Jun 16, 2015

Are You a Malaysian?

June 16, 2015 0 Comments
Kalau kemana-mana saya sering disangka orang Malaysia. Eh ntar dulu "kemana-mana" kesannya kok kya sering keliling dunia aja padahal negara-negara asean aja baru beberapa, tapi bolehlah narsis dikit siapa tau jadi beneran kemana-mana. Katanya semua berawal dari mimpi. Aamiin.

Seperti waktu umroh sering banget ditanya oleh jamaah di sebelah...
"Malaysia?" 
"No, Indonesia"

Pasti banyak banget yang senasib kya gini, susah emang bedain Malaysian apa Indonesian. Kecuali kalau denger lagi ngomong baru ketauan. Indonesian pun yang dari Sumatra melayu-melayuan gitu logatnya hampir sama. Ya kata mak cik kan kita masih serumpun.

Pernah juga waktu di Seoul, saya jalan sore-sore lihat sunset ke Naksan Park. Disana ada beberapa oppa dan eonni lagi jogging serta kakek dan nenek lagi momong cucu. Saat melintas di depan kakek yang lagi istirahat, beliau nanya...

"Are you moslem?"
"Yes"
"Malaysia?"
"No, Indonesia. Do you know Indonesia?"
***Ngangguk doank tapi kya sambil mikir.

Masih di Seoul, saya jalan-jalan sendiri di pasar deket Ewha Women University. Ceritanya hari terakhir disana pengen ngabisin duit recehan won yang tinggal sedikit, karena kalau dibawa pulang ke Indonesia harganya bakal jatuh bisa jadi malah ga laku. Saya masuk ke toko baju disambut oleh oppa pelayannya.

"Hello... Are you a Malaysian?" 
"No, I am from Indonesia" 
"Ouw Indonesia, BADMINTON..!!!" kata si oppa sambil ngepalin tangan,  seketika inget oppa Lee Young Dae yang ganteng itu. Bangga juga Indonesia dikenal badmintonnya.

Masih di pasar deket Ewha Women University, saya masuk ke toko sepatu.
"Malaysia?" 
"No, Indonesia" 
"Oh I like Indonesia, Bali"
Selama di toko itu mbaknya ngikutin saya ngajakin ngobrol, bukan pelayannya sih tapi sesama pengunjung. Note, akhirnya saya ga beli apa-apa ternyata duitnya ga cukup.

Masih di Seoul juga tapi lupa dimana aja, saking seringnya sampai bosen.
"Where are you from?"
"Indonesia"
"Oh, I think from Malaysia"
***Segitu terkenalnya orang Malaysia di Korea.

Sering lagi di Thailand. Dari selatan sampai utara yang pernah saya datangi, paling sering dikira dari Malaysia, kadang dikira asli Thailand. Ga pakai nanya dulu, langsung aja manggil "Hello Malaysia salamat siang".
***Sotoy banget...

Kalau di Malaysia sendiri pastinya sering di sangka orang lokal. Saya pernah ikut dengerin ceramah di Masjid Al Hana Langkawi sehabis maghrib sekalian nunggu isya. Diem mentereng dengerin pak ustadz ngomong pake bahasa melayu kental, ujung-ujungnya ga ngerti juga. Ngerti sedikit selebihnya kira-kira. Eh taunya ibu-ibu di sebelah minta dijelasin, mungkin maksudnya gini "Tadi kata pak ustadz yang ini ini ini... maksudnya apa?" pake bahasa melayu kental, tentu saja hanya jawab geleng-geleng dan membuat ibu mengerutkan dahi. Aneh mungkin kya yang serius dengerin tapi ditanya ga ngerti hahaha...

Tapi biar begitu saya ga pernah beruntung kalau lagi beli tiket ke tempat wisata di Malaysia, ga pernah dapet harga orang lokal biarpun udah gegayaan sok pake logat melayu ngikutin Upin Ipin. Ga akan bisa mengelak lagi kalo udah ditanya, Where are you from? You local or foreign? Bisa kasih lihat IC? Awalnya ga tau apa itu IC, kirain kode apa ternyata Identity Card kalau di Indonesia KTP.

Jun 15, 2015

Menuju ke Golden Triangle - Perbatasan 3 Negara

June 15, 2015 4 Comments
Golden Triangle atau Segitiga Emas Asia Tenggara adalah suatu tempat dimana kita bisa melihat tiga negara dalam satu pandangan yaitu Thailand, Laos dan Myanmar. Hanya dipisahkan oleh pertemuan Sungai Ruak dan Sungai Mekong. Berada di distrik Chiang Saen, 829 kilometer dari Bangkok dan 80 kilometer dari kota Chiang Rai. Dulu tempat ini merupakan ladang penyelundupan opium yang sangat terkenal di dunia. Tentu saya kesana bukan mencari opium hanya sekedar melengkapi gelandangan di Chiang Rai.

Pagi itu jam 08.30 kota Chiang Rai masih diselimuti kabut. Udara dingin menampar pipi dan membuat bibir kering bocel-bocel. Saya masuk ke kantin di guest house.

“Thangchiek chuong hsgakuk shtagddjajg skjdgyfsa” sepasang kakek dan nenek penjaga kantin menyambut saya.
“Aku wes adus nek saiki luwe” kata saya sambil menunjuk gambar roti. 

Lalu beliau membuatkan saya roti bakar dan teh manis. Dari pada susah-susah pakai bahasa Inggris mending pakai bahasa Jawa simbahnya juga ngerti.

