Jun 3, 2016

Gagal Fokus

June 03, 2016 2 Comments
Selama di Turki banyak yang membuat saya meleng alias gagal fokus. Di kereta, di bus, di pasar, di jalanan bahkan di pinggir kali sekalipun. Sebenarnya hanya tentang satu hal tapi jumlahnya banyak yaitu si ganteng nan bening. Ibarat air yang langsung diambil dari sumber di pegunungan bebas polusi, jadi seger banget.

Mulai terlihat sejak keluar dari Airport. Hampir semua sudut bikin mata jelalatan. Enaknya mau dibahas sekenceng-kencengnya juga mereka ga bakal ngerti. Untunglah saya pergi bareng Amel jadi ga perlu dipendam sendiri. Seperti saat di dalam metro...

"Mel lo jangan langsung nengok ya, itu yang di belakang lo pake baju putih bening bangeeett..." sambil pura-pura memandang ke arah lain.
"Woow iyaaa... Yang coklat di sebelahnya juga, yang kotak kotak juga..."
"Iya bener... Betah gw lama-lama disini"
"Gw juga betah"
"Pemandangannya bagus ya"
"Ga usah pulang deh kita"

Lain lagi saat kami masuk ke pasar tradisional di Alacati, hasil kebunnya memang bagus, sayur dan buah-buahan. Tomat, cabe, paprika, cerry, lemon hampir semua kualitas super dan harganya jauh lebih murah dibanding di Jakarta. Sepanjang jalan bikin melongo. Tapi obrolan saya dan Amel jadi ga nyambung.

"Bagus-bagus banget ya..." kata Amel sambil tak henti memainkan kameranya.
"Iya Mel Masya Allah, kok ada sih orang kya gitu"
"Kok orang sih, maksud gw paprika, lo ngliatin apanya?"
"Penjualnya"
"Astaga"
"Dari tadi merhatiin sampe tukang sampah aja cakep"
"Lo pilih-pilih dikit kek"
"Gw sih yang kelihatan aja"

Bukan hanya kami yang terheran-heran melihat mereka, mereka pun banyak yang curi-curi pandang layaknya ada selebritis karena muka kami disana termasuk asing. Kalau di negeri sendiri boro-boro dilirik orang, di Turki berasa laris manis apalagi di kota-kota kecil. Banyak yang tiba-tiba kasih senyum ramah atau sekedar say hello. Sebenarnya pengen ngobrol tapi terkendala bahasa. Kecuali pedagang yang baik karena ada maksud, tapi tetep ramah ga maksa, kalaupun ga jadi beli juga ga marah.

Saat di Fethiye kami sedang di pinggir jalan menunggu dolmus ke Oludeniz. Tiba-tiba ada cowok bening banget sambil nenteng buku, langsung deh mengalir obrolan karena gantengnya rada kelewatan.

"Mel ini yang di depan gw ganteng banget sih..."
Eh tiba-tiba tuh cowok malah nyamperin
"Where are you from?"

Katanya sih student ekonomi. Udah ganteng rajin belajar pula, gimana ga bikin deg-degan. Tapi sayang kami beda tujuan dan si ganteng dolmusnya datang duluan. Coba kalau searah... Ah!! Anda belum beruntung.

Belum lagi mas-mas yang di restoran atau di hotel. Itu sih sampe ga ada kata-kata lagi saking cakepnya. Subhanallah... Terbuat dari apa siiiih???

Alhamdulillah tidak ada yang jahat malah baiknya pada kelewatan. Tanya jalan tiba-tiba dikasih donat. Saat kepisah dengan Amel nanya kereta malah dibayarin. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya kehabisan dolmus di Ephesus tiba-tiba dikasih tumpangan. Belum lagi di hotel Goreme datang kepagian langsung dikasih kunci dan disuruh sarapan. Masih banyak lagi kebaikan-kebaikan penduduk lokal selama di Turki. Turki bener-bener bikin gagal move on. Semoga suatu saat bisa kembali lagi. Mau ikut?

Jun 2, 2016

Wisata Reruntuhan Di Ephesus

June 02, 2016 1 Comments
Saya dan Amel batal keliling Selcuk dengan menyewa motor karena beberapa jalan utama ditutup untuk acara bike festival. Sejak hari pertama datang itinerary kami mulai kacau karenanya. Walaupun akhirnya tempat-tempat yang utama pengen kami datangi, terjabanin semua.

