Showing posts with label Singapura. Show all posts
Showing posts with label Singapura. Show all posts

Nov 22, 2018

Berdebar Di Imigrasi Bandara

November 22, 2018 0 Comments
Hal yang paling mendebarkan diantara serangkaian perjalanan adalah saat melewati imigrasi di bandara. Dipelototin oleh sang muka datar, dingin dilipet tanpa senyum, dahi berkerut tak jarang bikin gemetaran dan lemas di sekujur tubuh. Biarpun berusaha setenang mungkin tetap saja deg-degan gemuruh menggelegar. Apalagi kalau sudah dipelototin berkali-kali dan paspor dibolak balik "Ya Allah pasrah deh".

Pertanyaan yang paling sering biasanya mau kemana, berapa lama, ada tiket pulang, tinggal dimana, itinerary dan masih banyak lagi yang kadang diluar dugaan. Hanya Allah dan petugas imigrasi yang tau. Selagi jawaban meyakinkan Insya Allah lancar. Misalkan memang hanya liburan ya jawab saja apa adanya dan bisa menjelaskan mau kemana setidaknya punya gambaran tentang tempat yang pengen dikunjungi. Jangan sampai ngekngok tidak tau apalagi cengengesan. Kalau beruntung ya tidak akan ditanya apa-apa. Lancar jaya bebas hambatan.

Saya pernah parno banget saat masuk ke Rusia. Segala dokumen yang kira-kira bakal ditanya disiapkan semua. Tiket pulang, reservasi hotel, tiket flight dan kereta domestik, itinerary bahkan tiket nonton ballet juga disiapkan. Jadi segepok di dalam map holder trus ditenteng. Biar kalau ditanya gampang ambilnya. Pasrah mau diapain juga. Eh malah gak ditanya sedikitpun. Proses imigrasinya memang lumayan lama. Satu orang bisa lima menit kadang lebih. Petugasnya ketak ketik sambil sesekali menatap muka. Setelah itu paspor dikembalikan dan sudah.

Gemetaran lagi saat pertama kali masuk ke Eropa yaitu di Amsterdam. Konon kalau bareng rombongan paspornya diserahkan bersamaan. Saya berenam dan dipercaya mewakili maju ke depan. Petugasnya mbak-mbak dan mas-mas masih muda. Ada 2 orang di loket.

Pertama dihitung jumlah paspor.
"Kamu berenam ya dengan teman-teman yang baju merah itu?"
"Ya betul"
"Kamu baru pertama ke Eropa?"
"Iya" pura-pura tenang padahal hampir ngompol.
Kedua ditanya itinerary. Dibolak balik dibaca dari awal sampai akhir lalu didiktekan ke saya sambil manggut-manggut.
"Kamu kesini mau liburan??"
"Iya"
"Ke Belgia, Jerman, Prancis, Belanda lagi lalu kembali pulang?"
"Iya"
"Okey enjoy your holiday" semua paspor dikembalikan sambil tersenyum baiiik sekali. Alhamdulillah...

Di Jepang pernah ditanya bukti reservasi hotel. Syukurlah sudah saya print. Tapi petugasnya bingung. Ditatap berulang-ulang.
"Dimana penginapan ini?"
"Di Minami Senju"
"Saya baru dengar ada penginapan ini" lha piye to bang mosok ngarang sendiri, print-print'annya juga langsung dari website. Itu guest house bang bukan hotel.
"Tahun kemaren saya pernah menginap disini"
Lalu abangnya ngutak atik henpon browsing sesuatu. Entah apa yang diketik, huruf kanji semua. Jangan-jangan smsan ama pacarnya juga gak tau. Akhirnya paspor distempel dan dikembalikan.

Pertanyaan yang paling neko-neko saat di KLIA. Beberapa kali keluar masuk ke Malaysia selalu dapat pertanyaan yang tak diduga.
"Kamu pernah kerja di Saudi?"
"Kamu pernah kerja di Malaysia?" emang nasib gue punya tampang...

