Oct 9, 2018

My Diary - Helsinki

October 09, 2018 0 Comments
Helsinki, 27 Februari 2018 - 07:45
(memindahkan dari buku diary)

Saat ini saya berada di dalam pesawat Finnair AY-951 yang akan menuju ke Copenhagen. Saya sudah duduk manis di seat 33B. Tempat duduk di pesawat ini sempit, bakalan males ke toilet karena mengganggu orang di sebelah. Tapi 1.5 jam dengan udara beku gak yakin kalau gak beser. Pesawat masih menunggu penumpang boarding. Ibu pramugari sibuk membantu meletakkan bagasi kabin dan menunjukkan seat ke para penumpang. Pramugari disini kebanyakan ibu-ibu gendut, bukan mbak-mbak yang masih muda seperti pesawat low cost di Indonesia. Rambutnya juga asal diiket pakai karet gelang agak awut-awutan, boro-boro disanggul. Dandannya juga biasa aja bedak tipis dan lipstik samar-samar. Hanya 1 yang masih muda sedikit menor dan pakai peci, udah senior males kali ya. Bajunya kemeja putih dengan blazer biru dongker dan rok di bawah lutut dibelah belakang. Pakai sepatu pantopel warna hitam low heels. Seperti ibu-ibu yang kerja kantoran kalau di Indonesia.




Sebelah kanan saya Amel, sebelah kiri babang ganteng pakai jas rapi banget sedang membuka laptopnya. Esmud ganteng brewokan tipis, rambut cepak dan pirang tentunya. Saya ngintip sepertinya sedang membuka artikel tentang lingkungan. Entah tugas kuliah atau bahan ngajar, gak tau juga wong bahasa Inggris semua gak mudeng. Lihat babang sibuk saya juga ambil buku diary dan nulis ala kadar ini, pura-pura sibuk juga biar disangka orang penting. Amel sudah tidur sambil menyandarkan kepala ke jendela. Badan kami memang cukup lelah sehabis terbang 12 jam dari Singapura ke Helsinki.

Suhu diluar -16°C dan bersalju, begitu juga dengan Copenhagen melihat di website perkiraan cuaca. Banyak warning tanda kuning dihape pertanda cuaca ekstrim. Entah gimana nanti saat bersentuhan dengan salju katanya di Copenhagen lebih dingin dari pada Helsinki. Semoga badan ini kuat. Dengan niat baik Insya Allah semua akan dipermudah. Awali dengan Bismillah dan serahkan saja pada Allah.

Babang di sebelah mulai mematikan laptopnya, tampaknya sebentar lagi take off. Saya juga mengakhiri tulisan ini dan akan mengembalikan buku diary ke dalam tas di bawah tempat duduk lalu pasang bantal leher dan siap tidur menyusul Amel. Bye bye..  Sampai ketemu di Copenhagen.

Oct 3, 2018

Bodo

October 03, 2018 0 Comments
Selama travelling ke Norwegia ada beberapa teman yang rajin menanyakan kabar. Sampai mana, lagi dimana, gimana dan sebagainya. Walaupun dengan komunikasi yang lumayan tersendat. Selain karena perbedaan zona waktu sekitar 6 jam, juga karena saya hanya mengandalkan wifi gratisan. Saya hanya membalas pesan saat menemukan sinyal.

Lucunya mereka rela browsing sebelum dan sesudah bertanya ke saya. Katanya biar gak bodoh-bodoh amat setidaknya obrolan nyambung. Karena tempat yang saya kunjungi lumayan asing untuk didengar sebagian orang Indonesia. Diantaranya adalah desa nelayan di Kepulauan Lofoten Norwegia Utara. Sebutlah Stokmarknes, Svolvaer, Leknes dan sekitarnya. Sering kali mereka sambil menunjukkan skrinsut dari google map, "Lagi di sini bukan?"

Suatu malam hampir jam 11 waktu setempat saya baru saja check in ke hotel setelah pindahan dari kota sebelumnya naik kapal ferry. Letak hotel sekitar 700 meter dari pelabuhan. Tidak seberapa jauh buat saya tapi harus menggeret koper diantara salju tebal dan badan menggigil, sangat bikin sengsara. Sampai di kamar badan masih kedinginan dan mata mulai lengket. Sesegera mungkin harus meringkuk ke dalam selimut.

Sambil merebahkan badan saya membuka henpon menyambungkan dengan wifi hotel. Tentunya banyak pesan yang masuk dari teman-teman. Salah satunya pertanyaan dari adek Junior yang belum lama kenal "Kakak... Udah sampai mana?" Dengan sisa-sisa tenaga saya hanya menjawab singkat "Bodo" lalu tertidur.

Bangun tidur lumayan banyak pesan dari adek ini dengan nada bersalah.

"Maaf ya kak kalau mengganggu. Aku cuma pengen tau aja dan seneng denger kakak jalan-jalan. Aku jadi banyak pengalaman juga dari cerita kakak. Abis kakak perginya menclak-menclok kemaren ke sini tiba-tiba udah ke situ. Dijawab kalau lagi sempat aja gak apa-apa kak, maaf ya..."

