Aug 19, 2015

Emang Saya Ibumu?

August 19, 2015 6 Comments
Begitu menginjakkan kaki di Ninoy Aquino International Airport saya merasa aneh dengan orang-orang Filipina yang memanggil saya. Serasa telinga ini diutak utek pakai sapu ijuk. Sampai-sampai males ngobrol dengan orang selain memang ga bisa bahasa tagalog juga sih (bahasa Inggris juga kalee). Mungkin ini yang dinamakan gegar budaya atau bahasa sononya disebut culture shock. Atau mungkin karena saya termasuk golongan menolak tua.

Di mulai dari ibu-ibu petugas x-ray di pintu keluar. "Please, put your bag here mam". Apa maksudnya panggil-panggil mam? Mam tuh mommy apa gimana ya? Emang saya udah emak-emak banget gitu...? Sak ser mu lah! Tanpa memperpanjang masalah saya letakkan ransel dan daypack di conveyor belt kecil yang tersambung dengan box x-ray di depannya. Kemudian saya gendong lagi setelah badan saya di cek pakai metal detektor dan tas-tas saya dinyatakan aman, so pasti aman karena hanya berisi baju dan mie instant doank.

Karena belum punya uang peso saya bermaksud mencari money changer yang menurut penjelasan di google, rate money changer di airport lebih bagus dari pada di kota Manila. Saya nanya ke pusat informasi sekalian meminta peta.
"Hello..." sapa saya pada salah satu petugas.
"Hello, may I help you mam?"
Aih manggil mam lagi, emang saya istri bapak...

Setelah diberi selembar peta besar dilipat-lipat saya melangkahkan kaki menuju ke money changer yang berderet setelah pintu keluar. Saya pilih salah satu diantaranya yang ratenya tertinggi, lumayan beda-beda 20 peso. Saya sodorkan selembar USD ke petugasnya melalui lobang kecil yang hanya cukup untuk meletakkan uang. Kemudian saya diberi beberapa lembar uang peso dengan berbagai pecahan. Sambil melempar senyum manisnya petugas itu mengucapkan terima kasih. "Thank you mam" Haaishh bilang mam lagi... kebalik kali harusnya saya yang panggil tante mam...

Mamam lagi di Ninoy Aquino International Airport

Akses dari Ninoy Aquino Airport menuju ke kota Manila hanya bisa menggunakan taksi dan beberapa bus tapi saya tidak tau rutenya. Belum tersedia MRT seperti di negara-negara maju, masih 11 12 dengan Soekarno Hatta. Taksi katanya tidak begitu mahal karena jarak ke kota tidak terlalu jauh, hanya saja harus berhati-hati karena banyak taksi gelap. Banyak sekali cerita nyeseg tentang taksi di Manila. Saya mencoba cari jalan lain agar tidak sampai naik taksi. Saya keluar dari area airport untuk mencari jeepney (semacam angkot kalau di Jakarta). Menurut petunjuk dari google setelah pintu keluar ke kiri jalan lurus sampai ke ujung parkiran. Ada beberapa orang yang berlalu lalang ke arah itu saya coba mengikutinya. Di tengah jalan beberapa kali saya dihadang oleh sopir taksi. "Taksi mam... Taksi mam..." Eh busyet dah... Ga bakalan naik, udah mah ga bisa dipercaya panggil-panggil mam lagi... Ogahlah pap mamam mo jalan kaki ajah...

Benar saja sampai di ujung parkiran tampak jeepney yang mangkal bertuliskan Nichol - EDSA MRT - Baclaran. Sebelum naik angkutan unik itu saya pastikan dulu ke sopirnya apakah benar lewat EDSA MRT? Karena saya akan turun disana kemudian lanjut naik MRT ke daerah Makati, tempat saya akan menginap. Di dalam jeepney baru ada 3 orang. Sebelumnya saya browsing cara membayar ongkos jeepney yaitu secara estafet dengan penumpang sebelah, karena posisi saya di belakang sopir maka harus siap menjadi pembantu pak sopir. Yaitu menerima uang dari penumpang diberikan ke pak sopir dan kembalian dari pak sopir diberikan ke penumpang. Kalau mau nguntit uangnya langsung disakuin aja hehehe... Yang masih bingung kapan bayarnya? Setelah duduk di dalam jeepney saya diem aja sambil memperhatikan stiker tulisan yang banyak ditempel di dinding dalam bahasa tagalog, salah satunya mungkin artinya begini "Tuhan tahu jika anda tidak bayar".

