Oct 21, 2020

Kenapa Tiba-tiba Aneh?

October 21, 2020 2 Comments
Selama pandemi saya tidak kemana-mana kecuali tempat kerja dan kosan. Karena kerjaan saya beresiko sekali yaitu mendeteksi corona lewat tes PCR. Setiap hari bergelut dengan ratusan sampel swab yang diantaranya positif. Biarpun dibekali dengan APD berstandar yang Insya Allah sangat aman tapi demi meminimalisir resiko saya lebih baik mengasingkan diri. Selalu menjaga jarak dengan orang lain. Soal belanja kebutuhan hidup saya sering titip ke teman atau mampir ke koperasi di tempat kerja saat suasananya tidak terlalu ramai. Sesekali jika harus ke supermarket, saya pasti mematuhi protokol kesehatan. Pakai masker, jaga jarak, cuci tangan dan mandi setelah pulang.

Suatu hari saya merasakan keanehan. Badan lunglai, meriang, demam yang tidak seberapa dan migrain. Apakah ini gejala covid? Masak sih? Untuk meyakinkan saya mencoba telpon teman yang saat itu sedang di rawat di ruang isolasi karena positif covid. Apa yang dirasakannya? Tidak enak badan atau ringkih sekali, demam, pusing, sesak nafas, insomnia dan anosmia. Bener-bener tidak bisa mencium bau dan merasakan apapun.

Lalu saya mencoba menempelkan benda-benda yang berbau tajam ke dekat hidung, dari mulai parfum, sambel, ikan goreng bahkan kucing pun saya cium-cium. Semua masih tercium tidak ada perubahan apapun. "Oke, berarti bukan covid" pikir saya. Lagi pula demam juga tidak seberapa tinggi hanya sekitar 37°C, bersin hanya sesekali, tenggorokan kering juga masih bisa dimaklumi karena setelah minum pasti lega. Batuk juga hanya karena tenggorokan agak gatal seperti digelitik. Semua tidak terasa berat tetapi mengganggu aktivitas. Kepala terus-terusan berdenyut pusing seperti dipahat.

Kebetulan siklus datang bulan bersamaan dengan munculnya gejala ini. Biasanya memang tidak enak badan, lemes, migrain apalagi di hari pertama dan kedua yang sedang banyak-banyaknya. Tidak adanya anosmia meyakinkan bahwa saya tidak terkena covid. Badan lesu pasti karena sedang haid sehingga tetap masuk kerja seperti biasa.

Sampai hari-hari berikutnya perasaan aneh itu tidak juga menghilang. Tidak ada nafsu makan. Makanan favorit pun tidak mengundang selera. Tapi harus dipaksakan makan teratur. Harus makan nasi 3 kali sehari ditambah dengan sayur, buah dan vitamin. Karena itu akan menjadi penolong agar badan tetap fit dan imun terjaga. Untuk indikator kena corona atau tidak, lagi-lagi saya mengandalkan mencium parfum setiap saat. Jika masih tercium berarti tidak kena.

Pernah suatu ketika saya penasaran dan minta di'swab. Tapi teman saya meyakinkan bahwa itu semua wajar karena sedang haid. Sebenarnya dia juga takut seandainya saya positif berarti dia yang kontak erat dengan saya juga dipertanyakan. Saya mencoba mencium parfum lagi. Masih tercium bau wanginya. "Bukan kali ya..." Positif thinking dan tetap dibawa happy karena itu juga bisa meningkatkan imun.

Saya mulai curiga biasanya migrain karena haid hanya sekitar 1 - 2 hari. Ini lebih dari 3 hari kenapa belum hilang juga? Kali ini tidak mau terkecoh lagi dengan aroma parfum. Saya minta tolong teman untuk mengambil swab nasofaring sebelum saya mulai aktivitas pada hari itu. Setelah 9 hari merasakan keanehan. Hidung dikorek sampai kedalaman hampir 10 cm sungguh sangat tidak nyaman. Pedes perih seperti keselek kemasukan cabe. Menyisakan rasa mengganjal di hidung beberapa saat.

Saya kerjakan sendiri sampel saya bersamaan dengan pasien yang lain. Tahap demi tahap terlewati. Rasa deg-degan dapat terlupakan oleh canda tawa bersama teman satu tim sepanjang proses. Hingga akhirnya pada bagian terakhir saat pembacaan hasil. Teman saya menganalisa dan saya mencatatnya untuk laporan. Tibalah giliran punya saya. Mak Jreeeng!!! Warnanya merah yang artinya POSITIF. Saking bingungnya semua jadi lupa untuk bersedih. Kami saling menertawakan satu sama lain karena selama ini kontak erat di ruangan yang sama selama berjam-jam dan berhari-hari. WADUH KOK BISA?

Sepulang kerja saya mengingat kembali aktivitas selama 14 hari ke belakang. Kemana saja dan kontak dengan siapa. Saya tidak kontak langsung dengan pasien. Hanya dengan ratusan VTM (Virus Transport Media) yang sudah terisi swab nasofaring. Tapi Insya Allah selalu menggunakan APD sekali pakai saat mengerjakannya. Kontak dengan teman di lab utama tidak seberapa lama hanya saat mengambil logistik dan memberikan laporan. Semua pasti sedang memakai masker. 