Bingung kenapa adek ini ya? Perasaan dari kemaren baik-baik aja seperti biasa suka bercandaan. Kenapa tiba-tiba aneh. Mungkin kelamaan jawabnya? Entahlah... Jadi ngetik agak panjang cerita ulang.

"Gak apa-apa dek sorry jawabnya telat baru nemu sinyal. Gini ya jadi kemaren dari Tromso pindah ke Lofoten naik cruise sehari semalem, nginep 1 malem di Solvaer, 1 malem di A dan sekarang udah pindah lagi ke Bodo kemaren sore naik kapal ferry, nginep semalem di sini"

"Ooohh... Jadi Bodo itu nama tempat kak????"
"Iya"
"Ya ampun... Kirain kakak lagi marah karena aku bawel nanya-nanya mulu"
"Lha biasanya kan browsing kalau denger tempat baru"
"Iya, tapi aku udah down duluan, aku takut kirain kakak marah trus bilang Bodo, kirain aku yang bodoh banget dijelasin gak ngerti-ngerti huaaa..."

Haduuuhh kasian sekali sih dek hahaha...

Ngomong-ngomong soal Bodo di sini ada kejadian yang beneran bodo banget. Kami jam 4 pagi harus check out dari hotel karena akan ke Oslo pesawat jam 06.00. Letak airport hanya 10 menit memakai kendaraan. Jalan kaki juga kuat asal suhunya tidak ekstrim dan tidak bebawaan berat. Bodo hanya kota kecil.

Kami pesan taksi malam sebelumnya di resepsionis hotel untuk jam 4 pagi. Taunya terlewat jam 04.15 kami baru keluar. Tidak ada taksi yang datang entah sudah pergi atau memang tidak ada. Sepiiiii banget di sekitar hotel. Kebetulan resepsionis tidak buka 24 jam. Jalan kaki memang tidak jauh tapi mengingat waktu boarding yang tinggal sejam lagi tidak memungkinkan... Aaahh... Bodo banget emang bisa-bisanya telat, di negara tepat waktu telat semenit aja bisa fatal.

Kami jalan ke arah airport sambil tak hentinya mengintip ke mobil yang terparkir di pinggir jalan. Barang kali ada orang di dalam dan bisa minta tolong. Rupanya tidak ada orang satu pun. Ya ngapain juga tidur di dalem es.

Syukurlah kami melewati hotel yang agak besar dan di dalam terlihat security sedang berjaga. Lupa hotel apa namanya. Amel lari ke dalam untuk minta bantuan. Saya menjaga koper di luar. Alhamdulillah ibu security itu membantu menelponkan taksi dan mempersilahkan kami untuk menunggu di lobby. Badan saya lumayan meleleh setelah masuk ke dalam karena di luar suhunya -15°C.

Tidak sampai 15 menit taksi datang, mobil berwarna hitam kinclong mirip Alphard. Bapak sopir membantu mengangkatkan koper untuk diletakkan di bagasi. Tak lupa dadah-dadah berterimakasih ke ibu security yang baik hati lalu mobil bergerak meninggalkan hotel. Saya dan Amel duduk manis di belakang sambil was-was melototin argo. Untungnya hanya dekat sekali, tidak sampai 10 menit sudah sampai di airport yang berjarak hanya 2.5 km. Berapakah ongkosnya? Kalau dirupiahkan 335 ribu. Alamaaakk.. Mahalnyaaa. Tapi segitu juga tidak terasa. Masih kalah bahagia dengan tepat waktu sampai di airport sehingga tidak tertinggal pesawat. Alhamdulillah...

Sep 27, 2018

Bermalam Di Hotel Seruni Puncak

September 27, 2018 0 Comments
Buat saya menginap di tempat mewah sekelas Hotel Seruni bisa dipastikan bukan murni keinginan pribadi. "Da aku mah apa atuh biasa gelar tenda kok disuruh bobok di hotel mahal". Tapi kalau dikasih gratisan ya siapa yang ogah sih. Apalagi di daerah puncak tempat favorit horang kayah beristirahat. Untuk kali ini difasilitasi oleh rumah kedua tempat saya mendulang berlian yaitu PT. Krakatau Medika dalam rangka Family Gathering.

Hotel Seruni terletak searah dengan jalan menuju ke Taman Safari Indonesia. Dari belokan di jalan utama lalu nanjak sekitar 1 km ada sign menuju Hotel Seruni. Belok ke kiri dengan jalanan sempit dan berliku melewati pemukiman warga. Saya menyebutnya jalanan hopeless. Gimana tidak katanya mau berwisata ke hotel berbintang tapi kok malah blusukan ke kampung. Tau gitu kan mending pulang ke Pacitan. Apalagi pas masuk ke pintu gerbangnya ya biasa aja hanya terlihat gedung kecil. Eeeh tunggu dulu itu baru tempat resepsionis dan reservasi aja. Hotelnya belum kelihatan. Nah dari situ maju sedikit dan semakin menjauh mulai deh jreng jreeeng komplek bangunan mewah dengan luas sak holak beserta fasilitasnya akan menyambut anda. Waaoow... Jadi begini rasanya jadi orang kayah... Kepala mulai ndangak merasa sombong-sombong gituuu…

Hotel Seruni ini terdiri dari 3 gedung hotel utama yaitu Hotel Seruni 1 Pangrango, Hotel Seruni 2 Gunung Gede dan yang paling besar yang kalau malam terlihat seperti Kapal Titanic adalah Hotel Seruni 3 Gunung Salak. Kisaran harga antara Rp 900.000,- sampai Rp 1.100.000,- per room/night (weekend rate). Selain hotel utama ada juga penginapan yang lain bernama Egypt, Amandari dan Villa Seruni Sampay. “Bah kurang luas apa ini hoteel!!” Kok tau sih? Lihat brosurnya di lobby.

