Showing posts with label Jepang. Show all posts
Showing posts with label Jepang. Show all posts

Nov 22, 2018

Berdebar Di Imigrasi Bandara

November 22, 2018 0 Comments
Hal yang paling mendebarkan diantara serangkaian perjalanan adalah saat melewati imigrasi di bandara. Dipelototin oleh sang muka datar, dingin dilipet tanpa senyum, dahi berkerut tak jarang bikin gemetaran dan lemas di sekujur tubuh. Biarpun berusaha setenang mungkin tetap saja deg-degan gemuruh menggelegar. Apalagi kalau sudah dipelototin berkali-kali dan paspor dibolak balik "Ya Allah pasrah deh".

Pertanyaan yang paling sering biasanya mau kemana, berapa lama, ada tiket pulang, tinggal dimana, itinerary dan masih banyak lagi yang kadang diluar dugaan. Hanya Allah dan petugas imigrasi yang tau. Selagi jawaban meyakinkan Insya Allah lancar. Misalkan memang hanya liburan ya jawab saja apa adanya dan bisa menjelaskan mau kemana setidaknya punya gambaran tentang tempat yang pengen dikunjungi. Jangan sampai ngekngok tidak tau apalagi cengengesan. Kalau beruntung ya tidak akan ditanya apa-apa. Lancar jaya bebas hambatan.

Saya pernah parno banget saat masuk ke Rusia. Segala dokumen yang kira-kira bakal ditanya disiapkan semua. Tiket pulang, reservasi hotel, tiket flight dan kereta domestik, itinerary bahkan tiket nonton ballet juga disiapkan. Jadi segepok di dalam map holder trus ditenteng. Biar kalau ditanya gampang ambilnya. Pasrah mau diapain juga. Eh malah gak ditanya sedikitpun. Proses imigrasinya memang lumayan lama. Satu orang bisa lima menit kadang lebih. Petugasnya ketak ketik sambil sesekali menatap muka. Setelah itu paspor dikembalikan dan sudah.

Gemetaran lagi saat pertama kali masuk ke Eropa yaitu di Amsterdam. Konon kalau bareng rombongan paspornya diserahkan bersamaan. Saya berenam dan dipercaya mewakili maju ke depan. Petugasnya mbak-mbak dan mas-mas masih muda. Ada 2 orang di loket.

Pertama dihitung jumlah paspor.
"Kamu berenam ya dengan teman-teman yang baju merah itu?"
"Ya betul"
"Kamu baru pertama ke Eropa?"
"Iya" pura-pura tenang padahal hampir ngompol.
Kedua ditanya itinerary. Dibolak balik dibaca dari awal sampai akhir lalu didiktekan ke saya sambil manggut-manggut.
"Kamu kesini mau liburan??"
"Iya"
"Ke Belgia, Jerman, Prancis, Belanda lagi lalu kembali pulang?"
"Iya"
"Okey enjoy your holiday" semua paspor dikembalikan sambil tersenyum baiiik sekali. Alhamdulillah...

Di Jepang pernah ditanya bukti reservasi hotel. Syukurlah sudah saya print. Tapi petugasnya bingung. Ditatap berulang-ulang.
"Dimana penginapan ini?"
"Di Minami Senju"
"Saya baru dengar ada penginapan ini" lha piye to bang mosok ngarang sendiri, print-print'annya juga langsung dari website. Itu guest house bang bukan hotel.
"Tahun kemaren saya pernah menginap disini"
Lalu abangnya ngutak atik henpon browsing sesuatu. Entah apa yang diketik, huruf kanji semua. Jangan-jangan smsan ama pacarnya juga gak tau. Akhirnya paspor distempel dan dikembalikan.

Pertanyaan yang paling neko-neko saat di KLIA. Beberapa kali keluar masuk ke Malaysia selalu dapat pertanyaan yang tak diduga.
"Kamu pernah kerja di Saudi?"
"Kamu pernah kerja di Malaysia?" emang nasib gue punya tampang...

Pernah juga saat transit tapi bukan petugas imigrasi hanya mbak-mbak petugas di loket transit. Flight dari Seoul delay sehingga di Malaysia waktu transit jadi mepet sekali. Baru juga landing sudah ada panggilan boarding ke Jakarta. Saya minta ijin nyelak antrian. Sampai di depan malah kena sewot
"Kenapa terlambat?!!"
"Pesawatnya yang delay" kok saya yang dimarahi toh mbak ee...
"Bongkar semua tasnya" hastagaa udah mepet tetep suruh bebongkaran. Lagian baru turun dari pesawat gak keluar bandara, emang bawa apaan. Noh lihat isinya duit semua... Petugas disini paling seneng ngerjain. Okey gak apa-apa ya memang tugasnya mereka.

Saat ke imigrasi jangan memakai case pasport, copot dulu semua aksesoris di pasport

Sedangkan di Airport Norway saya sering kena random check. Diajak masuk ke ruangan dioles-oles apa saya gak tau, seperti di mall disuruh nyobain parfum, lalu diraba terutama bagian kerudung dan dicek pake alat detektor seluruh badan. Isi tas juga dilihat semua. Untunglah tidak ada masalah. Malahan di Airport Bodo kerudungnya suruh dibuka. Kaget, ya mau gimana lagi dari pada panjang urusan. Tapi baru mau dibuka petugasnya bilang, stop stop tidak usah. Cukup. Alhamdulillah...

Saat keluar dari Helsinki petugasnya mas-mas ganteng. Menatap muka sambil senyum ramah. Tiba-tiba nanya, terdengarnya seperti 
"Have you been to Than More??" waduh mati apaan ya... Emang Than More dimana?
"Saya abis dari Helsinki mau ke Singapur" yang penting jawablah.
Nanya lagi "Have you been to Than More??" 
Than more apaan sih mas. Grogi serasa mau pingsan dan mendadak zonk. Bolak balik menatap saya lalu paspor distempel dan ditunjukkan visa schengen saya. Ya Allah Denmark... Kenapa masuk ke telinga saya jadi Than More... Saya membuat visa dari kedutaan Denmark padahal keluar masuk schengennya dari Finland. Okey tidak ada masalah masnya hanya iseng pengen ngobrol.

Nah yang ini sebenarnya gak terlalu bikin deg-degan. Karena saatnya keluar dari Singapura. Keluar memang lebih lega dibanding saat masuk. Takut ditolak dideportasi. Tapi kali ini hanya transit dan akan terbang ke Helsinki. Kebagian petugas ibu-ibu usianya sekitar 50an.

Pertama ditanya tiket pulang. Semua tiket flight saya serahkan termasuk extend ke negara sebelah hingga tiket pulang ke Indonesia. Kedua ditanya,
"Benar ini foto kamu, kenapa beda-beda semua?" sambil melihat foto di visa-visa sebelumnya.
"Benar buk itu saya semua" meragukan memang di paspor tampang inem aslinya lebih mirip kakak saya mbak Dian Sastro.
Ketiga lebih dipelototin lagi,
"Kamu masih sekolah?" saking groginya jawab agak blepotan...
"Oh tidak, sudah kerja"
"Kerja dimana?"
"Indonesia"
"Ya saya taulah...!!" sedikit bentak kesel-kesel gemes.
"Oh maap, di Hospital" mati gue!!
"Kamu dokter?" 
"Bukan di bagian babibu...." saya jelaskan agak panjang mulai dari nyuci piring sampe gosok baju.
"Trus kamu sekarang mau kemana?"
"Helsinki" alisnya ibuk mengkerut, saya jawab lagi "Hmm Finland" masih mengkerut lagi... Ya Allah apa yang salah ya...
"Sekolah disana?"
"Bukan hanya liburan"
"Jauh sekali kamu liburan, berapa lama?"
"2 minggu"
"Sama siapa kamu pergi"
"Berdua dengan teman saya"
"Mana teman kamu?!!" Ya Allah buk penting banget toh... Tolah toleh cari teman saya untung masih kelihatan, jarak 2 line di sebelah dan sudah beres lebih cepat.
"Yang itu baju kotak-kotak disana"
"Teman kamu kerja juga?"
"Iya"
"Kamu sering seperti ini, kerja kamu bagaimana?"
"Kalau ada cuti iya, selesai cuti kerja lagi" jawaban anak TK sampai keluar.
"Mau kemana saja nanti"
"Copenhagen, Oslo, Stockhom, Tallinn, Helsinki trus pulang" menatap dalam-dalam sambil mlorotin kacamatanya, lalu manggut-manggut dan paspor dibolak balik. Waduh apalagi nih...
"Ya sudah hati-hati yaa..." paspor distempel dan dikembalikan.
"Thank you"

Ya Allaaaah... Leganya sampai ke ubun-ubun. Nanya panjang lebar dikira mau dikasih ongkos buk. Tapi lumayan dikasih senyum sedikit. Kebanggaan tersendiri kebagian petugas imigrasi yang bisa senyum.