Tak berapa lama kemudian ada penumpang naik dan langsung memberikan ongkosnya "Bayad Po" saya bantu memberikannya, hampir sama seperti di Indonesia "Bayar Pak". Nah baru tahu ternyata begitu duduk langsung bayar. Saya pun ikut memberikan uang kertas 20 peso, biarpun tau ongkosnya hanya 8 peso tapi takut kurang biar saja dikembalikan berapa. Dan ternyata dikembalikan 12 peso. Baru tau juga ternyata jauh dekat ongkosnya sama 8 peso atau sekitar 2500 rupiah. Murah banget, lebih mahal ongkos angkot di Indonesia.

Ini dia si mungil Jeepney

Semakin lama jeepney penuh dan mulai bergerak menjauhi airport. Banyak petugas airport yang hendak pulang kerja, kelihatan dari label di seragamnya. Mereka semua ngobrol dengan bahasa tagalog, saya sama sekali ga ngerti. Mbak-mbak di sebelah sering terdengar seperti mengatakan "EDSA EDSA" saya pikir mungkin akan turun di EDSA MRT, lumayan bisa diikuti karena saya tidak tau dimana letak maupun ciri-ciri EDSA MRT. Demi keamanan saya mengurangi bertanya ke kanan kiri agar tidak ketahuan bahwa saya orang asing. Secara fisik dan penampilan orang Filipina dan Indonesia sama banget, 10 11 lah. Nah akan kelihatan dari percakapannya.

Jalanan di kota Manila sama kacrutnya seperti di Jakarta. Jakarta sepertinya lebih mending. Motor, mobil, jeepney dan bus umpel-umpelan jadi satu dan menimbulkan kemacetan. Yang sama lagi, ada pengamen anak kecil berbaju kucel sambil nyodorin amplop, ada pedagang asongan trus sopir jeepney beli rokok 2 batang, ini sama banget kya sopir angkot di Indonesia. Ga terasa suasana di luar negeri rasanya seperti di daerah Pasar Senen atau Tanah Abang. Pengen sih mengabadikan setiap moment, tapi takut ngeluarin kamera. Kalung kamera di daerah kya gitu sepertinya cari apes. Denger-denger di Filipina kalau jeprat jepret bisa tiba-tiba dipepet orang trus dimintai duit. Hiyyy... Emang iya, entahlah... Demi keamanan ya ga usah neko-neko.

Masih di jalan kecil diantara kemacetan dan belum tampak tanda-tanda seperti stasiun. Tiba-tiba mbak di sebelah bilang "Para" artinya mau turun. Lah berarti ga turun di stasiun EDSA donk, waduh tiwas tak enteni... Trus piye?

Jeepney melanjutkan perjalanan semakin memasuki daerah perkotaan. Penumpang naik turun silih berganti. Saya jadi deg-degan takut terlewat. Saya mengintip keluar ke samping kanan dan kiri mencari stasiun yang ada malah semakin bingung. Lalu saya beranikan diri bertanya ke mas penumpang di sebelah.
"Bro EDSA MRT udah lewat belum?"
"Not yet, if arrive there I tell you mam"
"Thank you" mam mem mam mem emang gue emak lo...

Ternyata mas-mas itu turun di EDSA MRT juga sehingga saya diantar sampai di depan pintu masuk. Daerah ini bernama metro point mall yang mana di dalamnya ada 2 stasiun yaitu EDSA untuk LRT dan Taft Avenue untuk MRT. Karena saya akan ke daerah Makati sehingga mengambil jalur MRT. Stasiunnya bener-bener mirip dengan Stasiun Pasar Senen hanya saja antrinya lebih rapi ga pakai dorong-dorongan. Di pintu masuk dijagain banyak security, beberapa ada yang membawa laras panjang. Serem banget sih. Eh security apa polisi ya? Mbuh lah yang pasti pakai seragam lengkap. Sebelum masuk tasnya harus diperiksa dulu diobok-obok pakai kayu satu per satu jadi menimbulkan antrian yang panjang. Nah tas ransel saya juga harus dibuka tuh, tapi securitynya baik-baik dibantuin semuanya biar ga ngelamain antrian. 

