Feb 11, 2018

Curhatan Balerina Tak Sampai

February 11, 2018 0 Comments
Di kota Madiun saya menghabiskan masa SMU. Sekamar dengan saudara yang punya hobby marah-marah sungguh menyakitkan. Hampir setiap hari makan sambel goreng ati cabe rawit pedas hingga level 30. Tidak ada pilihan lain sehingga harus menebalkan telinga, menguatkan bendungan mata dan melonggarkan pikiran agar sesak di dada tidak terlalu membebani. Sesekali jika bendungan itu rapuh ada gudang di sebelah kamar yang setia menampung bulir kristal itu berjatuhan. Lalu ada kamar mandi di sebelahnya yang siap membersihkan sisanya hingga tak berbekas.

Di kota Madiun ini pula saya pertama kali mengenal balet. Bukan karena sekolah balet, ikut les atau nonton pertunjukan. Tapi dari gudang tempat saya menyendiri menetralisir kesedihan tatkala Tuan Putri Cabe Rawit sedang datang bulan. Siklus Tuan Putri ini kadang bisa terjadi sepanjang bulan.

Serangkaian buku mungil berjejer di rak agak acak-acakan, berselimut debu dan sarang laba-laba. Di pojok rak di dekatnya berserakan butiran hitam seperti beras gosong yang tak lain adalah kotoran tikus. Bau khas gudang menjadi tempat favorit nyamuk untuk bersarang. Tampaknya sang pemilik buku yang telah beranjak dewasa dan kuliah di luar kota itu tak menghiraukan lagi koleksinya. Beliau adalah putri bungsu Pak Sarmo, bapak kost paling baik sepanjang masa.

Diam-diam saya mengambil volume 1 dan mengelapnya pakai baju bekas. Tokoh kartun cantik sedang menari menghiasi sampulnya. Mari Chan. Itulah judul komik Jepang yang saat itu bernasib merana. Karya Kimiko Uehara bertema mengenai balet (seri yang mana saya lupa). Lembar demi lembar bisa membantu saya mengalihkan perhatian sampai akhirnya terjebak penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Namun sayang harus terputus di volume 3. Buku berikutnya entah dimana.

Suatu hari saya coba mampir ke persewaan buku di dekat sekolah. Mata tak asing lagi dengan si mungil yang berjajar rapi di rak. Lengkap sekali. Tersedia juga serial Mari Chan yang lain seperti Silver Toe Shoes, Lovely, Nyanyian Angsa dan Happy Mari Chan. Bagaikan kucing disuguhi ikan asin. Sejak itu saya sering menyambangi untuk meminjamnya.

Marika yang biasa dipanggil Mari sejak kecil sudah akrab dengan dunia balet. Dia mendapatkan warisan sepatu perak dari ibunya yang juga seorang balerina. Suatu hari selesai pentas Mari dijemput tetangganya dari asrama untuk diajak pulang. Mari mendapati ibunya sedang sakit parah. Ibunya berpesan agar Mari mencari ayahnya ke Tokyo. Mari yang mengira ayahnya telah meninggal sangat terkejut. Lantas semua berubah menjadi duka karena tak lama kemudian ibunya meninggal. Sesuai pesan ibunya lalu Mari pergi ke Tokyo. Di perjalanan bertemu dengan Anita yang pada akhirnya diketahui ternyata mereka saudara kandung dan seterusnya.

Di seri yang lain Mari disukai oleh laki-laki pasangan narinya tapi laki-laki itu juga disukai oleh pesaingnya. Mari seharusnya menjadi pemeran utama di sebuah pentas namun akibat dicurangi oleh pesaingnya akhirnya gagal. Di seri yang lain lagi, ibunya Mari meninggal, karena ayahnya harus bertugas ke Amerika maka dimasukkan ke sekolah balet. Dengan berbagai tempaan hingga akhirnya menjadi prima balerina.

Itulah potongan cerita yang saya ingat dari komik Mari Chan. Hampir mirip dari semua seri yang ada yaitu kisah sedih lalu happy ending. Sayangnya komik ini alurnya terlalu cepat sehingga terasa seperti membaca ringkasan cerita. Sering kali masih fokus menikmati suatu cerita, tiba-tiba di lembar berikutnya sudah ganti cerita lagi.

Banyak pesan moral yang bisa diambil dari komik ini diantaranya ketangguhan dan kerja keras untuk menggapai cita-cita. Ketabahan untuk tetap bangkit saat dalam cobaan yang berat. Biarpun hanya fiktif namun dapat memberikan efek psikologis buat saya terutama saat menghadapi Tuan Putri Cabe Rawit. Saya mencontoh ketegaran Mari yang juga punya kakak kerap berlaku kasar. Bedanya kalau saya bukan dipukul tapi sering dikasih perkataan cinta yang nohok sekali.

