Showing posts with label Belanda. Show all posts
Showing posts with label Belanda. Show all posts

Aug 6, 2019

Terjebak Di Antara Suporter Bola

August 06, 2019 0 Comments
Gara-gara memanfaatkan tiket unlimited sore itu saya keliling sendirian di Amsterdam. Sekadar melangkahkan kaki daripada nganggur karena sudah beli tiket mahal kalau tidak dipakai sayang. Tiket yang mengcover hampir semua angkutan umum di Amsterdam seperti train, tram dan bus kota untuk 1 hari. Selagi masih berlaku ceritanya. Saya tidak berbekal itinerary apapun. Hanya selembar peta untuk keliling di sekitar jalur tram.

Saat itu malam minggu dan ternyata ada pertandingan bola Club Belanda melawan Club Jerman. Entah apa namanya karena bukan pecinta bola jadi tidak mau tau. Banyak orang segala usia keluar rumah untuk nonton bareng di cafe. Ramai sekali. Suara yel-yel dan teriakan bersahut-sahutan di beberapa sudut kota.

Semakin sore semakin ramai. Banyak orang berkejar-kejaran sambil teriak entah ngomong apa bahasanya Belanda semua. Segerombol pergi, segerombol datang lagi. Begitu seterusnya sampai beberapa kali. Saya mulai deg-degan teringat media massa yang sering memberitakan tawuran antar suporter bola. Jadi bingung, kalau kembali pulang berarti harus jalan ke Stasiun Central dan melewati kerumunan mereka, diam di pinggir jalan semakin tenggelam oleh mereka yang berdatangan dari segala arah, mau naik tram berjubel penuh dengan mereka. Bisa-bisa disangka penyusup karena secara pakaian saya beda sekali. Tidak ada orang berkerudung kecuali saya. Lalu hanya bisa pasrah di pojokan halte sambil makan rumput. Makan wafle ding tapi ketempelan rumput kering tidak sengaja kemakan hehhe... Syukurlah tidak memakai atribut apapun yang berbau bola. Warna baju juga tidak senada dengan kedua club itu.

Setelah agak sepi, datang tram di jalur 2 yang katanya jalur paling bagus banyak melewati landmark di Amsterdam. Karena lumayan kosong saya melanjutkan niat keliling memanfaatkan tiket unlimited. Saya naik dan duduk di tengah dekat ke jendela. Lumayan bisa berlindung dari pasukan yel-yel yang masih tersisa. Eh ternyata di halte berikutnya ada yang naik lagi. Sampai berjubel empet-empetan. Nyanyi teriak-teriak sambil gebrak-gebrak dinding tram. Tadinya kalau ketemu tempat yang bagus saya akan turun. Ternyata tidak bisa lewat. Ditambah bahasa pengumuman di tram juga roaming. Auto ngeblanck entahlah posisi sampai di mana. Pilihannya hanya pasrah dan berencana turun di pemberhentian terakhir lalu balik lagi.

Bonus di dalam Tram

Menjelang stasiun terakhir penumpang tersisa 3 orang. Lokasinya semakin menepi dan sepi, entahlah stasiun apa. Atau mungkin belum stasiun terakhir saya juga tidak tau. Semua penumpang turun. Saya ikut turun dan berniat naik tram ke arah sebaliknya. Namun sial, tidak ada tram ke arah sebaliknya. Jalurnya hanya satu. Beberapa meter dari halte tram terdapat halte bus. Dua penumpang itu jalan kesana. Saya mengikuti di belakangnya. Tiba-tiba mereka naik ke bus yang lewat entah jurusan mana. Tinggallah saya sendiri dan 2 orang di halte seberang. Pengen nangis kejer tapi ditahan.

Saat pasrah menunggu keajaiban datanglah 2 bus berwarna biru dan merah. Saya  bertanya ke pak sopir bus ke airport. Saya akan pulang. Hotel saya dekat dengan airport, sekali naik free shuttle bus dari sana. Tapi kata pak sopir, bus sudah berhenti beroperasi. Baru sadar biarpun masih terang benderang seperti jam 15.00 waktu di Indonesia ternyata sudah hampir jam 21.00. Sudah malam bok pantesan rumah-rumah banyak yang sepi. Musim panas waktu siangnya lebih panjang. Sedangkan angkutan umum tetap beroperasi sesuai jadwal tanpa tergantung pada musim. Pak sopir menyarankan naik bus berikutnya. 