Pernah juga saat transit tapi bukan petugas imigrasi hanya mbak-mbak petugas di loket transit. Flight dari Seoul delay sehingga di Malaysia waktu transit jadi mepet sekali. Baru juga landing sudah ada panggilan boarding ke Jakarta. Saya minta ijin nyelak antrian. Sampai di depan malah kena sewot
"Kenapa terlambat?!!"
"Pesawatnya yang delay" kok saya yang dimarahi toh mbak ee...
"Bongkar semua tasnya" hastagaa udah mepet tetep suruh bebongkaran. Lagian baru turun dari pesawat gak keluar bandara, emang bawa apaan. Noh lihat isinya duit semua... Petugas disini paling seneng ngerjain. Okey gak apa-apa ya memang tugasnya mereka.

Saat ke imigrasi jangan memakai case pasport, copot dulu semua aksesoris di pasport

Sedangkan di Airport Norway saya sering kena random check. Diajak masuk ke ruangan dioles-oles apa saya gak tau, seperti di mall disuruh nyobain parfum, lalu diraba terutama bagian kerudung dan dicek pake alat detektor seluruh badan. Isi tas juga dilihat semua. Untunglah tidak ada masalah. Malahan di Airport Bodo kerudungnya suruh dibuka. Kaget, ya mau gimana lagi dari pada panjang urusan. Tapi baru mau dibuka petugasnya bilang, stop stop tidak usah. Cukup. Alhamdulillah...

Saat keluar dari Helsinki petugasnya mas-mas ganteng. Menatap muka sambil senyum ramah. Tiba-tiba nanya, terdengarnya seperti 
"Have you been to Than More??" waduh mati apaan ya... Emang Than More dimana?
"Saya abis dari Helsinki mau ke Singapur" yang penting jawablah.
Nanya lagi "Have you been to Than More??" 
Than more apaan sih mas. Grogi serasa mau pingsan dan mendadak zonk. Bolak balik menatap saya lalu paspor distempel dan ditunjukkan visa schengen saya. Ya Allah Denmark... Kenapa masuk ke telinga saya jadi Than More... Saya membuat visa dari kedutaan Denmark padahal keluar masuk schengennya dari Finland. Okey tidak ada masalah masnya hanya iseng pengen ngobrol.

Nah yang ini sebenarnya gak terlalu bikin deg-degan. Karena saatnya keluar dari Singapura. Keluar memang lebih lega dibanding saat masuk. Takut ditolak dideportasi. Tapi kali ini hanya transit dan akan terbang ke Helsinki. Kebagian petugas ibu-ibu usianya sekitar 50an.

Pertama ditanya tiket pulang. Semua tiket flight saya serahkan termasuk extend ke negara sebelah hingga tiket pulang ke Indonesia. Kedua ditanya,
"Benar ini foto kamu, kenapa beda-beda semua?" sambil melihat foto di visa-visa sebelumnya.
"Benar buk itu saya semua" meragukan memang di paspor tampang inem aslinya lebih mirip kakak saya mbak Dian Sastro.
Ketiga lebih dipelototin lagi,
"Kamu masih sekolah?" saking groginya jawab agak blepotan...
"Oh tidak, sudah kerja"
"Kerja dimana?"
"Indonesia"
"Ya saya taulah...!!" sedikit bentak kesel-kesel gemes.
"Oh maap, di Hospital" mati gue!!
"Kamu dokter?" 
"Bukan di bagian babibu...." saya jelaskan agak panjang mulai dari nyuci piring sampe gosok baju.
"Trus kamu sekarang mau kemana?"
"Helsinki" alisnya ibuk mengkerut, saya jawab lagi "Hmm Finland" masih mengkerut lagi... Ya Allah apa yang salah ya...
"Sekolah disana?"
"Bukan hanya liburan"
"Jauh sekali kamu liburan, berapa lama?"
"2 minggu"
"Sama siapa kamu pergi"
"Berdua dengan teman saya"
"Mana teman kamu?!!" Ya Allah buk penting banget toh... Tolah toleh cari teman saya untung masih kelihatan, jarak 2 line di sebelah dan sudah beres lebih cepat.
"Yang itu baju kotak-kotak disana"
"Teman kamu kerja juga?"
"Iya"
"Kamu sering seperti ini, kerja kamu bagaimana?"
"Kalau ada cuti iya, selesai cuti kerja lagi" jawaban anak TK sampai keluar.
"Mau kemana saja nanti"
"Copenhagen, Oslo, Stockhom, Tallinn, Helsinki trus pulang" menatap dalam-dalam sambil mlorotin kacamatanya, lalu manggut-manggut dan paspor dibolak balik. Waduh apalagi nih...
"Ya sudah hati-hati yaa..." paspor distempel dan dikembalikan.
"Thank you"