Nah rupanya di lab biomolekuler sendiri yang saya merasa agak acak-acakan. 14 hari sebelumnya ada salah satu dari teman kami tenaga tambahan yang terkena flu dan tetap masuk kerja. Kami semua termasuk bos sudah mengingatkan untuk periksa swab atau istirahat dulu dari pada membahayakan orang lain. Tapi ditolak mentah-mentah dengan alasan "Kalau positif gimana?" Lah kok aneh ya kalau positif diobati. Terkena covid bukanlah aib tapi musibah. Seluruh dunia sedang berjuang melawannya.

Keras kepala tetap tidak mau dan masih masuk kerja karena merasa hanya flu biasa, badan masih kuat. Padahal sedang ketakutan juga karena sekeluarga terkena batuk. Ya kalau takut kenapa tidak mau swab, toh bisa periksa sendiri gratis. Ya Robbi lindungi kami semua...

Memang dia selalu memakai masker dan jaga jarak saat kontak dengan saya. Tapi gimana dengan pemakaian toilet? Delapan jam kerja tidak mungkin tidak ke toilet. Pegang kran, semprotan wc, gagang pintu dan yang lainnya. Setelah itu dipakai orang lain termasuk saya. Sangat disayangkan bos-bos yang mengetahui hal itu terkesan cuek tidak peduli keselamatan kami. Tidak ada keharusan untuk swab atau isolasi selama terkena flu. Dibiarkan semaunya yang penting kerjaan selesai. Ya Allah sedih sekali ingat hal itu.

Walaupun begitu ya wallahualam saya terpapar dari mana. Tidak bisa dipastikan juga apakah dari teman saya itu atau bukan. Karena dia juga tidak diperiksa baik swab maupun cek yang lain. Tidak tau apakah positif atau memang flu biasa. Namun secara kronologis tepat sekali. Dari artikel yang saya baca gejala akan muncul 5-7 hari setelah terpapar. Pada beberapa kasus bahkan hanya 3 hari. Saya muncul gejala setelah 4 hari memakai toilet bekas teman saya. Tapi karena terkecoh dengan gejala saat PMS dan tidak ada anosmia saya tidak menyangka jika si penjahat itu telah bersarang di badan saya.

Saya baru swab setelah hari ke-9 bergejala dan dinyatakan positif. CT value sudah mulai merendah. Sepertinya virus tinggal sisa-sisa. Hari ke-11 saya swab lagi alhamdulillah hasilnya negatif. Agar lebih yakin hari ke-13 saya swab lagi dan tetap negatif. Secara klinis memang covid bisa menghilang antara 10 - 14 hari setelah terpapar jika daya tahan bagus. Jika benar saya terpapar di hari yang diperkirakan berarti di hari ke-14 virus sudah menghilang. Tapi lagi-lagi hanya Allah yang tau. Yang penting saya sudah sembuh dan bisa beraktifitas lagi.

Justru yang membuat khawatir adalah teman-teman yang kontak erat selama saya belum ketauan positif. Ada yang punya bayi, balita serta orang tua yang punya penyakit bawaan. Sangat mungkin sekali pulang kerja membawakan makhluk yang tidak pernah diharapkan kehadirannya itu. Tapi Allah menunjukkan kuasa-Nya. Alhamdulillah mereka semua negatif. Terima kasih Ya Allah.

Kisah ini bisa menjadi pelajaran khususnya buat saya sendiri. Jangan anggap remeh corona. Patuhi protokol kesehatan. Jaga jarak, memakai masker, cuci tangan dan makan teratur. Jika curiga tidak enak badan setelah kontak dengan orang sakit lebih baik langsung periksa apalagi jika ada fasilitas gratis atau jika keadaan tidak memungkinkan setidaknya isolasi agar tidak membahayakan orang lain. Selain melindungi diri sendiri lindungi juga orang lain. Gejala covid sangat bervariasi pada setiap orang tergantung daya tahan tubuh, usia, penyakit bawaan atau tingkat keganasan virus itu sendiri. Lebih baik mencegah dari pada berakibat fatal. Semoga Allah segera mengangkat si corona dari muka bumi ini. Aamiin Ya Robbal Alaamiin...

Oct 17, 2020

Corona

October 17, 2020 0 Comments
Novel Coronavirus si makhluk renik serta penjahat paling killer hingga saat ini belum menghilang dari muka bumi. Delapan bulan lamanya telah mampir ke Indonesia dan hampir merata ke seluruh dunia. Semakin hari kasus bukan semakin berkurang tapi malah meningkat dan terus meningkat. Beragam kisah sedih dari mulai kehilangan orang-orang terkasih hingga kehilangan penghasilan bertebaran dimana-mana. Entah mau jadi apa dunia ini. Hanya Allah yang tau.

