Jun 23, 2015

Atlas Dunia

June 23, 2015 2 Comments
Sejak kecil saya suka sekali dengan atlas dunia, peta dunia, bola dunia dan apapun yang berhubungan dengan peta. Melihat benua, pulau dan batas-batas negara rasanya sangat menyenangkan dan membuat penasaran. Rasanya pengen keliling dunia pengen bisa melihat ada apa disana. Tapi ya selalu sadar diri ga mungkin, emang gimana caranya? Duit dari mana? Ke luar negeri pasti biayanya mahal. Sepertinya mustahil bagi saya yang hanya orang kampuang ga bisa bahasa Inggris bisa pergi ke luar negeri sehingga biarpun pengen saya ga pernah bermimpi.

Ternyata setelah dewasa dunia berkata lain. Allah mendatangkan rejeki dan membukakan pintu untuk saya menginjakkan kaki ke luar Indonesia. Alhamdulillah pertama kali saya diijinkan ke Madinah dan Mekah untuk ibadah umroh. Pertama kali mendarat di bandara King Abdul Aziz Jeddah rasanya seperti mimpi sekaligus kaget ternyata bandara luar negeri ga seperti yang saya bayangkan. Gedungnya tinggi kinclong mewah, ramai dan sibuk. Ternyata memang ramai dan sibuk tapi ga kinclong dan mewah. Yang bikin heran lagi toiletnya lha kok antriannya puanjaaang trus klosetnya hanya lantai semen dicelong gitu doank jauh dari kesan mewah. Showernya hanya pakai selang diklewerin gitu aja di pinggir kloset. Baru juga nongkrong udah digedor-gedor dari luar oleh orang yang berbadan gede-gede. Pada kebelet  semua maklum abis perjalanan panjang dari negaranya masing-masing pasti banyak yang nahan pipis di pesawat. Tapi dua tahun kemudian setelah saya kembali kesana bandara King Abdul Aziz telah banyak mengalami perubahan dan jauh lebih baik. Itulah kesan pertama kali menginjakkan kaki di luar negeri.

Dihari-hari berikutnya Allah masih memberi saya rejeki untuk melihat negara tetangga walaupun pergi secara gembel. Alhamdulillah sampai sekarang telah diberi beberapa kali kesempatan dan keberanian untuk jalan-jalan sendirian ke negeri orang. Biarpun akhirnya saya jadi kecanduan tapi saya tidak memaksakan diri untuk pergi ke tempat-tempat yang tergambar di atlas dunia sebanyak mungkin. Semua disesuaikan pada kemampuan yang saya miliki.

Sekarang gambar ini wajib dipasang di kamar bukan karena pengen banget keliling dunia tapi karena memang saya suka. Kalau ternyata diberi kesempatan ya syukur alhamdulillah.

Jun 22, 2015

Telur Ceplok

June 22, 2015 0 Comments
Makanan yang ga pernah membosankan buat saya adalah olahan telur. Entah diceplok, didadar, direbus atau dibakar, rasanya tetap high class. Kecuali kalo yang kebanyakan garem ya terpaksa jadi milik kucing. Namun untuk telur ceplok saya punya syarat khusus agar menjadi lebih istimewa walaupun rasanya sama aja. Syarat ini telah saya buat sejak kecil yang saya sendiri bahkan tidak bisa mengingatnya. Hanya menurut cerita dari salah satu kakak saya. Jadi telur ceplok yang baik dan benar adalah yang kuningnya tetap utuh trus letaknya harus pas di tengah. Kalau sampe miring apalagi pecah itu jelek. Saya pasti nangis guling-guling dan minta diulang lagi. Entah apa maksudnya.

Kebiasaan ini kebawa sampe gede. Tentunya ga sampe ngegoreng ulang kalo gagal. Ngladenin! Tapi tetap berusaha dibuat seperti itu sambil dimainin nunggu mateng. Perasaan saat makan kalo bisa memisahkan kuningnya tuh kya ada surprise, kya nemu sesuatu yang baru gitu. Padahal rasanya beneran ga ngaruh.