Penari balet di dunia nyata yang saya tau saat itu hanya Sherina cilik dan beberapa yang suka nongol di TV tidak tau namanya. Tapi agak heran kenapa tidak seperti di komik berdiri pakai ujung jari dan berputar-putar atau angkat kaki lurus sampai 180°. Apalagi tokoh Black Swan diceritakan bisa berputar sampai 32 kali. Benarkah gerakan seperti itu ada di dunia nyata? Atau fiktif belaka? Membahas tentang balet hanya akan ditertawakan teman-teman. Karena hanya golongan kelas atas saja yang mampu menonton pertunjukan ini. Dan hanya dari kalangan berduit juga yang menyekolahkan anaknya untuk menjadi penari balet. Sedangkan anak kost baca komik saja hanya bisa rental.

Belasan tahun berlalu kehidupan telah jauh berbeda namun penasaran tentang balet belum terlupakan. Entah kapan dan dimana bisa nonton balet seperti yang ada di komik. Rasa takut diledek menjadi alasan untuk memilih diam "Gaya banget mau nonton balet, kya ngerti aja".

Suatu hari tiada angin topan dan badai tiba-tiba saya mendapat pesan dari seorang sahabat yang saya kenal sejak 5 tahun belakangan yaitu ajakan ke Rusia. Negeri yang terkenal mempunyai pertunjukan balet spektakuler. Seperti mimpi. Masak iya saya bisa ke Rusia? Membaca sejarah Uni Soviet yang isinya tidak jauh dari peperangan rasanya menyeramkan sehingga tidak pernah terbayangkan bisa ke negeri yang konon banyak melahirkan balerina terkenal di segala penjuru dunia itu. Antara takut dan kepengen, saya dan sahabat saling menguatkan nyali lalu booking tiket Jakarta - Moscow untuk keberangkatan 6 bulan kemudian.

Semakin mendekati keberangkatan kami mulai menyusun itinerary. Sahabat selalu minta persetujuan saya sebelum memutuskan setiap rencana. Kecuali satu hal, tidak memaksakan harus ikut yaitu nonton balet. Mendengar kata balet saya tersentak, ingatan tentang dunia balet dari komik mendadak hadir dan memanas kembali. Mimpi yang berawal dari sebuah gudang yang hanya terpendam dalam-dalam tampaknya akan bisa terwujud dalam waktu dekat.

"Ikut please... Aku sukaaa..."
"Oh ya?? Kirain ga suka" sahabat lumayan kaget karena menurutnya jarang sekali bertemu dengan orang yang suka balet.
"Suka... Aku dulu suka baca komik Mari Chan"
"Loh sama, aku juga gara-gara baca komik, tapi yang Swan"

Beliau lebih berpengalaman soal balet. Selain komik yang dibacanya memang lebih bagus, sebelumnya pernah nonton di Singapura. Apalagi dompetnya mendukung jadi tanpa berpikir lagi langsung membeli tiket 2 pertunjukan sekaligus yaitu Romeo Juliet di Mariinsky dan Swan Lake di Mikhailovsky. Sedangkan saya masih perdana cukup yang di Mikhailovsky. Setidaknya bisa melihat Ratu Angsa berjalan jinjit pakai ujung jari dan berputar sampai 32 kali seperti yang diceritakan di komik. Pasti sangat bahagia dan bakal menjadi manusia yang paling gaya di warteg seberang jalan.

Swan Lake Dancer (Foto dari Mikhailovsky Official)

Tiba saatnya yang ditunggu-tunggu. Sehari setelah kami sampai di Saint Petersburg jam 19.00 waktu setempat adalah jadwal nonton di Mikhailovsky. Setelah seharian keliling, kami jalan kaki menuju gedung theatre yang didirikan sejak tahun 1833. Terletak tidak jauh dari penginapan. Tiga puluh menit sebelum acara penonton dipersilahkan masuk. Tidak ada kursi kosong sama sekali dari vvip sampai yang paling belakang. Kami membooking tempat di tengah-tengah sejak 3 bulan sebelumnya. Semakin dekat semakin mahal atau malah tidak kebagian.

Tepat jam 19.00 pertunjukan di mulai. Lampu perlahan meredup dan tirai dibuka. Penari berkostum persis seperti di komik mulai melenggak-lenggok mengikuti alunan musik symphoni orkestra yang mendayu-dayu. Saya sungguh terkesima dengan semua yang ada di depan mata. Gambar yang dahulunya hanya melihat di komik sekarang disajikan dalam bentuk nyata. Aksi para balerina cantik-cantik dan dekorasi panggung semua jauh lebih indah dari yang saya bayangkan. Benar-benar spektakuler. Sayangnya selama pertunjukan dilarang mengabadikan moment baik foto maupun video.

