Showing posts with label Thailand. Show all posts
Showing posts with label Thailand. Show all posts

Sep 10, 2015

Perjalanan Ke Chiang Rai - Bertemu Tante Berwajah Horor

September 10, 2015 0 Comments
Jam 08.30 pagi udara di Chiang Mai masih dingin dan sedikit berkabut. Saya check out dari penginapan. Pemilik penginapan belum bangun dan harus digedor oleh pembantunya. Lalu mencari songthaew (angkot) untuk mengantarkan ke terminal dengan ongkos 80 THB. Songthaew di sana sepertinya tergantung permintaan, tidak ada trayek seperti angkot disini karena sampai di terminal penumpangnya saya sendiri.

Saya berangkat dua jam sebelum jam keberangkatan bus ke Chiang Rai untuk berjaga-jaga barang kali perjalanan ke terminal kurang lancar. Ternyata kurang dari 20 menit sudah sampai artinya harus menunggu 1 jam 40 menit lagi. Tiket beli sehari sebelumnya. Taunya hanya Green Bus yang berangkat tiap jam sekali dan beli untuk jam 10.30 agar tidak terburu-buru karena khawatir paginya males bangun. Namun sepertinya banyak juga armada bus yang lain.

Penampakan tiket

Saya coba ke counter tiket minta pindah ke bus yang berangkat lebih cepat. Ternyata full. Jadilah harus menunggu sambil kedinginan di dekat platform tempat bus akan parkir. Beberapa kali diajak ngobrol menggunakan bahasa Thailand termasuk dengan para staf bus, dikira saya asli Thailand. Malah ada seorang ibu ceriwis banget "Kha khu hengheng ngek ngoook" sudah bilang "Sorry l can't speak Thai" tetep tidak mau diam. Sepertinya tanya sesuatu lama-lama berubah muka jadi bete karena saya hanya senyum tidak menjawab apa-apa. Setelah dijelaskan oleh salah satu orang disitu dengan bahasa Thailand barulah ketawa.

Penumpang bus ke Chiang Rai sebagian orang lokal dan sebagian lagi bule berambut pirang. Beberapa kali say hello katanya dari Maroko, Rusia, England, Spanyol dan tidak tau dari mana lagi. Sepertinya yang dari lndonesia saya sendiri. Sempat ngobrol asyik dengan mas ganteng dari Maroko yang sama-sama belum tau banyak tentang Chiang Rai tapi sayang busnya berangkat duluan. Dia mencoba memastikan lagi ke staf bus barang kali saya bisa pindah, ternyata bener bener full. Terpaksa deh say good bye ama yayang eits...

Penampakan Green Bus

Beberapa saat kemudian bus datang, saya dan penumpang lainnya gantian masuk. Saya duduk bersebelahan dengan ibu dari Rusia mungkin hampir seusia dengan ibu saya, bernama Victoria yang berprofesi sebagai guru matematika. Beliau bersama suaminya tapi di kursi sebelah. Kami ngobrol dengan bahasa lnggris campur bahasa tarzan karena bahasa lnggris ibu lebih kacrut dari pada saya.

Busnya nyaman sekali seat 2-2, tempat duduk dan sandaran kakinya luas. Sebelum berangkat dibagikan air mineral dan snack (hanya wafer sih). Jalanan di Thailand lebar halus dan jarang sekali ada lubang, walaupun naik turun belok belok tapi tidak berasa goyang. Pemandangan di kanan kiri jalan dipenuhi dengan hutan dan kadang-kadang ada segerombol perkampungan. Karena capek ngobrol dengan bahasa tarzan saya pun pura-pura tidur dan akhirnya tidur beneran.

Setengah perjalanan bus berhenti di rest area yang sederhana sekali. Penumpang bisa turun membeli makan atau ke toilet. Saya dan mbak bule berambut pirang bingung mencari toilet karena tulisannya keriting semua. Ternyata ada di belakang toko, bayar 3 THB. Suasananya mirip seperti kampung di Jawa hanya beda bahasa.

Selesai istirahat bus kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini jalannya banyak berbukit mirip tol cipularang km 90an ke atas sehingga ada beberapa penumpang yang terdengar hoek hoek mabok. Saya jadi ikut-ikutan pusing, tapi syukurlah tidak sampai mual.

Berapa lama kemudian bus memasuki kota Chiang Rai dan berhenti di sebuah terminal. Saya dan ibu sebelah sempat bingung sudah sampai terminal tapi kok penumpang belum disuruh turun. Untunglah mbak bule berambut pirang tanya ke sopirnya "Chiang Rai?" Katanya baru sampai di terminal 2 sedangkan kita akan diturunkan di terminal 1. Baiklah saya nurut saja. Kira-kira 5 kilometer lagi bus sampai di terminal 1. Total perjalanan mulai berangkat dari Chiang Mai memakan waktu  4 jam, lebih lama 1 jam dari yang dikatakan kebanyakan orang. Ternyata kota Chiang Rai kecil sekali tapi walaupun kecil sepertinya segalanya jauh lebih maju dibanding Pacitan. Ya iyalaah...

Begitu turun dari bus langsung diserbu oleh sopir tuk tuk padahal rencana mau jalan ke belakang terminal yang katanya banyak penginapan. Jadinya melipir mendekati mas bule 2 orang yang sama-sama gendong ransel. Katanya dari Spanyol dan belum dapet penginapan juga. Akhirnya saya bergabung dengan mereka. Dapatlah guesthouse 200 THB/malam kira-kira setengah kilometer di belakang terminal.