Dari pengalaman yang sudah terlewati, saya jadi punya point yang harus diperhatikan saat masuk ke suatu negara. Tapi hanya sebatas liburan karena belum pernah tujuan lain yang menetap lama misalkan sekolah atau kerja.
  • Sebaiknya punya foto copy paspor dan visa, lebih baik lagi disimpan dalam file di flashdisk atau email. Mitamit jangan sampai hilang sih, tapi seandainya terjadi yang paling buruk masih ada copynya dan gampang ngceknya.
  • Di pesawat biasanya pramugari akan membagikan Disembarkation Card untuk foreign nationals, isi dengan jelas dan sejujurnya. Biasanya minta dituliskan alamat tinggal dan nomor telpon. Lha alamatnya segambreng kertasnya kecil. Ya sudahlah diatur aja. Selipkan di dalam paspor dan jaga baik-baik jangan sampai hilang.
  • Print tiket pulang pergi termasuk tiket apa saja yang sudah dibooking misalkan tiket bus atau kereta pindah kota/negara atau apa saja yang bakal meyakinkan bahwa ke negara itu sekedar liburan dan pasti akan pulang bukan mencari kerja.
  • Print semua bukti reservasi hotel.
  • Itinerary / rencana perjalanan, persiapkan dengan matang. Ketik sedetail mungkin dari mulai masuk sampai keluar negara itu mau kemana saja dan ngapain aja, tulis sejelas-jelasnya.
  • Siapkan uang cash secukupnya, jika kena random check bisa jadi ditanya bawa uang berapa? Intinya ke negara orang ya punya duitlah ga bakalan gembel disana.
  • Bersikap tenang, sopan dan tidak mencurigakan. Patuhi aturan yang ada. Tidak memainkan hp atau gadget. Tidak memotret dan antri yang rapi. Tunjukkan pada petugas bahwa datang baik-baik ke negara itu.
  • Setidaknya bisa ngomong enggres biarpun hanya yes no aiem fain syukur-syukur bisa ailopyu mister.
  • Catat alamat dan nomer telpon KJRI, teman atau nomer penting lainnya, seandainya sewaktu-waktu perlu bantuan.
  • Tidak perlu takut atau merasa diintimidasi oleh petugas imigrasi maupun petugas yang lain di bandara karena memang tugas utama mereka. Maklumlah mereka pintu gerbang suatu negara punya peran penting untuk melindungi negara. Hargai profesi mereka dengan sikap kooperatif, menjawab pertanyaan dengan jujur dan sebaik-baiknya. Jangan lupa berdoa, Bismillah, Insya Allah lancar. 

Jul 14, 2018

Mahalnya Pipis Di Eropa

July 14, 2018 0 Comments
"Asyik banget sih bisa maen salju..." kata beberapa sahabat saat melihat foto saya berpose ala Princess Elsa di film Frozen. Ketawa ketiwi ngakak sok melempar pasir beku berwarna putih mirip garam tabur di meja makan. Memang fenomena yang jarang atau malah tidak pernah ditemui di negara sendiri ini terlihat indah saat difoto. Tapi taukah sebenarnya apa yang saya rasakan dibalik itu semua? Badan menggigil, hidung meler, kepala pusing, meriang belina, tangan beku, licin, kepleset, lensa kamera dan kacamata berembun... Aarrghh rasanya mau mewek pengen cepat pulang. Paling betah ya diam di cafe minum yang anget-anget dan duduk paling dekat ke penghangat ruangan. Setidaknya 100 ribuan harus melayang demi kehangatan. Tidak ada acara gratis emang punya mbahmu. Nah kalau minuman hangat sudah diolah di dalam tubuh lalu bakal muncul kerepotan yang baru lagi yaitu kebelet pipis. Huaaa....

Urusan kebelet pipis ini yang paling sering menghantui sepanjang jalan. Kedinginan di ruang berAC saja, setidaknya sejam sekali harus bolak balik ke toilet, apalagi di tempat beku ya beser pastinya. Sedangkan toilet umum di Eropa kebanyakan tidak gratis, harus masukin koin dulu pintunya baru bisa kebuka sekitar 50 sen - 1 yuro (1€ = Rp 17.000). Berbayar mahal pun masih mending jika mudah ditemukan, biasanya muter kesana kemari tidak ada. Sekalinya ada kadang tidak ada petugasnya, bahasanya lokal dan tidak tau cara pakainya. Solusi termudah ya cari yang gratisan tapi dengan syarat beli sesuatu dulu di cafe. Sama bae!!!


Bagaimana jika tidak punya koin? Beberapa tempat biasanya menyediakan mesin penukar koin di dekat pintu masuk, kadang juga ada loket khusus untuk bayar langsung ke petugasnya. Bahkan ada yang bayarnya pakai gesek kartu, bisa debit atau kredit. Seperti yang saya temui di Terminal Bus Oslo. Biarpun bahasanya tidak bisa dimengerti tapi gambar ilustrasinya cukup menerangkan. Tinggal digesek lalu muncul ceklist warna ijo dan pintu bisa didorong. Berapakah tagihannya? 20 RIBU. Alamak sekali pipiiiiiissss.....!!!! Maap orang miskin dilarang beser yaa...


Mesin gesek di toilet Terminal Bus Oslo Norway

Jangan dikira toilet mahal itu serba kinclong. Seperti biasa tidak pernah ada bidetnya (semprotan buat cebok). Hanya tersedia tissue gulung. Kadang malah ketemu rejeki jika penghuni sebelumnya tidak beres ngeflushnya, masih meninggalkan benda purbakala di dalam kloset. Belum lagi tissue di tempat sampah yang ketempelan sisa pembuangan, baunya semerbak memenuhi ruangan. Sudah bayar mahal pengennya benar-benar dipakai maksimal, selamaaaa mungkin di dalam toilet biar tidak rugi. Tapi jangankan lama, sebentar aja megap-megap nahan nafas.


Saya pernah suatu hari di Amsterdam, saking kebeletnya masuk ke hotel berbintang pura-pura nanya ke resepsionis, ngobrol sebentar lalu minta ijin ke toilet numpang pipis. Paling suka dengan toilet di hotel pastinya bersih.



Struk bayar ke toilet di Moscow (sekitar 14 - 15 ribu rupiah)

Sekedar tips sebaiknya selalu membawa botol kosong bekas air minum. Jangan lupa sebelum masuk ke toilet isi dengan air bersih, lalu bawa masuk dan buat cebok. Selalu sediakan juga tissue basah di dalam tas. Manfaatkan dengan sangat toilet gratis seperti di airport, hotel, mall, cafe atau restoran sebelum membaur di alam indah nan beku atau kalau mau silahkan pakai popok hahaha...


Botol air model ini paling praktis tidak blepotan

Sejauh saya melangkah, toilet umum yang bersih, gratis dan mudah ditemukan yaitu di Asia adalah di Jepang dan Korea. Toilet Jepang menurut saya paling okey, tombolnya banyaaakk ada flush, semprot gede, semprot kecil, blower, airnya anget, klosetnya dilapisin kain beludru dan macem-macem.

Jul 9, 2017

Traveling Tuh Ga Enak

July 09, 2017 4 Comments
Traveling buat saya bukan hanya sekedar pergi ke suatu tempat, foto-foto lalu posting di medsos. Saya lebih mencari hal baru untuk mengobati rasa penasaran gimana kehidupan di suatu kota atau negara tetangga, anak sekolahnya, kampus perkuliahan, perkantoran, pasar, angkutan umum, kebun, kandang ternak atau apa aja yang penting kegiatan sehari-hari mereka. Boleh aja sih foto-foto cantik sambil menye-menye manja di landmark buat melengkapi koleksi pribadi atau buat tanda bukti biar ga hoax.