Selesai makan saya jalan kaki ke terminal mencari minivan yang bernama Green Bus jurusan Golden Triangle. Tidak susah menemukannya karena tulisannya campuran keriting dan bahasa Inggris. Belum ada penumpang di dalam van sehingga harus menunggu sampai van terisi penuh. Sebelum berangkat sopir meminta ongkos 50 bath per orang.

Di perjalanan melewati beberapa kali check point. Van berhenti di depan pos dan tentara bersenjata lengkap masuk ke dalam mobil memeriksa penumpang satu per satu. Bagi warga lokal diharuskan menunjukkan KTP dan turis luar menunjukkan paspor. Yang tidak dapat menunjukkan identitas akan dibawa masuk ke kantor. Konon selain jalur perdagangan opium di jalur ini juga tempat masuk dan keluarnya para tenaga kerja ilegal dan imigran gelap. Jadi bisa 3 sampai 5 kali pemeriksaan. Disitu saya merasa takut.

Dua jam berselang tibalah di Golden Triangle. Golden Triangle sebenarnya kini hanya menyisakan keping kenangan kejayaan di masa lalu. Ternyata biasa saja dan tidak seseram yang saya bayangkan. Ada sebuah papan dan tugu sederhana sebagai penanda tempat legendaris ini. Pertemuan Sungai Ruak dan Sungai Mekong sebagai pembatas tiga negara hanyalah sungai besar yang berair cokolate butek mirip dengan Sungai Grindulu di Pacitan. Hampir tidak ada yang istimewa.

Tugu penanda Golden Triangle

Salah satu yang menarik perhatian di Golden Triangle adalah kuil yang berada di tepi Sungai Mekong di daratan Thailand. Kuil ini berada di sebuah bangunan seperti perahu besar berwarna cerah dengan ornament kepala naga di ujungnya. Sementara diatasnya terdapat patung budha besar berwarna emas setinggi 46 meter. Patung ini bisa dilihat dari 3 negara.

Kuil Budha


Saya berdiri di Thailand, di belakang saya sebelah kiri tampak rumah kecil-kecil merah adalah  Myanmar dan sebelah kanan tampak kubah kuning adalah  Laos.

Dari daratan Thailand bisa naik perahu menuju Donsao yaitu desa yang berada di teritori Laos dengan membayar 200 bath. Tidak perlu melalui pemeriksaan imigrasi lazimnya melintasi batas negara. Cukup membayar 20 bath untuk mendapatkan kertas kecil sebagai penanda pernah berkunjung kesana. Disana ada pasar kecil yang menjual berbagai pernak-pernik karya lokal seperti tenun, serangga yang diawetkan dari kecoa sampai kalajengking. Yang paling aneh adalah snake wine, di dalam botol wine terendam ular mati wueeekk… Dikasih gratis juga ogah. Pasti buat yang itu-itu... Apa coba?  

Dari Golden Triangle saya lanjut ke Mae Sai. Saya ingin mencoba masuk ke Myanmar walaupun hanya di perbatasan yaitu Tachileik. Saya diturunkan di sebuah halte oleh sopir van entahlah daerah mana karena tidak ada tulisan Inggris sama sekali. Katanya disitu tempat menunggu bus jurusan Mae Sai. Memang ada beberapa kali bus lewat tapi tulisannya keriting semua dan saya tidak berani naik. Setelah hampir satu jam, lewat juga bus jelek dengan tulisan yang bisa dibaca yaitu Mae Sai.  

Saya naik bus itu, di dalam ada perasaan lega karena ada satu penumpang bule berambut pirang. Walaupun tidak ngobrol setidaknya ada teman yang sama-sama orang asing. Busnya berjalan lelet banget sambil mencari penumpang sepanjang jalan dan beberapa kali mencari alamat untuk menyampaikan kiriman paket. Sampai di Mae Sai ternyata sudah kesorean. Waktu menunjukkan pukul 16.00 tidak memungkinkan untuk masuk ke Tachileik, karena angkutan umum terakhir ke Chiang Rai jam 17.00. Akhirnya saya pulang lagi ke Chiang Rai naik minivan yang lebih cepat.

Jun 14, 2015

Bertemu Orang Baik Di Chiang Rai

June 14, 2015 1 Comments
Setelah mandi, sholat dan istirahat, jam setengah 3 sore saya berangkat  ke White Temple (Wat Rong Khun) adalah salah satu kuil Budha paling terkenal di Chiang Rai. Letaknya jauh di luar kota Chiang Rai kira-kira 1 jam menggunakan kendaraan bermotor. Jika naik songthew ongkosnya lumayan mahal antara 500-600 THB, tapi saran dari teman bisa naik bus umum dari terminal 1 hanya dengan 20 THB.
 
Saya jalan kaki ke terminal yang letaknya 500 meter dari penginapan. Sampai di terminal mencari bus umum yang berpenampakan jelek-jelek dan tulisannya keriting semua. Lhadhalah… yang mana? Saya disuruh naik ke salah satu bus oleh ibu-ibu kondektur. Busnya ngetem dulu sekitar 45 menit. Jadi deg-degan khawatir kesorean karena bus terakhir balik ke Chiang Rai jam 5 sore. Jalannya juga lelet banget masih sambil nyeser-nyeser nyari penumpang. Persis kya bus umum di Indonesia kondekturnya menggantung di pintu sambil teriak-teriak.

