Jan 6, 2015

Backpacking Bersama Ibu Part 2 - Kesandung Masalah di Imigrasi Singapura

January 06, 2015 4 Comments
Awalnya berniat naik bus yang langsung dari Singapura ke Melaka karena kasian dengan ibu kalau harus ganti-ganti bus. Tapi entah kenapa hati kecil selalu ragu pengen naik bus yang tidak langsung yaitu bus Causeway Link dari terminal Queen Street Bugis ke terminal Larkin Johor Bahru, lalu ganti bus dari terminal Larkin ke Melaka. Saat melewati check point akan turun dengan semua barang bawaan dan selesai urusan imigrasi boleh naik bus Causeway Link yang mana saja hanya dengan menunjukkan tiket. Sedangkan kalau naik bus yang langsung akan ditunggu oleh bus itu tapi jika kelamaan di imigrasi bisa dipindahkan ke bus berikutnya itupun kalau masih ada tempat duduk atau ditinggal begitu saja.

Saat itu berencana naik bus yang terakhir, kalau ternyata sampai ditinggal entahlah apa jadinya. Karena menurut kabar dari google check point di perbatasan Singapura Malaysia, antrinya wuueee... Ular naga panjangnya. Inilah yang membuat ragu. Takut tertinggal bus saat melewati perbatasan. Setelah diskusi akhirnya memutuskan untuk naik bus yang sambung menyambung karena memang tidak ada sesuatu yang dikejar. Sampai di check point pun sama-sama turun dari bus untuk antri di imigrasi.

Sore itu setelah jalan-jalan di Singapura saya dan ibu sholat ashar di Masjid Sultan di belakang penginapan. Selesai sholat kami makan di sebelah masjid di warung Sumatra tapi bukan masakan padang. Kebetulan ada menu tumis pare kesukaan ibu. Selesai makan mampir ke penginapan untuk mengambil koper yang dititipkan dari pagi. Lalu jalan kaki sambil narik koper ke terminal Queen Street yang berjarak sekitar 300 meter. Kalau di Indonesia sudah pasti pilih naik becak atau ojeg.

Sampai di terminal Queen Street terlihat bus terakhir yang langsung menuju Melaka sedang bersiap-siap mengatur penumpang dan bagasinya. Tak jauh dari bus itu terlihat antrian rapi yang sangat panjaaaaang... mengarah ke loket pembelian tiket bus Causeway link. Waduh..!! Kirain yang antri panjang hanya di imigrasi ternyata di terminal pun sudah mulai antri. Karena memang jam pulang kerja. Antrian ada dua jalur yang satu ke loket Causeway Link dan satu lagi lumayan pendek ke loket bus Singapore Johor Express (SJE) sama-sama jurusan Larkin Johor Bahru. Saya ikut di antrian yang lebih pendek.

Beberapa saat kemudian antrian di belakang saya semakin panjang hampir sama dengan antrian sebelah. Untung saja kami masih kebagian agak di depan. Hari semakin gelap dan antrian semakin mencengangkan. Subhanallah... Baru kali itu lihat antrian mengular yang sampai tak terlihat ujungnya. Entah berapa jam bisa terangkut semua. Tapi yang disalutkan biar segitu panjang dan lama, antrian tetap rapi tidak ada acara selak menyelak ataupun orang yang ngomel-ngomel seperti yang sering saya lihat di negeri sendiri. LUUUUAARRRR BIASAAAAA.....

Sekitar 45 menit kami mendapatkan giliran untuk membeli tiket kecil mungil seharga SGD 3 yang lebarnya tidak ada dua jari tangan saya. Bisa juga bayar pakai kartu Ez Link. Lalu naik ke bus dan masih tetap antri naik satu per satu. Jangan harap koper kita yang segede gaban akan diangkatin. Angkat sendiri cuy. Untuk antrian di belakang saya wallahualam harus berapa lama lagi. Setelah tempat duduk penuh bus segera berangkat. Tidak ada penumpang yang berdiri apalagi sampai ditumpuk-tumpuk seperti pindang selayaknya bus antar kota di Indonesia, sudah penuh pun masih dijejelin lagi. Ditambah naiknya pedagang asongan atau pengamen hayo loo... Tumplek uwek jadi satu. Itulah indahnya negeriku.

Tiket mungil ini harus dijaga jangan sampai hilang

Walaupun capek tapi bahagia bisa ikut merasakan realitas di negeri orang, kalau naik bus yang langsung pastinya tidak akan punya kesempatan untuk menikmati sensasi ini.

Perjalanan sesekali tersendat banyak sekali kendaraan yang menuju ke Johor. Kira-kira 30 menit bus sampai di Woodland check point, semua penumpang turun beserta barang bawaannya lagi-lagi angkat sendiri kopernya ya. Semua berjalan cepat terburu-buru seperti mengejar maling. Saya dan ibu jalan santai karena tidak ada yang dikejar, mengikuti arus orang banyak mengarah ke eskalator.

Sampailah di pintu imigrasi yang kabarnya suka mengular itu. Memang benar yang antri banyak banget tapi pintunya juga banyak dan gerakannya juga cepat jadi tidak seperti yang saya bayangkan bakalan antri berjam-jam. Antrian panjang itu sepertinya tidak ada putusnya terus saja disambung lagi disambung lagi. Bener-bener luar binasa...