Kami segrup besar ditempatkan di Seruni 3 dengan menyewa sekitar 170an kamar per gelombang. Di area ini akan disambut dengan nuansa Bhineka Tunggal Ika mulai dari Bali, Sunda, Jawa dan yang lainnya. Terlihat dari setiap design interior, lukisan, relief dinding dan patung di segala penjuru. Malah patung-patungnya kebanyakan berbau Eropa alias topless. Jadi sebenarnya bertema tradisional apa modern sih? Wes mbuh lah tinggal tidur aja kok repot.

Menuju ke kamar saat itu saya kebanyakan imajinasi jadi agak merinding. Perasaan sepanjang lorong dari lobby banyak yang melototin, halah cuma patung sih… Kamar saya di lantai 1 cukup luas dan tidak berAC ya kan Bogor daerah dingin. Tempat tidurnya dari kayu dihiasi ukiran klasik dan dipasang kelambu seperti tempat tidur Nyi Blorong di sinetron kolosal. Ah bukan!! Seperti tempat tidurnya Tuan Putri di istana kerajaan. Lumayanlah bisa merasakan jadi ratu semalam. Fasilitas yang lain pastinya cukup lengkap dan modern ada wifi gratis, TV LCD, air mineral dan snack, toiletries, kursi dan meja di dalam maupun di luar kamar (balkon). Dindingnya dihiasi dengan relief dan lukisan serta di 2 pojok kamar terdapat patung seperti Nona dari Bali memegang ember bulet di kepala yang tak lain adalah lampu hias. Saya paling ngeri dekat dengan Nona ini bukan masalah horor tapi kebayang “Pecah Berarti Membeli” Takut kesenggol. Iiiih ndeso…!!


Pintu Masuk Hotel Seruni 3

Hotel Seruni 3 dengan background Gunung Gede (kelihatan pucuknya doank)

Kebetulan saya bergabung menjadi panitia biarpun hanya bisa membantu tugas yang ecek-ecek. Saya berangkat 3 kali, karena peserta famgath dibagi menjadi 3 gelombang. Satu kali bareng peserta diminggu pertama hari Sabtu dan 2 kali tergabung dengan tim advance berangkat hari Jumat. Biar kadang kepala nyut-nyutan tapi ya lumayan dapet bonus liburan bobok di hotel kinclong dan mandi di bathtub pakai air anget. Kapan lagi gitu loh. Apalagi bareng teman-teman yang asyik semua seperti Ceu Mumun, Kang Maman, Mbak'e, Adek Bungsu yang banyak bulunya, Mas Boy, Kakak Akoh dan yang lainnya yang selalu bikin ngakak sepanjang jalan.

Bersama Ceu Mumun dan Kang Maman

Acara kami diantaranya tim building bersama karyawan, fun games untuk keluarga, gala dinner dan ceremonial yang tentunya dimeriahkan dengan beberapa pentas dan undian doorprize. Pagi hari diawali dengan senam pagi lalu menikmati breakfast di restoran hotel dengan seabreg menu mulai dari lokal hingga kebarat-baratan. Saya paling suka dengan manisan mangga dan kedondongnya yang huaseeemm... Baru kali ini ketemu hotel yang pengertian banget dengan saya.

Selanjutnya adalah acara bebas. Peserta diberi kesempatan menikmati segala fasilitas di Hotel Seruni. Apa saja fasilitas gratis yang bisa dinikmati? Ada kolam renang di beberapa titik tinggal pilih untuk dewasa, anak-anak bahkan untuk standart atlet olimpiade juga ada. Tersedia juga spa dan fitness center tapi tampaknya tempat yang ini berbayar.

Masing-masing gedung seruni 1, 2 dan 3 terdapat kolam renang sendiri untuk dewasa dan anak-anak lengkap dengan fasilitas waterslide (perosotan), air mancur dan kolam jazucci air hangat. Di Seruni 3 terdapat Beach Pool yaitu kolam renang pasir cocok sekali buat anak-anak bayi. Di dekat Seruni 1 ke bawah terdapat Waterpark dengan 2 waterslide setinggi kurang lebih 10 meter. Selain wahana air terdapat juga play ground di berbagai titik biasanya berdekatan dengan kolam renang, dengan arena permainan seperti ayunan, anjut-anjutan, pesorotan, outbound-outbound’an, bahkan flying fox dan banyak lagi gak tau namanya. Beeugghh… Pokoknya jadi horang kota banget saya mah, selama disana disayang-sayang, dimanja-manja…

Mbak'e di Seruni Aquatic Stadium, kolam renang bertaraf internasional yang sering dipakai latihan oleh atlet renang nasional. Di ujung belakang terdapat papan loncat indah. Saat itu kolam ini sedang tahap renovasi.

