Nov 17, 2014

Pengalaman Pertama Membuat Visa

November 17, 2014 0 Comments
Rencana jalan-jalan ke Bangkok yang sekian lama diulak-ulik akhirnya dilupakan begitu saja setelah mendapat kabar dari seorang travel writer yang sedang mengadakan trip bareng ke Korea. Awalnya pendaftaran trip ini telah ditutup karena penuh kuota tapi tiba-tiba dibuka kembali mungkin ada beberapa peserta yang batal atau memang menambah kuota lagi. Yang pasti setelah iseng daftar saya dipanggil.

Maksudnya trip bareng disini bukan seperti agen perjalanan yang akan mengurus segalanya dan kita tinggal duduk manis nyampe tujuan, tapi hanya jalan bareng pas di Korea saja. Meeting point di Bandara lncheon Seoul. Jadi segala urusan kepergian harus mengurus sendiri-sendiri seperti membeli tiket pesawat dan membuat visa.

Untuk pembelian tiket pesawat bisa dibantu oleh pihak travel writer tapi harus grup minimal 10 orang sedangkan waktu itu saya belum kenal siapa-siapa dan tanggal keberangkatannya juga tinggal sebulan lagi sepertinya para peserta yang lain sudah beres semua tinggal berangkat. Akhirnya saya membeli tiket sendiri.

Untuk membuat visa pihak travel writer juga menunjuk salah satu agen yang bisa membantu mengurus ke kedutaan pastinya dengan harga yang lebih mahal dibanding mengurus sendiri. Belum lagi penyerahan berkas-berkasnya harus nganterin ke Jakarta juga. Bisa lewat pos tapi kok khawatir. Jadi sama-sama ke Jakarta mending urus sendiri sekalian belajar kalau ga, ya kapan bisanya.

Kesibukan dimulai, diawali dengan mengumpulkan berbagai informasi dari google mengenai syarat-syarat yang dibutuhkan serta membaca testimoni orang pada saat apply ke kedutaan. Ada yang ditolak, ada yang langsung diapprove, ada yang harus bolak balik karena persyaratan ga lengkap waoow makin banyak browsing makin jiper sendiri.

Mengenai jenis visa, persyaratan dokumen dan formulir aplikasi bisa dilihat dan didownload di situs ini Kedutaan Besar Republik Korea untuk Republik Indonesia. Pelan-pelan saya kumpulkan semua dokumen diantaranya pas photo, paspor asli dan fotocopy paspor, fotocopy KTP, fotocopy akte kelahiran, fotocopy NPWP, surat keterangan kerja, tiket pesawat, rekening koran tabungan 3 bulan terakhir dan itinerary selama di Korea.

Pas photo katanya harus yang terbaru, harus close up, harus jelas dan background putih maka saya niat bikin yang bagus ke studio photo (biasanya suka selfie sendiri trus dicetak). Sambil menunggu foto saya ke bank membuat rekening koran. Katanya semakin banyak tabungan semakin bagus tapi kalau tiba-tiba banyak ya malah mencurigakan. Menurut info paling tidak harus punya seharga tiket pulang pergi dan biaya hidup di negara yang dituju selama 3 hari. Tiket PP Jakarta-Korea harga standar antara 5-8jt. Setelah dapet selembar rekening koran barulah saya ambil uang untuk beli tiket dan keperluan yang lainnya. Jadi diprint dulu baru diambil uangnya. 

Berhubung tidak punya kartu kredit saya beli tiket lewat agen dengan harga yang sedikit lebih mahal dibanding beli langsung lewat website airlines. Nyeseg sih tapi yo wes lah, pengalaman itu kadang memang mahal (menghibur diri).

Untuk surat keterangan kerja saya tinggal meminta ke bagian SDM tapi kali ini harus yang berbahasa Inggris. Nah lo... Saya waktu itu bener-bener buta seperti apa formatnya. Browsing kesana kemari rasanya ga nemu yang pas. Akhirnya saya translet sendiri dengan bantuan kamus. Setelah itu saya minta tolong dibuatkan ke staf SDM. Saya sempat diinterogasi mau keluar kerja, mau kerja di luar negeri, mau sekolah di luar negeri? Bukan pak hanya jalan-jalan abis itu pulang dan kerja lagi suerrr....

Semua sudah beres tinggal itinerary selama di Korea karena saya ikut acaranya travel writer berarti harus meminta itinerary ke beliau. Dua hari email saya ga dibales-bales. Waktu itu hari Kamis adalah hari terakhir pengajuan aplikasi visa. Setelah itu Kedutaan akan libur lebaran selama 2 minggu dan 12 hari setelah lebaran akan berangkat. Cukupkah mengurus visa setelah lebaran? Bisa aja sih tapi kalau lancar, kalau ga gimana? Gigit kuping. Membayangkannya badan lemes. Saya tinggal punya waktu sehari lagi menunggu balesan email, komunikasi memang hanya bisa lewat email karena beliau tidak memberikan nomer telepon. Please mbaaak bales email sayaaa... (antara sebel, memelas dan sedih). Jurus terakhir saya tulis pesan di timeline facebooknya "Mbak saya kirim email tolong dibuka ya" dan saya pun tertidur di dalam kepasrahan.

Dini hari sambil makan sahur saya coba membuka email dan ternyata ada balesan. Horeee.... Gitu donk mbak jangan bikin khawatir orang. Langsung saya print dan disatukan dengan dokumen lainnya. Pagi itu setelah subuh saya siap-siap menuju ke Jakarta. Pengajuan aplikasi visa antara jam 09.00-12.00 sedangkan untuk pengambilan visa jam 13.30-16.30. Menurut saran beberapa orang di google lebih baik datang lebih awal agar tidak keduluan dengan travel-travel agen yang biasanya mengajukan seransel berkas untuk visa. Jadi ga kelamaan antri. Awalnya agak ragu dengan alamat Kedutaan Korea setau saya di Jalan Gatot Subroto tapi kenapa banyak yang bilang di The Plaza Jalan Thamrin. Setelah googling-googling lagi rupanya kantor yang di Jalan Gatot Subroto sedang direnovasi.

Jam 09.30 saya sampai di The Plaza saya sempat bingung mau masuk ke lift kok semua orang pegang kartu trus discan dipalang pintu sebelum pintu lift. Rupanya harus registrasi dulu diresepsionis, maklum ya wong ndeso belum pernah masuk ke perkantoran elit. Setelah memberikan KTP barulah saya dikasih kartu visitor dan bisa masuk ke lift. Lift terbuka tepat di lantai 30. Di depan pintu lift ada bapak security yang mengarahkan saya ke pintu tempat aplikasi visa. Bapak securitynya guaanteng bokk walaupun sudah ubanan. Gimana mudanya ya... Jadi salah fokus kan. 

