Jun 23, 2017

Semua Datang Untuk Kembali

June 23, 2017 0 Comments
Waktu subuh tanggal 22 Februari 2017 merupakan saat menyedihkan buat saya. Pagi itu setelah subuh saya melakukan tawaf wada untuk berpamitan pada Baitullah. Empat hari di Madinah dan empat hari di Mekah amat sangat sebentaaar sekali. Namun rasa syukur yang teramat besar saya panjatkan atas diberikannya kesempatan itu. 

Dada dan tenggorokan terasa sesak. Bulir kristal di pelupuk mata yang tak dapat dibendung saya biarkan mengalir sejadi-jadinya agar lebih lega saat melangkahkan kaki meninggalkan rumah Allah untuk sementara. Lantunan ayat suci sholat subuh saat itu begitu jernih serasa berbisik langsung ke relung hati yang terdalam. Mengingatkan akan Maha Besar Allah yang selalu menjaga, melindungi dan menuntun saya. Betapa besarnya karunia yang Allah berikan. Tiap detik ada kedamaian, ketenangan dan entah apalah yang pasti susah digambarkan, hanya air mata yang bisa berbicara tentang dahsyatnya pagi itu.

Hari-hari sebelumnya susah sekali untuk bisa sholat di mataf yang paling dekat dengan Ka'bah tapi pagi itu saya diberikan tempat yang paling depan biarpun bukan lurusnya pintu (disana untuk shaf laki-laki) tapi saya bisa melihat Ka'bah dari ujung ke ujung dengan sangat jelas. Dari tahajjud hingga selesai subuh banyak keajaiban dan kemudahan yang saya rasakan. Subhanallah Alhamdulillah... Sebuah hadiah yang sangat istimewa untuk perpisahan sementara. Semoga itu bukanlah yang terakhir suatu saat masih diberikan kesempatan untuk berkunjung ke Baitullah bersama orang-orang yang tercinta. Aamiin Ya Robbal Alaamiin...

Malam ini rasa sesak itu kembali terasa karena malam perpisahan terakhir sholat tarawih yang artinya bulan Ramadhan akan segera berakhir. Sebulan berpuasa bagaikan sekelebatan mata. Apalagi sebagai perempuan ada saat-saat istimewa yang mengharuskan meninggalkan puasa.

Alhamdulillah masih diberikan kesempatan untuk bisa sholat berjamaah di Masjid dengan lancar. Hampir saja harus menerobos hujan tapi syukurlah hanya sebentar hujan mempersilahkan kami semua untuk lewat tanpa harus memakai payung. Di rakaat terakhir terdengar suara sang imam bergetar semakin serak sesekali menghilang akibat tak kuasa menahan sesak. Tak ada yang ingin mengakhiri hadirnya bulan penuh keberkahan ini. Tapi bagaimanapun semua ada saatnya bertemu dan juga berpisah. Semoga masih bisa bertemu lagi di Ramadhan yang akan datang. Aamiin Ya Robbal Alaamiin...

Jun 21, 2017

Menangis Di Halte Krematorium Jerman

June 21, 2017 0 Comments
Mau nangis itu saat pertama kali menginjakkan kaki di Jerman tanpa bekal kemampuan bahasa Jerman sama sekali. Mak jleb lemes seakan dunia telah berakhir dan ga tau mau ngapain. Itulah yang terjadi saat berhadapan dengan tulisan yang kebanyakan huruf konsonan berderet di halte di tengah hutan. Ngelihatnya aja pusing apalagi disuruh baca. Parahnya udah bingung ga ada tempat buat nanya. Gimana adek ga nangis Bang, mana bentar lagi malem...

Sore itu yang sebenarnya udah malem tapi karena musim semi menjelang musim panas waktu siangnya lebih panjang. Jam 19.30 waktu Jerman seperti jam 3 atau 4 sore waktu di Indonesia. Gelap baru akan tiba di jam 22.00. Kami diturunkan oleh Bus Eurolines dari Brussel di sebuah halte di Aachen. Di tiket tertulis bus berhenti di Wilmerdosferstr. beim Gartencenter. Saya pikir tempat itu adalah terminal bus di tengah kota, yang bakal banyak bus dengan berbagai tujuan atau bus dalam kota, deket stasiun kereta atau setidaknya banyak angkot mewah alias taksi.

Ternyata pemirsa... Cuma halte kecil dikelilingi pepohonan tinggi dan rimbun ga ada rumah apalagi mall. Sepiiii banget hanya kedenger suara serangga. Beberapa meter ke arah kanan atau bisa juga ke kiri tergantung agan ngadepnya kemana ada rumah tapi tanda petunjuknya bertuliskan krematorium. Di depannya tampak kya toko souvenir tapi udah ga terlihat tanda-tanda kehidupan. Toko-toko disana jam 17.00 dah mulai tutup. Ga ada bus, kereta ataupun taksi. Taksi biarpun mahal masih bisa dinaikin lha kalo ga ada, adek harus gimana coba... Hiks!! Bener-bener jauh dari ekspektasi, berbanding terbalik 180 derajad.

Begini doank tiada keramaian di sekitarnya, biar masih terang tapi udah sepi kya tengah malem...

Di kejauhan ada 2 mobil terparkir dengan 2 orang lagi ngobrol di depannya. Tapi pas ditanya, sama sekali ga bisa membantu karena mereka berbahasa Jerman tulen. Seketika mimpi saya untuk keliling Jerman menghilang. Rencana suatu hari bisa solotraveling ke semua kota di Jerman kalo ada rejeki dan cuti panjang. Saat itu saya pergi bareng pasukan, bukan open trip tapi hanya jalan bareng dan saya latihan jadi kepala sukunya. Tapi dengan kejadian itu nyali saya tiba-tiba menciut, rasanya pengen bobok di rumah aja.