Ya Allaaaah... Leganya sampai ke ubun-ubun. Nanya panjang lebar dikira mau dikasih ongkos buk. Tapi lumayan dikasih senyum sedikit. Kebanggaan tersendiri kebagian petugas imigrasi yang bisa senyum.

Dari pengalaman yang sudah terlewati, saya jadi punya point yang harus diperhatikan saat masuk ke suatu negara. Tapi hanya sebatas liburan karena belum pernah tujuan lain yang menetap lama misalkan sekolah atau kerja.
  • Sebaiknya punya foto copy paspor dan visa, lebih baik lagi disimpan dalam file di flashdisk atau email. Mitamit jangan sampai hilang sih, tapi seandainya terjadi yang paling buruk masih ada copynya dan gampang ngceknya.
  • Di pesawat biasanya pramugari akan membagikan Disembarkation Card untuk foreign nationals, isi dengan jelas dan sejujurnya. Biasanya minta dituliskan alamat tinggal dan nomor telpon. Lha alamatnya segambreng kertasnya kecil. Ya sudahlah diatur aja. Selipkan di dalam paspor dan jaga baik-baik jangan sampai hilang.
  • Print tiket pulang pergi termasuk tiket apa saja yang sudah dibooking misalkan tiket bus atau kereta pindah kota/negara atau apa saja yang bakal meyakinkan bahwa ke negara itu sekedar liburan dan pasti akan pulang bukan mencari kerja.
  • Print semua bukti reservasi hotel.
  • Itinerary / rencana perjalanan, persiapkan dengan matang. Ketik sedetail mungkin dari mulai masuk sampai keluar negara itu mau kemana saja dan ngapain aja, tulis sejelas-jelasnya.
  • Siapkan uang cash secukupnya, jika kena random check bisa jadi ditanya bawa uang berapa? Intinya ke negara orang ya punya duitlah ga bakalan gembel disana.
  • Bersikap tenang, sopan dan tidak mencurigakan. Patuhi aturan yang ada. Tidak memainkan hp atau gadget. Tidak memotret dan antri yang rapi. Tunjukkan pada petugas bahwa datang baik-baik ke negara itu.
  • Setidaknya bisa ngomong enggres biarpun hanya yes no aiem fain syukur-syukur bisa ailopyu mister.
  • Catat alamat dan nomer telpon KJRI, teman atau nomer penting lainnya, seandainya sewaktu-waktu perlu bantuan.
  • Tidak perlu takut atau merasa diintimidasi oleh petugas imigrasi maupun petugas yang lain di bandara karena memang tugas utama mereka. Maklumlah mereka pintu gerbang suatu negara punya peran penting untuk melindungi negara. Hargai profesi mereka dengan sikap kooperatif, menjawab pertanyaan dengan jujur dan sebaik-baiknya. Jangan lupa berdoa, Bismillah, Insya Allah lancar. 

Dec 19, 2014

Backpacking Bersama Ibu Part 1- Makan Nasi Goreng di'Cat

December 19, 2014 1 Comments
Setiap kali pulang keluyuran dari negeri orang ataupun di negeri sendiri saya selalu cerita kepada ibu pastinya beliau selalu merespon dengan ekspresi yang tak kalah senangnya. Lama-lama saya sadar kasian sekali beliau hanya menjadi pendengar setia alangkah baiknya kalau sesekali diajak biar ikut menikmati betapa indahnya dunia, ya setidaknya biar punya sedikit cerita.