Seperti waktu ke Hongkong saya lebih memilih ikut TKI dari pada ke Disneyland, pengen nanya-nanya gimana sih rasanya kerja dan hidup disana? Di Jepang juga saya pilih maen ke rumah TKI diajak arisan komunitas Indonesia dari pada shopping (bilang aja ga punya duit). Atau waktu di Jerman saya mengagendakan sehari keliling kampusnya Eyang Habibie (RWTH), biarpun akhirnya berantakan dan menyisakan kesedihan yang cukup mendalam. Gimana tidak itu mimpi terbesar saya, kalau kesampaian ke Eropa saya pengen ke kampus itu. "Trus kalo udah ke kampus mau ngapain?" Masih ada ya yang tega nanya begitu. Namanya pengen tau ya terserah orang mo ngapain. Kalo ga suka ya cari aja acara sendiri sesukanya. Ga harus barengan kya anak kembar, boleh aja memisah asal tetep jaga komunikasi. Apalah daya kalo partner yang ga seirama tapi ngikutin aja trus di tengah jalan ngomel-ngomel pasang muka cemberut, alhasil mimpi saya yang jadi korban. Nyeseg ga sih? Ya bangeeeettt....!!!

Traveling bareng bukan berarti open trip, itu beda banget karena ada niatan bisnis. Ini mah pyur jalan bareng. Sudah seharusnya segala direncanakan, disusun dan disepakati bareng. Bukan menyerahkan pada satu orang dan diem aja tinggal terima beres. Boleh sih kalo mau kya gitu tapi konsekuensinya ya harus nurut jangan protes kalo ternyata ga sesuai ekspektasi. Namanya juga baru pertama dan semua masih serba coba-coba, jadi nyasar itu ga aneh kalo bakal terjadi. Saya sih dinikmati aja toh ga semua berakibat fatal malah banyak pengalaman baru yang ditemukan. Selalu ada hikmah lah pastinya.

Namun tidak dengan beberapa partner yang pernah traveling bareng saya. Mungkin sangat melenceng jauh dari harapannya entahlah, yang pasti saya sering denger omelan disaat kecapekan dan emosi sedang memuncak. Disitulah sisi kepribadian akan muncul semua. Trus mendadak lupa posisi saya sebagai apa. Saya hanya teman seperjalanan bukan tour leader dari travel agen terkenal sejagad raya. Kalo dibandingin ama babang di luar sana yang biasa open trip ya saya mah apa atuh cuma setetes embun di laut. Jaauuuhhhh....

Paling menyebalkan lagi yang tipe kya gini, dari awal cuma diem aja jaga lilin doank terserah, mo gue jadi babi ngepet pokoknya ngikut. Etapi ujung-ujungnya ngomel, kok begini kok begitu harusnya kan begini begini begono. Hadeeuuh dari kemaren kemana aja, telat nona kalo punya usul dan saran tuh jangan belakangan jangan pas udah terjadi kesalahan. Kalo udah kya gini kesabaran saya beneran diuji. Percuma juga dijawab yang ada makin memperkeruh dan merusak acara. Lebih baik mengalah tapi dengan catatan "Ku tandain kau ya, ku tandain!!" Kalo mau lari dari kenyataan sih bisa aja tinggal dibalikin "Kenapa tadi diem aja" atau yang lebih kejam lagi "Suruh siapa ikut gue" trus ngeloyor pergi, saya biasa solotraveling siapa takut. Berhubung masih punya jiwa penyayang jadi ya suka-suka elu dah mo ngomong apa, tapi lihat aja lain kali ga usah coba-coba ikut saya lagi...

Orang ga terima jika perjalanan ga semulus rencana, berarti masih manja belum siap keluar dari zona nyaman. Lebih baik diem di rumah aja atau traveling pake travel agent yang tinggal duduk manis, disayang-sayang, dianterin belanja dan ditungguin. Karena yang namanya jalan-jalan ya pasti capek. Apalagi jalan sendiri (backpacker) ke tempat baru, ya atuh ga ada enak-enaknya. Cuma bagus di foto doank wow keren lagi di luar negeri gitu loh. Padahal dibalik itu banyak sekali yang bikin pusing. Cari bus, tiket, alamat hotel, atm, makanan halal, dikira tinggal nanya ke sekitar trus langsung ketemu. Ga segampang itu cuy, banyak kendala bahasa atau orang belum tentu juga mau diganggu. Beda tempat beda budaya.

Belum lagi stasiun di negara orang jangan dikira tinggal ngesot kya di rumah, tangganya tinggi-tinggi bok belum tentu semua serba eskalator atau lift. Nah kalo bawaannya selemari ya derita lo, harus ngangkat manual. Apalagi kalo negara yang punya huruf alphabet sendiri yang kriting-kriting itu, ga semua dilengkapi bahasa Inggris juga. Udah bebawaan berat ga tau arah, pusing ya pusing deh. Pokoknya semua ya derita lo, siapa suruh keluyuran kesana. Ga mau naik-naik tangga, gampang sih solusinya, banyak taksi. Ya intinya ada harga ada rupa. Kalo saya sih jelas taksi tuh barang mahal jadi jarang banget tertulis diitinerary kecuali terpaksa dan pake banget. Setidaknya bisa menyesuaikan antara bawaan ama jalur yang akan dilalui. Udah jelas backpacking naik umum ya jangan banyak-banyak bawanya, namanya keluar dari zona nyaman ga papa donk jorok-jorokan sebentar misalkan baju dipake 2 hari toh ga keringetan juga. Kalau saya dari pada capek keberatan dan ngribetin temen yang lain, mending begitu silahkan mau dibilang jorok.

Tangga di stasiun Paris muter-muter 8x tanpa lift dan eskalator

Jadi pikir-pikir lagi ya setidaknya kalo lihat orang traveling jangan latah, jangan tiba-tiba sok akrab, kok ga ajak-ajak, ikut donk dan lain-lain. Belum tentu ditengah jalan nanti bakal cocok. Jarang banget bisa klik 100%, bahkan ama temen sehari-hari sekalipun. Kecuali udah siap lahir batin saling besar hati terima apa adanya, apapun dibikin enak dan dinikmati. Kita ga tau apa yang bakal terjadi.

Kata orang sifat sejati seorang teman akan terlihat saat traveling bareng. Betul sekali semua akan kelihatan disaat keadaan tersulit yang mana derajad emosi sedang diuji untuk naik ke level tertinggi.

Apr 24, 2016

Asal Usul Bunga Tulip

April 24, 2016 1 Comments
Kebanyakan orang mengira bahwa bunga tulip berasal dari Belanda. Bunga tulip sebenarnya bukan bunga asli Belanda. Pada awalnya adalah bunga liar yang tumbuh di kawasan Asia Tengah yaitu di Penunungan Pamir, Stepa di Kazakhtan dan Pegunungan Hindu Kush. Orang-orang Turki yang pertama kali membudidayakan bunga ini pada awal tahun 1000-an dan pada masa pemerintahan kekhalifahan Ustmaniyah, terutama pada masa kekuasaan Sultan Ahmed III (1703-1730) bunga tulip berperan penting, sehingga disebut juga sebagai “Era Bunga Tulip.” 

Bunga tulip baru dikenal di Belanda pada abad ke-16 dan menjadi sangat populer di kalangan masyarakat kelas atas di negeri itu. Kata “Tulip” sendiri berasal dari bahasa Turki yang artinya “Sorban”, semacam kain yang dililit untuk menutupi kepala. Tidak diketahui kapan persisnya Belanda mulai membudidayakannya, tapi disebut-sebut mulai dibawa ke Belanda pada sekitar tahun 1550-an oleh kapal-kapal yang berasal dari Istanbul.

Bunga Tulip di Hitachi Sea Side Park Japan

Pada tahun 1592, seorang duta besar Austria yaitu Ogier Ghiselain de Busbecq membawa koleksi biji bunga tulip dari Wina. Biji-biji tersebut kemudian diberikan kepada temannya yang seorang ahli perkebunan Belanda yakni Carolus Clusius. Biji-biji tersebut kemudian ditanam dikebun praktik Universitas Leiden, Belanda pada tahun 1593. Karena hal itu, Carolus Clusius dikemudian hari menjadi tokoh besar dalam sejarah bunga tulip di Eropa. 

Carolus sangat tertarik dengan keindahan bunga tulip yang ditanamnya. Berbekal pengetahuan yang dimilikinya, Carolus kemudian melakukan penelitian untuk memperoleh variasi warna baru. Penelitiannya pun berhasil, tampilan bunga tulip menjadi semakin indah. Melihat keindahan warna tersebut, banyak orang-orang di sekitar Carolus yang ingin membeli bunga hasil penelitiannya itu untuk dibudidayakan kembali. Sejak saat itulah bunga tulip menjadi populer di negeri Belanda. Sudut-sudut kota dipenuhi dengan pemandangan bunga tulip yang indah dan menawan.