Sebelum membeli tiket saya tanya dulu ke salah satu petugas di loket sambil memperlihatkan peta tempat saya akan menginap. Petanya ga detail banget hanya berupa garis-garis doank, kanan kirinya apa juga kurang jelas. Tapi diperkirakan berada di antara Stasiun Buendia dan Guadalupe. Feeling ibu itu sih lebih dekat dengan Stasiun Guadalupe sehingga saya disarankan turun disana. Dan lagi-lagi mereka semua memanggil saya mam. "Take care mam". Hiks Qamfret..!!!

Setelah mendapatkan tiket saya ikut antri masuk ke kereta. Disini penumpang yang akan masuk ke kereta di tahan dulu di tangga pakai tali pembatas, menunggu penumpang yang turun dari kereta sampai habis. Jika kereta bener-bener kosong baru deh tali di lepas. Setiap gerbong di jaga 1-3 security yang akan berdiri di dekat pintu. Jadi penumpang merasa aman. Kalau ini sih beda dengan di Stasiun Pasar Senen. Di dalam kereta juga ada pengumuman setiap akan berhenti di stasiun berikutnya walaupun dengan bahasa tagalog.

Sampai di Stasiun Guadalupe saya turun dan tanya ke beberapa orang sambil menunjukkan peta dimana kira-kira letak penginapan saya tapi semua menjawab tidak tau. Saya terpikir pindah haluan mencari penginapan lain. Saya coba masuk ke hotel yang dekat dengan Stasiun Guadalupe, tulisan di depannya sih murah 250 peso tapi ternyata harga segitu hanya untuk 2 jam saja. Tarif per malamnya 1600 peso. Jiaah... Ga jadi. Di Our Awesome Hostel Manila 1500 peso untuk 3 malam. Hostel itu (hostel ya bukan hotel) terletak di ABBA Building jalan Kelayaan Avenue, ke Bonifacio Global City hanya 8 menit jalan kaki. Itu saja petunjuk yang di jelaskan di websitenya. Selebihnya terserah anda... Recommended lah tempatnya nyaman, bersih, lumayan strategis dan murah.

Saya melangkahkan kaki mencari Jalan Kelayaan Avenue mengikuti perasaan kira-kira. Melihat peta buta itu sih sepertinya ga terlalu jauh. Belok ke jalan kecil lewat pasar yang jualan sayur dan buah. Persis kya pasar di Indonesia. Lalu lewat ruko, rumah-rumah penduduk dan akhirnya ketemu jalan besar lagi. Disana saya coba tanya ke orang yang lewat.

"Pak Jalan Kelayaan Avenue dimana ya?"
"Disini.."
"Ouw, benarkah... (mak plong). Kalau ABBA Building dimana pak?"
"Disebelah sana, tapi jauh"

Seperti saya lagi di Kebon Jeruk trus nanya Taman Anggrek, nah kalau jalan kaki kan gempor. Saya dipanggilkan abang three cycle (becak motor) oleh bapak yang baik hati itu agar diantarkan ke ABBA Building dengan ongkos 15 peso sekitar Rp 4500. Setelah berterima kasih, saya naik ke angkutan mungil dan lucu yang sebenarnya hanya motor di tambahin tempat duduk disampingnya. Ga ada 10 menit becak motor berhenti di depan sebuah gedung.

"This is ABBA Building mam". 

Ternyata tulisannya kecil doank di terasnya. Kalau ga jeli mah bakal kelewat apalagi yang masih baru kya saya sampai jungkir sepertinya ga bakal ketemu. Begitu masuk ke lobby ga akan ketemu dengan resepsionis tapi hanya ada security. Selain hostel disana ada beberapa kantor yang salah satunya adalah refil air minum. Sempat bingung ini hostel apa pabrik air minum ya? Ternyata resepsionis hostelnya berada di penthouse di lantai 10 dan kamar-kamarnya kalau ga salah dari lantai 7 sampai 9 hehe kebalik ya jadi kalau mau cek in harus ke lantai paling atas...