Tenaga kesehatan di rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya menjadi garda terdepan dalam melawan virus ini. Dengan meningkatnya kasus meningkat pula tugas yang dihadapi. Berlipat-lipat dari biasanya. Tak sedikit dari beliau yang justru menjadi korban dari ganasnya virus ini. Gugur dalam tugas pasti akan diterima di surga-Nya yang luar biasa indah. 

Tidak bisa bertemu dan melewati hari bersama keluarga tercinta menjadi hal yang harus direlakan hingga waktu yang tidak ditentukan. Demi kebaikan bersama menjaga jarak sangat dianjurkan. Kita tidak tau diantara kita siapa yang telah terpapar olehnya dan tidak menunjukkan gejala apapun. Dia tidak pandang bulu. Siapapun bisa ditempeli dan diinjak-injak tiada ampun. Hanya daya tahan tubuh dan kekuatan dari Allah yang bisa melawannya.

Seuntai doa senantiasa dipanjatkan semoga kita semua tetap dalam lindungan Allah SWT dijauhkan dari makhluk paling menyebalkan ini. Innalillahi wa innaillaihi roji'un.

Aug 6, 2019

Terjebak Di Antara Suporter Bola

August 06, 2019 0 Comments
Gara-gara memanfaatkan tiket unlimited sore itu saya keliling sendirian di Amsterdam. Sekadar melangkahkan kaki daripada nganggur karena sudah beli tiket mahal kalau tidak dipakai sayang. Tiket yang mengcover hampir semua angkutan umum di Amsterdam seperti train, tram dan bus kota untuk 1 hari. Selagi masih berlaku ceritanya. Saya tidak berbekal itinerary apapun. Hanya selembar peta untuk keliling di sekitar jalur tram.

Saat itu malam minggu dan ternyata ada pertandingan bola Club Belanda melawan Club Jerman. Entah apa namanya karena bukan pecinta bola jadi tidak mau tau. Banyak orang segala usia keluar rumah untuk nonton bareng di cafe. Ramai sekali. Suara yel-yel dan teriakan bersahut-sahutan di beberapa sudut kota.

Semakin sore semakin ramai. Banyak orang berkejar-kejaran sambil teriak entah ngomong apa bahasanya Belanda semua. Segerombol pergi, segerombol datang lagi. Begitu seterusnya sampai beberapa kali. Saya mulai deg-degan teringat media massa yang sering memberitakan tawuran antar suporter bola. Jadi bingung, kalau kembali pulang berarti harus jalan ke Stasiun Central dan melewati kerumunan mereka, diam di pinggir jalan semakin tenggelam oleh mereka yang berdatangan dari segala arah, mau naik tram berjubel penuh dengan mereka. Bisa-bisa disangka penyusup karena secara pakaian saya beda sekali. Tidak ada orang berkerudung kecuali saya. Lalu hanya bisa pasrah di pojokan halte sambil makan rumput. Makan wafle ding tapi ketempelan rumput kering tidak sengaja kemakan hehhe... Syukurlah tidak memakai atribut apapun yang berbau bola. Warna baju juga tidak senada dengan kedua club itu.

Setelah agak sepi, datang tram di jalur 2 yang katanya jalur paling bagus banyak melewati landmark di Amsterdam. Karena lumayan kosong saya melanjutkan niat keliling memanfaatkan tiket unlimited. Saya naik dan duduk di tengah dekat ke jendela. Lumayan bisa berlindung dari pasukan yel-yel yang masih tersisa. Eh ternyata di halte berikutnya ada yang naik lagi. Sampai berjubel empet-empetan. Nyanyi teriak-teriak sambil gebrak-gebrak dinding tram. Tadinya kalau ketemu tempat yang bagus saya akan turun. Ternyata tidak bisa lewat. Ditambah bahasa pengumuman di tram juga roaming. Auto ngeblanck entahlah posisi sampai di mana. Pilihannya hanya pasrah dan berencana turun di pemberhentian terakhir lalu balik lagi.

Bonus di dalam Tram

Menjelang stasiun terakhir penumpang tersisa 3 orang. Lokasinya semakin menepi dan sepi, entahlah stasiun apa. Atau mungkin belum stasiun terakhir saya juga tidak tau. Semua penumpang turun. Saya ikut turun dan berniat naik tram ke arah sebaliknya. Namun sial, tidak ada tram ke arah sebaliknya. Jalurnya hanya satu. Beberapa meter dari halte tram terdapat halte bus. Dua penumpang itu jalan kesana. Saya mengikuti di belakangnya. Tiba-tiba mereka naik ke bus yang lewat entah jurusan mana. Tinggallah saya sendiri dan 2 orang di halte seberang. Pengen nangis kejer tapi ditahan.

Saat pasrah menunggu keajaiban datanglah 2 bus berwarna biru dan merah. Saya  bertanya ke pak sopir bus ke airport. Saya akan pulang. Hotel saya dekat dengan airport, sekali naik free shuttle bus dari sana. Tapi kata pak sopir, bus sudah berhenti beroperasi. Baru sadar biarpun masih terang benderang seperti jam 15.00 waktu di Indonesia ternyata sudah hampir jam 21.00. Sudah malam bok pantesan rumah-rumah banyak yang sepi. Musim panas waktu siangnya lebih panjang. Sedangkan angkutan umum tetap beroperasi sesuai jadwal tanpa tergantung pada musim. Pak sopir menyarankan naik bus berikutnya. 