Tidak ada bus langsung ke airport harus transit di sebuah terminal yang saya tidak tau namanya. Pokoknya bus berhenti terakhir disitulah saya turun. Beruntung sekali bus itu berhenti tepat di sebelah bus jurusan Schipol Airport. Dengan bonus mas sopir yang baik, gagah dan berambut klimis. Rejeki anak sholeha di tengah kesulitan.

Celingukan menunggu keajaiban

Setelah 30 menit menunggu, bus mulai meninggalkan terminal misterius itu. Biasanya dari airport ke pusat kota hanya beberapa menit menggunakan kereta. Berhubung naik bus ternyata jauh sekali. Melewati tengah kota dengan beberapa kemacetan akibat lampu merah dan masuk ke jalan tol. Syukurlah sampai di airport masih terangkut oleh shuttle bus terakhir ke hotel. Alhamdulillah akhirnya Inem bisa pulang dengan selamat. Sampai di hotel waktunya maghrib jam 22.30. Niat memanfaatkan aji mumpung malah berdebar sepanjang jalan.

Dec 15, 2018

Giethoorn Desa Bebas Polusi

December 15, 2018 0 Comments
Giethoorn merupakan desa di Belanda yang terkenal dengan keasriannya. Tidak ada jalan raya maupun kendaraan bermotor sehingga bebas suara bising dan asap knalpot. Desa ini terdiri dari pulau-pulau kecil yang dikelilingi oleh sungai berair jernih dan tenang. Transportasi utama di desa ini menggunakan perahu boat serta dayung sampan. Tapi hanya diperbolehkan perahu yang bersuara lembut atau whisper boat. Tidak ada perahu mesin diesel bersuara brisik sehingga suasana tetap hening, tenang dan nyaman. Jika tidak banyak pengunjung hanya terdengar suara kicauan burung dan celotehan bebek berenang. Cocok sekali untuk relaksasi mencari kedamaian. Biarpun tidak ada kendaraan desa ini sangat modern dan bersih tidak ada sampah.

Terletak di daerah Steenwijkerland, Propinsi Overijssel, Belanda utara. Sekitar 2 jam dari Amsterdam yaitu menggunakan kereta dari Amsterdam Central ke Steenwijk selama 1 jam lalu naik bus nomer 70 ke arah Zwartsluis dan turun di Dominee Hylkemaweg yang berangkat setiap 1 jam sekali. Jika oneday trip setidaknya sediakan waktu 5 jam untuk pulang pergi. Pastikan dengan benar jadwal keberangkatan bus karena jika tertinggal bisa menunggu lumayan lama.

Dari halte Dominee Hylkemaweg belum terlihat desa cantik itu. Jalan kaki sekitar 300 meter mulai terlihat adanya rumah tradisional khas Giethoorn yang sangat unik. Tidak ada gerbang khusus yang menandai pintu masuk. Hanya berderet perahu boat di sungai di pinggir jalan untuk disewakan. Saat musim panas pengunjung sangat ramai perahu ini selalu full booked. Sehingga disarankan untuk booking online sebelum berangkat. Syukurlah saya kesana saat musim semi pengunjung tidak begitu ramai dan masih banyak pilihan perahu.

Harga tergantung rute yang akan ditempuh. Ada rute 1 jam, 2 jam dan 3 jam. Karena rute 2 dan 3 jam hanya beda sedikit saya hanya mengambil rute 2 jam. Perahu berkapasitas 6 orang dengan harga 30€. Jika bepergian sendiri / solotravel bisa membeli tiket sharing perahu yang berkapasitas 45 orang seharga 7.5€ per orang untuk rute 1 jam. Bisa juga menyewa sepeda mulai dari 10€ per jam. Tapi pilihan sepeda tidak terlalu banyak. Agar terasa lebih dekat, gratis dan bebas pikiran dari mengembalikan perahu atau sepeda sewaan, jalan kaki adalah pilihan terbaik.

Kita lihat yuk seperti apa indahnya desa negeri dongeng ini. Jangan lupa siapkan kamera dan memori card sebanyak-banyaknya. Sekalian juga siapkan baju prewedding setidaknya 10 pasang. Desa romantis ini sangat cocok sekali dijadikan tempat untuk mengabadikan moment dan dicetak di kartu undangan.

Welcome to Fairy Tale "Rudolvo".

Saat musim dingin sungai ini akan membeku dan biasanya dijadikan tempat bermain ice skating.

Setiap rumah punya boat pribadi.