KISAH SWAN LAKE

Cerita Swan Lake mengisahkan tentang Ratu Angsa Odette (diperankan oleh Anastasia Soboleva) yang disihir oleh The Evil Genius (Mikhail Venshchikov). Sang Ratu hanya bisa berwujud manusia antara tengah malam sampai fajar. Kutukan ini akan menghilang jika ada seorang laki-laki yang mau mengikrarkan janji cinta sejati.

Dalam sebuah pesta di istana, Pangeran Siegfried (Victor Lebedev) diminta ibunya untuk memilih calon istri. Sang pangeran bingung lalu memutuskan pergi berburu ke danau angsa di tengah hutan. Sang pangeran melihat sosok Odette dari kejauhan sedang menari di pinggir danau. Pangeran sangat terpesona dengan keanggunannya dan jatuh cinta.

Evil Genius murka mengetahui pangeran jatuh cinta pada Odette. Lalu menyandera Odette dalam sangkar besi. Kemudian menyihir wajah anaknya Odile, menjadi seperti Odette. Pangeran mengira Odile adalah Odette dan bersumpah akan menikahinya.

Pengkhianatan ini mengunci nasib Odette tidak bisa terbebas dari kutukan. Odette pergi ke danau angsa dengan kesedihan yang sangat mendalam. Pangeran yang akhirnya tersadar akan tipu daya Evil Genius menyusul Odette ke danau angsa dan meminta maaf. Dua sejoli ini masih bisa mengelakkan diri dari penyihir jahat dengan menceburkan diri ke danau. Tindakan cinta mengorbankan diri ini dapat membebaskan Dara-dara Angsa dari kutukan dan menghancurkan kekuatan sihir Evil Genius selamanya. 

Anastasia Soboleva dan Victor Lebedev. Di kehidupan nyata mereka suami istri, benar kata si komik katanya pasangan nari adalah pasangan hidup. (kepo maksimal, foto nyomot dari Instagram mereka)

Evil Genius muncul untuk mencegah pangeran bersatu dengan Odette namun mereka telanjur menceburkan diri ke danau. Kekuatan mantra Evil Genius sirna dan kekuasaannya hancur. Dia juga menyaksikan roh Pangeran Siegfried dan Odette naik ke langit untuk bersatu dalam kehidupan setelah kematian.

Tiba-tiba saya terperanjat oleh suara teriakan di dekat telinga kiri.

"Aduh!!"
"Kenapa mbak?"
"Hampir jatuh kurang keseimbangan"
"Siapa?"
"Itu penarinya"
"Oh ya..."
"Kasian kalo sampe jatuh ga ada yang mau pake dia lagi"
"Huaaaaa..."
"Kenapa kamu yang nangis"
"Ga lihat, aku ketiduran hiks..."
"Hahahaha... Makanya kalo cuma mo tidur ga usah nonton balet...!!"

Saat itu masih jetlag. Malam sebelumnya tidur selalu terbangun setiap setengah jam sekali. Sejak jam 2.30 tidak bisa tidur lagi. Sehingga masih sore sudah ngantuk berat. Setengah pertunjukan masih kinclong takjub dengan tarian dancer profesional yang selama ini hanya lihat di internet dan cuplikan video di youtube. Babak berikutnya harus berusaha ekstra keras melawan kantuk. Apalagi mendengar iringan musik klasik bagaikan dipuk-puk nina bobok.

"Keren banget ya" kata sahabat saat keluar dari ruang teater.
"Iya, kok bisa persis ya seperti yang di komik"
"Lha kan justru komik yang ngikutin mereka hahaha..."
"Duh.. Ketauan norak banget"

Maklum referensi tentang balet taunya hanya dari komik jadi segalanya disamakan dengan gambar-gambar kartun ciptaan orang Jepang itu. Rasa penasaran sejak belasan tahun yang lalu terjawab sudah. Gerakan-gerakan seperti gambar di komik benar-benar ada di dunia nyata.

Selesai nonton foto bareng poster teman saya Ekaterina Borchenko

Sejak itu, setiap saat mengalirlah obrolan tentang balet tiada bosan antara saya dan sahabat. Mulai dari cerita komik lalu balerina legendaris yang menjadi tokoh dalam komik, gaji balerina hingga nasib kakinya. Dibalik tarian dongeng yang indah itu pasti tersimpan banyak penderitaan yang salah satunya pada kaki sang penari. Pastinya kaki mereka penuh dengan tragedi berdarah, kesleo, bengkak, kuku terlepas dan kapalan. Ya sudahlah itu pilihan mereka.

Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga menyaksikan Ratu Angsa menari pakai ujung jari dan berputar 32 kali sekaligus dipertemukan dengan sahabat yang sama-sama menyukai balet. Semoga ke depannya diberi kesempatan lagi untuk nonton di theatre terbesar seperti yang sering disebut di komik yaitu Bolshoi Teater, Royal Opera, American Ballet dan yang lainnya dengan tema tidak hanya Swan Lake. Katanya sekedar punya mimpi sudah termasuk kemajuan diri, jadi saya akan bermimpi setinggi-tingginya berhubung mimpi itu gratis.


Bersama nenek Marina Kondratieva saat masih muda, di depan Bolshoi Theatre Moscow

Oct 23, 2017

Berkenalan Dengan Rusia - Ditanya Apapun Jawabnya Indonesia

October 23, 2017 0 Comments
Rasa deg-degan mau pergi ke Rusia dimulai sejak dari persiapan membuat visa. Susah susah gampang dibanding dengan negara lain. Tidak perlu surat kerja, rekening koran maupun slip gaji. Secara hal itu lumayan bikin males harus menghadap kesana kesini di warung tempat saya mengadu nasib. Yang lebih saklak, segala perbookingan hotel harus PAID dan ada bukti invoicenya, tidak cukup dengan booking corfimed. Satu lagi harus ada invitation letter dari travel agen terpercaya atau hotel di Rusia. "Jadi gimana nih?" tanya partner suatu ketika. "Kita berusaha sendiri dulu kalo udah mentok baru minta bantuan travel agen" jawab saya kepedean sok gampang padahal dalam hati gemuruh menggelegar.

Satu persatu dikerjakan alhamdulillah berhasil semua. Tapi tetap beliau sang kakak yang sibuk saya bisanya ngomong doank sesekali protes... Special thanks for my suhu mbak Anna Khristy yang udah mau repot segalanya. 

Baca blog dan testimoni di google, orang Rusia katanya dingin cuek jutek ga peduli. Kalo nanya ga pake bahasa Rusia ga bakal digubris. Kebayang sih di film-film kelihatannya sangar. Ternyata terbukti saat di kedutaan. Tersenyum adalah hal yang sangat langka. Wajah cemberut dilipet ditekuk seperti saya kalo lagi dapet atau lagi kepedesan trus diajak ngobrol rasanya mau meledak pengen makan orang. Jalannya srantal sruntul ga peduli disekitar ada orang apa ga. Serasa lagi di hutan. Makin deg-degan aja, ini baru segelintir, gimana nanti di negara aslinya. Wes mbuhlah pasrah... Pastinya jangan asal senyum sembarangan daripada kena denda.

Tiga hari menjelang keberangkatan saya mulai demam panggung. Ada aja alasan ga enak badan entah mual, pusing, diare, serak, susah tidur, mimpi dikejar maling dan seabreg gundah gulana. Padahal pola hidup ga ada yang berubah. Syukurlah pada hari H bisa berangkat dengan lancar meski masih harus dibantu dengan paracetamol. 

Di pesawat menuju Moscow mulai terasa seperti nonton film tanpa didubbing. Obrolan krucuk krucuk terdengar dari berbagai sudut saingan dengan perut saya. Paling dekat di sebelah saya persis, mbak-mbak cantik bermuka lempeng datar kya papan tulis. Berhubung udah niat ga boleh sembarangan senyum jadi saya pura-pura jutek. Eh si mbak negur duluan sambil senyum "Hello..." Lha kok baik. Saya bolak balik ke toilet yang mana bakal mengganggu kenyamanannya, tapi selow aja. Berarti kalo ga ada kepentingan mukanya bakal ditekuk. Selebihnya ya biasa aja. Apalagi saat pesawat landing pada tepuk tangan bahagia sambil bilang "Bravooo..." Kalo di negeri tercinta baru juga roda pesawat nyentuh landasan langsung pada buka seat belt, buka bagasi di atas dan suara telpon langsung berdering. Disana taat semua duduk manis sampai ada aba-aba. Turun juga ga ada yang uyel-uyelan pengen duluan.

Nah yang satu ini paling bikin gemeteran yaitu lewat imigrasi. Katanya antriannya panjang dan lama banget. Emang iya, 1 orang bisa 5 menit lebih. Malahan ada beberapa yang digiring ke kantor segala. Segala dokumen persyaratan visa saya siapkan semua tentunya dengan kepasrahan jiwa raga terserah mau ditanya apa. Tujuan saya hanya liburan pak kalo dapet jodoh ya bonus. Alhamdulillah hanya difoto, ambil sidik jari dan cetok selesai. Mak plong lari jingkrak-jingkrak. Welcome to Moscow...!!! 