Di dalam ruangan yang tidak begitu besar itu hanya ada beberapa orang. Di pinggir pintu ada pak polisi yang mengarahkan untuk mengambil nomer antrian. Di depan loket ada satu orang yang saya curi-curi dengar katanya bapak dokter dan pengajuan aplikasi visanya belum diterima karena dokumen belum lengkap. Deg!! Pak dokter aja disuruh balik lagi gimana saya... Saya tunda dulu ambil nomer antrian dan baca lagi papan pengumuman sambil mencocokkan dokumen-dokumen saya. Setelah saya rasa cukup lalu pencet nomer antrian, eh belum sampai duduk ternyata langsung dipanggil. Saya serahkan map yang berisi semua dokumen. Pertama kali paspor saya dibuka-buka untung ga kosong banget sudah ada 2 visa arab, stempel Singapura dan Malaysia. Katanya story di paspor pengaruh juga. Kemudian dilihat lagi dokumen-dokumen yang lain dan tiket pesawatnya dikembalikan lagi "Ini tidak usah" lho... Katanya tiket pesawat yang paling ditanyakan, tau gitu belinya ntar aja nunggu harganya turun. Setelah itu disuruh membayar Rp 285.000 untuk visa single entry dan diberi kwitansi yang harus dibawa untuk mengambil paspornya nanti. Tahap pertama lolos tinggal menunggu visa diapprove apa ditolak.
 


Saya duduk sebentar menarik nafas lega ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. Masih belum banyak orang yang datang hanya ada 3 anak abege brisik tapi masih sibuk mengisi formulir dan 1 orang Korea yang ngobrol dengan staf di loket khusus orang Korea. Kedengerannya seperti di film-film. Saya lihat bajunya letbong dan pakai sendal. Jadi mikir tau gitu ga usah pakai sepatu pantopel dan kemeja seperti mau ngelamar kerja. Maklum dengar kata kedutaan aja rasanya pengen pingsan saya pikir mau masuk harus dandan serapi mungkin. Oke lah ga masalah bersyukur dokumen saya langsung diterima.

Hari ke-5 lebaran kalau tidak salah (lupa) soalnya jalanan di Jakarta masih belum ramai, saya kembali ke kedutaan untuk mengambil paspor. Menurut info di google bisa nanya lewat telpon dulu tapi kok takut ya mending datang langsung aja. Dengan jalanan di Jakarta yang masih ngeblong saya datang terlalu cepat masih jam 11.45 padahal pengambilan visa jam 13.30. Untuk membunuh waktu saya sholat dzuhur dulu ke Plaza Indonesia berlanjut muter-muter sekedar mencuci mata. Alhasil kartu debit saya tergesek ditukar dengan beberapa potong baju.

Jam 13.00 saya sudah bosan berada di mall. Saya berniat masuk ke kedutaan dan akan menunggu di sana sampai loket dibuka. Ternyata sampai di dalam langsung dipersilahkan ke loket dan ditanya kwitansi. Beberapa saat kemudian saya dikasih paspor yang telah ditempel visa Korea. Alhamdulillah...

Seakan ga percaya karena bedak belum juga luntur dan parfum masih wangi. Dari sejak mengajukan aplikasi dan pengambilan visa prosesnya ga ada 5 menit. Alhamdulillah ga ada antri-antrinya. Membaca blog orang katanya sambil antri sampe sempet foto-foto, ini mau bertingkah sedikit aja rasanya ga enak karena suasananya sepi banget. Padahal saya pengen tanya-tanya tentang Korea karena memang belum tau banyak. Film yang pernah saya tonton kalau dihitung pakai jari tangan kanan masih nyisa. Yang saya inget hanya Full House, Thank You dan Greatest Love tapi ga nonton sampai habis. Artis yang saya tau hanya Rain dan Song Hye Gyo pemain Full House selain itu bener-bener blanck tentang Korea. Berharap akan tau nanti setelah pulang dari sana. Dan inilah penampakan visa Korea saya :)


Annyeong Haseyo... Sarange... Mari kita ke Korea...

Nov 16, 2014

Di Balik Gathering BD

November 16, 2014 0 Comments
Beberapa kali diajak oleh teman saya Monica untuk ikut gathering BD tapi kebetulan waktunya selalu bersamaan dengan acara camping dengan teman kerja. Setau saya BD adalah singkatan dari Backpacker Dunia yaitu suatu grup yang beranggotakan orang yang suka jalan-jalan keluar negeri. Walaupun sedang mabuk backpacking tapi malas untuk ikutan grup di facebook. Biasanya dipenuhi oleh iklan mulai dari travel fiktif, barang elektronik, fashion sampai pencabut bulu ketek kucing semua ada. Makanya tidak pernah serius menanggapi ajakan Monica.

Suatu hari diajak lagi tepatnya tanggal 24 Mei 2014. Kebetulan tidak ada acara. Heran juga kenapa Monica tak bosan-bosannya walaupun beberapa bulan tidak pernah saya tanggapi. Kali ini sebagai rasa terima kasih yang selalu setia menjadi sahabat, saya akan penuhi undangannya. Saya akan datang.

"Oke daftarin gw ya, kalau ada bayar-bayaran tolong bayarin dulu"
"Ga ada, ini free tinggal datang aja"
"Tempatnya museum mandiri sebelah mana?"
"Abis pintu masuk ke kanan naik ke lantai 2. Mau ikut acara sampe aftergathnya ga?" apalagi tuh, karena ga mungkin bisa jadi malas ngebahasnya. Kami janjian bertemu langsung di TKP.

Pagi itu jam 8 pagi berangkatlah saya ke Jakarta dengan hanya membawa sebotol air cucian beras untuk minum di jalan. Naik bus jurusan Cilegon - Kalideres disambung busway Kalideres - Kota. Cuaca saat itu puanaas blingsatan tapi untungnya terlindungi oleh bus AC walaupun perjalanan agak tersendat. Sampai di kota kira-kira jam 12:30 sedangkan Monica naik kereta dari Tangerang entahlah masih dimana, saya disuruh masuk duluan. Waduh bingung ga ya bingung ga ya... Karena walaupun sering ke daerah kota tapi belum pernah masuk ke museum bank mandiri. Oke deh masak ilang sih...

Setelah turun dari busway harus menyebrang jalan untuk menuju ke museum lewat tunnel bawah tanah (sebenernya pengen nyebrang ala preman tapi ga tau lewat mana). Begitu turun berasa seperti di subway Korea adem bersih wangi, bo'ong banget tepatnya sih menghibur diri karena lebih jauh dibanding nyebrang ala preman jadi anggap aja sedang jalan-jalan di luar negeri biar menambah stamina.