Terdapat sekitar 180 jembatan penghubung antar pulau kecil.

Atap jerami dan ijuk lebih mahal dari pada atap genteng.

Desa ini berada di tanah pertanian gambut dengan rumah tradisional beratap jerami dan ijuk yang berumur lebih dari 100 tahun. Desa yang dijuluki "Venice of Netherlands" ini konon dibangun pada tahun 1230 hingga saat ini berpenduduk sekitar 2600 orang.

Selain bekeliling dengan perahu boat kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah mengunjungi museum. Desa ini memiliki dua museum yang terkenal, yaitu Museum De Oude Aarde yang memamerkan batu atau mineral dari berbagai belahan dunia, serta Museum Het Olde Maat yang menampilkan Giethoorn 100 tahun yang lalu.

Semua tempat menarik untuk foto pre dan post wed-wed.

Di desa ini tidak boleh didirikan hotel, tapi banyak penginapan semacam guest house dengan konsep bed and breakfast.

Sungai yang jernih dan tenang.

Maen ke rumah nenek sekalian survey tempat untuk foto prewedding.

Whisper Boat.

Lelah berkeliling desa berfoto jeprat jepret di depan rumah negeri dongeng, bisa mampir ke restaurant dan cafe yang menyediakan berbagai menu kebarat-baratan. Yang pasti tidak akan ditemukan nasi ataupun bakso. Padahal duduk di pinggir sungai sambil nyeruput kuah bakso anget-anget akan menjadi hal yang istimewa tapi lupakan itu. Saya hanya membeli es krim dan wafle yang rasanya seperti es krim pada umumnya. Jangan lupa membeli cendera mata khas Giethoorn sebagai kenang-kenangan di toko pernak-pernik yang masih berada di kawasan desa ini.

Nov 22, 2018

Berdebar Di Imigrasi Bandara

November 22, 2018 0 Comments
Hal yang paling mendebarkan diantara serangkaian perjalanan adalah saat melewati imigrasi di bandara. Dipelototin oleh sang muka datar, dingin dilipet tanpa senyum, dahi berkerut tak jarang bikin gemetaran dan lemas di sekujur tubuh. Biarpun berusaha setenang mungkin tetap saja deg-degan gemuruh menggelegar. Apalagi kalau sudah dipelototin berkali-kali dan paspor dibolak balik "Ya Allah pasrah deh".

Pertanyaan yang paling sering biasanya mau kemana, berapa lama, ada tiket pulang, tinggal dimana, itinerary dan masih banyak lagi yang kadang diluar dugaan. Hanya Allah dan petugas imigrasi yang tau. Selagi jawaban meyakinkan Insya Allah lancar. Misalkan memang hanya liburan ya jawab saja apa adanya dan bisa menjelaskan mau kemana setidaknya punya gambaran tentang tempat yang pengen dikunjungi. Jangan sampai ngekngok tidak tau apalagi cengengesan. Kalau beruntung ya tidak akan ditanya apa-apa. Lancar jaya bebas hambatan.

Saya pernah parno banget saat masuk ke Rusia. Segala dokumen yang kira-kira bakal ditanya disiapkan semua. Tiket pulang, reservasi hotel, tiket flight dan kereta domestik, itinerary bahkan tiket nonton ballet juga disiapkan. Jadi segepok di dalam map holder trus ditenteng. Biar kalau ditanya gampang ambilnya. Pasrah mau diapain juga. Eh malah gak ditanya sedikitpun. Proses imigrasinya memang lumayan lama. Satu orang bisa lima menit kadang lebih. Petugasnya ketak ketik sambil sesekali menatap muka. Setelah itu paspor dikembalikan dan sudah.

Gemetaran lagi saat pertama kali masuk ke Eropa yaitu di Amsterdam. Konon kalau bareng rombongan paspornya diserahkan bersamaan. Saya berenam dan dipercaya mewakili maju ke depan. Petugasnya mbak-mbak dan mas-mas masih muda. Ada 2 orang di loket.

Pertama dihitung jumlah paspor.
"Kamu berenam ya dengan teman-teman yang baju merah itu?"
"Ya betul"
"Kamu baru pertama ke Eropa?"
"Iya" pura-pura tenang padahal hampir ngompol.
Kedua ditanya itinerary. Dibolak balik dibaca dari awal sampai akhir lalu didiktekan ke saya sambil manggut-manggut.
"Kamu kesini mau liburan??"
"Iya"
"Ke Belgia, Jerman, Prancis, Belanda lagi lalu kembali pulang?"
"Iya"
"Okey enjoy your holiday" semua paspor dikembalikan sambil tersenyum baiiik sekali. Alhamdulillah...