Menurut selentingan kabar yang saya sendiri tidak tau kebenarannya, katanya banyak orang yang kerja di Singapura tapi memilih tinggal di Johor Bahru karena biaya sewa rumah/kost lebih murah. Itulah yang menyebabkan imigrasi perbatasan ini selalu mengular sepanjang waktu.

Setelah menunggu lebih dari setengah jam tibalah giliran ibu saya maju ke petugas imigrasi. Kebetulan barisan tempat kami gerakannya lumayan lelet dibanding dengan barisan yang lain. Ibu ditanya sesuatu oleh petugas imigrasi tapi karena tidak paham petugas itu memanggil saya. Rupanya disuruh mampir ke rumahnya ditanya Disembarkation/Embarkation Card (Kartu Kedatangan Singapura). 

Kartu ini dibagikan oleh pramugari saat naik pesawat dari Indonesia. Terdiri dari dua bagian yaitu kartu kedatangan dan kartu keberangkatan. Kartu kedatangan akan disobek dan diambil imigrasi saat masuk ke Singapura sedangkan kartu keberangkatan akan diambil saat keluar dari Singapura. Biasanya diselipkan di dalam paspor. Ceritanya waktu beres-beres di penginapan, kartu itu saya bereskan dikumpulkan bareng bekas tiket. Untung saja tidak dibuang. Lupa kalau masih bakal dipakai. Ndeso banget kan. Setelah diubek-ubek lagi akhirnya masih bisa ditemukan. Lebih detailnya mengenai kartu ini bisa diintip di sini.

Tapi ada lagi masalah yang lebih serius, paspor ibu saat discan yang keluar data orang lain. Perempuan berambut cepak dengan nama chinesse ga begitu jelas cheng chong siapa gitu. Padahal foto ibu di paspor pakai kerudung. Lalu ibu diminta menunjukkan KTP Indonesia sambil ditanya-tanya dan dicocokkan lagi dengan nama dan alamat di paspor. Nama ibu hanya satu suku kata di KTP sedangkan di paspor ada tiga ditambah nama bapak dan kakeknya. Hal ini tidak masalah karena untuk keperluan umroh yang mengharuskan nama di paspor harus tiga suku kata. Walaupun membingungkan tapi setidaknya masih terbantu dengan adanya visa Arab Saudi di paspor ibu pertanda paspor sudah pernah digunakan. Pastinya kesalahan bersumber dari komputer itu sendiri. Saya hanya kasian dengan antrian panjang yang telah menunggu di belakang.

Lalu petugas itu menelpon ke kantor dan meminta temannya untuk membawa ibu ke kantor. Paspor saya tidak ada masalah tapi saya disuruh mendampingi.

"Kamu anaknya ya? Boleh temani" 

Mas petugas ini sudah ganteng baik lagi sayangnya tidak ada kesempatan untuk berkenalan, maksud lo...

Beberapa saat kemudian kami dijemput oleh petugas dan diantar sampai di depan lift. Di dalam lift sudah ada petugas lagi perempuan berbadan tegap dan kekar hampir menyerupai laki-laki, yang akan mengantarkan sampai ke kantor.

Di dalam kantor paspor kami diperiksa lagi, punya saya langsung dikembalikan karena tidak bermasalah. Ibu ditanya-tanya lagi tapi karena tidak paham saya mewakili menjawabnya. Lalu disuruh duduk sambil menunggu petugas mengetik data ibu. Ada juga tiga orang yang masuk sepertinya punya masalah yang sama. 

Setelah menunggu beberapa saat petugas memanggil kami dan memberikan paspor ibu.

"Om kenapa bisa begini?" 
"Ada nama yang hampir sama jadinya terbaca orang lain"

Oke deh gapapa setidaknya jadi tau daleman kantor imigrasi. Lalu diperbolehkan meninggalkan ruangan. Di depan pintu disambut lagi oleh mbak-mbak yang gagah tadi dan siap mengantarkan keluar.

Disinilah keraguan kami terjawab untuk tidak naik bus yang langsung Singapura Melaka. Ternyata bakal bermasalah di imigrasi. Alhamdulillah Allah SWT telah menuntun kami sehingga kami tetap tenang tidak dihantui perasaan takut ketinggalan bus. Selalu ada hikmah dibalik semua kejadian.

Sampai di pinggir jalan mencari armada bus yang sebelumnya kami naiki dan uhuk uhuk... Rupanya harus antri lagi. Setelah naik satu persatu sambil menunjukkan tiket lalu bus membawa kami menyeberangi jempatan panjang yang menghubungkan daratan Singapura dan Malaysia. Sampai di Johor Bahru Sentral bus berhenti dan semua penumpang turun kembali untuk minta stempel paspor di imigrasi Malaysia.

Antrian di imigrasi Malaysia sama ramainya dengan di imigrasi Singapura. Luar binasaaa... Saya sempat khawatir dengan paspor ibu jangan-jangan bermasalah lagi. Tiba giliran ibu maju, saya dipanggil lagi. Mak Deg!! OMG ada apa lagi iniiihh?? 