Sore pertama kami menghabiskan waktu di Ephesus, yaitu komplek reruntuhan sisa-sisa dari sebuah kota kuno di jaman Romawi yang keindahannya masih tergambar dengan jelas. Bisa dijangkau dengan naik dolmus (angkotnya Turki) dari otogar (terminal) dengan ongkos 2.5 TL. Harga tiket masuk 20 TL. Kami membeli paket Turkey Museum Pass seharga 185 TL yang bisa digunakan hampir ke semua museum di Turki selama 15 hari. Bisa beli di loket museum-museum besar dengan menunjukkan paspor.

Sepanjang menyusuri reruntuhan tak hentinya membayangkan betapa megahnya dulu kota ini. Ribuan tahun yang lalu aja sudah bisa bikin bangunan sehebat ini. Luar biasaa. Orang jaman dulu cerdas banget. Bisakah dibenerin lagi? Rasanya mustahil karena terlalu luas dan megah.

Bangunan yang kemegahannya masih terlihat hingga sekarang diantaranya adalah Grand Theater yaitu undak-undakan tempat duduk balkon 3 tingkat. Seperti stadion separuh lingkaran dan tengahnya terdapat panggung pementasan. Konon ini adalah tempat diadakannya pertunjukan seni, pementasan drama dan juga adu gladiator dengan binatang.

Tak jauh dari Grand Theatre terdapat Celsus Library yang masih menyisakan pilar-pilar kokoh dan megah terbuat dari batu granit. Satu pilar dirangkul 2 orang belum cukup saking besarnya. Dinding di bagian luarnya dihiasi dengan ornamen patung dewa dewi yang bagus berukuran lumayan besar. Konon ini merupakan perpustakaan terbesar ketiga dimasa itu yang memiliki 12.000 pcs roll buku. Jaman dulu buku berbentuk gulungan.

Patungnya sedih "Melihat kalian sakitnya tuh disini..."

Selain dua tempat diatas masih banyak lagi reruntuhan menarik lainnya diantaranya House On The Slopes (sedang renovasi), Temple Of Hadrian, Temple Of Domitian, Water Palace, Odeum dan Prytaneion. Memang lebih baik menyewa tour guide biar dijelaskan satu per satu. Jangan seperti saya hanya modal browsing. Seharian belum tentu terkupas semua karena komplek ini luas sekali. Daripada penasaran saya membeli buku di abang-abang penjual souvenir.

Ada kejadian lucu, beberapa kali ketemu rombongan wisatawan dari Indonesia. Banyak ibu-ibu jalan kepleset sambil ngomel-ngomel "Apaan sih cuma lihat batu kya gini, mending shopping" Ya iya lah tante lagian ke tempat begini pake high heels, kya saya donk sendal jepit hahaha... Memang komplek ini hanyalah reruntuhan batu yang tak beraturan. Kurang menarik buat yang hobbynya belanja ke mall.

Lebih dari 3 jam kami menyusuri reruntuhan Ephesus dan pastinya tidak menjangkau semuanya karena matahari keburu tenggelam. Selain kaki juga rasanya berdenyutan.

Kami kehabisan dolmus untuk kembali ke kota. Beberapa sopir taksi menawarkan 10 TL tapi rasanya enggan untuk mengambilnya. Masih berat untuk beranjak seketika dari komplek ini. Kami memilih jalan kaki pelan-pelan sambil berharap ada dermawan yang bersedia memberi tumpangan. Sempat terpikir untuk nebeng bus wisata, tapi masih lama menunggu wisatawannya kembali.

Baru beberapa langkah dari parkiran tiba-tiba melintas sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang kakek. Saya sengaja menatap sang kakek dalam-dalam berharap diajak. Dan benar saja...

"Where are you going?" teriak sang kakek dari dalam mobil.
"Selcuk"
"Come in, I'm not teroris..."

Alhamdulillah akhirnya dapet tumpangan juga. Sepanjang jalan kakek bercerita tentang Ephesus dan perkebunan sayur serta buah-buahan yang berada di kanan kiri jalan. Dari cerita kakek makmur sekali tanah Selcuk ini. Sejak jaman Romawi hingga sekarang.

Sebelum turun kakek memberi kami jeruk gede yang berserakan di mobilnya. "This is Turkish orange, fresh and sweet". Masya Allah baik sekali kakek, thengkyu thengkyuu...


Di dalam mobilnya kakek

Jun 1, 2016

Cari Majikan Di Abu Dhabi

June 01, 2016 0 Comments
Suatu hari saya naik pesawat milik Uni Emirat Arab dan transit di Abu Dhabi. Mendengar kata Abu Dhabi pikiran melayang ke beberapa tetangga yang menjemput rejeki di negeri padang pasir itu. Banyak diantara mereka rela berjauhan dengan sanak family dan mengadu nasib disana atau memboyong keluarganya sekaligus. Tak heran jika di ruang tunggu beberapa kali bertemu dengan rombongan yang akan kerja di Abu Dhabi, terdengar dari obrolannya. Hihi ketauan nguping kan...