Mengajak orang tua tentunya harus lebih prepare, itinerary harus jelas ga bisa sembarangan seperti biasanya saya yang asal berangkat. Mulai dari jam berangkat, flight jangan terlalu pagi atau malam agar ga mengganggu waktu istirahatnya, penginapan harus tinggal cek in ga mencari-cari lagi setelah sampai di tujuan, lokasi penginapan harus strategis terutama dekat dengan makanan halal, angkutan selama disana juga harus dipikirkan naik bus, subway atau taksi tentunya yang sesuai dengan kantong saya tapi yang tidak menyusahkan.

Jaman sekarang segalanya mudah tinggal booking online, semua beres. Tapi kebanyakan butuh kartu kredit dan saya tidak punya karena males punya kartu pinjaman. Lebih suka debit yang menurut saya masih praktis juga. Banyak cara beli tiket pesawat bisa langsung booking sendiri ke airlinesnya atau melalui situs-situs pembelian tiket online yang terpecaya dengan pembayaran sistem transfer.

Kalau  ga mau repot bisa pakai cara gampang tinggal duduk manis yaitu ikut travel tour tapi tentunya harus siap kocek yang lebih dan itu jarang tertulis di kamus saya. Lebih enak jalan sendiri bebas mengatur diri seenak udel dan ga terikat oleh jadwal. Destinasinya pun terserah mau kemana menuruti kata hati dan kaki ingin melangkah.

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya terlintas ingin mengajak ibu ke Singapura, Malaysia dan Thailand lewat jalur darat. Karena beliau suka diajak berpetualang melihat tempat dan sesuatu yang baru. Berangkat dari Singapura pulang dari Bangkok. Tapi setelah browsing ternyata tiket promo yang murah hanya ke Singapura dan pulangnya dari KL. Yang pulang dari Bangkok mahal-mahaal. Okey no problem ke Thailand bisa ke Hatyai aja cukup melihat daerah yang berbatasan dengan Malaysia, saya ingin ibu menginjak 3 negara sekaligus.

Beruntung sekali tiket yang paling murah saat itu berada di jam 14.00 untuk berangkat dan jam 11.30 untuk pulang. Jadi paginya ga terburu-buru ke bandara dan sampai di tempat tujuan pun masih siang. Masih banyak angkutan umum yang murah tentunya hehhe...

Setelah chatting dengan beberapa teman Backpacker Dunia ternyata tidak disarankan ke Hatyai dengan alasan terlalu jauh dan di sana ga banyak yang bisa dilihat. Kasian ibu hanya capek di jalan. Saya disarankan dari Singapura mampir ke Melaka dan lanjut ke KL. Banyak pilihan bus langsung dari Singapura - Melaka dan dari Melaka - KL. Tinggal diusahakan sampai di Melaka siang hari karena jarak terminal ke kota lumayan jauh. Baiklah saya dengarkan saran dari teman-teman sekaligus penasaran karena belum pernah ke Melaka.

Selain bus langsung ada juga bus yang sambung menyambung dengan harga lebih murah, yaitu dari terminal Queen Street Bugis Singapura naik bus Causeway Link ke terminal Larkin Johor Bahru dengan ongkos 3SGD/orang. Nah dari terminal Larkin banyak pilihan bus ke berbagai daerah di Malaysia seperti ke Melaka, KL, Penang, Kedah dan lain-lain bahkan ada juga yang ke Hatyai. Tapi mengingat membawa orang tua yang lebih praktis pastinya naik bus yang langsung okeylah harus membayar lebih mahal.

Beres urusan pesawat dan bus sekarang ganti ke urusan penginapan. Setelah browsing saya menemukan hostel private room 60SGD/malam di daerah Bugis dekat dengan stasiun MRT, halte bus, terminal Queen Street dan masjid. Pasti banyak makanan halal disekitarnya.