Bikin telur dadarpun diusahakan kuning telurnya jangan sampe pecah. Caranya diaduk pelan-pelan bagian putihnya dicampur dengan bumbu yang ada. Kuningnya tidak boleh kesentuh. Kemungkinan berhasil sih kecil. Secara selaput tipisnya bukan dari karet. Ga ada kerjaan banget kan tapi itulah kenyataan hehehe...

Jun 21, 2015

Inikah Cinta?

June 21, 2015 0 Comments
Tadi pagi saat pulang kerja saya melihat peristiwa yang sangat mengharukan, lebih tepatnya sih lucu. Suasana kost'an sepi. Titis belum pulang dari masuk malem, Hani dan penghuni forbidden room lagi mudik, Cita dan Yuyun lagi tidur di kamarnya masing-masing. Kamar Cita gelap, pintu tertutup, kaca jendela terbuka dan gordennya yang terbuka setengah berkibar tertiup kipas angin. Kamar Yuyun terang dan pintunya terbuka. Yuyun tidur tergeletak di lantai di atas sajadah masih memakai mukena dan memegang Al Qur'an. Di depan pintunya ada mpus yang setia banget menjaganya sambil sesekali meliriknya dengan tatapan yang penuh cinta. Saat saya mendekat si mpus mengeong pelan sambil melotot, lalu menoleh melihat Yuyun lalu melihat ke saya lagi seolah berkata "Jangan ganggu dia lagi bobooo..."

Setia banget

Yuyun dan kucing-kucing di kost Bu Haji Pur ini memang mempunyai hubungan yang sangat intim. Dia sangat setia menyisihkan sedikit makanannya buat si mpus yang selalu datang tak diundang. Rajin memilah tulang ikan demi berbagi dengan makhluk yang sangat lucu itu. Tak jarang makanan yang diletakkan di meja pun diduluin oleh si mpus saat ditinggal mandi. "Iihh si kucing nyebelin" Hanya itulah kalimat yang biasa terlontar saat dia merasa kesal. Akibatnya si mpus mempunyai ikatan batin yang begitu dalam dengannya. Seolah ingin membalas budi mereka selalu setia menjaga kamar Yuyun.

Note : cerita ini hanya candaan belaka sebagai warna kehidupan di kost Bu Haji Pur. Jangan marah ya Uyuuun...
*penghuni forbidden room : teman kost yang kamarnya selalu dikunci biarpun hanya ke kamar mandi dan cuci piring di depan kamarnya hihihi...
 

Jun 18, 2015

Deli

June 18, 2015 0 Comments
Saya punya teman namanya Deli (bukan nama sebenarnya). Orangnya baik, polos, apa adanya dan kadang pemalu. Dulu kalau makan suka malu-malu ga dihabiskan, bekalnya dari rumah sering dibawa pulang lagi tapi sekarang kalau makan harus dua porsi. Rajin membelikan obat kaligata/biduran buat saya tapi akhirnya diminum sendiri karena jadi kena kaligata juga. Satu almamater dengan saya, adik kelas satu tahun dibawah saya. Waktu kuliah saya ga kenal dia tapi dia kenal saya, terbukti kan kalau saya tuh orangnya terkenal, terkenal tukang tidur maksudnya...

Dia suka sekali cerita horor, suka menakut-nakuti teman-teman yang lain. Padahal sendirinya penakut abis. Sehingga jika ngisengin orang gampang untuk diisengin balik.

Suatu hari saya masuk sore pulang jam 10 malam dan oper shift ke dia. Kami berniat iseng buat menakutinya. Sebelum dia datang semua lampu di ruangan dimatikan dan kami ngumpet di bawah meja. Begitu masuk, dia ketakutan sekali terdengar dari langkahnya yang semakin cepat menuju ke saklar lampu. Agar suasana terasa horor kami melemparkan beberapa spidol, PRAAKKK..!!! Dia seperti ingin teriak tapi karena tidak ada orang satupun maka ditahan. Setelah lampu menyala semua, kami keluar dari persembunyian dengan tiba-tiba, tentu saja membuatnya terperanjat.

"Ih ngerjain aja..." hahahaha... 

