May 21, 2015

Sariawan Yang Menyebalkan

May 21, 2015 1 Comments
Seperti biasa nona temen sekamar sudah tertidur saat saya keluar dari kamar mandi. Saya mandi belakangan setelah beliau karena butuh waktu agak lama untuk menggosok gigi. Di mulut saya banyak sariawan ada beberapa titik di bibir dalam bawah, dalam atas, di lidah dan juga tenggorokan sakit untuk menelan. Bahkan diujung rahang terasa sakit jika dipegang. Sehingga untuk menggosok gigi harus ditutup dengan jari dan digosok pelan-pelan.

Selama di Bandung saya tak lepas dari sariawan satu sembuh muncul lagi dua, belum sembuh nongol lagi di sebelahnya. Jadinya perih sana sini seperti saat kau meninggalkan diri ini.. Sering kali kalau makan sambil berkaca-kaca bahkan menitikkan airmata. Di minggu terakhir jangankan makan, ketawa aja sambil nangis nahan perih. Bibir harus dijepit pakai tangan agar jangan sampai ketawa lebar. Nona Christine suka ngomong nyeletuk yang aneh-aneh, alhasil saya tak bisa menahan tawa dan diakhiri dengan meringis. Andaikan tidak lagi bertamu di tempat orang, saya akan menyendiri agar bisa diam membisu.

Biasanya diawal terluka di dalam mulut, sebelum melebar segera colok pakai obat cair ajaib berwarna coklat yaitu Alb*til yang bikin bibir sakiiiit perih kya disobek-sobek tapi seketika langsung sembuh. Kalaupun masih kambuh tinggal dicolok lagi 2-3 kali sudah pasti menghilang. Tapi kali ini sudah terlanjur melebar tak kuasa buat ngolesinnya. Kebayang bakal jingkrak-jingkrak kya ayam di potong.

Seorang sahabat yang biasa bergelut dengan obat-obatan menyarankan untuk membeli K*nalog untuk obat oles dan minum D*nsera agar tidak terjadi peradangan. Saya kurang suka dengan saleb K itu karena tidak enak di mulut dan lebih lama sembuhnya dibanding Alb*til. Seperti ngemut sesuatu rasanya pengen meludah terus dan bergerak sedikit jadi hilang tertelan.

Disarankan juga untuk minum vitamin dan air putih yang banyak. Saya memang mengurangi minum di Bandung alasannya males beser. Minum segelas aja tiap setengah jam harus bolak balik ke toilet. Paling males kalau lagi kerja dengan APD lengkap harus dicopotin satu-satu. Apalagi pintu toiletnya sering macet dan kuncinya susah dicopot. Bibir jadi kering dan pecah-pecah. Itulah gara-garanya.

Sekarang sudah terlanjur begini baru terasa mencegah memang lebih baik dari pada mengobati dan sehat itu mahal. Tapi alhamdulillah badan saya selalu sehat bisa beraktifitas apapun. Hanya sedikit dikasih cobaan jika dibandingkan dengan pasien di rumah sakit yang sering saya temui sehari-hari bisa dikatakan "halah segitu doank". Anggap saja latihan buat jadi wanita sholeha, pendiam, idaman para lelaki yang senyumnya penuh dengan misteri ciyeeee.... Prett !!

Sini om sariawannya diobatin...

May 17, 2015

Bandung Lautan Makanan

May 17, 2015 3 Comments
Baru juga jam 19.30 WIB nona Christine sudah tertidur pulas. Seharian dia pergi meninggalkan saya, maksudnya pergi ke gereja berlanjut nengok adiknya sampai pulang menjelang malam sehingga kecapekan dan langsung bobo. Tapi ga juga sih ga kemana-kemana pun dia mah pelor, sambil nunggu giliran mandi aja bisa ketiduran, selesai mandi juga langsung tidur lagi. Ga kya saya mau mulai tidur aja kadang susah banget dan akhirnya jadi susah bangun. Denger suara sedikit terbangun dan susah merem lagi, kalau nona yang satu ini mau ada suara kya apa diutak utik kya apa tetep angleerr. Paling bergerak sedikit pindah posisi sambil kretuk-kretuk kya ngunyah permen. Karena nona sudah tidur jadi saya merenung sendiri sambil baca buku dan nonton TV. Berita di TV banyak memberitakan kemacetan lalu lintas akibat long weekend termasuk arus dari Bandung menuju Jakarta.

Memasuki minggu ketiga di Bandung saya mulai gelisah berarti sebentar lagi tidak sampai 2 minggu saya harus kembali lagi ke habitat awal yaitu ke Cilegon. Tinggal di Bandung sebenarnya betah ga betah. Betah karena bisa refreshing dari rutinitas di tempat kerja yang tak dipungkiri kadang sangat membosankan. Pasien marah-marah, bos cemberut ngomel-ngomel kurang sajen, telpon krang kring sepanjang waktu beegghh... Rasanya males balik. Tapi namanya bertamu di tempat orang apalagi dalam rangka belajar banyak kikuknya, walau sudah dilatih ikut kerja tapi tidak sebebas di tempat sendiri. Banyak kekhawatiran takut salah, takut rusak, takut menggagalkan kerjaan orang jadinya pengen cepat berlalu dan kembali ke asal. Apalagi tinggal di kost-kost'an sementara dengan fasilitas seadanya, tidak seperti kost saya dengan semua perabot dan perbekalan yang saya butuhkan.

Saya kangen laptop. Biar laptop jadul tapi alhamdulillah sampai sekarang masih berfungsi dengan baik. Karena berat, saya tidak pernah membawanya kemana-mana. Selain itu kangen ama cobek. Saya suka sekali makan rujak tapi ga suka sambelnya yang pakai gula merah apalagi pakai kacang wueekk... Lebih suka ngulek cabe sendiri ama garam yang banyak trus ditambah sedikit bumbu sachet. Cceesss... #ngiler.

Selesai sholat isya saya sering keluar membeli capcay kuah di tenda romantis depan pager kost. Cemilan saya sebelum tidur. Ga bikin gemuk kok karena banyak sayurnya. Buktinya saya tetap langsing. Sambil menyendok pelan-pelan karena masih panas saya menikmati moment yang sebentar lagi akan saya tinggalkan. Biasanya banyak mahasiswa kedokteran makan disitu. Kadang ada yang nehi-nehi seperti ratu jodha. Abang penjualnya sampai hafal saya ga suka pakai krupuk. Harganya 11 ribu rupiah.

Tidak jauh dari tenda romantis ada Kantin 29, tapi bukanya hanya siang hari. Kantin prasmanan dengan beraneka masakan seperti masakan rumah, seperti masakan saya (ibu saya maksudnya). Sebelum tau adanya kantin ini saya selalu makan siang berpindah-pindah, asal masuk ke suatu tempat kadang rasanya cocok kadang asal kenyang. Sampai suatu hari nemu kantin favorit ini dan akhirnya enggan cari yang lain kecuali jika makanannya habis. Harganya standar tergantung lauknya apa.

Agak menjauh sedikit ke Jalan Sukajadi ada mie kocok bandung. Saya temukan tempat ini tidak sengaja saat jalan kaki sore-sore mau ke mall PVJ. Sebenarnya kurang suka mie yang pipih gede-gede campur toge, tapi karena kaki sapinya jadi sulit berpaling. Ada mie kocok biasa dan ada yang spesial, saya pilih yang spesial karena kaki sapinya lebih banyak tentunya harganya juga lebih mahal, seporsi 19 ribu.