Tidak ada bus langsung ke airport harus transit di sebuah terminal yang saya tidak tau namanya. Pokoknya bus berhenti terakhir disitulah saya turun. Beruntung sekali bus itu berhenti tepat di sebelah bus jurusan Schipol Airport. Dengan bonus mas sopir yang baik, gagah dan berambut klimis. Rejeki anak sholeha di tengah kesulitan.

Celingukan menunggu keajaiban

Setelah 30 menit menunggu, bus mulai meninggalkan terminal misterius itu. Biasanya dari airport ke pusat kota hanya beberapa menit menggunakan kereta. Berhubung naik bus ternyata jauh sekali. Melewati tengah kota dengan beberapa kemacetan akibat lampu merah dan masuk ke jalan tol. Syukurlah sampai di airport masih terangkut oleh shuttle bus terakhir ke hotel. Alhamdulillah akhirnya Inem bisa pulang dengan selamat. Sampai di hotel waktunya maghrib jam 22.30. Niat memanfaatkan aji mumpung malah berdebar sepanjang jalan.

Jan 23, 2019

Anti-flea Shampoo

January 23, 2019 0 Comments
A Couple months ago at my sisters house I took a shower in the morning and I washed my hair. When I brushed my hair with shampoo it didn't lather or foam and I began to wonder why? I thought I took too little shampoo then I took more but nothing changed. Instead my hair felt oily and it seemed to make my hair more dirty. It was then I had a closer look at the bottle of shampoo and to my utter shock and horror, it wasn't shampoo but a conditioner. Who is stupid? The bottle looks the same.

I looked for shampoo. I read all the bottles in the bathroom but there was no shampoo. I only found shampoo for babies can be seen from the bottle with a cartoon picture and smells of fruit. Who has this? My sister doesn't have a baby. I don't want to think about it. I was forced on using it just not make me feel more clean. But it's okay because I didn't have much choice.

When I am finished I told my sister. She was laughing so hard while saying "Honey that's not shampoo for babies but for Echia. Sorry I forgot to tell you I ran out of shampoo in the bathroom. But it's okay, never mind it's fair to say you don't have fleas in your hair because you used anti-flea shampoo".

Echia is her favorite CAT !!! 😭😭😭

Dec 15, 2018

Giethoorn Desa Bebas Polusi

December 15, 2018 0 Comments
Giethoorn merupakan desa di Belanda yang terkenal dengan keasriannya. Tidak ada jalan raya maupun kendaraan bermotor sehingga bebas suara bising dan asap knalpot. Desa ini terdiri dari pulau-pulau kecil yang dikelilingi oleh sungai berair jernih dan tenang. Transportasi utama di desa ini menggunakan perahu boat serta dayung sampan. Tapi hanya diperbolehkan perahu yang bersuara lembut atau whisper boat. Tidak ada perahu mesin diesel bersuara brisik sehingga suasana tetap hening, tenang dan nyaman. Jika tidak banyak pengunjung hanya terdengar suara kicauan burung dan celotehan bebek berenang. Cocok sekali untuk relaksasi mencari kedamaian. Biarpun tidak ada kendaraan desa ini sangat modern dan bersih tidak ada sampah.

Terletak di daerah Steenwijkerland, Propinsi Overijssel, Belanda utara. Sekitar 2 jam dari Amsterdam yaitu menggunakan kereta dari Amsterdam Central ke Steenwijk selama 1 jam lalu naik bus nomer 70 ke arah Zwartsluis dan turun di Dominee Hylkemaweg yang berangkat setiap 1 jam sekali. Jika oneday trip setidaknya sediakan waktu 5 jam untuk pulang pergi. Pastikan dengan benar jadwal keberangkatan bus karena jika tertinggal bisa menunggu lumayan lama.

Dari halte Dominee Hylkemaweg belum terlihat desa cantik itu. Jalan kaki sekitar 300 meter mulai terlihat adanya rumah tradisional khas Giethoorn yang sangat unik. Tidak ada gerbang khusus yang menandai pintu masuk. Hanya berderet perahu boat di sungai di pinggir jalan untuk disewakan. Saat musim panas pengunjung sangat ramai perahu ini selalu full booked. Sehingga disarankan untuk booking online sebelum berangkat. Syukurlah saya kesana saat musim semi pengunjung tidak begitu ramai dan masih banyak pilihan perahu.

Harga tergantung rute yang akan ditempuh. Ada rute 1 jam, 2 jam dan 3 jam. Karena rute 2 dan 3 jam hanya beda sedikit saya hanya mengambil rute 2 jam. Perahu berkapasitas 6 orang dengan harga 30€. Jika bepergian sendiri / solotravel bisa membeli tiket sharing perahu yang berkapasitas 45 orang seharga 7.5€ per orang untuk rute 1 jam. Bisa juga menyewa sepeda mulai dari 10€ per jam. Tapi pilihan sepeda tidak terlalu banyak. Agar terasa lebih dekat, gratis dan bebas pikiran dari mengembalikan perahu atau sepeda sewaan, jalan kaki adalah pilihan terbaik.