Di malam-malam berikutnya saat oper shift lagi, seperti biasa lampu dimatikan tapi kali ini disisakan lampu tengah. Saat dia datang, sebelum meletakkan tasnya kami ajak ngobrol di tengah ruangan. Membahas tentang sesuatu yang horor. Langsung deh tuh mengalir cerita horor di kost-kost'annya waktu kuliah. Semangat dan heboh sekali ceritanya. Jadi katanya ada seorang temennya yang pingsan karena melihat shinchan di jendela kostnya.

"Shinchan maksudnya apa Deli?" tanya saya pura-pura tidak paham.
"Nanti kalo disebutin kakak bisa takut" jawab Deli setelah sekian detik memikirkan sesuatu.
"Ga kok, aku ga takut, bilang aja..."
***Berpikir serius...
"Kalau kakak meninggal kakak akan jadi apa, ya itulah temen aku melihat itu..."
"Meninggal? Jadi apa? Pocong maksudnya?"
"Iya kak" jawab Deli dengan ekspresi ketakutan.
"Trus gimana lagi?"
"Jadi temenku ngelihat pocong di belakang kostnya dari jendela, abis itu dia pingsan"
"Ooh..emang serem banget ya"
"Ya serem donk kak namanya juga kya gitu" kata Deli masih belum tega menyebut kata pocong.
"Kok jadi merinding ya dengernya, takut ah..kita pulang yuk..." ajak saya pada teman-teman.
"Hayuk pulang takut ah disini... hiiyyy... merinding..." jawab semua teman-teman sambil berlalu meninggalkan Deli.
"Ih jangan tinggalin aku.. Jangan pulang dulu tungguin kak Dian dataang..." Deli kebingungan karena kak Dian teman seshiftnya belum menampakkan diri.
"Dadaaahh..kita pulang yaa.. Hati-hati Deli ada shinchan..."
"Kalian ini ngejebak aku yaa..."
"Hahahahaa...."

Akhirnya dia ikut keluar duduk di depan ruangan menunggu sampai kak Dian datang. Di hari-hari berikutnya dia tidak mau lagi cerita horor biar dipancing-pancing kya apa tetap tidak tidak dan tidak. Hahahaha....

Jun 17, 2015

Indonesia... Murah...

June 17, 2015 0 Comments
Menurut cerita teman dan beberapa kali pernah merasakan sendiri, dimana-mana orang Indonesia paling disambut tapi oleh pedagang karena paling konsumtif diantara yang lain. Kalau belanja ga tanggung-tanggung. Jarang hanya jalan-jalan belaka, pastinya sekalian karena aji mumpung, mumpung murah, mumpung diskon, mumpung ada, mumpung kesini, buat si ini si itu dan seabreg lagi. Lihat saja yang baru pada pulang dari luar negeri pasti kopernya pada berjibun.

Pernah asakan sendiri waktu di Arab tapi taunya ya cuma Mekah, Madinah dan Jeddah karena paket umroh. Disana banyak pedagang yang bisa bahasa Indonesia bahkan bayarnya pun boleh pakai rupiah. Saya masuk toko sambil ngobrol sama temen mungkin denger obrolan kami jadi mereka tau dari Indonesia, tadinya pedagang itu lagi melayani orang Malaysia seketika langsung pindah haluan ke kami "Ayo Indonesia sini murah murah..." "Sepuluh real, lima real" "Bisa diskon" "Halal kakak halal". Jadi serasa di Tanah Abang.

Pernah juga nganterin ibu-ibu serombongan belanja, aje gileee... Segala diborong bo. Ga ada ceritanya beli makanan cuma sekilo, minimal 5 kilo dan bermacam-macam pula. Kalau beli baju, sajadah, pashmina gitu minimal selusin. Sampai bengong duitnya kok ga habis habis. Jadi kya lebih banyak mikirin belanjaan dari pada ke masjid. Mau ke masjid mampir toko dulu, pulangnya apalagi. Koper berangkatnya cuma satu, pulang istrinya tiga suaminya tiga yang paling kecil ukuran 29. Ruaaarr biasaaaa... Tau banget karena saya sekamar ama istrinya. Itu baru sepasang ya masih berjibun lagi ibu-ibu yang lainnya.