Rumah agak tua berhalaman luas, cat pintu dan jendelanya dominan warna hitam abu abu jadi serasa seram-seram gimana gitu. Ditambah lagi resepsionisnya tante cantik chinnese berdandan menor tidak banyak omong, tidak banyak senyum tatapan matanya dalam dan tajam, setajam silet. Busyet dah rasanya horor jangan-jangan tante ini vampir. Bajunya mirip dengan teman-temannya Bella di film Breaking Dawn yaitu jaket yang lehernya bulu bulu menjuntai ke bawah dengan motif totol macan. Rambutnya sebahu ikal di blow rapi. Cantik seperti selebritis tapi sepertinya ada yang salah dengan wajahnya.

Pojok wifi di penginapan. Disini sinyalnya kenceng kalau dari dalam kamar keong banget bahkan tidak bisa. Kamar saya dari pohon kelapa belok kanan lurus ke bawah.
 
Lalu saya diantar oleh tante berwajah horor ke kamar yang di rumah belakang, mas bule dapet kamar di depan yang masih serumah dengan resepsionis. Kamarnya lumayan luas karena memang untuk 2 orang, bersih walaupun perabotannya sudah terlihat usang. Kasurnya dari kapuk tengahnya melengkung seperti perahu dan spreinya kekecilan jadi semakin melengkung. Mirip kasur dikost saya dari masa ke masa (sekarang udah springbed ya walaupun per'nya suka nusuk-nusuk punggung). 

Maklum 200 THB semalam masih lebih murah dan nyaman dibanding kamar dorm. Kamar mandinya luas bersih dan dilengkapi dengan air panas, nah ini penting sekali karena Chiang Rai dingiiin banget. Biar begitu adanya tapi saya betah, seandainya suatu saat berkesempatan ke Chiang Rai lagi bolehlah balik lagi karena suasananya yang rumah banget serasa menginap di rumah saudara. Penasaran juga dengan tante berwajah horor, sudah ganti jaket belum ya karena selama saya disana baju dan jaketnya tidak pernah ganti hahaha...

Jun 15, 2015

Menuju ke Golden Triangle - Perbatasan 3 Negara

June 15, 2015 4 Comments
Golden Triangle atau Segitiga Emas Asia Tenggara adalah suatu tempat dimana kita bisa melihat tiga negara dalam satu pandangan yaitu Thailand, Laos dan Myanmar. Hanya dipisahkan oleh pertemuan Sungai Ruak dan Sungai Mekong. Berada di distrik Chiang Saen, 829 kilometer dari Bangkok dan 80 kilometer dari kota Chiang Rai. Dulu tempat ini merupakan ladang penyelundupan opium yang sangat terkenal di dunia. Tentu saya kesana bukan mencari opium hanya sekedar melengkapi gelandangan di Chiang Rai.

Pagi itu jam 08.30 kota Chiang Rai masih diselimuti kabut. Udara dingin menampar pipi dan membuat bibir kering bocel-bocel. Saya masuk ke kantin di guest house.

“Thangchiek chuong hsgakuk shtagddjajg skjdgyfsa” sepasang kakek dan nenek penjaga kantin menyambut saya.
“Aku wes adus nek saiki luwe” kata saya sambil menunjuk gambar roti. 

Lalu beliau membuatkan saya roti bakar dan teh manis. Dari pada susah-susah pakai bahasa Inggris mending pakai bahasa Jawa simbahnya juga ngerti.

Selesai makan saya jalan kaki ke terminal mencari minivan yang bernama Green Bus jurusan Golden Triangle. Tidak susah menemukannya karena tulisannya campuran keriting dan bahasa Inggris. Belum ada penumpang di dalam van sehingga harus menunggu sampai van terisi penuh. Sebelum berangkat sopir meminta ongkos 50 bath per orang.

Di perjalanan melewati beberapa kali check point. Van berhenti di depan pos dan tentara bersenjata lengkap masuk ke dalam mobil memeriksa penumpang satu per satu. Bagi warga lokal diharuskan menunjukkan KTP dan turis luar menunjukkan paspor. Yang tidak dapat menunjukkan identitas akan dibawa masuk ke kantor. Konon selain jalur perdagangan opium di jalur ini juga tempat masuk dan keluarnya para tenaga kerja ilegal dan imigran gelap. Jadi bisa 3 sampai 5 kali pemeriksaan. Disitu saya merasa takut.

Dua jam berselang tibalah di Golden Triangle. Golden Triangle sebenarnya kini hanya menyisakan keping kenangan kejayaan di masa lalu. Ternyata biasa saja dan tidak seseram yang saya bayangkan. Ada sebuah papan dan tugu sederhana sebagai penanda tempat legendaris ini. Pertemuan Sungai Ruak dan Sungai Mekong sebagai pembatas tiga negara hanyalah sungai besar yang berair cokolate butek mirip dengan Sungai Grindulu di Pacitan. Hampir tidak ada yang istimewa.

Tugu penanda Golden Triangle

Salah satu yang menarik perhatian di Golden Triangle adalah kuil yang berada di tepi Sungai Mekong di daratan Thailand. Kuil ini berada di sebuah bangunan seperti perahu besar berwarna cerah dengan ornament kepala naga di ujungnya. Sementara diatasnya terdapat patung budha besar berwarna emas setinggi 46 meter. Patung ini bisa dilihat dari 3 negara.

Kuil Budha


Saya berdiri di Thailand, di belakang saya sebelah kiri tampak rumah kecil-kecil merah adalah  Myanmar dan sebelah kanan tampak kubah kuning adalah  Laos.