Di bunderan dalam tunnel saya melihat banyak anak kecil bermain sambil disuapi hokben. Mak cegluk! Beli dimana ya kok bau trasinya menusuk hidung saya. Di pojok dekat tangga keluar ada meja kecil dengan tumpukan kardus rupanya disitulah hokben itu parkir. "Silahkan hokbennya paket hemat.." begitulah sapa mbaknya saat saya melintas. "Gratis ya mbak?" Bodoh banget udah jelas terpampang harganya Rp 19.500. Lalu saya pesan satu yang isinya nasi sekepel cukup untuk mengenyangkan anak kecil usia 5 tahun dengan gorengan tiga biji kecil-keciiil. Salah satunya berisi telor puyuh entah apa namanya. Rencana akan dimakan sebelum masuk ke museum.

Sampai di depan museum ternyata suasananya ramai sekali, panas dan tidak ada tempat duduk atau berteduh sekalipun. Di depan pintu masuk terpampang tulisan "Gathering Backpacker Dunia Ruang Penghargaan Lantai 2" Melihat keadaan timbul niat untuk segera masuk karena kalau kelamaan kena panas takut item.


Petunjuk ke ruang gathering, lakbannya keren ya :)

Baru juga kaki menapak ke tangga saya disapa ramah oleh mbak-mbak.
"Mbak mau ke gathering BD ya?"
"Iya"
"Saya juga, bareng yuk saya baru pertama"
"Sama saya juga baru pertama" dalam hati gimana makan hokbennya...

Selesai mendaki 100 anak tangga haaisshh... dibagi 10, terlihat ada petunjuk gathering BD ke arah kanan ke sebuah lorong, di ujung ada sebuah meja yang di jaga oleh 2 laki-laki dan 1 perempuan. Namanya Pak Tani, mbak Saras dan 1 lagi lupa. Kami disambut dengan senyum sangat ramah seperti sudah lama kenal.

Setelah mengisi daftar hadir saya sempat ngobrol dengan mbak Saras yang ternyata sama-sama dari Cilegon. Dan Pak Tani juga menanyakan apakah saya kenal dengan bapak *sebut saja Ariel. "lya kenal pak" beliau adalah salah satu manager di tempat kerja saya. Waaah dunia sempit sekali, ga juga sih Jakarta Cilegon mah seipriiitt.

Lalu dipersilahkan masuk. Di depan pintu ada meja panjang dengan seabreg makanan. Semua meletakkan makanan disitu. Karena hanya membawa hokben, dengan kaget bercampur malu saya letakkan juga.

"Emang disuruh bawa makanan ya mbak?"
"lya kan ada di undangannya, bawa potluck"

Undangannya emang dimana? Hanya bertanya dalam hati biar ga ketauan oon. *Moniiiicc.. Kenapa lo ga bilang sih kalau harus bawa makanan.. Hadeeuuhh.. Semoga ga ketauan itu bawaan siapa.

Kirain acaranya seperti seminar resmi, untung ga pakai blazer dan highheels (emang punya?) dan banyak orang bule namanya juga backpacker dunia, kirain dari seluruh dunia. Ternyata salah besar, semua orang lokal dan suasananya kekeluargaan persis seperti halal bihalal di rumah nenek. Sebentar-sebentar diiderin makanan silahkan maunya apa. Setiap nyomot makanan jadi ketawa inget si hokben, tiap noleh ke belakang masih teronggok di meja.

Saat itu mas-mas bernama Ai sedang sharing tentang backpacking ke UK. Diakhir sharingnya, Mas Deni yang menjadi MC mengadakan kuis. Salah satu pertanyaan yang paling saya ingat adalah berapa jumlah member BD pada saat ini? Ada yang menjawab dengan benar yaitu 40rb sekian. Saya kembali bingung. Member apaan? Lalu tanya ke sebelah.

"Lihatnya dimana mbak?"
"Di facebook, di grup backpacker dunia, emang belum join?"
"Belum" waktu itu rasanya jadi orang yang paling bodoh di dunia.

Dari sini baru tau apa Backpacker Dunia yang sebenarnya. Tepok jidat. Langsung join saat itu juga dan menunggu diconfirm. Helloo...!!!

Tiba-tiba Monica datang dengan keringat segede jagung abis kepanasan di kereta.
"Mon lo tadi bawa makanan ga?"
"Bawa udah gw taro"
"Tadi gw bawa hokben beli di kolong halte busway"
"Jangan-jangan cuma satu lagi"
"Ya iya lah, udah satu kecil pula"
"Hahahahahahahaaaa..."
"Itu juga iseng karena pengen anak kecil"
"Hahahahahahaaa...." tertawalah sebelum kamu ditertawakan Mon.

Selesai Mas Ai, giliran Mbak Antin sharing pengalaman waktu di Jepang tapi suaranya kecil kalah berisik dengan yang ngobrol di belakang. Diakhir sharingnya Mbak Antin mengadakan kuis juga dengan berbagai macam hadiah karena ga mendengarkan saya pun ga tau apa-apa. Lalu dilanjutkan oleh Mbak Muti, sekarang saya kenal sebagai juragan mijon. Topiknya masih sama tentang Jepang. Kali ini suara Mijon lumayan kenceng jadinya saya berhasil menjawab kuis dengan hadiah tas sumbangan dari Mbak Asma Nadia. Tengkyuuu...

Acara masih berlanjut dengan sharingnya Mas Deni (bukan Mas Deni MC) yang semakin seru yaitu menembus negara-negara Balkan dengan visa schengen. Keren abis!!!

Tak terasa waktu mendekati jam 16.30 molor setengah jam dari yang dijadwalkan karena saking serunya. Diakhir acara saya berniat langsung kabur tapi bertahan untuk ikut foto bersama. Sambil bersiap-siap saya melihat banyak orang yang minta foto bareng Mbak Elok. Siapa Mbak Elok? Saya ikut-ikutan walaupun ga tau siapa beliau.

Selesai foto kami saling bersalam-salaman termasuk dengan Mbak Elok. Lalu keluar bersama Monica, Mbak Saras dan temannya. Saya ngobrol lagi dengan Mbak Saras, usut punya usut ternyata anaknya sering diajak camping oleh teman saya dan pernah bareng beberapa kali. Ealah kok nyambung...

Karena Monica dan Mbak Saras akan mengikuti acara makan malam saya pulang sendiri, tapi diajak bareng di mobil Mbak Antin dan turun di depan Sarinah.