Seruni Waterpark

Info dari mbak Rachma karyawati Hotel Seruni, hotel ini punya kebun sayur organik sendiri dan dimasak untuk menjamu para tamu di hotel. Kecuali jika persediaan kurang memenuhi baru belanja keluar. Asyik sekali sayurannya metik sendiri, kurang keceh apa coba? Pantesan aja saya pulang dari sana berasa fresh, kinclong, hilang bau amis dan bersih bersinar bukan karena banyak minum sanlet tapi saya makan makanan yang tidak mengandung bahan kimia.

Sayangnya saat saya dan Mbak’e mencari kebun ini tidak ketemu alias salah jalan. Baiklah mungkin suatu hari harus balik lagi dan beneran full menikmati liburan (Semoga… Aamiin)

Mau ke kebun gak ketemu malah ketemu arena ini, ya udah jadi cicak dulu siapa tau dipanggil asian games (suruh bersih-bersih).

Panitia dan Seruni Crew, Mbak Rachma dan Mbak Ega (Murid Saya) yang berbaju oren. Saya duduk di depan nomer 2 (gak nanya).

Cerita "Murid Saya". Saat saya ditugaskan untuk membagi kunci kamar seluruh peserta, saya bertemu dengan Mbak Ega dari Hotel Seruni. Disela-sela keruwetan mbaknya bilang kalau saya mirip dengan gurunya yang bernama Ibu Ismi. Lalu saya bilang "Alhamdulillah..." Ya sudah begitu aja.

Jul 23, 2018

Lapangan Merah Moskow

July 23, 2018 0 Comments
Perhelatan akbar Piala Dunia 2018 di Rusia baru saja selesai digelar. Perancis berhasil mengalahkan Kroasia di babak final dengan skor 4-2. Griezmann dan Mbappe adalah pemain yang turut memberikan goal sehingga Perancis keluar sebagai juara dan memboyong piala yang mirip paha ayam goreng ke rumahnya. Saya sebenarnya kurang mengerti tentang bola. Hanya karena tempat yang pernah saya datangi sering disebut dan muncul di TV. Jadilah merindukan moment yang pernah saya lewati 10 bulan yang lalu di tempat itu yaitu Red Square atau Lapangan Merah. Apa saja yang saya lakukan disana? Tidak ada, hanya berfoto dan selebihnya people watching.

Lapangan merah adalah alun-alun di Moskow yang menjadi lokasi sangat penting untuk dikunjungi. Banyak tempat bersejarah di sekitar lapangan yang sebenarnya tidak berwarna merah ini. Pada bagian depan terdapat bangunan kokoh berwarna merah yang merupakan Museum Sejarah. Di sebelah kanan terdapat dinding Kremlin dan menara menjulang tinggi berwarna merah, dibawahnya terdapat Mausoleum Lenin. Tempat disemayamkannya jenazah pemimpin revolusi Rusia yaitu Vladimir Lenin. Sebagian besar pejabat dan tokoh Soviet mendapat kehormatan untuk dimakamkan di depan tembok Kremlin. Seperti Josef Stalin, Yuri Gargarin dan Maxim Gorky. Konon orang terakhir yang dimakamkan disana adalah Pemimpin Soviet Konstantin Chernenko pada tahun 1985. Di sebelah kiri lapangan terdapat pusat perbelanjaan tertua dan paling indah di Rusia yaitu GUM. Sementara di ujung paling belakang terdapat Katedral St. Basil dengan kubah warna warni yang bentuknya menyerupai es krim. Sering kali foto gereja ini menghiasi kartu pos dan segala macam merchandise dari Rusia.

Pada musim Piala Dunia lapangan ini sering dipakai untuk melaporkan hasil liputan para reporter, selain dari stadion tempat pertandingan.


Katedral St. Basil
Biasanya hanya melihat gambarnya di majalah, iklan travel tour dan merchandise dari Rusia. Kali ini saya berdiri di depannya, kya mimpi-mimpi gimana gitu...


Museum Sejarah
Pertama kali melihat bangunan ini terbayang perang jaman dulu, sok drama banget.


Mall GUM
Terkesima dan penasaran seperti apa sih dalamnya? Pasti prestisius dan mahal-mahal.

Bagian dalam Mall GUM
Tadinya saya dan Mbak Anna Khristy akan makan disini di restoran yang direkomendasikan oleh temannya Mbak Anna. Ternyata selain antriannya bejibun juga ada menu pork, jadi saya pindah haluan cari menu yang lain. Mbak Anna tetap setia antri karena penasaran. Saya membeli roti dan semangka potong segelas dibawa ke restoran biar makan bareng. Sempat khawatir, takutnya dari beberapa tulisan yang dipasang ada yang artinya "Dilarang membawa makanan dari luar". Tapi ya mbuhlah tulisannya kriting semua. Biar tak begitu mencolok saya duduk di kursi yang di luar. Saat makan perasaan kok dilihatin terus oleh orang-orang. Baik yang lewat maupun yang duduk di sebelah. Kebetulan kami duduk di dekat eskalator dan dilewati banyak orang. "Kenapa sih orang-orang ini dari tadi ngliatin aja" Mulai deh merasa bersalah dan berandai-andai, pasti karena membawa makanan dari luar. Lama-lama mikir juga, ya iyalah muka saya kan termasuk asing. Jarang-jarang orang berhidung pesek makan disini. Apalagi yang pakai kudungan bergo made in Garut disini ya hanya saya. Kalaupun ada yang kudungan paling nenek-nenek dan hanya diikat seperti kudungnya Masha. Aaaahh mulai deh ada rasa-rasa GR sok jadi selebritis...