Saya duduk tak berdaya menenangkan diri sejenak sambil mengamati, benarkah ini tujuan akhir dari bus yang saya naiki? Ternyata benar ada bus lain A, B, C dan D dengan berbagai tujuan yang akan berangkat dan berhenti disitu. Semua ditulis dalam bahasa Jerman. Tapi kenapa ga ada satupun petunjuk menuju ke pusat kota ya?? Trus rute yang saya download dari mbah google naiknya dari mana?? Omaigat!! Wot ken aidu...

Tiba-tiba ada mobil sedan datang dan parkir di deket krematorium. Mak cling seberkas cahaya terang menyinari hidupku. Dengan kekuatan bulan kaki melangkah menuju sang cahaya alias bapak-bapak gendut berbaju merah duduk di dalam mobil sedang menikmati sepotong hotdog. Sebelum keluar sepatah kata tak lupa seuntai doa saya panjatkan semoga bapaknya bisa bahasa Inggris.

"Excusme..."
Bapak mengamati saya sekilas lalu mengangguk dan meletakkan hotdog di pangkuannya.
"Could you show me the way to hauptbahnhof?"
Bapak menggeleng ga ngerti apa yang saya ucapkan tapi masih terlihat semangat ingin membantu. Lalu saya mengambil secarik kertas dan menuliskan dengan sejelas-jelasnya HAUPTBAHNHOF dan ditunjukkan ke bapak. Hotel yang saya booking tidak jauh dari tempat itu. Diambilah kertas dan bolpoint saya sambil bergumam "houpttbandhoghfff..." ternyata pengucapan bapak beda banget, ada mendesah-mendesahnya kya orang kepedesan.

Kira-kira penjelasannya begini, pertama kamu naik bus 43 dari halte di sebelah krematorium dan turun di Bushof. Lalu naik bus lagi yang nomernya oleh bapak hanya ditulis pake kode seperti huruf v kebalik garis miring dan tulisan plengkor-plengkor ga bisa dibaca lalu tanda panah ke Hauptbahnhof.

"Oh okay. Thank you om..." pasang senyum semanis gulali.
"Dhgrjdhfhfjxx kdhgfdjdk mnfkirts" pesan om pake bahasa Jerman.
"Okey, thank you..." ngangguk pura-pura ngerti.

Alhamdulillah setidaknya udah dapet jalan terang buat langkah pertama. Tak berapa lama setelah kami berpindah ke halte yang ditunjukkan bapak, bus datang. Sebelum naik saya tunjukkan tulisan keramat dari om ke pak sopir.

"Excusme sir, I wanna go here..."
"Bushof... Hauptbahnhof... Okay you can go with this bus" pak sopir mengangguk datar tanpa senyum. Orang Jerman baik-baik tapi kadang susah tersenyum tapi tatapan matanya tetep tatapan sayang.
"How much the ticket for six persons?"
"For six hmmm....." toel toel mesin dan keluarlah selembar tiket.
Saking senengnya udah ga peduli berapanya, yang penting ngasih uang lebih biar ada kembalian.

Bus mulai jalan dan perlahan masuk ke tempat yang semakin kota dan semakin kota. Di dalam bus juga dilengkapi papan pengumuman elektronik bertuliskan nama-nama stasiun yang akan dilewati. Pastinya dengan huruf konsonan yang mendominasi. Kurang lebih 30 menit sampailah di halte Bushof dan pak sopir memberi tau kami untuk turun.

Kebingungan tahap 2 dimulai, mungkin karena kelihatan banget udiknya ga berapa lama ada seseorang mendekati saya dan menunjukkan halte yang dilewati bus ke Hauptbahnhof, karena disitu ada beberapa halte dan bertuliskan Bushof semua. Setiap halte pastinya beda jurusan.

Di halte ada jadwal keberangkatan bus. Bus bernomer yang ditunjukkan om ada diurutan paling bawah masih 45 menit lagi. Tapi tulisan kriting yang ga bisa dibaca sepertinya kode nomer bus lainnya. Saya coba naik bus yang saat itu berhenti di depan halte dan nanya ke mas sopir yang gantengnya kya Neymar. Saya tunjukkan primbon sakti di genggaman. Kebetulan mas Neymar bahasa Inggrisnya okey banget dan balik nanya...

"What is the name of your hotel?"
"AO Hotel"
"Okey near the Hauptbahnhof, you can go with this bus"
Alhamdulillah...

Tak berapa lama sampailah di Hauptbahnhof yang belakangan baru tau artinya Central Station. Mas Neymar kasih kode agar kami turun sambil berpesan...

"You just go straight till the traffic light and your hotel in the right side"
"Okay thank you so much Neymar..." tak kan kulupakan kegantenganmu kebaikanmu.

Finally nyampe juga saya di Jerman, ini berkat motivasi dari bapake katanya kalo ke Eropa harus ke Jerman, kalo ga ke Jerman berarti belum ke Eropa. Saya memilih kota Aachen karena selain berbatasan dengan Belgia dan Belanda, negara yang sebelumnya kami datangi, disana pulalah tempat kampusnya Eyang Bj. Habibie tokoh jenius idola bapake. Namanya RWTH, kepanjangannya susah Rhein Rheins apalah gitu googling aja sendiri biar ada kerjaan.

Saat saya kecil bapake sering dongeng sebelum tidur tentang Eyang dan diakhir dongeng selalu berpesan "Besok kalo udah gede sekolah yang pinter trus jalan-jalan ke Jerman lihat sekolahannya Pak Habibie" Alhamdulillah biarpun gedenya ternyata ga pinter ga pernah juara kelas tapi saya bisa nyampe ke Jerman. Berkat doa bapake. Saya menjadwalkan seharian penuh untuk keliling kampus sekedar melihat-lihat, syukur-syukur bisa ketemu calon profesor ganteng. 

Gimana cerita di kampus, nanti ya di episode selanjutnya yang pasti pake acara mewek-mewekan segala because suddenly someone is not interest about somethings and they're in a bad mood. It has made me sad, one of my big dreams almost never come true.