Di bus saya membuka facebook dan rupanya telah diconfirm di grup BD. Saya buka timelinenya yang bersih dari iklan menyebalkan dan berisi informasi sangat bermanfaat dari para membernya. Lalu klik view pinned post yang berisi ucapan salam dan aturan di BD dari sang founder bernama Mbak Elok. Barulah saya tau kenapa banyak orang minta foto bareng beliau. Masih penasaran juga saya googling dengan mengetik nama lengkap ternyata banyak bermunculan berita tentang beliau maupun tulisan hasil karyanya. WOOW... Rupanya orang penting... Hahahaa...

Grup BD ini telah dibentuk Mbak Elok sudah hampir 5 tahun, saat itu beberapa bulan lagi ultah BD yang ke 5. Telat sekali baru tau. Setidaknya masih beruntung dibanding teman-teman yang mungkin sudah bertahun menjadi member tapi belum berkesempatan ikut gathering BD pusat. Saya ikut gathering dulu sebelum jadi member.

Teriak sekenceng-kencengnya **MONIIIIC THENG KYU YAAA**

Keesokan harinya terlihat tulisan Mbak Elok di wall BD dan di wall pribadinya, mengucapkan terima kasih kepada para member yang telah hadir, kepada semua yang telah membantu berlangsungnya acara termasuk terima kasih telah membawa potluck untuk dikonsumsi bersama. Disebutkan juga beberapa jenis makanan, yang salah satunya adalah hokben. Gubraaakkkk... :D.

Langsung berkabar dengan Monica 
"Mon hokben gw kesebut lho ama Mbak Elok"
"Hahahahahahaaaa...."
 

Terima kasih kepada Mbak Elok yang telah membuat grup seindah ini dan mengijinkan saya untuk bergabung di dalamnya. Salam sukses buat BD.

Nov 15, 2014

Ngibulin Dosen Killer

November 15, 2014 2 Comments
Bukan rahasia lagi bahwa bapak yang satu itu terkenal killer, selanjutnya akan saya sebut sebagai Pak Killer. Diantara kisah killernya adalah mengajar sambil marah-marah dan sudah pasti dengan nilai susah banget alias pelit. Pernah suatu hari kami sekelas kena marah dengan alasan yang tidak bisa kami pahami. Pak Killer tidak datang mengajar kebetulan saya mewakili teman-teman untuk menelpon. Beliau menjawab diujung telpon sambil marah-marah “Terserah mahasiswa maunya apa, kemaren saya datang mahasiswanya ga ada semua” lalu ditutup begitu saja. Tentu saja kami semua bengong, KAPAN? Perasaan kemaren tidak ada suatu kasus apapun, lagi pula mana berani neko-neko sih pak denger nama Pak Killer aja jantung serasa mau copot. Rupanya beliau marah dengan kelas lain tapi kami semua kena imbasnya. Oalah pak terbuat dari apa sih hatimu tales apa bentul.

Tak sedikit mahasiswa yang kebagian dosen pembimbing Pak Killer pada nangis lantaran skripsinya dicoret lagi dicoret lagi. Kemaren katanya sudah acc eh sekarang tiba-tiba dicoret lagi. Pokoknya harus lihat moodnya dulu, jika sedang bagus sekali konsul langsung dapet acc kalau ga ya bisa berulang-ulang hingga tak terbatas waktu.

Bersyukur sekali saya tidak kebagian Pak Killer sebagai dosen pembimbing. Tapi karena beliau menjabat sebagai dekan fakultas suatu saat pasti akan berhubungan dengan beliau untuk tanda tangan di halaman pengesahan skripsi saya. Menurut cerita beberapa teman untuk mendapatkan tanda tangan beliau sangatlah sulit. Harus mandi kembang tujuh rupa dengan air dari tujuh sumber mata air, maksudnya harus lihat moodnya dulu sedang bahagia atau kurang sajen.

Suatu ketika saya telah melewati ujian skripsi dan sudah mendapatkan tanda tangan dari semua dosen pembimbing dan juga dosen penguji. Tibalah saatnya untuk menghadap ke Pak Killer. Dengan segenap perasaan yang susah digambarkan saya menuju ke ruang Pak Killer. Kebetulan pada hari itu Pak Killer sedang rapat jadi menurut asistennya ditumpuk dulu di mejanya nanti akan diperiksa jika beliau ada waktu. Bisa jadi hari itu langsung diperiksa kalau ga ya harus menunggu 3 atau 4 hari lagi baru bisa diambil. Di meja itu sudah ada beberapa skripsi mahasiswa lain. Saya selipkan skripsi saya di bagian paling bawah, sesuai dengan antrian yang datang duluan di tumpukan paling atas. Lalu saya berniat pulang dari pada menunggu sesuatu yang tidak pasti.

Tak berapa lama setelah itu Pak Killer terlihat memasuki ruangannya. Saya ngintip dari lubang kunci ternyata Pak Killer sedang memeriksa skripsi-skripsi di mejanya. Akhirnya saya mengurungkan niat untuk pulang, nunggu dulu sampai selesai barang kali skripsi saya diperiksa juga. Dan benar saja beberapa saat kemudian Pak Killer keluar dari ruangannya. Saya dan beberapa mahasiswa yang lain segera mengambil skripsi yang sudah dipindahkan dari meja ke rak di sebelahnya pertanda telah diperiksa. Langsung saya buka ke halaman pengesahan ternyata masih mulus belum ada tanda tangan beliau. Saya buka lagi ke halaman-halaman berikutnya jedeeerrrr…ternyata skripsi saya dicoret beberapa halaman ditambah tulisan-tulisan yang susah dibaca sebagai saran revisi. Saya lihat mahasiswa yang lain juga tak kalah kecewanya. Pada hari itu kami kena coret semua.

Akhirnya merasakan juga. Yang membuat saya heran, skripsi saya kan sudah mendapat acc dari dosen pembimbing dan dosen penguji sudah ditanda tangan. Kenapa sama dekan dicoret lagi? Apa memang seharusnya begitu? Entahlah hanya Pak Killer dan Allah yang tau.

Sampai di kost saya baca-baca lagi, walaupun hanya merevisi 4 halaman tapi akan mengubah semuanya karena halamannya akan bergeser. Dan saya harus mengeprint ulang 140 lembar, sayang amat tintanya. Padahal sudah diprint dengan tinta yang paling bagus tinggal ditandatangani Pak Killer dan “SAH”. Lalu difotokopi dihard cover, selesai. Kenapa harus dipersulit sih pak?