Kita lihat yuk seperti apa indahnya desa negeri dongeng ini. Jangan lupa siapkan kamera dan memori card sebanyak-banyaknya. Sekalian juga siapkan baju prewedding setidaknya 10 pasang. Desa romantis ini sangat cocok sekali dijadikan tempat untuk mengabadikan moment dan dicetak di kartu undangan.

Welcome to Fairy Tale "Rudolvo".

Saat musim dingin sungai ini akan membeku dan biasanya dijadikan tempat bermain ice skating.

Setiap rumah punya boat pribadi.

Terdapat sekitar 180 jembatan penghubung antar pulau kecil.

Atap jerami dan ijuk lebih mahal dari pada atap genteng.

Desa ini berada di tanah pertanian gambut dengan rumah tradisional beratap jerami dan ijuk yang berumur lebih dari 100 tahun. Desa yang dijuluki "Venice of Netherlands" ini konon dibangun pada tahun 1230 hingga saat ini berpenduduk sekitar 2600 orang.

Selain bekeliling dengan perahu boat kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah mengunjungi museum. Desa ini memiliki dua museum yang terkenal, yaitu Museum De Oude Aarde yang memamerkan batu atau mineral dari berbagai belahan dunia, serta Museum Het Olde Maat yang menampilkan Giethoorn 100 tahun yang lalu.

Semua tempat menarik untuk foto pre dan post wed-wed.

Di desa ini tidak boleh didirikan hotel, tapi banyak penginapan semacam guest house dengan konsep bed and breakfast.

Sungai yang jernih dan tenang.

Maen ke rumah nenek sekalian survey tempat untuk foto prewedding.

Whisper Boat.

Lelah berkeliling desa berfoto jeprat jepret di depan rumah negeri dongeng, bisa mampir ke restaurant dan cafe yang menyediakan berbagai menu kebarat-baratan. Yang pasti tidak akan ditemukan nasi ataupun bakso. Padahal duduk di pinggir sungai sambil nyeruput kuah bakso anget-anget akan menjadi hal yang istimewa tapi lupakan itu. Saya hanya membeli es krim dan wafle yang rasanya seperti es krim pada umumnya. Jangan lupa membeli cendera mata khas Giethoorn sebagai kenang-kenangan di toko pernak-pernik yang masih berada di kawasan desa ini.

Dec 14, 2018

Berita Duka - Senin 10 Desember 2018

December 14, 2018 0 Comments
Hari minggu tanggal 9 saya seharusnya dinas pagi tapi tukar ke siang karena ikut event Fun Run di Cikerai. Berangkat naik gocar jam 06.00 dengan Cita dan Christine lalu ketemuan dengan Kang Maman dan keluarga Kak Ainun di TKP. Acara dimulai sekitar pukul 08.00 peserta laki-laki dipersilahkan lari duluan disusul peserta perempuan. Mayoritas bocah cilik SD dan SMP karena hanya berjarak 3 km dan gratis. Start dari Waras Farm dan finish di Villa Ternak.

Selesai acara kami keliling Villa Ternak. Buat orang kota mungkin pengalaman yang beda bisa melihat kambing langsung di kandangnya. Apalagi anak-anak. Sedangkan orang desa seperti saya ya biasa banget mending pulang kampung kandangnya lebih besar dan kambingnya lebih banyak. Hampir setiap rumah punya. Mau bantu cari rumput, kasih makan atau minum pasti dipersilahkan dengan senang hati. Gratis pula tidak ada cerita tiket masuk. Sepuasnya mau tidur bareng kambing juga boleh. Bebas.

Jam 10.00 saatnya pulang cari gocar tidak ada. Jadinya hike hitching ke mobil orang dan diperbolehkan nebeng sampai JLS lalu pesan gocar yang banyak bertebaran.

Setelah istirahat mandi dan sholat dzuhur saya berangkat kerja jam 13.45. Dines bersama Christine dan Boss. Jam 16.00 sekalian keliling ruang perawatan saya bersama Christine nengok ibu kos yang sedang dirawat di Wijaya Kusuma kamar 7-1. Ibu terbaring lemas dengan selang oksigen menempel di hidung. Nafasnya tersengal sesak tampak berat sekali saat diajak ngomong. Tapi tetap berusaha menyambut saya dengan senyum ramahnya. Senyum khas ibu yang membuat matanya terlihat semakin sipit. Ibu memang jarang cemberut. Selama ngekos saya tidak pernah melihat ibu marah.

"Ibu kok belum pulang-pulang di rumah sepi" candaan saya seperti biasa saat ibu masuk rumah sakit. Dengan nafas tersengal ibu hanya menjawab lirih.
"Iyaaa..."
"Ibu sekarang yang dirasain apa?"
"Pengen pulang..."

