May 28, 2016

Twelve Inside

May 28, 2016 0 Comments
Hari ini sebulan yang lalu saya berada di KLIA menunggu pesawat yang akan membawa saya ke negeri asal usul bunga tulip yaitu Turki. Alhamdulillah rejeki mengantarkan saya untuk melihat orang-orang cakep. Itulah yang selama ini terlintas jika mendengar kata Turki, sehingga kesabaran saya untuk segera sampai di tempat tujuan bener-bener diuji hehehe... Bukan deh saya tertarik dengan situs sejarah disana. Pengen tau negara dengan budaya perpaduan antara Eropa dan Asia. Ya gayanya sih biar nambah pengetahuan.

Saya bersama Amel partner travelmate yang akan pergi seperti anak kembar. Sebenarnya masih ada teman segrup di fesbuk yang pergi dengan waktu yang hampir bersamaan. Semua belum pernah ketemu tapi bikin grup kecil untuk sharing itinerary. Ada Tiara, Indah, Anisah, Yesti dan Zora. Kecuali saya dan Amel sebelumnya pernah bareng ke Korea dan memang kali ini berencana pergi sepaket alias barengan, alias itinerarynya samaan, alias patungan apa-apa biar lebih murah. Maklum karena saya orangnya murahan, dari mulai pesawat, hotel, bebelian apa aja semua cari yang murah. Selain saya dan Amel ada Tiara yang bareng sepesawat. Jadilah berangkat bertiga.

Setelah melayang di udara selama belasan jam, pesawat yang berbahasa arab itu mendarat dengan cantik di Istanbul Ataturk Airport. Sesuai dengan rencana setelah beres imigrasi dan claim bagasi kami akan menarik uang Turkish Lira di ATM, menyewa modem wifi lalu membeli Istanbul card untuk naik berbagai angkutan umum selama di Istanbul. Datanglah kami ke sebuah loket yang antriannya lebih dari 10 orang.

Satu per satu antrian mulai terurai dan tiba giliran kami untuk memesan kartu ajaib itu. Saya dan Amel hanya membeli 1 karena bisa digunakan lebih dari 1 orang. Sedangkan Tiara membeli sendiri karena tidak akan bareng seterusnya.

"Istanbul card 1" pesan Amel kepada ibu penjaga loket dengan menunjukkan jari telunjuknya.
"Twais sisaid" jawab ibu separuh baya yang cantik sambil mengutak atik komputernya.
"How much?"
"Twais sisaid" ibu mengangguk ramah dan tersenyum manis. Kesan pertama orang Turki selain cakep juga baik dan ramah.

"Ngomong apa sih dia?" tanya Amel menoleh ke saya dan Tiara.
"Gw dengernya twais sisaid"
"Twais sisha" lanjut Tiara.
"Itu ngomong Inggris apa Turki?"
"Kyanya sih Inggris?"
"Twice, dua kali gitu?"
"Ga tau hahahhaa...."

Kami saling melempar pandangan bengong dan berlanjut ngakak yang tak bisa ditahan. Maafkan ya bu. Tante yang antri di belakang kami pun ikutan tertawa. Tanya ke beliau juga geleng-geleng, tampaknya bukan Turkish.

"Sorry write here please" pinta Amel ke sebuah kertas lalu ibu menuliskan pelan-pelan, "12 inside" sambil mengulangi perkataannya "Twaaiiis ssiisaaid"

"Ooo... TWELVE INSIDE...." celetuk kami hampir bersamaan dibarengi dengan perasaan lega. Jadi harganya 12TL dan langsung masuk, nah begitulah kira-kira. Tapi sebenarnya menurut website harga kartunya 6TL dan depositnya ya terserah mau diisi berapa. Setidaknya saat itu kami punya 6TL buat naik metro ke hotel.

Beres urusan twais sisaid kami menuju ke metro subway dan mulai beraksi mencari posisi hotel yang telah kami booking. Untunglah hanya berjarak 4 stasiun dari airport dan tidak perlu pindah-pindah kereta. Sepanjang jalan mata saya bener-bener dimanjakan dengan parasnya orang-orang Turki. Rasanya antara orang dan boneka susah dibedakan. Udah tinggi, mulus, bening, brewokan tipis beegghh..... Kalo di film kartun tuh pasti mata saya bunyi plug plug trus keluar love love love warna pink yang buanyaaakk dan bertebaran dimana-mana. Selamat datang di Turki...

Apr 24, 2016

Asal Usul Bunga Tulip

April 24, 2016 1 Comments
Kebanyakan orang mengira bahwa bunga tulip berasal dari Belanda. Bunga tulip sebenarnya bukan bunga asli Belanda. Pada awalnya adalah bunga liar yang tumbuh di kawasan Asia Tengah yaitu di Penunungan Pamir, Stepa di Kazakhtan dan Pegunungan Hindu Kush. Orang-orang Turki yang pertama kali membudidayakan bunga ini pada awal tahun 1000-an dan pada masa pemerintahan kekhalifahan Ustmaniyah, terutama pada masa kekuasaan Sultan Ahmed III (1703-1730) bunga tulip berperan penting, sehingga disebut juga sebagai “Era Bunga Tulip.” 

Bunga tulip baru dikenal di Belanda pada abad ke-16 dan menjadi sangat populer di kalangan masyarakat kelas atas di negeri itu. Kata “Tulip” sendiri berasal dari bahasa Turki yang artinya “Sorban”, semacam kain yang dililit untuk menutupi kepala. Tidak diketahui kapan persisnya Belanda mulai membudidayakannya, tapi disebut-sebut mulai dibawa ke Belanda pada sekitar tahun 1550-an oleh kapal-kapal yang berasal dari Istanbul.

Bunga Tulip di Hitachi Sea Side Park Japan

Pada tahun 1592, seorang duta besar Austria yaitu Ogier Ghiselain de Busbecq membawa koleksi biji bunga tulip dari Wina. Biji-biji tersebut kemudian diberikan kepada temannya yang seorang ahli perkebunan Belanda yakni Carolus Clusius. Biji-biji tersebut kemudian ditanam dikebun praktik Universitas Leiden, Belanda pada tahun 1593. Karena hal itu, Carolus Clusius dikemudian hari menjadi tokoh besar dalam sejarah bunga tulip di Eropa. 