Satu bulan kemudian... (kya sinetron)
Di suatu siang yang cerah pesawat murah air mendarat di bandara Changi. Saya menyeret koper keluar dari pesawat, berjalan berdampingan dengan ibu menyusuri lorong menuju terminal 1. Suasana tidak begitu ramai karena bukan peak season. Selesai urusan imigrasi kami menuju ke stasiun MRT mengikuti papan petunjuk yang telah terpasang dimana-mana. Walaupun jauh naik turun tapi untungnya serba eskalator dan lift. Tak lupa men'top up kartu Ez Link saya dan membelikan tiket single trip untuk ibu menuju ke stasiun Bugis.

Di Bandara Changi

Tak lama kemudian kereta yang tidak begitu penuh membawa kami ke stasiun tanah merah. Lalu kami pindah kereta ke arah Joo Koon. Disini kereta lumayan penuh tidak ada tempat duduk lagi, tapi salah satu penumpang langsung berdiri memberikan tempat duduk untuk ibu. Penumpang lanjut usia, ibu hamil, dan difabel memang diprioritaskan. Khususnya kursi yang di dekat pintu ditempeli gambar orang hamil, membawa anak, manula dan difabel. Penumpang disana punya kesadaran yang tinggi, mereka akan menghindari kursi prioritas itu.

Sampai di stasiun Bugis kami turun lalu mencari jalan keluar untuk menuju ke penginapan. Seingat saya ambil ke kanan arah Raffles Hospital dan nyebrang 3 kali. Ternyata lumayan jauh kira-kira setengah kilometer. Maaf ya bu.. Untungnya beliau terbiasa jalan. Tidak susah menemukan penginapan yang ternyata persis seperti gambar di internet. Berada di gang kecil dari depan bentuknya seperti warnet.

Setelah cek in kami diantar ke kamar oleh salah satu staf dan diajak berkeliling ditunjukkan semua kamar mandi, dapur dan seisinya yang semuanya boleh dipakai. Kamarnya sederhana sekelas hotel melati, berAC, tidak terlalu sempit tapi tidak juga luas masih cukup untuk gelar sajadah, bersih tapi tidak berjendela. Ada lemari dan gantungan baju, meja, handuk dan air mineral. Ibu sepertinya kurang nyaman apalagi kamar mandinya berada di luar walaupun tidak mengeluh tapi terlihat dari tatapannya. Akhirnya setiap mau ke kamar mandi saya selalu mendampingi dan menunggunya di depan pintu sampai selesai. 

Tapi akhirnya merasa senang setelah disapa oleh turis Afrika yang tak sengaja bareng ke kamar mandi "Hi mommy.." Ibu terheran-heran melihat keakraban dengan sesama penghuni hostel.

"Kalau di penginapan begini memang merakyat bu saling bertegur sapa, beda dengan di hotel mahal pasti jaga privasi. Disini ada dapurnya juga kalau mau air panas, masak mie, pinjem gelas, piring, mesin cuci, setrika semua boleh asal selesai diberesin lagi" jadi punya alasan buat membela diri.
"Enak ya berarti kya di rumah" akhirnyaa....

Selesai sholat maghrib kami keluar mencari makan sekaligus mencari masjid yang katanya dekat dari penginapan. Ternyata memang dekat, berada di belakangnya. Di sekitar masjid banyak restoran halal tapi beberapa sudah tutup. Saya mengajak ibu masuk ke salah satu restoran yang direkomendasikan oleh teman. Kami memesan nasi goreng dan es teh manis. Tak berapa lama pesanan kami disajikan. Ternyata porsinya buanyak kalau saya bisa dimakan 3 kali, warnanya meraaaahh, baunya lengus amis telur, campur ayam dan kambing. Padahal tadinya terbayang nasi goreng di lndonesia yang kuning-kuning merona, dicampur daging ayam trus pakai telur ceplok di atasnya. Yang ada malah kya gini...

Kata ibu nasi goreng di cat

Kalau tidak ingat harganya saya tidak mau makan, bener-bener bau uamiiis sepertu kambing yang tidak mandi setahun. Mendingan makan nasi putih pakai sambel trasi dan krupuk. Suapan pertama rasanya mau m*ntah tapi karena bayarnya pakai dolar terpaksa harus ditelen. Dua kali suap harus diselingi makan timun dan minum teh.