Sekitar 1 jam perjalanan, di sebuah perempatan ibu kondektur memanggil saya “White Temple... White Temple…”. Ibu itu mengantarkan saya turun dan menunjukkan arah ke White Temple dengan bahasa isyarat. White Temple tidak berada di pinggir jalan raya tapi masuk ke dalam sekitar 200 meter. Jam menunjukkan pukul 16.30 waktu setempat, artinya saya hanya punya waktu setengah jam disana dan harus balik lagi untuk mengejar bus terakhir. Rasanya tidak rela kalau harus buang duit 600 THB. Saya jalan cepat setengah lari lalu mengambil gambar jeprat jepret sekenanya. Untunglah masih sempat berfoto narsis di depannya.

Di depan White Temple

Jam 16.55 saya lari ke pinggir jalan. Suasananya sepi sekali tidak ada orang satu pun. "Benarkah nunggu busnya disini? Ya Allah help me". Saya duduk di halte sampai jam 17.15 belum ada bus yang lewat. Hari semakin gelap, saya semakin deg-degan. Kalau terpaksa berarti harus merelakan 600 THB.

Suasana di halte, semakin gelap semakin ngenes

Tiba-tiba ada sepasang bule sudah agak tua dari England, katanya mau ke Chiang Rai juga. Namanya Brenda dan Bryan. Kami duduk bertiga di halte sama-sama berharap masih bisa terangkut oleh bus yang terakhir.

Jam 17.30 belum juga ada bus yang lewat. Syukurlah ada sebuah songthew berhenti di depan halte “Chiang Rai.. Chiang Rai...” teriak pak sopir. Brenda menggandeng tangan saya untuk naik ke angkot khas Thailand itu. Di dalamnya ada sekeluarga bule England bapak, ibu, anak bersama guidenya mbak-mbak cantik orang Thailand. Sepertinya songthew itu telah di sewa oleh mereka, tapi kami diperbolehkan bergabung. Kami ngobrol sepanjang jalan saya kadang nyambung kadang plonga plongo, mereka bahasa Inggrisnya licin-licin banget, pastinya donk orang Inggris semua.

Sampai di Chiang Rai songthew mengantarkan bule England sekeluarga ke guest housenya, lalu mengantarkan saya. Sebelum turun saya berpamitan dengan Brenda dan Bryan, tak lupa membayar ke pak sopir. Tadinya diminta 200 THB dikira buat bertiga karena sendiri hanya diminta 60 THB. Masih murah lah karena diantar sampai penginapan. Brenda teriak dari dalam songthew “How much?” “60 bath”. Songthew beranjak pergi dan saya masuk ke halaman guest house.

Saya duduk di teras mencari sinyal wifi, mengaktifkan hp barang kali ada kabar cinta. Tiba-tiba ada suara memanggil...

“Hello…” Brenda dan Bryan menyusul saya. 
“Kamu tadi bayarnya kelebihan seharusnya hanya 20 bath, sopir songthewnya memang meminta lebih tapi biar kami saja yang bayar, dan ini uang kamu” kata Brenda sambil menyodorkan uang 40 THB.
“Ohh... Thank you so much…” kaget keheranan dan hanya itu yang bisa terucap.
“Bye bye…”

Subhanallah… baik banget… 40 THB memang tidak seberapa sekitar 16 ribu rupiah. Tapi niat banget sampai nyari saya ke penginapan.

Setelah maghrib saya keluar ke Night Bazaar sambil berdoa semoga ketemu lagi dengan Brenda dan Bryan. Chiang Rai hanya kota kecil, hiburan dimalam hari yang paling popular hanyalah itu. Tapi sudah muter kesana kemari keliling pasar belum juga bertemu mereka. Cari ke beberapa restoran tidak ada. 

“Where are you Brenda?” 

Udara semakin dingin rasanya ingin menyerah dan pulang ke guest house. Tapi berpikir lagi, orang seperti mereka tidak akan makan di restoran pastinya di tempat yang lebih merakyat. AHAA… Di sebelah ada banyak kursi di tanah lapang yang dikelilingi oleh tenda makanan. Di depannya ada panggung tempat tari-tarian tradisional. Saya coba cari disana, kalau tidak ketemu juga ya berarti anda tidak beruntung.

Benar saja saya melihat ibu-ibu memesan bir, dari belakang kelihatannya seperti Brenda. Karena tidak yakin saya tidak berani memanggil dan hanya mengikutinya dari belakang. Sampai di tempat duduknya Bryan memanggil saya.

“Hello…”
“Haaa… Akhirnya ketemu lagi”
“Hayo duduk”
"Okay. Thank you!!"
Dan malam itu saya menghabiskan waktu bersama mereka. Biarpun baru kenal tapi rasanya seperti bertemu orang tua saya. Begitulah pertemuan sesaat kadang lebih bermakna.

Always miss them

Jun 13, 2015

Mabok Massal ke Anak Krakatau

June 13, 2015 2 Comments
Jam 11 malam saat mata sedang lengket-lengketnya kami janjian di Alfamidi depan komplek. Saya, Mbak Pipit, Mas Dodi dan Huda. Agar tak membebani pundak, tas ransel dan segepok perbekalan kami letakkan berdekatan di teras Alfamidi, karena masih menunggu rombongan yang lain. Beberapa saat kemudian berhentilah sebuah angkot warna merah di seberang jalan. 