Dari daratan Thailand bisa naik perahu menuju Donsao yaitu desa yang berada di teritori Laos dengan membayar 200 bath. Tidak perlu melalui pemeriksaan imigrasi lazimnya melintasi batas negara. Cukup membayar 20 bath untuk mendapatkan kertas kecil sebagai penanda pernah berkunjung kesana. Disana ada pasar kecil yang menjual berbagai pernak-pernik karya lokal seperti tenun, serangga yang diawetkan dari kecoa sampai kalajengking. Yang paling aneh adalah snake wine, di dalam botol wine terendam ular mati wueeekk… Dikasih gratis juga ogah. Pasti buat yang itu-itu... Apa coba?  

Dari Golden Triangle saya lanjut ke Mae Sai. Saya ingin mencoba masuk ke Myanmar walaupun hanya di perbatasan yaitu Tachileik. Saya diturunkan di sebuah halte oleh sopir van entahlah daerah mana karena tidak ada tulisan Inggris sama sekali. Katanya disitu tempat menunggu bus jurusan Mae Sai. Memang ada beberapa kali bus lewat tapi tulisannya keriting semua dan saya tidak berani naik. Setelah hampir satu jam, lewat juga bus jelek dengan tulisan yang bisa dibaca yaitu Mae Sai.  

Saya naik bus itu, di dalam ada perasaan lega karena ada satu penumpang bule berambut pirang. Walaupun tidak ngobrol setidaknya ada teman yang sama-sama orang asing. Busnya berjalan lelet banget sambil mencari penumpang sepanjang jalan dan beberapa kali mencari alamat untuk menyampaikan kiriman paket. Sampai di Mae Sai ternyata sudah kesorean. Waktu menunjukkan pukul 16.00 tidak memungkinkan untuk masuk ke Tachileik, karena angkutan umum terakhir ke Chiang Rai jam 17.00. Akhirnya saya pulang lagi ke Chiang Rai naik minivan yang lebih cepat.

Jun 14, 2015

Bertemu Orang Baik Di Chiang Rai

June 14, 2015 1 Comments
Setelah mandi, sholat dan istirahat, jam setengah 3 sore saya berangkat  ke White Temple (Wat Rong Khun) adalah salah satu kuil Budha paling terkenal di Chiang Rai. Letaknya jauh di luar kota Chiang Rai kira-kira 1 jam menggunakan kendaraan bermotor. Jika naik songthew ongkosnya lumayan mahal antara 500-600 THB, tapi saran dari teman bisa naik bus umum dari terminal 1 hanya dengan 20 THB.
 
Saya jalan kaki ke terminal yang letaknya 500 meter dari penginapan. Sampai di terminal mencari bus umum yang berpenampakan jelek-jelek dan tulisannya keriting semua. Lhadhalah… yang mana? Saya disuruh naik ke salah satu bus oleh ibu-ibu kondektur. Busnya ngetem dulu sekitar 45 menit. Jadi deg-degan khawatir kesorean karena bus terakhir balik ke Chiang Rai jam 5 sore. Jalannya juga lelet banget masih sambil nyeser-nyeser nyari penumpang. Persis kya bus umum di Indonesia kondekturnya menggantung di pintu sambil teriak-teriak.

Sekitar 1 jam perjalanan, di sebuah perempatan ibu kondektur memanggil saya “White Temple... White Temple…”. Ibu itu mengantarkan saya turun dan menunjukkan arah ke White Temple dengan bahasa isyarat. White Temple tidak berada di pinggir jalan raya tapi masuk ke dalam sekitar 200 meter. Jam menunjukkan pukul 16.30 waktu setempat, artinya saya hanya punya waktu setengah jam disana dan harus balik lagi untuk mengejar bus terakhir. Rasanya tidak rela kalau harus buang duit 600 THB. Saya jalan cepat setengah lari lalu mengambil gambar jeprat jepret sekenanya. Untunglah masih sempat berfoto narsis di depannya.

Di depan White Temple

Jam 16.55 saya lari ke pinggir jalan. Suasananya sepi sekali tidak ada orang satu pun. "Benarkah nunggu busnya disini? Ya Allah help me". Saya duduk di halte sampai jam 17.15 belum ada bus yang lewat. Hari semakin gelap, saya semakin deg-degan. Kalau terpaksa berarti harus merelakan 600 THB.

Suasana di halte, semakin gelap semakin ngenes

Tiba-tiba ada sepasang bule sudah agak tua dari England, katanya mau ke Chiang Rai juga. Namanya Brenda dan Bryan. Kami duduk bertiga di halte sama-sama berharap masih bisa terangkut oleh bus yang terakhir.

Jam 17.30 belum juga ada bus yang lewat. Syukurlah ada sebuah songthew berhenti di depan halte “Chiang Rai.. Chiang Rai...” teriak pak sopir. Brenda menggandeng tangan saya untuk naik ke angkot khas Thailand itu. Di dalamnya ada sekeluarga bule England bapak, ibu, anak bersama guidenya mbak-mbak cantik orang Thailand. Sepertinya songthew itu telah di sewa oleh mereka, tapi kami diperbolehkan bergabung. Kami ngobrol sepanjang jalan saya kadang nyambung kadang plonga plongo, mereka bahasa Inggrisnya licin-licin banget, pastinya donk orang Inggris semua.

Sampai di Chiang Rai songthew mengantarkan bule England sekeluarga ke guest housenya, lalu mengantarkan saya. Sebelum turun saya berpamitan dengan Brenda dan Bryan, tak lupa membayar ke pak sopir. Tadinya diminta 200 THB dikira buat bertiga karena sendiri hanya diminta 60 THB. Masih murah lah karena diantar sampai penginapan. Brenda teriak dari dalam songthew “How much?” “60 bath”. Songthew beranjak pergi dan saya masuk ke halaman guest house.

Saya duduk di teras mencari sinyal wifi, mengaktifkan hp barang kali ada kabar cinta. Tiba-tiba ada suara memanggil...