Modelnya juga ga kalah menawan

Bunga tulip saat ini telah berkembang menjadi lebih dari 3.000 varietas dengan variasi warna dan bentuk yang berbeda-beda. Belanda menjadi satu-satunya negara produsen bunga tulip dan diimpor ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Sehingga top of mind bunga tulip yang berasal dari Belanda itu memang tidak bisa disalahkan karena Belandalah yang mempromosikan tulip secara komersial.

**Diambil dari berbagai sumber kecuali fotonya, diantaranya :
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Tulip
http://www.allaboutturkey.com/tulip.htm
http://www.holland.com/global/tourism/article/history-of-tulips-in-holland.htm
http://m.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/tahukah-anda-bunga-tulip-warisan-kekhilafahan-islam-turki-ustmani.htm

Feb 29, 2016

Tokyo Disini

February 29, 2016 2 Comments
Hari ketiga di Tokyo saya dan Adek main ke Theme Park, orang Jepang bilangnya "Disini" sedangkan bahasa Inggrisnya "Disneyland". Rencananya dari pagi sampai malem secara tiketnya kan mahal sayang kalau tidak dimaksimalkan. Eh ternyata susah bangun pagi. Selesai subuh tidur lagi kebablasan, suasana winter memang enak banget buat meringkuk di dalam selimut. Jam 11 siang saat matahari mulai anget, anget aja tidak ada ceritanya bikin gerah, kami baru bergerak dari penginapan. Satu jam perjalanan setelah 2 kali pindah kereta barulah sampai di Tokyo Disini.

Selamat datang di Tokyo Disini Adek dan Kakak. Selamat kembali ke masa kecil.

Tokyo Disini letaknya di daerah pantai jadi anginnya lumayan kenceng kalau kena pipi serasa dielus-elus pake es. Mak wuusshhh bbrrrrrr.... Biar langit biru cerah matahari bersinar terang tapi tetep menggigil. Kirain winter pengunjungnya bakal sedikit, taunya rameee banget. Banyak rombongan anak-anak SD, SMP, SMA dan tentu saja balita. Balita yang pipinya pinky pinky kya mochi baru belajar duduk. Banyak juga abege-abege tua, trus pakai pernak pernik tokoh disney tanpa malu-malu lagi. Asyiknya mau bertingkah seperti apa juga cuek. Hari yang halal buat kekanak-kanakan.


Contoh abege tanggung - ga rela dibilang tua

Begitu melewati pintu masuk rasanya pengen joget jingkrak-jingkrak mengikuti musik ala negeri dongeng yang terdengar dari segala penjuru. "Oooo ooo ooo came on let's go, happines is here..." Semua gemesin terlebih saat itu temanya Frozen Fantasy so pasti dimana-mana banyak Anna dan Elsa. Pilem kartun kesayangan hihihii...

"Fotoin donk ama Elsa... Fotoin ama mickey... Adeeekk ini lucu yaa..." 
"Hooo... Petakilan. Ini mah gue ngasuh elu...!!!" adek ngomel-ngomel sepanjang jalan.


Adek Anna Yulyana dan Kakak Elsa Sukmawati

Ada satu lagu yang mengingatkan saya ke masa kecil yaitu It's Small World. Dulu jam dinding di rumah akan bernyanyi setiap jam. Saya paling suka dengan nada lagu saat tepat pukul 7. Musik It's small world after all, it is small small world... akan berdering sekitar 1 menit.

Dapet gelar "Petakilan!!"

Antrian di semua rides rata-rata 90 - 120 menit. Saya tidak punya stok kesabaran untuk berdiri diantaranya, terlebih disaat udara dingin menusuk tulang. Mending keliling aja sambil makan-makan. Untung saya orangnya gampangan cuma diajak muter-muter juga nurut. Apalagi kalau dibeliin popcorn jadi diem anteng duduk manis sampai tiba saatnya afternoon parade.


Afternoon Parade, Ho oo oo oo ooo... come on lets go happines is hereee...
Dadaaah sayaaang... Bebeb bertugas dulu yaa...
Dadaaah cintaaaa... Ati ati yaaa... *Bahagianya didadahin ama bebeb.

Salut dengan teraturnya orang Jepang saat nonton parade, yang depan duduk rapi semua tidak menghalangi yang di belakang. Sepanjang acara tetap diam diposisinya tidak ada yang berulah aneh-aneh. Selesai acara, kertas alas duduk langsung diberesin lagi bersih seperti semula. Anak-anak kecil yang mau minta tanda tangan ke tokoh-tokoh kartun yang berkeliaran (opo sih namanya), juga antri dengan tenang, rapi dan santun sekali.


Antri minta tanda tangan mas kartun

Paling bikin ngiler berkepanjangan adalah pernak pernik merchandise "Disini-land". Pastinya lucu-lucu banget tapi sayang harganya juga tidak kalah lucu. Harus memperbanyak istighfar biar kantong tidak sampai kering kemarau. Saya masih nyesel tidak jadi beli ember lucu yang bentuknya macem-macem buat wadah popcorn. Tadinya mikir buat apa (lupa kalau punya ponakan cewek), taunya pas pulang kepikiran mulu karena di Indonesia tidak ada.


Embernya kya yang dipegang ama neng ini.
Ponakan Jepang nyangklongin ember

Diakhir cerita jadinya tidak mencoba rides apapun, hanya membeli makanan dan beberapa merchandise yang penting-penting. Kebetulan saya butuh sarung tangan winter. Itu juga gara-gara pengen punya bocah di sebelah pas nonton night parade hehehe... Maklum ya jaman kecil tidak pernah kenal begituan. Boro-boro lah semua mainannya juga dari gedebog pisang.

Setelah nonton Night Parade kakak dan adek pulang.. Dan masih mampir lagi ke toko souvenir besar setelah pintu keluar, nganterin Adek ngabisin yen.

Feb 10, 2016

Apology Gifts

February 10, 2016 0 Comments
Suatu hari kakak liburan bareng temen yang biasa dipanggil adek ke Tokyo. Kami menginap di salah satu guesthouse di daerah Minami Senju dengan kamar dormitory 6 bed atau bahasa kerennya disebut kamar asrama. Ini kali kedua kakak menginap di guesthouse itu karena nyaman sehingga males cari yang lain. Lagi pula takut nyasar kalo harus cari-cari yang baru secara kan lagi musim dingin, bisa-bisa beku kelamaan di luar. Lucunya di guesthouse itu begitu cek in dikasih seperangkat sprei dan harus dipasang sendiri. Badan capek abis perjalanan panjang masih diharuskan pasang sprei... Kan kucrut. Baru kali ini sih nemu yang begini seringnya pas datang udah rapi dan langsung bobok. Ya anggep aja pindahan kost lah.

Nah bagi adek yang biasa nginep di kamar VIP kya gini pasti aneh. Udah kamarnya rame-rame, tempat tidur bertingkat, kamar mandinya di luar harus pasang sprei sendiri pula. Lengkaplah penderitaan. Sebelumnya dari airport juga naik bus dan kereta yang mana harus naik turun tangga dan angkat koper sendiri. Biasanya kan adek tinggal duduk manis semua udah ada yang ngatur hihihi... Mangenak...!!

Begitu masuk ke lobby yang mungil kakak langsung menyapa mase resepsionis yang wajahnya udah ga asing lagi.

"Hai.. Saya kakak dari Indonesia, udah booking ya"
"Okey sipp saya tau.."

Waahh senangnya ga begitu lama proses cek in selesai trus dikasih 2 pasang sprei dan kunci kamar. Kamarnya nomer 301 di lantai 3 ga asing lagi itu kamar kakak yang dulu. Naiknya harus pake tangga manual, jadi kita angkat lagi adek kopernya...

Saat masuk ke kamar, kami kaget setengah loncat kok kamarnya berantakan banget ada 2 dedek abege Jepang brisik, mereka penghuni bed sebelah. Yang satu rambutnya biru dan satunya lagi dikriwil-kriwil, kya cosplayer di Harajuku atau kya gambar yang di komik-komik. Berantakannya bener-bener diluar kemanusiaan, barangnya buanyaaaakk digelar selantai sampai mo lewat aja susah. Pengalaman pertama adek nginep di kamar asrama langsung disuguhin pemandangan kya gini. Mana kakak udah koar-koar lagi "Biar rame tapi enak kok, asyik". Nah kalo berantakan dan brisiknya over dosis ya mana ada enaknya. Duh dedeeekk... mengacaukan kedamaian aja. Garuk garuk kepala yang ga gatel.