Stafnya ramah-ramah banget parasnya seperti orang Indonesia semua. Awalnya saya ditanya pakai bahasa tagalog, pas kelihatan cuma bengong aja baru deh ditanya "Where are you from?" Hahaha dari tadi atuh mbak...

Setelah mengisi data dan membereskan administrasi saya diantar ke kamar oleh salah satu stafnya sambil ngoceh sepanjang jalan, "Okey follow me mam... Why do you come here mam? Are you alone mam? Okey mam this is your room and you can choose one bed whatever you like mam... 

Haiiissshhh... si cempreng ini, emang saya ibumu?? Masih ada 3 tempat tidur yang kosong dan saya memilih di pojok. Di sebelah ada mbak-mbak dari Vietnam, China dan Filipina (Mindanao).

Setelah terkonek dengan wifi saya browsing-browsing kenapa sih di Filipina panggilannya pakai mam? Rasanya ga rela masak saya diemak-emakkan. Rupanya maksudnya tuh "Ma'am" yaitu singkatan dari "Madam" jadi bukan "Mommy" yang selama ini saya kira. Maaf deh kalo gitu hahaha.... Tapi gara-gara itu saya jadi akrab dengan temen-temen sekamar dan berujung saling berbagi makanan.

Bagaimana cerita selanjutnya, ngapain aja saya selama di Manila nanti ya kalau ga males diterusin lagi...

Saya dan Mae asli Filipina, paling enak pagi dan sore nongkrong di roof top ketemu dengan penghuni hostel yang lain


Persis kya orang Indonesia kan? Saya juga sering dikira asli Filipina sering diajak ngomong pakai bahasa tagalog.

Dari atas penginapan, tampak kemacetan di beberapa ruas jalan di Manila

Jun 23, 2015

Atlas Dunia

June 23, 2015 2 Comments
Sejak kecil saya suka sekali dengan atlas dunia, peta dunia, bola dunia dan apapun yang berhubungan dengan peta. Melihat benua, pulau dan batas-batas negara rasanya sangat menyenangkan dan membuat penasaran. Rasanya pengen keliling dunia pengen bisa melihat ada apa disana. Tapi ya selalu sadar diri ga mungkin, emang gimana caranya? Duit dari mana? Ke luar negeri pasti biayanya mahal. Sepertinya mustahil bagi saya yang hanya orang kampuang ga bisa bahasa Inggris bisa pergi ke luar negeri sehingga biarpun pengen saya ga pernah bermimpi.

Ternyata setelah dewasa dunia berkata lain. Allah mendatangkan rejeki dan membukakan pintu untuk saya menginjakkan kaki ke luar Indonesia. Alhamdulillah pertama kali saya diijinkan ke Madinah dan Mekah untuk ibadah umroh. Pertama kali mendarat di bandara King Abdul Aziz Jeddah rasanya seperti mimpi sekaligus kaget ternyata bandara luar negeri ga seperti yang saya bayangkan. Gedungnya tinggi kinclong mewah, ramai dan sibuk. Ternyata memang ramai dan sibuk tapi ga kinclong dan mewah. Yang bikin heran lagi toiletnya lha kok antriannya puanjaaang trus klosetnya hanya lantai semen dicelong gitu doank jauh dari kesan mewah. Showernya hanya pakai selang diklewerin gitu aja di pinggir kloset. Baru juga nongkrong udah digedor-gedor dari luar oleh orang yang berbadan gede-gede. Pada kebelet  semua maklum abis perjalanan panjang dari negaranya masing-masing pasti banyak yang nahan pipis di pesawat. Tapi dua tahun kemudian setelah saya kembali kesana bandara King Abdul Aziz telah banyak mengalami perubahan dan jauh lebih baik. Itulah kesan pertama kali menginjakkan kaki di luar negeri.

Dihari-hari berikutnya Allah masih memberi saya rejeki untuk melihat negara tetangga walaupun pergi secara gembel. Alhamdulillah sampai sekarang telah diberi beberapa kali kesempatan dan keberanian untuk jalan-jalan sendirian ke negeri orang. Biarpun akhirnya saya jadi kecanduan tapi saya tidak memaksakan diri untuk pergi ke tempat-tempat yang tergambar di atlas dunia sebanyak mungkin. Semua disesuaikan pada kemampuan yang saya miliki.