"Hey hayuuk...!!" panggil Bulek Tati sang Bos dari balik angkot. 
"Siapa mbak, saya?"
"Halah lu, cepetan"

Kami menyeberang jalan sambil menenteng segala perbekalan dan naik ke taksi rakyat jelata itu.  Di dalam ada Mbak Dian dan Bang Zul yang menebar senyum di bawah temaram lampu. Angkot pun membawa kami sampai di pelabuhan merak. Suasana di pelabuhan penuh dengan manusia yang menggendong ransel yang hendak merayakan hari ulang tahun Indonesia di beberapa daerah di Lampung.

Salah satu dari rombongan kami, Mas Dodi mengambil posisi ke barisan panjang yang mengarah ke sebuah loket demi semua rombongan agar bisa memegang kartu sakti sebagai syarat masuk ke kapal. Setelah dipersilahkan masuk kami memilih ruang VIP agar bisa melepas lelah. Ternyata penuh seperti tempat pengungsian oleh traveler yang lesehan di seluruh ruangan. Membaurlah kami di lapak yang masih tersisa. 

Tak berapa lama kapal membunyikan peluit panjang dan bergerak meninggalkan Pelabuhan Merak. Bekal camilan mulai dikeluarkan satu persatu dari kresek penyimpanan. Canda tawa dan tebak-tebakan dilontarkan selama perjalanan, sampai tak terasa kapal telah berlabuh di Pelabuhan Bakauheni. Itu teman-teman ya, saya mah tidur tau tau nyampe hihihi...

Setelah sholat subuh di Pelabuhan Bakauheni kami mencari angkot untuk disewa ke Dermaga Canti yaitu tempat dimana kami akan dijemput oleh kapal kayu yang akan mengeksplor ke kawasan anak krakatau. Kebetulan bertemu dengan rombongan dari Medan 5 orang yang bersedia bergabung dengan kami ber-7 sehingga pas satu angkot dan ongkosnya jadi lebih murah. Lalu angkot membawa kami menyusuri jalanan di Lampung yang naik turun dan berkelok kelok selama 1.5 jam

Sebelum bertemu dengan rombongan yang lain kami melakukan ritual makan pagi di warung dekat dermaga. Gorengan bakwan dan tempe yang masih hangat membantu mengembalikan konsentrasi setelah perjalanan jauh dari Cilegon. Di warung ini pun tersedia beberapa kamar mandi tapi berhubung kesabaran mengantri sedang menurun saya lebih memilih terima apa adanya. Bilang aja males.

Selesai ritual, rombongan belum terkumpul semua. Kami menyempatkan berfoto di pinggir pantai berpose dengan pisang dan pete bertumpuk-tumpuk hasil panen warga di pulau seberang di sekitaran selat sunda. 

"Kalau mau makan ambil aja neng" kata abang yang mengangkut makanan berbau wangi itu. 
"Waduh makasih bang, kasian teman sekamar nanti". 

Matahari semakin meninggi dan udara mulai membuat berkeringat akhirnya seluruh rombongan terkumpul, total jadi 45 orang (kalau ga salah). Sejenak sang EO memberikan briefing juga perkenalan dengan seluruh rombongan. Lalu jam 9.30 kami dipersilahkan masuk ke kapal kayu berwarna hijau berkapasitas 50 orang, bersuara berisik dan berbau solar.

Begitu kapal bergerak perut saya mulai bergolak, kepala berputar-putar seperti naik kora-kora di dufan. Suara berisik dari mesin kapal, bau solar menyengat, pemandangan ombak bergulung-gulung serta goncangan kapal yang tiada henti adalah kombinasi yang sangat bagus untuk menyiksa diri. Sering kali harus menarik nafas panjang sambil menelan saliva yang terasa asin yang terus menerus merangsang perut untuk mengeluarkan sesuatu. Omaigat kemana harga diri ini kalau sampai terjadi peristiwa seperti (maaf) wanita yang sedang hamil. Gelar wonder women pasti luntur dengan seketika.

Saya maju ke depan ke ruang kemudi mencari pelipur lara. Rupanya keduluan mbak-mbak yang bernasib sama telah tergolek di kursi samping pak nahkoda. Matanya tertutup rapat, hidung dan mulutnya ditutup jaket, tapi dengan kesadaran penuh alias hanya pura-pura tidur. Terpaksa saya duduk di pintu menghadap ke depan agar bisa melihat ombak begulung-gulung yang diterjang kapal. Perasaan lamaaaa.... banget ga nyampe-nyampe. Biarpun terasa jalan tapi kapal seakan diam di tempat.  

Saya naik ke atas deck untuk mengalihkan perhatian, ikut foto selfie. Wajah ceria senyum lebar tapi semua palsu. Perut saya bener-bener ga bisa kompromi. Kalau diturutin entahlah sudah berapa kali beraksi. Akhirnya setelah daya kekuatan tinggal seperempat merapatlah kapal di Pulau Sebesi tempat rombongan kami akan menginap.

Saya gendong ransel dan antri turun dari kapal. Begitu menginjakkan kaki ke tanah, bumi rasanya bergoyang, berputar sampai terbalik. Yang goyang buminya, kapalnya atau saya sih?? Kepala seperti dipukuli pakai palu, badan ga seimbang dan kaki tiba-tiba lemes ga bisa menahan beban. Saya bersimpuh di atas bebatuan dan bom yang siap meledak dari dalam perut akhirnya tak bisa dipertahankan... #hooeekk.... *setengah mati boo...