Tiga hari sebelumnya sempat dirawat di ICU. Sudah pindah ke perawatan biasa berarti telah membaik. Biasanya tak berapa lama diperbolehkan pulang dan semua pun berharap demikian. A Ridho dan kakaknya keluar kamar memberi kesempatan saya agar lebih nyaman bersama ibu. Tapi kondisi ibu tidak memungkinkan diajak ngobrol berlama-lama. Nafasnya sangat berat. Saya hanya memegang tangannya sambil lihat-lihatan dan melempar senyum. Wajah ibu tampak bersih. Tempat tidurnya ditinggikan menjadi setengah duduk. Tidak biasanya ibu selemas ini. Semoga 3 atau 4 hari lagi pemulihan ibu sehat kembali.

"Mau ambil darah ibu?" tanya ibu melihat formulir tes laboratorium yang saya pegang.
"Gak bu, ini buat pasien kamar sebelah"
"Ohh..."
"Ya sudah ibu jangan banyak ngobrol, ibu harus banyak istirahat biar cepat sembuh"
"Iyaa..."
"Saya ke sebelah dulu ya, ibu cepat pulang pokoknya kita tunggu di rumah"
"Makasih yaa..." jawab ibu dengan senyum yang tak pernah lepas.

Saya melanjutkan tugas negara menyedot darah pasien di kamar yang lain dan membawa ke tempat saya sehari-hari berkutat di rumah sakit.

Keesokan harinya saya kembali dinas pagi. Pulang dinas jam 14.15 bertemu dengan Saddam anak terakhir ibu sedang duduk di teras. Pintu samping terbuka lebar tidak seperti biasanya. Terasa ada yang  beda tapi susah dijelaskan.

"Ibu sudah pulang?"
"Belum..." jawab Saddam.

Saya masuk ke kamar berbaring di kasur kesayangan di kosan Bu Haji Pur. Ibu bernama Alinah tapi biasa dipanggil Bu Haji Pur oleh tetangga sekitar. Baju kotor telah menumpuk tapi masih enggan untuk merendamnya. Nanti saja setelah sholat ashar. Saya sempat tertidur 30 menit dan terbangun saat adzan berkumandang.

Selesai sholat saya melanjutkan niat merendam baju lalu membuat pudding mangga nutrijel dan nasi goreng untuk buka puasa. Saya sedang puasa hari senin. Saat meletakkan HP diatas kulkas mata kiri tiba-tiba kedutan. Kalau kata orang kedutan di mata tandanya mau nangis. Halah mitos nangis apaan. Lupakan. Lalu sibuk menyiapkan menu berbuka.

Di kulkas tidak ada sayuran. Hanya ada teri, bakso dan telur puyuh. Paling praktis ya bikin nasi goreng karena bosan masakan warung. Besok pagi rencana saya jogging sambil lewat membeli sayur di tempat nenek langganan.

Tengah menumis bumbu nasi goreng tiba-tiba A Ridho masuk lewat pintu samping dengan terburu-buru dan hidungnya meler seperti sedang pilek sambil ngobrol di telpon. Ada ibu-ibu saudaranya yang mengikuti di belakangnya. Saya tidak memakai kerudung. Saya matikan kompor dan lari ke kamar mengambil kerudung. A Ridho mengejar saya berdiri di depan kamar kosong seberang kamar Cita.

"Mbak Cita" panggilnya dikira saya Cita.
"Cita ga ada lagi pulang" teriak saya dari balik pintu karena kerudung belum terpakai sempurna.
"Mbak maafin mama ya, MAMA UDAH GAK ADA" kata A Ridho dengan suara terisak.

Innalillahi wa innaillaili rajiun... Seketika kaki lemas bingung dan lupa apa yang akan saya lakukan. Wajah ibu saat bertemu kurang dari 24 jam yang lalu melintas dipelupuk mata. Masih salaman masih ngobrol masih tersenyum. Ya Allah... Benarkah sekarang sudah tidak ada?

Saya mengabari Cita dan Yuni di whatsapp. Yuni kebetulan sedang menuju ke kosan. A Ridho kembali ke rumah sakit. Saya dan Yuni menyusul ke rumah sakit ke Wijaya Kusuma kamar 7-1. Kemarin di kamar ini ibu masih tersenyum. Mata sipitnya masih terbuka. Tidur meninggi setengah duduk kakinya di dalam selimut. Sekarang ibu tertidur dengan posisi lurus ditutup kain jarik bukan selimut rumah sakit. Di balik kain jarik wajah ibu sangat pucat. Matanya menutup seperti tertidur pulas. Entah mata saya yang salah atau terlalu berharap, seolah perut ibu masih bergerak naik turun. Ibu seperti masih bernafas.

"Ibu kemaren saya bilang ibu cepat pulang maksudnya pulang ke rumah bukan pulang kesana..." Memang Allah lebih sayang ke ibu. Agar tidak merasakan sakit lagi. Tidak bolak balik ke rumah sakit untuk cek gula darah. Tidak perlu minum obat lagi. Insya Allah ibu diberikan tempat terbaik di sisi Allah karena sehari-harinya sholat, ngaji dan dzikirnya rajin sekali. Insya Allah husnul khatimah.