Rupanya hanya ditanya masih jomblo apa ga tiket pulang. Untung sudah diprint. Seperti biasa petugas iseng menanyakan ada keperluan apa, berapa hari, berapa orang? Bikin gemetaran aja. Lalu paspor distempel dan dikembalikan lagi. Di pintu keluar diharuskan meletakkan semua barang bawaan untuk dimasukkan ke dalam box x-ray. Alhamdulillah tidak ada masalah dan bisa keluar dengan lega.

Beres urusan imigrasi kami harus naik bus lagi ke Terminal Larkin, masih dengan armada bus yang sama dengan hanya menunjukkan tiket. Kali ini tidak ada antrian panjang, bus masih kosong dan harus menunggu beberapa saat. Sampai di Terminal Larkin jam 22.00. Kami di sambut oleh banyak calo bus yang menawarkan ke berbagai wilayah di Malaysia. Karena belum sholat maghrib yang sudah niat akan dijama takhir dengan isya maka naik ke lantai 3 untuk mencari mushola. Apesnya beberapa eskalator sudah dimatikan jadi harus mengangkat koper secara manual sampai ke atas.

Selesai sholat turun lagi dengan mengangkat koper melewati eskalator yang sudah tertidur semua. Capek bok. Lalu saya mencari tiket bus ke Melaka. Ternyata semua loket penjualan tiket mengatakan sudah tidak ada lagi bus ke Melaka, ada lagi besok pagi. Gubbraaakkk.... Kirain 24 jam.

Bagaimana kisah selanjutnya, jangan kemana-mana saya akan kembali setelah pesan-pesan berikut ini...

Bersambung ke part 3

Dec 23, 2014

Mesin Penyedot Pulsa

December 23, 2014 1 Comments
Nyesseggg bangeettt.. Menyebalkan kalau pulsa tiba-tiba habis disedot mesin yang ga pengertian, rasanya pengen misuh, pengen ngebanting hp tapi sayang hpnya jauh lebih mahal dibanding pulsa yang hilang. Bukan hanya sekali dua kali dan saya rasa hampir semua pengguna telpon seluler dengan operator manapun pernah mengalaminya.

Seperti kejadian yang menimpa saya pada suatu hari, bangun pagi tiba-tiba pulsa habis sampai Rp 0, gara-gara paket internet habis lupa ngaktifinnya lagi padahal kemaren sorenya abis ngisi pulsa full buat jatah sebulan. Kampret kan ditinggal tidur langsung habis. Sakitnya tuh disinii... *nunjuk dompet* tau gitu ga usah diisi dulu...

Sama gondoknya seperti waktu di Bangkok saya baru seminggu pakai hp android jadi masih gaptek. Begitu turun dari pesawat nyalain hp tiba-tiba crut crut crut seketika pulsanya habis. Cuma bisa melongo aja kok bisa? Pastinya bingung mau ngisinya lagi gimana. Kalau di negeri sendiri bisa langsung ke atm atau ke counter pulsa berhubung di negeri orang hanya bisa nyengir. Jadi linglung kesel tak ada pelampiasan.

Saya tidak sendiri rupanya, banyak yang sama kagetnya, seperti ibu-ibu yang pernah saya temui "Mbak ini gimana kok nyedotin pulsa mulu" "Ga tau bu matiin dulu aja hpnya" karena saya belum tau caranya menonaktifkan mobile data, maklum sebelum-sebelumnya ga pernah utak atik hp biasa pakai hanya untuk nelpon dan sms.

Lain lagi dengan cerita kakak saya yang memakai hp dual sim dan dipasang dua nomor dengan operator yang berbeda. Suatu hari menelpon saya, seperti biasa langsung ngobrol nyerocos nggedhebes kemana-mana tiba-tiba telponnya terputus begitu saja, saya pikir karena masalah sinyal. Tak lama kemudian beliau sms "Walah pulsaku entek". Rupanya salah menelpon pakai operator yang berlainan dan pastinya jadi lebih mahal. Hahahaa... mendengar kesialan orang rasanya pengen ketawa. Emang enaaak...!!

Pernah juga waktu jaman sebelum masehi android masih jaman yang kalau lebaran smsnya "Sebelum takbir berkumandang, sebelum operator sibuk, sebelum sms pending, saya dan keluarga mengucapkan selamat hari raya bla..bla..bla..". Saya baru pertama kalinya ke luar negeri yaitu di Jeddah. Setelah landing, terheran-heran sekaligus bahagia dengan nomer Indonesia yang bisa aktif di sana bisa sms bisa telpon. Dengan santai dan bangganya telpon mengabarkan bahwa telah sampai dengan selamat berlanjut bales-balesan sms yang ga penting sekedar cerita norak sedang berada di luar negeri. Ga taunya sekali sms Rp 10.000 waaakkss...gemblung.

Pertama ke Singapura juga begitu saya pikir karena masih dekat dengan Indonesia roamingnya pasti ga gede-gede banget, sengaja iseng nelpon pacar orang buat ngilangin penasaran. Ternyata baru sebentar telpon dan bales-balesan sms tau-tau pulsa habis. Tepatnya berapa saya kurang tau tapi kalau sms perkiraan Rp 5000 sekali sms. Waouuw roaming internasional memang gila-gilaan.