Beberapa tangan memijat leher belakang saya dan menyodorkan tolak ang*n. Dengan sisa tenaga saya sobek bungkusan warna kuning berisi cairan rasa mint. Tenggorokan sedikit kinclong apalagi ditambah air putih yang entah disodorkan oleh siapa. Setelah menunggu beberapa saat mata saya bisa melek dengan sempurna dan bumi ga bergoyang lagi. Melihat ke sekitar rupanya semua mata memandang ke saya. Duuh...

"Gimana udah enakan?"
"Ga pa-pa cuma acting kok"
"Wueeeekkk..."

Kami dijamu makan siang di pinggir pantai di dekat dermaga pulau sebesi. Sayur asem, ikan goreng dan telor dadar membangkitkan semangat setelah satu setengah jam melawan perasaan amburadul di atas laut. Selesai makan siang, kami diantar menuju ke homestay. Beberapa rumah warga disewa untuk penginapan kami, tentunya laki-laki dan perempuan dipisahkan. Listrik di Pulau Sebesi hanya menyala dari jam 18.00 hingga 24.00 sehingga terik pada siang itu tidak bisa dinetralkan dengan kipas angin maupun AC.

Setelah cukup istirahat gegoleran di lantai, acara sore itu adalah snorkeling di Pulau Umang-umang. Berbekal peralatan snorkel dan kamera tentunya ga boleh ketinggalan kami kembali ke dermaga sebesi lalu naik kapal lagi. Kenangan beberapa jam sebelumnya rasanya belum beranjak dari pelupuk mata. Tapi kali ini masih terkendali karena naik kapalnya hanya sebentar, Pulau Umang-umang ga seberapa jauh dari Pulau Sebesi.

Hamparan pasir putih yang lembut seperti bedak serta beraneka terumbu karang yang dikelilingi berbagai ikan warna warni menyambut kami. Subhanallah indahnya ciptaanMu.

Terumbu karang di Pulau Umang-umang
Tiduran di pasir putih nan lembut

Puas menikmati sajian alam yang memukau, kami kembali menaiki kapal dan kembali ke Pulau Sebesi. Malam itu di dekat homestay didirikan panggung hiburan untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Lagu dangdut dan joget-jogetan berlangsung hingga tengah malam. Tapi itu katanya teman-teman, saya ketiduran sampai dibangunkan makan malam pun tidak merespon. Mungkin saya lelah....

Keesokan harinya jam 3 pagi kami dibangunkan untuk bersiap-siap menuju ke anak krakatau. Dengan penerangan seadanya senter dan juga sorot Hp karena masa nyala listrik telah habis, kami menyiapkan barang seperlunya sambil mengumpulkan segenap nyawa. Setelah seluruh rombongan berkumpul kami bersama-sama menuju ke dermaga dan menaiki kapal.

Jam 03.30 kapal mulai beranjak dari dermaga Pulau Sebesi. Ombak dan angin dipagi itu lumayan membuat jantung berdecak lebih kenceng. Goncangan kapal membuat semua penumpang tak mau berjauhan dari pelampung. Air beberapa kali masuk ke dalam kapal dan mesin kapal terdengar tersendat-sendat dan sesekali mati. Saya dan teman-teman hanya bisa pasrah sambil komat-kamit berdoa tiada hentinya. 

EO kami menghimbau agar kami tidak membiarkan perut berlama-lama kosong, sehingga nasi uduk dan telor di dalam kotak segera dibagikan. Makan nasi uduk dipagi buta dengan kondisi mata setengah ngantuk tapi ga bisa tidur, kepala pusing amburadul dan perut bergolak, membutuhkan perjuangan yang sangat berat untuk menelan. Ditambah dengan aroma solar yang mengalahkan aroma harum nasi uduk dan telor, semakin ditelan semakin ingin dikeluarkan lagi.

Kapal sama sekali tidak bisa diam. Goncangan ke kanan kiri dan naik turun membuat kepala berputar dan perut teraduk. Saya merebahkan diri di sela-sela yang masih muat buat kepala. Begitu juga teman-teman yang lain. Kami semua tergolek tanpa peduli apa yang ada di dekat kepala. Ada punggung, pantat, kaki, kardus bekas nasi ga dipedulikan karena tak mampu duduk lagi. Terdengar beberapa kali suara mengeluarkan isi perut bersahut-sahutan dari berbagai sudut. Bau khas minyak angin bertebaran dimana-mana.

Setelah tiga jam terombang-ambing melawan ombak, kapal kami merapat di sebuah pulau dimana anak gunung krakatau bertengger di tengahnya. Kapal tidak bisa merapat ke pinggir sehingga kami terpaksa turun berbasah-basahan kaki. Begitu menginjak ke tanah bumi bergoyang dengan hebatnya. Bom dari perut siap meledak saat itu juga. Saya segera mencari semak-semak rerumputan dan jegeeeerrrrr.... Semua isi perut terkuras habis tiada sisa. Begitu juga dengan teman-teman yang lain. Pagi itu diawali dengan mabok massal. Luaaar binasaa... Ga kebayang gimana nanti pulangnyaa...

Setelah keadaan aman terkendali badan mulai seimbang, lalu dilanjutkan mendaki ke anak krakatau. Mendaki yang tidak seberapa hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Gunung ini terlihat gundul dan berpasir. Pohon-pohon hanya tumbuh di kaki gunungnya. Pendakian hanya diperbolehkan sampai setengahnya saja. Zona yang lebih tinggi dari itu tidak boleh dilewati karena berbahaya.