Itulah yang bikin pedagang disana cinta banget ama orang Indonesia. Karyawan toko kebanyakan diambil dari Indonesia. Konon pasar seng di Mekah yang kasih nama juga orang Indonesia. Sampai kresek bungkus belanjaan tulisannya bukan Arab lagi tapi bahasa Indonesia biarpun EYDnya ga pas.

Pernah juga waktu di Seoul di Namdaemun Market. Banyak banget pedang yang antusias menyambut kami kadang ada yang bisa bahasa Indonesia juga. Begitu kami masuk ke toko langsung disuruh duduk, dikasih minum dan dipaksa suruh nyicipin banyak banget ga ada pelit-pelitnya. Akhirnya karena ga enak jadi beli semua termasuk saya yang niatnya cuma nganterin dan karena belinya banyak jadi dikasih bonus banyak banget. Setelah dibanding-bandingin ternyata disitu harganya mahal. Pantes aja bonusnya banyak hahaha... Mereka udah hafal kali, orang Indonesia kalau dibaikin sedikit jadi ga enakan.

Di bandara Don Mueang Bangkok saya pernah bareng rombongan ibu-ibu yang kopernya gede-gede. Mereka check in duluan dan lamaaaaa... banget ga selesai-selesai. Ternyata kopernya pada over weight dan disuruh bayar ada yang seorang sampai 2jt. Nah lo... Padahal isinya cuma barang-barang krentilan yang harganya ga seberapa. Untung petugas check in nya baik, jadi dititipin ke orang-orang yang bagasinya masih tersisa, termasuk ke saya. Saya hanya bawa ransel dan males naro ke bagasi, untungnya cuma 7kg lebih sedikit masih diperbolehkan dibawa ke kabin. Jadi free bagasi saya 15kg ga kepake sama sekali. Eh masih 4 koper lagi ternyata. Singkat cerita yang 2 koper masih bisa nitip ke orang dan yang 2 lagi harus dibongkar dibagi-bagi ditenteng ke kabin. Dan bener isinya krentilan kya gantungan kunci dan gunting kuku. Kok jadi ngomongin belanjaan orang suka-suka sih mau beli apa tapi harusnya kan bisa memperkirakan bagasinya jadi ga merepotkan orang lain.

Itu baru yang saya lihat sendiri yang notabene saya jalan-jalannya masih tahap ecek-ecek, kalau cerita dari orang yang suka keliling Eropa atau USA, katanya orang Indonesia kalau belanja bisa sampai ratusan ribu uang sono kalau dirupiahkan jadi angka M. Jadi sangat beralasan kalau orang Indonesia memang paling disambut pedagang dimana-mana.

Jun 16, 2015

Are You a Malaysian?

June 16, 2015 0 Comments
Kalau kemana-mana saya sering disangka orang Malaysia. Eh ntar dulu "kemana-mana" kesannya kok kya sering keliling dunia aja padahal negara-negara asean aja baru beberapa, tapi bolehlah narsis dikit siapa tau jadi beneran kemana-mana. Katanya semua berawal dari mimpi. Aamiin.

Seperti waktu umroh sering banget ditanya oleh jamaah di sebelah...
"Malaysia?" 
"No, Indonesia"

Pasti banyak banget yang senasib kya gini, susah emang bedain Malaysian apa Indonesian. Kecuali kalau denger lagi ngomong baru ketauan. Indonesian pun yang dari Sumatra melayu-melayuan gitu logatnya hampir sama. Ya kata mak cik kan kita masih serumpun.

Pernah juga waktu di Seoul, saya jalan sore-sore lihat sunset ke Naksan Park. Disana ada beberapa oppa dan eonni lagi jogging serta kakek dan nenek lagi momong cucu. Saat melintas di depan kakek yang lagi istirahat, beliau nanya...

"Are you moslem?"
"Yes"
"Malaysia?"
"No, Indonesia. Do you know Indonesia?"
***Ngangguk doank tapi kya sambil mikir.