Ibu lumayan lahap entah lapar, suka atau terpaksa. Tadinya khawatir karena beliau tidak biasa dengan makanan asing ternyata malah kelihatan menikmati. Justru saya sendiri yang seleranya masih kampung. Cukup sekali deh ke restoran lndia. Rasanya sih agak mending tapi baunya bikin kapok.

Selesai makan kami jalan-jalan ke Garden by The Bay. Lampu-lampu di tamannya bagus setiap saat berganti warna, saya juga baru pertama kali kesana. Sebenarnya mau lihat laser show yang gratisan di pantai marina tapi sudah kemalaman. Belakangan tau ternyata malam itu tidak ada pertunjukan. Lalu jalan-jalan di sekitar Marina Bay Sand, Helix Bride dan sesekali duduk-duduk sambil makan bekal. Malam itu tidak begitu banyak turis berkeliaran, kata ibu "Ternyata Singapura sepi". Sejak dari bandara memang sepi sekali. Hanya di MRT dari Tanah Merah ke Bugis yang banyak orangnya selebihnya sepi.

Pagi itu setelah sholat subuh kami bermalas-malasan di kamar. Kira-kira jam 8 saya keluar nengok ke dapur. Ada teh, kopi, roti, mentega dan berbagai macam selai. Lumayan membangkitkan selera dari pada nasi goreng yang di cat merah semalam. Saya membuat roti bakar dan teh manis dan membawanya ke meja di lorong sebelah. Saya berkenalan dengan traveler dari lndonesia mbak-mbak dari Kalimantan, yang sudah berdandan rapi dan siap jalan-jalan. Selain itu ada beberapa keluarga yang saya dengar dari Jakarta tapi tidak mau bertegur sapa hanya lirik-lirikan sesaat. Entah kenapa ketemu sesama lndonesian malah melengos.

Selesai makan saya balik ke kamar, rupanya ibu sudah bangun dan saya ajak keluar untuk makan. Saya bawakan juga makanan instant dari rumah seperti Indomie, mie gelas, energen, susu barang kali ibu tidak selera dengan sarapan di hostel. Tapi beliau pilih roti bakar.

Jam 10 lewat yang mana penghuni hostel lainnya sudah jalan entah sampai mana, kami baru siap beranjak dari hostel. Tujuan kami ke Merlion Park, katanya ke Singapura belum lengkap kalau belum berfoto dengan patung singa muntah. Cuacanya panas menyengat tapi saya telah menyiapkan topi dan payung untuk ibu.


Selfie sukaesih di Merlion Park

Puas berfoto-foto tiba-tiba panas berganti dengan hujan rintik-rintik. Untungnya kami sudah berada di depan esplanade lalu masuk ke dalam untuk berteduh sekalian dan naik MRT ke stasiun Harbourfront untuk melanjutkan jalan-jalan ke Sentosa Island.

Kesan dari ibu, Singapura bagus banget semua terlihat menarik. Naik ke bukit disediakan eskalator, di tengah hutan disediakan tempat istirahat yang dilengkapi dengan musik-musik, bus gratis, kereta gratis, dan yang paling disalutkan adalah kebersihannya. Singapura memang punya kesadaran sangat tinggi akan kebersihan lingkungan. Buang sampah dan meludah sembarangan akan didenda.

Sejak keluar hostel sampai ke Sentosa Island suasananya ramai tidak seperti malam sebelumnya yang terlihat seperti tidak ada orang. Melihat keramaian ibu jadi semangat berada diantaranya. 

"Singapura ternyata rame ya" hahaha...
"Ibu pengen ke tempat orang lndonesia belanja-belanja ga?" "Ga usah ga pengen..."

Hehehe... Baguslah saya juga males. Inilah salah satu kebiasaan yang diturunkan ibu ke saya, tidak suka shopping.

Sampai disini dulu ceritanya... Lain kali diterusin lagi yang di Melaka dan Kuala Lumpur. See you...