Sampai di zona yang dituju kami mengadakan upacara kecil-kecilan mengibarkan bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk merayakan hari ulang tahun Indonesia yang ke-69.
Mengabadikan gambar bersama seluruh rombongan. Ada satu warga asing yang menamakan dirinya Tejo (celana kotak-kotak paling depan). Foto seperti ini harus antri karena banyak rombongan lain yang berdatangan dari berbagai daerah untuk melakukan hal yang sama.


Dari anak krakatau kami akan melanjutkan snorkeling ke Legon Cabe, sekitar 20 menit naik kapal. Setelah turun dari krakatau kepala saya mulai pusing membayangkan harus naik kapal lagi. Sebungkus wafer dan biskuit tidak juga bisa melipur lara. Ombak di sekitar anak krakatau luar biasa bergulung-gulung. Kapal yang membawa kami oleng kesana kemari tapi syukurlah pak nahkoda sangat lihai mengendalikannya.

Tak berapa lama kapal berhenti di dekat tebing. Mesin dimatikan dan kapal dibiarkan terombang ambing. Beberapa teman yang ahli berenang langsung menceburkan diri ke laut beberapa harus memakai onderdil snorkel lengkap baru ikutan nyemplung. Tadinya saya tidak akan turun tapi diam di kapal justru semakin pusing  dan mual. Akhirnya ikut membaur di laut walaupun tidak bisa berenang.

Snorkeling di Legon Cabe

Lima belas menit berada di laut dan beberapa kali menelan air asin, perut saya terasa mual lagi. Saya bingung kalau sampai muntah diantara teman-teman yang mengambang apa jadinya? Lalu saya naik ke kapal dari sisi kanan melewati tangga bermaksud mencari obat-obatan. Tiba-tiba sampai di atas tangga bom dari perut tak bisa ditahan lagi. #Hoooeeeekk.... Teman-teman di bawah tentu saja kaget semua dan teriak sambil berusaha menjauh. "Mbaaakk... Jangan muntah disitu..." Tapi apa daya saya tidak bisa mengendalikannya lagi. 

Setelah sedikit enakan saya melanjutkan niat naik ke kapal. Tiba-tiba terasa mual yang lebih dahsyat dari sebelumnya dan tak tertahankan. Saya melongok ke jendela kapal sebelah kiri tempat saya berenang sebelumnya. Banyak teman-teman yang masih berada disana. Saya bingung dimana harus meledakkan bom yang lebih dahsyat ini, semua sisi kapal dan di dalamnya penuh dengan orang. Letak toilet terlalu jauh untuk dijangkau dengan bom yang sudah siap ditenggorokan. Akhirnya pecah juga dari jendela sebelah kiri... Pyuuurrr...!!! Seketika berhamburan ke laut. Teman-teman yang sedang asyik jadi terusik namun tak banyak yang bisa dilakukan. 

"Woooee... Jangan muntah di situuu...." 

Maaf pren maaf. Isi perut sampai habis tapi masih mungkak mungkuk lemes ga ada yang bisa dikeluarkan. Saya kehabisan tenaga dan bersandar di jendela. Tapi eh tapi kok jadi banyak ikan berdatangan ya berebut sesuatu berwarna coklat yang berasal dari perut saya. Hihihi....

Teman-teman di dalam kapal memijit leher dan punggung saya sambil menyodorkan obat, entahlah obat apa. Setelah minum obat saya tergolek tidur di lantai kapal dan tidak tau lagi apa yang terjadi. Saya dibangunkan setelah sampai di Pulau Sebesi. Baju sampai kering dengan sendirinya. Beginilah enaknya pergi bareng orang farmasi, gangguan sedikit langsung dikasih obat. Cihuuyy...

Setelah beres-beres ke homestay dan makan siang, kami siap-siap kembali ke dermaga canti dan mengakhiri liburan yang memabukkan itu. Perjuangan naik kapal belum juga usai. Masih harus melaut 1.5 jam lagi. Alhamdulillah sampai di dermaga canti hanya pusing sedikit tidak sampai tumpah. Lalu kami naik angkot yang kami sewa sebelumnya, kali ini terpaksa ditumpuk-tumpuk karena ada 5 teman yang tidak kebagian angkot. Sepanjang jalan badan susah bergerak, kaki kesemutan, ketindihan sana-sini tapi semua itu tidak mengurangi keseruan kami sampai ke pelabuhan bakauheni.

Perjalanan dilanjutkan lagi dengan naik kapal roro Bakauheni - Merak, seperti biasa saya tidur disepanjang perjalanan apalagi kali ini seharian tenaga telah dikuras untuk mengeluarkan bom. Tentunya makin mendalami mimpi di alamnya. Kapal kami sempat berhenti di tengah laut karena antri dermaga sehingga sampai di pelabuhan merak terlambat sampai 2 jam. Jam 24.00 akhirnya selesai juga kisah kelautan pada hari itu. Perjalanan ke anak krakatau begitu mengesankan bagi saya sekaligus bikin kapok untuk naik kapal kayu lagi, ampun deh.

Jun 12, 2015

Bersandiwara Ke Jepang

June 12, 2015 1 Comments
Saya pernah punya impian untuk jalan-jalan ke Jepang tapi tidak pernah bermimpi pergi disaat musim semi. Konon musim semi adalah peak season banyak wisatawan yang ingin melihat bunga sakura sehingga harga tiket selangit. Hotel dan penginapan mulai dari yang murah sampai yang mahal penuh. Andai saja jadi menantu raja minyak tentu tidak akan mempermasalahkan hal itu. Berhubung hanya modal ransel cukup bersyukur saya pernah melihat sakura di Chiang Mai, tidak usah bermimpi terlalu tinggi untuk melihat sakura di negerinya.