Apr 12, 2017

Manila Pada Suatu Hari

April 12, 2017 2 Comments
Sore itu hujan deres di Manila. Saya baru saja cek in ke Hostel setelah melalui proses panjang untuk menemukan lokasinya yang nyelip di samping fly over. Di kamar khusus perempuan itu saya mengambil bed di pojok bawah bersebelahan dengan mbak dari Filipina bernama Rizza. Ga banyak yang bisa dilakukan kecuali ngobrol berkenalan dengan seluruh penghuni kamar. Di bed sebelah ada Carol dari China, di atasnya traveller dari Vietnam tapi belum pulang. Di atas bed saya crew hostel yang lagi pulas terbuai mimpi. Satu bed kosong di atasnya Rizza. Kami bercengkerama sampai akhirnya terlelap dengan sendirinya.

Keesokan harinya setelah mandi saya menyeduh mie instant dan cereal bekal dari Indonesia, di dapur lantai paling atas sebelah resepsionis. Ruangan berukuran 2x3 m itu menyediakan kitchen set yang lumayan lengkap diantaranya 3 rice cooker dengan berbagai ukuran, toaster dan microwave. Saya cukup pinjem mug dan sendok lalu nuang air panas dari dispenser.


Sarapan praktis bekal dari kost

Selesai mengganjal perut pakai mie rasa emesge, siaplah saya untuk muterin Manila. Saya akan ke Rizal Park tempat monumen pahlawan nasional Filipina dan ke Intramuros yang merupakan kota tua di Manila. Rizza berpesan hati-hati jangan berpenampilan mencolok, jaga tas baik-baik, jangan banyak ngobrol dengan sembarang orang, jangan naik taksi, cukup naik jeppney atau jalan kaki. Kalau ketauan orang asing katanya bakal dipalak. "Just jeepney or walking, no taksi" kalimat ini diulang berkali-kali buat meyakinkan saya. Takut takut gimana gitu tapi pasrah Allah always with me.

Denger cerita dari para suhu traveller memang kisah scam di Filipina lumayan tinggi. Makanya agak deg-degan saat tiket confirmed. Berhubung penasaran berangkat juga dengan Bismillah. Sampai disana pun ga seseram yang saya bayangkan. Asal ga banyak ngomong pasti dikira orang sana. Secara fisik mirip ama orang Indonesia.

Pagi itu saya berangkat bareng Rizza ke Stasiun Buendia yang berjarak kurang lebih 500 meter dari penginapan. Berbekal selembar peta dan sesekali nanya orang di jalan karena Rizza tidak yakin akan letak stasiun yang tinggal lurus aja. Berhubung asli Filipina pastinya tidak ada kendala dalam menggunakan bahasa lokal. Enak banget serasa punya guide gratis. Namun sayang kami harus berpisah di stasiun karena beda tujuan. Saya ke arah Taft Avenue dan Rizza ke sebaliknya.

Sampai Taft Avenue saya lanjut naik LRT 1 Yellow Line ke United Nation Station. Antrian panjang ke LRT lumayan membuat geleng-geleng karena harus melewati security bersenjata lengkap dan diperiksa satu per satu. Di Manila apapun dijaga security yang membawa senjata laras panjang, entah polisi atau security bahkan di toko atau di gerai fastfood.


Antrian ke LRT mengular sepanjang lantai mall

Keluar dari stasiun banyak di sambut oleh pedagang kaki lima persis kya di Jakarta. Salah satunya adalah pisang goreng yang ditusuk lidi dan dilumuri gula. Kirain gemblong kya di Bogor. Warnanya sangat menggoda. Saya beli 1 tusuk yang berisi 2 potong pisang. Rasanya beneran double sweety, udah pisangnya manis dilumurin gula full sampe ke ujung lidinya. Mak nyiirrr... Bikin gigi ngilu ngilu manja. Orang Filipina suka yang manis manis kyanya, makanya gue laris manis juga disono.. #wuueekkk...



Tadinya ga ngerti nih gorengan apa ngebayanginnya gurih kya seafood atau ayam ternyata mmuuaannisss... Karena kepoto sekalian aja buka kenorakan, saya kalo keluyuran ga pernah bawa dompet, duit cukup diselipin ke tempat yang paling aman. Buat ongkos harian misahin secukupnya diplastik ziplock bekas bungkus kacang. Tuh dilipat lipet sampe dekil... Sering diketawain lho tapi ya woddoamat...

Rizal Park hanya selemparan kolor dari UN Station bisa ditempuh dengan jalan kaki. Saya sempat membaur saat melewati kerumunan orang banyak yang saya pikir orang jualan atau travel fair dan sejenisnya tapi setelah diperhatiin kok sepertinya tempat maen judi atau apalah, banyak undian-undian, tapi ga ngerti juga sih bahasanya tagalog semua. Hiiyy takut..!! Balik badan seketika.

Rizal Park yang juga dikenal sebagai Luneta Park adalah sebuah taman seluas 58 hektar yang dibangun untuk mengenang pahlawan nasional Filipina yaitu Jose Rizal. Di dalamnya terdapat monumen tempat Jose Rizal dieksekusi mati oleh Spanyol pada tahun 1896 saat Filipina masih dijajah oleh Spanyol. Hanya beberapa meter dari tempat eksekusi terdapat monumen dari perunggu dan batu granit setinggi kurang lebih 12 meter yang dijaga oleh polisi konon adalah tempat penyimpanan jenazah Jose Rizal. Di depannya terdapat marka kilometer nol, titik awal pengukuran semua jarak di Filipina. Selain monumen juga terdapat taman Jepang dan Korea, berhubung masuknya pakai acara bayar jadinya dilewatkan, mending ke tempat aslinya aja. Foto di depan rumah orang aja bagus-bagus, gratis, dan asli pastinya.


