktu check in jam 14.00 sehingga saya hanya menitipkan ransel dan numpang ke toilet lalu mulai keliling. Untung bawa payung buntung yang gagangnya patah tapi malah praktis dibawa kemana-mana. Lumayan bisa berlindung karena cuacanya bener bener puanaaaaasss….


St. George’s Church yang bergaya Yunani dibangun pada tahun 1817 oleh East India Company. Disini ada peringatan dilarang foto prawedding, untunglah gak bawa calon suami.

Salah satu karikatur dari besi yang tersebar di berbagai sudut kota tua George Town. Temanya tidak jauh dari keseharian warga yang tinggal di sekitar karya-karya tersebut dipajang.
Museum Coklat
Gedung Mahkamah Tinggi. Banyak gedung yang serupa jadi suasananya mirip di Eropa.

Setelah keliling sampai beberapa kali nyasar ke jalan buntu tiba-tiba kepala saya nyut-nyutan. Sepertinya efek kepanasan. Buntelan P3K ada di dalam ransel yang dititipkan di penginapan. 

Saya masuk ke warung makan yang penjualnya memakai kopyah yang jelas halal. Sebenarnya tidak nafsu makan apalagi warung India dengan bau khas yang saya benci yaitu kari. Berhubung adanya itu ya mau gimana lagi. Saya paksakan makan nasi goreng dan minum teh manis agar pusingnya hilang.

Selesai makan jam 12.30 saya mencari masjid yang tidak jauh dari tempat makan, lupa namanya. Sholat dzuhur masih 1 jam lagi, sehingga saya tiduran di dalam masjid. Kebetulan ruang sholat wanita tempatnya tertutup, jadi bebas selonjoran. Sebenarnya ada larangan untuk tidak tidur di dalam masjid tapi ya mohon maaf sedang butuh berbaring. Entah pusing kena cuaca panas atau capek kurang tidur. Lumayan bisa terlelap sebentar dan pusing pun berkurang. Setelah adzan berkumandang saya mengambil wudhu dan sholat.

Jam 14.00 saya beranjak dari masjid untuk kembali ke penginapan. Walau punya peta tapi bingung bacanya. Tanya ke seorang bapak-bapak yang lewat dengan pedenya nunjukin “Kesana… kesana...” Tapi menurut feeling sepertinya ke arah sebaliknya. Setelah diikuti ternyata bener kembali ke tempat makan yang sebelumnya. Haaisshh... Menyesatkan.

Beruntung bertemu pak cik pengamen gaul yang ternyata tujuannya searah. Pak ciknya keren, berasal dari Perak, pernah keliling Indonesia, pernah tinggal di Belanda, keliling Eropa dan masih banyak lagi. Kata pak cik “Selagi masih muda melanconglah, jangan takut kita tidak sendiri Allah selalu bersama kita dimanapun” Betul Pak Cik. “Kalau wong puteh (orang bule) melancong seorangan saye lihat sudah biase, tapi yang seorangan seperti kamu ini masih sedikit” Ahh Pak Cik gak tau aja. Sebenarnya pengen ikut Pak Cik ngamen tapi berhubung kepala pusing lebih baik check-in ke penginapan, minum obat dan tidur.

Mbak resepsionis yang ramah dan friendly melayani agak lelet. Dikira komputernya bermasalah ealah ternyata ketawa ketiwi sambil chatting di facebook, duh mbak... Masih sambil cekikikan beliau mengambil kunci lalu mengantarkan ke kamar. Kamar saya di lantai 2, berisi 6 orang, 2 dari Swedia, 2 dari Jepang dan 1 dari Australia. Perempuannya saya dan 1 orang dari Swedia. Semua baik, ramah dan punya rasa toleransi yang tinggi. Saat saya butuh password wi-fi dengan senang hati mencarikan sampai ketemu. Mbak resepsionis kelupaan kasih kertas itu, karena asyik chatting.

Menjelang Ashar saya bangun dari tempat tidur. Pusing sudah lumayan hilang dan badan kembali segar. Saya pergi ke masjid dengan membawa barang seperlunya. Bersyukur bisa ikut sholat berjamaah. Selesai sholat saya mengambil beberapa gambar. Banyak turis yang berfoto di depannya, ada juga yang masuk ke dalam. Tentunya bagi yang kekurangan baju (berbaju sexy), dipakaikan jubah sebelum masuk. Jubah-jubah itu memang disediakan buat para turis yang ingin berkunjung.

Masjid Kapital Keling, masjid tertua di Penang. Pertama di bangun pada abad ke-18, kapan itu ya? Yang pasti saya belum lahir. Sampai sekarang usianya sudah lebih dari 200 tahun. Terlihat sepasang turis sedang dipakaikan jubah oleh pengurus masjid di depan pintu. Silahkan masuk... :)

Lalu saya jalan ke pelabuhan ingin mencoba naik kapal ferry dari George Town ke Butterworth, yang katanya perginya gratis kembalinya bayar 1.20 RM. Saya jalan kaki lewat jalan Lebuh Chulia lurus sampai habis. Tak jauh dari ujung jalan disitulah pelabuhannya. Setelah melihat ke dalam ternyata ramai sekali. Banyak yang hendak menyeberang, karena jam pulang kerja. Berhubung males antri saya mengurungkan niat, kebayang juga rasanya paling begitu doank.