Menjauh sedikit dari sekitar RSHS, yaitu ke Jalan Cihampelas. Disana ada mangkok manis, eskrim yang disajikan bersama kelapa muda di batoknya ditambahkan berbagai macam toping. Seporsi 25 ribu. Saya dan Christine sering sekali melipir kesana sepulang kerja, menghilangkan penat sekaligus mengobati rakus. Setelah itu mampir lagi ke bakso semar masih di Jalan Cihampelas juga tapi harus jalan kaki ke bawah sampai nyebrang perempatan di bawah jembatan layang pasopati. Saya suka banget dengan tulang rusuknya. Biasanya saya pesen bakso spesial berisi bakso gede 1, bakso kecil 5, tahu bakso dan tulang rusuk yang banyak sampai menuhin mangkok. Karena di daftar menu tidak dicantumkan harganya kirain sekitar 30 ribuan melihat tulang rusuknya banyak dan baksonya memang enak terutama yang tahu bakso, ternyata hanya 22 ribu saja.

Bakso Semar 2 di Jalan Cihampelas, ada juga di Jalan Pasteur dll - Bandung.

Ini dia.. pulang dari sini dijamin bakal sibuk ngutek-utek gigi karena banyak yang nyelip.

Kalau males jalan ke bakso semar cukup mampir ke bakso malang tidak jauh dari mangkok manis, dekat dengan Hotel Aston. Ini lebih praktis karena searah dengan jalan pulang. Rasanya ga kalah enak hanya saja tidak ada tetelannya dan harganya 11 ribu saja. Atau kalau males makan bakso, makan soto madura di depan Rumah Sakit Advent, pakai usus dan babat. Lupa istilahnya soto apa. Seporsi 10 ribu sudah include nasi dan teh tawar sepuasnya.

Setelah pergi dari Bandung nanti, saya bakal merindukan semua tempat ini. Entah kapan bisa datang lagi saya tidak punya saudara satu pun di Bandung hanya beberapa teman saja yang tinggalnya entah dimana. Saya juga jarang punya kepentingan di Bandung, hanya pernah meninggalkan sedikit jejak dan membawa pulang seuntai kenangan tentang Bandung yang sejuk dan banyak makanan.

May 8, 2015

Makan Siang Gratis

May 08, 2015 0 Comments
Saya masih pelatihan di RSHS Bandung. Dua hari ini berturut-turut dapet makan siang gratis. Kemaren ada acara syukuran kelulusan dokter spesialis yang mana para petugas di tempat saya latihan, diundang semua. Saya dan Christine diajak juga. Awalnya kami malu untuk ikut acara itu karena kami bukan petugas disana, hanya orang hilang yang sekedar numpang belajar. Tapi namanya diajak oleh tuan rumah ga sopan banget kalau ditolak, itu kan suatu kehormatan buat kami sekaligus pengiritan dan perbaikan gizi hihhi...

Makanannya banyak dan enak semua dari makanan pembuka hingga dessertnya, jauh berbeda dengan makan siang yang kami beli sehari-hari. Bagaikan langit dan bumi. Ya iyalah namanya juga hajatan. Sayangnya perut kami hanya muat buat sepiring nasi dan es krim saja (padahal pengen nambah tapi malu). Kata hadist kan berhentilah makan sebelum kenyang.

Sedangkan hari ini kami dapet makan siang gratis lagi tapi pakai acara harus tebelin muka segala. Ceritanya bos saya lagi mengikuti simposium di gedung sebelah. Beliau menelpon kami untuk mengajak makan siang. Tapi berhubung pekerjaan kami belum selesai beberapa kali kami tidak bisa mengangkat telponnya lagi akhirnya beliau menjemput kami ke tempat latihan. Gubraakk... Kya anak kecil lagi sekolah trus ditengok orang tuanya. Canggung canggung gimana gitu, tapi mungkin bos pengen juga memantau anak buahnya belajar. Untung saja perkerjaan kami tinggal sedikit lagi sehingga beliau tidak menunggu lama.

Kami keluar mengikuti bos setelah meminta ijin kepada petugas disana tentunya. Ternyata kami diajak masuk ke ruang simposium dan disuruh makan disitu. WHAT..!!! Ga enak banget jadi tamu tak diundang, datang ucluk-ucluk mau numpang makan. Beghh... Dan ternyata panitianya para dokter yang sedang PPDS yang ketemu setiap hari di tempat pelatihan. Beliau-beliau kemaren juga jadi panitia di acara syukuran dokter. Oemjii... 2 kali numpang makan siang dengan panitia yang sama. Mau diterusin malu mau balik lagi juga malu sudah terlanjur dianterin oleh bos ke depan meja hidangan.

Peserta simposium kebanyakan sudah selesai makan tinggal satu dua saja yang masih berkeliaran mengambil makanan, dan sepertinya itu juga panitianya. Haduh bos tau gini mending kita makan sendiri aja. Saya berharap semoga dokter-dokter itu ga mengenali muka-muka kami. Tapi sepertinya ga mungkin hampir setiap hari kami bertatap muka walaupun ga pernah bertegur sapa, hanya sesekali saling melempar senyum kalau lagi baik hati. Kami sering berada di ruangan yang sama dengan kesibukan masing-masing sehingga jarang peduli karena memang tidak berkepentingan. Tapi berhubung di ruangan yang sempit saya sendiri pun bisa mengenali wajah-wajah beliau.

Dengan cekikikan bercampur malu serasa muka di pantat saya dan Christine mengambil piring. Tiba-tiba simposium dimulai kembali, bos dan peserta lainnya yang tadinya berkeliaran di dekat meja hidangan, kembali ke tempat duduknya. Tinggallah saya dan Christine yang masih unyul-unyul menyendok nasi dan lauk pauk. Sesekali melirik ke sekeliling memastikan apakah sang panitia melihat kami. Pastinya donk, orang berhadap-hadapan jeh haaaissshhh....

Kami duduk di kursi kosong di belakang tapi bukan deretan kursi peserta. Tadinya mungkin kursi buat istirahat panitia. Sendok demi sendok nasi saya lahap tapi entahlah apa rasanya, sepertinya lidah saya tidak bekerja dengan baik karena tidak sinkron dengan pikiran. Saya hanya tertuju pada bagaimana caranya bisa keluar dari ruangan itu selesai makan nanti.

Saya coba telpon bos minta dianterin keluar biar ga berkesan datang hanya numpang makan, kalaupun iya ya biar tau bahwa diajak oleh beliau. Rupanya bos sibuk mendengarkan presentasi sehingga tidak menjawab telpon dan membaca sms saya. Untunglah kami bisa keluar lewat pintu belakang tempat mas cathering beres-beres. Sampai di parkiran bos menelpon, "Lagi dimana?" "Udah keluar bos, bos mah telat..." Kemudian saya ceritakan keadaan kami sebelumnya "Ga apa-apa..." "Ga apa-apa buat bos, lha kita besok masih bakal ketemu ama beliau-beliau itu hiks hiks..." Memang ga apa-apa sih bos lumayan bisa mengalihkan perhatian dari segala kejenuhan di tempat latihan dan yang pasti saya jadi terinspirasi buat menulis di blog ini.

Karena siang itu masih ada keperluan dengan bos kami tidak kembali ke tempat pelatihan. Nanggung sekali sebentar lagi juga waktunya pulang dan biasanya juga menjelang pulang lebih banyak ongkang-ongkangnya karena perkerjaan telah selesai.

