Feb 11, 2018

Stasiun Terindah Di Dunia

February 11, 2018 0 Comments
Menjelajahi stasiun terindah di dunia yang berada di Moscow adalah salah satu bucket list saya, seandainya kesampaian menginjakkan kaki di Rusia. Moscow Metro memiliki 12 jalur dan lebih dari 200 stasiun yang konon kabarnya 44 diantaranya sudah terdaftar sebagai warisan dunia UNESCO. Bahkan terdapat Museum Moscow Metro yaitu di stasiun Sportivnaya. Menurut sejarah, pembangunan istana bawah tanah ini dimulai pada 15 Mei 1935, dengan satu jalur dari Sokolniky ke Park Kultury.

Wisata keliling stasiun mewah ini murah meriah sekali hanya dengan membeli 1 kali tiket masuk seharga 55 rubels (sekitar 14 ribu rupiah) kita bisa mengeksplor seluruh stasiun, asal tidak keluar dari jalur dulu sebelum perjuangan selesai. Kereta tiba dan berhenti rata-rata sekitar dua menit sekali sehingga tak perlu khawatir ketinggalan kereta.

Harus ekstra sabar menunggu sepi, hampir semua stasiun sibuk sekali banyak orang berlalu lalang sepanjang hari. Buka dari jam 05.00 sampai jam 01.00 dini hari. Dijamin bakal betah berlama-lama di dalam, menikmati indahnya interior yang selalu berbeda-beda di setiap stasiun. Ditambah banyak pemandangan bening yang berlalu-lalang, sejauh mata memandang. Tapi jangan heran jika mereka bermuka cemberut dilipet-lipet seperti mau makan orang dan cuek bebek. Memang seperti itu tipikal orang Rusia, tidak akan tersenyum dengan orang asing apalagi jika tidak ada kepentingan.

Sebelum menjelajah sebaiknya pelajari dulu jalur-jalur metronya agar tidak kesasar. Saat itu saya diberi map versi Inggris dari pusat informasi. Ternyata di stasiun tulisannya kriting semua tidak ada bahasa Inggris sama sekali. Kalaupun ada hanya sedikit dan seringnya tulisan exit. Tanya ke petugas dan orang di sekitar bahasanya seperti di film Masha and the Bear semua. Jadilah hanya mengandalkan google translate, browsing dan menyamakan gambar, seperti sedang bermain kuis, carilah 5 perbedaan pada gambar berikut ini.

Tapi segala kesulitan itu akhirnya terbayarkan. Rasanya seperti bukan berada di stasiun tapi seperti di istana kerajaan di negeri dongeng. Jangan lupa siapkan kamera dengan memory sebanyak-banyaknya. Berikut ini beberapa gambar yang bisa saya abadikan dengan sedikit keterangan yang saya ambil dari berbagai sumber. Aslinya jauh lebih bagus dan masih banyak lagi. Saya tidak bisa menjangkau semua stasiun karena keterbatasan waktu.

1. Stasiun Arbatskaya

Dirancang oleh arsitek Soviet Mikhail Polyakov yang memproyeksikan sebuah bangunan yang saat ini menjadi Hotel Hilton Moscow Leningradskaya (Legion Media). Stasiun pusat di Jalur Biru ini mengarah pada salah satu situs yang paling terkenal di Moskow yaitu Lapangan Arbatskaya, termasuk juga Jalan Arbat dan Jalan Noviy Arbat yang ada di dekatnya.  

Memiliki platform terpanjang di bawah tanah ibu kota Rusia setelah stasiun Vorobery Gory. Lantainya terbuat dari granit beraneka warna membentuk pola karpet yang khas. Sementara pilarnya dihiasi dengan hiasan keramik putih. Lampu gantung di stasiun ini terbuat dari perunggu berlapis emas. Konon stasiun yang berada di sebelah gedung milik staf umum angkatan bersenjata ini dirancang sebagai bungker para pekerjanya.


2. Stasiun Belorusskaya
Berada di jalur Koltsevaya diberi nama seperti terminal di dekatnya Belorussky Rail. Tema interiornya Belarusia.