“Hello…” Brenda dan Bryan menyusul saya. 
“Kamu tadi bayarnya kelebihan seharusnya hanya 20 bath, sopir songthewnya memang meminta lebih tapi biar kami saja yang bayar, dan ini uang kamu” kata Brenda sambil menyodorkan uang 40 THB.
“Ohh... Thank you so much…” kaget keheranan dan hanya itu yang bisa terucap.
“Bye bye…”

Subhanallah… baik banget… 40 THB memang tidak seberapa sekitar 16 ribu rupiah. Tapi niat banget sampai nyari saya ke penginapan.

Setelah maghrib saya keluar ke Night Bazaar sambil berdoa semoga ketemu lagi dengan Brenda dan Bryan. Chiang Rai hanya kota kecil, hiburan dimalam hari yang paling popular hanyalah itu. Tapi sudah muter kesana kemari keliling pasar belum juga bertemu mereka. Cari ke beberapa restoran tidak ada. 

“Where are you Brenda?” 

Udara semakin dingin rasanya ingin menyerah dan pulang ke guest house. Tapi berpikir lagi, orang seperti mereka tidak akan makan di restoran pastinya di tempat yang lebih merakyat. AHAA… Di sebelah ada banyak kursi di tanah lapang yang dikelilingi oleh tenda makanan. Di depannya ada panggung tempat tari-tarian tradisional. Saya coba cari disana, kalau tidak ketemu juga ya berarti anda tidak beruntung.

Benar saja saya melihat ibu-ibu memesan bir, dari belakang kelihatannya seperti Brenda. Karena tidak yakin saya tidak berani memanggil dan hanya mengikutinya dari belakang. Sampai di tempat duduknya Bryan memanggil saya.

“Hello…”
“Haaa… Akhirnya ketemu lagi”
“Hayo duduk”
"Okay. Thank you!!"
Dan malam itu saya menghabiskan waktu bersama mereka. Biarpun baru kenal tapi rasanya seperti bertemu orang tua saya. Begitulah pertemuan sesaat kadang lebih bermakna.

Always miss them

Mar 9, 2015

Travelling Never Alone

March 09, 2015 3 Comments
Jalan-jalan sendirian memang terdengar aneh. Memang tidak punya teman sama sekali? Tidak takut tersesat, diculik, dijahatin dan seabreg pertanyaan lainnya. Walaupun judulnya jalan-jalan sendiri tapi di perjalanan atau sampai di tempat tujuan pasti tidak akan sendiri. Banyak sekali teman. Malah kalau sudah merasakan sekali ada perasaan menyesal, hari gini baru solotravelling kemaren kemana aja?

Saya pernah membuktikan. Suatu hari dari Langkawi (Malaysia) hendak ke Satun, Hatyai lalu ke Krabi (Thailand). Dua hari sebelumnya saat baru tiba di Langkawi, ada bapak sopir taksi yang baik hati membantu saya membeli tiket ferry Langkawi - Satun. Beliau mencarikan sampai ketemu, sampai rela muter bolak balik di Jetty Point memastikan jadwal ferry agar saya bisa memperkirakan waktu sebelumnya.

Dua hari kemudian sambil menunggu imigrasi di Jetty Point saya duduk bersebelahan dengan turis Amerika. Kami bercerita tujuan masing-masing. Beliau bersama suaminya hendak ke Trang sedangkan saya ke Krabi lewat Hatyai. Saya belum tau dari Satun ke Hatyai naik apa, rencana sambil jalan sambil tanya. Ternyata dikasih tau beliau kalau ke Krabi tidak usah lewat Hatyai. Katanya jelek tidak ada apa-apa, mending lewat Trang. Bisa naik bus atau van. Oh baiklah suhu. Terimakasih.

Di pintu keluar imigrasi Satun, banyak sekali travel yang menjual tiket ke berbagai tempat di Thailand Selatan dari mulai Trang, Koh Lanta, Krabi, Koh Phi Phi, Phuket, Hatyai, Koh Samui dan masih banyak lagi. Saya asal beli tiket van ke Krabi pada ibu berkerudung seharga 600 THB. Rupanya tidak banyak yang beli ke ibu itu tapi ke travel sebelah yang teriakannya lebih kenceng. Sempat khawatir salah beli. Ternyata tidak, beli dimanapun harganya sama dan akan dikumpulkan untuk berangkat bersama.

Hanya menunggu 15 menit saya diantar oleh ibu penjual tiket ke mobil van berkapasitas 18 orang. Saat itu hanya saya dan sopirnya yang berkulit cokolate. Semua bule Eropa berkulit putih kemerahan dan berambut pirang. Untung pakai kerudung jadi tidak kelihatan rambut hitam saya. Ada dari Norwegia, Finlandia, Jerman, Belgia, Belanda dan Denmark. Kami duduk diatur oleh sopirnya sesuai dengan tujuan masing-masing. Yang paling jauh di kursi belakang dan yang akan turun duluan di dekat pintu. Begitu juga dengan ransel, yang paling atas yang akan turun duluan. Salut dengan mereka tidak ada yang protes satu pun. Padahal ada yang separo kursinya kena tas ransel sehingga duduknya agak berdesakkan. Tidak masalah.

Setengah perjalanan menuju Trang (setelah 2.5 jam) mobil berhenti di pom bensin. Kami diberi waktu 30 menit untuk istirahat. Saya ditunjukkan oleh pak sopir warung makanan yang penjualnya ibu berkerudung “Muslim muslim halal...” Wuih Alhamdulillah...



Inilah van kami.

Dari Satun, Trang sampai Krabi banyak orang muslim jadi tidak susah mencari makanan halal.