Sekarang gambar ini wajib dipasang di kamar bukan karena pengen banget keliling dunia tapi karena memang saya suka. Kalau ternyata diberi kesempatan ya syukur alhamdulillah.

Jun 22, 2015

Telur Ceplok

June 22, 2015 0 Comments
Makanan yang ga pernah membosankan buat saya adalah olahan telur. Entah diceplok, didadar, direbus atau dibakar, rasanya tetap high class. Kecuali kalo yang kebanyakan garem ya terpaksa jadi milik kucing. Namun untuk telur ceplok saya punya syarat khusus agar menjadi lebih istimewa walaupun rasanya sama aja. Syarat ini telah saya buat sejak kecil yang saya sendiri bahkan tidak bisa mengingatnya. Hanya menurut cerita dari salah satu kakak saya. Jadi telur ceplok yang baik dan benar adalah yang kuningnya tetap utuh trus letaknya harus pas di tengah. Kalau sampe miring apalagi pecah itu jelek. Saya pasti nangis guling-guling dan minta diulang lagi. Entah apa maksudnya.

Kebiasaan ini kebawa sampe gede. Tentunya ga sampe ngegoreng ulang kalo gagal. Ngladenin! Tapi tetap berusaha dibuat seperti itu sambil dimainin nunggu mateng. Perasaan saat makan kalo bisa memisahkan kuningnya tuh kya ada surprise, kya nemu sesuatu yang baru gitu. Padahal rasanya beneran ga ngaruh.

Bikin telur dadarpun diusahakan kuning telurnya jangan sampe pecah. Caranya diaduk pelan-pelan bagian putihnya dicampur dengan bumbu yang ada. Kuningnya tidak boleh kesentuh. Kemungkinan berhasil sih kecil. Secara selaput tipisnya bukan dari karet. Ga ada kerjaan banget kan tapi itulah kenyataan hehehe...

Jun 21, 2015

Inikah Cinta?

June 21, 2015 0 Comments
Tadi pagi saat pulang kerja saya melihat peristiwa yang sangat mengharukan, lebih tepatnya sih lucu. Suasana kost'an sepi. Titis belum pulang dari masuk malem, Hani dan penghuni forbidden room lagi mudik, Cita dan Yuyun lagi tidur di kamarnya masing-masing. Kamar Cita gelap, pintu tertutup, kaca jendela terbuka dan gordennya yang terbuka setengah berkibar tertiup kipas angin. Kamar Yuyun terang dan pintunya terbuka. Yuyun tidur tergeletak di lantai di atas sajadah masih memakai mukena dan memegang Al Qur'an. Di depan pintunya ada mpus yang setia banget menjaganya sambil sesekali meliriknya dengan tatapan yang penuh cinta. Saat saya mendekat si mpus mengeong pelan sambil melotot, lalu menoleh melihat Yuyun lalu melihat ke saya lagi seolah berkata "Jangan ganggu dia lagi bobooo..."

Setia banget

Yuyun dan kucing-kucing di kost Bu Haji Pur ini memang mempunyai hubungan yang sangat intim. Dia sangat setia menyisihkan sedikit makanannya buat si mpus yang selalu datang tak diundang. Rajin memilah tulang ikan demi berbagi dengan makhluk yang sangat lucu itu. Tak jarang makanan yang diletakkan di meja pun diduluin oleh si mpus saat ditinggal mandi. "Iihh si kucing nyebelin" Hanya itulah kalimat yang biasa terlontar saat dia merasa kesal. Akibatnya si mpus mempunyai ikatan batin yang begitu dalam dengannya. Seolah ingin membalas budi mereka selalu setia menjaga kamar Yuyun.

Note : cerita ini hanya candaan belaka sebagai warna kehidupan di kost Bu Haji Pur. Jangan marah ya Uyuuun...
*penghuni forbidden room : teman kost yang kamarnya selalu dikunci biarpun hanya ke kamar mandi dan cuci piring di depan kamarnya hihihi...
 