Mikir lagi dari pada pusing saya print ulang aja halaman yang kena coretan tanpa revisi apapun hanya ditambahkan sedikit grafik di bagian yang masih kosong sebagai pemanis. Esok paginya saya ke kampus dan saya tumpuk lagi di meja Pak Killer. Karena pada hari itu beliau tidak ada maka saya tinggal dan baru bisa diambil 3 hari kemudian.

Setelah 3 hari, ternyata skripsi saya telah ditanda tangani oleh Pak Killer mulus tanpa ada coretan apapun. Wah.. jadi kemarin corat-coret tuh cuma iseng doank, ga ada kerjaan. Saya bahagia sekaligus ngakak ternyata Pak Killer bisa dikibulin. Ketahuan juga lo pak hahaha... Untung ga pusing-pusing ngladeninnya, rugi amat kalau sampe panas dingin revisi lagi.

Satu lagi kebiasaan unik dari bapak paling ganteng versi doraemon ini adalah beliau akan selalu menjilat jarinya dulu sebelum membuka lembaran-lembaran paper. Jadi yang akan konsul harus merelakan papernya berbau jigong. Hueeekk....!!

Nov 1, 2014

Kehabisan Uang di Kost

November 01, 2014 0 Comments
Kembali menatap masa lalu yang penuh syukur. Saat itu saya masih berstatus karyawan baru dan masih kontrak. Jadwal kerja nonshift Senin sampai Jumat, Sabtu dan Minggu libur sehingga punya waktu untuk mengambil kuliah Sabtu Minggu. Sekedar iseng belajar lagi barang kali ada sedikit pelajaran yang bisa nyantol. Karena sadar betul mo dijejelin ilmu sebanyak apa juga ga bakalan pinter.

Akhir bulan adalah saat yang sangat ditunggu-tunggu karena saat itulah sang penyambung nyawa datang yaitu gajian. Pastinya sekedar numpang lewat di rekening. Sebagian langsung untuk bayar cicilan kuliah dan sebagian lagi untuk hidup dan ongkos ke kampus nun jauh di Jakarta. Ongkos bus Cilegon-Jakarta lumayan bikin mewek. Alhamdulillah tidak sampe kekurangan hanya jadi tidak punya tabungan sama sekali. Paling sering terjadi besok gajian hari ini tinggal 100rb. Begitulah seterusnya kisah keuangan saya.

Suatu ketika saya dikejutkan oleh jadwal UTS yang dimajukan entah apa alasannya, seharusnya awal bulan misalkan Oktober jadi maju pertengahan September. Salah satu syarat mengikuti UTS adalah harus lunas cicilan kuliah sampe bulan Oktober. Jadinya sebulan harus bayar cicilan kuliah 2x sedangkan gajiannya cuma sekali. Tega banget tuh kampus.

Berhubung terlanjur janji dalam hati pada kuliah kali ini tidak boleh mengeluh ke orang tua terutama soal keuangan. Mo gimana lagi akhirnya pinjam ke temen kost yang bener-bener saling percaya. Baru sekali-sekalinya ini meminjam uang dalam jumlah banyak. Andai saja bisa diundur 4 hari, ga sampe pinjem karena sudah gajian. Tapi si kampus mana mo ngerti.

Beres urusan kampus masih ada yang harus dipikirkan lagi yaitu biaya hidup 4 hari sebelum gajian. Saat itu uang saya tinggal 20rb. Makanan paling murah 7rb tapi bisa disiasati hanya dengan beli lauknya 5rb dan masak nasi sendiri. Hari kedua yang mana masih sisa 2 hari lagi uang saya tinggal 10rb dan persediaan makanan hanya tinggal beras untuk sekali masak tak ada indomie tak ada apapun. Tiba-tiba menjelang maghrib ada yang ketok-ketok pintu. Saya pikir teman kost yang baru pulang kerja. Seperti biasa segera pasang aksi untuk ngagetin sambil bukain pintu.

HUUAAAAA.....!!!

Ternyata yang datang bukan teman saya tapi seorang bapak agak tua berdiri memandang tingkah aneh saya. Lha mo ngagetin malah kaget sendiri.

"Mbak maaf saya tukang becak mo minta beras"
"Oh sebentar pak" langsung tutup pintu selain kaget saya juga malu.

Saya diam beberapa saat mengingat sambil berhitung. Beras yang saya punya tinggal sekali masak (paling segelas lebih sedikit) ga pantes banget kalau dikasihin. Uang saya tinggal 10rb lagi, ya sudahlah dibagi dua dengan bapak. Masih bisa dibelikan 1 kg beras dengan kualitas sedang. Saat itu harga beras masih murah.

"Maaf pak saya tinggal punya ini, bapak beli sendiri ya"

Saya terheran-heran, selama tinggal di kost ini rasanya ga pernah ada yang datang minta-minta apalagi sampai ketok pintu. Maghrib-maghrib pula. Trus kenapa datangnya pas lagi sekarat. Sampe terlintas benarkah itu manusia. Haaisshh ya sudahlah...

Nah akhirnya uang saya tinggal 5rb hanya cukup untuk beli lauk buat makan malam saja, sedangkan besok ga tau deh... Saya cek pulsa di hp masih ada 50rb andai saja bisa dijual.

Saat itu ada teman kerja yang cuti jadi saya ditugaskan diposisinya untuk dines malem. Walaupun pikiran kalut tapi berusaha tenang, pasti ada jalan. Kira-kira jam 1 malem kerjaan sudah selesai dan belum ada kerjaan selanjutnya. Teman se'shift tidur. Saya membaca koran karena belum ngantuk. Tiba-tiba datanglah teman dari ruangan lain, anak baru yang belum mahir mengoperasikan salah satu alat di tempat kerjanya dan butuh telpon ke seniornya. Tapi hpnya sedang bermasalah. Akhirnya saya pinjamkan hp saya.

Selesai menelpon anak itu mengembalikan hp lalu pergi sambil mengucapkan terima kasih. Baru tau ternyata di belakang hp diselipkan sejumlah uang. Langsung ingat kejadian kemaren sore terlintas pikiran "Seandainya pulsa ini bisa dijual" ternyata beneran ada yang beli. Subhanallah, Allah mendengar dan menjawab doa saya. Alhamdulillah akhirnya saya bisa beli makan tanpa harus meminjam uang lagi.

Jalan-jalan ke Chiang Mai Part 3

November 01, 2014 2 Comments
Berbekal selembar peta saya menyusuri jalanan kota Chiang Mai. Dimulai dari Masjid Hidayatul Islam Banhaw ke Chiang Mai Walking Street. Sengaja tidak pakai tuk-tuk atau ojeg karena sekalian mencari penginapan. Banyak penginapan dengan harga ramah di kantong. Hasil survey paling murah kamar mix dorm 100 THB/malam atau sekitar Rp 39.000. Sepertinya jika ingin memanjakan diri menginap di hotel bagus dengan harga terjangkau, Chiang Mai salah satu tempatnya.