Tepat 30 menit kami semua kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Satu setengah jam kemudian mobil berhenti di depan stasiun Trang. Rupanya disini kami dipisah-pisah. Tujuan Koh Lanta dipindahkan ke mobil yang lain. Saya dan penumpang tujuan Krabi dan Phuket juga dipindahkan. Entahlah sisanya kemana. Di mobil yang baru bertemu lagi dengan teman baru. Salah satunya adalah mbak-mbak dari Australia yang bisa bahasa Thailand jadi bisa menerjemahkan dialog antara kami dengan sopir van. Saya dikira dari Malaysia, setelah tau dari Indonesia beliau merespon dengan baik karena pernah ke Bali.

Sampai di Krabi sopir van menawarkan, “Mau turun di Krabi Town dan naik songthew sendiri atau nyewa van lagi dengan menambah 100 THB?” Tentunya setelah 7 jam perjalanan kami sepakat menambah 100 THB diantar sampai penginapan. Pak sopir tanya ke semua penumpang "Where do you stay?" Ao Nang Villa, Ao Nang Resort, Beach Resort Suit Suit, Grand grand apalah... Dari namanya terlihat tempat berbintang semua. Giliran saya, Ao Nang Backpacker... Mak jleb!!! Tuiiingg.... Valing qere bok.

Saya orang kedua yang diturunkan oleh pak sopir setelah mbak Australia, tepat di depan hostel. Saya bertemu dengan teman baru di kamar female dorm 6 orang dengan harga 300 THB semalam (Rp 117.000). Sekamar dengan turis dari Finlandia 2, Belgia 1, Hawai 1 dan 1 lagi kalau tidak salah dari Denmark. Lagi-lagi kulit dan rambut saya beda sendiri. Alhamdulilah baik-baiiik semua. Mbak Belgia menawarkan jalan bareng besoknya, mbak Hawai ngajak cari makan bareng dan semua mengijinkan saya untuk sholat di kamar.

Sore hari saya jalan-jalan ke pantai Ao Nang, dalam keadaan masih galau antara ikut mbak Belgia, tour James Bond atau ke Phi Phi Island. Sebenarnya lebih tertarik ke Phi Phi tapi berat rasanya berpisah dengan teman sekamar yang baik-baik itu. Selesai sholat maghrib saya duduk di masjid menunggu isya sambil berdoa memohon pada Allah agar ditunjukkan kemana harus melangkah. Anak-anak kecil yang sedang belajar mengaji memberikan salam akrab seperti kedatangan teman baru. Semakin memberatkan langkah saya untuk pergi dari Ao Nang. Tak terasa air mata meleleh, lebay sih tapi disitu saya merasa sedih.

Mbak Belgia mengajak rock climb, saya kurang tertarik karena takut ketinggian. Ikut tour James Bond rasanya masih trauma mabuk laut saat ke Anak Krakatau. Jadi yang sangat mungkin ke Phi Phi Island. Tiket ferry ke Phi Phi rata-rata 450 THB one way, banyak dijual di travel yang bertebaran di sepanjang pantai Ao Nang. Tapi alhamdulillah saya menemukan satu travel yang menjual 300 THB dijemput di penginapan. 



Selalu kangen dengan tempat ini

Biar berantakan tapi kamar ini bersih dan tetap wangi, bed saya diatas yang selimutnya biru.

Besoknya tepat jam 12 siang setelah cek out saya dijemput oleh mobil van bersama dengan 3 teman sepenginapan tapi beda kamar. Di dalam van sudah ada beberapa turis dari penginapan lain. Kami diantar ke pelabuhan tempat ferry jurusan ke Phi Phi. Masih sedih teringat segala suasana hangat selama di Ao Nang. Semoga di Phi Phi akan bertemu dengan teman yang baik lagi.



Ferry Ao Nang - Phi Phi

Setelah 1.5 jam mengarungi lautan, ferry merapat di pelabuhan Phi Phi. Begitu turun disambut oleh porter dan travel-travel yang menawarkan penginapan maupun paket tour. Saya bingung karena belum memegang peta. Beberapa tempat yang bertuliskan Information Center tidak mau membantu karena saya menolak menginap di hotel yang mereka tawarkan. Saya mencoba melangkah menyusuri lorong-lorong seperti pasar sambil bertanya dimana letak penginapan yang sudah saya booking. Hasilnya nihil.

Pundak saya mulai pegel kelamaan menggendong ransel. Saya pun pasrah dan akan menginap dimana saja. Saya coba menawar ke salah satu kamar dorm seharga 400 THB menjadi 300 THB. Kata pemiliknya kalau mau yang 300 THB akan diantar ke penginapannya yang satu lagi. Okey hanya buat selonjoran semalem yang murahan aja. Setelah melewati gang kecil dan belok belok akhirnya sampailah di penginapan yang bernama Lucky House. Dan ternyata penginapan inilah yang saya cari-cari sebelumnya. Lhadhalaah bikin tercengang, kok bisa sih nyasar ke tempat yang bener.

Penginapan itu memang punya review yang kurang bagus, tapi penasaran dengan stafnya yang katanya baik banget. Kalau tidak betah pengen pindah uangnya bisa dikembalikan. Saya diantar ke kamar dan ternyata benar adanya, seperti barak sekamar 20 orang campur cewek cowok, jarak antara bed hanya cukup dilewati sambil miring-miring. Sprei dan sarung bantalnya bersih tapi selimutnya agak bau, lantainya banyak pasir yang terbawa di kaki bule-bule yang abis dari pantai. Gubrakk... Sesuailah dengan harga.