Jul 14, 2018

Mahalnya Pipis Di Eropa

July 14, 2018 0 Comments
"Asyik banget sih bisa maen salju..." kata beberapa sahabat saat melihat foto saya berpose ala Princess Elsa di film Frozen. Ketawa ketiwi ngakak sok melempar pasir beku berwarna putih mirip garam tabur di meja makan. Memang fenomena yang jarang atau malah tidak pernah ditemui di negara sendiri ini terlihat indah saat difoto. Tapi taukah sebenarnya apa yang saya rasakan dibalik itu semua? Badan menggigil, hidung meler, kepala pusing, meriang belina, tangan beku, licin, kepleset, lensa kamera dan kacamata berembun... Aarrghh rasanya mau mewek pengen cepat pulang. Paling betah ya diam di cafe minum yang anget-anget dan duduk paling dekat ke penghangat ruangan. Setidaknya 100 ribuan harus melayang demi kehangatan. Tidak ada acara gratis emang punya mbahmu. Nah kalau minuman hangat sudah diolah di dalam tubuh lalu bakal muncul kerepotan yang baru lagi yaitu kebelet pipis. Huaaa....

Urusan kebelet pipis ini yang paling sering menghantui sepanjang jalan. Kedinginan di ruang berAC saja, setidaknya sejam sekali harus bolak balik ke toilet, apalagi di tempat beku ya beser pastinya. Sedangkan toilet umum di Eropa kebanyakan tidak gratis, harus masukin koin dulu pintunya baru bisa kebuka sekitar 50 sen - 1 yuro (1€ = Rp 17.000). Berbayar mahal pun masih mending jika mudah ditemukan, biasanya muter kesana kemari tidak ada. Sekalinya ada kadang tidak ada petugasnya, bahasanya lokal dan tidak tau cara pakainya. Solusi termudah ya cari yang gratisan tapi dengan syarat beli sesuatu dulu di cafe. Sama bae!!!


Bagaimana jika tidak punya koin? Beberapa tempat biasanya menyediakan mesin penukar koin di dekat pintu masuk, kadang juga ada loket khusus untuk bayar langsung ke petugasnya. Bahkan ada yang bayarnya pakai gesek kartu, bisa debit atau kredit. Seperti yang saya temui di Terminal Bus Oslo. Biarpun bahasanya tidak bisa dimengerti tapi gambar ilustrasinya cukup menerangkan. Tinggal digesek lalu muncul ceklist warna ijo dan pintu bisa didorong. Berapakah tagihannya? 20 RIBU. Alamak sekali pipiiiiiissss.....!!!! Maap orang miskin dilarang beser yaa...


Mesin gesek di toilet Terminal Bus Oslo Norway

Jangan dikira toilet mahal itu serba kinclong. Seperti biasa tidak pernah ada bidetnya (semprotan buat cebok). Hanya tersedia tissue gulung. Kadang malah ketemu rejeki jika penghuni sebelumnya tidak beres ngeflushnya, masih meninggalkan benda purbakala di dalam kloset. Belum lagi tissue di tempat sampah yang ketempelan sisa pembuangan, baunya semerbak memenuhi ruangan. Sudah bayar mahal pengennya benar-benar dipakai maksimal, selamaaaa mungkin di dalam toilet biar tidak rugi. Tapi jangankan lama, sebentar aja megap-megap nahan nafas.


Saya pernah suatu hari di Amsterdam, saking kebeletnya masuk ke hotel berbintang pura-pura nanya ke resepsionis, ngobrol sebentar lalu minta ijin ke toilet numpang pipis. Paling suka dengan toilet di hotel pastinya bersih.



Struk bayar ke toilet di Moscow (sekitar 14 - 15 ribu rupiah)

Sekedar tips sebaiknya selalu membawa botol kosong bekas air minum. Jangan lupa sebelum masuk ke toilet isi dengan air bersih, lalu bawa masuk dan buat cebok. Selalu sediakan juga tissue basah di dalam tas. Manfaatkan dengan sangat toilet gratis seperti di airport, hotel, mall, cafe atau restoran sebelum membaur di alam indah nan beku atau kalau mau silahkan pakai popok hahaha...


Botol air model ini paling praktis tidak blepotan

Sejauh saya melangkah, toilet umum yang bersih, gratis dan mudah ditemukan yaitu di Asia adalah di Jepang dan Korea. Toilet Jepang menurut saya paling okey, tombolnya banyaaakk ada flush, semprot gede, semprot kecil, blower, airnya anget, klosetnya dilapisin kain beludru dan macem-macem.

