Showing posts with label Rusia. Show all posts
Showing posts with label Rusia. Show all posts

Nov 22, 2018

Berdebar Di Imigrasi Bandara

November 22, 2018 0 Comments
Hal yang paling mendebarkan diantara serangkaian perjalanan adalah saat melewati imigrasi di bandara. Dipelototin oleh sang muka datar, dingin dilipet tanpa senyum, dahi berkerut tak jarang bikin gemetaran dan lemas di sekujur tubuh. Biarpun berusaha setenang mungkin tetap saja deg-degan gemuruh menggelegar. Apalagi kalau sudah dipelototin berkali-kali dan paspor dibolak balik "Ya Allah pasrah deh".

Pertanyaan yang paling sering biasanya mau kemana, berapa lama, ada tiket pulang, tinggal dimana, itinerary dan masih banyak lagi yang kadang diluar dugaan. Hanya Allah dan petugas imigrasi yang tau. Selagi jawaban meyakinkan Insya Allah lancar. Misalkan memang hanya liburan ya jawab saja apa adanya dan bisa menjelaskan mau kemana setidaknya punya gambaran tentang tempat yang pengen dikunjungi. Jangan sampai ngekngok tidak tau apalagi cengengesan. Kalau beruntung ya tidak akan ditanya apa-apa. Lancar jaya bebas hambatan.

Saya pernah parno banget saat masuk ke Rusia. Segala dokumen yang kira-kira bakal ditanya disiapkan semua. Tiket pulang, reservasi hotel, tiket flight dan kereta domestik, itinerary bahkan tiket nonton ballet juga disiapkan. Jadi segepok di dalam map holder trus ditenteng. Biar kalau ditanya gampang ambilnya. Pasrah mau diapain juga. Eh malah gak ditanya sedikitpun. Proses imigrasinya memang lumayan lama. Satu orang bisa lima menit kadang lebih. Petugasnya ketak ketik sambil sesekali menatap muka. Setelah itu paspor dikembalikan dan sudah.

Gemetaran lagi saat pertama kali masuk ke Eropa yaitu di Amsterdam. Konon kalau bareng rombongan paspornya diserahkan bersamaan. Saya berenam dan dipercaya mewakili maju ke depan. Petugasnya mbak-mbak dan mas-mas masih muda. Ada 2 orang di loket.

Pertama dihitung jumlah paspor.
"Kamu berenam ya dengan teman-teman yang baju merah itu?"
"Ya betul"
"Kamu baru pertama ke Eropa?"
"Iya" pura-pura tenang padahal hampir ngompol.
Kedua ditanya itinerary. Dibolak balik dibaca dari awal sampai akhir lalu didiktekan ke saya sambil manggut-manggut.
"Kamu kesini mau liburan??"
"Iya"
"Ke Belgia, Jerman, Prancis, Belanda lagi lalu kembali pulang?"
"Iya"
"Okey enjoy your holiday" semua paspor dikembalikan sambil tersenyum baiiik sekali. Alhamdulillah...

Di Jepang pernah ditanya bukti reservasi hotel. Syukurlah sudah saya print. Tapi petugasnya bingung. Ditatap berulang-ulang.
"Dimana penginapan ini?"
"Di Minami Senju"
"Saya baru dengar ada penginapan ini" lha piye to bang mosok ngarang sendiri, print-print'annya juga langsung dari website. Itu guest house bang bukan hotel.
"Tahun kemaren saya pernah menginap disini"
Lalu abangnya ngutak atik henpon browsing sesuatu. Entah apa yang diketik, huruf kanji semua. Jangan-jangan smsan ama pacarnya juga gak tau. Akhirnya paspor distempel dan dikembalikan.

Pertanyaan yang paling neko-neko saat di KLIA. Beberapa kali keluar masuk ke Malaysia selalu dapat pertanyaan yang tak diduga.
"Kamu pernah kerja di Saudi?"
"Kamu pernah kerja di Malaysia?" emang nasib gue punya tampang...