3.  Stasiun Komsomolskaya

Berada di jalur Koltsevaya, antara stasiun Prospekt Mira dan Kurskaya. Stasiun ini terletak di pusat kota yang sibuk yaitu Komsomolskaya Square. Gaya Baroque, dengan lampu kristal dan dinding atap berwarna kuning. Terdapat foto para pahlawan dalam era Komunis.


4. Stasiun Prospekt Mira

Berada di jalur Koltsevaya, berlantai monokrom hitam dan abu-abu. Terdapat lampu kristal gantung dengan pilar-pilar besar yang dilapisi dengan marmer dan hiasan gambar sejarah Rusia.


5. Stasiun Ploschad Revolyutsii

Meski masih dalam perdebatan, Ploshchad Revolyutsii ini dianggap sebagai salah satu stasiun paling megah di metro kota Moscow. Dengan adanya 76 patung perunggu yang menggambarkan masyarakat Soviet dengan beragam profesinya, mulai dari tentara, pendukung revolusi, petani, pelaut, pekerja pabrik, insinyur, pelajar dan masih banyak lagi. Karena keterbatasan ruang di setiap lengkungan di stasiun ini dipakai untuk menempatkan patung. Banyak patung yang dibuat dengan posisi duduk, berlutut, atau berjongkok. Kebanyakan masyarakat menganggap posisi tersebut kurang baik karena melambangkan represi sosial. Meski demikian, Stalin begitu menyukainya, bahkan banyak orang yang melewatinya sambil menyentuh patung-patung itu demi mendapatkan keberuntungan.


6. Stasiun Kiyevskaya

Stasiun Kiyevskaya adalah pintu ke pusat perbelanjaan Yevropeyskiy dan stasiun kereta api dengan tujuan Kiev dan kota-kota lainnya di Ukraina. Dekorasi stasiun ini didedikasikan untuk Soviet Ukraina dan Dewan Pereyaslav tahun 1654 yang menjamin perlindungan militer Hetmanat Cossack oleh tsar Rusia sebagai balasan atas kesetiaan orang-orang Cossack. Dinding stasiun ini dihiasi dengan 24 ornamen lukisan yang menunjukkan kehidupan sehari-hari orang Ukraina, dilengkapi dengan pola-pola menakjubkan di bagian lantainya. Sumber : Vostock-Photo.


7. Stasiun Novolobodskaya

Terletak antara stasiun Belorusskaya dan Prospekt Mira, pada dindingnya terdapat hiasan kaca lukisan karya seniman Latvia.


8. Stasiun Elektrodavodskaya

Stasiun dengan gaya futuristik ini terletak di jalur Arbatsko-Pokrovskaya ada enam kolom dengan lampu bulat berjumlah 318.

Curhatan Balerina Tak Sampai

February 11, 2018 0 Comments
Di kota Madiun saya menghabiskan masa SMU. Sekamar dengan saudara yang punya hobby marah-marah sungguh menyakitkan. Hampir setiap hari makan sambel goreng ati cabe rawit pedas hingga level 30. Tidak ada pilihan lain sehingga harus menebalkan telinga, menguatkan bendungan mata dan melonggarkan pikiran agar sesak di dada tidak terlalu membebani. Sesekali jika bendungan itu rapuh ada gudang di sebelah kamar yang setia menampung bulir kristal itu berjatuhan. Lalu ada kamar mandi di sebelahnya yang siap membersihkan sisanya hingga tak berbekas.

Di kota Madiun ini pula saya pertama kali mengenal balet. Bukan karena sekolah balet, ikut les atau nonton pertunjukan. Tapi dari gudang tempat saya menyendiri menetralisir kesedihan tatkala Tuan Putri Cabe Rawit sedang datang bulan. Siklus Tuan Putri ini kadang bisa terjadi sepanjang bulan.

Serangkaian buku mungil berjejer di rak agak acak-acakan, berselimut debu dan sarang laba-laba. Di pojok rak di dekatnya berserakan butiran hitam seperti beras gosong yang tak lain adalah kotoran tikus. Bau khas gudang menjadi tempat favorit nyamuk untuk bersarang. Tampaknya sang pemilik buku yang telah beranjak dewasa dan kuliah di luar kota itu tak menghiraukan lagi koleksinya. Beliau adalah putri bungsu Pak Sarmo, bapak kost paling baik sepanjang masa.