Pagi itu pesawat yang saya tumpangi dari Kuala Lumpur mendarat di Airport Abu Dhabi sekitar pukul 04.00 waktu setempat. Luas dan ramai sekali airportnya sehingga memakan waktu yang lumayan lama sejak pesawat landing sampai semua penumpang tiba di gedung terminal. Selesai pemeriksaan di pintu transit saya ke mushola untuk sholat subuh. Saya kelupaan mukena dimasukkan ke bagasi sehingga memakai mukena yang tersedia di mushola. Selesai sholat sudah ada ibu-ibu dengan logat melayu yang sudah menunggu mukena yang saya pakai.

"Silahkan..." kata saya kepada beliau.
"Makaseh.. Dari Malaysie?"
"Bukan, saya Indonesia"
"Oo.. kerje disini"
"Tidak, saya transit aja..."
"Ooo..."

Sepertinya beliau kerja atau ikut suaminya di Abu Dhabi. Saya dikira serupa... Itu cerita saat pertama kali transit di negeri onta.

Kedua kalinya ketika saya akan kembali ke tanah air dari Istanbul. Kali ini pesawat landing saat matahari terbenam di Abu Dhabi. Saya ke mushola untuk sholat maghrib. Bertemu seorang ibu yang tampak kebingungan. Tangan kiri mendorong troli berisi beberapa tas dan tangan kanan memegang paspor dengan boarding pass yang terselip di dalamnya.

"Mbak dari Indo juga kan?"
"Iya bu"
"Mau ke Jakarta naik Etih*d juga?"
"Iya"
"Sama kita bareng ya, yang mana ya pintunya?"
"Coba lihat boarding passnya bu"
"Ini saya ke Singapur dulu"
"Ouw saya langsung Jakarta bu gak ke Singapur, pesawat kita beda saya nanti jam 2"
"Oh beda ya saya sebentar lagi, trus saya harus kemana?"
"Ibu di terminal 3, nanti cari gate 4, lihat dari tulisan kuning yang diatas itu" kata saya sambil menunjuk ke papan gate yang banyak terpampang.
"Oo iya, tinggal perhatiin papan kuning itu aja ya"
"Iya bu ati-ati ya..."

Saya ingin melanjutkan niat ke mushola tapi tampaknya ibu masih menghentikan langkah saya.

"Tadi temen saya kasian lho mbak, bagasinya gak dinaikin ama majikannya hampir ketinggalan, untung punya saya dinaik-naikin" curhat.

Sambil mikir, dinaikin ke mobil apa ke pesawat ya? Apa gak dibeliin bagasi? Ah entahlah ngapain saya ikut pusing...

"Ouw gitu, trus gimana jadinya bu?"
"Jadi dinaik-naikin sendiri"
"Oh syukurlah"
"Trus tadi mbak gimana, dianterin gak ama majikannya?"

Mak JLEBB!!! Gedubrraaakkkk. Antara bingung pengen ketawa, percaya gak percaya. Kalau di film kartun ekspresi saya yang mata melotot sampai mencelat keluar trus ngglinding ke selokan. Berhubung ibu masih penasaran nungguin jawaban, ya mengalirlah jawaban seadanya...

"Iya bu tadi saya dianterin..." sambil mengangguk dan tersenyum maksa.

Sampai di toilet tak hentinya memandang diri di kaca, berarti tampang kya saya ini cocoknya punya majikan di Abu Dhabi ya, baiklah segera browsing cari lowongan...

May 28, 2016

Twelve Inside

May 28, 2016 0 Comments
Hari ini sebulan yang lalu saya berada di KLIA menunggu pesawat yang akan membawa saya ke negeri asal usul bunga tulip yaitu Turki. Alhamdulillah rejeki mengantarkan saya untuk melihat orang-orang cakep. Itulah yang selama ini terlintas jika mendengar kata Turki, sehingga kesabaran saya untuk segera sampai di tempat tujuan bener-bener diuji hehehe... Bukan deh saya tertarik dengan situs sejarah disana. Pengen tau negara dengan budaya perpaduan antara Eropa dan Asia. Ya gayanya sih biar nambah pengetahuan.