May 3, 2015

Liburan Ke Jogja

May 03, 2015 22 Comments
Saat ini Saya dan Christine berada di dalam kereta ekonomi Pasundan jurusan Surabaya - Bandung. Kami naik dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta dan akan turun di Stasiun Kiara Condong Bandung. Biarpun kereta ekonomi tapi lumayan nyaman ada ACnya walaupun dinginnya sedang cenderung sejuk. Kursinya 3-3 berhadap-hadapan tapi alhamdulillah kami kebagian kursi yang paling belakang yang hanya untuk 2 orang dan menghadap ke depan. Sama juga seperti waktu berangkat. Itulah seninya naik kereta ekonomi jika tidak beruntung keretanya seperti berjalan mundur.

Setelah beberapa saat terdengar klakson panjang kereta bergerak meninggalkan Stasiun Lempuyangan pertanda liburan kami di Jogja telah berakhir sehingga besok kami harus bergelut dengan bakteri lagi. Ya, kami sedang pelatihan mikrobiologi di RS Hasan Sadikin sehingga kami pulang dan pergi bukan dari Cilegon. Kami ke Jogja karena ada tanggal merah di hari Jumat sehingga libur 3 hari. Dalam rangka menemui sang pujaan hati yang sedang kuliah. Tiga hari juga lumayan buat melepas kerinduan dua insan yang sedang long distance. Sejak sebulan setelah tiket confirmed, jantung selalu berdebar-debar membayangkan jalan-jalan sambil bergandengan tangan menikmati romantisnya kota Jogja, dinner berduaan di cafe atau angkringan di pinggir jalan. Tapi itu hanya berlaku untuk Christine bukan saya. Saya sih hanya pengen say hello dengan si ganteng yang selalu setia narik andong mengantarkan para pelancong yaitu kuda. Kasian banget, begitulah nasib jadi jomblo kuda aja kelihatan ganteng.

Ini loh hehehe....

Hari pertama kami sampai di Jogja jam dua siang. Setelah turun dari kereta kami makan soto di dekat Stasiun Lempuyangan hanya 20 ribu saja berdua sudah include es teh manis dan krupuk sepuasnya. Murah sekali pemirsa. Setelah itu kami jalan kaki ke daerah Malioboro yang jaraknya sekitar 1 km. Kami memilih jalan kaki pelan-pelan karena penasaran pengen melihat rumah-rumah penduduk yang unik sambil menggerakkan kaki setelah 9 jam digantung di kereta. Sepanjang jalan tak hentinya kamera saya menjepret apapun yang berada di pinggir jalan. Ternyata asyik banget. Baru kali ini saya jalan-jalan di Jogja padahal rumah orang tua saya di Pacitan hanya 3-4 jam dari Jogja. Saya sering sekali transit dari Jakarta dijemput kakak di Bandara Adi Sucipto atau naik travel langsung pulang ke Pacitan. Ga pernah mampir hehehe... Asli norak banget hari gini baru tau Jogja. Oh ya pernah jalan-jalan mungkin sekitar belasan tahun yang lalu saat masih kelas 4 SD (kalau ga salah) ikut tour dari kantornya bapak. Ke Borobudur, Prambanan, Monumen Jogja Kembali, Gembira Loka dan Keraton. Lupa semua wajah Jogja saat itu seperti apa.

Mungkin baru kali ini saya menginjakkan kaki di Malioboro, dulu hanya duduk manis bermain bersama anak-anak temen bapak yang seumuran. Seingat saya dulu suka terheran-heran setiap bertemu dengan turis berkulit putih.

Jaman dulu kamera masih pakai roll film setelah filmnya habis dicetakin ke studio, 5-7 hari kemudian baru bisa diambil. Sehingga kalau foto harus diirit-irit hanya untuk moment yang penting. Nah saya keheranan dengan turis berambut merah yang jeprat jepret tanpa mikir filmnya akan habis, satu objek bisa sampai beberapa kali jepret. Habis berapa roll ya? Wah pasti orang kaya...

Saat itu di Borobudur dan Prambanan hujan sehingga kami harus menyewa payung. Saya dituntun bapak kadang gantian dengan ibu. Saya keheranan lagi mendengar bahasa asing entah bahasa mana setau saya bukan bahasa Inggris dan juga melihat para penjual baju keliling yang menawarkan baju ke turis-turis berambut merah dengan bahasa Inggris. Yang paling mengherankan lagi guide-guide di setiap tempat wisata menyambut kami sambil menjelaskan semuanya, kok tau ya? "Bu, orang itu pinter ya" "Itu namanya pemandu wisata" kata ibu. Itulah beberapa kenangan tentang Jogja yang masih tersimpan di memory saya.

Kembali ke masa kini. Di sepanjang jalan Malioboro banyak sekali penginapan sehingga kami tidak booking sebelumnya. Christine yang lebih tau karena setiap liburan pasti ke Jogja. Saya hanya mengekor di belakangnya masuk dari gang ke gang yang seperti labirin di kawasan Sosrowijayan menanyakan kamar kosong. Jadi teringat di Phi Phi Island, sepanjang jalan dan lorong berisi penginapan semua. Tinggal pilih mau yang seperti apa, tentunya harga membawa rupa. Setelah sekian lama ditolak karena full dan membanding-bandingkan akhirnya kami menjatuhkan pilihan di Pawon Cokelat Guest House. Harganya sedikit lebih mahal tapi demi kenyamanan kami memilihnya. Kalau di negeri orang biasanya saya ucluk ucluk sendirian tapi berhubung ada Christine ya ga mau pusing pengen terima beres "Kamu aja yang nanya-nanya" hehhe...

Guest House ini masih bangunan baru tapi disetting seperti kuno yang mana lantainya hanya disemen halus tidak pakai keramik sehingga pertama kali masuk ke kamar kami tidak mencopot sendal dikira lantainya kotor. Sempat tanya ke salah satu staf "Mas ini lantai belum jadi apa gimana?" "Ga mbak memang begini" Eh dasar norak ya dan ternyata bener setelah mencopot sendal, kaki kami tetap bersih. Karena terlanjur pakai sendal di kamar akhirnya saya meminjam sapu ke resepsionis. "Kok nyapu-nyapu sih mbak?" tanya mbak resepsionis yang ayu dengan logat Jogjanya. "Kelupaan tadi masuk kamar ga copot sendal".

Nungguin hujan reda di depan kamar, Pawon Cokelat Guest House

Setelah mandi, istirahat dan sholat maghrib Christine janjian dengan sang pujaan hatinya. Saya keliling sendiri ke Malioboro. Melihat batik, kaos oblong dan pernak-pernik yang lucu-lucu, bagus-bagus dan murah-murah. Tangan saya gatel rasanya pengen beli semua. Tapi mengingat kebutuhan, saya hanya membeli dua potong kaos berlengan panjang yang memang saya butuhkan untuk travelling suatu saat nanti. Kebetulan salah satunya tertulis nama saya "Cipta Wening Cipta Mandulu Cipta Dadi" bahasa kejawen yang artinya setelah saya browsing di google "Satu arah dan tujuan kepada yang Maha Tunggal".

Kemudian saya mencari tour ke tempat wisata di Jogja, seperti ke Borobudur, view Merapi dan Prambanan karena ga mau repot mengingat tempat wisata itu letaknya jauh dari kota. Ternyata jarang peminatnya minimal harus 3 orang, sedangkan saya hanya bertemu 1 orang turis Jepang yang bersedia untuk sharing. Bisa 2 orang tapi harus tambah duit lagi. Ada juga yang paket berangkat jam 4 atau jam 5 pagi untuk melihat sunrise tapi males bangun paginya.

Setelah sekian lama mampir ke beberapa travel dan hasilnya nihil saya makan nasi kucing di angkringan di pinggir jalan, sambil ngobrol dengan bapak penjualnya dan beberapa pembeli lainnya. "Ngapain ikutan tour mbak, udah mahal waktunya terbatas lagi mending naik bus sendiri aja" Eh iya juga ya kenapa baru kepikiran, di negeri orang aja saya sering keluyuran naik bus sendirian kecuali kalau tempatnya ga dijangkau oleh angkutan umum. Kenapa di negeri sendiri mau pakai tour. Untung ga nemu teman sharing jadi slamet duit saya.