Sekitar setengah jam saya sampai di area Chiang Mai Walking Street yaitu di Tha Phae Gate. Tempat ini ramainya setiap hari minggu karena ada Chiang Mai Sunday Walking Street. Mulai jam 4 sore hingga jam 2 dini hari jalan akan ditutup untuk lalu lintas kendaraan dan dimanfaatkan kegiatan berdagang. Mulai dari makanan, cinderamata, pernak-pernik hingga kebutuhan harian. Saat itu hari selasa jadi ya tidak ada apa-apa.

Saya masuk ke Tha Phae Gate mengikuti turis berambut pirang, melihat beberapa wat (kuil) di area Walking Street. Nama wat-watnya susah diingat. Lama-lama blenger juga sepanjang jalan kuil hanya beda bentuk dan ukuran. Apalagi bau dupanya bikin kepala kliyengan.

ThaPhae Gate

Beruntung ketemu tempat rental motor. Murah sekali untuk motor 100 THB/24 jam dan sepeda 40 THB/24 jam. Cucok buat kendaraan selama di Chiang Mai dan saya cukup rental sepeda karena takut naik motor hihihi... Syaratnya harus pake jaminan paspor. Ingat pesan para sesepuh jangan sampai paspor terpisah dari badan karena ibarat nyawa kita di luar negeri. Sehingga cari alasan demi keselamatan.

“Sorry, paspor mau saya pakai cari penginapan”
“Kalau begitu deposit 1000 THB tapi paspornya saya pinjam untuk difotocopy”
“Okey, itu lebih baik mas"

Lalu masnya memilihkan sepeda yang kira-kira pas buat badan saya alias yang paling kecil. Ada keranjang depannya mirip sepedanya Han Ji Eun di film korea full house (satu-satunya film korea yang saya suka).

“Where are you from?”
“Indonesia”
“Oh Indonesia.. Are you alone?”
“Yes, my friend in here also but I can't calling her because I don't have wi'fi"

Tiba-tiba mas itu pergi sebentar dan balik lagi memberi sobekan kertas kecil berisi password wi'fi. Waah baik sekali terimakasih mas.

Setelah terkonek semua pesan yang terpending sejak di Bangkok masuk semua, diantaranya whats aap dari Monica. Tapi dicalling balik pakai line dan kakao talk beberapa kali, tidak diangkat. Terpaksa hanya tinggalkan jejak. Memang kami tidak janjian kalau ketemu ya syukur kalau tidak yang tetap masing-masing.

"Gimana sudah bisa menghubungi temannya?” tanya mas penjaga rental penuh perhatian.
“Sudah tapi belum ada jawaban, saya sudah tinggalkan pesan”
“Semoga nanti bisa ketemu ya ”
“Terima kasih… Saya pergi dulu ya”
“Oke, hati-hati…” mas itu mengantarkan saya sampe ke pinggir jalan.

Tekstur aspal di Chiang Mai cukup halus dan nyaman sekali untuk bersepeda. Matahari saat itu lumayan menyengat tapi bisa ternetralisir dengan udara dingin. Saya melihat penginapan yang pernah saya catat. Ada dua tempat dan ternyata dua-duanya tidak oke dari segi lokasi maupun keadaan kamar. Lalu saya mencari lagi di gang yang lebih sepi, lebih nyaman dan dekat dengan jalan utama.

Ada sebuah guest house berhalaman luas banyak tanaman bikin adem dan anak kecil yang lagi lucu-lucunya. Kalau di sini rasanya seperti liburan di rumah bulek. Tarifnya lumayan mahal di banding yang lain tapi sesuai dengan keadaannya. Paling murah kamar non AC shower air panas 350 THB/malam. Awalnya masih mikir-mikir karena masih banyak penginapan yang lebih murah. Tapi teringat malam sebelumnya tidur di bus Bangkok – Chiang Mai, nah sekarang saatnya memanjakan diri. Walaupun pergi secara gembel tidak harus juga nginep di tempat yang asal tidur. Ceritanya kan mau liburan. Jadilah booking satu kamar di guest house itu.

Dede bayi lucu entah anaknya atau cucunya pemilik guesthouse

Selesai booking saya harus kembali ke masjid mengambil ransel. Tapi lupa jalannya lewat mana. Tanya ke ibu penjaga guest house sama sekali tidak bisa bahasa Inggris. Modyaarr.

Saya belajar peta beberapa saat lalu gowes sepeda lagi. Hampir satu jam muter-muter tidak jelas dan akhirnya ketemu satu petunjuk, tulisannya keriting di gedung seinget saya lurusnya gang depan masjid. Tapi saat melintas di jalan itu seolah semua mata memandang ke saya, ada yang senyum-senyum, ada yang melotot, rupanya saya melawan arus. Untung tidak ada polisi. Maaflah dari pada kehilangan jejak lagi.

Ketemu juga gang masjid, tempat saya turunin abang ojeg tadi pagi. Sekarang lebih ramai toko-toko buka semua dan banyak motor parkir. Lalu saya masuk ke area masjid (tepatnya sih sekolahan), banyak mobil terparkir di halaman. Kursi tempat saya nongkrong sebelumnya juga banyak orang tapi bapak MS tidak kelihatan. Semua pada bengong melihat kedatangan saya.

“Saya tadi titip tas di sini, yang itu, sekarang mau saya ambil” sambil menunjuk ke kolong.
“Oh..” jawab salah satu bapak sambil mengangkatkan tas saya.
“Thank you…”

Di atas tas terselip sobekan kertas berisikan nomer telpon dan sebuah pesan “Call me be4 you leave” MS. Nanti ya mister sebelum meninggalkan Chiang Mai pamitan dulu kesini.

Lalu saya gendong ransel dan gowes sepeda lagi. Sampai di guest house saya mengabari Monica sambil membuka bontotan sisa sarapan tadi pagi, ayam goreng. Ternyata enak. Tiba-tiba ada telpon via line.

“Gw lagi ikutan tour ntar pulangnya gw langsung ke penginapan lo ya, deket itu ama penginapan gw”
“Akhirnya nyambung juga Mon nyari lo susahnya kya nyari kutu, ya udah gw tunggu”

Kira-kira jam 4 sore selesai mandi, Monica pun datang diantar oleh guidenya. “Akhirnya gw bisa ngomong bahasa Indonesia” itu kata pertama yang terlontar darinya. Berarti bener kata mas rental sepeda jarang ada orang Indonesia di Chiang Mai.