Saya bersama Amel partner travelmate yang akan pergi seperti anak kembar. Sebenarnya masih ada teman segrup di fesbuk yang pergi dengan waktu yang hampir bersamaan. Semua belum pernah ketemu tapi bikin grup kecil untuk sharing itinerary. Ada Tiara, Indah, Anisah, Yesti dan Zora. Kecuali saya dan Amel sebelumnya pernah bareng ke Korea dan memang kali ini berencana pergi sepaket alias barengan, alias itinerarynya samaan, alias patungan apa-apa biar lebih murah. Maklum karena saya orangnya murahan, dari mulai pesawat, hotel, bebelian apa aja semua cari yang murah. Selain saya dan Amel ada Tiara yang bareng sepesawat. Jadilah berangkat bertiga.

Setelah melayang di udara selama belasan jam, pesawat yang berbahasa arab itu mendarat dengan cantik di Istanbul Ataturk Airport. Sesuai dengan rencana setelah beres imigrasi dan claim bagasi kami akan menarik uang Turkish Lira di ATM, menyewa modem wifi lalu membeli Istanbul card untuk naik berbagai angkutan umum selama di Istanbul. Datanglah kami ke sebuah loket yang antriannya lebih dari 10 orang.

Satu per satu antrian mulai terurai dan tiba giliran kami untuk memesan kartu ajaib itu. Saya dan Amel hanya membeli 1 karena bisa digunakan lebih dari 1 orang. Sedangkan Tiara membeli sendiri karena tidak akan bareng seterusnya.

"Istanbul card 1" pesan Amel kepada ibu penjaga loket dengan menunjukkan jari telunjuknya.
"Twais sisaid" jawab ibu separuh baya yang cantik sambil mengutak atik komputernya.
"How much?"
"Twais sisaid" ibu mengangguk ramah dan tersenyum manis. Kesan pertama orang Turki selain cakep juga baik dan ramah.

"Ngomong apa sih dia?" tanya Amel menoleh ke saya dan Tiara.
"Gw dengernya twais sisaid"
"Twais sisha" lanjut Tiara.
"Itu ngomong Inggris apa Turki?"
"Kyanya sih Inggris?"
"Twice, dua kali gitu?"
"Ga tau hahahhaa...."

Kami saling melempar pandangan bengong dan berlanjut ngakak yang tak bisa ditahan. Maafkan ya bu. Tante yang antri di belakang kami pun ikutan tertawa. Tanya ke beliau juga geleng-geleng, tampaknya bukan Turkish.

"Sorry write here please" pinta Amel ke sebuah kertas lalu ibu menuliskan pelan-pelan, "12 inside" sambil mengulangi perkataannya "Twaaiiis ssiisaaid"

"Ooo... TWELVE INSIDE...." celetuk kami hampir bersamaan dibarengi dengan perasaan lega. Jadi harganya 12TL dan langsung masuk, nah begitulah kira-kira. Tapi sebenarnya menurut website harga kartunya 6TL dan depositnya ya terserah mau diisi berapa. Setidaknya saat itu kami punya 6TL buat naik metro ke hotel.

Beres urusan twais sisaid kami menuju ke metro subway dan mulai beraksi mencari posisi hotel yang telah kami booking. Untunglah hanya berjarak 4 stasiun dari airport dan tidak perlu pindah-pindah kereta. Sepanjang jalan mata saya bener-bener dimanjakan dengan parasnya orang-orang Turki. Rasanya antara orang dan boneka susah dibedakan. Udah tinggi, mulus, bening, brewokan tipis beegghh..... Kalo di film kartun tuh pasti mata saya bunyi plug plug trus keluar love love love warna pink yang buanyaaakk dan bertebaran dimana-mana. Selamat datang di Turki...

Apr 24, 2016

Asal Usul Bunga Tulip

April 24, 2016 1 Comments
Kebanyakan orang mengira bahwa bunga tulip berasal dari Belanda. Bunga tulip sebenarnya bukan bunga asli Belanda. Pada awalnya adalah bunga liar yang tumbuh di kawasan Asia Tengah yaitu di Penunungan Pamir, Stepa di Kazakhtan dan Pegunungan Hindu Kush. Orang-orang Turki yang pertama kali membudidayakan bunga ini pada awal tahun 1000-an dan pada masa pemerintahan kekhalifahan Ustmaniyah, terutama pada masa kekuasaan Sultan Ahmed III (1703-1730) bunga tulip berperan penting, sehingga disebut juga sebagai “Era Bunga Tulip.” 

Bunga tulip baru dikenal di Belanda pada abad ke-16 dan menjadi sangat populer di kalangan masyarakat kelas atas di negeri itu. Kata “Tulip” sendiri berasal dari bahasa Turki yang artinya “Sorban”, semacam kain yang dililit untuk menutupi kepala. Tidak diketahui kapan persisnya Belanda mulai membudidayakannya, tapi disebut-sebut mulai dibawa ke Belanda pada sekitar tahun 1550-an oleh kapal-kapal yang berasal dari Istanbul.