Carolus sangat tertarik dengan keindahan bunga tulip yang ditanamnya. Berbekal pengetahuan yang dimilikinya, Carolus kemudian melakukan penelitian untuk memperoleh variasi warna baru. Penelitiannya pun berhasil, tampilan bunga tulip menjadi semakin indah. Melihat keindahan warna tersebut, banyak orang-orang di sekitar Carolus yang ingin membeli bunga hasil penelitiannya itu untuk dibudidayakan kembali. Sejak saat itulah bunga tulip menjadi populer di negeri Belanda. Sudut-sudut kota dipenuhi dengan pemandangan bunga tulip yang indah dan menawan.


Modelnya juga ga kalah menawan

Bunga tulip saat ini telah berkembang menjadi lebih dari 3.000 varietas dengan variasi warna dan bentuk yang berbeda-beda. Belanda menjadi satu-satunya negara produsen bunga tulip dan diimpor ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Sehingga top of mind bunga tulip yang berasal dari Belanda itu memang tidak bisa disalahkan karena Belandalah yang mempromosikan tulip secara komersial.

**Diambil dari berbagai sumber kecuali fotonya, diantaranya :
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Tulip
http://www.allaboutturkey.com/tulip.htm
http://www.holland.com/global/tourism/article/history-of-tulips-in-holland.htm
http://m.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/tahukah-anda-bunga-tulip-warisan-kekhilafahan-islam-turki-ustmani.htm

Feb 29, 2016

Tokyo Disini

February 29, 2016 2 Comments
Hari ketiga di Tokyo saya dan Adek main ke Theme Park, orang Jepang bilangnya "Disini" sedangkan bahasa Inggrisnya "Disneyland". Rencananya dari pagi sampai malem secara tiketnya kan mahal sayang kalau tidak dimaksimalkan. Eh ternyata susah bangun pagi. Selesai subuh tidur lagi kebablasan, suasana winter memang enak banget buat meringkuk di dalam selimut. Jam 11 siang saat matahari mulai anget, anget aja tidak ada ceritanya bikin gerah, kami baru bergerak dari penginapan. Satu jam perjalanan setelah 2 kali pindah kereta barulah sampai di Tokyo Disini.

Selamat datang di Tokyo Disini Adek dan Kakak. Selamat kembali ke masa kecil.

Tokyo Disini letaknya di daerah pantai jadi anginnya lumayan kenceng kalau kena pipi serasa dielus-elus pake es. Mak wuusshhh bbrrrrrr.... Biar langit biru cerah matahari bersinar terang tapi tetep menggigil. Kirain winter pengunjungnya bakal sedikit, taunya rameee banget. Banyak rombongan anak-anak SD, SMP, SMA dan tentu saja balita. Balita yang pipinya pinky pinky kya mochi baru belajar duduk. Banyak juga abege-abege tua, trus pakai pernak pernik tokoh disney tanpa malu-malu lagi. Asyiknya mau bertingkah seperti apa juga cuek. Hari yang halal buat kekanak-kanakan.


Contoh abege tanggung - ga rela dibilang tua

Begitu melewati pintu masuk rasanya pengen joget jingkrak-jingkrak mengikuti musik ala negeri dongeng yang terdengar dari segala penjuru. "Oooo ooo ooo came on let's go, happines is here..." Semua gemesin terlebih saat itu temanya Frozen Fantasy so pasti dimana-mana banyak Anna dan Elsa. Pilem kartun kesayangan hihihii...

"Fotoin donk ama Elsa... Fotoin ama mickey... Adeeekk ini lucu yaa..." 
"Hooo... Petakilan. Ini mah gue ngasuh elu...!!!" adek ngomel-ngomel sepanjang jalan.


Adek Anna Yulyana dan Kakak Elsa Sukmawati

Ada satu lagu yang mengingatkan saya ke masa kecil yaitu It's Small World. Dulu jam dinding di rumah akan bernyanyi setiap jam. Saya paling suka dengan nada lagu saat tepat pukul 7. Musik It's small world after all, it is small small world... akan berdering sekitar 1 menit.

Dapet gelar "Petakilan!!"

Antrian di semua rides rata-rata 90 - 120 menit. Saya tidak punya stok kesabaran untuk berdiri diantaranya, terlebih disaat udara dingin menusuk tulang. Mending keliling aja sambil makan-makan. Untung saya orangnya gampangan cuma diajak muter-muter juga nurut. Apalagi kalau dibeliin popcorn jadi diem anteng duduk manis sampai tiba saatnya afternoon parade.


Afternoon Parade, Ho oo oo oo ooo... come on lets go happines is hereee...
Dadaaah sayaaang... Bebeb bertugas dulu yaa...
Dadaaah cintaaaa... Ati ati yaaa... *Bahagianya didadahin ama bebeb.

Salut dengan teraturnya orang Jepang saat nonton parade, yang depan duduk rapi semua tidak menghalangi yang di belakang. Sepanjang acara tetap diam diposisinya tidak ada yang berulah aneh-aneh. Selesai acara, kertas alas duduk langsung diberesin lagi bersih seperti semula. Anak-anak kecil yang mau minta tanda tangan ke tokoh-tokoh kartun yang berkeliaran (opo sih namanya), juga antri dengan tenang, rapi dan santun sekali.


Antri minta tanda tangan mas kartun

Paling bikin ngiler berkepanjangan adalah pernak pernik merchandise "Disini-land". Pastinya lucu-lucu banget tapi sayang harganya juga tidak kalah lucu. Harus memperbanyak istighfar biar kantong tidak sampai kering kemarau. Saya masih nyesel tidak jadi beli ember lucu yang bentuknya macem-macem buat wadah popcorn. Tadinya mikir buat apa (lupa kalau punya ponakan cewek), taunya pas pulang kepikiran mulu karena di Indonesia tidak ada.