Diam-diam saya mengambil volume 1 dan mengelapnya pakai baju bekas. Tokoh kartun cantik sedang menari menghiasi sampulnya. Mari Chan. Itulah judul komik Jepang yang saat itu bernasib merana. Karya Kimiko Uehara bertema mengenai balet (seri yang mana saya lupa). Lembar demi lembar bisa membantu saya mengalihkan perhatian sampai akhirnya terjebak penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Namun sayang harus terputus di volume 3. Buku berikutnya entah dimana.

Suatu hari saya coba mampir ke persewaan buku di dekat sekolah. Mata tak asing lagi dengan si mungil yang berjajar rapi di rak. Lengkap sekali. Tersedia juga serial Mari Chan yang lain seperti Silver Toe Shoes, Lovely, Nyanyian Angsa dan Happy Mari Chan. Bagaikan kucing disuguhi ikan asin. Sejak itu saya sering menyambangi untuk meminjamnya.

Marika yang biasa dipanggil Mari sejak kecil sudah akrab dengan dunia balet. Dia mendapatkan warisan sepatu perak dari ibunya yang juga seorang balerina. Suatu hari selesai pentas Mari dijemput tetangganya dari asrama untuk diajak pulang. Mari mendapati ibunya sedang sakit parah. Ibunya berpesan agar Mari mencari ayahnya ke Tokyo. Mari yang mengira ayahnya telah meninggal sangat terkejut. Lantas semua berubah menjadi duka karena tak lama kemudian ibunya meninggal. Sesuai pesan ibunya lalu Mari pergi ke Tokyo. Di perjalanan bertemu dengan Anita yang pada akhirnya diketahui ternyata mereka saudara kandung dan seterusnya.

Di seri yang lain Mari disukai oleh laki-laki pasangan narinya tapi laki-laki itu juga disukai oleh pesaingnya. Mari seharusnya menjadi pemeran utama di sebuah pentas namun akibat dicurangi oleh pesaingnya akhirnya gagal. Di seri yang lain lagi, ibunya Mari meninggal, karena ayahnya harus bertugas ke Amerika maka dimasukkan ke sekolah balet. Dengan berbagai tempaan hingga akhirnya menjadi prima balerina.

Itulah potongan cerita yang saya ingat dari komik Mari Chan. Hampir mirip dari semua seri yang ada yaitu kisah sedih lalu happy ending. Sayangnya komik ini alurnya terlalu cepat sehingga terasa seperti membaca ringkasan cerita. Sering kali masih fokus menikmati suatu cerita, tiba-tiba di lembar berikutnya sudah ganti cerita lagi.

Banyak pesan moral yang bisa diambil dari komik ini diantaranya ketangguhan dan kerja keras untuk menggapai cita-cita. Ketabahan untuk tetap bangkit saat dalam cobaan yang berat. Biarpun hanya fiktif namun dapat memberikan efek psikologis buat saya terutama saat menghadapi Tuan Putri Cabe Rawit. Saya mencontoh ketegaran Mari yang juga punya kakak kerap berlaku kasar. Bedanya kalau saya bukan dipukul tapi sering dikasih perkataan cinta yang nohok sekali.

Penari balet di dunia nyata yang saya tau saat itu hanya Sherina cilik dan beberapa yang suka nongol di TV tidak tau namanya. Tapi agak heran kenapa tidak seperti di komik berdiri pakai ujung jari dan berputar-putar atau angkat kaki lurus sampai 180°. Apalagi tokoh Black Swan diceritakan bisa berputar sampai 32 kali. Benarkah gerakan seperti itu ada di dunia nyata? Atau fiktif belaka? Membahas tentang balet hanya akan ditertawakan teman-teman. Karena hanya golongan kelas atas saja yang mampu menonton pertunjukan ini. Dan hanya dari kalangan berduit juga yang menyekolahkan anaknya untuk menjadi penari balet. Sedangkan anak kost baca komik saja hanya bisa rental.

Belasan tahun berlalu kehidupan telah jauh berbeda namun penasaran tentang balet belum terlupakan. Entah kapan dan dimana bisa nonton balet seperti yang ada di komik. Rasa takut diledek menjadi alasan untuk memilih diam "Gaya banget mau nonton balet, kya ngerti aja".