Pernah juga saat transit tapi bukan petugas imigrasi hanya mbak-mbak petugas di loket transit. Flight dari Seoul delay sehingga di Malaysia waktu transit jadi mepet sekali. Baru juga landing sudah ada panggilan boarding ke Jakarta. Saya minta ijin nyelak antrian. Sampai di depan malah kena sewot
"Kenapa terlambat?!!"
"Pesawatnya yang delay" kok saya yang dimarahi toh mbak ee...
"Bongkar semua tasnya" hastagaa udah mepet tetep suruh bebongkaran. Lagian baru turun dari pesawat gak keluar bandara, emang bawa apaan. Noh lihat isinya duit semua... Petugas disini paling seneng ngerjain. Okey gak apa-apa ya memang tugasnya mereka.

Saat ke imigrasi jangan memakai case pasport, copot dulu semua aksesoris di pasport

Sedangkan di Airport Norway saya sering kena random check. Diajak masuk ke ruangan dioles-oles apa saya gak tau, seperti di mall disuruh nyobain parfum, lalu diraba terutama bagian kerudung dan dicek pake alat detektor seluruh badan. Isi tas juga dilihat semua. Untunglah tidak ada masalah. Malahan di Airport Bodo kerudungnya suruh dibuka. Kaget, ya mau gimana lagi dari pada panjang urusan. Tapi baru mau dibuka petugasnya bilang, stop stop tidak usah. Cukup. Alhamdulillah...

Saat keluar dari Helsinki petugasnya mas-mas ganteng. Menatap muka sambil senyum ramah. Tiba-tiba nanya, terdengarnya seperti 
"Have you been to Than More??" waduh mati apaan ya... Emang Than More dimana?
"Saya abis dari Helsinki mau ke Singapur" yang penting jawablah.
Nanya lagi "Have you been to Than More??" 
Than more apaan sih mas. Grogi serasa mau pingsan dan mendadak zonk. Bolak balik menatap saya lalu paspor distempel dan ditunjukkan visa schengen saya. Ya Allah Denmark... Kenapa masuk ke telinga saya jadi Than More... Saya membuat visa dari kedutaan Denmark padahal keluar masuk schengennya dari Finland. Okey tidak ada masalah masnya hanya iseng pengen ngobrol.

Nah yang ini sebenarnya gak terlalu bikin deg-degan. Karena saatnya keluar dari Singapura. Keluar memang lebih lega dibanding saat masuk. Takut ditolak dideportasi. Tapi kali ini hanya transit dan akan terbang ke Helsinki. Kebagian petugas ibu-ibu usianya sekitar 50an.

Pertama ditanya tiket pulang. Semua tiket flight saya serahkan termasuk extend ke negara sebelah hingga tiket pulang ke Indonesia. Kedua ditanya,
"Benar ini foto kamu, kenapa beda-beda semua?" sambil melihat foto di visa-visa sebelumnya.
"Benar buk itu saya semua" meragukan memang di paspor tampang inem aslinya lebih mirip kakak saya mbak Dian Sastro.
Ketiga lebih dipelototin lagi,
"Kamu masih sekolah?" saking groginya jawab agak blepotan...
"Oh tidak, sudah kerja"
"Kerja dimana?"
"Indonesia"
"Ya saya taulah...!!" sedikit bentak kesel-kesel gemes.
"Oh maap, di Hospital" mati gue!!
"Kamu dokter?" 
"Bukan di bagian babibu...." saya jelaskan agak panjang mulai dari nyuci piring sampe gosok baju.
"Trus kamu sekarang mau kemana?"
"Helsinki" alisnya ibuk mengkerut, saya jawab lagi "Hmm Finland" masih mengkerut lagi... Ya Allah apa yang salah ya...
"Sekolah disana?"
"Bukan hanya liburan"
"Jauh sekali kamu liburan, berapa lama?"
"2 minggu"
"Sama siapa kamu pergi"
"Berdua dengan teman saya"
"Mana teman kamu?!!" Ya Allah buk penting banget toh... Tolah toleh cari teman saya untung masih kelihatan, jarak 2 line di sebelah dan sudah beres lebih cepat.
"Yang itu baju kotak-kotak disana"
"Teman kamu kerja juga?"
"Iya"
"Kamu sering seperti ini, kerja kamu bagaimana?"
"Kalau ada cuti iya, selesai cuti kerja lagi" jawaban anak TK sampai keluar.
"Mau kemana saja nanti"
"Copenhagen, Oslo, Stockhom, Tallinn, Helsinki trus pulang" menatap dalam-dalam sambil mlorotin kacamatanya, lalu manggut-manggut dan paspor dibolak balik. Waduh apalagi nih...
"Ya sudah hati-hati yaa..." paspor distempel dan dikembalikan.
"Thank you"