Bunga Tulip di Hitachi Sea Side Park Japan

Pada tahun 1592, seorang duta besar Austria yaitu Ogier Ghiselain de Busbecq membawa koleksi biji bunga tulip dari Wina. Biji-biji tersebut kemudian diberikan kepada temannya yang seorang ahli perkebunan Belanda yakni Carolus Clusius. Biji-biji tersebut kemudian ditanam dikebun praktik Universitas Leiden, Belanda pada tahun 1593. Karena hal itu, Carolus Clusius dikemudian hari menjadi tokoh besar dalam sejarah bunga tulip di Eropa. 

Carolus sangat tertarik dengan keindahan bunga tulip yang ditanamnya. Berbekal pengetahuan yang dimilikinya, Carolus kemudian melakukan penelitian untuk memperoleh variasi warna baru. Penelitiannya pun berhasil, tampilan bunga tulip menjadi semakin indah. Melihat keindahan warna tersebut, banyak orang-orang di sekitar Carolus yang ingin membeli bunga hasil penelitiannya itu untuk dibudidayakan kembali. Sejak saat itulah bunga tulip menjadi populer di negeri Belanda. Sudut-sudut kota dipenuhi dengan pemandangan bunga tulip yang indah dan menawan.


Modelnya juga ga kalah menawan

Bunga tulip saat ini telah berkembang menjadi lebih dari 3.000 varietas dengan variasi warna dan bentuk yang berbeda-beda. Belanda menjadi satu-satunya negara produsen bunga tulip dan diimpor ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Sehingga top of mind bunga tulip yang berasal dari Belanda itu memang tidak bisa disalahkan karena Belandalah yang mempromosikan tulip secara komersial.

**Diambil dari berbagai sumber kecuali fotonya, diantaranya :
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Tulip
http://www.allaboutturkey.com/tulip.htm
http://www.holland.com/global/tourism/article/history-of-tulips-in-holland.htm
http://m.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/tahukah-anda-bunga-tulip-warisan-kekhilafahan-islam-turki-ustmani.htm

Feb 29, 2016

Tokyo Disini

February 29, 2016 2 Comments
Hari ketiga di Tokyo saya dan Adek main ke Theme Park, orang Jepang bilangnya "Disini" sedangkan bahasa Inggrisnya "Disneyland". Rencananya dari pagi sampai malem secara tiketnya kan mahal sayang kalau tidak dimaksimalkan. Eh ternyata susah bangun pagi. Selesai subuh tidur lagi kebablasan, suasana winter memang enak banget buat meringkuk di dalam selimut. Jam 11 siang saat matahari mulai anget, anget aja tidak ada ceritanya bikin gerah, kami baru bergerak dari penginapan. Satu jam perjalanan setelah 2 kali pindah kereta barulah sampai di Tokyo Disini.

Selamat datang di Tokyo Disini Adek dan Kakak. Selamat kembali ke masa kecil.

Tokyo Disini letaknya di daerah pantai jadi anginnya lumayan kenceng kalau kena pipi serasa dielus-elus pake es. Mak wuusshhh bbrrrrrr.... Biar langit biru cerah matahari bersinar terang tapi tetep menggigil. Kirain winter pengunjungnya bakal sedikit, taunya rameee banget. Banyak rombongan anak-anak SD, SMP, SMA dan tentu saja balita. Balita yang pipinya pinky pinky kya mochi baru belajar duduk. Banyak juga abege-abege tua, trus pakai pernak pernik tokoh disney tanpa malu-malu lagi. Asyiknya mau bertingkah seperti apa juga cuek. Hari yang halal buat kekanak-kanakan.


Contoh abege tanggung - ga rela dibilang tua

Begitu melewati pintu masuk rasanya pengen joget jingkrak-jingkrak mengikuti musik ala negeri dongeng yang terdengar dari segala penjuru. "Oooo ooo ooo came on let's go, happines is here..." Semua gemesin terlebih saat itu temanya Frozen Fantasy so pasti dimana-mana banyak Anna dan Elsa. Pilem kartun kesayangan hihihii...

"Fotoin donk ama Elsa... Fotoin ama mickey... Adeeekk ini lucu yaa..." 
"Hooo... Petakilan. Ini mah gue ngasuh elu...!!!" adek ngomel-ngomel sepanjang jalan.


Adek Anna Yulyana dan Kakak Elsa Sukmawati

Ada satu lagu yang mengingatkan saya ke masa kecil yaitu It's Small World. Dulu jam dinding di rumah akan bernyanyi setiap jam. Saya paling suka dengan nada lagu saat tepat pukul 7. Musik It's small world after all, it is small small world... akan berdering sekitar 1 menit.