Banyak disarankan pergi liburan di low season agar bisa mendapatkan tiket murah meriah atau pesan tiket jauh-jauh hari sampai berbulan-bulan sebelumnya. Karena agak kesulitan dalam pengaturan jadwal sehingga saya takut untuk memesan tiket seperti itu. Rasanya mustahil bisa pergi ke Jepang di musim semi dengan harga tiket yang terjangkau oleh saya.

Suatu hari diakhir bulan Maret tiba-tiba ada rejeki nomplok, teman dari Backpacker Dunia memberi kabar sekaligus membantu membookingkan tiket promo murah air dari Kuala Lumpur ke Tokyo dengan harga 1,3jt pp buat awal bulan April yang mana sakura lagi blooming bloomingnya. Tentu saja menggiurkan. Jarang-jarang di musim semi ada tiket murah. Kebetulan Jakarta - KL juga lagi promo 700rb pp. Sehingga total Jakarta - Tokyo 2jt pp. Murah donk, harga biasa one way antara 2-4jt untuk pesawat jenis low cost, untuk pesawat full service sudah pasti diatasnya. Tapi berangkatnya tinggal 14 hari lagi, saya sempet khawatir dengan visa. Paspor saya masih yang biasa sehingga belum bebas visa. Yang penting tiket dulu deh urusan visa bisa diatur.

Beli tiket mendadak dengan harga murah dimusim semi, menurut saya luar biasa. Sebagai perbandingan jika ikut paket tour dengan tanggal dan jumlah hari yang sama harganya antara 15 - 18 jt. Dih ga banget. Kalau duit bisa cetak sendiri sih pasti mau.

Singkat cerita alhamdulillah pengajuan visa lancar dan tiba saatnya mengajukan surat cuti di tempat kerja. Seperti biasa bos rada kenceng kalau ada surat cuti di mejanya.

"Cuti mau kemana lagi?" tanya beliau bercanda tapi bernada sewot.
"Mau pulang kampung bu, mau lamaran"
"Perasaan kamu tiap cuti lamaran mulu"
"Iya bu yang nglamar saya banyak hehehe..."

Biarpun sedikit diceramahin tapi akhirnya dikasih juga. Yes. Welcome to Japaaan...!! Sebagai pelengkap sempurnanya sandiwara saat mulai cuti update status "Pacitan" jadi beneran dikira pulang kampung. 

Mohon maaf, kalau bilang ke Jepang pasti heboh. Biasanya bakal ada yang nitip ini itu. Berhubung hanya menggembel sendirian dan baru pertama kali, belum kebayang seperti apa. Kalau titipan ga dapet dikira ga peduli, bisa bisa sibuk dengan titipan dan ga fokus menikmati dunia. Belum lagi kalau gede gimana bawanya karena ga beli bagasi. Dan paling penting duit saya sangat terbatas kan belum jadi menantu raja minyak. Jadi okey ya anggaplah hanya cuti di rumah bukan ke Jepang hehehe...

Sesaat setelah landing di Narita

Jun 11, 2015

Terjebak di Ciwalk

June 11, 2015 0 Comments
Suatu pagi yang cerah di Kota Bandung, saya dan Christine hendak jalan-jalan ke alun-alun yang katanya sekarang bagus untuk sekedar nongkrong. Sejak dipimpin oleh Pak RK sang walikota yang ganteng Kota Bandung jadi lebih tertata dari mulai kolong jembatan hingga pusat kotanya. Apalagi beberapa waktu lalu Bandung menjadi tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika yang ke-60, sehingga banyak fasilitas umum yang diperbarui dan dirapikan.

Pagi itu saya dan Christine naik angkot dari depan RS Hasan Sadikin, entah jurusan mana saya hanya ngikut Christine karena dia yang lebih tau. Kota Bandung pagi itu masih sepi belum macet seperti biasanya hari libur. Kurang lebih satu jam, Christine mengajak saya turun tepatnya di belakang Masjid Raya Bandung yang mana di depannya terbentang luas rumput sintetik yang dikelilingi oleh beberapa macam bunga serta pepohonan yang baru ditanam. Itulah alun-alun Kota Bandung.

Karena perut masih kosong kami mencari makan sebelum keliling alun-alun. Beberapa warung makan masih tutup, sehingga mampir ke gerobak bakso yang kelihatannya sudah siap dipesan. Ternyata rasanya ala kadar tidak sesuai dengan harapan.

Selesai makan bakso, tiba-tiba Christine ditelpon oleh saudaranya yang tinggal di Bandung, katanya mau dijemput dan saat itu sudah berada di depan RS Hasan Sadikin. "Waduh aku sekarang di alun-alun, oh mau jemput kesini, ya udah..." Begitulah kata Christine menjawab telpon saudaranya.