Suatu hari tiada angin topan dan badai tiba-tiba saya mendapat pesan dari seorang sahabat yang saya kenal sejak 5 tahun belakangan yaitu ajakan ke Rusia. Negeri yang terkenal mempunyai pertunjukan balet spektakuler. Seperti mimpi. Masak iya saya bisa ke Rusia? Membaca sejarah Uni Soviet yang isinya tidak jauh dari peperangan rasanya menyeramkan sehingga tidak pernah terbayangkan bisa ke negeri yang konon banyak melahirkan balerina terkenal di segala penjuru dunia itu. Antara takut dan kepengen, saya dan sahabat saling menguatkan nyali lalu booking tiket Jakarta - Moscow untuk keberangkatan 6 bulan kemudian.

Semakin mendekati keberangkatan kami mulai menyusun itinerary. Sahabat selalu minta persetujuan saya sebelum memutuskan setiap rencana. Kecuali satu hal, tidak memaksakan harus ikut yaitu nonton balet. Mendengar kata balet saya tersentak, ingatan tentang dunia balet dari komik mendadak hadir dan memanas kembali. Mimpi yang berawal dari sebuah gudang yang hanya terpendam dalam-dalam tampaknya akan bisa terwujud dalam waktu dekat.

"Ikut please... Aku sukaaa..."
"Oh ya?? Kirain ga suka" sahabat lumayan kaget karena menurutnya jarang sekali bertemu dengan orang yang suka balet.
"Suka... Aku dulu suka baca komik Mari Chan"
"Loh sama, aku juga gara-gara baca komik, tapi yang Swan"

Beliau lebih berpengalaman soal balet. Selain komik yang dibacanya memang lebih bagus, sebelumnya pernah nonton di Singapura. Apalagi dompetnya mendukung jadi tanpa berpikir lagi langsung membeli tiket 2 pertunjukan sekaligus yaitu Romeo Juliet di Mariinsky dan Swan Lake di Mikhailovsky. Sedangkan saya masih perdana cukup yang di Mikhailovsky. Setidaknya bisa melihat Ratu Angsa berjalan jinjit pakai ujung jari dan berputar sampai 32 kali seperti yang diceritakan di komik. Pasti sangat bahagia dan bakal menjadi manusia yang paling gaya di warteg seberang jalan.

Swan Lake Dancer (Foto dari Mikhailovsky Official)

Tiba saatnya yang ditunggu-tunggu. Sehari setelah kami sampai di Saint Petersburg jam 19.00 waktu setempat adalah jadwal nonton di Mikhailovsky. Setelah seharian keliling, kami jalan kaki menuju gedung theatre yang didirikan sejak tahun 1833. Terletak tidak jauh dari penginapan. Tiga puluh menit sebelum acara penonton dipersilahkan masuk. Tidak ada kursi kosong sama sekali dari vvip sampai yang paling belakang. Kami membooking tempat di tengah-tengah sejak 3 bulan sebelumnya. Semakin dekat semakin mahal atau malah tidak kebagian.

Tepat jam 19.00 pertunjukan di mulai. Lampu perlahan meredup dan tirai dibuka. Penari berkostum persis seperti di komik mulai melenggak-lenggok mengikuti alunan musik symphoni orkestra yang mendayu-dayu. Saya sungguh terkesima dengan semua yang ada di depan mata. Gambar yang dahulunya hanya melihat di komik sekarang disajikan dalam bentuk nyata. Aksi para balerina cantik-cantik dan dekorasi panggung semua jauh lebih indah dari yang saya bayangkan. Benar-benar spektakuler. Sayangnya selama pertunjukan dilarang mengabadikan moment baik foto maupun video.

KISAH SWAN LAKE

Cerita Swan Lake mengisahkan tentang Ratu Angsa Odette (diperankan oleh Anastasia Soboleva) yang disihir oleh The Evil Genius (Mikhail Venshchikov). Sang Ratu hanya bisa berwujud manusia antara tengah malam sampai fajar. Kutukan ini akan menghilang jika ada seorang laki-laki yang mau mengikrarkan janji cinta sejati.