Apr 29, 2018

Nawar Hotel Di Turki

April 29, 2018 1 Comments
Sebelum menclok ke negara orang memang sebaiknya membooking penginapan terlebih dulu agar tidak kerepotan saat sampai di tempat tujuan. Apalagi negara bervisa yang mengharuskan bookingan penginapan sebagai salah satu syarat visa. Turki termasuk negara yang mudah dalam memberi visa pada wisatawan Indonesia yaitu dengan Visa On Arrival yang bisa dibuat secara online tidak perlu datang ke kedutaaan. Karenanya saat saya dan Amel pergi ke Turki selama 2 minggu, hanya booking penginapan sebagian. Di beberapa kota mencari hotel secara dadakan, berhubung bukan peak season dan banyak pilihan hotel dengan harga terjangkau.

Salah satunya di Antalya. Kami naik bus dari Fethiye dengan lama perjalanan sekitar 4 jam dan akan mencari hotel di sekitar terminal sesampainya di Antalya. Kami pikir itu hal yang mudah melihat pengalaman di kota-kota sebelumnya di sekitar terminal banyak tersebar penginapan dengan berbagi model dari yang murah hingga berbintang-bintang. Letaknya pun selalu di pusat kota.

Rupanya dugaan kami salah besar. Terminal di Antalya luas sekali dan letaknya menjauh dari pusat kota serta menyendiri seperti airport dan tidak ada penginapan di sekitarnya. Matilah kau..!! Akses ke kota bisa dengan kereta atau bus. Saat itu sudah hampir jam 11 malam, kereta sudah berhenti beroperasi. Hanya tersisa 1 bus terakhir. Tanpa pikir panjang segera naik ke dalam bus sekalian berlindung karena di area terminal banyak orang berteriak-teriak seperti demo dan suara ledakan berkali-kali. Memang kondisi Turki saat itu belum kondusif masih ada travel warning. Pikiran tak berhenti melayang membayangkan kejadian buruk terjadi di tempat yang sangat asing. Saat itu pergi modal nekad karena tiket terlanjur dibeli 6 bulan sebelum ada kabar miring tentang Turki (kasus kudeta).

Bus masih ngetem menunggu penumpang yang lain. Kami manfaatkan buat browsing hotel di tengah kota. Apesnya hotel yang murah sudah sold out. Dengan terpaksa kami turun di daerah yang terlihat masih ramai dan banyak hotel walaupun mahal-mahal. Saat itu yang termurah adalah Ayhan Hotel sekitar 500 meter belak belok dari halte. Dari luar tampak biasa tapi setelah masuk ke lobby terlihat sangat kinclong. Hati mulai menciut pasrah. Kamar termurah sudah habis tinggal tersisa harga 190 Lira per malam (sekitar Rp 750.000). Biasanya harga 180 Lira untuk 2 malam, ini hanya semalam dan check in telat. Kemahalan mak...!!


Foto dari google

Saya mencoba nawar ke resepsionis sambil pura-pura polos.

"Pak boleh ga 100 aja, kita kan check in udah telat"
"Ga bisa neng, paling bolehnya 150"
"Besok pagi banget kami check out deh"
"Sama aja neng mau check out jam berapapun"
"Ya udah, kalau gitu numpang ngecas hape ya pak"

Sambil browsing hotel lain dan mengingat menimbang harus geret koper lagi tengah malem serta mengatur perasaan agar ikhlas membayar lebih mahal, kami duduk di sofa empuk beralaskan permadani mewah made in Turkey. Tampaknya memang harus merelakan 150 TL agar sesekali merasakan seperti princess. Lalu saya kembali ke resepsionis yang saat itu sedang berduaan dengan bapak-bapak bermuka jutek dan tampaknya sedang membicarakan kami. Saat saya mendekat pak jutek pergi ke Bar di ujung ruangan, tapi sesekali masih melirik ke saya dan resepsionis.

"Pak saya hanya punya uang 100 kalau hotel yang lebih murah di sekitar sini dimana ya?"
"Memang kamu mau nginap berapa malam?"
"Malam ini aja pak, besok pagi sekali check out"
"Ya sudahlah boleh..." kata bapak meluluh
"Benarkah pak?"
"Iya boleh, tapi lihat tuh bos saya marah" ternyata pak jutek itu bosnya.

Ya biarlah dia marah pak, besok-besok belum tentu ketemu lagi. Entah kapan lagi bisa ke Antalya. Terima Kasih Ya Allah... Terima kasih bapak resepsionis yang baik, terima kasih pak bos yang jutek, yakin deh biar jutek sebenarnya hati bapak lembut. Cakep pula pak. Kalau soal cakep dunia mengakui orang Turki memang cakep-cakep.

Bapak meminta paspor dan memproses administrasi lalu memberikan kunci kamar di lantai 6. Liftnya modern, dindingnya kinclong kemana-mana, semua lantai dilapisi permadani, beda sekali dengan hotel-hotel kami sebelumnya. Kuncinya pun pakai kartu atm bukan grendel krompyongan seperti di rumah. Lebih surprise lagi saat membuka kamar, namanya juga hotel mahal so pasti donk kasur bantal dan selimutnya bagus, kamar mandinya bagus, peralatannya mewah semua. View dari jendela langsung ke laut yang dihiasi tebing-tebing kars. Setelah browsing lebih lanjut ternyata lokasinya tepat di Historic City Centernya Antalya yaitu Kaleiçi. Lalu tersadar dan bengong sendiri...