Kalau diperhatikan sepertinya saya satu-satunya orang asia. Kebanyakan cowok berbadan gede dan berbulu. Hampir semuanya telanjang dada. Yang cewek hanya ber-6 termasuk saya. Semua bajunya hanya sepotong cukup untuk menutupi bagian yang terpenting. Biar sekamar rame-rame tapi semua cuek tidak saling mengganggu. Untungnya saya bisa menikmati segala suasana, malahan jadi membuka mata "Seganteng-gantengnya cowok bule pirang, I just wanna say no!" Cukup tau ajalah.

Setelah istirahat sejenak saya bermaksud melihat sunset ke view point. Muter kesana kemari mencari tangga menjulang yang katanya bikin nangis tidak ketemu. Petunjuknya tidak begitu jelas hanya nemu 2 kali itupun kecil-kecil. Tanya ke beberapa orang malah tersesat tembus ke pantai, ke penginapan orang dan akhirnya terdampar di warung makan halal. Sampai menjelang maghrib belum ketemu juga. Yo wes pindah haluan cari masjid. Ada petunjuk mosque tapi dicari tidak ketemu. Coba tanya ke salah satu orang eh malah diantar padahal lumayan jauh. Tampaknya tau ditunjukkin sampe dower juga tidak akan ketemu karena posisinya nyelip dipojokan dan tidak kelihatan seperti masjid. Alhamdulillah bertemu orang baik.

Selesai isya tiba-tiba ada mas-mas Pakistan menegur saya “Assalamu’alaikum, where are you from?" Sebut saja Mas X. Rupanya beliau merhatiin saya sejak maghrib, beliau adalah imamnya. Kami ngobrol sebentar lalu saya diantar ke restoran halal milik temannya untuk makan malam. Ternyata orang yang mengantarkan saya ke masjid sebelumnya. Lah... kok bisa? Biar disitu harganya mahal-mahal tapi okey lah sebagai rasa terima kasih.

Selesai makan saya dan Mas X jalan-jalan ke pantai, ngobrol sampai malem. Banyak yang lagi bermesraan tentunya kami tetap jaga jarak ya karena saya anak sholeha. Usut punya usut ternyata penginapan saya milik temannya. Dan orang yang punya penginapan seharga 400 THB juga temannya. Disitu tempat tinggal Mas X. Phi Phi sesempit daun kacang. Saat saya diantar pulang, pemilik penginapan keheranan dikira kami sudah saling kenal sebelumnya.

Saya tidur tidak nyenyak, suara pintu sebentar-sebentar bergeser dan juga bisik-bisik tiada habisnya. Entah apa yang dilakukan bule-bule itu. Saya berharap malam itu segera berlalu. Jam 04.00 kurang saya tidak bisa memejamkan mata lagi. Suasana sepi hanya terdengar suara mendengkur bersahut-sahutan. Pagi itu saya janjian dengan Mas X ke masjid, masih ada waktu 1 jam untuk sholat malam. Saat mau keluar, ternyata masih tersisa dua bule yang sedang maen film dewasa di depan kamar di sebuah kursi yang disediakan untuk bersantai. Saya tertahan di dalam menunggu mereka selesai. Astaqhfirullah….!! Kucing sepertinya lebih beradab.

Sampai di Masjid masih tersisa sedikit waktu untuk sholat malam sebelum adzan subuh berkumandang. Muadzin dan imamnya Mas X sendiri. Selesai sholat, dzikir dan ngaji, Mas X mengajak saya melihat sunrise ke view point. Tempat yang saya cari dari kemarin tidak ketemu. Alhamdulillah ada guide gratis.



Biasa aja kok tempatnya sama aja kya di Indonesia melihat sesuatu dari ketinggian. Tapi disitu saya merasa senang.

Berlanjut trekking mengelilingi sebagian pulau Phi Phi. Lewat jalan setapak naik turun bukit, masuk ke kampung mirip kampung Baduy di Banten. Saya lebih excited kesini dari pada ikut tour james bond. Sudah kebayang paling begitu doank foto-fotonya di google juga seabreg. Kami berkeliling selama 4 jam sampai kakinya Mas X keseok-seok, alhamdulillah saya baik-baik saja.



Gubuknya penduduk Phi Phi

Lewat jalan setapak

Trekking

Long Beach, pantainya resort-resort mahal

Maya Bay (tempat syuting film James Bond) tampak dari kejauhan

Loh Dalam Beach

Island Hopping

Saya dan Mas X

Setelah mandi dan cek out saya tiduran di masjid menunggu sholat dzuhur. Lalu berpamitan dengan Mas X yang saat itu masih duduk berdzikir. Saya melanjutkan gelandangan ke Phuket naik ferry kedua jam 14.00. Saya pilih duduk di dalam ruang berAC bukan di atas seperti para bule kebanyakan. Sekejab saya tertidur, tiba-tiba terbangun karena mencium sesuatu seperti bau amis ikan busuk. Mak breenggg…. Setelah membuka mata rupanya di sebelah saya ada bapak-bapak gendut dari Perancis bersama pasangannya. Tiap kali bergerak mak breeng baunya. Hadeeuuhh… Bikin kepala pusing. Ada ya parfum aromanya ikan busuk. Untunglah tak berapa lama mereka pindah. Lega hidup saya.

Sampai di pelabuhan Phuket saya naik ojek ke Phuket town. Bosen tinggal di sekitar pantai kali ini akan menginap di tengah kota. Saya telah mengincar Win Backpacker Hostel seharga 200 THB semalam. Tempatnya cukup strategis dekat pangkalan bus, songthew ke segala arah dan fresh market yang ada makanan halal. Hanya saja tidak dekat masjid. Saya sekamar dengan cewek solo traveler dari Korea (Yoona) dan Swedia (Frida), dan cowok Argentina 2 orang, cowok Jerman 1 orang.