Oct 23, 2014

Penginapan Gratis Di Singapura

October 23, 2014 6 Comments
Ini pengalaman saya pertama kali backpacking ke luar negeri. Awalnya hanya berniat ke Batam ke tempat teman saya Joy bekerja. Sampai di Batam terlintas mampir ke negeri seberang, pengen lihat patung singa muntah yang selama ini hanya melihat di majalah travelling. Biar seperti horang kayah yang lagi liburan di luar negeri gitu hihihi...

Kami berniat menginap di tempat teman Joy yang bekerja di Singapura. Joy mengurus segalanya termasuk membeli tiket kapal ferry PP. Setelah semua beres kami menuju ke Pelabuhan Batam Center tempat kapal jurusan Batam-Singapura bersandar. Sekitar jam 6 sore kapal mulai bergerak meninggalkan Batam. Satu jam kemudian kapal merapatkan diri di Terminal Ferry Harbourfront.

Setelah proses imigrasi kami masuk ke Harbourfront Center, yang berada satu gedung dengan pelabuhan ferry. Harbourfront Center adalah salah satu shopping mall yang megah di Singapura. Di sini banyak pilihan transportasi umum untuk menuju ke bagian lain di Singapura seperti MRT, taksi dan Bus.

Singkat cerita, sampai di sini hp kami mati semua. Joy membawa 2 hp dan dua-duanya keok, padahal nomer telepon temannya tersimpan disana. Itulah kebodohan kami tidak mencatat nomer telepon dan alamatnya di kertas. Sambil menikmati Singapura diwaktu malam sesekali mencoba menyalakannya lagi tapi sia-sia. Akhirnya memutuskan akan duduk sampai pagi di area Merlion Park (tempat singa muntah bertengger). Anggap saja sedang dinas malam.

Kira-kira jam 12 malam kami berniat mencari mushola mengingat belum sholat isya. Keliling menyusuri tepi pantai tapi hanya ada bar dan hotel-hotel mewah. Melihat hotel mewah saya jadi teringat dahulu kala pernah menumpang sholat di lobby hotel bintang 5 di Jakarta. Lalu timbul niat untuk masuk ke salah satu hotel di kawasan itu dan menanyakan barang kali di lobby ada mushola.

Beberapa hotel kami datangi tapi yang terlihat sangat mewah dan exclusive tidak berani coba-coba. Sekian lama muter ketemulah hotel yang terlihat ramai banyak orang keluar masuk. Entah hotel apa. Kami masuk dan disambut oleh mbak resepsionis yang cantik.

"Hello..." sapa mbak cantik.
"Excuse me, do you have a prayer room?" tanya kami dengan polosnya.
"Prayer room...? Oh No!!" mbak cantik seketika berbalik badan.

Kami saling berpandangan bengong tanpa beranjak dari tempat itu. Saya melirik ke pojok kanan ada sofa bagus lengkap dengan meja dan di pojok kiri ada toilet.

"Joy kita numpang sholat di sofa itu aja trus wudhunya di toilet sana"
"Tapi dimarahin ga?"
"Ga kali cuma numpang sholat doank"
"Ya udah yuk"

Toiletnya sangat bagus, wangi, bersih dan kinclong. Seandainya diijinkan menginap di toilet itu juga tidak mengapa. Tak ada orang selain kami berdua sehingga dengan santainya foto-foto selfi dengan berbagai gaya. Maklumlah wong ndeso biasa mandi di kali.

Selesai wudhu kami ke sofa. Tidak banyak orang di dalam ruangan itu tapi masih terlihat ada aktivitas. Ada slow musik dan suara orang mengobrol kadang disusul dengan tertawa pelan. Saya memakai mukena dan sholat sambil duduk di pojokan. Joy berjaga-jaga, seandainya kami diusir.

Tempat sofa yang menjorok ke dalam di sebelah kanan. Foto dari google.

Selesai sholat saya bersandar di sofa yang wangi sekali, empuk dan lembut tentunya. Ruangannya sejuk sangat kontras dengan udara di luar. Tiba-tiba mata saya ingin dipejamkan.