Kami masih lanjut terbang lagi ke St. Petersburg (SPB). Kebetulan masih satu airport hanya tinggal pindah ke terminal domestik. Tak lupa beli kartu lokal yang paling hits sampe pelosok katanya merk MTC. Karena paket internet sangat diperlukan terutama buat translate huruf kriting. Setelah check in kami lumayan bingung cari gatenya, di boarding pass tulisannya kriting dan tulisan Inggris di papan LCD nongolnya sebentar banget. Tanyalah ke petugas kebersihan. Kelihatan sudah nenek-nenek tapi masih gagah. Tampaknya beliau sadar betul mau dijelasin sampe kering juga kami ga bakal ngerti. Dengan rendah hati diletakkan sapu dan plastik tempat sampah dari genggamannya, lalu mengantar kami sampai ke depan gate yang kami cari. Ekspresinya tetap dataaar tar ga senyum sama sekali termasuk saat kami bilang "spasibo" (terima kasih), ga mengangguk, ga bereaksi apa-apa langsung pergi begitu saja... Lucuuu nek hahaha...

Setelah beberapa kali pindah gate akhirnya flight ke SPB dibuka. Antrian rapi segera tersusun, tetap tidak ada senyum terlempar, tidak ada yang ngobrol seperti saya yang sering bisik-bisik ke partner. Secara lihat orang cakep-cakep kalo ga komen gatel. Enaknya mo ngobrolin orang di depan mata juga cuek ga bakal ada yang ngerti. 

Kira-kira 1 jam kemudian pesawat landing di SPB. Kami berencana naik uber ke penginapan berhubung sudah malem. Ternyata ubernya mejen ga bisa dibuka. Uber dan grab sama aja ga bisa. Entahlah kenapa. Terpaksa naik bus dan disambung metro. Bagasi di SPB bayar sendiri dihitung 1 orang.

Rusia ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. Selama ini kalo denger kata Rusia kebayang tentara bersenjata lengkap trus ngajak perang. Lu macem-macem di'Dor. Ternyata biasa aja kotanya seperti kota-kota lain di Eropa. Aman, nyaman, damai, bersih dan rapi tentunya. Biarpun mukanya pada suntuk sesekali masih ada yang senyum ramah, malah ada yang bantuin bawa koper. Mas-mas ganteng lagi. Kondektur bus disana ibu-ibu setengah baya juga baik banget nolongin biarpun bahasanya saling ga ngerti. 

Sampai di stasiun terdekat dari penginapan yaitu Nevsky Prospekt, kami bingung cari pintu keluar karena tulisan disana kebanyakan kriting jarang sekali bahasa Inggris. Partner sedang sibuk mengcapture tulisan cyrillic buat ditranslate, tiba-tiba ada bapak-bapak tanya ke saya sambil senyum ramah sekali "Krecekkrecek prucut preceprece cromrete?" Hmm... mikir sejenak lalu saya jawab sambil menepuk badan sendiri "Indonesia" "Ooow Indonesiaa..." senyumnya makin melebar ditambah manggut-manggut trus pamit pergi. Jadi punya pegangan, lain kali kalo ditanya orang cukup jawab Indonesia, sepertinya sakti banget bisa mencairkan suasana.

Russia I'm in Love

Mulai merasa betah di Rusia. Selain asyik buat people watching cuci mata lihat yang kinclong-kinclong, ternyata orang sana juga baik-baik. Mereka terlihat cuek karena memang tidak ada kepentingan dan tidak mau menganggu orang lain. Ga kepo lah intinya. Kesan negatif yang selama ini menghantui saya seketika menghilang. Sebelumnya hanya menilai dari luar jadinya tak kenal maka tak sayang. Nantikan episode berikutnya... 

Jul 20, 2017

Nona Jangan Berdusta Ya, Ga Baik!!

July 20, 2017 2 Comments
Saya pernah traveling bareng sebutlah dengan si nona temen sekantor nun jauh di sebelah. Dari ceritanya si nona ini udah banyak pengalaman kemana-mana hingga ke ujung dunia. Jadi setuju aja karena saya pikir ga akan manja. Yang mengherankan, nona bilang sudah pernah ke Hongkong kenapa masih pengen ikut, kenapa ga ke tempat lain yang belum pernah? Karena setau saya itu tempat ga gitu asyik dan muahaal. Temen-temen saya ogah balik lagi kecuali kalo gratisan. Anehnya lagi kenapa keukeuh bilang ke HK harus pake visa? Dari jaman belum kenal paspor setau saya tuh negara bebas visa buat orang Indonesia, makanya jadi bucket list kalo punya libur sebentar. Jadi kecium tampaknya si nona ini kebanyakan mengkhayal.

Saat melihat paspor nona yang masih melompong saya masih berpikiran si nona baru ganti paspor. Tapi pas nanya "Kamu udah kemana aja?" Eh pura-pura ga denger fokus cerita yang lain. Okeylah saya dengerin sampe selesai. Coba nanya lagi, eh begitu lagi, sampe yang ketiga kalinya harus pake tepuk jengkol baru didengerin...