Saya berpindah haluan ke Penang Hill (Bukit Bendera). Saya keluar dari pelabuhan dan menuju ke terminal Jetty (Weld Quay) di sebelahnya. Lumayan banyak calon penumpang bus di terminal itu. Bus nomer 204 jurusan Bukit Bendera penumpangnya hanya saya dan 1 kakek-kakek. Tapi di tengah jalan banyak yang naik sampai berjubel. Perjalanan ke Penang Hill cukup lama sekitar 1,5 jam karena sempat macet beberapa kali.

Turun dari bus saya membeli tiket funicular seharga 30 RM untuk pulang pergi, tapi dikembalikan lagi 15 RM, katanya 50%. Waah... Senang jungkir balik ada even apakah? Entahlah karena menjelang maghrib apa karena masih dianggap anak kecil, yang pasti saya diberi tiket dengan kode FC, foreign child. Rejeki anak sholeha.

Saya masih anak-anak
Kota Penang dilihat dari Penang Hill, tampak juga Penang Bride ke-1 dan ke-2. Anginnya lumayan kenceng dan dingin.

Masjid Penang Hill. Sempat sholat maghrib disini sepi banget hanya ada 1 orang penjaga masjidnya, selesai sholat langsung ngacir takuutt...

Funicular, lumayan deg-deg saat di tanjakan curam. Mematung seperti robot tidak berani menoleh ke belakang. Tapi asyiknya tuh disituuu... Lebih asyik lagi pas turun saya duduk paling depan wooww...

Memandang kota Penang dimalam hari tampak indah. Gemerlap lampu bagaikan hamparan bintang. Tapi semakin malam semakin dingin dan saya lupa membawa jaket. Lebih baik segera turun dari pada kena marah nenek. Sampai di bawah sudah ada bus nomer 204 yang siap jalan. Hampir saja ketinggalan. Lari-lari bersama turis Korea, Jerman dan Thailand sambil teriak "Waaaiiitttt....".

Begitulah hari pertama di Penang, hari berikutnya saya berkeliling menggunakan bus Hop On Hop Off. Saat beli tiket sok bercakap-cakap pakai bahasa Malaysia mengikuti logatnya Upin Ipin siapa tau dikasih harga lokal eh malah ditanya "You local or foreign?" Hmmm... Cempluk!! Lumayan harga lokal hanya 19 RM sedangkan harga foreigner 45 RM, 2 kalinya masih lebih pemirsa. Berlaku selama 24 jam tapi bus hanya beroperasi dari jam 09.00 sampai jam 20.00 jadi ya tidak full 24 jam. Okey lah tidak apa-apa sesekali jangan menggembel. Kata temen se-bus orang asli Penang "Murah ye 19 RM buat 24 jam". Iya buat lo... Lihat ya lo datang ke negara gw, gw mahalin ntar.

Ini penampakan busnya.

Ada dua rute yaitu line warna orange city route dan warna hijau beach route, seperti yang terlihat pada map berikut ini.  
 

Buat yang tidak banyak waktu dan tidak mau ribet sangat recommended naik bus ini. Sepanjang jalan crew bus akan bercerita menerangkan sesuatu yang dilewati. Bisa turun dimana saja dan naik lagi bus sejenisnya selama tiket masih berlaku.

Katanya ke Penang tidak lengkap kalau belum mencoba nasi kandar. Bayangan saya seperti nasi padang atau nasi uduk tapi lebih mewah. Beberapa tempat penjualnya selalu berwajah India. Dari jauh tercium aroma kari. Saya paling benci bau kari. Makanya mencari penjual berwajah lokal tapi tidak ketemu. Akhirnya ya ada saja di depan Masjid Kapital Keling. Kebetulan cumi dan udangnya guede-gede. 

Baru juga nunjuk cumi, mas Rahul Khan Vijay Kumar dengan cekatan mengambilkan nasi sepiring dan pyuk pyuk disiram kari buanyaaakk... Sampai warna putih nasinya tidak kelihatan. "NOOO...!!!" Aakhh udah ga keburu. Mak plenggong!! Ternyata itulah yang dimaksud nasi kandar, nasi disiram kari. Ternyata tidak semua makanan khas harus dicoba tapi berhubung sudah dibeli ya dihabiskan walau sambil bergidik-gidik.


Udangnya selebar telapak tangan, gak usah ngiler rasanya biasa aja, SUER.

Sorenya saya menyempatkan diri ke Gurney Drive untuk mencoba makanan di Anjungan Gurney yang buka dari jam 5 sore. Katanya surganya makanan. Saya memesan mie jawa dan es kelapa, memang enak sih tapi begitu dicicipi rasanya seperti masakan India bau kari. OMG!! I HATE CURRY... Berhubung sudah dibeli ya disyukuri apa yang ada... Tapi maaf tidak kuasa menghabiskan. Jadi inget kemaren baru datang kepala pusing, jangan-jangan mabok kari.

Mie jawa di Anjungan Gurney, suka dengan telur rebusnya.

Selesai makan jam 19.15 saya kembali ke halte yang tidak jauh dari Anjungan Gurney. Ada 1 bus hop on hop off terparkir tapi sudah berhenti beroperasi. Waakks.. Jadi harus jalan kaki lewat jalan sepi dan gelap ke tempat yang ditunjukkan oleh orang entah jalan apa karena Anjungan Gurney tidak dilewati bus Rapid Penang. Di halte ada turis Eropa berbadan gendut ngajak ngobrol dan ujung-ujungnya pengen datang ke penginapan saya. Halah, No !!