Ya Allaaaah... Leganya sampai ke ubun-ubun. Nanya panjang lebar dikira mau dikasih ongkos buk. Tapi lumayan dikasih senyum sedikit. Kebanggaan tersendiri kebagian petugas imigrasi yang bisa senyum.

Dari pengalaman yang sudah terlewati, saya jadi punya point yang harus diperhatikan saat masuk ke suatu negara. Tapi hanya sebatas liburan karena belum pernah tujuan lain yang menetap lama misalkan sekolah atau kerja.
  • Sebaiknya punya foto copy paspor dan visa, lebih baik lagi disimpan dalam file di flashdisk atau email. Mitamit jangan sampai hilang sih, tapi seandainya terjadi yang paling buruk masih ada copynya dan gampang ngceknya.
  • Di pesawat biasanya pramugari akan membagikan Disembarkation Card untuk foreign nationals, isi dengan jelas dan sejujurnya. Biasanya minta dituliskan alamat tinggal dan nomor telpon. Lha alamatnya segambreng kertasnya kecil. Ya sudahlah diatur aja. Selipkan di dalam paspor dan jaga baik-baik jangan sampai hilang.
  • Print tiket pulang pergi termasuk tiket apa saja yang sudah dibooking misalkan tiket bus atau kereta pindah kota/negara atau apa saja yang bakal meyakinkan bahwa ke negara itu sekedar liburan dan pasti akan pulang bukan mencari kerja.
  • Print semua bukti reservasi hotel.
  • Itinerary / rencana perjalanan, persiapkan dengan matang. Ketik sedetail mungkin dari mulai masuk sampai keluar negara itu mau kemana saja dan ngapain aja, tulis sejelas-jelasnya.
  • Siapkan uang cash secukupnya, jika kena random check bisa jadi ditanya bawa uang berapa? Intinya ke negara orang ya punya duitlah ga bakalan gembel disana.
  • Bersikap tenang, sopan dan tidak mencurigakan. Patuhi aturan yang ada. Tidak memainkan hp atau gadget. Tidak memotret dan antri yang rapi. Tunjukkan pada petugas bahwa datang baik-baik ke negara itu.
  • Setidaknya bisa ngomong enggres biarpun hanya yes no aiem fain syukur-syukur bisa ailopyu mister.
  • Catat alamat dan nomer telpon KJRI, teman atau nomer penting lainnya, seandainya sewaktu-waktu perlu bantuan.
  • Tidak perlu takut atau merasa diintimidasi oleh petugas imigrasi maupun petugas yang lain di bandara karena memang tugas utama mereka. Maklumlah mereka pintu gerbang suatu negara punya peran penting untuk melindungi negara. Hargai profesi mereka dengan sikap kooperatif, menjawab pertanyaan dengan jujur dan sebaik-baiknya. Jangan lupa berdoa, Bismillah, Insya Allah lancar. 

Oct 27, 2018

Antara Fethiye Dan Sergiev Posad

October 27, 2018 0 Comments
Dihari blogger nasional tanggal 27 Oktober ini setidaknya pengen ngepost 1 judul cerita. Sayangnya lagi mampet gak ada yang mengalir. Karena gak rela kalau hari ini dilewatkan begitu saja maka saya akan menumpahkan sedikit kenangan yang masih tersimpan di jidat yang jika diingat serasa ingin kembali mengulang ke masa itu. Biasalah saat-saat pencitraan di negeri sebrang, di pinggiran 2 kota yang menyimpan kerinduan teramat dalam. Halah sok melankolis. Pokoknya mah yang penting nulis biar hari ini punya peninggalan prasasti.