Keesokan harinya setelah sholat subuh saya dan Christine jalan-jalan ke sekitar Malioboro ke arah Keraton. Langit Jogja pagi itu mendung dan ternyata mengakibatkan hujan kecil rintik-rintik yang tahan lama. Karena hanya iseng jalan-jalan pagi jadi kami tidak persiapan apa-apa. Payung ditaro di dalam tas dan ditinggal di penginapan. Hanya membawa kamera dan selembar uang di saku untuk berjaga-jaga. Hujan semakin deras, kami berteduh di pojok perempatan jalan di gedung Bank BNI yang berseberangan dengan kantor pos. Biarpun menunggu katanya membosankan tapi tetap semangat melihat bangunan jaman Belanda yang masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik. Sekilas seperti Kota Tua di Jakarta atau di Penang dan Melaka Malaysia tapi menurut saya jauh lebih keren di Jogja.

Setelah hujan sedikit mereda kami berlari menerobos hujan untuk kembali ke penginapan. Sampai di kawasan Malioboro kami masuk ke emperan toko di sepanjang jalan tempat pedagang kaki lima sambil cuci mata melihat barang yang lucu-lucu. Sampai di pojok Jalan Sosrowijayan kami harus berhujan-hujanan lagi.

Sampai di penginapan breakfast sudah tersedia. Nasi, gudeg, krecek dan telor seketika langsung ludes kami habiskan. Kehujanan ternyata bisa menambah nafsu makan. Bilang aja laper. Selesai makan hujan semakin deras, sebagian penghuni penginapan yang telah berdandan rapi harus bertahan ngobrol sambil makan kwaci di teras, sebagian lagi meringkuk di dalam kamar termasuk kami. Hujan becek ga ada ojek memang paling enak buat bermalas-malasan. Jadinya hari itu saya dan Christine honeymoon saja memanfaatkan fasilitas yang bagus di dalam kamar. Springbed, bedcover, bantal yang empuk dan semuanya wangi.

Jam 11.30 hujan mereda, saya melangkahkan kaki meninggalkan penginapan. Christine tetap bertahan honeymoon sendiri di kamar. Saya mampir ke abang bakso di seberang pojok Jalan Sosrowijayan sebelum akhirnya sholat dzuhur di Masjid Malioboro lalu naik Trans Jogja ke Prambanan. Rupanya jauuh pemirsa memakan waktu 1,5 jam tapi hanya sekali saja naik bus. Itupun harus berjalan kaki yang lumayan oye sampai ke pintu masuk dan area candi. Syukurlah saya diberi kekuatan sehingga bisa menginjakkan kaki sampai mengelilingi candi. Saya disapa ramah oleh salah seorang guide disana "Mbak suka travelling ya? Udah kemana aja? Saya juga suka travelling, salam kenal ya" Senang sekali, lebih tepatnya sih bangga. Ga sia- sia saya memakai kaos andalan saya yang bertuliskan "Backpacker Dunia" yang memang tujuan saya buat nyari temen. Beberapa kali terlihat orang berbisik-bisik sambil membaca tulisan itu, cihuyy... Gaya euy. Terima kasih kepada mbak Elok sang penggagas grup Backpacker Dunia.

Jangan lihat orangnya baca tulisan di bajunya aja

Saya kembali ke penginapan jam 18.15 masih ada waktu untuk sholat maghrib. Seandainya bus Trans Jogja sampai di halte Malioboro waktu maghrib masih longgar. Karena hanya berhenti di suatu halte (lupa namanya), terpaksa harus jalan kaki yang lumayan jauh bersama turis ganteng entah dari mana dan 2 turis China. Christine sudah berdandan rapi menunggu sang pujaan hati menjemput untuk makan malam. Saya males keluar lagi sehingga dibawakan nasi kucing dan susu jahe.

Hari terakhir di Jogja cuaca sangat cerah. Kami jalan-jalan ke benteng Vredeburg dan Keraton. Sayang sekali waktunya terbatas sehingga agak terburu-buru karena jam 11.00 kami harus sudah kembali ke penginapan untuk mandi, cek out dan ke stasiun. Kereta kami ke Bandung jam 14.00. Di dalam benteng Vredeburg terdapat museum sejarah perjuangan Indonesia mengingatkan pelajaran sejarah semasa sekolah. Tapi semuanya telah lupa dan teramat susah untuk menghafalkannya kembali. Dulu ga pernah bisa sekarang lupa.

"Sebelum ke keraton bersihin dulu upilnya" "He'eh om..."

Di Keraton suasananya adem dan santun pastinya bikin betah. Untuk bertegur sapa dengan abdi dalem saya berusaha menggunakan bahasa jawa kromo inggil walaupun jadinya kacrut. Penggunaan bahasa kromo inggil yang tidak tepat akan bermakna salah kaprah, ada beberapa kata yang santun ditujukan untuk menghormati orang lain tapi tidak tepat digunakan untuk diri sendiri. Contohnya kata "tindak" yang artinya "pergi". "Badhe tindak pundi" (mau pergi kemana), kalimat ini sopan untuk orang lain tapi jika digunakan untuk diri sendiri tidak tepat "Dalem badhe tindak" (saya mau pergi). Biarpun sopan tapi salah, sebaiknya memilih kata yang sedikit lebih biasa dari kata "tindak" (bahasa ngoko). 

Karena saking berhati-hati takut kesleo, bahasa jawa saya jadi campur aduk, kadang kecampur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pada akhirnya lebih lancar pakai bahasa Indonesia. Beda lagi kalau ngobrol dengan keluarga di rumah. Dari kecil terbiasa ngomong bahasa jawa sehingga susah untuk ngobrol dengan bahasa yang lain. Tapi karena tidak ada perasaan takut salah bisa langsung nyerocos tanpa a uu lagi. Inilah penyebab jadi suka dikatain orang gaya banget "Kalau sudah pergi dari kampung jadi lupa dengan bahasa Jawa" sebenarnya bukan lupa tapi efek karena terlalu berhati-hati takut tidak sopan.

Bersama abdi dalem di keraton, jadi malu saya ketauan aslinya "kalem"

Ini juga ga kalah kalemnya...

Sebelum kembali ke penginapan kami mampir ke pusat oleh-oleh khas Jogja untuk membeli sedikit buah tangan buat teman-teman di Bandung. Abang becak yang mengantarkan kami setia menunggu kami berbelanja. Tak lupa juga kami mampir ke salah satu toko batik tapi hanya membeli sepotong batik untuk diri sendiri. Sekian liburan singkat kami di Jogja. Diperkirakan jam 23.20 kereta kami akan sampai di Bandung.

Apr 29, 2015

RSHS Bandung

April 29, 2015 0 Comments
Rabu, 29 April 2015

Hari ini hari ketiga saya dan Christine pelatihan di RSUP Hasan Sadikin Bandung. Namanya juga RS pemerintah yang menjadi rujukan utama dari seluruh Jawa Barat jadi gede, luas dan rame banget. Tiap kali lewat salah satu lorongnya serasa berada di terminal bus atau stasiun kereta. Banyak banget orang berlalu lalang dengan berbagai wajah khas dari daerah atau negara asalnya baik pengunjung, dokter, perawat ataupun petugas kesehatan lainnya. Entah masih pendidikan atau memang sudah mengabdi disitu susah banget dibedakan. Sering melihat wajah khas Indonesia Timur, Arab bahkan nehi-nehi. Nehi-nehi paling mudah diciriin selain dari warna kulitnya juga karena titik kecil bulet yang berada di tengah jidat kadang item kadang merah atau goresan putih seperti bedak apa kapur entahlah. Kalau ga, hidungnya dikasih anting. Sesekali saya mencuri dengar bahasa-bahasa mereka, ada yang bahasa Inggris, bahasa India, bahasa Indonesia tapi dengan dialek yang berbeda-beda kadang bahasa sunda biarpun wajahnya Arab atau nehi-nehi. Serasa di luar negeri karena banyak yang asing buat saya.