Joze Rizal National Monument


Tempat eksekusi Pak Jose, masuknya bayar 5 Peso ada guide yang menerangkan


Relief ilustrasi


Marka Titik Nol

Setelah keliling sebagian dari Rizal Park saya beranjak ke intramuros yang jaraknya kurang lebih 1 km lewat pedestrian yang rindang oleh pepohonan. Abang calessa (semacam delman) yang sedari saya datang memata-matai, sangat mengganggu kenyamanan. Inget pesan temen sekamar "be careful only walking or jeepney". Katanya suka malak ga kira-kira. Pasang muka jutek aja walaupun deg-degan setengah mati.

Intramuros adalah distrik tertua dan inti dari sejarah Manila. Kota ini merupakan bagian dari pusat pemerintahan Spanyol selama masa Kolonial Spanyol di Filipina. Mirip kota tua kalau di Jakarta. Begitu sampai di salah satu gerbangnya sebentar sebentar saya diikuti abang becak yang nawarin keliling dengan berbagai tarif. Kemanapun pergi nongol lagi nongol lagi tuh si abang. Katanya kalo terganggu suruh bilang gini "I'm not interest don't follow me!!". Eh beneran pergi. Sebenernya pengen keliling pakai becak berhubung dikintilin mulu jadi ilfil lebih tepatnya sih takut. Tapi bangunan highlight yang banyak diceritakan di google tampaknya banyak yang udah terjabanin seperti Palacio De Gobernador, Gereja San Agustin yang digadang sebagai gereja tertua di Manila, Manila Metropolitan Cathedral Basilica dan masih banyak lagi bagunan tua yang sampai sekarang masih difungsikan dengan baik.


Istana Gubenur


Manila Metropolitan Cathedral Basilica


Seamen's Hospital, pengen masuk pura-pura jadi pasien cuma pengen tau dalemnya doank tapi lihat securitynya jadi ciut, ga jadi.


Kampus Universitas, baca aja namanya

Puas keliling saya keluar area intramuros dari salah satu gerbang dan naik jeepney yang bertulisan TM Kalaw. Sebelumnya pernah lihat ada jeepney TM Kalaw lewat di tempat yang saya kira tempat judi. Tempat itu tidak jauh dari UN Station. Tak berapa lama jeepney sampai di tempat judi saya pun turun. Tiba-tiba saya melihat jeepney jurusan Buendia. Saya pikir pasti bakal lewat Stasiun Buendia, stasiun yang paling dekat dengan penginapan. Jadilah berubah haluan pengen pulang naik jeepney biar tau rute lain.

Ternyata pemirsa lha kok malah kemana-mana masuk perkampungan macet, belok sana belok sini dan ke daerah yang sama sekali ga saya kenal. Penumpang naik turun ganti-gantian entah berapa kali dari penuh, kosong, penuh lagi dan kosong lagi. Biarlah, saya tetap duduk cantik coba mau lihat sampai mana drama ini berakhir. Akhirnya sampailah di sebuah pasar tradisional lewat jalan-jalan sempit, semua penumpang turun dan pak sopir nanya ke saya pakai bahasa tagalog, mungkin artinya "Turun dimana?" Saya hanya bales dengan senyum manis lalu turun sambil pasang muka dipolos-polosin sok tau maksudnya biar ga kelihatan orang asing. Padahal dalam hati mewek Ya Allah ini dimanaa...??


Angkot Filipina

Saya minggir ke emperan toko di deket lampu merah. Di seberangnya ada mall mirip ramayana banyak baju diskonan diaduk-aduk di keranjang. Sekilas daerahnya mirip Pasar Baru Tangerang. Beruntung saya melihat segerombolan ibu-ibu berkerudung, tanpa pikir panjang saya deketin beliau dan nanya jalan pulang. Lalu saya dianter nyebrang perempatan dan ditungguin sampai naik jeepney. Katanya stasiun MRT ga seberapa jauh, tapi untuk ke Stasiun Buendia harus naik MRT melewati 3 stasiun lagi. Alhamdulillah saya telah kembali ke jalan yang benar.


Macetnye same aje kya di Jakarte

Lalu pulang ke penginapan untuk sholat dzuhur dijamak ashar, makan, istirahat dan dari pada tulisan ini kepanjangan nantikan cerita selanjutnya kapan-kapan disambung lagi...

Apr 5, 2017

Umroh Mandiri

April 05, 2017 1 Comments
Dulu saya menyebutnya umroh backpacker. Tapi setiap terdengar orang lain kok kesannya bakal keleleran ga punya tempat bersandar yang penting bisa pergi ke masjid. Tak jarang timbul pertanyaan tidurnya dimana, makannya gimana, apa semua cari sendiri? Saya pun membayangkan seperti itu. Seperti kalau backpacking ke negara sebelah.

Beberapa kali diajak temen untuk umroh backpacker saat nongol si tiket promo turun drastis, tapi sering terbentur cuti. Maklum tuan putri hanya punya jatah 12 hari setahun dan sering dibagi untuk berbagai keperluan seperti tugas dari Allah untuk menikmati dunia.

Banyak nasehat dari teman-teman "Kalau sekedar jalan-jalan sih boleh, tapi untuk ibadah jangan yang backpacker donk". Emang backpacker tuh seperti apa? Kalau saya mengartikan pejalan mandiri yang tidak memakai travel agen, bukan seperti borjuis sossialitah unyu-unyu, bukan pejalan seirit mungkin yang bisa sampai kemana-mana melalui jalur terjal melintang kawat berduri makin sengsara makin disebut backpacker sejati. Eits mau jalan-jalan apa menyiksa diri. Jadi lupakan. Intinya berangkat sendiri pakai nyali doank, mau jalur mahal atau murah ya tergantung selera.