Judulnya mengenang 2 kota yang tidak ada hubungannya. Pertama saya merindukan Fethiye adalah kota kecil di Propinsi Mugla Turki yang bisa ditempuh menggunakan bus dari Istanbul selama 12 jam atau pesawat selama 50 menit. Disinilah saya merasakan realitas orang Turki. Penduduk lokal sangat ramah, helpfull dan menghargai orang asing. Di sepanjang jalan, di toko dan supermarket saya sering jadi pusat perhatian selayaknya selebritis lewat. Biasanya saya yang gak kedip lihat orang cakep. Kali ini saya yang diliatin orang-orang cakep. Kalau di negeri sendiri mah boro-boro, demit aja buang muka. Banyak kesempatan buat kenal lebih dekat dengan warga lokal namun sayangnya terkendala oleh bahasa.

Kedua saya merindukan suasana di Sergiev Posad. Kota kecil yang berjarak sekitar 74 km dari Moskow Rusia. Bisa ditempuh menggunakan kereta selama 1,5 jam. Disini saya juga merasa asing dan disambut hangat oleh penduduk lokal walaupun terkendala bahasa. Banyak yang menyapa dengan senyum ramah seperti tertarik pengen ngobrol. Kalau di Turki karena mayoritas penduduknya muslim, sering memulai dengan sapaan "Assalamu'alaikum" sedangkan di Rusia dengan "Ksndvfhfbvdhajskhg (bahasa Rusia) yang artinya mungkin "Hallo, Hai, Where are you from atau sejenisnya. Penduduk di Rusia mayoritas beragama kristen ortodoks.


 Sergiev Posad merupakan rumah bagi Lavra Trinitas dari Santo Sergius, biara ortodoks tingkat tinggi dan paling penting di Rusia. Sebagian besar orang Rusia melakukan perjalanan spiritual ke gereja ini.

Ada hal yang mengingatkan saya ke kampung halaman saat di Fethiye. Siang itu saya bersepeda keliling kampung. Ada anak kecil pulang sekolah dijemput oleh ibunya. Pakaiannya sederhana sekali sama seperti orang-orang di kampung saya. Pulang jalan kaki ke rumahnya yang sangat kecil dan terbuat dari papan. Di tengah jalan sang ibu memetik buah murbei yang berwarna hitam untuk anaknya. Sama seperti saya dan teman-teman kala kecil, cemilan dari alam selalu menggantikan cemilan buatan pabrik yang tak pernah dibelikan oleh orang tua. Sepanjang jalan di Fethiye banyak tumbuh pohon murbei.

Menuju kedua kota ini sama-sama penuh perjuangan. Terutama masalah roaming bahasa. Saat ke Fethiye dari Pamukkale saya dan Amel naik bus yang ternyata standar ekonomi kelas bawah. Setiap saat setiap waktu mencari penumpang tambahan di tiap kota. Sama seperti bus dari Solo ke Pacitan. Seharusnya ada bus yang pelayanannya lebih bagus. Tidak banyak berhenti, dapat snack dan tempat duduknya lebih nyaman. Ya maklumlah asal pilih, masih mending obrolan bisa nyambung dengan penjual tiket. Sopirnya mas-mas gagah, ganteng perpaduan antara David Beckham dan Ronan Keating. Sering banget ngajak ngobrol tapi sama sekali gak ngerti karena pakai bahasa Turki tulen tidak ada Inggrisnya sedikitpun. Setiap kali bus berhenti, mendatangi tempat duduk saya tanya sesuatu dan saya hanya bisa menjawab sorry sambil geleng-geleng. Sesekali mengangguk "Betul mas saya masih jomblo". 