Malam itu juga ibu dibawa ke Jakarta untuk dimakamkan disana. Hanya singgah 1 jam ke rumah berpamitan dan didoakan tetangga sekitar. Setelah kepergian ibu kosan ini sepinya beda. Memang sering kosong ditinggal ke Jakarta atau kemana tapi kali ini beda. Ada keistimewaan di rumah ini yang tiba-tiba menghilang.

Malam itu di kosan hanya bertiga dengan Yuni dan Heni tidur di kamar masing-masing. Kami semua sulit memejamkan mata. Terbayang wajah ibu dan senyum ramahnya yang khas sekali. Dimanapun bertemu selalu tersenyum. Tapi senyum itu tidak akan ada lagi. Langkah ibu yang menyeret sandal tidak akan terdengar lagi. Batuk ibu dari dalam kamar tidak akan terdengar lagi. Dengkuran ibu saat saya lewat di pintu samping juga tidak terdengar lagi. Tidak ada lagi yang memanggil Cita memberitahu ada paket. Ibu telah kembali ke pangkuan-Nya. Alam yang beda. Semua pada akhirnya juga akan kesana. Selamat Jalan Ibu. Kebaikan ibu akan selalu terkenang. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiinn. We gonna miss you Ibu.



Dec 6, 2018

Tidur Di Hotel Berjalan

December 06, 2018 0 Comments
Salju setinggi mata kaki menutupi sepanjang jalan dari Gärdet Metro Station ke Värtahamnen Ferry Terminal sejauh 500 meter. Hamparan lembut serbuk es itu harus terkoyak oleh pijakan sepatu dan roda koper. Membentuk telapak kaki dan dua garis memanjang seperti rel kereta. Garis itu sesekali bengkok akibat roda koper terjebak di jalan berlubang. Tidak membutuhkan waktu lama jalan itu akan mulus kembali karena hujan salju masih belum berhenti. Semakin mendekat ke ferry terminal tumpukan salju semakin tebal. Laut dan daratan tidak ada bedanya. Semua membeku.

Di tepi ferry terminal teronggok dua kapal besar milik perusahaan Tallink. Berwarna putih tingginya melebihi gedung terminal. Satu diantaranya bernama MS Baltic Queen. Kapal inilah yang akan membawa saya ke Tallinn Estonia untuk melengkapi tugas menikmati dunia. Dengan pertimbangan menginap di hotel sekalian pindah tempat (hotel berjalan). Agar merasakan seperti rangorang sekalian latihan jadi menantu raja minyak biar gak kaget. Apalagi kapal pesiar di Eropa yang punya standar kenyamanan dan keamanan yang memadai, sesekali layak dicoba agar taunya jangan hanya kapal Ro-Ro Merak Bakauheni.

Download dari google agar terlihat full body.

Kapal MS Baltic Queen tampak dari belakang dalam cuaca galau.

Menginjakkan kaki ke garbarata mata mulai terbelalak berdecak kagum tapi pura-pura biasa aja agar tidak terlihat norak. Sesekali melirik kapal dari sela-sela kaca. Namanya juga latihan jadi sok kalem elegant padahal dalam hati teriak "Wajegile ndro bagus amat yak" Seandainya di kampung sendiri pasti bakal ngoceh panjang lebar tentang kapal ini.

Kapal ini akan berangkat jam 19.00 waktu Stockholm. Saya mulai masuk 1 jam sebelumnya. Di depan pintu berderet petugas berseragam necis berparas seperti boneka menyambut saya bak tuan putri. Interior di dalam sejauh mata memandang kinclong, bening dan berkilauan akibat pantulan cahaya lampu. Semua lantai berlapis permadani mewah tiada kotoran menempel. Terpaksa diinjak sepatu saya yang ndeblok ketempelan salju. Sekotor apapun calon anak papah tetap dipersilahkan masuk. Mas-mas berambut klimis, memakai blazer dan berdasi mengantarkan sampai ke depan resepsionis.

Harga tergantung pilihan kamar mulai dari premium cabin, deluxe, junior suite hingga executive suite dan including dinner atau tidak. Buat anak kost cukup yang paling murah yang penting bisa selonjoran dan masak nasi. Perut asli Indonesia gitu loh. Nanti kalau sudah jadi anak papah baru minta kelas teratas dengan fasilitas yang super mewek. Anehnya harga one way lebih mahal daripada round trip. Jadinya beli round trip dan tiket baliknya terpaksa disobek.

Mbak resepsionis memberi kunci kamar nomer 8824 di deck 8 dan password wifi. Wifi disini gratis biarpun kadang-kadang LELET. Kamar dengan dua tempat tidur, yang satu bisa dilipat jadi sofa serta jendela bulat langsung menghadap ke laut. Bisa melihat kapal berlayar diantara tumpukan es. Ada juga meja, lemari, toilet, handuk dan toiletries lengkap persis seperti hotel di darat.