"Pantesan mahal... Kok berani ya kita nawar hotel kya gini" kata saya ke Amel.
"Kyanya besok ga bisa bangun pagi deh..."
"Ga bakal diusir ini kan, ya udah sebangunnya aja, trus breakfast, pasti makanannya enak-enak"
"Yang penting gw sekarang mau tidur" jawab Amel mulai meringkuk ke dalam selimut.

Benar saja paginya kami keenakan tidur, berhubung saya sedang tidak sholat jadi bablas sampai jam 8 lewat. Kami hanya cuci muka lalu ke lantai paling atas untuk breakfast. Masih pakai baju tidur dan sendal hotel. Ternyata prestisius sekali. Makanan dan minumannya berderet segala macam ada. Piring, gelas dan sendoknya berat-berat, bagus seperti di sinetron rumahnya horang kayaaah... Daaan semua pengunjung berdandan rapi tidak ada yang pakai baju tidur seperti kami. Berhubung muka asing ditambah penampilan nyentrik kami jadi pusat perhatian selayaknya selebritis lewat. Perasaan semua orang menatap dalam-dalam. Semoga karena cinta. Biarinlah kapan lagi mereka melihat muka kya saya kan kasian kalau harus ngejar ke Pacitan.


Restoran di roof top, foto dari google

Jam 10.30 kami check out, syukurlah petugas resepsionisnya sudah ganti dan bapak bos jutek juga tak tampak. Kami masih minta tolong sekali lagi, titip tas sampai nanti malam. Sudah mah nawar masih titip pula... Tapi Alhamdulillah diijinkan. Orang Turki memang baik-baik. Setelah keliling Antalya seharian kami akan naik bus malam ke Cappadocia.

Oiya orang yang teriak-teriak di terminal malam itu ternyata bukan demo. Sebelum berangkat ke Cappadocia saya sempat melihat kerumunan orang berteriak-teriak tapi terlihat happy dan sesekali foto-foto bareng laki-laki gagah yang tampan sekali. Saya mendekat kesana dan tanya ke babang-babang yang ganteng semua.

"Who is he?"
"Ashkar, ashkar..."
"What is Ashkar? Soccer?" saya masih belum nyambung.
"No, Ashkar"
"Moto Gp?" duh pembalab atau apa ya...
"No..."
"Hmm????"

Lalu salah satu dari mereka mengutak-atik hp dan menunjukkan gambar tentara di lokasi perang.

"Ooouuw SOLDIER...!!!"
"YEESSS...!! semua menjawab senang.

Oalaahh kirain demo....
Jadi tentara yang akan ditugaskan atau pulang bertugas dari daerah peperangan akan disambut dan diarak diangkat-angkat sambil teriak "HI ASHKAAR...!!! HI ASHKAAR...!!!"

Begitulah kiranya, sekian dan terimakasih. Sampai jumpa di Cappadocia banyak kisah nangis berdarah (dibaca lebay) yang pernah saya tulis sebelumnya disini Bila Memang Harus Berpisah.

**Mengenang tepat 2 tahun yang lalu tanggal 29 April 2016 saat pertama kali menginjakkan kaki di Turki**

Apr 27, 2018

Bermain Air Di Curug Pribadi

April 27, 2018 0 Comments
Kami menyebutnya Curug Pribadi bukan karena menyewa khusus seperti saudagar yang punya banyak kapal, hanya saat kami datang tidak ada pengunjung lain sehingga terasa semuanya milik pribadi. Curug Cigumawang, itulah nama yang sebenarnya. Terletak di Desa Kadu Bereum, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Dapat ditempuh dengan kendaraan umum maupun pribadi sekitar 1 jam dari Kota Serang.

Curug Cigumawang

Nama Cigumawang dalam bahasa sunda berarti bawang. Konon karena dahulu masyarakat di sekitar curug melihat jatuhan air dengan debit yang deras bentuknya menyerupai bawang. Mitosnya jika orang yang berpacaran berkunjung ke Curug ini pasti akan menikah dan airnya bisa menyembuhkan segala penyakit.

Sayang sekali "Yang Bebeb" tidak ikut serta kesini, tapi setidaknya penyakit lelah saya sembuh setelahnya. Bagaimana tidak, saya pergi bersama sahabat yang baik, asyik, kece dan modern ala jaman now. Teh Ida sang kepala suku yang masakannya paling enak seperumnas, Rizka si ratu endorse dan duo imut yang satu gece yang satu selow yaitu Ifada dan Nanda.

Sehari sebelum hari yang disepakati mobil sang kepala suku tiba-tiba ngambek tidak mau di'starter. Syukurlah setelah diajak jajan ke salon baikan kembali. Tapi drama belum berakhir, pagi itu cuaca cukup membuat hati menciut. Hujan gemericik dari subuh membuat kami enggan menyibakkan selimut. Janjian jam 08.00 diundur ke jam 10.00 sambil berdoa semoga hujan mereda. Ternyata menjelang jam 10.00 belum ada tanda-tanda air menghilang dari langit. Saya sudah mandi dan siapkan baju tapi melihat keadaan semakin deras saya pikir bakal diundur lagi. Sambil menunggu kabar saya bereskan sedikit cucian yang direndam sejak sore.