Ke Sergiev Posad saya pergi bersama mbak Anna Khristy. Perjuangan dimulai sejak dari Moscow di Stasiun Yaroslavsky. Stasiunnya luas, loketnya banyak dan tidak ada huruf latin sama sekali. Semua petunjuk ditulis dengan huruf cyrillic. Awalnya berniat mengcapture menggunakan google translate sambil menyamakan bentuk tulisan. Tapi saking luas dan pusingnya jadi menyerah. Beberapa kali tanya ke petugas tidak membuahkan hasil. Lalu memberanikan diri tanya ke mas-mas yang sedang mengantri di salah satu loket "Excusme, Sergiev Posad?" sambil pura-pura ikut antri di belakangnya. Masnya ngobrol dengan temannya lalu temannya menyuruhnya mengantar kami ke loket yang benar. Tampaknya mereka tau betul ditunjukkan sedemikian rupa pun gak bakal ngerti.

Letak loket lumayan jauh di ruang sebelah melewati beberapa loket yang lain. Kami membeli tiket pulang pergi. Tak lupa tanya ke ibu petugas, "Bu apa tiket pulangnya bisa dipakai jam berapapun?" Ibu mengangguk sebentar lalu sibuk mentutak-atik hpnya. Kami menunggu dengan sabar sambil melirik ke antrian memanjang di belakang memberi kode minta maaf gara-gara kami jadi makin lama. Mereka pun tersenyum ramah. Rupanya ibu petugas mentranslate ke bahasa Inggris yang artinya tiketnya fleksibel bisa dipakai jam berapa saja pada hari ini. Spasibo ibu... (Terimakasih).

Tiket Kereta

Setelah mendapatkan tiket, mencari parkiran kereta juga membingungkan. Ada 8 jalur dan tulisannya keriting semua. Karena Sergiev Posad bukan tujuan terakhir jadi tidak tertulis di papan pengumuman. Kami naik ke salah satu kereta berdasarkan feeling kira-kira dan nguping ke sebelah. Keretanya sama persis seperti di Indonesia saat pedagang asongan masih diperbolehkan masuk. Mulai dari jualan payung, pulpen, bedak, es krim, buah, chiki, permen, buku mewarnai dan masih banyak lagi. Ada pula sekelompok pengamen yang membawa gitar atau biola. Pemandangan di luar kereta tampak ladang dan rumah kecil-kecil terbuat dari kayu dengan pintu yang sangat pendek. Seperti rumah-rumah di film kartun Masha and the Bear. Lebih kecil dari rumah sederhana di Indonesia.


Penjaga toko di dekat stasiun Sergiev Posad. Saat saya datang hanya mbak dan bapak paling pinggir yang ada. Tiba-tiba bapak memanggil temannya yang di tengah sambil senyum-senyum meledek dari bahasa tubuhnya seperti mengatakan begini "Hei Paimin ada yang nyari kamu tuh" Lalu saya dan masnya saling berpandangan bengong. Mbak Anna Khristy ikutan nyeletuk dari belakang "Dia mau jodohin kamu tuh..." Oooh boleh deh.

Di luar pintu stasiun Sergiev Posad berjajar 3 lansia berjualan jamur. Kata nenek yang paling kiri sambil menunjukkan angka di kalkulator, harganya 100 rubel. Seplastik lumayan besar. Saya pengen beli untuk campuran indomie rebus tapi terlalu banyak. Coba mengetik 50 dan beliau semua menggeleng dengan raut muka berubah seketika dikira menawar. Kalau dirupiahkan hanya 40 ribu itu murah banget dibanding di Jakarta, masak mau ditawar. "Saya beli 50 aja nek terserah dikasih seberapa?" sambil menggerakkan tangan menjelaskan sebisa mungkin dengan bahasa yang saya bisa. Mulai dari Inggris, Jawa, Sunda dan Indonesia, semua tidak berhasil. Sumpah kali ini susah banget. Sampai garuk-garuk kepala, gigitin bibir dan motekin kuku sampai berdarah semua tidak berhasil menerjemahkan bahasa Tarzan.