Di sekitar rumah sakit banyak penjual makanan dari ujung ke ujung melingkari setengah area rumah sakit. Awalnya kegirangan lonjak lonjak karena banyak pilihan menu makanan, mengingat rumah sakit di tempat saya bekerja hanya ada 2 gerobak penjual nasi goreng dan somay, sesekali ada bubur ayam. Tapi setelah 3 hari berlalu belum juga mencicipi semuanya rasanya udah bosen, kadang jadi males makan saking tumplek uweknya dan bingung mau beli apa.

Saya tinggal di kost-kost'an tidak jauh dari rumah sakit. Tiap istirahat bisa pulang makan siang, sholat dan tiduran dulu. Biarpun di luar panas kegerahan tapi setelah masuk ke kamar, jadi kedinginan padahal tidak ada AC. Bandung memang sejuk. Saya salah membawa kostum, baju tidur yang pendek semua alhasil tiap malem saya harus meringkuk kedinginan. Apalagi hanya selimutan pake kain bali yang tipis gembring. Kalau kelewat dingin terpaksa harus dirangkepin pake baju seadanya. Ga pernah terpikir bakal sedingin ini. Waktu packing sempat terpikir untuk membawa baju yang panjang-panjang tapi berhubung packingnya sambil kegerahan jadi ga mikir lebih dalam lagi. Yang penting pilih baju yang berbahan ringan dan kecil saat dilipat sehingga ga menuh-menuhin ransel.

Di tempat pelatihan sampai hari ketiga ini masih terasa kaku. Saya juga masih beradaptasi. Sepertinya masih ada yang mengira Saya dan Christine anak PKL karena mungkin badan kami yang kecil-kecil. Dengan ibu-ibu karyawati disana belum akrab semua.

Pembimbing kami yang baik hati

Bimbingan dari beliau-beliau semua sangat bermanfaat, biarpun tujuannya sama tapi teknik dan caranya lebih praktis dan benar tentunya. Memang itu yang kami ingin tau ilmunya. Karena selama ini hanya mengandalkan teknik dan teori dasar dari kampus beberapa tahun lalu yang sudah banyak terlupakan. Saat ditanya kembali kami hanya melongo sambil senyum-senyum untuk menutupi malu. Hihihi... Lupa bu lupa dulu ga bisa sekarang lupa... It's oke saya berjanji akan memanfaatkan kesempatan ini dengan belajar yang bener. Setidaknya lebih mengerti dibanding sebelumnya.

Apr 18, 2015

Rumitnya Naik Kereta Di Jepang

April 18, 2015 7 Comments
Kereta adalah salah satu angkutan umum yang sangat efisien walaupun kadang ongkosnya tidak selalu lebih murah dari pada naik bus kota. Saya pernah naik kereta di negara orang seperti Singapore, Kuala Lumpur, Bangkok dan Seoul, semua praktis tinggal toel toel menunggu sebentar kereta datang. Paling pertama kali hanya bingung cara beli tiket di vending machine dan sesekali kebalik arah. Rutenya pun juga jelas apalagi di beberapa stasiun banyak tersedia map yang bisa diambil secara gratis. Tapi begitu berhadapan dengan kereta di Tokyo, HUUAAAAA......BLEG!!!

Map kereta di Tokyo gabungan antara JR East, Tokyo Metro dan Subway. Gara-gara nemu gambar ini jadi pusing dan mual. Susah menjelaskannya karena terlalu panjang dan rumit. Silahkan dipelajari sendiri.

Melihat rute kereta yang kya benang kusut itu stres sendiri dan berhenti browsing selama 2 hari. Padahal keberangkatan ke Tokyo yang mendadak tinggal beberapa hari lagi. Berhubung "dizzy seven arround" jadi bodo amat ga mau lagi browsing, dari pada tambah pusing bisa-bisa ga jadi berangkat. Yang penting nyampe dulu disana dan terserah mau ngapain. Saya ga bikin itinerary yang banyak-banyak, tujuan utama pengen melihat gunung fuji. Walaupun tidak mengharapkan hal buruk terjadi tapi seandainya kesasar atau salah kereta sudah siap lahir dan batin. Sehingga sebelum pergi saya hafalkan kata-kata ini "Sumimasen, sen wo machigaemashita" katanya sih artinya "Maaf saya salah ambil jalur kereta". Kata teman saya "Welcome to The Jungle, Welcome to The Real of Japan".

Nama stasiun di Tokyo banyak yang mirip, tapi jaraknya berjauhan. Seperti nagano dengan nakano, kawagoeshi dengan kawaguchi, komagawa dengan kumagaya dan masih seabreg lagi. Ada juga beberapa stasiun yang berbeda nama tapi jaraknya berdekatan.

Tiket kereta di Tokyo tergantung jauh dekatnya tempat tujuan. Untuk jarak paling dekat yang pernah saya beli seharga 170 Yen (1 Yen = Rp 115). Karena yakin pasti bakal bingung saya mencari pass yang kira-kira cocok untuk pemula seperti saya. Seandainya beberapa kali nyasar berapa uang yang akan keluar setiap kali naik kereta. Pass yang paling keren adalah National Japan Rail Pass bisa dipakai untuk keliling seluruh Jepang termasuk naik kereta Shinkansen. Harga untuk 7 hari 236 USD, 14 hari 377 USD dan 21 hari 483 USD. Atau bisa pilih Regional Japan Rail Pass silahkan di lihat di http://www.japan-rail-pass.com. Tapi buat saya kemahalan karena hanya 5 hari di Jepang dan masih belajar pula.

Saya menemukan pass yang lebih murah yaitu JR Kanto Area Pass seharga 8300 Yen bisa digunakan untuk 3 hari, mengcover Narita Express yaitu kereta dari Bandara Narita ke kota Tokyo, jika membeli one way seharga 3100 Yen dan kereta biasa sekitar 1400 Yen. Selain itu juga mengcover kereta ke Kawaguchiko tujuan utama saya, harga biasa one way dari Stasiun Shinjuku ke Stasiun Otsuki 1320 Yen, lanjut dari Stasiun Otsuki ke Stasiun Kawaguchiko 1140 Yen. Jika naik Bus dari Shinjuku ke Kawaguchiko PP 3500 Yen. Setelah dihitung-hitung pastinya lebih hemat pakai JR Kanto Area Pass ini bukan. Bahkan kalau mau merasakan naik Shinkansen juga bisa dari Stasiun Tokyo ke Nagano, Jomo-Kogen dan Nasushiobara. Untuk lebih jelasnya silakan lihat gambar di bawah ini.

Rute yang dicover oleh JR Kanto Area Pass

Saya membeli pass ini setelah sampai di Bandara Narita, bisa dipakai sesuka hati di daerah kanto dan mau nyasar kemana juga ga akan bayar lagi. Setiap masuk dan keluar gate tinggal tunjukkan tiket ke petugas.