Kembali ke umroh. Ternyata yang dikatakan umroh backpacker setelah dijalani ya bukan backpacker seperti yang dikira kebanyakan orang. Mungkin akan lebih cucok disebut umroh mandiri. Agar tidak membayangkan pergi umroh dengan menggendong ransel butut. Kenyataannya persis seperti umroh menggunakan travel agen pada umumnya hanya bedanya beli tiket pesawat sendiri.

Ceritanya begini. Suatu pagi yang cerah sekitar jam 10 pagi di bulan Agustus, saya buka pesbuk grup backpacker, sekedar cari info ya kali aja bikin pinter. Tiba-tiba ada yang share tiket murah KL-Jeddah 600 ribuan periode terbang antara bulan Januari - April tahun berikutnya. Hanya 1,3 jete pulang pergi Apaahh?? Lebih mahalan tiket ke Jogja waktu saya pulang lebaran. Gimana ga kebakaran jenggot. Meluncurlah jempol saya ke web yang dimaksud dan ternyata benar adanya. Di grup pun sudah banyak yang berhasil issued.

Sambil utak-atik booking jadi mikir juga, sepertinya buat wanita mustahil bisa pergi umroh sendiri. Secara usia di bawah 45 tahun harus pakai mahrom. Tapi gapapa lah teman bisa cari belakangan yang penting beli dulu, bisa berangkat atau ga urusan nanti. Eh ga taunya banyak masalah, sudah masukin data pas waktunya payment error. Dicoba berkali-kali tetap ga bergerak. Yo wes lah hoax x selamat deh buat yang beruntung. Setelah itu lupa begitu saja saya tinggal kerja masuk siang...

Pulang kerja jam 10 malem saya meluncur ke pesbuk lagi. Mak plenggong! Ternyata banyaaaakkk banget yang berhasil. Waduh!!!! Ketinggalan jaman. Seketika kaki lemes. Masih adakah satuuuu aja tiket tersisa. Please sudah naik 6-10jt. Hiks! Ga pantang menyerah donk masih lanjut coba lagi dan coba lagi. Untuk tanggal berapanya ga peduli lagi. Begitu harga nongol langsung klik. Giliran payment kadang harganya jadi 24jt, 36jt bahh apa pula ini. Sampai ga terasa waktu bergerak ke jam 00.30 weibe. Baiklah ternyata bukan rejeki saya. Lalu cuci muka ke kamar mandi, lanjut pakai cream-cream pengawet, matiin lampu dan merebahkan diri. 

Rasanya masih berat meletakkan hp sebelum merem, masih pengen coba sekali lagi kalau ga berhasil ya udah bukan rejeki. Klik klik klik klik... Jeddeeerr.. Silahkan transfer 1,3jt ke nomer rekening ini sampai pukul... Entahlah ga dibaca sampai selesai. Langsung loncat ganti baju ambil atm dan lari keluar. Tuan putri masih udik ga punya e-banking. Sambil dzikir baca-baca doa yang dihafal, jalan setengah lari lewat bawah pohon mangga yang gelap. Deg-degan juga hampir jam 1 malem masih keluyuran ke atm pula.

Proses tranfer selesai dan 2 menit kemudian masuk notifikasi e-ticket anda telah terbit. Hwaaa... Alhamdulillah Ya Allah berhasil... Masih terbengong-bengong beneran ini tuh mau umroh???

Keesokan harinya dan selanjutnya rajin tanya ke grup, adakah yang punya tiket untuk tanggal 15-22 Februari? Bareng donkk... Ternyata ada, saya... saya... saya... Makin hari makin banyak sampai kira-kira bulan November terkumpul 54 orang dari berbagai kota dan ga ada satu pun yang saya kenal di dunia nyata.

Lalu dibentuklah grup whatsaap untuk koordinasi beli LA (land arrangement) mau yang seperti apa dan ke travel agen yang mana. Setelah berunding terpilihlah salah satu travel agen di Jakarta dengan harga 385$ + visa 90$. Dengan fasilitas bus antar jemput dari dan ke airport, city tour, hotel bintang 3, makan 3 x sehari, muthowif, air zam-zam 5 liter dan lain-lain persis seperti travel agen pada umumnya. Sebenarnya banyak pilihan harga mau bintang 4 5 atau kejora tergantung selera. Ada juga pernak pernik perlengkapan seperti seragam batik, koper, buku manasik, slayer seharga 700 ribu tapi opsional boleh beli boleh tidak, saya memilih tidak... Tau kan alasannya hihihi...

Sedangkan berkas-berkas yang diperlukan untuk membuat visa seperti paspor dan lain-lain, cukup mengirimkan lewat pos atau diantar langsung ke rumah bapaknya. Begitu juga setelah visa selesai akan dikirim ke alamat masing-masing atau diambil sendiri. Praktis bukan. Untuk manasik diadakan serentak di Jakarta bareng dengan grup-grup lain yang memakai jasa bapak itu. Saya usahakan datang setidaknya agar kenal dengan teman segrup.

Tiba dihari yang ditunggu-tunggu. Kami menentukan tempat meeting point di KLIA depan mekdi untuk membagikan name tag. Karena berangkat dari kota masing-masing ga serentak. Ada yang berangkat sehari sebelumnya dan ada yang pagi. Akhirnya bisa terkumpul semua di ruang tunggu dan kenalan beberapa saat sebelum naik pesawat. Selanjutnya perjalanan umroh berjalan lancar sampai pulang hanya ada sedikit drama dengan bagasi saat pulang. Nanti dicerita berikutnya .




Inilah perincian biayanya
- Tiket Jkt - KL PP : Rp 1.200.000
- Tiket KL - Jeddah PP : Rp 1.300.000
- LA + visa : 475$ = Rp 6.400.000
- Vaksin Meningitis : Rp 300.000
- Mahrom : Rp 500.000
- Manasik : Rp 100.000

Totalin aja, habisnya segitu
Alhamdulillah...
Semoga yang udah punya niat dilancarkan Allah hingga sampai ke Baitullah ya, Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

Oct 30, 2016

Airlines

October 30, 2016 0 Comments
Beragam cerita dari pahlawan devisa di Hongkong banyak menambah pengetahuan dan menjadi pelajaran buat saya. Mengingatkan untuk selalu bersyukur atas nikmat Sang Pencipta. Setiap orang punya jalan hidup masing-masing sesuai yang digariskan dan bagaimanapun semua sama di Mata Allah.