Jun 18, 2015

Deli

June 18, 2015 0 Comments
Saya punya teman namanya Deli (bukan nama sebenarnya). Orangnya baik, polos, apa adanya dan kadang pemalu. Dulu kalau makan suka malu-malu ga dihabiskan, bekalnya dari rumah sering dibawa pulang lagi tapi sekarang kalau makan harus dua porsi. Rajin membelikan obat kaligata/biduran buat saya tapi akhirnya diminum sendiri karena jadi kena kaligata juga. Satu almamater dengan saya, adik kelas satu tahun dibawah saya. Waktu kuliah saya ga kenal dia tapi dia kenal saya, terbukti kan kalau saya tuh orangnya terkenal, terkenal tukang tidur maksudnya...

Dia suka sekali cerita horor, suka menakut-nakuti teman-teman yang lain. Padahal sendirinya penakut abis. Sehingga jika ngisengin orang gampang untuk diisengin balik.

Suatu hari saya masuk sore pulang jam 10 malam dan oper shift ke dia. Kami berniat iseng buat menakutinya. Sebelum dia datang semua lampu di ruangan dimatikan dan kami ngumpet di bawah meja. Begitu masuk, dia ketakutan sekali terdengar dari langkahnya yang semakin cepat menuju ke saklar lampu. Agar suasana terasa horor kami melemparkan beberapa spidol, PRAAKKK..!!! Dia seperti ingin teriak tapi karena tidak ada orang satupun maka ditahan. Setelah lampu menyala semua, kami keluar dari persembunyian dengan tiba-tiba, tentu saja membuatnya terperanjat.

"Ih ngerjain aja..." hahahaha... 

Di malam-malam berikutnya saat oper shift lagi, seperti biasa lampu dimatikan tapi kali ini disisakan lampu tengah. Saat dia datang, sebelum meletakkan tasnya kami ajak ngobrol di tengah ruangan. Membahas tentang sesuatu yang horor. Langsung deh tuh mengalir cerita horor di kost-kost'annya waktu kuliah. Semangat dan heboh sekali ceritanya. Jadi katanya ada seorang temennya yang pingsan karena melihat shinchan di jendela kostnya.

"Shinchan maksudnya apa Deli?" tanya saya pura-pura tidak paham.
"Nanti kalo disebutin kakak bisa takut" jawab Deli setelah sekian detik memikirkan sesuatu.
"Ga kok, aku ga takut, bilang aja..."
***Berpikir serius...
"Kalau kakak meninggal kakak akan jadi apa, ya itulah temen aku melihat itu..."
"Meninggal? Jadi apa? Pocong maksudnya?"
"Iya kak" jawab Deli dengan ekspresi ketakutan.
"Trus gimana lagi?"
"Jadi temenku ngelihat pocong di belakang kostnya dari jendela, abis itu dia pingsan"
"Ooh..emang serem banget ya"
"Ya serem donk kak namanya juga kya gitu" kata Deli masih belum tega menyebut kata pocong.
"Kok jadi merinding ya dengernya, takut ah..kita pulang yuk..." ajak saya pada teman-teman.
"Hayuk pulang takut ah disini... hiiyyy... merinding..." jawab semua teman-teman sambil berlalu meninggalkan Deli.
"Ih jangan tinggalin aku.. Jangan pulang dulu tungguin kak Dian dataang..." Deli kebingungan karena kak Dian teman seshiftnya belum menampakkan diri.
"Dadaaahh..kita pulang yaa.. Hati-hati Deli ada shinchan..."
"Kalian ini ngejebak aku yaa..."
"Hahahahaa...."

Akhirnya dia ikut keluar duduk di depan ruangan menunggu sampai kak Dian datang. Di hari-hari berikutnya dia tidak mau lagi cerita horor biar dipancing-pancing kya apa tetap tidak tidak dan tidak. Hahahaha....

Jun 17, 2015

Indonesia... Murah...

June 17, 2015 0 Comments
Menurut cerita teman dan beberapa kali pernah merasakan sendiri, dimana-mana orang Indonesia paling disambut tapi oleh pedagang karena paling konsumtif diantara yang lain. Kalau belanja ga tanggung-tanggung. Jarang hanya jalan-jalan belaka, pastinya sekalian karena aji mumpung, mumpung murah, mumpung diskon, mumpung ada, mumpung kesini, buat si ini si itu dan seabreg lagi. Lihat saja yang baru pada pulang dari luar negeri pasti kopernya pada berjibun.