Setelah membeli pass ini saya ditanya kapan kartu akan mulai dipakai dan tujuan pertama mau kemana? Saya akan ke Ueno stasiun yang dekat dengan penginapan, sehingga diberi tiket Narita Express ke Stasiun Tokyo dan disuruh pindah kereta Tokyo-Ueno Line ke Stasiun Ueno. Pertama kali cari track Narita Express saya mulai bingung untung ada bapak-bapak yang membantu. Beliau mengantar saya sampai di pintu kereta. Ternyata kereta sudah siap jalan. Seandainya ga ditunjukkan bapak itu pasti ketinggalan.

Sampai di Stasiun Tokyo saya mencari Tokyo-Ueno Line. Karena rame banget banyak orang yang jalan cepat kya mengejar maling dan udara yang dingiiinn sampai menusuk hati, saya mulai kehilangan konsentrasi. Badan menggigil, sempat kepikiran kena malaria karena 2 minggu sebelumnya saya dari Ujung Kulon. Haaisshh...

Lalu saya ke Line Shinkansen yang saat itu paling mudah ditemukan. Ke Stasiun Ueno bisa juga naik Shinkansen. Tapi saya tidak menemukan tulisan Ueno yang ada tulisan Jepang semua dan beberapa tulisan biasa tapi ga kenal tempatnya. Beberapa kali nanya ke petugas sampai ke cleaning servis segala, tapi ga tau semua menjawab apa, kedengerannya kya "kuro kuro horek tempe rasa coro..."

Karena ga tahan dingin saya asal aja naik Shinkansen dengan membaca bismillah. Saya masuk ke gerbong unreserved seat, disitu masih banyak kursi yang kosong. Tak berapa lama kereta berangkat, mulai deh ada pemberitahuan dan alhamdulillah saya naik kereta yang benar, Ueno-Omiya-Kumagaya-Karuizawa-Nagano dan lain-lain lupa. Baru juga 5 menit sudah sampai di Stasiun Ueno, karena masih kedinginan dan masih penasaran dengan kereta cepat yang halus itu saya bablas saja rencana pengen sampai di Karuizawa, setelah melihat-lihat sebentar di dekat stasiun akan balik lagi. 

Ternyata lumayan jauh sampai tertidur bangun beberapa kali belum nyampe juga. Melihat mapnya cuma kecil kirain deket. Setelah sampai di Stasiun Annakaharuna berarti tinggal satu stasiun lagi, kereta banyak lewat ke lorong bawah tanah saya hampir tertidur lagi karena keretanya bener-bener nyaman. 

Setelah keluar dari lorong panjang di bawah tanah tiba-tiba di sekeliling terlihat putiiihh semua, wooow ternyata SALJU. Subhanallah saya melihat salju. Seketika rasa kantuk menghilang. Akhirnya kereta berhenti di Stasiun Karuizawa. Saya turun dari kereta dan Bbbrrrrrrr... Udara dingin menampar pipi. Maksud hati pengen menghangatkan badan malah nyasar ke tempat bersalju. Tapi alhamdulillah bersyukur sekali, ga nyesel.


Yuhuuii...bikin boneka salju, tapi ga berhasil dingin banget.

Menggigil saya semakin hebat, tiap 30 menit sekali harus menghangatkan badan ke toilet. Hanya betah sekitar 1,5 jam bermain salju setelah itu kembali naik Shinkansen dan balik lagi ke Tokyo. Sampai di Stasiun Ueno walaupun bingung asal keluar tapi alhamdulillah bener. Tadinya pengen nitipin ransel di loker koin, berhubung ruwet begitu jadi takut ga bisa balik lagi. Mendingan kemana-mana gendong ransel sekalian buat ngangetin badan.

Hari kedua saya ke Kawaguchiko, sengaja berangkat pagi-pagi agar waktunya panjang. Pagi itu hujan kecil dan kabut sempat was-was juga khawatir gunung fujinya ga kelihatan. Saya keluar dari penginapan ke Stasiun Minami Senju dan membeli tiket Tokyo Metro Hibiya Line seharga 170 Yen ke Stasiun Ueno. Padahal bisa pakai tiket JR Kanto Area Pass yang ga bayar lagi yaitu ke JR Joban Line, tapi saat itu belum tau. Gatenya berjauhan harus muter ke belakang melingkari gedung, sedangkan gate Tokyo Metro begitu masuk ke stasiun langsung kelihatan. Begitulah kadang bodoh itu susah menghilang.

Sampai di Stasiun Ueno saya naik Yamanote Line ke Stasiun Shinjuku. Padahal kalau mau yang agak cepat bisa ke Stasiun Tokyo dan naik Chuo Line dari sana, tapi lagi-lagi saya tidak tau. Sampai di Stasiun Shinjuku saya mencari Chuo Line ke Otsuki, begitu ketemu tracknya ada kereta yang telah terparkir tanpa pikir panjang saya langsung naik. Dan ternyata kebalik arah ke Stasiun Tokyo. Jiah buang-buang waktu lagi, lalu saya turun di stasiun berikutnya yaitu di Stasiun Yotsuya. Untuk pindah ke track sebelahnya harus nyebrang dulu muter lewat lantai bawah. Tiga menit kemudian kereta datang lagi, saya pastikan dulu apakah benar jurusan Otsuki dan ternyata benar. Awalnya harus berdiri karena kereta lumayan penuh, tapi sampai di Stasiun Shinjuku banyak yang turun. Karena perjalanan masih panjang saya mengikuti gaya orang Jepang tidur di kereta. Orang Jepang diem-diem, biar segerbong berjubel empet-empetan sampai penuh tapi ga ada satupun yang ngobrol. Hening kya di hutan.

Setengah perjalanan entah sampai di stasiun mana pengumuman di kereta lumayan panjang, yang sempet saya denger ada kata-kata "thank you for travelling with us" setelah itu kereta berhenti lama. Banyak orang yang turun hanya tinggal tersisa beberapa yang masih tertidur tapi setelah terbangun kaget dan turun juga. Saya bingung kenapa ya? Setelah melihat ke papan pengumuman di dinding kereta, ternyata berganti tulisan "For Tokyo". Rupanya harus pindah kereta. 

Saya turun dan mencari kereta ke Otsuki. Dengan setengah yakin saya masuk ke kereta yang telah terparkir, setelah kereta berangkat mulai ada pengumuman next station dan alhamdulillah bener. Tapi sampai beberapa next station lagi harus ganti kereta lagi. Setelah sampai di Otsuki harus ganti kereta lagi jurusan Kawaguchiko. Baru terasa ternyata kawaguchiko itu jauuuuh banget dari Tokyo. Dari penginapan 5 kali ganti kereta. Dan benar saja sampai disana gunung fujinya ketutupan kabut hiks... 

Saya coba menunggu sekitar 1,5 jam tidak juga ada tanda-tanda penampakan justru malah semakin gelap. Gigit jari deh. Tandanya saya harus balik lagi ke Jepang suatu saat nanti. Tapi masih berguna juga, bisa melihat bunga sakura di Kawaguchiko yang masih bagus-bagus ga seperti di Tokyo yang sudah rontok dan bercampur daun.

Hari ketiga sudah lumayan bisa nyari line kereta, tapi kebalik arah masih sering terjadi dan untuk exit-exit stasiun juga masih bingung. Pernah di Stasiun Shinjuku rasanya sampe mau nangis nyari west exit ga ketemu. Udah mah bingung,  kedinginan, laper lagi. Siapa suruh petakilan ke Jepang. 