Bersyukur saya diberi kesempatan untuk melihat secuil dari dunia luas. Dengan lindungan-Nya saya bisa berangkat dan kembali pulang seperti sedia kala serta membawa sejuta kenangan yang tak terlupakan.

Sejak menjejakkan kaki di Hongkong aroma kental akan banyaknya pahlawan devisa mulai terasa. Kemanapun kaki melangkah pasti bertemu dengan sosok seseorang dengan bahasa yang tak asing lagi dan hampir semua mengira saya teman seperjuangannya.

Seperti saat di halte Tsim Sha Tsui, tiba-tiba ditanya oleh ibu-ibu...

"Mau ke Yuen Long ya dek?"
"Hmmm... Ga bu, mau ke Ngong Ping"
"Oh janjiannya disana?"
"Ga juga, saya sendiri aja"
"Lha temennya pada kemana?"
"Hmmm... Saya ga punya temen disini"
"Ooh masih baru ya?"
"Iya begitulah..."

Lalu ibu dan temannya pamitan ngajak salim cipika cipiki. Cipika cipiki disana agak beda yaitu 3 kali dimulai dari pipi kanan ke kiri lalu balik ke kanan lagi. Saya terbiasa hanya 2 kali ngerasa bingung trus pipi kanan sesi terakhir dianggurin aja. Barulah untuk seterusnya jadi ngikutin tiap kali kenalan dengan orang.

Ada lagi saat di Stasiun Mongkok, saya baru saja turun dari kereta tiba-tiba disamperin mbak-mbak yang gemetaran muka memerah sambil nunjukkin kertas kecil bertuliskan rute ke Macau dalam bahasa Inggris.

"Mbak badhe tanglet, nek badhe teng mriki numpak nopo?" (Mbak mau tanya, kalo mau kesini naik apa?)
"Mbak mo ngapain kesana?"
"Saya habis kontrak dari majikan yang sekarang, trus mo cari majikan baru suruh cari sendiri" 
"Mbak naik kereta yang jalur oren, turun di Central, sampe Central pindah ke jalur biru, ayo tak tunjukin" jadi kepikiran bisa ga ya secara Stasiun Central gedenya sak holak. "Mbak disini udah berapa lama?"
"Setahun"
"Loh udah lama, emang kalo libur ga pernah keluar kok masih bingung?"
"Saya kan kerjanya jaga anak, jadi ga pernah libur setahun" waduh tega kali... pulang aja yuk mbak :(

Saat itu saya lagi menggeret koper mo pindahan ke Shenzhen, andai masih punya waktu di Hongkong rasanya pengen nganterin paling ga sampe naik ke ferry. Tapi mo gimana lagi, akhirnya hanya mendoakan semoga mbaknya diberi kemudahan, ketemu dengan orang yang bisa menolongnya.

Lalu saya melanjutkan niat untuk pindahan. Di Stasiun Kowloon Tong saya mencari lift atau eskalator ke lantai atas tempat kereta ke Lo Wu berada. Tapi ga nemu, jadilah adek harus angkat koper berat lewat tangga, selangkah demi selangkah bang yang penting nyampe. Tiba-tiba dari atas tampak mbak-mbak dengan tawa manisnya menyapa sambil setengah ngledek...

"Wooee... Kowe arep nyang ngendiii...?? Arep pindah majikan too...??" 

**Aiih mimpi apa gw semalem...**

Lagi serius ngangkat berat jadinya ngebales cengar cengir doank. Beliau tampak menunggu sambil melihat saya yang jalannya kya keong. Usianya mungkin menjelang 30an, rambutnya diwarnai agak kecoklatan, bajunya keren, make up tebel, hidung bibir dan dagu tampak hasil operasi mirip mpok Atik (maaf) memang terlihat seperti itu. Gayanya pede banget jauh berbeda dengan mbak yang gemeteran sebelumya, tapi medok jawanya sama kental dan sama-sama bingung.

"Arep pindahan nyang ngendi?"
"Mau jalan-jalan aja, ke Shenzhen"
"Shenzhen iku ngendi?"
"Chino mbak"
"Ooo arep pindahan majikan ning Chino?"
"Ora jalan-jalan tok" haddeuuhh...
"Lah kok oleh jalan-jalan, gek pirang ndino?"
"3 hari"
"Ooo wenake iso libur telung dino, apik men majikane" haisshhh...

"Aku iki arep nyang Sha Tin goleki agen, aku arep pindah majikan"
"Kok ga dijemput?"
"Kudu goleki dewe, ngko dijemput ning stasiun. Nek nyang Sha Tin keretane sing ndi?"
"Kita searah, bareng aja mbak"
"Oh podo yo iso bareng"
"Nggih monggo"

Saya tarik koper ngikutin orang banyak menuju ke arah kereta Lo Wu sambil sesekali melirik peta dan petunjuk arah di dinding.

"Lha kowe ning kene jogo anak opo resik-resik omah?" 

**Lhadhalah...!!!

Lagi konsentrasi nyari kereta, pertanyaan terakhir mbaknya hanya terpending di jidat. Ngakak dah jadi mengalihkan perhatian dari mikirin mbak yang gemeteran. Kelihatan gaul pede tapi susah dijelasin. Kebetulan kereta telah terparkir tanpa pikir panjang kami masuk ke salah satu gerbong dan mencari tempat duduk namun tiada sisa. Terpaksa berdiri berpegangan tiang.