Pernah asakan sendiri waktu di Arab tapi taunya ya cuma Mekah, Madinah dan Jeddah karena paket umroh. Disana banyak pedagang yang bisa bahasa Indonesia bahkan bayarnya pun boleh pakai rupiah. Saya masuk toko sambil ngobrol sama temen mungkin denger obrolan kami jadi mereka tau dari Indonesia, tadinya pedagang itu lagi melayani orang Malaysia seketika langsung pindah haluan ke kami "Ayo Indonesia sini murah murah..." "Sepuluh real, lima real" "Bisa diskon" "Halal kakak halal". Jadi serasa di Tanah Abang.

Pernah juga nganterin ibu-ibu serombongan belanja, aje gileee... Segala diborong bo. Ga ada ceritanya beli makanan cuma sekilo, minimal 5 kilo dan bermacam-macam pula. Kalau beli baju, sajadah, pashmina gitu minimal selusin. Sampai bengong duitnya kok ga habis habis. Jadi kya lebih banyak mikirin belanjaan dari pada ke masjid. Mau ke masjid mampir toko dulu, pulangnya apalagi. Koper berangkatnya cuma satu, pulang istrinya tiga suaminya tiga yang paling kecil ukuran 29. Ruaaarr biasaaaa... Tau banget karena saya sekamar ama istrinya. Itu baru sepasang ya masih berjibun lagi ibu-ibu yang lainnya.

Itulah yang bikin pedagang disana cinta banget ama orang Indonesia. Karyawan toko kebanyakan diambil dari Indonesia. Konon pasar seng di Mekah yang kasih nama juga orang Indonesia. Sampai kresek bungkus belanjaan tulisannya bukan Arab lagi tapi bahasa Indonesia biarpun EYDnya ga pas.

Pernah juga waktu di Seoul di Namdaemun Market. Banyak banget pedang yang antusias menyambut kami kadang ada yang bisa bahasa Indonesia juga. Begitu kami masuk ke toko langsung disuruh duduk, dikasih minum dan dipaksa suruh nyicipin banyak banget ga ada pelit-pelitnya. Akhirnya karena ga enak jadi beli semua termasuk saya yang niatnya cuma nganterin dan karena belinya banyak jadi dikasih bonus banyak banget. Setelah dibanding-bandingin ternyata disitu harganya mahal. Pantes aja bonusnya banyak hahaha... Mereka udah hafal kali, orang Indonesia kalau dibaikin sedikit jadi ga enakan.

Di bandara Don Mueang Bangkok saya pernah bareng rombongan ibu-ibu yang kopernya gede-gede. Mereka check in duluan dan lamaaaaa... banget ga selesai-selesai. Ternyata kopernya pada over weight dan disuruh bayar ada yang seorang sampai 2jt. Nah lo... Padahal isinya cuma barang-barang krentilan yang harganya ga seberapa. Untung petugas check in nya baik, jadi dititipin ke orang-orang yang bagasinya masih tersisa, termasuk ke saya. Saya hanya bawa ransel dan males naro ke bagasi, untungnya cuma 7kg lebih sedikit masih diperbolehkan dibawa ke kabin. Jadi free bagasi saya 15kg ga kepake sama sekali. Eh masih 4 koper lagi ternyata. Singkat cerita yang 2 koper masih bisa nitip ke orang dan yang 2 lagi harus dibongkar dibagi-bagi ditenteng ke kabin. Dan bener isinya krentilan kya gantungan kunci dan gunting kuku. Kok jadi ngomongin belanjaan orang suka-suka sih mau beli apa tapi harusnya kan bisa memperkirakan bagasinya jadi ga merepotkan orang lain.

Itu baru yang saya lihat sendiri yang notabene saya jalan-jalannya masih tahap ecek-ecek, kalau cerita dari orang yang suka keliling Eropa atau USA, katanya orang Indonesia kalau belanja bisa sampai ratusan ribu uang sono kalau dirupiahkan jadi angka M. Jadi sangat beralasan kalau orang Indonesia memang paling disambut pedagang dimana-mana.