Dapet gelar "Petakilan!!"

Antrian di semua rides rata-rata 90 - 120 menit. Saya tidak punya stok kesabaran untuk berdiri diantaranya, terlebih disaat udara dingin menusuk tulang. Mending keliling aja sambil makan-makan. Untung saya orangnya gampangan cuma diajak muter-muter juga nurut. Apalagi kalau dibeliin popcorn jadi diem anteng duduk manis sampai tiba saatnya afternoon parade.


Afternoon Parade, Ho oo oo oo ooo... come on lets go happines is hereee...
Dadaaah sayaaang... Bebeb bertugas dulu yaa...
Dadaaah cintaaaa... Ati ati yaaa... *Bahagianya didadahin ama bebeb.

Salut dengan teraturnya orang Jepang saat nonton parade, yang depan duduk rapi semua tidak menghalangi yang di belakang. Sepanjang acara tetap diam diposisinya tidak ada yang berulah aneh-aneh. Selesai acara, kertas alas duduk langsung diberesin lagi bersih seperti semula. Anak-anak kecil yang mau minta tanda tangan ke tokoh-tokoh kartun yang berkeliaran (opo sih namanya), juga antri dengan tenang, rapi dan santun sekali.


Antri minta tanda tangan mas kartun

Paling bikin ngiler berkepanjangan adalah pernak pernik merchandise "Disini-land". Pastinya lucu-lucu banget tapi sayang harganya juga tidak kalah lucu. Harus memperbanyak istighfar biar kantong tidak sampai kering kemarau. Saya masih nyesel tidak jadi beli ember lucu yang bentuknya macem-macem buat wadah popcorn. Tadinya mikir buat apa (lupa kalau punya ponakan cewek), taunya pas pulang kepikiran mulu karena di Indonesia tidak ada.


Embernya kya yang dipegang ama neng ini.
Ponakan Jepang nyangklongin ember

Diakhir cerita jadinya tidak mencoba rides apapun, hanya membeli makanan dan beberapa merchandise yang penting-penting. Kebetulan saya butuh sarung tangan winter. Itu juga gara-gara pengen punya bocah di sebelah pas nonton night parade hehehe... Maklum ya jaman kecil tidak pernah kenal begituan. Boro-boro lah semua mainannya juga dari gedebog pisang.

Setelah nonton Night Parade kakak dan adek pulang.. Dan masih mampir lagi ke toko souvenir besar setelah pintu keluar, nganterin Adek ngabisin yen.

Feb 10, 2016

Apology Gifts

February 10, 2016 0 Comments
Suatu hari kakak liburan bareng temen yang biasa dipanggil adek ke Tokyo. Kami menginap di salah satu guesthouse di daerah Minami Senju dengan kamar dormitory 6 bed atau bahasa kerennya disebut kamar asrama. Ini kali kedua kakak menginap di guesthouse itu karena nyaman sehingga males cari yang lain. Lagi pula takut nyasar kalo harus cari-cari yang baru secara kan lagi musim dingin, bisa-bisa beku kelamaan di luar. Lucunya di guesthouse itu begitu cek in dikasih seperangkat sprei dan harus dipasang sendiri. Badan capek abis perjalanan panjang masih diharuskan pasang sprei... Kan kucrut. Baru kali ini sih nemu yang begini seringnya pas datang udah rapi dan langsung bobok. Ya anggep aja pindahan kost lah.

Nah bagi adek yang biasa nginep di kamar VIP kya gini pasti aneh. Udah kamarnya rame-rame, tempat tidur bertingkat, kamar mandinya di luar harus pasang sprei sendiri pula. Lengkaplah penderitaan. Sebelumnya dari airport juga naik bus dan kereta yang mana harus naik turun tangga dan angkat koper sendiri. Biasanya kan adek tinggal duduk manis semua udah ada yang ngatur hihihi... Mangenak...!!

Begitu masuk ke lobby yang mungil kakak langsung menyapa mase resepsionis yang wajahnya udah ga asing lagi.

"Hai.. Saya kakak dari Indonesia, udah booking ya"
"Okey sipp saya tau.."

Waahh senangnya ga begitu lama proses cek in selesai trus dikasih 2 pasang sprei dan kunci kamar. Kamarnya nomer 301 di lantai 3 ga asing lagi itu kamar kakak yang dulu. Naiknya harus pake tangga manual, jadi kita angkat lagi adek kopernya...