"Joy kita tidur di sini aja yuk"
"Diusir bego"
"Kalo diusir kita tinggal pergi, lumayan kan udah tidur sejam dua jam"
"Iya juga ya, kadang-kadang lo pinter"
"Jidat lo, emang gw pinter"

Awalnya agak susah untuk menutup mata, was-was takut kena marah. Lama-lama saya pun terlelap ke alam mimpi. Tiba-tiba dikejutkan oleh suara...

"Woee... Bangun udah pagi..."
"Udah pagi? Kok kita ga diusir?" melihat ke jendela di luar sudah agak terang. "Kita sholat subuh dulu, selagi ada toilet"

Kami bersih-bersih badan, tidak mandi hanya dilap dan ganti baju. Badan terasa segar sekali efek kenyamanan bobok di hotel mewah. Beres urusan toilet saya sholat subuh di sofa lagi. Suasana pagi itu lebih sepi dibanding malam sebelumnya. Selagi saya sholat Joy berkeliling melihat isi ruangan.

"Ini bukan hotel tau"
"Hah, trus apa?"
"Ini BAR. Udah tutup semua pintu udah dikunci"
"Ah ngarang kamu"
"Beneran pintu yang semalem kita masuk juga dikunci"
"Pintu yang ngadep ke danau?"
"Dikunci semua"
**Mak Deg!!!**

Saya melipat mukena dan memasukkan ke dalam tas lalu mengikuti Joy yang ingin menunjukkan semua pintu akses keluar yang telah terkunci. Terbayang kalau bar bukanya pasti malem lagi, tiket pulang ke Batam gimana? Ini negara orang bok gimana kalau ditangkap trus dibawa ke polisi? Segala perandaian buruk melayang di pikiran, tidak percaya dengan apa yang terjadi. Mata jelalatan memperhatikan seluruh ruangan berharap ada pintu keluar.

Joy iseng masuk ke tempat bartender. Di ruang itu ada beberapa rak penuh dengan segala minuman. Di belakang rak ada pintu kaca yang hanya diikat dengan rantai. Jika didorong bisa terbuka sedikit. Joy mencoba mendorongnya dan berusaha keras keluar melalui pintu itu. Saya membantunya mendorong pintu dan badan Joy dari dalam. Dan ternyataaa BERHASIIIL....!!! Giliran saya, saya dibantu ditarik dari luar oleh Joy sambil berusaha keras menahan pintu. Sambil agak kejepit tapi akhirnya berhasil juga. Haaah... Alhamdulillah beruntungnya kami yang dikaruniai badan kecil-kecil.

Pintu tempat kami keluar di sekitar lengkungan paling ujung di bawah bendera. Foto diambil 2 tahun kemudian dan tidak ada pintu yang dirantai.

"Tengkyu ye penginapannye" teriak kami kegirangan.
"Kapan-kapan kita nginep lagi hahahaa...."

Setelah mengabadikan beberapa gambar kami segera menjauhi tempat itu, takut terlalu banyak terekam oleh CCTV. Mengingat kejadian semalem bikin tertawa ngakak sepanjang jalan, cari mushola kok di bar. Pantes aja mbak resepsionisnya langsung sewot. Ada dua makhluk culun berkaos oblong kucel dan sendal jepit. Datang bukan reservasi tempat malah tanya mushola. Mungkin bisa jadi inspirasi buat para pengusaha bar, kalau bikin bar sebaiknya dilengkapi dengan mushola.

Terlepas dari kasus bar pastinya kami bahagia sekali bisa menginap gratis di tempat mewah. Tidak merepotkan orang pula. Anggaran Rp 500.000,- per orang untuk menginap di penginapan yang paling murah telah terselamatkan. Alhamdulillah...

Setelah tanya-tanya ke mbah google memang benar tempat itu adalah Five Star Hotel - Luxury & Elegance in Singapore dengan tarif start from Rp 4 juta sekian / malam pada saat itu. Kami nyasar di Bar nya. Pantesan toiletnya aja bagus bangeet... Berhubung taunya hanya toilet jadi yang berkesan ya sebatas itu. Lokasinya dari tulisan "One Fullerton" belakangnya singa muntah ke arah kiri sekitar 150 meter. Mau gratisan juga? Silahkan dicoba hehehe...

Pintu masuk