"Hello nona, nona udah kemana aja?" lalu ga bisa menghindar dan menjawab ga pede dengan suara agak disamar-samarin.
"Belum banyak sih..."
"Belum banyak tuh kemana aja?"
***Hanya diam pura-pura polos.
"Malaysia?"
"Belum"
"Singapur?"
"Belum
"Thailand?"
"Belum, eh udah waktu seminar ama dokter" kok pake belum eh udah... hebat sekali sampe lupa, maklum saking keseringan.

Trus yang dulu-dulu dan kemaren cerita panjang lebar itu apaahh...?? Nyeritain punya orang?? Hadeuuh nona... Pantesan kalo diperhatiin cerita nona ga pernah konsisten. Sekarang begini besok beda lagi begitu, kadang cerita saya diceritain balik. Ga beres... #akutertipumak

Saat bikin itinerary, saya ngbebasin si nona nentuin sendiri pengennya kemana, lebih baik ga usah samaan karena belum tentu pilihan saya bakal cocok. Seperti penginapan. Saran dari para suhu di Hommy Inn lumayan recommended, strategis dan nyaman. Pastinya percaya ke suhu donk secara dari kecil beliau bolak balik ke HK udah kya rumah kedua. Eh si nona tiba-tiba ketawa ngledek...

"Lo yakin mo nginep disitu?"
"Yakin, emang kenapa?"
"Itu jauh lho, dari airport harus ganti kereta 3x"
"Lo tau dari mana?"
"Begini yaa.. Itu tuh harus ganti kereta 3x, sedangkan octopus (kartu untuk naik angkutan umum) hanya berlaku 24 jam dan hanya untuk satu line doank" hebat sekali kau nona.
"Kata siapa 24 jam, tuh kartu bisa dipake kemana aja bisa buat naik bus, kereta, ferry bahkan belanja di supermarket, asal saldonya cukup, nona lihat dimana?"
"Gw lihat disini..." nunjukin skrinsut dari website.

"Hello nona ini tuh maksudnya paket oneday, ini loh fungsi yang sebenarnya..." kasih link tentang kehebatan octopus.
"Oh gitu.. "
"Lagian gw dari airport ga bakal naik kereta, ada bus yang langsung turun di depannya, lebih praktis, murah, ga perlu geret-geret koper"
"Gw mau di Tsim Sha Tsui aja itu kan daerah backpacker" matanya berbinar-binar karena pilihannya paling hebat.
"Terserah... Gw ga suka, daerah sana kumuh dan sempit"
"Oh gitu, ya udah gw mo dicompare dulu deh, tapi mo disitu aja yang deket kemana-mana..."
"Terserah nona dah..."

Suhu saya bilang hotel bintang-bintang di langit pun rasanya kya kost-kost'an, sempiitt, harus hati-hati jangan asal murah. Makanya nurut ama saran suhu, da saya mah cuma ganjel pintu...

Beberapa hari kemudian si nona ga ada kabar, eh tau-tau bilang katanya udah booking di Hommy Inn. Aih kupret dibilang jauh kemana-mana, ganti kereta 3x ternyata diem-diem... Hadeuuh nona, yowes lah sabar aja, toh dia bayar sendiri. Tapi ga asyik banget. Padahal saya nungguin kalau dia mo ikut trus booking bareng. Lalu nyabutin rumput trus dimakan!!! Mbeekkk...

Suatu sore yang cerah di bawah semburat langit yang merah merona, tiba-tiba nona yang banyak pengalaman itu kasih kabar gembira lagi dengan banggaaaa sekali...

"Hello cin gw nanti dari airport mo naik kereta aja, gratis lho mo tujuan kemana aja, lo mo bareng ga?"
"Hah?? Di HK mana ada yang gratis yang ada kereta dari airport tuh paling mahal, secara express gitu loh"
"Gw dah download aplikasinya kok, nih" sambil nunjukin kata-kata free di website, wajah nona tampak berseri-seri bagaikan bidadari yang abis dapet baju diskonan 95% di Matahari.

Baiklah biar lebih yakin saya tanyakan ke suhu, ini maksudnya beli tiket dulu ke stasiun central yang tiketnya mahal itu, nanti ada bonus free ke stasiun-stasiun kecilnya. Jadi begitu ya nona...

"Oh gitu, tapi gw mau coba deh kali aja bener gratis"
"Sak karepmu lah..."
"Berarti kita ketemu di penginapan ya"
"Okey..."
"Ohya mau ke Disneyland ga?" tanya nona lagi.
"Gak"
"Ih kenapa, disitu paling bagus lho"
"Haiisshhh... Masih bagusan Tokyo keles, gw dah pernah"
"Oh..." diem makjleb!!