Embernya kya yang dipegang ama neng ini.
Ponakan Jepang nyangklongin ember

Diakhir cerita jadinya tidak mencoba rides apapun, hanya membeli makanan dan beberapa merchandise yang penting-penting. Kebetulan saya butuh sarung tangan winter. Itu juga gara-gara pengen punya bocah di sebelah pas nonton night parade hehehe... Maklum ya jaman kecil tidak pernah kenal begituan. Boro-boro lah semua mainannya juga dari gedebog pisang.

Setelah nonton Night Parade kakak dan adek pulang.. Dan masih mampir lagi ke toko souvenir besar setelah pintu keluar, nganterin Adek ngabisin yen.

Feb 10, 2016

Apology Gifts

February 10, 2016 0 Comments
Suatu hari kakak liburan bareng temen yang biasa dipanggil adek ke Tokyo. Kami menginap di salah satu guesthouse di daerah Minami Senju dengan kamar dormitory 6 bed atau bahasa kerennya disebut kamar asrama. Ini kali kedua kakak menginap di guesthouse itu karena nyaman sehingga males cari yang lain. Lagi pula takut nyasar kalo harus cari-cari yang baru secara kan lagi musim dingin, bisa-bisa beku kelamaan di luar. Lucunya di guesthouse itu begitu cek in dikasih seperangkat sprei dan harus dipasang sendiri. Badan capek abis perjalanan panjang masih diharuskan pasang sprei... Kan kucrut. Baru kali ini sih nemu yang begini seringnya pas datang udah rapi dan langsung bobok. Ya anggep aja pindahan kost lah.

Nah bagi adek yang biasa nginep di kamar VIP kya gini pasti aneh. Udah kamarnya rame-rame, tempat tidur bertingkat, kamar mandinya di luar harus pasang sprei sendiri pula. Lengkaplah penderitaan. Sebelumnya dari airport juga naik bus dan kereta yang mana harus naik turun tangga dan angkat koper sendiri. Biasanya kan adek tinggal duduk manis semua udah ada yang ngatur hihihi... Mangenak...!!

Begitu masuk ke lobby yang mungil kakak langsung menyapa mase resepsionis yang wajahnya udah ga asing lagi.

"Hai.. Saya kakak dari Indonesia, udah booking ya"
"Okey sipp saya tau.."

Waahh senangnya ga begitu lama proses cek in selesai trus dikasih 2 pasang sprei dan kunci kamar. Kamarnya nomer 301 di lantai 3 ga asing lagi itu kamar kakak yang dulu. Naiknya harus pake tangga manual, jadi kita angkat lagi adek kopernya...

Saat masuk ke kamar, kami kaget setengah loncat kok kamarnya berantakan banget ada 2 dedek abege Jepang brisik, mereka penghuni bed sebelah. Yang satu rambutnya biru dan satunya lagi dikriwil-kriwil, kya cosplayer di Harajuku atau kya gambar yang di komik-komik. Berantakannya bener-bener diluar kemanusiaan, barangnya buanyaaaakk digelar selantai sampai mo lewat aja susah. Pengalaman pertama adek nginep di kamar asrama langsung disuguhin pemandangan kya gini. Mana kakak udah koar-koar lagi "Biar rame tapi enak kok, asyik". Nah kalo berantakan dan brisiknya over dosis ya mana ada enaknya. Duh dedeeekk... mengacaukan kedamaian aja. Garuk garuk kepala yang ga gatel.

"Trus gimana?" kakak merasa bersalah.
"Ga papa kita nikmatin aja" ihh adek emang baik.

Lalu adek menata bednya memasang sprei dan sarung bantal. Kakak merenung mengingat-ingat beberapa bulan yang lalu di kamar ini temennya baik-baik semua, berantakannya masih wajar hanya di bednya masing-masing tanpa mengganggu wilayah tetangga.

Selesai menarik nafas kami keluar mencari makan ke market sebelah guesthouse. Membeli makanan siap santap, paket nasi yang udah ada lauknya. Kirain lauknya nugget taunya perkedel kentang. Rasanya aneh semua, yang penting dimakan karena inget belinya pake Yen.

Sambil lewat coba nanya ke mase "Ada kamar lain ga?" Kata mase ga ada, nampaknya mase langsung tanggap, sebelum kakak curhat mase langsung jelasin "Dua Japanese girl besok cek out". Ouw okeylah semoga malam ini cepat berlalu.

Jam 11 malem waktunya tidur si dedek masih brisik aja cekakakan berdua, lampu juga masih terang benderang. Kalo kya gini mana bisa bobok. Akhirnya pasang tanduk juga...

"Dedek tolong ngerjain PRnya diluar aja ya, ini udah malem kakak mau tidur jangan brisik" pake bahasa Inggris medok kejawen.

Dedek cuma senyum senyum trus jawab pake bahasa dia yang bunyinya "lkdbfbxhhb hdjdjddhhfhf klrutruhd mskfhhd" abis itu lanjut ngobrol lagi kakak dicuekin. Iiigghhhh.... Dongkoool !!!

Tegur lagi pake bahasa tarzan, nunjuk ke pintu dan berpose kya orang tidur, sstttt...!! Nempelin jari di bibir. Nah baru deh dedek ngerti. Lalu ngeberesin barang seperlunya buat dibawa keluar, sambil beberapa kali bilang cotomate cotomate sambil nunduk-nunduk.

"Ga suka cotomate sukanya cotomakasar, cepetan!! Mau kakak plester?"
"Iya iya keluar sekarang kakak..."

Tutup pintu matiin lampu dan bobok bleg!!! Akhirnya drama pada malam itu selesai.

Pagi harinya adek bikin sarapan di dapur mungil yang nyempil di tengah-tengah tangga penghubung lantai 1 dan 2. Pastinya lebih enak dari pada perkedel Jepang semalem. Pas balik lagi ke kamar, dedek abege udah berulah lagi makan-makan di kamar, cekakakan dan reruntuhannya belum juga diberesin malah semakin kacau. Haduuuhh pada kerasukan apa sih dedeeeeekkk....!!! Kakak ga bisa diginiin.