Di Jepang pernah ditanya bukti reservasi hotel. Syukurlah sudah saya print. Tapi petugasnya bingung. Ditatap berulang-ulang.
"Dimana penginapan ini?"
"Di Minami Senju"
"Saya baru dengar ada penginapan ini" lha piye to bang mosok ngarang sendiri, print-print'annya juga langsung dari website. Itu guest house bang bukan hotel.
"Tahun kemaren saya pernah menginap disini"
Lalu abangnya ngutak atik henpon browsing sesuatu. Entah apa yang diketik, huruf kanji semua. Jangan-jangan smsan ama pacarnya juga gak tau. Akhirnya paspor distempel dan dikembalikan.

Pertanyaan yang paling neko-neko saat di KLIA. Beberapa kali keluar masuk ke Malaysia selalu dapat pertanyaan yang tak diduga.
"Kamu pernah kerja di Saudi?"
"Kamu pernah kerja di Malaysia?" emang nasib gue punya tampang...

Pernah juga saat transit tapi bukan petugas imigrasi hanya mbak-mbak petugas di loket transit. Flight dari Seoul delay sehingga di Malaysia waktu transit jadi mepet sekali. Baru juga landing sudah ada panggilan boarding ke Jakarta. Saya minta ijin nyelak antrian. Sampai di depan malah kena sewot
"Kenapa terlambat?!!"
"Pesawatnya yang delay" kok saya yang dimarahi toh mbak ee...
"Bongkar semua tasnya" hastagaa udah mepet tetep suruh bebongkaran. Lagian baru turun dari pesawat gak keluar bandara, emang bawa apaan. Noh lihat isinya duit semua... Petugas disini paling seneng ngerjain. Okey gak apa-apa ya memang tugasnya mereka.

Saat ke imigrasi jangan memakai case pasport, copot dulu semua aksesoris di pasport

Sedangkan di Airport Norway saya sering kena random check. Diajak masuk ke ruangan dioles-oles apa saya gak tau, seperti di mall disuruh nyobain parfum, lalu diraba terutama bagian kerudung dan dicek pake alat detektor seluruh badan. Isi tas juga dilihat semua. Untunglah tidak ada masalah. Malahan di Airport Bodo kerudungnya suruh dibuka. Kaget, ya mau gimana lagi dari pada panjang urusan. Tapi baru mau dibuka petugasnya bilang, stop stop tidak usah. Cukup. Alhamdulillah...

Saat keluar dari Helsinki petugasnya mas-mas ganteng. Menatap muka sambil senyum ramah. Tiba-tiba nanya, terdengarnya seperti 
"Have you been to Than More??" waduh mati apaan ya... Emang Than More dimana?
"Saya abis dari Helsinki mau ke Singapur" yang penting jawablah.
Nanya lagi "Have you been to Than More??" 
Than more apaan sih mas. Grogi serasa mau pingsan dan mendadak zonk. Bolak balik menatap saya lalu paspor distempel dan ditunjukkan visa schengen saya. Ya Allah Denmark... Kenapa masuk ke telinga saya jadi Than More... Saya membuat visa dari kedutaan Denmark padahal keluar masuk schengennya dari Finland. Okey tidak ada masalah masnya hanya iseng pengen ngobrol.

Nah yang ini sebenarnya gak terlalu bikin deg-degan. Karena saatnya keluar dari Singapura. Keluar memang lebih lega dibanding saat masuk. Takut ditolak dideportasi. Tapi kali ini hanya transit dan akan terbang ke Helsinki. Kebagian petugas ibu-ibu usianya sekitar 50an.