Saat masuk ke kamar, kami kaget setengah loncat kok kamarnya berantakan banget ada 2 dedek abege Jepang brisik, mereka penghuni bed sebelah. Yang satu rambutnya biru dan satunya lagi dikriwil-kriwil, kya cosplayer di Harajuku atau kya gambar yang di komik-komik. Berantakannya bener-bener diluar kemanusiaan, barangnya buanyaaaakk digelar selantai sampai mo lewat aja susah. Pengalaman pertama adek nginep di kamar asrama langsung disuguhin pemandangan kya gini. Mana kakak udah koar-koar lagi "Biar rame tapi enak kok, asyik". Nah kalo berantakan dan brisiknya over dosis ya mana ada enaknya. Duh dedeeekk... mengacaukan kedamaian aja. Garuk garuk kepala yang ga gatel.

"Trus gimana?" kakak merasa bersalah.
"Ga papa kita nikmatin aja" ihh adek emang baik.

Lalu adek menata bednya memasang sprei dan sarung bantal. Kakak merenung mengingat-ingat beberapa bulan yang lalu di kamar ini temennya baik-baik semua, berantakannya masih wajar hanya di bednya masing-masing tanpa mengganggu wilayah tetangga.

Selesai menarik nafas kami keluar mencari makan ke market sebelah guesthouse. Membeli makanan siap santap, paket nasi yang udah ada lauknya. Kirain lauknya nugget taunya perkedel kentang. Rasanya aneh semua, yang penting dimakan karena inget belinya pake Yen.

Sambil lewat coba nanya ke mase "Ada kamar lain ga?" Kata mase ga ada, nampaknya mase langsung tanggap, sebelum kakak curhat mase langsung jelasin "Dua Japanese girl besok cek out". Ouw okeylah semoga malam ini cepat berlalu.

Jam 11 malem waktunya tidur si dedek masih brisik aja cekakakan berdua, lampu juga masih terang benderang. Kalo kya gini mana bisa bobok. Akhirnya pasang tanduk juga...

"Dedek tolong ngerjain PRnya diluar aja ya, ini udah malem kakak mau tidur jangan brisik" pake bahasa Inggris medok kejawen.

Dedek cuma senyum senyum trus jawab pake bahasa dia yang bunyinya "lkdbfbxhhb hdjdjddhhfhf klrutruhd mskfhhd" abis itu lanjut ngobrol lagi kakak dicuekin. Iiigghhhh.... Dongkoool !!!

Tegur lagi pake bahasa tarzan, nunjuk ke pintu dan berpose kya orang tidur, sstttt...!! Nempelin jari di bibir. Nah baru deh dedek ngerti. Lalu ngeberesin barang seperlunya buat dibawa keluar, sambil beberapa kali bilang cotomate cotomate sambil nunduk-nunduk.

"Ga suka cotomate sukanya cotomakasar, cepetan!! Mau kakak plester?"
"Iya iya keluar sekarang kakak..."

Tutup pintu matiin lampu dan bobok bleg!!! Akhirnya drama pada malam itu selesai.

Pagi harinya adek bikin sarapan di dapur mungil yang nyempil di tengah-tengah tangga penghubung lantai 1 dan 2. Pastinya lebih enak dari pada perkedel Jepang semalem. Pas balik lagi ke kamar, dedek abege udah berulah lagi makan-makan di kamar, cekakakan dan reruntuhannya belum juga diberesin malah semakin kacau. Haduuuhh pada kerasukan apa sih dedeeeeekkk....!!! Kakak ga bisa diginiin.

Dari pada nyeseg mending segera jalan-jalan, lagian udah siang juga temen-temen penghuni kamar sebelah juga udah beredar entah kemana. Kakak turun duluan menemui mase yang saat itu lagi bebersih.

"Mase itu temen sekamar dedek harajuku brisik dan berantakan banget, liat nih fotonya, sampe sekarang belum beres-beres juga"
"Ouuww... Tapi mereka sebentar lagi cek out"
"Nanti setelah cek out tolong bersihkan kamarnya"
"Okey okey.. Maaf ya.."

Inilah penampakan sarangnya dedek, spreinya juga ga dipasang, jorookk...

Siang itu kami mider-mider di kota Tokyo, pertama ke Tokyo Skytree. Kami sengaja jalan kaki pelan-pelan dari penginapan. Biar pucuknya kelihatan tapi memang lumayan jauh. Sepanjang jalan banyak hal menarik, pastinya kamera ga berhenti jeprat jepret selfie. Sebelum nyebrang jembatan diatas kali Sumida ada tempat turistik saat musim semi yaitu Sumida Park. Banyak sekali bunga sakura sayangnya baru nongol calon kuncupnya, ada sedikiiitt yang kecepetan mekar itupun sepohon paling beberapa biji aja. Dulu kakak pernah kesitu pas Sakura lagi mekar keren bangets, pinky pinky jatuh cinta gitu deh.