Masih di jaman sebelum android saya pernah iseng sms biar dapet berita bola ter'update pada musim piala dunia yang model ketik REG spasi COWOKGANTENG (contoh) dan berhentinya tinggal di UNREG spasi COWOKMATRE. Ternyata setiap hari disms berkali-kali dengan berita yang sama dan sekali sms kena Rp 3000 dikalikan aja kalau sms 10 kali per hari berapa pulsa yang kesedot. Sudah diUNREG pun ternyata ga bisa berhenti. Lalu saya telpon callcenter yang katanya mau membantu UNREG dari sana dan sama saja tidak ada perubahan. Terpaksa saya buang nomer itu dan diganti dengan yang baru padahal paling males ganti-ganti nomer.

Beneran kapok ga akan pernah ikut-ikutan sms ketik REG spasi KAMPRET itu lagi. Sepertinya sekarang sudah ga ada lagi dulu kan iklannya sempet oye banget.

Sekarang sudah jamannya android berarti harus beli paket internet biar hpnya berfungsi maksimal *blog-bbm-wa-pesbuk-twiter-ig-narsis* atau berlangganan jadi kalau paket habis akan memperpanjang otomatis. Kalau lagi liburan ke luar negeri bisa ganti dengan nomer lokal yang pastinya lebih murah untuk menghubungi keluarga di tanah air tapi jarang saya lakukan agar liburan lebih tenang (jiaelah liburan ke luar negerinya emang seberapa sering sih..?). Bisa juga beli paket data roaming yang mana menurut saya tetep mahal dan tidak pernah saya lakukan berhubung ibu saya ga bisa internetan juga, boro-boro internet sms aja ga bisa jadi cukup dikabari lewat telpon.

Lagi pula liburan bisa lebih tenang jika bisa menjauhi hp dan sosial media. Pamit ke keluarga biasanya saya lakukan sebelum berangkat paling tidak sebelum pesawat take off dan minta ijin bahwa selama liburan agak susah untuk dihubungi. Berkaca dari kejadian di Bangkok sebelum terbang mobile datanya harus dinonaktifkan. Setelah itu baru hp dimatikan sehingga setelah sampai di tempat tujuan pulsa tidak akan tersedot. Selama di negeri orang cukup memanfaatkan wifi gratis untuk mencari informasi dan bolehlah narsis-narsis sedikit di sosmed.
 

Dec 21, 2014

Telur Dadar Vs Omelet

December 21, 2014 2 Comments
Saya bukan penggemar makanan yang suka penasaran nyobain ini itu apalagi sampai bela-belain pergi jauh demi makanan. Makan apa saja okey yang penting halal. Nasi putih, sambel dan krupuk pun disikat.  Paling praktis kalau bingung cari lauk adalah bikin telur dadar. Telur memang salah satu favorit saya. Diolah dalam bentuk apapun tetap suka.

Selain telur saya paling suka dengan sayuran. Asal bukan yang mentah karena beda dengan kambing. Soal rasa lebih suka masakan di rumah atau masakan sendiri yang sering dibilang teman-teman masakan aneh. Bukan aneh sih hanya dibuat dengan bahan seadanya yang penting mateng. Makanya jadi kuper ga tau nama-nama makanan kecuali yang pernah saya makan. Makanan Indonesia aja kadang ga tau apalagi yang kebarat-baratan.

Suatu ketika saya penasaran dengan yang namanya OMELET gara-gara lihat iklan di TV yang dibintangi oleh Sherina. Lupa iklan apa, disitu Sherina berada di sebuah cafe memesan makanan tapi habis semua yang salah satunya adalah omelet. Akhirnya kesel dan nyanyi lagu "Geregetan jadinya geregetan bila hidup tanpa pilihan..." dilanjut ngedance bareng dengan semua waitressnya.

Karena sering banget tuh iklan nongol sehari bisa puluhan kali, di TV manapun selalu nongol, kok jadi geregetan juga pengen cari omelet. Penasaran makanan apa sih? Bayangan saya seperti sandwich, burger atau apalah makanan orang bule. 

Pas kebetulan makan di tempat rada elit saya coba pesan omelet. Saat itu ada dua macam satunya omelet potato satunya lagi lupa namanya susah. Saya pesan yang omelet potato. Setelah disajikan kok bentuk dan rasanya persis kya telur dadar cuma dicampur irisan kentang. Mungkin karena yang bikin orang Indonesia jadi asal-asalan sehingga rasanya kya telur dadar di warteg. Nanti deh kalau pergi ke luar negeri saya akan coba makan omelet yang beneran.

Nah, waktu ke Thailand saya masuk ke salah satu restoran halal punya orang arab. Saya lihat ada menu omelet, pastinya langsung pesan itu karena pengen bandingin dengan yang pernah saya makan sebelumnya. Ternyata lha kok sama aja dikasihnya telur dadar lagi. Malahan rasanya persis kya telur dadar buatan saya yang hanya dikasih garam doank.

Masih penasaran lagi, saat breakfast di sebuah hotel bintang kejora saya deketin chef yang lagi bikin omelet. Bener-bener melototin cara bikinnya dari awal sampai akhir yaitu telur dikocok-kocok, dikasih garam, digoreng, digulung-gulung, ga dikasih apa-apa, lalu ditaro di piring yang di depannya ditulisin omelet. 