Pesan dari suhu kalo ke HK ga usah ke Disneyland, udah jelek, kecil dan mahal pula.

"Kan ga usah beli tiket terusan, beli tiket yang biasa aja..."
"Helloo... Lo kira dufan, yang ada juga paket 1 day, 2 day nona"
"Oh..." diem makjleb!!

"Ntar bawa beras ya nona, coz disana susah makanan halal buat jaga-jaga"
"Gw ga usah lah, beli disana aja"
"Emang dah pasti tau belinya dimana? Penginapan kita bakal deket market atau ga? Bakal ada pack kecil atau ga?"
"Pasti ada lah" jawab nona enteng banget, kampr**tt... Bukan masalah duitnya nona!!! Aaahh mending gigit bonggol jagung. Krrreesss!!!

Saya kalo pergi ke tempat yang susah makanan halal setidaknya punya persediaan darurat, buat hari-hari pertama, sambil mengenali lingkungan sekitar.

Masih ada sotoynya si nona. Saya lagi nanya ke suhu, supermarket di HK jual nasi kya di Jepang ga yang tinggal dipanasin ke microwave? Eh si nona langsung jawab...

"Ada kok ada..."
"Tau dari mana?"
"Gw kan baca baca"
"Halah ngarang banget"
**Terdiam** yang saya maksud juga pasti ga ngerti.

Suhu yang sedari kecil bolak balik kesana aja bilang ga ada dan menyarankan bawa beras sendiri. Maklum aja deh, nona kan dah pengalaman hingga ke ujung dunia jadi tau banget.

Tiba dihari yang ditunggu-tunggu. Taksi membawa saya mampir ke kost'an si nona dan jreng jreng... Nona keluar dari singgasananya berdandan rapi dengan kostum winter jaket tebel gelembung-gelembung leher berbulu menjuntai dengan sepatu boot. Pruk pruk pruk sambil narik koper mendekati taksi. Bikin heran sampe keriting...

"Kok pake baju kya gitu?"
"Takut kehujanan"
"O'oo..."

Saya udah jelasin, disana panas karena udah summer. Bawa jaket tipis yang tahan angin, bawa payung atau jas hujan karena cuaca sering tiba-tiba berubah. Eh malah pake baju pinguin. Ya udah terserah nona deh, ga ikut campur, nona kan dah pengalaman hingga ke ujung dunia pasti lebih tau.

Saya saat winter di Jepang. Jaketnya nona lebih tebal dari ini.

Bener aja, nyampe di HK puanassnya sama kya di Jakarta, sekitar 32°C. Orang pada pake letbong. Tapi nona ga melepas jaketnya biarpun keringet bercucuran dan berbau semerbak.

Celingak celinguk bingung, akhirnya ga jadi naik kereta ekspress gratis yang dibangga-banggakan itu, jadi ngikutin saya rakyat jelata naik bus.

"Dulu katanya pernah kesini, kenapa bingung?"
"Kan pake travel, ini first time pergi kya gini"
"Lah?? Yang lo sering ceritain panjang lebar backpacking trus nginep di airport, itu apa??"
**Nona pura-pura ga denger, fokus dengan keramaian** #kamprett tertipu mentah-mentah. 

Jelas sekali sebenarnya nona belum pernah kemana-kemana. Selama ini hanya browsing baca-baca blog orang lalu berkhayal, berimajinasi setinggi-tingginya trus diceritain ke orang kalo doi udah nyampe ke ujung dunia.

Ilfil buangettt tapi masak mo berantem di negara orang. Biarin aja mo kya gimana. Daripada ga jelas mana yang trust mana yang hoax anggep aja hoax semua. Liburan kali ini bener-bener rusak parah. Tapi okeylah biar banyak cerita, selagi ga bikin ribet, it's fine...

Pernah suatu ketika saya melihat foto aktris di papan iklan yang tersebar dimana-mana, salah satunya Ruby Lin. Jaman sekolah saya suka sekali film yang dibintangi Mbak Lin ini.

"Waahh Mbak Lin, sekarang dah punya anak kali ya..." kata saya sekedar berucap.
"Udah kok udah, anaknya udah gede" penjelasan si nona.

Hebat sekali keahliannya sama kya google. Tinggal klik ada jawabnya. Biarpun ga penting, berhubung penasaran saya coba browsing, benarkah Mbak Lin dah punya anak? Ealah ternyata baru nikah 4 bulan yang lalu di Bali dan lagi hamil anak pertama. Jadi yang kata anaknya udah gede itu, anaconda kali yaa...

Keesokan harinya kami pergi masing-masing ketemu lagi malem di penginapan. Sebelum bobok nona tampak nyeduh mie gelas buat makan malem.