Suasana di stasiun pada jam sibuk

Hari ke empat saya ke Nagoya ke rumah mbak Dini temennya temen yang kerja dan tinggal disana. 30 jam terakhir saya ga bisa menghubungi beliau karena ga dapet free wifi. Saya memang ga beli paket wifi selama di Jepang hanya mengandalkan yang free aja, sehingga ga bisa mengabari bahwa jadi berangkat. Tapi beliau sudah memberikan rute kereta ke rumahnya, ada dua pilihan naik JR Line atau Meitetsu Line. Kalau naik JR ambil yang jurusan Toyohashi turun di Kariya, pindah line Meitetsu jurusan Hakinen turun di Ogakie. Sedangkan kalau naik Meitetsu Line ambil jurusan ke Toyohashi turun di Chiryu, pindah line ke jurusan Hakinen turun di Ogakie. Terakhir contact kami janjian di Ogakie jam 8 pagi, setelah itu lost contact.

Saya naik bus Willer Express jam 11 malem dari Tokyo sampai Nagoya jam 7 pagi. Di Stasiun Nagoya saya mencari loket JR atau Meitetsu, dua-duanya ga ketemu. Yang ada loket Kinetsu, karena sama-sama berakhiran -etsu saya coba mencari tulisan Kariya. Boro-boro tulisannya Jepang semua. Stasiun di Nagoya roamingnya lebih parah dari pada di Tokyo.
"Mbak kalau mau ke Kariya naik apa?" tanya saya ke mbak-mbak cantik yang baik banget. 
"Kariya?" mbak itu utak atik hpnya seperti browsing sesuatu, kemudian menunjukkan hpnya ke saya "Kariya, JR Line..". 
"JR Line tempatnya dimana?" 

Mbaknya susah menjelaskan jadi saya dianterin. Beliau juga masih bingung masih sambil mencari-cari. Orang Jepang aja bingung apalagi saya. 

Tiba-tiba saya melihat loket Meitetsu dan ada tulisan Kariya, "Mbak ini kereta Kariya juga kan, udah sampai sini aja arigatou gozaimas..." Karena mesin tiketnya bertuliskan Jepang semua saya ke loket sambil bilang "Kariya". Lalu petugas di loket memberi saya tiket mungil dengan tulisan Jepang. Saya baru ingat, kalau Line Meitetsu kan langsung beli ke Ogakie bukan Kariya. Saya coba ralat lagi " Sorry Ogakie..." Bapaknya malah bingung "Ogakie or Kariya?" "Saya mau ke Kariya setelah itu lanjut ke Ogakie". Dengan bahasa tarzan beliau menjelaskan "Ke Kariya aja dulu nanti kalau mau ke Ogakie beli lagi disana".

Beres tiket, saya mencari line kereta jurusan Toyohashi dan huuaaa... Ternyata susah juga. Banyak banget line kereta disana. Harus kemana saya sedangkan petunjuknya kebanyakan bahasa Jepang. Setelah mondar mandir ga jelas sambil mo nangis dan nanya ke beberapa petugas, akhirnya ketemu. Saya disuruh diem di dekat petugas itu, nanti kalau kereta datang akan diberi tau. Karena satu track bisa dilewati oleh banyak kereta dan kebanyakan tulisannya Jepang semua, meneketehe. Kira-kira lima kereta sudah lewat saya diberi isyarat oleh petugas itu untuk masuk ke kereta yang akan datang. Hanya sebentar banget pintu kereta kebuka, langsung menutup lagi dan kereta berangkat. Di dalam ada pengumunan tapi bahasanya Jepang, mampus gila ga ada bahasa Inggrisnya. Untungnya untuk penyebutan nama stasiun masih agak jelas. Yang pasti kalau ngomongnya panjang kemungkinan ada persimpangan rail dan bisa pindah line. 

Saya dengerin bener-bener tiap kali ada pengumuman menunggu kata-kata Chiryu karena saya harus pindah line. Benar saja tiba-tiba ada pengumuman panjang yang sepertinya ada kata Chiryu dan beberapa lama kemudian kereta berhenti. Saya turun dari kereta sambil memastikan, benarkah ini Stasiun Chiryu dan alhamdulillah benar. Setelah itu mencari kereta jurusan Kariya atau Hakinen, hanya 2 menit ada kereta datang. Kata orang disitu benar ke Kariya, lalu saya naik. Pengumuman di dalam kereta masih sama parahnya, pakai bahasa Jepang semua.

Tiket saya hanya sampai di Kariya, berhubung keretanya melewati Ogakie saya tidak akan turun di Kariya. Katanya kekurangan tiket bisa ditambah nanti setelah turun. Setelah melewati 4 stasiun termasuk Kariya, terdengar pengumuman "Ongakie.. Ongakie.. " Saya yakin pasti maksudnya Ogakie. Setelah kereta berhenti, saya turun. Lalu memasukkan tiket ke mesin di pintu keluar ternyata pintunya ga bisa kebuka, pasti karena bayarnya kurang. Saya melihat ke sekeliling untuk mencari bantuan, tapi tidak ada orang satupun. Di loket pun tidak ada petugasnya. Melihat pintunya masih ada celah sedikit masih muat buat kaki akhirnya saya menerobos. Maaf ya bukan maksud, salah sendiri ga ada petugasnya.

Sampai di luar saya mencari orang berkerudung, seandainya ga ada saya akan minta tolong orang yang lewat untuk sms atau menelpon, kebetulan pernah meminjam nomor telponnya untuk membooking bus. Dan ternyata ada satu mbak-mbak duduk di halte yang nunduk sambil mengutak-atik hp, tapi wajahnya ditutup masker, kalaupun dibuka saya juga belum tau wajahnya seperti apa karena belum pernah ketemu. Setelah agak dekat mbak itu menoleh dan teriak...

"Aaaauw...akhirnya nyampe juga, pas banget saya juga baru nyampe"
"Maaf mbak saya ga dapet wifi dari kemaren, trus tadi salah beli tiket jadi disitu bayarnya kurang"
"Kok bisa keluar?"
"Nerobos mbak"
"Hahahaha..."

Setelah dipikir kembali ternyata ada baiknya juga salah beli tiket ke Kariya, bukan Ogakie, karena ternyata ada Ogaki dan Ogakie (dibaca ongakie). Seandainya saya bilang "Ogaki" karena membaca versi Inggrisnya, bisa jadi pak petugas nangkepnya Ogaki yang satunya saya bisa diarahkan kesana. Jadi ini bukan kesalahan memang petunjuk dari Allah untuk memudahkan perjalanan saya, sehingga yang ada dipikiran saya hanyalah kata "Kariya". Alhamdulillah Ya Allah. Membayangkan kesasar jauh, kasian Mbak Dini yang sedang hamil bakal menunggu lama sambil khawatir.

Begitulah kisah saya saat menguraikan jalur kereta di Tokyo dan Nagoya. Sekedar tip buat teman-teman pemula yang akan naik kereta di Tokyo :
  1. Tidak usah panik, karena akan membuat segalanya semakin kacau. Kalaupun bingung bisa bertanya ke orang-orang di sekitar. Mereka kelihatannya cuek tapi baik-baiiik banget pasti akan dibantu walaupun dengan bahasa tarzan.
  2. Jangan berangkat ke stasiun terlalu mepet sediakan waktu luang untuk berjaga-jaga jika kesulitan mencari jalur kereta, kereta di Jepang sangat tepat waktu.
  3. Setiap jalur kereta di Tokyo memiliki simbol dan warna khusus, ikuti saja warna jalur kereta yang akan kita naiki.
  4. Setelah ketemu tracknya perhatikan lagi kereta yang lewat, karena satu track bisa dilewati oleh banyak kereta.
  5. Tetap konsentrasi dan banyak berdoa.
 Semoga sukses. Salam backpacker.
Suasana di stasiun, dari segala penjuru banyak orang berjalan cepat

Apr 13, 2015

Teh Jepang Horaenak

April 13, 2015 1 Comments
Saya menulis ini di dalam bus Willer Express jurusan Nagoya - Tokyo. Tadinya penumpang hanya saya sendiri karena suatu kesalahan. Saat baru sampai di Nagoya, saya tanya ke salah satu staf bus. "Pak dhe kalau mau balik lagi ke Tokyo nunggu busnya dimana? Bisa disini ga?" "Bisa neng" jawab beliau singkat dan penuh keyakinan.