Pertama ditanya tiket pulang. Semua tiket flight saya serahkan termasuk extend ke negara sebelah hingga tiket pulang ke Indonesia. Kedua ditanya,
"Benar ini foto kamu, kenapa beda-beda semua?" sambil melihat foto di visa-visa sebelumnya.
"Benar buk itu saya semua" meragukan memang di paspor tampang inem aslinya lebih mirip kakak saya mbak Dian Sastro.
Ketiga lebih dipelototin lagi,
"Kamu masih sekolah?" saking groginya jawab agak blepotan...
"Oh tidak, sudah kerja"
"Kerja dimana?"
"Indonesia"
"Ya saya taulah...!!" sedikit bentak kesel-kesel gemes.
"Oh maap, di Hospital" mati gue!!
"Kamu dokter?" 
"Bukan di bagian babibu...." saya jelaskan agak panjang mulai dari nyuci piring sampe gosok baju.
"Trus kamu sekarang mau kemana?"
"Helsinki" alisnya ibuk mengkerut, saya jawab lagi "Hmm Finland" masih mengkerut lagi... Ya Allah apa yang salah ya...
"Sekolah disana?"
"Bukan hanya liburan"
"Jauh sekali kamu liburan, berapa lama?"
"2 minggu"
"Sama siapa kamu pergi"
"Berdua dengan teman saya"
"Mana teman kamu?!!" Ya Allah buk penting banget toh... Tolah toleh cari teman saya untung masih kelihatan, jarak 2 line di sebelah dan sudah beres lebih cepat.
"Yang itu baju kotak-kotak disana"
"Teman kamu kerja juga?"
"Iya"
"Kamu sering seperti ini, kerja kamu bagaimana?"
"Kalau ada cuti iya, selesai cuti kerja lagi" jawaban anak TK sampai keluar.
"Mau kemana saja nanti"
"Copenhagen, Oslo, Stockhom, Tallinn, Helsinki trus pulang" menatap dalam-dalam sambil mlorotin kacamatanya, lalu manggut-manggut dan paspor dibolak balik. Waduh apalagi nih...
"Ya sudah hati-hati yaa..." paspor distempel dan dikembalikan.
"Thank you"

Ya Allaaaah... Leganya sampai ke ubun-ubun. Nanya panjang lebar dikira mau dikasih ongkos buk. Tapi lumayan dikasih senyum sedikit. Kebanggaan tersendiri kebagian petugas imigrasi yang bisa senyum.

Dari pengalaman yang sudah terlewati, saya jadi punya point yang harus diperhatikan saat masuk ke suatu negara. Tapi hanya sebatas liburan karena belum pernah tujuan lain yang menetap lama misalkan sekolah atau kerja.
  • Sebaiknya punya foto copy paspor dan visa, lebih baik lagi disimpan dalam file di flashdisk atau email. Mitamit jangan sampai hilang sih, tapi seandainya terjadi yang paling buruk masih ada copynya dan gampang ngceknya.
  • Di pesawat biasanya pramugari akan membagikan Disembarkation Card untuk foreign nationals, isi dengan jelas dan sejujurnya. Biasanya minta dituliskan alamat tinggal dan nomor telpon. Lha alamatnya segambreng kertasnya kecil. Ya sudahlah diatur aja. Selipkan di dalam paspor dan jaga baik-baik jangan sampai hilang.
  • Print tiket pulang pergi termasuk tiket apa saja yang sudah dibooking misalkan tiket bus atau kereta pindah kota/negara atau apa saja yang bakal meyakinkan bahwa ke negara itu sekedar liburan dan pasti akan pulang bukan mencari kerja.
  • Print semua bukti reservasi hotel.
  • Itinerary / rencana perjalanan, persiapkan dengan matang. Ketik sedetail mungkin dari mulai masuk sampai keluar negara itu mau kemana saja dan ngapain aja, tulis sejelas-jelasnya.
  • Siapkan uang cash secukupnya, jika kena random check bisa jadi ditanya bawa uang berapa? Intinya ke negara orang ya punya duitlah ga bakalan gembel disana.
  • Bersikap tenang, sopan dan tidak mencurigakan. Patuhi aturan yang ada. Tidak memainkan hp atau gadget. Tidak memotret dan antri yang rapi. Tunjukkan pada petugas bahwa datang baik-baik ke negara itu.
  • Setidaknya bisa ngomong enggres biarpun hanya yes no aiem fain syukur-syukur bisa ailopyu mister.
  • Catat alamat dan nomer telpon KJRI, teman atau nomer penting lainnya, seandainya sewaktu-waktu perlu bantuan.
  • Tidak perlu takut atau merasa diintimidasi oleh petugas imigrasi maupun petugas yang lain di bandara karena memang tugas utama mereka. Maklumlah mereka pintu gerbang suatu negara punya peran penting untuk melindungi negara. Hargai profesi mereka dengan sikap kooperatif, menjawab pertanyaan dengan jujur dan sebaik-baiknya. Jangan lupa berdoa, Bismillah, Insya Allah lancar. 