Sampai di Tokyo Skytree hanya foto di bawahnya aja, ga berminat untuk naik. Sudah terbayang lihat kota dari ketinggian kya di Monas. Di pelatarannya banyak lampu-lampu illumination mungkin bagus kalo malem. Tapi siang aja dinginnya bikin menciut apalagi malem, mending bobok aja.

Kami melanjutkan mider dengan membeli tiket subway one day pass di stasiun setelah Stasiun Tokyo Skytree lupa namanya. Di stasiun itu kami sempat bingung nyari jalur kereta apalagi petunjuknya pakai huruf keriting. Harus difoto-foto disamain dulu kya anak kecil mainan carilah perbedaan pada gambar berikut ini. Kami akan ke Stasiun Shibuya ingin melihat Crossing Shibuya yang katanya kalo pas lampu merah banyaaak banget orang nyebrang dari berbagai arah. Ternyata memang iya. Kami juga ikut-ikutan nyebrang. Kalo liat di TV kya yang luas banget pas liat aslinya ya begitu aja. Tak lupa juga foto bareng patung gukguk Hachiko si hewan setia yang letaknya ga jauh dari situ, sebagai pelengkap aja kalo ditanyain orang pas pulang nanti.

Entah karena dingin atau mungkin jenuh dengan keramaian kota jadi ga pengen muter di sekitar Shibuya, pengen lanjut jalan lagi ke tempat lain. Nah akhirnya kami ke Ginza niatnya mau ke Uniqlo. Ciee cieeee... Adek mo shopping ya? Uniqlo di Ginza ini katanya toko Uniqlo yang terbesar di dunia, terdiri dari 12 lantai yang pasti koleksi pakaiannya paling lengkap.

Sebelum keluar stasiun mampir ke pusat informasi untuk meminta peta. Tapi membacanya bingung, Uniqlo pun tidak ketemu dan kesasar ke restoran India berlabel halal. Kami mampir dulu kesana untuk menyambung nyawa sekaligus menumpang sholat. Menu yang tersedia adalah makanan yang kakak benci yaitu kari-karian dan berbagai macam nasi briyani. Terpaksalah memesan nasi briyani yang ternyata rasanya ga enak dan udah pasti harganya mahal.

Welcome to Uniqlo. Mungkin begitulah teriakan para petugas menyambut kami dan pengunjung lainnya. Tapi pake bahasa Jepang yang kedengarannya kya "Mashe mashe mashee... Mashe masheee..." wes mbuh lah semua teriak begitu. Kalab lihat baju dan jaket disana rasanya pengen dibeli semua. Ukuran apa saja available dari mulai XS sampe XXXL, model apapun pasti ada. Karena macthing semua jadi bingung mau beli yang mana. Apa aja dicobain kakak ukuran XS atau S dan adek XL tapi akhirnya mengingat kebutuhan, hanya membeli beberapa potong saja diantaranya jaket untuk menyelamatkan diri dari kedinginan di Jepang.

Keluar dari Uniqlo belum terlalu larut malam tapi berhubung dingin banget kami memutuskan pulang ke penginapan. Lagian udah nenteng-nenteng belanjaan pastinya repot kalo masih lanjut jalan-jalan. Tak lupa mampir ke market sebelah buat belanja sayur dan keperluan dapur.

Saat masuk ke penginapan cantik tiba-tiba kakak dipanggil oleh Mase.

"Hello kakak... Temen sekamar si dedek abege Jepang sudah cek out, mereka nitip minta maaf ke kakak atas ketidaknyamanan sekamar dengannya. Dia ga tau kakak ngomong apa karena ga bisa bahasa Inggris"
"Oh begitu..." lega sekali.
"Dan dedek menitipkan ini untuk kakak" lanjut mase sambil menyodorkan segepok cemilan.
"Waoow ini semua buat kakak??" kaget campur seneng dan merasa berdosa.
"Buat kakak dan ada juga yang buat saya" jelas mase.
"Mase makasih.. Sampaikan makasih juga pada dedek kalo nanti ketemu lagi"

Rasanya pengen kakak peluk tuh dedek-dedek, jadi kasian semaleman kakak cemberutin aja.

Gift titipan dari dedek.

Akhirnya kakak dan adek kembali ke kamar dan kenalan dengan temen baru dedek abege Jepang yang cantik dan santun sekali, jauh berbeda dengan dedek harajuku. Baiklah kakak istirahat dulu ya kapan-kapan dilanjut lagi ceritanya. Arigato...