"Trus gimana?" kakak merasa bersalah.
"Ga papa kita nikmatin aja" ihh adek emang baik.

Lalu adek menata bednya memasang sprei dan sarung bantal. Kakak merenung mengingat-ingat beberapa bulan yang lalu di kamar ini temennya baik-baik semua, berantakannya masih wajar hanya di bednya masing-masing tanpa mengganggu wilayah tetangga.

Selesai menarik nafas kami keluar mencari makan ke market sebelah guesthouse. Membeli makanan siap santap, paket nasi yang udah ada lauknya. Kirain lauknya nugget taunya perkedel kentang. Rasanya aneh semua, yang penting dimakan karena inget belinya pake Yen.

Sambil lewat coba nanya ke mase "Ada kamar lain ga?" Kata mase ga ada, nampaknya mase langsung tanggap, sebelum kakak curhat mase langsung jelasin "Dua Japanese girl besok cek out". Ouw okeylah semoga malam ini cepat berlalu.

Jam 11 malem waktunya tidur si dedek masih brisik aja cekakakan berdua, lampu juga masih terang benderang. Kalo kya gini mana bisa bobok. Akhirnya pasang tanduk juga...

"Dedek tolong ngerjain PRnya diluar aja ya, ini udah malem kakak mau tidur jangan brisik" pake bahasa Inggris medok kejawen.

Dedek cuma senyum senyum trus jawab pake bahasa dia yang bunyinya "lkdbfbxhhb hdjdjddhhfhf klrutruhd mskfhhd" abis itu lanjut ngobrol lagi kakak dicuekin. Iiigghhhh.... Dongkoool !!!

Tegur lagi pake bahasa tarzan, nunjuk ke pintu dan berpose kya orang tidur, sstttt...!! Nempelin jari di bibir. Nah baru deh dedek ngerti. Lalu ngeberesin barang seperlunya buat dibawa keluar, sambil beberapa kali bilang cotomate cotomate sambil nunduk-nunduk.

"Ga suka cotomate sukanya cotomakasar, cepetan!! Mau kakak plester?"
"Iya iya keluar sekarang kakak..."

Tutup pintu matiin lampu dan bobok bleg!!! Akhirnya drama pada malam itu selesai.

Pagi harinya adek bikin sarapan di dapur mungil yang nyempil di tengah-tengah tangga penghubung lantai 1 dan 2. Pastinya lebih enak dari pada perkedel Jepang semalem. Pas balik lagi ke kamar, dedek abege udah berulah lagi makan-makan di kamar, cekakakan dan reruntuhannya belum juga diberesin malah semakin kacau. Haduuuhh pada kerasukan apa sih dedeeeeekkk....!!! Kakak ga bisa diginiin.

Dari pada nyeseg mending segera jalan-jalan, lagian udah siang juga temen-temen penghuni kamar sebelah juga udah beredar entah kemana. Kakak turun duluan menemui mase yang saat itu lagi bebersih.

"Mase itu temen sekamar dedek harajuku brisik dan berantakan banget, liat nih fotonya, sampe sekarang belum beres-beres juga"
"Ouuww... Tapi mereka sebentar lagi cek out"
"Nanti setelah cek out tolong bersihkan kamarnya"
"Okey okey.. Maaf ya.."

Inilah penampakan sarangnya dedek, spreinya juga ga dipasang, jorookk...

Siang itu kami mider-mider di kota Tokyo, pertama ke Tokyo Skytree. Kami sengaja jalan kaki pelan-pelan dari penginapan. Biar pucuknya kelihatan tapi memang lumayan jauh. Sepanjang jalan banyak hal menarik, pastinya kamera ga berhenti jeprat jepret selfie. Sebelum nyebrang jembatan diatas kali Sumida ada tempat turistik saat musim semi yaitu Sumida Park. Banyak sekali bunga sakura sayangnya baru nongol calon kuncupnya, ada sedikiiitt yang kecepetan mekar itupun sepohon paling beberapa biji aja. Dulu kakak pernah kesitu pas Sakura lagi mekar keren bangets, pinky pinky jatuh cinta gitu deh.

Sampai di Tokyo Skytree hanya foto di bawahnya aja, ga berminat untuk naik. Sudah terbayang lihat kota dari ketinggian kya di Monas. Di pelatarannya banyak lampu-lampu illumination mungkin bagus kalo malem. Tapi siang aja dinginnya bikin menciut apalagi malem, mending bobok aja.

Kami melanjutkan mider dengan membeli tiket subway one day pass di stasiun setelah Stasiun Tokyo Skytree lupa namanya. Di stasiun itu kami sempat bingung nyari jalur kereta apalagi petunjuknya pakai huruf keriting. Harus difoto-foto disamain dulu kya anak kecil mainan carilah perbedaan pada gambar berikut ini. Kami akan ke Stasiun Shibuya ingin melihat Crossing Shibuya yang katanya kalo pas lampu merah banyaaak banget orang nyebrang dari berbagai arah. Ternyata memang iya. Kami juga ikut-ikutan nyebrang. Kalo liat di TV kya yang luas banget pas liat aslinya ya begitu aja. Tak lupa juga foto bareng patung gukguk Hachiko si hewan setia yang letaknya ga jauh dari situ, sebagai pelengkap aja kalo ditanyain orang pas pulang nanti.

Entah karena dingin atau mungkin jenuh dengan keramaian kota jadi ga pengen muter di sekitar Shibuya, pengen lanjut jalan lagi ke tempat lain. Nah akhirnya kami ke Ginza niatnya mau ke Uniqlo. Ciee cieeee... Adek mo shopping ya? Uniqlo di Ginza ini katanya toko Uniqlo yang terbesar di dunia, terdiri dari 12 lantai yang pasti koleksi pakaiannya paling lengkap.

Sebelum keluar stasiun mampir ke pusat informasi untuk meminta peta. Tapi membacanya bingung, Uniqlo pun tidak ketemu dan kesasar ke restoran India berlabel halal. Kami mampir dulu kesana untuk menyambung nyawa sekaligus menumpang sholat. Menu yang tersedia adalah makanan yang kakak benci yaitu kari-karian dan berbagai macam nasi briyani. Terpaksalah memesan nasi briyani yang ternyata rasanya ga enak dan udah pasti harganya mahal.

Welcome to Uniqlo. Mungkin begitulah teriakan para petugas menyambut kami dan pengunjung lainnya. Tapi pake bahasa Jepang yang kedengarannya kya "Mashe mashe mashee... Mashe masheee..." wes mbuh lah semua teriak begitu. Kalab lihat baju dan jaket disana rasanya pengen dibeli semua. Ukuran apa saja available dari mulai XS sampe XXXL, model apapun pasti ada. Karena macthing semua jadi bingung mau beli yang mana. Apa aja dicobain kakak ukuran XS atau S dan adek XL tapi akhirnya mengingat kebutuhan, hanya membeli beberapa potong saja diantaranya jaket untuk menyelamatkan diri dari kedinginan di Jepang.

Keluar dari Uniqlo belum terlalu larut malam tapi berhubung dingin banget kami memutuskan pulang ke penginapan. Lagian udah nenteng-nenteng belanjaan pastinya repot kalo masih lanjut jalan-jalan. Tak lupa mampir ke market sebelah buat belanja sayur dan keperluan dapur.

Saat masuk ke penginapan cantik tiba-tiba kakak dipanggil oleh Mase.

"Hello kakak... Temen sekamar si dedek abege Jepang sudah cek out, mereka nitip minta maaf ke kakak atas ketidaknyamanan sekamar dengannya. Dia ga tau kakak ngomong apa karena ga bisa bahasa Inggris"
"Oh begitu..." lega sekali.
"Dan dedek menitipkan ini untuk kakak" lanjut mase sambil menyodorkan segepok cemilan.
"Waoow ini semua buat kakak??" kaget campur seneng dan merasa berdosa.
"Buat kakak dan ada juga yang buat saya" jelas mase.
"Mase makasih.. Sampaikan makasih juga pada dedek kalo nanti ketemu lagi"

Rasanya pengen kakak peluk tuh dedek-dedek, jadi kasian semaleman kakak cemberutin aja.

Gift titipan dari dedek.

Akhirnya kakak dan adek kembali ke kamar dan kenalan dengan temen baru dedek abege Jepang yang cantik dan santun sekali, jauh berbeda dengan dedek harajuku. Baiklah kakak istirahat dulu ya kapan-kapan dilanjut lagi ceritanya. Arigato...