Dari pada nyeseg mending segera jalan-jalan, lagian udah siang juga temen-temen penghuni kamar sebelah juga udah beredar entah kemana. Kakak turun duluan menemui mase yang saat itu lagi bebersih.

"Mase itu temen sekamar dedek harajuku brisik dan berantakan banget, liat nih fotonya, sampe sekarang belum beres-beres juga"
"Ouuww... Tapi mereka sebentar lagi cek out"
"Nanti setelah cek out tolong bersihkan kamarnya"
"Okey okey.. Maaf ya.."

Inilah penampakan sarangnya dedek, spreinya juga ga dipasang, jorookk...

Siang itu kami mider-mider di kota Tokyo, pertama ke Tokyo Skytree. Kami sengaja jalan kaki pelan-pelan dari penginapan. Biar pucuknya kelihatan tapi memang lumayan jauh. Sepanjang jalan banyak hal menarik, pastinya kamera ga berhenti jeprat jepret selfie. Sebelum nyebrang jembatan diatas kali Sumida ada tempat turistik saat musim semi yaitu Sumida Park. Banyak sekali bunga sakura sayangnya baru nongol calon kuncupnya, ada sedikiiitt yang kecepetan mekar itupun sepohon paling beberapa biji aja. Dulu kakak pernah kesitu pas Sakura lagi mekar keren bangets, pinky pinky jatuh cinta gitu deh.

Sampai di Tokyo Skytree hanya foto di bawahnya aja, ga berminat untuk naik. Sudah terbayang lihat kota dari ketinggian kya di Monas. Di pelatarannya banyak lampu-lampu illumination mungkin bagus kalo malem. Tapi siang aja dinginnya bikin menciut apalagi malem, mending bobok aja.

Kami melanjutkan mider dengan membeli tiket subway one day pass di stasiun setelah Stasiun Tokyo Skytree lupa namanya. Di stasiun itu kami sempat bingung nyari jalur kereta apalagi petunjuknya pakai huruf keriting. Harus difoto-foto disamain dulu kya anak kecil mainan carilah perbedaan pada gambar berikut ini. Kami akan ke Stasiun Shibuya ingin melihat Crossing Shibuya yang katanya kalo pas lampu merah banyaaak banget orang nyebrang dari berbagai arah. Ternyata memang iya. Kami juga ikut-ikutan nyebrang. Kalo liat di TV kya yang luas banget pas liat aslinya ya begitu aja. Tak lupa juga foto bareng patung gukguk Hachiko si hewan setia yang letaknya ga jauh dari situ, sebagai pelengkap aja kalo ditanyain orang pas pulang nanti.

Entah karena dingin atau mungkin jenuh dengan keramaian kota jadi ga pengen muter di sekitar Shibuya, pengen lanjut jalan lagi ke tempat lain. Nah akhirnya kami ke Ginza niatnya mau ke Uniqlo. Ciee cieeee... Adek mo shopping ya? Uniqlo di Ginza ini katanya toko Uniqlo yang terbesar di dunia, terdiri dari 12 lantai yang pasti koleksi pakaiannya paling lengkap.

Sebelum keluar stasiun mampir ke pusat informasi untuk meminta peta. Tapi membacanya bingung, Uniqlo pun tidak ketemu dan kesasar ke restoran India berlabel halal. Kami mampir dulu kesana untuk menyambung nyawa sekaligus menumpang sholat. Menu yang tersedia adalah makanan yang kakak benci yaitu kari-karian dan berbagai macam nasi briyani. Terpaksalah memesan nasi briyani yang ternyata rasanya ga enak dan udah pasti harganya mahal.

Welcome to Uniqlo. Mungkin begitulah teriakan para petugas menyambut kami dan pengunjung lainnya. Tapi pake bahasa Jepang yang kedengarannya kya "Mashe mashe mashee... Mashe masheee..." wes mbuh lah semua teriak begitu. Kalab lihat baju dan jaket disana rasanya pengen dibeli semua. Ukuran apa saja available dari mulai XS sampe XXXL, model apapun pasti ada. Karena macthing semua jadi bingung mau beli yang mana. Apa aja dicobain kakak ukuran XS atau S dan adek XL tapi akhirnya mengingat kebutuhan, hanya membeli beberapa potong saja diantaranya jaket untuk menyelamatkan diri dari kedinginan di Jepang.

Keluar dari Uniqlo belum terlalu larut malam tapi berhubung dingin banget kami memutuskan pulang ke penginapan. Lagian udah nenteng-nenteng belanjaan pastinya repot kalo masih lanjut jalan-jalan. Tak lupa mampir ke market sebelah buat belanja sayur dan keperluan dapur.

Saat masuk ke penginapan cantik tiba-tiba kakak dipanggil oleh Mase.

"Hello kakak... Temen sekamar si dedek abege Jepang sudah cek out, mereka nitip minta maaf ke kakak atas ketidaknyamanan sekamar dengannya. Dia ga tau kakak ngomong apa karena ga bisa bahasa Inggris"
"Oh begitu..." lega sekali.
"Dan dedek menitipkan ini untuk kakak" lanjut mase sambil menyodorkan segepok cemilan.
"Waoow ini semua buat kakak??" kaget campur seneng dan merasa berdosa.
"Buat kakak dan ada juga yang buat saya" jelas mase.
"Mase makasih.. Sampaikan makasih juga pada dedek kalo nanti ketemu lagi"

Rasanya pengen kakak peluk tuh dedek-dedek, jadi kasian semaleman kakak cemberutin aja.

Gift titipan dari dedek.

Akhirnya kakak dan adek kembali ke kamar dan kenalan dengan temen baru dedek abege Jepang yang cantik dan santun sekali, jauh berbeda dengan dedek harajuku. Baiklah kakak istirahat dulu ya kapan-kapan dilanjut lagi ceritanya. Arigato...