Malamnya kami jalan-jalan ke Anusarn Market yang nyambung dengan Chiang Mai Night Bazar. Tidak beda jauh dengan pasar di Indonesia. Bagi yang doyan belanja di sini surganya barang-barangnya lumayan bagus dan harganya murah. Saya sih hanya cuci mata Monica yang shopping. Ternyata lokasinya dekat dengan Masjid tempat bapak MS.

Anusarn Market
Jus beraneka buah 30 THB. Paling suka yang mix fruit

Jajannya Monica bikin ngiler, tapi ga boleh makan karena mengandung dede

Pagi harinya saya dijemput Monica di penginapan. Sekalian check out dan pindah ke penginapan dia. Hari itu kami jalan-jalan ke Doi Suthep yaitu melihat Wat Phrathat dan lanjut ke Khun Chang Kian untuk melihat bunga sakura. Wat Phrathat letaknya di luar kota Chiang Mai sekitar 15 km bisa ditempuh kendaraan bermotor 30-40 menit, dengan kondisi jalan yang berbukit persis seperti jalanan ke Puncak Bogor atau ke Cemoro Sewu Tawang Mangu. Udaranya pun sama dingin. Kami menyewa motor 100 THB/hari dengan jaminan paspornya Monica. Katanya ke Chiang Mai tidak sah kalau belum ke Wat Phrathat ini. Wat Phrathat adalah kuil budha tersuci paling terkenal di Chiang Mai. Untuk mencapai kuil ini harus mendaki 309 anak tangga. Turis asing bayar 30 THB sedangkan warga Thailand gratis.

Chedi (stupa tembaga keemasan) di dalam kuil. Tempat ini adalah zona paling suci. Masuk kesini tidak boleh sembarangan alas kaki harus dilepas dan pakaian harus sopan. Sejumlah pengunjung berjalan mengelilingi Chedi ini dengan membawa bunga lotus di jari sambil melantunkan doa-doa.
Monica mpet 50X, saat mau turun lagi asyik-asyiknya berpose tiba-tiba datang mas ganteng ini, udah tau kita mau foto bukannya minggir malah ikutan berpose (duile itu muka bete apa naksir sih hahaha....)

Setelah menghabiskan waktu di Wat Phrathat kami melanjutkan perjalanan ke Doi Pui yaitu ke Khun Chang Kian. Dari Wat Phrathat masih mendaki lagi entah berapa kilo dan semakin ke atas jalanan semakin terjal, sempit dan rusak. Debunya juga banyak karena sebagian jalan masih berupa tanah. Agak ngeri memang menjangkau lokasi ini, tapi dengan kepiawaian Monica membawa motor Alhamdulillah kami sampai ke lokasi bunga sakura. Baru pertama kali lihat bunga sakura seolah tak percaya. Subhanallah indah banget sejauh mata memandang pingkyyy dimana-mana...

Subhanallah
Pengen dibawa pulang

Berat sekali beranjak dari tempat ini tapi semakin sore udara semakin dingin. Melihat tekstur jalanan sebelum gelap harus sampai di kota. Kami sempatkan mampir ke Chiang Mai University kampus terbesar di Chiang Mai, hanya sekedar mengobati penasaran. Kampusnya memang cukup luas dan besar. Tak lupa nyicipin makanan di kantin kampus yang harganya harga mahasiswa. Tapi saya hanya bisa makan salad dan buah karena semua mengandung dedek. Bagusnya di sana selesai makan membereskan sendiri bekas makannya dibawa ke tempat cuci piring.

Selesai makan kami melanjutkan acara shopping di Anusarn Market yang belum tuntas. Karena Monica besok harus pulang jadi puas-puasin ngabisin duit Thailand. Sedangkan saya masih stay semalem lagi dan besoknya pindah ke kota yang lain yaitu Chiang Rai. Chiang Mai memang bikin betah orangnya ramah, kotanya tidak begitu ramai, adem dan biaya hidup murah.

Chiang Mai Historical Centre

Oct 30, 2014

Jalan-jalan ke Chiang Mai Part 2

October 30, 2014 0 Comments
Pagi itu di terminal kota Chiang Mai yang masih gelap saya mencoba keliling melihat isi terminal. Saya menemukan pusat informasi, lalu meminta peta sambil tanya transportasi ke pusat kota. “Car, tuk-tuk or motor bike” kata petugasnya. Oke masalahnya saya harus kemana? Saya belum booking penginapan hanya mencatat beberapa nama tempat yang harganya sesuai di kantong dan itupun akan menjadi alternatif yang terakhir. Karena tidak percaya informasi dari website yang kadang tidak sesuai dengan kenyataan, maklum backpackernya masih amatiran. 

Hampir jam 6 pagi tapi langit masih gelap baru ada sedikit cahaya kemerahan, saya tanya ke abang tuk-tuk tarif ke pusat kota. Katanya 120 THB. Lalu datang si abang motor bike (ojeg) nawarin 80 THB. Sudah pasti pilih yang lebih murah dan minta diantar ke tempat yang asal nunjuk peta di tempat yang kemungkinan banyak penginapan yaitu Night Bazar Place.

Sekitar 20 menit menembus dinginnya kota Chiangmai, sampailah ke sebuah gang kecil dan ruko yang bertuliskan Night Bazar Place. Ternyata sepi hanya ada beberapa toko masih tutup semua. Sambil membayar ke abang ojeg saya pastikan sekali lagi...

"Benarkah ini Night Bazar Place Bang?"
"Yes!. Macid macid" kata abang ojeg menunjuk ke sebuah tempat. Saya kurang mengerti minta tambahan ongkos atau apa? Setelah diperhatikan rupanya sebuah tempat yang bertuliskan Mosque. Ooh... maksud abang MASJID.
"Oke, kob kun kha.." lalu a
bang ojeg pergi.

Alhamdulillah Allah telah menuntun ke tempat yang benar. Lumayan bisa nebeng selonjoran di teras masjid menunggu siang. Tapi setelah mendekat ke pintu gerbangnya jadi menciut. Mesjidnya hanya kecil dan mojok diantara gedung tinggi seperti komplek sekolahan. Saya pikir bakal banyak orang ngaji atau sekedar duduk di teras. Ini tidak ada orang satu pun dan masjidnya tampak gelap. Jadi tidak berani masuk.

Masjidnya yang kubah kecil. Belakangan baru tau namanya Masjid Islam Hidayatul Banhaw. Foto dari google.

Saya duduk di kursi yang kebetulan ada di dekat pagar. Ransel saya geletakkan di bawah. Tiba-tiba ada seorang bapak berusia sekitar 50 tahun, melintas di depan saya.