Jan 27, 2016

Kesrimpet

January 27, 2016 0 Comments
A few weeks ago, finally I visited to Tokyo for second time. I went with my friend who called "Adek". We are going in winter and only lived in Tokyo for six days. Exactly I avoid traveling in winter season because I don't like the cold but Adek too interest with snow. She would spend time with snow around as long as open her eyes. Even though when we are arrived there, the weather just cold and dry but nothing snow.

Oneday we are going to Gala Yuzawa for sledding and playing the snow in Gala Yuzawa Snow Resort. We're bought unlimited pass for three days including the shinkansen from Tokyo to Gala Yuzawa. It's cheaper than one way or return ticket for shinkansen to there. I bought it at ticket service center in Tokyo Station.

I quite confused with that station. I often get lost. The station is so large, many train lines, the stairs is so high and many people walking too fast from anywhere. If cry can make it easier, I will do it. Adek just follow me wherever I go. Sometimes being right, sometimes being wrong. Feel sorry with this Adek, hope our legs stay strong.

When we are enjoyed walking in Tokyo Station while ask for the train lines of shinkansen, suddenly I felt like someone to cacth my legs very hard. I can't walk balance and I can't held somethings. If not someone hold me I will get fall. I shout it...

"Adeekk... Help me...!!!"
"What happen?" Adek try to take my hand but she can't held me. It happened so quickly.
"I'M FALL... Aauuw aauuw aauuuww...." BRAAAKKKK..!!! I'm falling on the floor. Adek shocked look at me and has helped for wake up.
"Why? That's hurt?"
"No.. Nothing at all"
"Are you okey?"
"I'm fine but I actually shy"
"Hahahahaa... Why?"
"That's something wrong with my shoes..."
"Hahahahaa..."

The left shoelace were bound to the right shoe and tied each other. So I found difficult to walk.

"Wearing your shoes and wake up" Adek has helped me for tying my shoelaces good for walking safety while she was talked to much about petakilan (java) her favorite word hehehe...

Picture taken by Adek while she was helped me

"Oh my God I shy..."

I slowly wake up while seeing around. It's lucky people's does not matter about that at all. Yess!!

The shyness was made me forgot with my pain. But after that the pain is felt during I on the train and when I was playing in the snow.

Jun 12, 2015

Bersandiwara Ke Jepang

June 12, 2015 1 Comments
Saya pernah punya impian untuk jalan-jalan ke Jepang tapi tidak pernah bermimpi pergi disaat musim semi. Konon musim semi adalah peak season banyak wisatawan yang ingin melihat bunga sakura sehingga harga tiket selangit. Hotel dan penginapan mulai dari yang murah sampai yang mahal penuh. Andai saja jadi menantu raja minyak tentu tidak akan mempermasalahkan hal itu. Berhubung hanya modal ransel cukup bersyukur saya pernah melihat sakura di Chiang Mai, tidak usah bermimpi terlalu tinggi untuk melihat sakura di negerinya.

Banyak disarankan pergi liburan di low season agar bisa mendapatkan tiket murah meriah atau pesan tiket jauh-jauh hari sampai berbulan-bulan sebelumnya. Karena agak kesulitan dalam pengaturan jadwal sehingga saya takut untuk memesan tiket seperti itu. Rasanya mustahil bisa pergi ke Jepang di musim semi dengan harga tiket yang terjangkau oleh saya.

Suatu hari diakhir bulan Maret tiba-tiba ada rejeki nomplok, teman dari Backpacker Dunia memberi kabar sekaligus membantu membookingkan tiket promo murah air dari Kuala Lumpur ke Tokyo dengan harga 1,3jt pp buat awal bulan April yang mana sakura lagi blooming bloomingnya. Tentu saja menggiurkan. Jarang-jarang di musim semi ada tiket murah. Kebetulan Jakarta - KL juga lagi promo 700rb pp. Sehingga total Jakarta - Tokyo 2jt pp. Murah donk, harga biasa one way antara 2-4jt untuk pesawat jenis low cost, untuk pesawat full service sudah pasti diatasnya. Tapi berangkatnya tinggal 14 hari lagi, saya sempet khawatir dengan visa. Paspor saya masih yang biasa sehingga belum bebas visa. Yang penting tiket dulu deh urusan visa bisa diatur.

Beli tiket mendadak dengan harga murah dimusim semi, menurut saya luar biasa. Sebagai perbandingan jika ikut paket tour dengan tanggal dan jumlah hari yang sama harganya antara 15 - 18 jt. Dih ga banget. Kalau duit bisa cetak sendiri sih pasti mau.

Singkat cerita alhamdulillah pengajuan visa lancar dan tiba saatnya mengajukan surat cuti di tempat kerja. Seperti biasa bos rada kenceng kalau ada surat cuti di mejanya.

"Cuti mau kemana lagi?" tanya beliau bercanda tapi bernada sewot.
"Mau pulang kampung bu, mau lamaran"
"Perasaan kamu tiap cuti lamaran mulu"
"Iya bu yang nglamar saya banyak hehehe..."

Biarpun sedikit diceramahin tapi akhirnya dikasih juga. Yes. Welcome to Japaaan...!! Sebagai pelengkap sempurnanya sandiwara saat mulai cuti update status "Pacitan" jadi beneran dikira pulang kampung. 

Mohon maaf, kalau bilang ke Jepang pasti heboh. Biasanya bakal ada yang nitip ini itu. Berhubung hanya menggembel sendirian dan baru pertama kali, belum kebayang seperti apa. Kalau titipan ga dapet dikira ga peduli, bisa bisa sibuk dengan titipan dan ga fokus menikmati dunia. Belum lagi kalau gede gimana bawanya karena ga beli bagasi. Dan paling penting duit saya sangat terbatas kan belum jadi menantu raja minyak. Jadi okey ya anggaplah hanya cuti di rumah bukan ke Jepang hehehe...

Sesaat setelah landing di Narita

Apr 18, 2015

Rumitnya Naik Kereta Di Jepang

April 18, 2015 7 Comments
Kereta adalah salah satu angkutan umum yang sangat efisien walaupun kadang ongkosnya tidak selalu lebih murah dari pada naik bus kota. Saya pernah naik kereta di negara orang seperti Singapore, Kuala Lumpur, Bangkok dan Seoul, semua praktis tinggal toel toel menunggu sebentar kereta datang. Paling pertama kali hanya bingung cara beli tiket di vending machine dan sesekali kebalik arah. Rutenya pun juga jelas apalagi di beberapa stasiun banyak tersedia map yang bisa diambil secara gratis. Tapi begitu berhadapan dengan kereta di Tokyo, HUUAAAAA......BLEG!!!

Map kereta di Tokyo gabungan antara JR East, Tokyo Metro dan Subway. Gara-gara nemu gambar ini jadi pusing dan mual. Susah menjelaskannya karena terlalu panjang dan rumit. Silahkan dipelajari sendiri.

Melihat rute kereta yang kya benang kusut itu stres sendiri dan berhenti browsing selama 2 hari. Padahal keberangkatan ke Tokyo yang mendadak tinggal beberapa hari lagi. Berhubung "dizzy seven arround" jadi bodo amat ga mau lagi browsing, dari pada tambah pusing bisa-bisa ga jadi berangkat. Yang penting nyampe dulu disana dan terserah mau ngapain. Saya ga bikin itinerary yang banyak-banyak, tujuan utama pengen melihat gunung fuji. Walaupun tidak mengharapkan hal buruk terjadi tapi seandainya kesasar atau salah kereta sudah siap lahir dan batin. Sehingga sebelum pergi saya hafalkan kata-kata ini "Sumimasen, sen wo machigaemashita" katanya sih artinya "Maaf saya salah ambil jalur kereta". Kata teman saya "Welcome to The Jungle, Welcome to The Real of Japan".

Nama stasiun di Tokyo banyak yang mirip, tapi jaraknya berjauhan. Seperti nagano dengan nakano, kawagoeshi dengan kawaguchi, komagawa dengan kumagaya dan masih seabreg lagi. Ada juga beberapa stasiun yang berbeda nama tapi jaraknya berdekatan.

Tiket kereta di Tokyo tergantung jauh dekatnya tempat tujuan. Untuk jarak paling dekat yang pernah saya beli seharga 170 Yen (1 Yen = Rp 115). Karena yakin pasti bakal bingung saya mencari pass yang kira-kira cocok untuk pemula seperti saya. Seandainya beberapa kali nyasar berapa uang yang akan keluar setiap kali naik kereta. Pass yang paling keren adalah National Japan Rail Pass bisa dipakai untuk keliling seluruh Jepang termasuk naik kereta Shinkansen. Harga untuk 7 hari 236 USD, 14 hari 377 USD dan 21 hari 483 USD. Atau bisa pilih Regional Japan Rail Pass silahkan di lihat di http://www.japan-rail-pass.com. Tapi buat saya kemahalan karena hanya 5 hari di Jepang dan masih belajar pula.