Selain memang pengen, kasian juga kalau tidak dibeli. Sudah jam 7 malem di udara bersuhu minus 5, dagangannya masih banyak dan jarang orang yang menghampiri. Disaat akan menyerah nenek yang berada di tengah yang dari awal lebih kalem tiba-tiba meluluh. Beliau mengangguk dan ngomong bahasa Rusia sambil menggantungkan seplastik jamur di timbangan manual di tangan. Kata beliau begini "Lihat nih 1/4 kilo ya neng baiklah gak apa-apa 50 rubel aja" sambil tersenyum baik banget. Segera saya bayar 50 rubel lalu saya kembalikan lagi sebagian jamurnya ke baskom nenek "Maksudnya segini nek, separo aja..." Saya angkat tinggi-tinggi plastiknya saking terasa lega MAK PLONG. Beliau bertiga keheranan, tatapan matanya mengatakan "Oalaaah beli separo toh neeng..." 

Akhirnyaaaa si neng bisa masak jamur enak sepuasnya. Pagi-pagi duduk di deket jendela apartement memandang tetesan air campur es sambil nyeruput kuah indomie anget-anget rasa micin. Sungguh istimewa.

Yang anget yang anget... Indomie plus plus

Jul 23, 2018

Lapangan Merah Moskow

July 23, 2018 0 Comments
Perhelatan akbar Piala Dunia 2018 di Rusia baru saja selesai digelar. Perancis berhasil mengalahkan Kroasia di babak final dengan skor 4-2. Griezmann dan Mbappe adalah pemain yang turut memberikan goal sehingga Perancis keluar sebagai juara dan memboyong piala yang mirip paha ayam goreng ke rumahnya. Saya sebenarnya kurang mengerti tentang bola. Hanya karena tempat yang pernah saya datangi sering disebut dan muncul di TV. Jadilah merindukan moment yang pernah saya lewati 10 bulan yang lalu di tempat itu yaitu Red Square atau Lapangan Merah. Apa saja yang saya lakukan disana? Tidak ada, hanya berfoto dan selebihnya people watching.

Lapangan merah adalah alun-alun di Moskow yang menjadi lokasi sangat penting untuk dikunjungi. Banyak tempat bersejarah di sekitar lapangan yang sebenarnya tidak berwarna merah ini. Pada bagian depan terdapat bangunan kokoh berwarna merah yang merupakan Museum Sejarah. Di sebelah kanan terdapat dinding Kremlin dan menara menjulang tinggi berwarna merah, dibawahnya terdapat Mausoleum Lenin. Tempat disemayamkannya jenazah pemimpin revolusi Rusia yaitu Vladimir Lenin. Sebagian besar pejabat dan tokoh Soviet mendapat kehormatan untuk dimakamkan di depan tembok Kremlin. Seperti Josef Stalin, Yuri Gargarin dan Maxim Gorky. Konon orang terakhir yang dimakamkan disana adalah Pemimpin Soviet Konstantin Chernenko pada tahun 1985. Di sebelah kiri lapangan terdapat pusat perbelanjaan tertua dan paling indah di Rusia yaitu GUM. Sementara di ujung paling belakang terdapat Katedral St. Basil dengan kubah warna warni yang bentuknya menyerupai es krim. Sering kali foto gereja ini menghiasi kartu pos dan segala macam merchandise dari Rusia.

Pada musim Piala Dunia lapangan ini sering dipakai untuk melaporkan hasil liputan para reporter, selain dari stadion tempat pertandingan.


Katedral St. Basil
Biasanya hanya melihat gambarnya di majalah, iklan travel tour dan merchandise dari Rusia. Kali ini saya berdiri di depannya, kya mimpi-mimpi gimana gitu...


Museum Sejarah
Pertama kali melihat bangunan ini terbayang perang jaman dulu, sok drama banget.


Mall GUM
Terkesima dan penasaran seperti apa sih dalamnya? Pasti prestisius dan mahal-mahal.