Saya meninggalkan tempat itu menyisakan tanya. Masak sih di pinggir jalan di bawah rel kereta. Padahal di Tokyo tempatnya keren. Waiting roomnya di dalam gedung mewah. Mendekati keberangkatan dipindahkan ke boarding room mirip-mirip mau naik pesawat. Kok di Nagoya di pinggir jalan begini, ga banget deh. Tapi penjelasan pak dhe begitu, ya sudah ikutin aja. 

Saya segera ke stasiun mencari kereta ke Ogakie karena janjian dengan teman jam 08.00 di Stasiun Ogakie. Alhamdulillah tepat waktu. Beliau sampai saya pun sampai. Jepang memang terkenal dengan tepat waktu.

Setelah seharian maen di tempat mbaknya, jam 20.15 saya kembali ke Nagoya karena akan pulang ke Tokyo. Sampai di Stasiun Nagoya tentu saja mencari jalan tempat saya diturunkan oleh bus sebelumnya yaitu di Jalan Meiki Dori. 

Sempat salah exit ke arah berlawanan. Itu juga berdasarkan petunjuk dari salah satu staf kereta disana. Dari pada nanya kadang-kadang lebih baik mengandalkan feeling, karena banyak orang Jepang yang susah berbahasa Inggris. Seperti saya juga sih. Setelah muter-muter akhirnya ketemu juga walaupun jadinya lebih jauh.

Waktu masih longgar tidak terlalu terburu-buru. Saking lumayan jauh menggendong ransel rasa haus melanda. Tiba-tiba terlintas pengen teh manis yang dingin-dingin seger. Mampirlah ke Alfamaretnya Jepang di stasiun. Karena ga ngerti bahasanya asal pilih yang botolnya bagus bergambar bunga melati. Saya pikir botolnya aja bagus pasti rasanya lebih enak dibanding teh botolan di Indonesia. Jepang gitu loh. 

Tapi pas diminum jiiiaahh... Ga ada rasanya. Tawar cenderung pait blas ga ada enak-enaknya. Saya coba kocok kuat-kuat kali aja gulanya ngendap di bawah. "Ya Allah ubahlah menjadi manis. Kucuk kucuk kucuuuk... Bim Salabim...!" Tetap ga berubah apa-apa. Ajegile nyesegnyaaa... Itu lebih mahal diantara yang lain. Selain botolnya bagus juga berniat menghabiskan koin Yen yang mulai memenuhi dompet. Tau begini kan mending isi ulang air di kran yang gratis. Itulah teh tawar termahal yang pernah saya minum. 40 rebu sebotol.

Kata teman saya memang teh di Jepang tawar semua. Kalaupun ada yang manis ya hanya manis-manis jambu. Ga semanis teh botolan di Indonesia. Karena orang Jepang udah manis jadi tidak butuh pemanis lagi. Iya deh...

Sepertinya harus menambahkan gula sachet di dalam daftar bawaan kalau ke Jepang lagi. Akhirnya terasa sekali beruntungnya menjadi orang Indonesia dan tinggal di Indonesia. Setiap saat bisa merasakan nikmatnya makanan dan minuman yang diinginkan. Biar tinggal di negara modern nan masyur dikata orang tapi pengen teh botol aja ga keturutan kan sedih.

Pulang ke Indonesia nanti saya akan minta maaf kepada seorang teman yang suka sekali minum teh botolan. Bisa dibilang tiada hari tanpa minum teh itu.

"Seneng banget sih minum itu, emang apa enaknya? Ga beda jauh sama teh pait. Lama-lama hidup lo pait juga" setiap kali melihat beliau minum teh botolan pasti gatel pengen mencaci.

"Segernya kya gini kok dibilang pait" jawabnya sambil tetap menikmati disetiap tegukan. Seandainya beliau tau akan hal ini pasti saya diketawain abis. 

Mulai sekarang saya akui memang bener teh botolan yang punya iklan "Apapun makanannya, minumnya teh onooo..." Itu teh seger banget dan ga pait apalagi kalau dingin pasti tambah nikmat.


Dari kemasannya kya yang enak banget.

Lepas dari kasus teh saya melanjutkan mencari Jalan Meiki Dori. Sampai di sana tiba-tiba gemetaran karena tempatnya sepi  sekali. Hanya ada 1 bus parkir, 1 orang staf dan 1 orang juru parkir. Lhadhalaah... Penumpang yang lain mana? Jangan-jangan saya ketinggalan, jangan-jangan tempatnya bukan disini... Nah lo...!!

Saya mendatangi petugas itu sambil menunjukkan tiket. 
"Nengnya bisa ngomong Jepang?" tanya beliau. 
"Ga bisa pak..."
"Begini neng nunggunya bukan disini tapi di kantor di dalam stasiun, dari sini jalan kaki 10 menit" jelas beliau pakai bahasa tarzan yang saya tau maksudnya.

Apaahh... Baru aja nyampe disuruh balik lagi? Sambil ngesot bisa sih pak, tapi nyari jalan keluar aja ruwet setengah mati. Kapok pak. Daripada kehilangan arah lagi mending mewek guling-guling disitu.

"Maaf pak kata staf bus sebelumnya bisa nunggu disini" kata saya sambil pasang muka memelas.

Kemudian pak dhe telpon-telpon entah ngomong apa "Ajinotomo toyota daihatsu... Hee masako masako"

Sambil menunggu saya minta ijin masuk ke dalam bus karena udara di luar bikin menggigil. Tak berapa lama beliau mengatakan "Neng tunggu disini aja, busnya 25 menit lagi datang".

Rasanya ga sampai 20 menit bus datang. Seorang pak dhe berseragam turun berlari menghampiri saya. Dengan sangat sopan menyapa "Sumimasen sumimasen... kdsfhdgsgak askdhobmapdui boiuhebsn ble ble ble..." lalu menunjukkan kertas daftar penumpang yang tulisannya keriting semua kecuali nama saya. Alhamdulillah nama saya terdaftar di Jepang. 

"Benar pak ini nama saya!!!" teriak sekenceng-kencengnya di dalam hati. 
Kemudian beliau membantu membawakan tas ransel dan mengajak masuk ke dalam bus. Di dalam bus dijelaskan lagi menggunakan bahasa tarzan jam berapa bus akan berangkat, istirahat, sampai Yokohama, sampai Tokyo, cara mengatur sandaran kursi, tempat carge hp, toilet dan sebagainya. Yang saya tau hanya kalimat terakhir "Arigatou gozaimasu..." bapaknya baik banget sopan dan penyayang. Terharu deh udah mah saya yang salah, dijemput, disayang-sayang pula eits...!!

Tak berapa lama bus melaju ke arah Stasiun Nagoya dan berhenti di sebuah tempat. Para penumpang yang lain masuk ke dalam bus menempati tempat duduk sesuai dengan nomor tiketnya. Beruntung kursi di sebelah kosong sehingga bebas bergerak. Tepat jam 23:00 bus mulai bergerak meninggalkan Stasiun Nagoya. Saya akhiri tulisan ini dan segera  bersiap melelapkan diri. Semoga terbangun setelah sampai di Tokyo agar perjalanan tidak terasa lama. Bye bye Nagoya...