Selesai menjemur, duo imut yang sudah berdandan rapi dengan segala perbekalannya tiba-tiba mengetok pintu kamar saya mengajak berangkat. Hayo loo.. Kalang kabut loncat-loncat seperti kutu beras. Lari ke kamar sret sret sret...!! Untunglah tidak biasa berpolesan blush on merah kuning hijau, cukup tarik kaos oblong dan kerudung instant tanpa em es ge 10 menit selesai. Lalu pesan go car dan let's go!!

Teh Ida sudah menunggu di depan halte Masjid Agung. Ratu endorse masih otewe. Tidak sampai 15 menit semua pasukan terkumpul dan Bismillah kami berangkat dengan iringan gerimis kecil. Tak lupa mampir ke ke'ep ci di Ramayana beli bekal buat makan siang.

Perjalanan dari Cilegon ke Serang diiringi alunan lagu Yudika dan Rossa khas mobilnya sang kepala suku. Tidak lengkap rasanya jika tidak ada sesuatu yang bisa dikunyah. Duo imut mulai mengeluarkan snack permicinan untuk selingan ngobrol. Tak terasa satu setengah jam berlalu kami sampai di Desa Kadu Bereum Padarincang. Tidak ada parkir resmi disana. Banyak warga yang menawarkan jasa parkir di halaman rumahnya.

Untuk menuju ke curug harus jalan kaki sekitar 1 km melewati jalan setapak di kebun warga, jembatan kayu dan pematang sawah. Lincin sekali apalagi sehabis hujan. Duo imut yang biasa jalan ke mall sedikit kesulitan namun tidak mengurangi semangatnya. Justru jadi keracunan minta diajak naik gunung suatu saat nanti. Okey siaapp...!! Tidak ada tanda petunjuk arah jadi harus rajin tanya ke warga sekitar agar tidak salah ke curug lain yang lebih jauh. Karena kepala suku pernah pergi sebelumnya sehingga kami tidak kesasar.

Selfi dulu mumpung ada jembatan, kapan lagi.. Eh!

Masuk ke area curug dikenakan biaya 10rb per orang walaupun tertulis dipapan hanya 5rb. Dengan berbagai alasan dari abang penjaganya dari pada ribut ya dibayar saja. Pada akhirnya pun tergantikan karena terasa seperti milik pribadi akibat bukan hari libur tidak ada pengunjung yang lain. Semua fasilitas di dekat curug ada saung, mushola dan toilet, bebas dipakai tidak pakai antri.

Sebelum nyemplung kami sempatkan makan siang di saung yang disponsori oleh nasi dan ayam kfc. Ditutup dengan sedikit puding mangga buatan saya yang hanya cukup untuk menggelitik tenggorokan. Lalu berlanjut jungkir balik teriak-teriak sambil pepotoan selfi di bawah curug setinggi 40 meter itu. Air curug tampak kecoklatan seperti cappucino karena efek setelah hujan. Tapi air yang keluar dari sela-sela batu jernih sekali. Beberapa dibuatkan talang dari bambu untuk bilasan dan juga dialirkan ke toilet. Semua bisa dinikmati dengan bebas mau apa saja bebaaass tidak akan mengganggu orang lain.

Punya sendiri mah bebaaasss...

Apalagi si duo imut amat sangat kegirangan menemukan metode baru menghilangkan bulu kaki tanpa pergi ke salon dengan biaya mahal. Cukup digosok-gosok dengan batu kali. Semakin digosok semakin rontok membuat kaki kinclong bercahaya. "WOOOEE CIGUMAWANG TERBAIIIIKKK..."" Begitulah teriaknya berulang kali sambil mengepalkan tangan ke atas melihat kaki dan tangannya jadi mulus seperti artis Korea. Luar biasa senang bisa tampil seksi dengan sekejab bak disulap. Ternyata selain bisa menghilangkan segala penyakit Curug Cigumawang juga bisa menghilangkan bulu kaki. Cigumawang Terbaiiikk...!!!

Gosok teruuuss... Gece geceee...

Namun siapa sangka efeknya terasa setelah mandi dan ganti baju. "Kok perih ya, gatel, merah meraahh... huuaaa sakiiittt..." Saking semangat menggosok kulit arinya ngletek semua tidak berasa hahahaaa...

"Bisa tumbuh lagi ga?" tanyanya dengan muka pucat dan panik ketakutan.
"Bisa, sebulan lagi juga tumbuh"
"Hah sebulaaan?? Huaaaa.... Lamaa..."

Keesokan harinya kaki si duo imut menghitam dan kasar seperti luka yang baru mengering. Terutama si gece paling banyak di kedua kaki dan tangannya. Terpaksa harus rajin mengoles dengan minyak zaitun selama seminggu lebih. Terbaik emang terbaiiiikkk....!! Pengalaman terbaik, iya kan?? Jangan kapok yaa...