Jan 27, 2016

Kesrimpet

January 27, 2016 0 Comments
A few weeks ago, finally I visited to Tokyo for second time. I went with my friend who called "Adek". We are going in winter and only lived in Tokyo for six days. Exactly I avoid traveling in winter season because I don't like the cold but Adek too interest with snow. She would spend time with snow around as long as open her eyes. Even though when we are arrived there, the weather just cold and dry but nothing snow.

Oneday we are going to Gala Yuzawa for sledding and playing the snow in Gala Yuzawa Snow Resort. We're bought unlimited pass for three days including the shinkansen from Tokyo to Gala Yuzawa. It's cheaper than one way or return ticket for shinkansen to there. I bought it at ticket service center in Tokyo Station.

I quite confused with that station. I often get lost. The station is so large, many train lines, the stairs is so high and many people walking too fast from anywhere. If cry can make it easier, I will do it. Adek just follow me wherever I go. Sometimes being right, sometimes being wrong. Feel sorry with this Adek, hope our legs stay strong.

When we are enjoyed walking in Tokyo Station while ask for the train lines of shinkansen, suddenly I felt like someone to cacth my legs very hard. I can't walk balance and I can't held somethings. If not someone hold me I will get fall. I shout it...

"Adeekk... Help me...!!!"
"What happen?" Adek try to take my hand but she can't held me. It happened so quickly.
"I'M FALL... Aauuw aauuw aauuuww...." BRAAAKKKK..!!! I'm falling on the floor. Adek shocked look at me and has helped for wake up.
"Why? That's hurt?"
"No.. Nothing at all"
"Are you okey?"
"I'm fine but I actually shy"
"Hahahahaa... Why?"
"That's something wrong with my shoes..."
"Hahahahaa..."

The left shoelace were bound to the right shoe and tied each other. So I found difficult to walk.

"Wearing your shoes and wake up" Adek has helped me for tying my shoelaces good for walking safety while she was talked to much about petakilan (java) her favorite word hehehe...

Picture taken by Adek while she was helped me

"Oh my God I shy..."

I slowly wake up while seeing around. It's lucky people's does not matter about that at all. Yess!!

The shyness was made me forgot with my pain. But after that the pain is felt during I on the train and when I was playing in the snow.

Sep 10, 2015

Perjalanan Ke Chiang Rai - Bertemu Tante Berwajah Horor

September 10, 2015 0 Comments
Jam 08.30 pagi udara di Chiang Mai masih dingin dan sedikit berkabut. Saya check out dari penginapan. Pemilik penginapan belum bangun dan harus digedor oleh pembantunya. Lalu mencari songthaew (angkot) untuk mengantarkan ke terminal dengan ongkos 80 THB. Songthaew di sana sepertinya tergantung permintaan, tidak ada trayek seperti angkot disini karena sampai di terminal penumpangnya saya sendiri.

Saya berangkat dua jam sebelum jam keberangkatan bus ke Chiang Rai untuk berjaga-jaga barang kali perjalanan ke terminal kurang lancar. Ternyata kurang dari 20 menit sudah sampai artinya harus menunggu 1 jam 40 menit lagi. Tiket beli sehari sebelumnya. Taunya hanya Green Bus yang berangkat tiap jam sekali dan beli untuk jam 10.30 agar tidak terburu-buru karena khawatir paginya males bangun. Namun sepertinya banyak juga armada bus yang lain.

Penampakan tiket

Saya coba ke counter tiket minta pindah ke bus yang berangkat lebih cepat. Ternyata full. Jadilah harus menunggu sambil kedinginan di dekat platform tempat bus akan parkir. Beberapa kali diajak ngobrol menggunakan bahasa Thailand termasuk dengan para staf bus, dikira saya asli Thailand. Malah ada seorang ibu ceriwis banget "Kha khu hengheng ngek ngoook" sudah bilang "Sorry l can't speak Thai" tetep tidak mau diam. Sepertinya tanya sesuatu lama-lama berubah muka jadi bete karena saya hanya senyum tidak menjawab apa-apa. Setelah dijelaskan oleh salah satu orang disitu dengan bahasa Thailand barulah ketawa.

Penumpang bus ke Chiang Rai sebagian orang lokal dan sebagian lagi bule berambut pirang. Beberapa kali say hello katanya dari Maroko, Rusia, England, Spanyol dan tidak tau dari mana lagi. Sepertinya yang dari lndonesia saya sendiri. Sempat ngobrol asyik dengan mas ganteng dari Maroko yang sama-sama belum tau banyak tentang Chiang Rai tapi sayang busnya berangkat duluan. Dia mencoba memastikan lagi ke staf bus barang kali saya bisa pindah, ternyata bener bener full. Terpaksa deh say good bye ama yayang eits...

Penampakan Green Bus

Beberapa saat kemudian bus datang, saya dan penumpang lainnya gantian masuk. Saya duduk bersebelahan dengan ibu dari Rusia mungkin hampir seusia dengan ibu saya, bernama Victoria yang berprofesi sebagai guru matematika. Beliau bersama suaminya tapi di kursi sebelah. Kami ngobrol dengan bahasa lnggris campur bahasa tarzan karena bahasa lnggris ibu lebih kacrut dari pada saya.

Busnya nyaman sekali seat 2-2, tempat duduk dan sandaran kakinya luas. Sebelum berangkat dibagikan air mineral dan snack (hanya wafer sih). Jalanan di Thailand lebar halus dan jarang sekali ada lubang, walaupun naik turun belok belok tapi tidak berasa goyang. Pemandangan di kanan kiri jalan dipenuhi dengan hutan dan kadang-kadang ada segerombol perkampungan. Karena capek ngobrol dengan bahasa tarzan saya pun pura-pura tidur dan akhirnya tidur beneran.

Setengah perjalanan bus berhenti di rest area yang sederhana sekali. Penumpang bisa turun membeli makan atau ke toilet. Saya dan mbak bule berambut pirang bingung mencari toilet karena tulisannya keriting semua. Ternyata ada di belakang toko, bayar 3 THB. Suasananya mirip seperti kampung di Jawa hanya beda bahasa.