"Keretane kok aneh yo tandane ora enek lampune, mbingungke, tapi bener to iki?"
"Bener mbak, lewat 2 stasiun mbak turun nanti tak tunjukin"

Berlanjut ngajakin cerita tentang pindahan majikannya. Lumayan jadi tau berbagai nasib orang diperantauan.

"Kowe numpak opo ko Indonesia"
"Malaysia Airlines"
"Oh nek Garuda larang yo"
"Iya pastinya langsung dari Jakarta ga pake transit"
"Iyo nek mondag mandeg aku yo wegah marai kesel"
"Kalo saya demi murah mbak gapapa transit dulu"
"Piro Jakarta Hongkong?"
"Sekianlah.. PP"
"Lha kok murah, aku suk mben nek muleh yo arep numpak sing murah, jare koncoku sing Airlines"
"APA??!!" takut salah denger.
"Air'lines" bener-bener dilafalkan seperti tulisannya ga dibaca ala Inggris.
**Hahahaa... Husshh ga ada yang lucu!!**
"Semua juga airlines mbak, tapi biasanya di depan ada namanya lagi" (bingung kaget geli tapi kasian pengen jelasin) "Misalnya Malaysia Airlines, Hongkong Airlines atau Air Asia..."
"Woh!! Aku ga berani naik Air Asia, ga mau pengen sing Airlines wae..." langsung dipotong.
"Oh gitu... Baiklah..."


Airlines
Waktu terlalu singkat untuk ngobrol lebih mendetail dan suasananya pun kurang mendukung. Fokus jaga keseimbangan agar badan tak terhempas saat kereta melaju. Dua stasiun telah terlewati saatnya mbak turun. Disiapkan handphonenya untuk menghubungi agen yang akan menjemputnya. Setelah pamitan dadah-dadah mbaknya membaur keluar dan lenyap diantara lautan manusia. Pintu kereta menutup kembali dan kereta melaju kencang dengan kenangan airlines yang masih hangat dipikiran... Semoga majikan barunya baik ya mbak, betah kerjanya... Aamiin :)

Oct 29, 2016

Wong Ayu Majikannya Baik

October 29, 2016 2 Comments
Lanjut dari cerita sebelumnya ya Jalan-jalan ala Wong Ayu. Selesai sholat dzuhur saya turun ke lantai 1 Masjid Kowloon yang saat itu sedang acara open day. Dalam event ini komite dakwah Masjid Kowloon memberi kesempatan para pengunjung untuk mengikuti kegiatan di masjid secara gratis, diantaranya pengenalan tentang islam, tour masjid kowloon bersama guide, hijab try-out corner bagi yang ingin mencoba jilbab dan baju-baju muslim, menulis nama dengan arabic calligraphy dan yang paling penting buat saya adalah halal food corner. Tersedia beberapa softdrink, air mineral, kurma dan sambosa. Biarpun ga berasa laper tapi kalo ada yang gratis ya wajib dicoba apalagi bekal air mineral semakin menipis, lumayan kalo beli kan mahal hihihi... Haka gitu loh HK...

Peminatnya lumayan banyak apalagi arabic calligraphy antriannya paling panjang, ya sudahlah kasih kesempatan buat yang lain, saya cukup mengambil buku tentang dzikir berbahasa Malaysia yang free boleh dibawa pulang. Karena masih kenyang sambosa saya bungkus tissue dan diselipin di saku tas, lumayan buat ganjel kalo belum nemu halal food.

Halal Food Corner
Usai membaur di Masjid Kowloon saya melipir lagi ke Taman Kowloon melihat beberapa tempat yang belum sempat tersambangi. Pemandangannya kurang lebih masih sama di setiap sudut banyak orang yang berbahasa jawa (dibaca tenaga kerja asal Indonesia). Segala macam style mode ada semua, mulai dari yang sederhana sampai yang glamor ala artis hollywood baju kekecilan atau kurang bahan lengkap dengan aksesoris yang bling bling.

Puas keliling Taman Kowloon saya bermaksud mencari Star Ferry Pier yaitu tempat ferry jurusan Hongkong Island. Biar lengkap berangkatnya naik MTR baliknya naik star ferry yang ongkosnya hanya 2 HKD. Saya mengikuti petunjuk yang tersebar di taman ke arah China Ferry Terminal. Saya pikir pasti banyak ferry dengan berbagai macam tujuan disana. Ternyata memang banyak tujuan tapi ke daerah China dan Macau bukan tujuan lokal Hongkong. Okey dech berarti wong ayu salah sasaran.

Saya punya peta Hongkong ambil dari Information Center di Airport tapi hanya dilipet di dalam tas males ngebuka. Berhubung kesasar dan kaki mulai berdenyut jadilah duduk ngadem di bawah pohon sambil belajar peta. Ternyata tempat yang saya maksud ga begitu jauh, tinggal jalan lurus sejajar dengan garis pantai dan di sebelahnya ada Victoria Harbour salah satu view point untuk memandang gedung pecakar langit di sisi Hongkong Island. Kalau diterusin lagi nyambung ke Avenue of Star tempat yang dibangun untuk menghormati insan perfilman di Hongkong yang mana banyak bertaburan cetakan tangan para bintang terkenal. Tapi saat itu sedang tahap renovasi.

Tak jauh dari Victoria Harbour terdapat Clock Tower, adalah menara jam setinggi 44 meter yang dipelihara sebagai monumen bersejarah di Hongkong. Beruntung saya berkenalan dengan mbak Ami pekerja asal Indonesia yang pada akhirnya mengantarkan saya ke 3 museum di sekitaran Clock Tower, yaitu Hongkong Space Museum, Hongkong Museum of Art dan Hongkong Cultural Center. Menurut mbak Ami satu diantaranya adalah tempat artis mendapatkan awar-awar. Sempet mikir sejenak apa itu awar-awar? Yang tak lain adalah award.

Usai mengelilingi museum kami duduk santai di Victoria Harbour menikmati eskrim sambil menunggu gedung pencakar langit menyalakan lampu warna-warninya.