“Where are you from?”
“Indonesia”
“Oh come here, sit down there…”

Beliau mengajak saya masuk ke gedung di sebelah masjid. Di pojok ruangan ada meja dan kursi panjang. Bapak sibuk mengelap meja dan menata kursi lalu mempersilahkan saya duduk. Kemudian memanaskan air dan membuatkan saya kopi dan juga menyuguhi sepiring kurma. Saya hanya senyum-senyum seperti putri solo karena bapak juga tidak banyak ngomong. Wajahnya serius dan datar.


Disini saya dibuatkan kopi

“Baru datang dari Indonesia?"
"Iya pak, kemarin pagi dari Jakarta ke Bangkok, lalu dari Bangkok kesini”
“Ini pertama ke Chiang Mai”
“Iya”
“Sendiri?”
“Iya, di sini aman kan pak?”
“Aman tenang saja, banyak orang yang jalan-jalan kesini Insya Allah aman. Ada acara apa?”
“Liburan saja pak, tadi saya kesini karena pengen lihat mesjid” bohong banget memang sih mesjid ini ada di itinerary tapi ada diurutan yang kesekian.
“Iya sesama muslim harus saling silaturahmi”
“Masjid di sini hanya ini saja pak?”
“Tidak, di Chiang Mai ada 4 masjid, masjid Chang Klan agak dekat dari sini, tapi jangan tinggal di sana daerahnya kurang aman, dan dua lagi masjid tapi lumayan jauh, kamu tinggal dimana?"
“I don’t know, I am not reserve yet. Maybe I will stay in.…” saya sebut nama sebuah hostel.
“You moslem don’t stay there, not recommended for solo female because bla..bla..bla….”
“Oooh... Okay sir”
“Di belakang sini ada apartemen muslim kamu tinggal disitu saja, not expensive for you”
“Okay sir...” dalam hati beneran not expensive pak... Apartemen kan biasanya lebih mahal daripada dorm, tapi ya... Iya ajalah pasti bapak lebih tau.
“Rumah saya jauh seandainya dekat, kamu saya suruh menginap di rumah. Saya guru di sini dan tinggal di sini pulang seminggu atau sebulan sekali" W
aah... Baik sekali. Punya anak laki-laki ga pak? Eh!!

Beliau bernama Bapak MS asli Chiang Mai sekolah di Libya. Sebelumnya tinggal di Arab Saudi selama 15 tahun dan baru kembali ke Chiang Mai 1.5 tahun. Baru tahu rupanya tempat ini adalah sekolah muslim. Pantesan bapak kelihatan serius, bahasa Inggrisnya bagus ternyata pak guru.

Perasaan dimana-mana seringnya ketemu pak guru dan rata-rata seusia dengan orang tua saya. Padahal harapannya ketemu sesama solotraveler yang seumuran terus jalan bareng terus cinlok yang kya di film-film terus berduaan ciieee...
Setelah kopi mendingin saya buru-buru menghabiskannya agar bisa cepat berpamitan. Eh malah dibikinin lagi chinese tea, dan tidak bisa langsung diminum karena panas. Rasanya biasa aja seperti teh yang tidak pakai gula. Saat bapak masuk ke ruang sebelah, saya buang teh itu di wastafel karena tidak suka teh pait (maaf ya pak). Maksud hati gelas mau saya cuci tapi ketauan bapak diteriakin “Never mind... Never mind…” ya sudah ditaro gitu aja.

Lalu saya berpamitan untuk berkeliling sambil mencari penginapan. Ransel yang segede alaium gambreng saya titipkan beliau. Sebelum pergi saya tanya dimana yang jual halal food, beliau bilang di sepanjang jalan depan masjid ini tapi mulai buka nanti siang. Baru juga berbalik badan beliau memanggil lagi dan menawarkan untuk melihat masjid di tempat yang lain sambil mencari sarapan bersama. Wah oke banget pak dengan senang hati. Akhirnya saya diajak keliling kota Chiang Mai naik motor, salah satunya melihat mesjid Chang Klan.
Masjid Chang Klan

Kembali ke jalan utama, tak jauh dari masjid ini ada warung kecil yang menjual berbagai makanan halal. Hanya sebuah tenda dipinggir jalan mirip yang berjualan nasi uduk pagi-pagi di Jakarta dengan menu makanannya yang banyak dan beraneka.

“Mau makan apa?” tanya bapak.
“Saya mau nasi pak” perut saya kan asli Indonesia.

Melihat makanan yang serupa dengan kampung halaman saya ingin kasih tau bapak "Ini sama seperti di Indonesia pak” Eh malah dipesen semua. Ada ayam kentaki-ketakian, ayam cincang, sayur tahu campur toge dan masih ditawarin lagi terserah mau apa. Jadi malu hidangan saya banyak banget. Sedangkan bapak hanya semangkok gulai kambing tanpa nasi. Uniknya biarpun udara dingin kebiasaan orang di sana kalau minum selalu pake es batu. Bukan teh anget atau wedang jahe.

Karena kekenyangan, ayam gorengnya jadi ga kemakan. “Pak saya ga abis ini dibungkus plastik aja ya” beneran dibungkusin hihihi... Lumayan lah buat makan siang.

Selesai makan bapak membayar semuanya dan kami kembali lagi ke masjid. Kali ini lebih banyak lewat gang-gang kecil. Tiba-tiba motor berhenti di sebuah tempat mirip kos-kosan. “Kita cari penginapan buat kamu” kata beliau. Rupanya apartemen muslim yang pernah bapak jelaskan. Bapak ngobrol dengan penjaganya pakai bahasa Thailand, kira-kira maksudnya tidak ada kamar kosong untuk satu orang, tinggal kamar yang besar. Sepertinya sih begitu. Akhirnya kami kembali lagi ke masjid.
 

Sepertinya Bapak MS ini guru besar, ustadz, atau orang besar apalah karena sepanjang jalan setiap ketemu orang pasti pada hormat. Tentunya saya dihormati juga. Anak-anak kecil disuruh cium tangan saya. Wah keren ga sih di negara orang digituin… **biasa aja.

Sampai di masjid sudah banyak staf sekolah di tempat saya dan bapak minum kopi sebelumnya. Melihat kedatangan bapak mereka semua memberikan salam hormat selayaknya ada orang besar datang. Dari tatapan matanya seperti bertanya-tanya bapak mbonceng siapa? Saya hanya ikutan mengangguk dari jauh lalu berpamitan.

“Terimakasih banyak pak saya pergi dulu, tapi titip tas disini ya”
“Okay take care... Kalau ada apa-apa datanglah kesini cari saya"

Bersambung....