Selesai istirahat bus kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini jalannya banyak berbukit mirip tol cipularang km 90an ke atas sehingga ada beberapa penumpang yang terdengar hoek hoek mabok. Saya jadi ikut-ikutan pusing, tapi syukurlah tidak sampai mual.

Berapa lama kemudian bus memasuki kota Chiang Rai dan berhenti di sebuah terminal. Saya dan ibu sebelah sempat bingung sudah sampai terminal tapi kok penumpang belum disuruh turun. Untunglah mbak bule berambut pirang tanya ke sopirnya "Chiang Rai?" Katanya baru sampai di terminal 2 sedangkan kita akan diturunkan di terminal 1. Baiklah saya nurut saja. Kira-kira 5 kilometer lagi bus sampai di terminal 1. Total perjalanan mulai berangkat dari Chiang Mai memakan waktu  4 jam, lebih lama 1 jam dari yang dikatakan kebanyakan orang. Ternyata kota Chiang Rai kecil sekali tapi walaupun kecil sepertinya segalanya jauh lebih maju dibanding Pacitan. Ya iyalaah...

Begitu turun dari bus langsung diserbu oleh sopir tuk tuk padahal rencana mau jalan ke belakang terminal yang katanya banyak penginapan. Jadinya melipir mendekati mas bule 2 orang yang sama-sama gendong ransel. Katanya dari Spanyol dan belum dapet penginapan juga. Akhirnya saya bergabung dengan mereka. Dapatlah guesthouse 200 THB/malam kira-kira setengah kilometer di belakang terminal.

Rumah agak tua berhalaman luas, cat pintu dan jendelanya dominan warna hitam abu abu jadi serasa seram-seram gimana gitu. Ditambah lagi resepsionisnya tante cantik chinnese berdandan menor tidak banyak omong, tidak banyak senyum tatapan matanya dalam dan tajam, setajam silet. Busyet dah rasanya horor jangan-jangan tante ini vampir. Bajunya mirip dengan teman-temannya Bella di film Breaking Dawn yaitu jaket yang lehernya bulu bulu menjuntai ke bawah dengan motif totol macan. Rambutnya sebahu ikal di blow rapi. Cantik seperti selebritis tapi sepertinya ada yang salah dengan wajahnya.

Pojok wifi di penginapan. Disini sinyalnya kenceng kalau dari dalam kamar keong banget bahkan tidak bisa. Kamar saya dari pohon kelapa belok kanan lurus ke bawah.
 
Lalu saya diantar oleh tante berwajah horor ke kamar yang di rumah belakang, mas bule dapet kamar di depan yang masih serumah dengan resepsionis. Kamarnya lumayan luas karena memang untuk 2 orang, bersih walaupun perabotannya sudah terlihat usang. Kasurnya dari kapuk tengahnya melengkung seperti perahu dan spreinya kekecilan jadi semakin melengkung. Mirip kasur dikost saya dari masa ke masa (sekarang udah springbed ya walaupun per'nya suka nusuk-nusuk punggung). 

Maklum 200 THB semalam masih lebih murah dan nyaman dibanding kamar dorm. Kamar mandinya luas bersih dan dilengkapi dengan air panas, nah ini penting sekali karena Chiang Rai dingiiin banget. Biar begitu adanya tapi saya betah, seandainya suatu saat berkesempatan ke Chiang Rai lagi bolehlah balik lagi karena suasananya yang rumah banget serasa menginap di rumah saudara. Penasaran juga dengan tante berwajah horor, sudah ganti jaket belum ya karena selama saya disana baju dan jaketnya tidak pernah ganti hahaha...

Aug 19, 2015

Emang Saya Ibumu?

August 19, 2015 6 Comments
Begitu menginjakkan kaki di Ninoy Aquino International Airport saya merasa aneh dengan orang-orang Filipina yang memanggil saya. Serasa telinga ini diutak utek pakai sapu ijuk. Sampai-sampai males ngobrol dengan orang selain memang ga bisa bahasa tagalog juga sih (bahasa Inggris juga kalee). Mungkin ini yang dinamakan gegar budaya atau bahasa sononya disebut culture shock. Atau mungkin karena saya termasuk golongan menolak tua.

Di mulai dari ibu-ibu petugas x-ray di pintu keluar. "Please, put your bag here mam". Apa maksudnya panggil-panggil mam? Mam tuh mommy apa gimana ya? Emang saya udah emak-emak banget gitu...? Sak ser mu lah! Tanpa memperpanjang masalah saya letakkan ransel dan daypack di conveyor belt kecil yang tersambung dengan box x-ray di depannya. Kemudian saya gendong lagi setelah badan saya di cek pakai metal detektor dan tas-tas saya dinyatakan aman, so pasti aman karena hanya berisi baju dan mie instant doank.

Karena belum punya uang peso saya bermaksud mencari money changer yang menurut penjelasan di google, rate money changer di airport lebih bagus dari pada di kota Manila. Saya nanya ke pusat informasi sekalian meminta peta.
"Hello..." sapa saya pada salah satu petugas.
"Hello, may I help you mam?"
Aih manggil mam lagi, emang saya istri bapak...

Setelah diberi selembar peta besar dilipat-lipat saya melangkahkan kaki menuju ke money changer yang berderet setelah pintu keluar. Saya pilih salah satu diantaranya yang ratenya tertinggi, lumayan beda-beda 20 peso. Saya sodorkan selembar USD ke petugasnya melalui lobang kecil yang hanya cukup untuk meletakkan uang. Kemudian saya diberi beberapa lembar uang peso dengan berbagai pecahan. Sambil melempar senyum manisnya petugas itu mengucapkan terima kasih. "Thank you mam" Haaishh bilang mam lagi... kebalik kali harusnya saya yang panggil tante mam...