Jiaaelaaah... Jadi omelet tuh telur dadar. Tepok jidat...!! Sekian rasa penasaran saya terhadap OMELET, telur dadar luar negeri.

Dec 19, 2014

Backpacking Bersama Ibu Part 1- Makan Nasi Goreng di'Cat

December 19, 2014 1 Comments
Setiap kali pulang keluyuran dari negeri orang ataupun di negeri sendiri saya selalu cerita kepada ibu pastinya beliau selalu merespon dengan ekspresi yang tak kalah senangnya. Lama-lama saya sadar kasian sekali beliau hanya menjadi pendengar setia alangkah baiknya kalau sesekali diajak biar ikut menikmati betapa indahnya dunia, ya setidaknya biar punya sedikit cerita.

Mengajak orang tua tentunya harus lebih prepare, itinerary harus jelas ga bisa sembarangan seperti biasanya saya yang asal berangkat. Mulai dari jam berangkat, flight jangan terlalu pagi atau malam agar ga mengganggu waktu istirahatnya, penginapan harus tinggal cek in ga mencari-cari lagi setelah sampai di tujuan, lokasi penginapan harus strategis terutama dekat dengan makanan halal, angkutan selama disana juga harus dipikirkan naik bus, subway atau taksi tentunya yang sesuai dengan kantong saya tapi yang tidak menyusahkan.

Jaman sekarang segalanya mudah tinggal booking online, semua beres. Tapi kebanyakan butuh kartu kredit dan saya tidak punya karena males punya kartu pinjaman. Lebih suka debit yang menurut saya masih praktis juga. Banyak cara beli tiket pesawat bisa langsung booking sendiri ke airlinesnya atau melalui situs-situs pembelian tiket online yang terpecaya dengan pembayaran sistem transfer.

Kalau  ga mau repot bisa pakai cara gampang tinggal duduk manis yaitu ikut travel tour tapi tentunya harus siap kocek yang lebih dan itu jarang tertulis di kamus saya. Lebih enak jalan sendiri bebas mengatur diri seenak udel dan ga terikat oleh jadwal. Destinasinya pun terserah mau kemana menuruti kata hati dan kaki ingin melangkah.

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya terlintas ingin mengajak ibu ke Singapura, Malaysia dan Thailand lewat jalur darat. Karena beliau suka diajak berpetualang melihat tempat dan sesuatu yang baru. Berangkat dari Singapura pulang dari Bangkok. Tapi setelah browsing ternyata tiket promo yang murah hanya ke Singapura dan pulangnya dari KL. Yang pulang dari Bangkok mahal-mahaal. Okey no problem ke Thailand bisa ke Hatyai aja cukup melihat daerah yang berbatasan dengan Malaysia, saya ingin ibu menginjak 3 negara sekaligus.

Beruntung sekali tiket yang paling murah saat itu berada di jam 14.00 untuk berangkat dan jam 11.30 untuk pulang. Jadi paginya ga terburu-buru ke bandara dan sampai di tempat tujuan pun masih siang. Masih banyak angkutan umum yang murah tentunya hehhe...

Setelah chatting dengan beberapa teman Backpacker Dunia ternyata tidak disarankan ke Hatyai dengan alasan terlalu jauh dan di sana ga banyak yang bisa dilihat. Kasian ibu hanya capek di jalan. Saya disarankan dari Singapura mampir ke Melaka dan lanjut ke KL. Banyak pilihan bus langsung dari Singapura - Melaka dan dari Melaka - KL. Tinggal diusahakan sampai di Melaka siang hari karena jarak terminal ke kota lumayan jauh. Baiklah saya dengarkan saran dari teman-teman sekaligus penasaran karena belum pernah ke Melaka.

Selain bus langsung ada juga bus yang sambung menyambung dengan harga lebih murah, yaitu dari terminal Queen Street Bugis Singapura naik bus Causeway Link ke terminal Larkin Johor Bahru dengan ongkos 3SGD/orang. Nah dari terminal Larkin banyak pilihan bus ke berbagai daerah di Malaysia seperti ke Melaka, KL, Penang, Kedah dan lain-lain bahkan ada juga yang ke Hatyai. Tapi mengingat membawa orang tua yang lebih praktis pastinya naik bus yang langsung okeylah harus membayar lebih mahal.

Beres urusan pesawat dan bus sekarang ganti ke urusan penginapan. Setelah browsing saya menemukan hostel private room 60SGD/malam di daerah Bugis dekat dengan stasiun MRT, halte bus, terminal Queen Street dan masjid. Pasti banyak makanan halal disekitarnya.

Satu bulan kemudian... (kya sinetron)
Di suatu siang yang cerah pesawat murah air mendarat di bandara Changi. Saya menyeret koper keluar dari pesawat, berjalan berdampingan dengan ibu menyusuri lorong menuju terminal 1. Suasana tidak begitu ramai karena bukan peak season. Selesai urusan imigrasi kami menuju ke stasiun MRT mengikuti papan petunjuk yang telah terpasang dimana-mana. Walaupun jauh naik turun tapi untungnya serba eskalator dan lift. Tak lupa men'top up kartu Ez Link saya dan membelikan tiket single trip untuk ibu menuju ke stasiun Bugis.