Malam itu saya bersama Frida dan Yoona jalan-jalan di sekitar Phuket Town, membeli buah ke pasar dan makan sea food di pinggir jalan. Saya tidak ikut makan karena ada menu pork. Saya hanya duduk menemani sambil makan buah dan telor rebus. Karena pelayannya susah berbahasa Inggris sehingga pesanan kami tidak sesuai semua. Seperti pesen nasi dikasih bubur. Jadi tidak mengenyangkan dan mencari tempat makan lagi. Ada salah satu cafe mewah yang di dalamnya banyak orang berkerudung. Tapi melihat tempatnya kami semua ragu takut mahal dan ternyata memang mahaal pemirsa tidak cucok untuk kantong backpacker. Ukuran orang Swedia aja mahal apalagi saya. “Oke I will come back tommorow” kata Frida. Sampai di luar “No... I don’t want to come back here “ Hahaha...



Saya, Frida dan Yoona

Kami kembali ke penginapan. Saya menyeduh bubur instan bekal dari Indonesia, mereka ikut mencicipi dan katanya enak. Kalau saya sih karena tidak ada makanan lagi jadi ya enak. Yoona suka dengan Indonesian food mie goreng with egg, karena masih menyimpan indomie maka saya bagikan satu-satu biar mengobati kerinduan mereka.

Saat saya sholat mereka diam melihat, lalu nanya-nanya pengen tau ini apa? Sajadah, Mukena. “Praying berapa kali?” “Sehari lima kali” “Haaahh…!! Banyak banget, I have no religion” hahahaa...

Jadwal biologis kami berbeda, saya jam 11 malem sudah teler sedangkan mereka masih pergi keluar entah kemana dan tidak tau pulang jam berapa. Pagi hari saya bangun mereka masih lelap. Saya keliling sendiri ke pasar bertemu ibu-ibu berkerudung yang semangat sekali menunjukkan tempat makanan halal. Padahal sudah duduk diatas bus jurusan Patong Beach tapi disuruh turun, katanya makanan halal di Patong susah dan mahal.

Di Patong Beach saya bertemu dengan pak cik dari Malaysia yang pada akhirnya ikut saya pulang ke Phuket Town. Jadi guide dadakan ceritanya. Alhamdulillah semuanya dibayarin dari ongkos bus, beli minum, jalan-jalan ke old town dan ke pasar. Sebelum perpisahan kami beli ayam goreng dan ketan lalu dimakan sambil duduk di pinggir jalan "Anggap aja kita duduk di cafe ya pak cik" hahaha....

Bersyukur sekali atas segala kemudahan yang Allah berikan. Rasanya bukan hanya kebetulan tapi Allah telah mengaturnya sedemikian rupa. Kembali juga pada niat, jika niat kita baik Insya Allah akan diberikan yang terbaik pula. Selain selalu bersama kita, Allah akan menghadirkan teman-teman baik yang tidak disangka-sangka. Jadi travelling sendirian siapa takut.

Perjalanan saya sebenarnya belum berakhir di Phuket masih berlanjut ke Bangkok dan bertemu dengan Simon (England) dan Summer (China) tapi nampaknya tulisan ini sudah kepanjangan jadi kapan-kapan dilanjut lagi ya... :)

Feb 10, 2015

Backpacking Ke Khaosan Road

February 10, 2015 2 Comments

Perjalanan saya ke Bangkok kali ini berawal dari Phuket yaitu naik bus malam dengan lama perjalanan 12 jam. Bus berhenti terakhir di Terminal Mochit 2 yang letaknya 10 km dari pusat kota Bangkok. Karena berencana menginap di daerah Khaosan sehingga saya harus mencari angkutan yang menuju kesana. Menurut hasil browsing dari Terminal Mochit 2 ke Khaosan bisa menggunakan bus kota nomer 59 jurusan Sanam Luang.

Khaosan Road adalah pusatnya backpacker di Bangkok, karena akomodasi dan fasilitas yang ada di daerah ini bener-bener ramah di kantong. Banyak sekali penginapan murah mulai dari hostel, guesthouse hingga hotel yang harganya berkisar antara 50 ribu hingga 500 ribu per malam. Khaosan Road juga dekat dengan atraksi terkenal di Thailand seperti Grand Palace, Wat Po dan Wat Arun sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Jam 07.00 waktu setempat saya baru tiba dari Phuket. Setelah turun dari bus saya bermaksud mencari bus nomer 59 tapi dimana tempatnya? Saya bingung apalagi sebentar-sebentar diikuti dan ditanya oleh sopir taksi dan van dengan bahasa Thailand "ciek lai ciek lai.. cing cong kha khuo...??"

Setelah mencari kesana kemari akhirnya terdampar di tempat parkir van yang tulisannya keriting semua. Saya bertanya ke seseorang yang sedang duduk di ruang tunggu tapi ternyata tidak bisa bahasa Inggris. Dengan bahasa tubuhnya beliau menyarankan saya untuk bertanya ke crew van dan rupanya tidak bisa bahasa Inggris juga. Lalu saya diantarkan ke temannya. Barulah dapet angin segar, dikasih tau tempat city bus parkir dan disarankan naik bus nomer 3 ke Khaosan Road.

Setelah sedikit nyasar akhirnya ketemu juga. Banyak sekali bus dengan tulisan keriting semua. Tapi platform di depannya tertulis dengan jelas nomer bus dan masing-masing jurusannya. Salah satunya adalah bus nomer 3 jurusan ke Klongsan yang melewati Khaosan Road.

Saya naik bus nomer 3 dengan perasaan bingung gimana bayarnya, duluan atau belakangan. Ibu kondekturnya hanya diem. Ya sudahlah duduk aja. Busnya jelek eprek-eprek seperti metro mini di Jakarta tapi lebih besar. Di dalam bus baru ada 2 penumpang yang sama-sama membawa ransel segede gaban dari percakapannya seperti orang China.