Jun 16, 2015

Are You a Malaysian?

June 16, 2015 0 Comments
Kalau kemana-mana saya sering disangka orang Malaysia. Eh ntar dulu "kemana-mana" kesannya kok kya sering keliling dunia aja padahal negara-negara asean aja baru beberapa, tapi bolehlah narsis dikit siapa tau jadi beneran kemana-mana. Katanya semua berawal dari mimpi. Aamiin.

Seperti waktu umroh sering banget ditanya oleh jamaah di sebelah...
"Malaysia?" 
"No, Indonesia"

Pasti banyak banget yang senasib kya gini, susah emang bedain Malaysian apa Indonesian. Kecuali kalau denger lagi ngomong baru ketauan. Indonesian pun yang dari Sumatra melayu-melayuan gitu logatnya hampir sama. Ya kata mak cik kan kita masih serumpun.

Pernah juga waktu di Seoul, saya jalan sore-sore lihat sunset ke Naksan Park. Disana ada beberapa oppa dan eonni lagi jogging serta kakek dan nenek lagi momong cucu. Saat melintas di depan kakek yang lagi istirahat, beliau nanya...

"Are you moslem?"
"Yes"
"Malaysia?"
"No, Indonesia. Do you know Indonesia?"
***Ngangguk doank tapi kya sambil mikir.

Masih di Seoul, saya jalan-jalan sendiri di pasar deket Ewha Women University. Ceritanya hari terakhir disana pengen ngabisin duit recehan won yang tinggal sedikit, karena kalau dibawa pulang ke Indonesia harganya bakal jatuh bisa jadi malah ga laku. Saya masuk ke toko baju disambut oleh oppa pelayannya.

"Hello... Are you a Malaysian?" 
"No, I am from Indonesia" 
"Ouw Indonesia, BADMINTON..!!!" kata si oppa sambil ngepalin tangan,  seketika inget oppa Lee Young Dae yang ganteng itu. Bangga juga Indonesia dikenal badmintonnya.

Masih di pasar deket Ewha Women University, saya masuk ke toko sepatu.
"Malaysia?" 
"No, Indonesia" 
"Oh I like Indonesia, Bali"
Selama di toko itu mbaknya ngikutin saya ngajakin ngobrol, bukan pelayannya sih tapi sesama pengunjung. Note, akhirnya saya ga beli apa-apa ternyata duitnya ga cukup.

Masih di Seoul juga tapi lupa dimana aja, saking seringnya sampai bosen.
"Where are you from?"
"Indonesia"
"Oh, I think from Malaysia"
***Segitu terkenalnya orang Malaysia di Korea.

Sering lagi di Thailand. Dari selatan sampai utara yang pernah saya datangi, paling sering dikira dari Malaysia, kadang dikira asli Thailand. Ga pakai nanya dulu, langsung aja manggil "Hello Malaysia salamat siang".
***Sotoy banget...

Kalau di Malaysia sendiri pastinya sering di sangka orang lokal. Saya pernah ikut dengerin ceramah di Masjid Al Hana Langkawi sehabis maghrib sekalian nunggu isya. Diem mentereng dengerin pak ustadz ngomong pake bahasa melayu kental, ujung-ujungnya ga ngerti juga. Ngerti sedikit selebihnya kira-kira. Eh taunya ibu-ibu di sebelah minta dijelasin, mungkin maksudnya gini "Tadi kata pak ustadz yang ini ini ini... maksudnya apa?" pake bahasa melayu kental, tentu saja hanya jawab geleng-geleng dan membuat ibu mengerutkan dahi. Aneh mungkin kya yang serius dengerin tapi ditanya ga ngerti hahaha...

Tapi biar begitu saya ga pernah beruntung kalau lagi beli tiket ke tempat wisata di Malaysia, ga pernah dapet harga orang lokal biarpun udah gegayaan sok pake logat melayu ngikutin Upin Ipin. Ga akan bisa mengelak lagi kalo udah ditanya, Where are you from? You local or foreign? Bisa kasih lihat IC? Awalnya ga tau apa itu IC, kirain kode apa ternyata Identity Card kalau di Indonesia KTP.