Saya menemukan pass yang lebih murah yaitu JR Kanto Area Pass seharga 8300 Yen bisa digunakan untuk 3 hari, mengcover Narita Express yaitu kereta dari Bandara Narita ke kota Tokyo, jika membeli one way seharga 3100 Yen dan kereta biasa sekitar 1400 Yen. Selain itu juga mengcover kereta ke Kawaguchiko tujuan utama saya, harga biasa one way dari Stasiun Shinjuku ke Stasiun Otsuki 1320 Yen, lanjut dari Stasiun Otsuki ke Stasiun Kawaguchiko 1140 Yen. Jika naik Bus dari Shinjuku ke Kawaguchiko PP 3500 Yen. Setelah dihitung-hitung pastinya lebih hemat pakai JR Kanto Area Pass ini bukan. Bahkan kalau mau merasakan naik Shinkansen juga bisa dari Stasiun Tokyo ke Nagano, Jomo-Kogen dan Nasushiobara. Untuk lebih jelasnya silakan lihat gambar di bawah ini.

Rute yang dicover oleh JR Kanto Area Pass

Saya membeli pass ini setelah sampai di Bandara Narita, bisa dipakai sesuka hati di daerah kanto dan mau nyasar kemana juga ga akan bayar lagi. Setiap masuk dan keluar gate tinggal tunjukkan tiket ke petugas.

Setelah membeli pass ini saya ditanya kapan kartu akan mulai dipakai dan tujuan pertama mau kemana? Saya akan ke Ueno stasiun yang dekat dengan penginapan, sehingga diberi tiket Narita Express ke Stasiun Tokyo dan disuruh pindah kereta Tokyo-Ueno Line ke Stasiun Ueno. Pertama kali cari track Narita Express saya mulai bingung untung ada bapak-bapak yang membantu. Beliau mengantar saya sampai di pintu kereta. Ternyata kereta sudah siap jalan. Seandainya ga ditunjukkan bapak itu pasti ketinggalan.

Sampai di Stasiun Tokyo saya mencari Tokyo-Ueno Line. Karena rame banget banyak orang yang jalan cepat kya mengejar maling dan udara yang dingiiinn sampai menusuk hati, saya mulai kehilangan konsentrasi. Badan menggigil, sempat kepikiran kena malaria karena 2 minggu sebelumnya saya dari Ujung Kulon. Haaisshh...

Lalu saya ke Line Shinkansen yang saat itu paling mudah ditemukan. Ke Stasiun Ueno bisa juga naik Shinkansen. Tapi saya tidak menemukan tulisan Ueno yang ada tulisan Jepang semua dan beberapa tulisan biasa tapi ga kenal tempatnya. Beberapa kali nanya ke petugas sampai ke cleaning servis segala, tapi ga tau semua menjawab apa, kedengerannya kya "kuro kuro horek tempe rasa coro..."

Karena ga tahan dingin saya asal aja naik Shinkansen dengan membaca bismillah. Saya masuk ke gerbong unreserved seat, disitu masih banyak kursi yang kosong. Tak berapa lama kereta berangkat, mulai deh ada pemberitahuan dan alhamdulillah saya naik kereta yang benar, Ueno-Omiya-Kumagaya-Karuizawa-Nagano dan lain-lain lupa. Baru juga 5 menit sudah sampai di Stasiun Ueno, karena masih kedinginan dan masih penasaran dengan kereta cepat yang halus itu saya bablas saja rencana pengen sampai di Karuizawa, setelah melihat-lihat sebentar di dekat stasiun akan balik lagi. 

Ternyata lumayan jauh sampai tertidur bangun beberapa kali belum nyampe juga. Melihat mapnya cuma kecil kirain deket. Setelah sampai di Stasiun Annakaharuna berarti tinggal satu stasiun lagi, kereta banyak lewat ke lorong bawah tanah saya hampir tertidur lagi karena keretanya bener-bener nyaman. 

Setelah keluar dari lorong panjang di bawah tanah tiba-tiba di sekeliling terlihat putiiihh semua, wooow ternyata SALJU. Subhanallah saya melihat salju. Seketika rasa kantuk menghilang. Akhirnya kereta berhenti di Stasiun Karuizawa. Saya turun dari kereta dan Bbbrrrrrrr... Udara dingin menampar pipi. Maksud hati pengen menghangatkan badan malah nyasar ke tempat bersalju. Tapi alhamdulillah bersyukur sekali, ga nyesel.


Yuhuuii...bikin boneka salju, tapi ga berhasil dingin banget.

Menggigil saya semakin hebat, tiap 30 menit sekali harus menghangatkan badan ke toilet. Hanya betah sekitar 1,5 jam bermain salju setelah itu kembali naik Shinkansen dan balik lagi ke Tokyo. Sampai di Stasiun Ueno walaupun bingung asal keluar tapi alhamdulillah bener. Tadinya pengen nitipin ransel di loker koin, berhubung ruwet begitu jadi takut ga bisa balik lagi. Mendingan kemana-mana gendong ransel sekalian buat ngangetin badan.

Hari kedua saya ke Kawaguchiko, sengaja berangkat pagi-pagi agar waktunya panjang. Pagi itu hujan kecil dan kabut sempat was-was juga khawatir gunung fujinya ga kelihatan. Saya keluar dari penginapan ke Stasiun Minami Senju dan membeli tiket Tokyo Metro Hibiya Line seharga 170 Yen ke Stasiun Ueno. Padahal bisa pakai tiket JR Kanto Area Pass yang ga bayar lagi yaitu ke JR Joban Line, tapi saat itu belum tau. Gatenya berjauhan harus muter ke belakang melingkari gedung, sedangkan gate Tokyo Metro begitu masuk ke stasiun langsung kelihatan. Begitulah kadang bodoh itu susah menghilang.

Sampai di Stasiun Ueno saya naik Yamanote Line ke Stasiun Shinjuku. Padahal kalau mau yang agak cepat bisa ke Stasiun Tokyo dan naik Chuo Line dari sana, tapi lagi-lagi saya tidak tau. Sampai di Stasiun Shinjuku saya mencari Chuo Line ke Otsuki, begitu ketemu tracknya ada kereta yang telah terparkir tanpa pikir panjang saya langsung naik. Dan ternyata kebalik arah ke Stasiun Tokyo. Jiah buang-buang waktu lagi, lalu saya turun di stasiun berikutnya yaitu di Stasiun Yotsuya. Untuk pindah ke track sebelahnya harus nyebrang dulu muter lewat lantai bawah. Tiga menit kemudian kereta datang lagi, saya pastikan dulu apakah benar jurusan Otsuki dan ternyata benar. Awalnya harus berdiri karena kereta lumayan penuh, tapi sampai di Stasiun Shinjuku banyak yang turun. Karena perjalanan masih panjang saya mengikuti gaya orang Jepang tidur di kereta. Orang Jepang diem-diem, biar segerbong berjubel empet-empetan sampai penuh tapi ga ada satupun yang ngobrol. Hening kya di hutan.

Setengah perjalanan entah sampai di stasiun mana pengumuman di kereta lumayan panjang, yang sempet saya denger ada kata-kata "thank you for travelling with us" setelah itu kereta berhenti lama. Banyak orang yang turun hanya tinggal tersisa beberapa yang masih tertidur tapi setelah terbangun kaget dan turun juga. Saya bingung kenapa ya? Setelah melihat ke papan pengumuman di dinding kereta, ternyata berganti tulisan "For Tokyo". Rupanya harus pindah kereta. 

Saya turun dan mencari kereta ke Otsuki. Dengan setengah yakin saya masuk ke kereta yang telah terparkir, setelah kereta berangkat mulai ada pengumuman next station dan alhamdulillah bener. Tapi sampai beberapa next station lagi harus ganti kereta lagi. Setelah sampai di Otsuki harus ganti kereta lagi jurusan Kawaguchiko. Baru terasa ternyata kawaguchiko itu jauuuuh banget dari Tokyo. Dari penginapan 5 kali ganti kereta. Dan benar saja sampai disana gunung fujinya ketutupan kabut hiks... 