Dalam sebuah pesta di istana, Pangeran Siegfried (Victor Lebedev) diminta ibunya untuk memilih calon istri. Sang pangeran bingung lalu memutuskan pergi berburu ke danau angsa di tengah hutan. Sang pangeran melihat sosok Odette dari kejauhan sedang menari di pinggir danau. Pangeran sangat terpesona dengan keanggunannya dan jatuh cinta.

Evil Genius murka mengetahui pangeran jatuh cinta pada Odette. Lalu menyandera Odette dalam sangkar besi. Kemudian menyihir wajah anaknya Odile, menjadi seperti Odette. Pangeran mengira Odile adalah Odette dan bersumpah akan menikahinya.

Pengkhianatan ini mengunci nasib Odette tidak bisa terbebas dari kutukan. Odette pergi ke danau angsa dengan kesedihan yang sangat mendalam. Pangeran yang akhirnya tersadar akan tipu daya Evil Genius menyusul Odette ke danau angsa dan meminta maaf. Dua sejoli ini masih bisa mengelakkan diri dari penyihir jahat dengan menceburkan diri ke danau. Tindakan cinta mengorbankan diri ini dapat membebaskan Dara-dara Angsa dari kutukan dan menghancurkan kekuatan sihir Evil Genius selamanya. 

Anastasia Soboleva dan Victor Lebedev. Di kehidupan nyata mereka suami istri, benar kata si komik katanya pasangan nari adalah pasangan hidup. (kepo maksimal, foto nyomot dari Instagram mereka)

Evil Genius muncul untuk mencegah pangeran bersatu dengan Odette namun mereka telanjur menceburkan diri ke danau. Kekuatan mantra Evil Genius sirna dan kekuasaannya hancur. Dia juga menyaksikan roh Pangeran Siegfried dan Odette naik ke langit untuk bersatu dalam kehidupan setelah kematian.

Tiba-tiba saya terperanjat oleh suara teriakan di dekat telinga kiri.

"Aduh!!"
"Kenapa mbak?"
"Hampir jatuh kurang keseimbangan"
"Siapa?"
"Itu penarinya"
"Oh ya..."
"Kasian kalo sampe jatuh ga ada yang mau pake dia lagi"
"Huaaaaa..."
"Kenapa kamu yang nangis"
"Ga lihat, aku ketiduran hiks..."
"Hahahaha... Makanya kalo cuma mo tidur ga usah nonton balet...!!"

Saat itu masih jetlag. Malam sebelumnya tidur selalu terbangun setiap setengah jam sekali. Sejak jam 2.30 tidak bisa tidur lagi. Sehingga masih sore sudah ngantuk berat. Setengah pertunjukan masih kinclong takjub dengan tarian dancer profesional yang selama ini hanya lihat di internet dan cuplikan video di youtube. Babak berikutnya harus berusaha ekstra keras melawan kantuk. Apalagi mendengar iringan musik klasik bagaikan dipuk-puk nina bobok.

"Keren banget ya" kata sahabat saat keluar dari ruang teater.
"Iya, kok bisa persis ya seperti yang di komik"
"Lha kan justru komik yang ngikutin mereka hahaha..."
"Duh.. Ketauan norak banget"

Maklum referensi tentang balet taunya hanya dari komik jadi segalanya disamakan dengan gambar-gambar kartun ciptaan orang Jepang itu. Rasa penasaran sejak belasan tahun yang lalu terjawab sudah. Gerakan-gerakan seperti gambar di komik benar-benar ada di dunia nyata.

Selesai nonton foto bareng poster teman saya Ekaterina Borchenko

Sejak itu, setiap saat mengalirlah obrolan tentang balet tiada bosan antara saya dan sahabat. Mulai dari cerita komik lalu balerina legendaris yang menjadi tokoh dalam komik, gaji balerina hingga nasib kakinya. Dibalik tarian dongeng yang indah itu pasti tersimpan banyak penderitaan yang salah satunya pada kaki sang penari. Pastinya kaki mereka penuh dengan tragedi berdarah, kesleo, bengkak, kuku terlepas dan kapalan. Ya sudahlah itu pilihan mereka.

Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga menyaksikan Ratu Angsa menari pakai ujung jari dan berputar 32 kali sekaligus dipertemukan dengan sahabat yang sama-sama menyukai balet. Semoga ke depannya diberi kesempatan lagi untuk nonton di theatre terbesar seperti yang sering disebut di komik yaitu Bolshoi Teater, Royal Opera, American Ballet dan yang lainnya dengan tema tidak hanya Swan Lake. Katanya sekedar punya mimpi sudah termasuk kemajuan diri, jadi saya akan bermimpi setinggi-tingginya berhubung mimpi itu gratis.


Bersama nenek Marina Kondratieva saat masih muda, di depan Bolshoi Theatre Moscow

Oct 23, 2017

Berkenalan Dengan Rusia - Ditanya Apapun Jawabnya Indonesia

October 23, 2017 0 Comments
Rasa deg-degan mau pergi ke Rusia dimulai sejak dari persiapan membuat visa. Susah susah gampang dibanding dengan negara lain. Tidak perlu surat kerja, rekening koran maupun slip gaji. Secara hal itu lumayan bikin males harus menghadap kesana kesini di warung tempat saya mengadu nasib. Yang lebih saklak, segala perbookingan hotel harus PAID dan ada bukti invoicenya, tidak cukup dengan booking corfimed. Satu lagi harus ada invitation letter dari travel agen terpercaya atau hotel di Rusia. "Jadi gimana nih?" tanya partner suatu ketika. "Kita berusaha sendiri dulu kalo udah mentok baru minta bantuan travel agen" jawab saya kepedean sok gampang padahal dalam hati gemuruh menggelegar.

Satu persatu dikerjakan alhamdulillah berhasil semua. Tapi tetap beliau sang kakak yang sibuk saya bisanya ngomong doank sesekali protes... Special thanks for my suhu mbak Anna Khristy yang udah mau repot segalanya. 

Baca blog dan testimoni di google, orang Rusia katanya dingin cuek jutek ga peduli. Kalo nanya ga pake bahasa Rusia ga bakal digubris. Kebayang sih di film-film kelihatannya sangar. Ternyata terbukti saat di kedutaan. Tersenyum adalah hal yang sangat langka. Wajah cemberut dilipet ditekuk seperti saya kalo lagi dapet atau lagi kepedesan trus diajak ngobrol rasanya mau meledak pengen makan orang. Jalannya srantal sruntul ga peduli disekitar ada orang apa ga. Serasa lagi di hutan. Makin deg-degan aja, ini baru segelintir, gimana nanti di negara aslinya. Wes mbuhlah pasrah... Pastinya jangan asal senyum sembarangan daripada kena denda.

Tiga hari menjelang keberangkatan saya mulai demam panggung. Ada aja alasan ga enak badan entah mual, pusing, diare, serak, susah tidur, mimpi dikejar maling dan seabreg gundah gulana. Padahal pola hidup ga ada yang berubah. Syukurlah pada hari H bisa berangkat dengan lancar meski masih harus dibantu dengan paracetamol. 

Di pesawat menuju Moscow mulai terasa seperti nonton film tanpa didubbing. Obrolan krucuk krucuk terdengar dari berbagai sudut saingan dengan perut saya. Paling dekat di sebelah saya persis, mbak-mbak cantik bermuka lempeng datar kya papan tulis. Berhubung udah niat ga boleh sembarangan senyum jadi saya pura-pura jutek. Eh si mbak negur duluan sambil senyum "Hello..." Lha kok baik. Saya bolak balik ke toilet yang mana bakal mengganggu kenyamanannya, tapi selow aja. Berarti kalo ga ada kepentingan mukanya bakal ditekuk. Selebihnya ya biasa aja. Apalagi saat pesawat landing pada tepuk tangan bahagia sambil bilang "Bravooo..." Kalo di negeri tercinta baru juga roda pesawat nyentuh landasan langsung pada buka seat belt, buka bagasi di atas dan suara telpon langsung berdering. Disana taat semua duduk manis sampai ada aba-aba. Turun juga ga ada yang uyel-uyelan pengen duluan.