Bagian dalam Mall GUM
Tadinya saya dan Mbak Anna Khristy akan makan disini di restoran yang direkomendasikan oleh temannya Mbak Anna. Ternyata selain antriannya bejibun juga ada menu pork, jadi saya pindah haluan cari menu yang lain. Mbak Anna tetap setia antri karena penasaran. Saya membeli roti dan semangka potong segelas dibawa ke restoran biar makan bareng. Sempat khawatir, takutnya dari beberapa tulisan yang dipasang ada yang artinya "Dilarang membawa makanan dari luar". Tapi ya mbuhlah tulisannya kriting semua. Biar tak begitu mencolok saya duduk di kursi yang di luar. Saat makan perasaan kok dilihatin terus oleh orang-orang. Baik yang lewat maupun yang duduk di sebelah. Kebetulan kami duduk di dekat eskalator dan dilewati banyak orang. "Kenapa sih orang-orang ini dari tadi ngliatin aja" Mulai deh merasa bersalah dan berandai-andai, pasti karena membawa makanan dari luar. Lama-lama mikir juga, ya iyalah muka saya kan termasuk asing. Jarang-jarang orang berhidung pesek makan disini. Apalagi yang pakai kudungan bergo made in Garut disini ya hanya saya. Kalaupun ada yang kudungan paling nenek-nenek dan hanya diikat seperti kudungnya Masha. Aaaahh mulai deh ada rasa-rasa GR sok jadi selebritis...

Feb 11, 2018

Stasiun Terindah Di Dunia

February 11, 2018 0 Comments
Menjelajahi stasiun terindah di dunia yang berada di Moscow adalah salah satu bucket list saya, seandainya kesampaian menginjakkan kaki di Rusia. Moscow Metro memiliki 12 jalur dan lebih dari 200 stasiun yang konon kabarnya 44 diantaranya sudah terdaftar sebagai warisan dunia UNESCO. Bahkan terdapat Museum Moscow Metro yaitu di stasiun Sportivnaya. Menurut sejarah, pembangunan istana bawah tanah ini dimulai pada 15 Mei 1935, dengan satu jalur dari Sokolniky ke Park Kultury.

Wisata keliling stasiun mewah ini murah meriah sekali hanya dengan membeli 1 kali tiket masuk seharga 55 rubels (sekitar 14 ribu rupiah) kita bisa mengeksplor seluruh stasiun, asal tidak keluar dari jalur dulu sebelum perjuangan selesai. Kereta tiba dan berhenti rata-rata sekitar dua menit sekali sehingga tak perlu khawatir ketinggalan kereta.

Harus ekstra sabar menunggu sepi, hampir semua stasiun sibuk sekali banyak orang berlalu lalang sepanjang hari. Buka dari jam 05.00 sampai jam 01.00 dini hari. Dijamin bakal betah berlama-lama di dalam, menikmati indahnya interior yang selalu berbeda-beda di setiap stasiun. Ditambah banyak pemandangan bening yang berlalu-lalang, sejauh mata memandang. Tapi jangan heran jika mereka bermuka cemberut dilipet-lipet seperti mau makan orang dan cuek bebek. Memang seperti itu tipikal orang Rusia, tidak akan tersenyum dengan orang asing apalagi jika tidak ada kepentingan.

Sebelum menjelajah sebaiknya pelajari dulu jalur-jalur metronya agar tidak kesasar. Saat itu saya diberi map versi Inggris dari pusat informasi. Ternyata di stasiun tulisannya kriting semua tidak ada bahasa Inggris sama sekali. Kalaupun ada hanya sedikit dan seringnya tulisan exit. Tanya ke petugas dan orang di sekitar bahasanya seperti di film Masha and the Bear semua. Jadilah hanya mengandalkan google translate, browsing dan menyamakan gambar, seperti sedang bermain kuis, carilah 5 perbedaan pada gambar berikut ini.

Tapi segala kesulitan itu akhirnya terbayarkan. Rasanya seperti bukan berada di stasiun tapi seperti di istana kerajaan di negeri dongeng. Jangan lupa siapkan kamera dengan memory sebanyak-banyaknya. Berikut ini beberapa gambar yang bisa saya abadikan dengan sedikit keterangan yang saya ambil dari berbagai sumber. Aslinya jauh lebih bagus dan masih banyak lagi. Saya tidak bisa menjangkau semua stasiun karena keterbatasan waktu.