Mamam lagi di Ninoy Aquino International Airport

Akses dari Ninoy Aquino Airport menuju ke kota Manila hanya bisa menggunakan taksi dan beberapa bus tapi saya tidak tau rutenya. Belum tersedia MRT seperti di negara-negara maju, masih 11 12 dengan Soekarno Hatta. Taksi katanya tidak begitu mahal karena jarak ke kota tidak terlalu jauh, hanya saja harus berhati-hati karena banyak taksi gelap. Banyak sekali cerita nyeseg tentang taksi di Manila. Saya mencoba cari jalan lain agar tidak sampai naik taksi. Saya keluar dari area airport untuk mencari jeepney (semacam angkot kalau di Jakarta). Menurut petunjuk dari google setelah pintu keluar ke kiri jalan lurus sampai ke ujung parkiran. Ada beberapa orang yang berlalu lalang ke arah itu saya coba mengikutinya. Di tengah jalan beberapa kali saya dihadang oleh sopir taksi. "Taksi mam... Taksi mam..." Eh busyet dah... Ga bakalan naik, udah mah ga bisa dipercaya panggil-panggil mam lagi... Ogahlah pap mamam mo jalan kaki ajah...

Benar saja sampai di ujung parkiran tampak jeepney yang mangkal bertuliskan Nichol - EDSA MRT - Baclaran. Sebelum naik angkutan unik itu saya pastikan dulu ke sopirnya apakah benar lewat EDSA MRT? Karena saya akan turun disana kemudian lanjut naik MRT ke daerah Makati, tempat saya akan menginap. Di dalam jeepney baru ada 3 orang. Sebelumnya saya browsing cara membayar ongkos jeepney yaitu secara estafet dengan penumpang sebelah, karena posisi saya di belakang sopir maka harus siap menjadi pembantu pak sopir. Yaitu menerima uang dari penumpang diberikan ke pak sopir dan kembalian dari pak sopir diberikan ke penumpang. Kalau mau nguntit uangnya langsung disakuin aja hehehe... Yang masih bingung kapan bayarnya? Setelah duduk di dalam jeepney saya diem aja sambil memperhatikan stiker tulisan yang banyak ditempel di dinding dalam bahasa tagalog, salah satunya mungkin artinya begini "Tuhan tahu jika anda tidak bayar".

Tak berapa lama kemudian ada penumpang naik dan langsung memberikan ongkosnya "Bayad Po" saya bantu memberikannya, hampir sama seperti di Indonesia "Bayar Pak". Nah baru tahu ternyata begitu duduk langsung bayar. Saya pun ikut memberikan uang kertas 20 peso, biarpun tau ongkosnya hanya 8 peso tapi takut kurang biar saja dikembalikan berapa. Dan ternyata dikembalikan 12 peso. Baru tau juga ternyata jauh dekat ongkosnya sama 8 peso atau sekitar 2500 rupiah. Murah banget, lebih mahal ongkos angkot di Indonesia.

Ini dia si mungil Jeepney

Semakin lama jeepney penuh dan mulai bergerak menjauhi airport. Banyak petugas airport yang hendak pulang kerja, kelihatan dari label di seragamnya. Mereka semua ngobrol dengan bahasa tagalog, saya sama sekali ga ngerti. Mbak-mbak di sebelah sering terdengar seperti mengatakan "EDSA EDSA" saya pikir mungkin akan turun di EDSA MRT, lumayan bisa diikuti karena saya tidak tau dimana letak maupun ciri-ciri EDSA MRT. Demi keamanan saya mengurangi bertanya ke kanan kiri agar tidak ketahuan bahwa saya orang asing. Secara fisik dan penampilan orang Filipina dan Indonesia sama banget, 10 11 lah. Nah akan kelihatan dari percakapannya.

Jalanan di kota Manila sama kacrutnya seperti di Jakarta. Jakarta sepertinya lebih mending. Motor, mobil, jeepney dan bus umpel-umpelan jadi satu dan menimbulkan kemacetan. Yang sama lagi, ada pengamen anak kecil berbaju kucel sambil nyodorin amplop, ada pedagang asongan trus sopir jeepney beli rokok 2 batang, ini sama banget kya sopir angkot di Indonesia. Ga terasa suasana di luar negeri rasanya seperti di daerah Pasar Senen atau Tanah Abang. Pengen sih mengabadikan setiap moment, tapi takut ngeluarin kamera. Kalung kamera di daerah kya gitu sepertinya cari apes. Denger-denger di Filipina kalau jeprat jepret bisa tiba-tiba dipepet orang trus dimintai duit. Hiyyy... Emang iya, entahlah... Demi keamanan ya ga usah neko-neko.

Masih di jalan kecil diantara kemacetan dan belum tampak tanda-tanda seperti stasiun. Tiba-tiba mbak di sebelah bilang "Para" artinya mau turun. Lah berarti ga turun di stasiun EDSA donk, waduh tiwas tak enteni... Trus piye?

Jeepney melanjutkan perjalanan semakin memasuki daerah perkotaan. Penumpang naik turun silih berganti. Saya jadi deg-degan takut terlewat. Saya mengintip keluar ke samping kanan dan kiri mencari stasiun yang ada malah semakin bingung. Lalu saya beranikan diri bertanya ke mas penumpang di sebelah.
"Bro EDSA MRT udah lewat belum?"
"Not yet, if arrive there I tell you mam"
"Thank you" mam mem mam mem emang gue emak lo...

Ternyata mas-mas itu turun di EDSA MRT juga sehingga saya diantar sampai di depan pintu masuk. Daerah ini bernama metro point mall yang mana di dalamnya ada 2 stasiun yaitu EDSA untuk LRT dan Taft Avenue untuk MRT. Karena saya akan ke daerah Makati sehingga mengambil jalur MRT. Stasiunnya bener-bener mirip dengan Stasiun Pasar Senen hanya saja antrinya lebih rapi ga pakai dorong-dorongan. Di pintu masuk dijagain banyak security, beberapa ada yang membawa laras panjang. Serem banget sih. Eh security apa polisi ya? Mbuh lah yang pasti pakai seragam lengkap. Sebelum masuk tasnya harus diperiksa dulu diobok-obok pakai kayu satu per satu jadi menimbulkan antrian yang panjang. Nah tas ransel saya juga harus dibuka tuh, tapi securitynya baik-baik dibantuin semuanya biar ga ngelamain antrian. 