"Mau diajak kemana Tin?" tanya saya.
"Ga tau katanya mau diajak jalan, trus gimana donk"
"Ga pa-pa ikut aja, ntar gw keliling sendiri"

Lalu kami menunggu ke depan alun-alun, tempat yang kira-kira mobil bisa berhenti. Beberapa saat kemudian mobil saudara Christine datang. Christine masuk ke mobil saya hanya melambaikan tangan, tapi tiba-tiba dipanggil "Ayo ikut aja..." Karena mobil ga bisa berhenti lama tanpa pikir panjang saya pun ikut masuk ke dalam mobil. Di mobil ada omnya Christine yang lagi nyetir, tante duduk di sebelahnya dan dua anak remajanya di belakang. Ketambahan kami berdua sehingga empet-empeten berempat. Untung badan kami kecil-kecil ga segede badan anaknya tante, jadi bisa nyelip di antaranya.

"Kita mau kemana tante?" tanya Christine.
"Enaknya kemana ya, kalau ke Lembang udah pasti macet, kalian pengennya kemana?" tante bertanya balik.
"Kita sih terserah aja"
"Ya udahlah ke Ciwalk aja"

HAAHH... Ciwalk?? Jiiaah... Pulang lagi donk. Itu kan deket kost'an. Kami pulang kerja sering melipir kesana sekedar makan es krim di dekatnya untuk melepas penat. Sampai-sampai bosan dan pernah berucap "Ga mau ke Ciwalk lagi ah, gitu-gitu doank, kalau pengen ke mall mending ke PVJ aja yang pemandangannya lebih kinclong" itu pernah saya ucapkan bersama Christine beberapa hari sebelumnya. Mungkin dosa dengan itu sehingga dibelokkan lagi.

Saya dan Christine lirik-lirikkan sambil menahan tawa. Tiba-tiba Hp saya berbunyi, rupanya bbm dari Christine.
"Nanti sore kita balik lagi aja ke alun-alun"
"Okey hahaha.."
"Gara-gara kita kemaren ngomong kya gitu sih"
"Iya dosa euy hahahaha..."
Hanya berani ngorol lewat bbm, ga enak dengan saudaranya Christine yang berniat baik mengajak jalan-jalan.

Sepanjang perjalanan menuju Ciwalk rasanya ga ada pemandangan yang spesial karena sudah terbiasa melewati daerah itu. Dan lebih biasa lagi saat lewat di depan RSHS dan kost'an hahaha... Hanya beda saat masuk ke area Ciwalk lewat jalur mobil menuju parkiran, biasanya jalan kaki langsung masuk ke mall. Itung-itung jadi tau Ciwalk dari luar sampai dalem. 

Setelah muter-muter ke mall seperti ga ada kerjaan, lalu nongkrong di J'Co untuk minum coklat dan makan donat. Pastinya banyak abege lagi main gejet sambil foto-fotoan selfie. Maksud hati pengen memanfaatkan sisa waktu sebulan di Bandung dengan mengunjungi tempat sebanyak mungkin, malah nongkrong di mall. Mana lama banget minum coklat segelas aja ga abis-abis. Pas banget seperti iklan salah satu operator telpon "Beli kopi secangkir harganya 40 ribuan minumnya sedikit sedikit biar tahan sampai siang, agar bisa wi-fian gratis"

Jun 8, 2015

Maafkan Saya

June 08, 2015 1 Comments
Penyesalan selalu datang terlambat karena waktu tidak bisa terulang. Andaikan semudah di cerita dongeng kembali ke lorong waktu sudah pasti saya akan kembali berkali-kali. Berhubung hidup ini menghadap pada kenyataan, jadilah semua harus dipetik hikmahnya. Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran untuk kedepannya nanti, khususnya buat saya sendiri.


Saya menyesal melihat foto ini

Saya bertemu dengan beliau di Jalan Dago Kota Bandung saat akan mengantarkan seorang teman membeli oleh-oleh khas Bandung. Tiba-tiba kami berpapasan dengan beliau ini yang katanya dari Solo (biasanya sih Wonogiri), karena sama-sama dari Jawa saya meminta ijin foto bareng dengan menyapa memakai Bahasa Jawa. Tadinya beliau hanya tertawa malu-malu sambil berlalu begitu saja tapi saya kejar lagi dan akhirnya mau. Setelah berfoto saya segera mengucapkan terimakasih serta mendoakan semoga dagangan beliau laris dan meminta maaf karena telah mengganggu waktunya. Saya pun segera pergi. Tapi tiba-tiba beliau berusaha menawarkan jamunya ke saya, berhubung saya pikir ga mau terlalu lama mengganggu waktunya karena sebelumnya beliau seperti sedang terburu-buru, akhirnya spontan saya bilang "Engga ibu terimakasih..." Terimakasih sekali sudah menyempatkan menuruti saya. Lalu saya mengejar teman yang sudah jalan jauh ke depan dan lupa begitu saja kejadian ini. 

Sebulan kemudian saat kembali ke kost saya melihat-lihat semua foto saat di Bandung dan menemukan foto ini. Saya merasa amat sangat menyesal kenapa waktu itu tidak beli jamunya. Padahal beliau sudah menyempatkan foto bareng saya yang sebenarnya ga penting banget cuma buat koleksi. Iseng ga jelas. Trus kenapa giliran beliau punya kepentingan saya abaikan begitu aja. Haduuh entahlah... Maafkan saya ya bu waktu itu semua terjadi spontan saya bener-bener ga berpikir panjang. Takut ketinggalan temen, takut mengganggu ibu, takut ini itu aaahh... Maaf banget maaf...

Akhirnya hanya bisa memohon pada Allah agar beliau selalu dilindungi, sehat, laris jamunya dan melimpah rejekinya, Aamiin Ya Robbal Alamin. Pelajaran berharga...