1. Stasiun Arbatskaya

Dirancang oleh arsitek Soviet Mikhail Polyakov yang memproyeksikan sebuah bangunan yang saat ini menjadi Hotel Hilton Moscow Leningradskaya (Legion Media). Stasiun pusat di Jalur Biru ini mengarah pada salah satu situs yang paling terkenal di Moskow yaitu Lapangan Arbatskaya, termasuk juga Jalan Arbat dan Jalan Noviy Arbat yang ada di dekatnya.  

Memiliki platform terpanjang di bawah tanah ibu kota Rusia setelah stasiun Vorobery Gory. Lantainya terbuat dari granit beraneka warna membentuk pola karpet yang khas. Sementara pilarnya dihiasi dengan hiasan keramik putih. Lampu gantung di stasiun ini terbuat dari perunggu berlapis emas. Konon stasiun yang berada di sebelah gedung milik staf umum angkatan bersenjata ini dirancang sebagai bungker para pekerjanya.


2. Stasiun Belorusskaya
Berada di jalur Koltsevaya diberi nama seperti terminal di dekatnya Belorussky Rail. Tema interiornya Belarusia.


3.  Stasiun Komsomolskaya

Berada di jalur Koltsevaya, antara stasiun Prospekt Mira dan Kurskaya. Stasiun ini terletak di pusat kota yang sibuk yaitu Komsomolskaya Square. Gaya Baroque, dengan lampu kristal dan dinding atap berwarna kuning. Terdapat foto para pahlawan dalam era Komunis.


4. Stasiun Prospekt Mira

Berada di jalur Koltsevaya, berlantai monokrom hitam dan abu-abu. Terdapat lampu kristal gantung dengan pilar-pilar besar yang dilapisi dengan marmer dan hiasan gambar sejarah Rusia.


5. Stasiun Ploschad Revolyutsii

Meski masih dalam perdebatan, Ploshchad Revolyutsii ini dianggap sebagai salah satu stasiun paling megah di metro kota Moscow. Dengan adanya 76 patung perunggu yang menggambarkan masyarakat Soviet dengan beragam profesinya, mulai dari tentara, pendukung revolusi, petani, pelaut, pekerja pabrik, insinyur, pelajar dan masih banyak lagi. Karena keterbatasan ruang di setiap lengkungan di stasiun ini dipakai untuk menempatkan patung. Banyak patung yang dibuat dengan posisi duduk, berlutut, atau berjongkok. Kebanyakan masyarakat menganggap posisi tersebut kurang baik karena melambangkan represi sosial. Meski demikian, Stalin begitu menyukainya, bahkan banyak orang yang melewatinya sambil menyentuh patung-patung itu demi mendapatkan keberuntungan.


6. Stasiun Kiyevskaya

Stasiun Kiyevskaya adalah pintu ke pusat perbelanjaan Yevropeyskiy dan stasiun kereta api dengan tujuan Kiev dan kota-kota lainnya di Ukraina. Dekorasi stasiun ini didedikasikan untuk Soviet Ukraina dan Dewan Pereyaslav tahun 1654 yang menjamin perlindungan militer Hetmanat Cossack oleh tsar Rusia sebagai balasan atas kesetiaan orang-orang Cossack. Dinding stasiun ini dihiasi dengan 24 ornamen lukisan yang menunjukkan kehidupan sehari-hari orang Ukraina, dilengkapi dengan pola-pola menakjubkan di bagian lantainya. Sumber : Vostock-Photo.


7. Stasiun Novolobodskaya

Terletak antara stasiun Belorusskaya dan Prospekt Mira, pada dindingnya terdapat hiasan kaca lukisan karya seniman Latvia.


8. Stasiun Elektrodavodskaya

Stasiun dengan gaya futuristik ini terletak di jalur Arbatsko-Pokrovskaya ada enam kolom dengan lampu bulat berjumlah 318.