Sebelum membeli tiket saya tanya dulu ke salah satu petugas di loket sambil memperlihatkan peta tempat saya akan menginap. Petanya ga detail banget hanya berupa garis-garis doank, kanan kirinya apa juga kurang jelas. Tapi diperkirakan berada di antara Stasiun Buendia dan Guadalupe. Feeling ibu itu sih lebih dekat dengan Stasiun Guadalupe sehingga saya disarankan turun disana. Dan lagi-lagi mereka semua memanggil saya mam. "Take care mam". Hiks Qamfret..!!!

Setelah mendapatkan tiket saya ikut antri masuk ke kereta. Disini penumpang yang akan masuk ke kereta di tahan dulu di tangga pakai tali pembatas, menunggu penumpang yang turun dari kereta sampai habis. Jika kereta bener-bener kosong baru deh tali di lepas. Setiap gerbong di jaga 1-3 security yang akan berdiri di dekat pintu. Jadi penumpang merasa aman. Kalau ini sih beda dengan di Stasiun Pasar Senen. Di dalam kereta juga ada pengumuman setiap akan berhenti di stasiun berikutnya walaupun dengan bahasa tagalog.

Sampai di Stasiun Guadalupe saya turun dan tanya ke beberapa orang sambil menunjukkan peta dimana kira-kira letak penginapan saya tapi semua menjawab tidak tau. Saya terpikir pindah haluan mencari penginapan lain. Saya coba masuk ke hotel yang dekat dengan Stasiun Guadalupe, tulisan di depannya sih murah 250 peso tapi ternyata harga segitu hanya untuk 2 jam saja. Tarif per malamnya 1600 peso. Jiaah... Ga jadi. Di Our Awesome Hostel Manila 1500 peso untuk 3 malam. Hostel itu (hostel ya bukan hotel) terletak di ABBA Building jalan Kelayaan Avenue, ke Bonifacio Global City hanya 8 menit jalan kaki. Itu saja petunjuk yang di jelaskan di websitenya. Selebihnya terserah anda... Recommended lah tempatnya nyaman, bersih, lumayan strategis dan murah.

Saya melangkahkan kaki mencari Jalan Kelayaan Avenue mengikuti perasaan kira-kira. Melihat peta buta itu sih sepertinya ga terlalu jauh. Belok ke jalan kecil lewat pasar yang jualan sayur dan buah. Persis kya pasar di Indonesia. Lalu lewat ruko, rumah-rumah penduduk dan akhirnya ketemu jalan besar lagi. Disana saya coba tanya ke orang yang lewat.

"Pak Jalan Kelayaan Avenue dimana ya?"
"Disini.."
"Ouw, benarkah... (mak plong). Kalau ABBA Building dimana pak?"
"Disebelah sana, tapi jauh"

Seperti saya lagi di Kebon Jeruk trus nanya Taman Anggrek, nah kalau jalan kaki kan gempor. Saya dipanggilkan abang three cycle (becak motor) oleh bapak yang baik hati itu agar diantarkan ke ABBA Building dengan ongkos 15 peso sekitar Rp 4500. Setelah berterima kasih, saya naik ke angkutan mungil dan lucu yang sebenarnya hanya motor di tambahin tempat duduk disampingnya. Ga ada 10 menit becak motor berhenti di depan sebuah gedung.

"This is ABBA Building mam". 

Ternyata tulisannya kecil doank di terasnya. Kalau ga jeli mah bakal kelewat apalagi yang masih baru kya saya sampai jungkir sepertinya ga bakal ketemu. Begitu masuk ke lobby ga akan ketemu dengan resepsionis tapi hanya ada security. Selain hostel disana ada beberapa kantor yang salah satunya adalah refil air minum. Sempat bingung ini hostel apa pabrik air minum ya? Ternyata resepsionis hostelnya berada di penthouse di lantai 10 dan kamar-kamarnya kalau ga salah dari lantai 7 sampai 9 hehe kebalik ya jadi kalau mau cek in harus ke lantai paling atas...

Stafnya ramah-ramah banget parasnya seperti orang Indonesia semua. Awalnya saya ditanya pakai bahasa tagalog, pas kelihatan cuma bengong aja baru deh ditanya "Where are you from?" Hahaha dari tadi atuh mbak...

Setelah mengisi data dan membereskan administrasi saya diantar ke kamar oleh salah satu stafnya sambil ngoceh sepanjang jalan, "Okey follow me mam... Why do you come here mam? Are you alone mam? Okey mam this is your room and you can choose one bed whatever you like mam... 

Haiiissshhh... si cempreng ini, emang saya ibumu?? Masih ada 3 tempat tidur yang kosong dan saya memilih di pojok. Di sebelah ada mbak-mbak dari Vietnam, China dan Filipina (Mindanao).

Setelah terkonek dengan wifi saya browsing-browsing kenapa sih di Filipina panggilannya pakai mam? Rasanya ga rela masak saya diemak-emakkan. Rupanya maksudnya tuh "Ma'am" yaitu singkatan dari "Madam" jadi bukan "Mommy" yang selama ini saya kira. Maaf deh kalo gitu hahaha.... Tapi gara-gara itu saya jadi akrab dengan temen-temen sekamar dan berujung saling berbagi makanan.

Bagaimana cerita selanjutnya, ngapain aja saya selama di Manila nanti ya kalau ga males diterusin lagi...

Saya dan Mae asli Filipina, paling enak pagi dan sore nongkrong di roof top ketemu dengan penghuni hostel yang lain


Persis kya orang Indonesia kan? Saya juga sering dikira asli Filipina sering diajak ngomong pakai bahasa tagalog.

Dari atas penginapan, tampak kemacetan di beberapa ruas jalan di Manila