Nah yang satu ini paling bikin gemeteran yaitu lewat imigrasi. Katanya antriannya panjang dan lama banget. Emang iya, 1 orang bisa 5 menit lebih. Malahan ada beberapa yang digiring ke kantor segala. Segala dokumen persyaratan visa saya siapkan semua tentunya dengan kepasrahan jiwa raga terserah mau ditanya apa. Tujuan saya hanya liburan pak kalo dapet jodoh ya bonus. Alhamdulillah hanya difoto, ambil sidik jari dan cetok selesai. Mak plong lari jingkrak-jingkrak. Welcome to Moscow...!!! 

Kami masih lanjut terbang lagi ke St. Petersburg (SPB). Kebetulan masih satu airport hanya tinggal pindah ke terminal domestik. Tak lupa beli kartu lokal yang paling hits sampe pelosok katanya merk MTC. Karena paket internet sangat diperlukan terutama buat translate huruf kriting. Setelah check in kami lumayan bingung cari gatenya, di boarding pass tulisannya kriting dan tulisan Inggris di papan LCD nongolnya sebentar banget. Tanyalah ke petugas kebersihan. Kelihatan sudah nenek-nenek tapi masih gagah. Tampaknya beliau sadar betul mau dijelasin sampe kering juga kami ga bakal ngerti. Dengan rendah hati diletakkan sapu dan plastik tempat sampah dari genggamannya, lalu mengantar kami sampai ke depan gate yang kami cari. Ekspresinya tetap dataaar tar ga senyum sama sekali termasuk saat kami bilang "spasibo" (terima kasih), ga mengangguk, ga bereaksi apa-apa langsung pergi begitu saja... Lucuuu nek hahaha...

Setelah beberapa kali pindah gate akhirnya flight ke SPB dibuka. Antrian rapi segera tersusun, tetap tidak ada senyum terlempar, tidak ada yang ngobrol seperti saya yang sering bisik-bisik ke partner. Secara lihat orang cakep-cakep kalo ga komen gatel. Enaknya mo ngobrolin orang di depan mata juga cuek ga bakal ada yang ngerti. 

Kira-kira 1 jam kemudian pesawat landing di SPB. Kami berencana naik uber ke penginapan berhubung sudah malem. Ternyata ubernya mejen ga bisa dibuka. Uber dan grab sama aja ga bisa. Entahlah kenapa. Terpaksa naik bus dan disambung metro. Bagasi di SPB bayar sendiri dihitung 1 orang.

Rusia ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. Selama ini kalo denger kata Rusia kebayang tentara bersenjata lengkap trus ngajak perang. Lu macem-macem di'Dor. Ternyata biasa aja kotanya seperti kota-kota lain di Eropa. Aman, nyaman, damai, bersih dan rapi tentunya. Biarpun mukanya pada suntuk sesekali masih ada yang senyum ramah, malah ada yang bantuin bawa koper. Mas-mas ganteng lagi. Kondektur bus disana ibu-ibu setengah baya juga baik banget nolongin biarpun bahasanya saling ga ngerti. 

Sampai di stasiun terdekat dari penginapan yaitu Nevsky Prospekt, kami bingung cari pintu keluar karena tulisan disana kebanyakan kriting jarang sekali bahasa Inggris. Partner sedang sibuk mengcapture tulisan cyrillic buat ditranslate, tiba-tiba ada bapak-bapak tanya ke saya sambil senyum ramah sekali "Krecekkrecek prucut preceprece cromrete?" Hmm... mikir sejenak lalu saya jawab sambil menepuk badan sendiri "Indonesia" "Ooow Indonesiaa..." senyumnya makin melebar ditambah manggut-manggut trus pamit pergi. Jadi punya pegangan, lain kali kalo ditanya orang cukup jawab Indonesia, sepertinya sakti banget bisa mencairkan suasana.

Russia I'm in Love

Mulai merasa betah di Rusia. Selain asyik buat people watching cuci mata lihat yang kinclong-kinclong, ternyata orang sana juga baik-baik. Mereka terlihat cuek karena memang tidak ada kepentingan dan tidak mau menganggu orang lain. Ga kepo lah intinya. Kesan negatif yang selama ini menghantui saya seketika menghilang. Sebelumnya hanya menilai dari luar jadinya tak kenal maka tak sayang. Nantikan episode berikutnya...