Di Bandara Changi

Tak lama kemudian kereta yang tidak begitu penuh membawa kami ke stasiun tanah merah. Lalu kami pindah kereta ke arah Joo Koon. Disini kereta lumayan penuh tidak ada tempat duduk lagi, tapi salah satu penumpang langsung berdiri memberikan tempat duduk untuk ibu. Penumpang lanjut usia, ibu hamil, dan difabel memang diprioritaskan. Khususnya kursi yang di dekat pintu ditempeli gambar orang hamil, membawa anak, manula dan difabel. Penumpang disana punya kesadaran yang tinggi, mereka akan menghindari kursi prioritas itu.

Sampai di stasiun Bugis kami turun lalu mencari jalan keluar untuk menuju ke penginapan. Seingat saya ambil ke kanan arah Raffles Hospital dan nyebrang 3 kali. Ternyata lumayan jauh kira-kira setengah kilometer. Maaf ya bu.. Untungnya beliau terbiasa jalan. Tidak susah menemukan penginapan yang ternyata persis seperti gambar di internet. Berada di gang kecil dari depan bentuknya seperti warnet.

Setelah cek in kami diantar ke kamar oleh salah satu staf dan diajak berkeliling ditunjukkan semua kamar mandi, dapur dan seisinya yang semuanya boleh dipakai. Kamarnya sederhana sekelas hotel melati, berAC, tidak terlalu sempit tapi tidak juga luas masih cukup untuk gelar sajadah, bersih tapi tidak berjendela. Ada lemari dan gantungan baju, meja, handuk dan air mineral. Ibu sepertinya kurang nyaman apalagi kamar mandinya berada di luar walaupun tidak mengeluh tapi terlihat dari tatapannya. Akhirnya setiap mau ke kamar mandi saya selalu mendampingi dan menunggunya di depan pintu sampai selesai. 

Tapi akhirnya merasa senang setelah disapa oleh turis Afrika yang tak sengaja bareng ke kamar mandi "Hi mommy.." Ibu terheran-heran melihat keakraban dengan sesama penghuni hostel.

"Kalau di penginapan begini memang merakyat bu saling bertegur sapa, beda dengan di hotel mahal pasti jaga privasi. Disini ada dapurnya juga kalau mau air panas, masak mie, pinjem gelas, piring, mesin cuci, setrika semua boleh asal selesai diberesin lagi" jadi punya alasan buat membela diri.
"Enak ya berarti kya di rumah" akhirnyaa....

Selesai sholat maghrib kami keluar mencari makan sekaligus mencari masjid yang katanya dekat dari penginapan. Ternyata memang dekat, berada di belakangnya. Di sekitar masjid banyak restoran halal tapi beberapa sudah tutup. Saya mengajak ibu masuk ke salah satu restoran yang direkomendasikan oleh teman. Kami memesan nasi goreng dan es teh manis. Tak berapa lama pesanan kami disajikan. Ternyata porsinya buanyak kalau saya bisa dimakan 3 kali, warnanya meraaaahh, baunya lengus amis telur, campur ayam dan kambing. Padahal tadinya terbayang nasi goreng di lndonesia yang kuning-kuning merona, dicampur daging ayam trus pakai telur ceplok di atasnya. Yang ada malah kya gini...

Kata ibu nasi goreng di cat

Kalau tidak ingat harganya saya tidak mau makan, bener-bener bau uamiiis sepertu kambing yang tidak mandi setahun. Mendingan makan nasi putih pakai sambel trasi dan krupuk. Suapan pertama rasanya mau m*ntah tapi karena bayarnya pakai dolar terpaksa harus ditelen. Dua kali suap harus diselingi makan timun dan minum teh.

Ibu lumayan lahap entah lapar, suka atau terpaksa. Tadinya khawatir karena beliau tidak biasa dengan makanan asing ternyata malah kelihatan menikmati. Justru saya sendiri yang seleranya masih kampung. Cukup sekali deh ke restoran lndia. Rasanya sih agak mending tapi baunya bikin kapok.

Selesai makan kami jalan-jalan ke Garden by The Bay. Lampu-lampu di tamannya bagus setiap saat berganti warna, saya juga baru pertama kali kesana. Sebenarnya mau lihat laser show yang gratisan di pantai marina tapi sudah kemalaman. Belakangan tau ternyata malam itu tidak ada pertunjukan. Lalu jalan-jalan di sekitar Marina Bay Sand, Helix Bride dan sesekali duduk-duduk sambil makan bekal. Malam itu tidak begitu banyak turis berkeliaran, kata ibu "Ternyata Singapura sepi". Sejak dari bandara memang sepi sekali. Hanya di MRT dari Tanah Merah ke Bugis yang banyak orangnya selebihnya sepi.