Es krim Kit Kat Greentea dibeliin mbak Ami, hampir lupa ga difoto dulu
Dibekelin tissue segepok juga oleh mbak Ami

Saat matahari mulai tenggelam satu per satu gedung pencakar langit di seberang mulai kerlar kerlip bak lampu disko. Biasanya jam 8 malem akan ada symphoni of light yaitu lampu laser warna warni yang akan dipancarkan gedung pencakar langit dan akan menari-nari selama kurang lebih 30 menit. Berhubung ga sabar menunggu saya berniat pulang ke penginapan sebelum symphoni of light tiba.

Saya naik star ferry ke Wanchai sesuai saran mbak Ami lalu lanjut naik tram. "Numpak tram wae sing murah, arepo nggremet suwe-suwe yo tekan" (naik tram aja, biar pelan lama-lama nyampe juga). Kadang bikin geli judulnya di luar negeri tapi ngobrolnya jawa tulen.

Sebelum pulang ke penginapan saya mengisi lambung dulu di Victoria Park, selagi hari minggu banyak pekerja dari Indonesia yang berjualan disana. Victoria Park ini disebut-sebut sebagai kampung jawanya Hongkong karena setiap hari minggu menjadi tempat berkumpulnya pekerja asal Indonesia. Saya naik tram dari Wanchai dan turun di halte Victoria Park. Begitu masuk ke area beberapa kali terlihat ibu-ibu yang menggendong ransel sambil teriak bakso-bakso. Tanpa pikir panjang saya dekati beliau.

"Bu yang jual nasi dimana?"
"Ada di depan sana ama temen saya, mau dibeliin?"
"Mau bu, saya tunggu disini ya"
"Pake ikan apa ayam?"
"Ayam"

Saya mengambil posisi wenak di bawah pohon di pinggir lapangan sambil melihat mereka yang sedang joget-joget campur sari, hiburan murah meriah pelepas penat di negeri orang. Tak berapa lama seorang ibu datang menghampiri dengan membawakan bungkusan di dalam plastik.

"Berapa bu?"
"27 Dolar"


Persis kya masakan ibu saya di kampung, tumis daun singkong dan kacang panjang, orek tahu dan tempe, telur dan ayam goreng.
Setelah menarik nafas sejenak karena perut kepenuhan saya kembali menunggu tram di tengah jalan. Emang relnya di tengah jalan tapi ada haltenya. Beberapa kali ada tram lewat tapi saya abaikan karena tujuannya bukan North Point. Tapi tiba-tiba ada ibu-ibu yang ngajakin naik jurusan Shauwaiken (kalo ga salah).

"Ayo naik!" ajak beliau dengan nada terburu-buru.
"Ini ke North Point ga"
"Iya apa aja nanti lewat sana!"


Naiknya dari pintu belakang turunnya di pintu depan sambil bayar, jauh dekat 2.3 HKD
Saya ngikutin ibu naik dari pintu belakang dan berdiri empet-empetan. Ga ada kursi kosong. Sesekali ibu merhatiin saya kasih kode agar jangan berjauhan. Di halte berikutnya banyak penumpang turun.

"Sini duduk" ajak ibu dengan tatapan penuh cinta... eh baik banget maksudnya.
"Iya makasih bu"
"Baru ya disini kok tampaknya bingung"
"Iyaa..."
"Baru berapa lama?"
"Baru datang kemaren"
"Ouw kok udah disuruh pergi, kok udah boleh pake kerudung?"
"Hah? Emang kenapa bu?"
"Kalo baru biasanya belum boleh, tapi lama-lama boleh sih"
"Oh gitu ya..." masih gagal paham maksudnya apa.
"Nanti turun dimana tau ga?"
"Tau, di stasiun Fotress Hill atau North Point"
"Emang tinggalnya dimana?"
"Diantara stasiun itu tapi saya lupa, sepertinya sih lebih dekat ke Fotress Hill"
"Yang bener coba diinget-inget lagi, ntar nyasar lagi, rumahnya tau ga?" tampak khawatir sekali.
"Ga tau persis tapi kalo udah ketemu dua stasiun itu udah deket bu, ntar dicari sambil nanya-nanya gampang lah" saya mulai paham arah perkiraan ibu jadinya ga nyebutin nama penginapan, ntar ketauan turisnya.
"Siapin uang recehnya, nanti turun sambil bayar ya 2.3 dolar"
"Iya udah, saya pake kartu"
"Oh udah dikasih ya?"
"Iya..."
"Diisi berapa?"
"150, tapi kyanya tinggal 60an"
"Wah udah dipake kemana aja emang?" melotot kaget.
"Semalem dari airport kesini, trus tadi siang dipake muter-muter"
"Baik banget ya majikannya..."
"Hmmm... Iya Alhamdulillah..." nah kan bener wong ayu dikira tekawe, tapi ya iyain ajalah. Dalam hati pengen jelasin tapi ga tega ibunya terlalu baik. Maafkan ya...

"Ibu udah berapa lama disini?"
"6 tahun"
"Aslinya dari mana?"
"Semarang"

"Satu stasiun lagi kamu turun ya, hati-hati, dicari yang bener rumahnya"
"Iya bu"
"Nomer telpon majikannya udah tau?"
"Iya tau..."
"Nih udah nyampe, sana turun hati-hati ya..."
"Iya makasih bu, assalamu'alaikum..."
"Walaikumsalam..."

Rasa sedih terharu senang geli membaur desak-desakkan jadi satu. Sedih karena ga berterus terang, terharu dengan ketulusan ibu yang baru saja saya kenal, senang karena seharian bertemu dengan orang-orang baik, bisa pulang ke penginapan dengan lancar dan geli karena dikira tekawe. Ya gapapa toh sama-sama kerja juga, seandainya bisa memilih pasti pengen jadi majikan semua.