Jul 14, 2018

Mahalnya Pipis Di Eropa

July 14, 2018 0 Comments
"Asyik banget sih bisa maen salju..." kata beberapa sahabat saat melihat foto saya berpose ala Princess Elsa di film Frozen. Ketawa ketiwi ngakak sok melempar pasir beku berwarna putih mirip garam tabur di meja makan. Memang fenomena yang jarang atau malah tidak pernah ditemui di negara sendiri ini terlihat indah saat difoto. Tapi taukah sebenarnya apa yang saya rasakan dibalik itu semua? Badan menggigil, hidung meler, kepala pusing, meriang belina, tangan beku, licin, kepleset, lensa kamera dan kacamata berembun... Aarrghh rasanya mau mewek pengen cepat pulang. Paling betah ya diam di cafe minum yang anget-anget dan duduk paling dekat ke penghangat ruangan. Setidaknya 100 ribuan harus melayang demi kehangatan. Tidak ada acara gratis emang punya mbahmu. Nah kalau minuman hangat sudah diolah di dalam tubuh lalu bakal muncul kerepotan yang baru lagi yaitu kebelet pipis. Huaaa....

Urusan kebelet pipis ini yang paling sering menghantui sepanjang jalan. Kedinginan di ruang berAC saja, setidaknya sejam sekali harus bolak balik ke toilet, apalagi di tempat beku ya beser pastinya. Sedangkan toilet umum di Eropa kebanyakan tidak gratis, harus masukin koin dulu pintunya baru bisa kebuka sekitar 50 sen - 1 yuro (1€ = Rp 17.000). Berbayar mahal pun masih mending jika mudah ditemukan, biasanya muter kesana kemari tidak ada. Sekalinya ada kadang tidak ada petugasnya, bahasanya lokal dan tidak tau cara pakainya. Solusi termudah ya cari yang gratisan tapi dengan syarat beli sesuatu dulu di cafe. Sama bae!!!


Bagaimana jika tidak punya koin? Beberapa tempat biasanya menyediakan mesin penukar koin di dekat pintu masuk, kadang juga ada loket khusus untuk bayar langsung ke petugasnya. Bahkan ada yang bayarnya pakai gesek kartu, bisa debit atau kredit. Seperti yang saya temui di Terminal Bus Oslo. Biarpun bahasanya tidak bisa dimengerti tapi gambar ilustrasinya cukup menerangkan. Tinggal digesek lalu muncul ceklist warna ijo dan pintu bisa didorong. Berapakah tagihannya? 20 RIBU. Alamak sekali pipiiiiiissss.....!!!! Maap orang miskin dilarang beser yaa...


Mesin gesek di toilet Terminal Bus Oslo Norway

Jangan dikira toilet mahal itu serba kinclong. Seperti biasa tidak pernah ada bidetnya (semprotan buat cebok). Hanya tersedia tissue gulung. Kadang malah ketemu rejeki jika penghuni sebelumnya tidak beres ngeflushnya, masih meninggalkan benda purbakala di dalam kloset. Belum lagi tissue di tempat sampah yang ketempelan sisa pembuangan, baunya semerbak memenuhi ruangan. Sudah bayar mahal pengennya benar-benar dipakai maksimal, selamaaaa mungkin di dalam toilet biar tidak rugi. Tapi jangankan lama, sebentar aja megap-megap nahan nafas.


Saya pernah suatu hari di Amsterdam, saking kebeletnya masuk ke hotel berbintang pura-pura nanya ke resepsionis, ngobrol sebentar lalu minta ijin ke toilet numpang pipis. Paling suka dengan toilet di hotel pastinya bersih.



Struk bayar ke toilet di Moscow (sekitar 14 - 15 ribu rupiah)

Sekedar tips sebaiknya selalu membawa botol kosong bekas air minum. Jangan lupa sebelum masuk ke toilet isi dengan air bersih, lalu bawa masuk dan buat cebok. Selalu sediakan juga tissue basah di dalam tas. Manfaatkan dengan sangat toilet gratis seperti di airport, hotel, mall, cafe atau restoran sebelum membaur di alam indah nan beku atau kalau mau silahkan pakai popok hahaha...


Botol air model ini paling praktis tidak blepotan

Sejauh saya melangkah, toilet umum yang bersih, gratis dan mudah ditemukan yaitu di Asia adalah di Jepang dan Korea. Toilet Jepang menurut saya paling okey, tombolnya banyaaakk ada flush, semprot gede, semprot kecil, blower, airnya anget, klosetnya dilapisin kain beludru dan macem-macem.