Saya coba menunggu sekitar 1,5 jam tidak juga ada tanda-tanda penampakan justru malah semakin gelap. Gigit jari deh. Tandanya saya harus balik lagi ke Jepang suatu saat nanti. Tapi masih berguna juga, bisa melihat bunga sakura di Kawaguchiko yang masih bagus-bagus ga seperti di Tokyo yang sudah rontok dan bercampur daun.

Hari ketiga sudah lumayan bisa nyari line kereta, tapi kebalik arah masih sering terjadi dan untuk exit-exit stasiun juga masih bingung. Pernah di Stasiun Shinjuku rasanya sampe mau nangis nyari west exit ga ketemu. Udah mah bingung,  kedinginan, laper lagi. Siapa suruh petakilan ke Jepang. 


Suasana di stasiun pada jam sibuk

Hari ke empat saya ke Nagoya ke rumah mbak Dini temennya temen yang kerja dan tinggal disana. 30 jam terakhir saya ga bisa menghubungi beliau karena ga dapet free wifi. Saya memang ga beli paket wifi selama di Jepang hanya mengandalkan yang free aja, sehingga ga bisa mengabari bahwa jadi berangkat. Tapi beliau sudah memberikan rute kereta ke rumahnya, ada dua pilihan naik JR Line atau Meitetsu Line. Kalau naik JR ambil yang jurusan Toyohashi turun di Kariya, pindah line Meitetsu jurusan Hakinen turun di Ogakie. Sedangkan kalau naik Meitetsu Line ambil jurusan ke Toyohashi turun di Chiryu, pindah line ke jurusan Hakinen turun di Ogakie. Terakhir contact kami janjian di Ogakie jam 8 pagi, setelah itu lost contact.

Saya naik bus Willer Express jam 11 malem dari Tokyo sampai Nagoya jam 7 pagi. Di Stasiun Nagoya saya mencari loket JR atau Meitetsu, dua-duanya ga ketemu. Yang ada loket Kinetsu, karena sama-sama berakhiran -etsu saya coba mencari tulisan Kariya. Boro-boro tulisannya Jepang semua. Stasiun di Nagoya roamingnya lebih parah dari pada di Tokyo.
"Mbak kalau mau ke Kariya naik apa?" tanya saya ke mbak-mbak cantik yang baik banget. 
"Kariya?" mbak itu utak atik hpnya seperti browsing sesuatu, kemudian menunjukkan hpnya ke saya "Kariya, JR Line..". 
"JR Line tempatnya dimana?" 

Mbaknya susah menjelaskan jadi saya dianterin. Beliau juga masih bingung masih sambil mencari-cari. Orang Jepang aja bingung apalagi saya. 

Tiba-tiba saya melihat loket Meitetsu dan ada tulisan Kariya, "Mbak ini kereta Kariya juga kan, udah sampai sini aja arigatou gozaimas..." Karena mesin tiketnya bertuliskan Jepang semua saya ke loket sambil bilang "Kariya". Lalu petugas di loket memberi saya tiket mungil dengan tulisan Jepang. Saya baru ingat, kalau Line Meitetsu kan langsung beli ke Ogakie bukan Kariya. Saya coba ralat lagi " Sorry Ogakie..." Bapaknya malah bingung "Ogakie or Kariya?" "Saya mau ke Kariya setelah itu lanjut ke Ogakie". Dengan bahasa tarzan beliau menjelaskan "Ke Kariya aja dulu nanti kalau mau ke Ogakie beli lagi disana".

Beres tiket, saya mencari line kereta jurusan Toyohashi dan huuaaa... Ternyata susah juga. Banyak banget line kereta disana. Harus kemana saya sedangkan petunjuknya kebanyakan bahasa Jepang. Setelah mondar mandir ga jelas sambil mo nangis dan nanya ke beberapa petugas, akhirnya ketemu. Saya disuruh diem di dekat petugas itu, nanti kalau kereta datang akan diberi tau. Karena satu track bisa dilewati oleh banyak kereta dan kebanyakan tulisannya Jepang semua, meneketehe. Kira-kira lima kereta sudah lewat saya diberi isyarat oleh petugas itu untuk masuk ke kereta yang akan datang. Hanya sebentar banget pintu kereta kebuka, langsung menutup lagi dan kereta berangkat. Di dalam ada pengumunan tapi bahasanya Jepang, mampus gila ga ada bahasa Inggrisnya. Untungnya untuk penyebutan nama stasiun masih agak jelas. Yang pasti kalau ngomongnya panjang kemungkinan ada persimpangan rail dan bisa pindah line. 

Saya dengerin bener-bener tiap kali ada pengumuman menunggu kata-kata Chiryu karena saya harus pindah line. Benar saja tiba-tiba ada pengumuman panjang yang sepertinya ada kata Chiryu dan beberapa lama kemudian kereta berhenti. Saya turun dari kereta sambil memastikan, benarkah ini Stasiun Chiryu dan alhamdulillah benar. Setelah itu mencari kereta jurusan Kariya atau Hakinen, hanya 2 menit ada kereta datang. Kata orang disitu benar ke Kariya, lalu saya naik. Pengumuman di dalam kereta masih sama parahnya, pakai bahasa Jepang semua.

Tiket saya hanya sampai di Kariya, berhubung keretanya melewati Ogakie saya tidak akan turun di Kariya. Katanya kekurangan tiket bisa ditambah nanti setelah turun. Setelah melewati 4 stasiun termasuk Kariya, terdengar pengumuman "Ongakie.. Ongakie.. " Saya yakin pasti maksudnya Ogakie. Setelah kereta berhenti, saya turun. Lalu memasukkan tiket ke mesin di pintu keluar ternyata pintunya ga bisa kebuka, pasti karena bayarnya kurang. Saya melihat ke sekeliling untuk mencari bantuan, tapi tidak ada orang satupun. Di loket pun tidak ada petugasnya. Melihat pintunya masih ada celah sedikit masih muat buat kaki akhirnya saya menerobos. Maaf ya bukan maksud, salah sendiri ga ada petugasnya.

Sampai di luar saya mencari orang berkerudung, seandainya ga ada saya akan minta tolong orang yang lewat untuk sms atau menelpon, kebetulan pernah meminjam nomor telponnya untuk membooking bus. Dan ternyata ada satu mbak-mbak duduk di halte yang nunduk sambil mengutak-atik hp, tapi wajahnya ditutup masker, kalaupun dibuka saya juga belum tau wajahnya seperti apa karena belum pernah ketemu. Setelah agak dekat mbak itu menoleh dan teriak...

"Aaaauw...akhirnya nyampe juga, pas banget saya juga baru nyampe"
"Maaf mbak saya ga dapet wifi dari kemaren, trus tadi salah beli tiket jadi disitu bayarnya kurang"
"Kok bisa keluar?"
"Nerobos mbak"
"Hahahaha..."

Setelah dipikir kembali ternyata ada baiknya juga salah beli tiket ke Kariya, bukan Ogakie, karena ternyata ada Ogaki dan Ogakie (dibaca ongakie). Seandainya saya bilang "Ogaki" karena membaca versi Inggrisnya, bisa jadi pak petugas nangkepnya Ogaki yang satunya saya bisa diarahkan kesana. Jadi ini bukan kesalahan memang petunjuk dari Allah untuk memudahkan perjalanan saya, sehingga yang ada dipikiran saya hanyalah kata "Kariya". Alhamdulillah Ya Allah. Membayangkan kesasar jauh, kasian Mbak Dini yang sedang hamil bakal menunggu lama sambil khawatir.

Begitulah kisah saya saat menguraikan jalur kereta di Tokyo dan Nagoya. Sekedar tip buat teman-teman pemula yang akan naik kereta di Tokyo :
  1. Tidak usah panik, karena akan membuat segalanya semakin kacau. Kalaupun bingung bisa bertanya ke orang-orang di sekitar. Mereka kelihatannya cuek tapi baik-baiiik banget pasti akan dibantu walaupun dengan bahasa tarzan.
  2. Jangan berangkat ke stasiun terlalu mepet sediakan waktu luang untuk berjaga-jaga jika kesulitan mencari jalur kereta, kereta di Jepang sangat tepat waktu.
  3. Setiap jalur kereta di Tokyo memiliki simbol dan warna khusus, ikuti saja warna jalur kereta yang akan kita naiki.
  4. Setelah ketemu tracknya perhatikan lagi kereta yang lewat, karena satu track bisa dilewati oleh banyak kereta.
  5. Tetap konsentrasi dan banyak berdoa.
 Semoga sukses. Salam backpacker.
Suasana di stasiun, dari segala penjuru banyak orang berjalan cepat