Masih di Seoul, saya jalan-jalan sendiri di pasar deket Ewha Women University. Ceritanya hari terakhir disana pengen ngabisin duit recehan won yang tinggal sedikit, karena kalau dibawa pulang ke Indonesia harganya bakal jatuh bisa jadi malah ga laku. Saya masuk ke toko baju disambut oleh oppa pelayannya.

"Hello... Are you a Malaysian?" 
"No, I am from Indonesia" 
"Ouw Indonesia, BADMINTON..!!!" kata si oppa sambil ngepalin tangan,  seketika inget oppa Lee Young Dae yang ganteng itu. Bangga juga Indonesia dikenal badmintonnya.

Masih di pasar deket Ewha Women University, saya masuk ke toko sepatu.
"Malaysia?" 
"No, Indonesia" 
"Oh I like Indonesia, Bali"
Selama di toko itu mbaknya ngikutin saya ngajakin ngobrol, bukan pelayannya sih tapi sesama pengunjung. Note, akhirnya saya ga beli apa-apa ternyata duitnya ga cukup.

Masih di Seoul juga tapi lupa dimana aja, saking seringnya sampai bosen.
"Where are you from?"
"Indonesia"
"Oh, I think from Malaysia"
***Segitu terkenalnya orang Malaysia di Korea.

Sering lagi di Thailand. Dari selatan sampai utara yang pernah saya datangi, paling sering dikira dari Malaysia, kadang dikira asli Thailand. Ga pakai nanya dulu, langsung aja manggil "Hello Malaysia salamat siang".
***Sotoy banget...

Kalau di Malaysia sendiri pastinya sering di sangka orang lokal. Saya pernah ikut dengerin ceramah di Masjid Al Hana Langkawi sehabis maghrib sekalian nunggu isya. Diem mentereng dengerin pak ustadz ngomong pake bahasa melayu kental, ujung-ujungnya ga ngerti juga. Ngerti sedikit selebihnya kira-kira. Eh taunya ibu-ibu di sebelah minta dijelasin, mungkin maksudnya gini "Tadi kata pak ustadz yang ini ini ini... maksudnya apa?" pake bahasa melayu kental, tentu saja hanya jawab geleng-geleng dan membuat ibu mengerutkan dahi. Aneh mungkin kya yang serius dengerin tapi ditanya ga ngerti hahaha...

Tapi biar begitu saya ga pernah beruntung kalau lagi beli tiket ke tempat wisata di Malaysia, ga pernah dapet harga orang lokal biarpun udah gegayaan sok pake logat melayu ngikutin Upin Ipin. Ga akan bisa mengelak lagi kalo udah ditanya, Where are you from? You local or foreign? Bisa kasih lihat IC? Awalnya ga tau apa itu IC, kirain kode apa ternyata Identity Card kalau di Indonesia KTP.

Jun 15, 2015

Menuju ke Golden Triangle - Perbatasan 3 Negara

June 15, 2015 4 Comments
Golden Triangle atau Segitiga Emas Asia Tenggara adalah suatu tempat dimana kita bisa melihat tiga negara dalam satu pandangan yaitu Thailand, Laos dan Myanmar. Hanya dipisahkan oleh pertemuan Sungai Ruak dan Sungai Mekong. Berada di distrik Chiang Saen, 829 kilometer dari Bangkok dan 80 kilometer dari kota Chiang Rai. Dulu tempat ini merupakan ladang penyelundupan opium yang sangat terkenal di dunia. Tentu saya kesana bukan mencari opium hanya sekedar melengkapi gelandangan di Chiang Rai.

Pagi itu jam 08.30 kota Chiang Rai masih diselimuti kabut. Udara dingin menampar pipi dan membuat bibir kering bocel-bocel. Saya masuk ke kantin di guest house.

“Thangchiek chuong hsgakuk shtagddjajg skjdgyfsa” sepasang kakek dan nenek penjaga kantin menyambut saya.
“Aku wes adus nek saiki luwe” kata saya sambil menunjuk gambar roti. 

Lalu beliau membuatkan saya roti bakar dan teh manis. Dari pada susah-susah pakai bahasa Inggris mending pakai bahasa Jawa simbahnya juga ngerti.