Tak berapa lama ada beberapa penumpang lagi dan bus mulai berangkat. Ibu kondektur mulai berkeliling sambil membawa kencleng mendatangi penumpang satu per satu. Hampir semua bus di sana kondekturnya ibu-ibu. Saya curi-curi dengar turis China di sebelah juga akan turun di Khaosan Road, jadi kinclong mata saya karena ada barengannya. Tiba giliran saya menyodorkan uang 100 THB karena tidak tau berapa ongkosnya, ibu kondektur langsung pergi begitu saja. Rupanya uang saya kegedean. Lalu saya tanya ke turis China yang katanya ongkos ke Khaosan Road hanya 6.50 THB. Wah murah banget. Saya mencoba menukarkan uang ke turis China itu tapi malah dikasih uang koin 7 THB. Setelah mengubek-ubek kantong, saya masih nemu 5 THB jadi yang 5 THB saya kembalikan lagi.

Sepanjang jalan saya waspada melihat ke kanan kiri jalan mencari tulisan Khaosan Road. Setiap kali bus berhenti saya lirik-lirikan dengan turis china di sebelah saling bertanya menggunakan bahasa isyarat “Udah sampai belum?” dan kami hanya bisa geleng-geleng. Saya beranikan diri tanya ke ibu kondektur “Khaosan Road?” Ibu menjawab dengan mantab “NO..!!” Sepertinya masih jauh sekali.

Penumpang bus naik turun silih berganti dari yang penuh kosong penuh lagi kosong lagi, macet beberapa kali belum nyampe-nyampe. Saya sampe ngantuk dan ketiduran berkali-kali. Yang bikin heran segitu jauhnya ongkos hanya 6.50 THB sekitar Rp 2500. Lebih mahal di Jakarta yang rata-rata Rp 4000.

Setelah menempuh perjalanan selama 1.5 jam akhirnya ibu kondektur berteriak ke arah saya dan turis China “Khaosan Road... Khaosan Road…” Dan benar saja di pinggir jalan ada petunjuk Thanon Khao San. Sampai juga di tempat yang katanya surganya para backpacker. Jalan Khaosan masih sepi belum banyak pedagang maupun kafe yang buka. Malahan banyak orang yang menggendong ransel seperti saya ada yang baru datang mencari-cari penginapan, ada juga yang sudah cek out.

Tiba waktunya mencari penginapan yang sudah saya booking sebelumnya. Yaitu 3HOWw Hostel. Rupanya saya lupa mendownload petanya tapi masih ingat letaknya di luar jalan Khaosan. Yaitu belok belok dan belok. Nah yang mana belokannya? Coba tanya ke orang lewat sambil menunjukkan Hp, hasilnya nihil. Ada satu bapak-bapak yang semangat membawa saya masuk ke gang. Setelah sampai di jalan yang besar lagi beliau kasih tau dengan bahasa isyarat “Cari saja di sepanjang jalan ini” Lah... Kirain tau…!!

Tiba-tiba ada bapak-bapak berbaju Tourist Police menyapa saya dengan ramah.

"Hello... What are you looking for” Setelah saya tunjukkan Hp bapak itu bilang mau mengantarkan pakai tuk tuk dengan ongkos 100 THB. Rupanya sopir tuk tuk. Langsung saya tinggal pergi. Daripada naik tuk tuk segitu mending cari penginapan lain. Karena walaupun sudah booking saya belum membayar apa-apa jadi masih bisa pindah ke penginapan mana aja. Saya penasaran karena hostel itu reviewnya bagus.

Saya bertanya ke bapak yang berseragam security dan dikasih tau dengan jelas. Masih penasaran tanya lagi ke beberapa pedagang dan ternyata memang benar berjarak sekitar 700 meter. Ketemu juga deh. Hostelnya nyaman dan lingkungannya sepi. Waktu cek in masih jam 2 siang saya diperbolehkan istirahat di sofa depan TV di lantai 2 dan juga numpang mandi.

3HOWw Hostel kalau ga kebaca yang tengah catnya warna hitam. Recommended deh.

Setelah tidur-tiduran sesaat saya berkenalan dengan turis China bernama Summer yang juga baru datang dan belum bisa cek in. Tapi sudah mandi sudah berbaju rapi dan siap pergi. Dia bilang ini baru pertama kali ke luar negeri. Segepok map dan print-print’an hasil download dengan sibuk dia buka berkali-kali dan sesekali masih mencatat sesuatu di buku.

“Where are you going?” tanya saya
“I want to go Glend Paris”

Emang ada ya tempat wisata di Bangkok namanya Glend Paris? Saya yang ga tau atau beda penyebutan. Ya orang China pelafalan "R" dan "L" suka kebalik.

“Do you mean the Grand Palace?”
Sambil bingung tapi jawab “Yes" lalu menunjuk ke map dan benar saja yang ditunjuk adalah Grand Palace. Lama-lama ngakak juga ngobrol sama dia, nyerocos aja walaupun bahasa Inggrisnya memble kya saya.

Ada satu lagi cowok dari London bernama Simon yang sama-sama baru datang. Nah kalau ngobrol sama dia bikin ciut karena bahasa Inggrisnya licin banget. Dia bekalnya buku Lonely Planet. 

Hanya saya yang cuma modal ucluk-ucluk kalau nemu wifi baru browsing-browsing. Setelah ngobrol-ngobrol akhirnya kami bertiga sepakat untuk jalan bareng ke Grand Palace. Summer yang sudah siap harus menunggu saya dan Simon. Sabar ya Mer kita mandi dulu...

Bagaimana kisah selanjutnya beberapa sudah saya ceritakan disini Hati-hati Penipuan di Bangkok