Nah sudah masuk kamar, sebelum masak kita intip dulu yuk sebagus apa hotel berjalan ini dan fasilitas apa saja yang bisa dinikmati. Pokoknya jangan kemana-mana ya gaes scroll ke bawah sampai habis. Kita kelilingin semuanya.

Kalau males antri lift banyak tangga manual. Tangganya aja bling-bling beginiihh...

Kapal MS Baltic Queen mulai beroperasi bulan April 2009. Berkapasitas 2800 orang, 420 mobil dan 75 truk atau trailer. Terdiri dari 12 deck dengan panjang 212 meter. Termasuk kecil dibanding kapal pesiar di lautan Amerika yang tingginya segunung seperti Royal Caribbean yang muat sampai 6000 orang. Ini hanya separonya. Tapi secara kinclong dalamnya mirip-mirip.

Kita mulai ngoprek dari deck 1, yaitu ruangan mesin tempat paling brisik tentunya. Deck 2 tempat tinggal semua staff dan crew cabin lengkap dengan fasilitasnya seperti lounge, bar dan restoran. Disini juga terdapat sauna, bar dan kolam renang untuk dewasa dan anak-anak. Deck 3 dan 4 adalah garasi mobil dan kendaraan lainnya. Parkiran dengan sistem hidrolik. Sementara kamar cabin untuk penumpang berada di deck 5, 8 dan 9.

Lorong ke kamar.

Selain kamar, di deck 5 juga terdapat Hera Salongid (beauty salon), hairdressers dan masseuses (face and body treatment, hair styling and colouring) yang buka selama 24 jam saat kapal beroperasi. Sebelum ke pesta bisa deh dandan menor disini. Terdapat juga conferensi hall dengan kapasitas 450 tempat duduk, Lotte Village / Childrens Playrooms dan Playstation Lounge. Konon saat summer conferensi hall itu akan ditutup sementara untuk disulap menjadi playground juga.

Lotte Village. Nanti cucu papah bisa diajak kesini biar gak bosan.

Games Room.

Playstation Lounge.

Bagi yang punya hobby shopping dan kecantikan di deck 6 terdapat cosmetic boutique, fashion clothing untuk dewasa maupun anak-anak, gadget dan elektronik, supermarket dan duty free tax-free selain menjual makanan juga souvenir, minuman beralkohol, rokok, parfum, kosmetik dan produk skincare. Tersedia juga Gift dan Toys Shop yang menjual berbagai souvenir dan beragam mainan anak-anak. Di berbagai pojok juga tersebar cafe dan bar. Sekilas pandang harga-harganya tidak jauh beda dengan harga di darat. Bisa bayar cash maupun debit.

Shopping Area.

Shopping Area.

Gift and Toys Shop.

Supermarket. Muter-muter disini sampai sejam ngecek harga termurah karena mau ngabisin duit Swedia yang tersisa 19 Krona. Dari pada dibawa pulang ga laku. Masih bisa kebeli 1 juice botolan, apel 2 bijik dan sofe cake kecil rasanya aneh. Harga air mineral lebih mahal daripada beer maupun juice botolan. Sebotol 600ml 50an ribu kalau dirupiahkan. Gile kan dro. Orang bule kalau beli beer sampai dus-dusan entah buat mandi atau apa, eh diminum ding.

Di deck 7 terdapat Fashion Street Boutique yang menjual berbagai produk brand internasional seperti Tommy Hilfiger, Guees, Esprit, Superdry, Marc'O Polo dan Desigual. Selain area shopping di deck 7 ini pusatnya restoran, cafe, bar dan lounge serta entertainment komplek yang menyediakan show lounge dan dance floor. Tinggal pilih mau dinner dimana, Grill House, Buffet Restautant, Alexandra Restaurant, Italian Restaurant, Gourmet Baltic Queen, Starlight Palace Restaurant dan masih banyak lagi.

Show Lounge. Biasanya jadwal show ada di kamar atau di cruise map yang terpampang di pojokan.
Lorong menuju bermacam restoran. Pilih aja papah mau makan dimana? Hayuk. Kalau ada sih pengen Bakso Yayu Gemi.
Piano Bar. Minum kopi sambil dengerin alunan music classic.

Kafetaria. Tempat makan yang include di pembelian tiket.

Sevilla Bar.

Tango Lounge. Banyak tempat nongkrong mah silahkan pilih yang mana.



Merasa bosan di dalam bisa naik ke deck 10 dan 11 yang merupakan outdoor deck. Bisa selonjoran sambil menikmati sepoi angin laut atau bintang di langit saat malam hari. Di deck 10 juga terdapat Ibiza Disco Nightclub bagi yang suka party-party jeb ajeb. Disediakan DJ profesional dan club music jedar jeder. Sedangkan di deck 12 terdapat helipad.

Pantesan ya keluarga papah seneng banget naik beginian, segalanya ada. Mau santai tinggal selonjoran minum kopi di cafe, pengen shopping tinggal ngesot, boring tinggal nonton atau maen games, badan pegel-pegel tinggal pijet ke spa atau sauna, kalau capek balik ke kamar bobok. Pokoknya bebas.