Selesai makan saya jalan kaki ke terminal mencari minivan yang bernama Green Bus jurusan Golden Triangle. Tidak susah menemukannya karena tulisannya campuran keriting dan bahasa Inggris. Belum ada penumpang di dalam van sehingga harus menunggu sampai van terisi penuh. Sebelum berangkat sopir meminta ongkos 50 bath per orang.

Di perjalanan melewati beberapa kali check point. Van berhenti di depan pos dan tentara bersenjata lengkap masuk ke dalam mobil memeriksa penumpang satu per satu. Bagi warga lokal diharuskan menunjukkan KTP dan turis luar menunjukkan paspor. Yang tidak dapat menunjukkan identitas akan dibawa masuk ke kantor. Konon selain jalur perdagangan opium di jalur ini juga tempat masuk dan keluarnya para tenaga kerja ilegal dan imigran gelap. Jadi bisa 3 sampai 5 kali pemeriksaan. Disitu saya merasa takut.

Dua jam berselang tibalah di Golden Triangle. Golden Triangle sebenarnya kini hanya menyisakan keping kenangan kejayaan di masa lalu. Ternyata biasa saja dan tidak seseram yang saya bayangkan. Ada sebuah papan dan tugu sederhana sebagai penanda tempat legendaris ini. Pertemuan Sungai Ruak dan Sungai Mekong sebagai pembatas tiga negara hanyalah sungai besar yang berair cokolate butek mirip dengan Sungai Grindulu di Pacitan. Hampir tidak ada yang istimewa.

Tugu penanda Golden Triangle

Salah satu yang menarik perhatian di Golden Triangle adalah kuil yang berada di tepi Sungai Mekong di daratan Thailand. Kuil ini berada di sebuah bangunan seperti perahu besar berwarna cerah dengan ornament kepala naga di ujungnya. Sementara diatasnya terdapat patung budha besar berwarna emas setinggi 46 meter. Patung ini bisa dilihat dari 3 negara.

Kuil Budha


Saya berdiri di Thailand, di belakang saya sebelah kiri tampak rumah kecil-kecil merah adalah  Myanmar dan sebelah kanan tampak kubah kuning adalah  Laos.

Dari daratan Thailand bisa naik perahu menuju Donsao yaitu desa yang berada di teritori Laos dengan membayar 200 bath. Tidak perlu melalui pemeriksaan imigrasi lazimnya melintasi batas negara. Cukup membayar 20 bath untuk mendapatkan kertas kecil sebagai penanda pernah berkunjung kesana. Disana ada pasar kecil yang menjual berbagai pernak-pernik karya lokal seperti tenun, serangga yang diawetkan dari kecoa sampai kalajengking. Yang paling aneh adalah snake wine, di dalam botol wine terendam ular mati wueeekk… Dikasih gratis juga ogah. Pasti buat yang itu-itu... Apa coba?  

Dari Golden Triangle saya lanjut ke Mae Sai. Saya ingin mencoba masuk ke Myanmar walaupun hanya di perbatasan yaitu Tachileik. Saya diturunkan di sebuah halte oleh sopir van entahlah daerah mana karena tidak ada tulisan Inggris sama sekali. Katanya disitu tempat menunggu bus jurusan Mae Sai. Memang ada beberapa kali bus lewat tapi tulisannya keriting semua dan saya tidak berani naik. Setelah hampir satu jam, lewat juga bus jelek dengan tulisan yang bisa dibaca yaitu Mae Sai.  

Saya naik bus itu, di dalam ada perasaan lega karena ada satu penumpang bule berambut pirang. Walaupun tidak ngobrol setidaknya ada teman yang sama-sama orang asing. Busnya berjalan lelet banget sambil mencari penumpang sepanjang jalan dan beberapa kali mencari alamat untuk menyampaikan kiriman paket. Sampai di Mae Sai ternyata sudah kesorean. Waktu menunjukkan pukul 16.00 tidak memungkinkan untuk masuk ke Tachileik, karena angkutan umum terakhir ke Chiang Rai jam 17.00. Akhirnya saya pulang lagi ke Chiang Rai naik minivan yang lebih cepat.