Pagi itu setelah sholat subuh kami bermalas-malasan di kamar. Kira-kira jam 8 saya keluar nengok ke dapur. Ada teh, kopi, roti, mentega dan berbagai macam selai. Lumayan membangkitkan selera dari pada nasi goreng yang di cat merah semalam. Saya membuat roti bakar dan teh manis dan membawanya ke meja di lorong sebelah. Saya berkenalan dengan traveler dari lndonesia mbak-mbak dari Kalimantan, yang sudah berdandan rapi dan siap jalan-jalan. Selain itu ada beberapa keluarga yang saya dengar dari Jakarta tapi tidak mau bertegur sapa hanya lirik-lirikan sesaat. Entah kenapa ketemu sesama lndonesian malah melengos.

Selesai makan saya balik ke kamar, rupanya ibu sudah bangun dan saya ajak keluar untuk makan. Saya bawakan juga makanan instant dari rumah seperti Indomie, mie gelas, energen, susu barang kali ibu tidak selera dengan sarapan di hostel. Tapi beliau pilih roti bakar.

Jam 10 lewat yang mana penghuni hostel lainnya sudah jalan entah sampai mana, kami baru siap beranjak dari hostel. Tujuan kami ke Merlion Park, katanya ke Singapura belum lengkap kalau belum berfoto dengan patung singa muntah. Cuacanya panas menyengat tapi saya telah menyiapkan topi dan payung untuk ibu.


Selfie sukaesih di Merlion Park

Puas berfoto-foto tiba-tiba panas berganti dengan hujan rintik-rintik. Untungnya kami sudah berada di depan esplanade lalu masuk ke dalam untuk berteduh sekalian dan naik MRT ke stasiun Harbourfront untuk melanjutkan jalan-jalan ke Sentosa Island.

Kesan dari ibu, Singapura bagus banget semua terlihat menarik. Naik ke bukit disediakan eskalator, di tengah hutan disediakan tempat istirahat yang dilengkapi dengan musik-musik, bus gratis, kereta gratis, dan yang paling disalutkan adalah kebersihannya. Singapura memang punya kesadaran sangat tinggi akan kebersihan lingkungan. Buang sampah dan meludah sembarangan akan didenda.

Sejak keluar hostel sampai ke Sentosa Island suasananya ramai tidak seperti malam sebelumnya yang terlihat seperti tidak ada orang. Melihat keramaian ibu jadi semangat berada diantaranya. 

"Singapura ternyata rame ya" hahaha...
"Ibu pengen ke tempat orang lndonesia belanja-belanja ga?" "Ga usah ga pengen..."

Hehehe... Baguslah saya juga males. Inilah salah satu kebiasaan yang diturunkan ibu ke saya, tidak suka shopping.

Sampai disini dulu ceritanya... Lain kali diterusin lagi yang di Melaka dan Kuala Lumpur. See you...

Nov 30, 2014

Mengenang Teman-teman Kost

November 30, 2014 2 Comments
Sejak usia 15 tahun saya selalu tinggal di kost-kost’an. Sampai saat ini pernah 7 kali pindah kost, dengan beberapa alasan yang mengharuskan pindah yaitu lulus sekolah, lulus kuliah, pindah kerja, pindah kost yang lebih nyaman, pengen sekost dengan teman akrab dan sebagainya.

Beragam kisah suka dan duka saya lewati bersama teman-teman sekost. Sedih kehilangan dikala salah satu teman kost kami harus pindah, senang dikala teman kost baru balik dari rumah dan membawa banyak makanan. Dimanapun kostnya sayalah yang paling jarang pulang karena rumah orang tua saya yang nun jauh disana. Nyelip di antara gunung yang susah sinyal. Tapi setidaknya masih tergambar di peta Indonesia.

Sehari-hari berkumpul dengan mereka di satu atap akhirnya jadi saling memaklumi kebiasaan masing-masing. Kadang lucu, sedih bahkan menyebalkan, yang pasti semua menjadi kenangan indah yang susah dilupakan. Dan inilah kebiasaan beberapa teman-teman yang pernah sekost dengan saya.
  • Teh Titin, kakak senior waktu kuliah yang kebetulan sekamar dengan saya di rumah Ibu Cas. Hampir setiap malam ngelindur ngomong kesana kemari kadang sampai tertawa terpingkal-pingkal dalam keadaan tidur. Sesekali saya isengin coba diajak ngobrol dan selalu ngejawab walaupun jawabannya ngaco.
  • Dewi, teman tetangga kamar masih di rumah Ibu Cas suka sekali pergi keluar kadang sampai kena tegur oleh bapak kost karena pulang kemalaman. Kalau sudah terkunci lompat pagar dan ketok-ketok jendela kamar saya minta dibukakan pintu. Kadang-kadang pulang terlihat cemberut brak bruk nabrak pintu segala dibanting berarti habis berantem sama pacarnya.
  • Onta (nama panggilan untuk bercanda) sekamar dengan Dewi, jarang sekali keluar kost paling senang diam di kamar atau nonton tv di ruang tamu bareng ibu kost. Kalau diajak keluar sering menolak dengan alasan mau nyuci. Kalau lagi ngumpul ngomongnya paling kenceng sering kedengeran sampai kost’an sebelah.
  • Yunita (nama disamarkan) hampir setiap hari ga pernah senyum ngomongnya selalu ketus apalagi kalau barang-barangnya dipinjem bisa-bisa ga negur selama seminggu. Saya pernah sekamar dengannya beneran ga betah dan akhirnya pindah kost. Hiiy..serem..
  • Mbak Rosma, bekerja sebagai sekertaris di perusahaan terkenal di Jakarta. Penampilannya kya selebritis. Wangi sepanjang hari. Dari ujung rambut sampai ujung kaki kinclong terawat. Kalau pergi ke indomart bareng saya terlihat seperti majikan dan pembantunya. Saya sering diajari cara berpenampilan dan bersikap agar menjadi wanita seutuhnya. Maklum beliau pernah bekerja di sekolah kepribadian John Rob*rt P*wer. Jadi penampilan sehari-harinya ya seperti putri gitu deh.
  • Wulan, paling suka tidur pakai baju seksi kalau sudah lelap kakinya kemana bajunya kemana. Kamarnya berada paling pinggir dekat dengan kamar mandi. Paling cuek jarang menutup pintu dan jendela jadi yang akan ke kamar mandi terpaksa harus melihatnya seperti melihat bule berjemur di pantai. Pagi hari segala alarmnya bunyi dari jam beker, handphone dua-duanya dan sound system yang dipasang timer. Mending kalau suaranya pelan, yang ada seperti lagi hajatan sampai para tetangga sudah bangun kemana-mana dia masih enak aja tidur. Kadang kalau lagi pengen tenang sebelum tidur dipesenin dulu "ga usah pasang alarm Lan besok gw bangunin aja".
  • Munaroh (nama disamarkan), kalau lagi baik baiiik sekali tapi kalau lagi cemberut sangat menyebalkan. Pernah suatu hari dia pulang kerja tiba-tiba cemberut melihat saya lagi asyik ngobrol ketawa-ketawa dengan teman sekost. Lalu pergi begitu aja masuk ke kamarnya sambil banting pintu. Lah apa maksudnya? Kalau mau ikut ngobrol ya tinggal nimbrung aja kita bercandaan biasa ga ngomongin dia. Mungkin dia lelah atau lagi dapet.
  • Shinta teman kost di rumah Pak Tamin. Di kamarnya harus ada musik. Kalau lagi ngobrol dan ketemu dengan kata-kata yang seperti syair lagu pasti langsung didendangkan seperti Bang Syaiful Jamil. Rajin bikin teh tiap pagi dan sore. Rajin beres-beres, nyapu dan ngepel. Saya paling sering diomelin karena sembarangan naro sesuatu. Tiap pulang ke rumah rajin membawakan masakan ibunya, ikan sepat asin dimasak pakai sambel ijo. Atau sebelum pulang biasanya tanya dulu “Dek Ningnung, besok mau dibawain apa?”.
  • Teh Risma teman kost di rumah Pak Tamin. Wanita sholeha, keibuan dan berkerudung panjang. Saya dan Shinta memanggilnya teteh kita (kakak perempuan kita dalam bahasa sunda). Rajin memasak, rajin sholat, rajin ngaji dan paling setia menemani saya di rumah sakit ketika saya diopname. Tiap pulang suka membawa ayam bekakak yang enak banget dan dimakan pakai sayuran yang saya benci yaitu terong mentah.
  • Mitha, paling betah tiduran di kamar kadang sampai seharian ga keluar-keluar kecuali pipis. Kalau lagi galau berantem sama pacarnya biasanya suka masak yang mana masakannya sangat bervariasi ga seperti kita-kita yang bisanya hanya bikin sop. Ada es pisang ijo, es pacar cina, cumi saus tiram, sambel udang dan masih banyak lagi. Jadi galaunya mitha adalah berkah buat temen kostnya.
  • Yuyun, hampir sama seperti Wulan kalau tidur paling susah dibangunkan. Bunyi jam beker mungkin terdengar seperti nyanyian tidur sehingga tidurnya semakin pulas. Sampai suara jam beker makin kendor kehabisan baterai dia belum juga bangun. Dibangunkan pun masih tidur lagi, trus bangun tinggal bilang “kok aku ngga dibangunin…” lahh…..
  • Fitri, kamarnya setipe dengan Yuyun dimana-mana banyak barang. Ketawanya kenceng, lucu dan susah berhenti hohohoho..hohohoho... Kadang kita ketawa bukan karena lucunya hal yang kita bahas tapi ngetawain ketawanya dia.
  • Siti, orangnya lucu suka ngomong ala korea-koreaan bareng saya tentang hal yang tidak nyambung tapi disambung-sambungin maksa. Suka bersandiwara dengan berpura-pura nangis. Kentutnya gede kedengeran sampai di luar kamar. Kalau lagi asyik ngobrol tiba-tiba teriak dengan suara cempreng dan bikin kaget orang "HEII..SIA KAMANA!!!" neriakin kucing.
Seiring berjalannya waktu kami harus berpisah dan menjalani hidup masing-masing. Bagaimanapun, saya ingin mengucapkan terimakasih dan tidak akan melupakan kebersamaan kita karena kalian semua pernah menjadi bagian dari hidup saya. Tapi Teh Titin dan Mbak Rosma sejak berpisah sampai sekarang ga tau dimana rimbanya. Semoga beliau-beliau suatu saat membaca tulisan ini. Miss you all.