"Emang tadi ga beli nasi, kan hari minggu banyak pekerja Indonesia yang jualan?" tanya saya.
"Gw udah ke Victoria Park tapi ga ada tkw yang jualan"
"Banyaak kok, segala macem ada"
"Ga ada, gw dah keliling dari ujung ke ujung ga lihat ada yang jualan" emosi mulai naik, serasa saya bodoh banget dibilangin ngeyel kya donal bebek.
"Sebentar, lo kira jualannya kya di warung makan yang dagangannya digelar gitu?"
"Iyaa"
"Ya elah nona, kirain tau, jualannya tuh ngumpet-ngumpet kucing kucingan ama polisi, klo ketauan bakal ditangkep"
"Oh..."
"Jadi lo deketin mereka trus bisik-bisik, ntar bakal diambilin, nih lihat fotonya tadi gw beli bakso, nasi rames, somay, sampe kekenyangan, menunya Indonesia banget, asal ada segerombolan orang Indonesia pasti ada yang jualan kok"
**Terdiam mak jleb sambil nelen ludah!!**

Lalu nona cerita naik tram ke Victoria Peak antrinya sampe 3 jam, jalannya jauuuhhh... Padahal bisa lewat jalur orang lokal. Naik bus ga pake antri, ga pake jalan jauh dan pastinya lebih murah. Udah dikasih tau, tapi ga didenger. Ya udahlah. Kan nona lebih berpengalaman keliling hingga ke ujung dunia.

Kasian sekali, coba kalo dari awal enak diajak ngobrol trus cerita apa adanya. Kadang nona baru tau dikit aja udah wuueee... paling hebat men. Padahal belum tentu bener. Kan males. Ngajak sharing ya bukan begitu, maklum deh karena saya mah cuma sisa-sisa nasi aking.

Dihari berikutnya nona belum ketemu nasi, untunglah saya bawa kue-kue dari tempat makan vegetarian. Dikasih mbak-mbak orang Thailand yang kebetulan duduk semeja. Berlanjut jalan bareng sampe pulang. Tuh kan jalan sendiri juga bakal nemu temen, lebih seru malah.

Hari berikutnya saya pindah ke Schenzen, begitu juga dengan si nona. Tadinya nona berencana nginep sendiri karena pilihan dia lebih strategis. Saya lebih percaya suhu, ditempat yang lebih nyaman. Eh menjelang berangkat si nona ketakutan.

"Gw ikut aja, katanya disana serem takut jalan sendirian"
"Lah katanya dah pernah harusnya udah kebayang donk seperti apa"
"Dulu kan gw kan cuma ke HK doank"
"Lho lo sendiri yang bilang mampir ke Schenzen juga, lupa?"
"Kan pake travel jadi ga tau apa-apa, karena semua diurusin travel"
"Halah ngeless" belum semenit dah beda cerita. Sekalipun pake travel jalur yang dilalui ya sama aja nona.

Schenzen roamingnya lebih parah dan warung makan halal susah sekali ditemukan. Saya mulai masak nasi. Bekal mie gelas si nona 2 box udah abis buat 2 hari, dan ternyata ga bawa mie instant juga.

"Boleh ga minta mie gorengnya?" pinta si nona dengan memelas.
"Kenapa harus mie, kan gw lg masak nasi ntar dimakan pake rendang"
"Lagi pengen mie juga, nyesel deh ga bawa beras, berarti lain kali harus bawa" 
"Kan kemaren udah suruh bawa..."

Mendadak kalem ga kya power rangers lagi, andaikan ada topeng mungkin akan dipake saat itu juga. ***Ksjsgllfbfvdjsksbhsksbdjdjslhddca***

Besok paginya saya bangun lebih awal, nona masih bobok. Oh iya dia yang ngikut, tapi dia yang milih tempat tidur duluan di tempat tidur bertingkat "Lo aja yang diatas gw ga mau" sambil cemberut muka dilipet **Bujugbuneengg... Gw yang harus ngalah... It's okey!!! Kebetulan di bed sebelah ada cewek Korea, nah pas banget si nona kan pinter bahasa Korea. Jadi asyiklah mereka, entahlah ngobrol apa secara saya buta Korea. Paginya saya keluar sendiri jalan santai, sekalian mo cari money changer, biarlah si nona ngelanjutin mimpinya.

Menurut suhu dan tanya ke petugas apotek, disarankan ke bank, karena money changer disana mengerikan banyak uang palsu. Baiklah saya nungguin bank yang bukanya jam 9.00. Biar tau juga kya gimana sih bank di negara orang.

Sampai sekitar jam 10 saya baru pulang, si nona udah mandi dan berdandan rapi. Dia cerita tadi abis jalan ama cewek Korea di sebelah dianterin beli obat, karena suara nona tiba-tiba serak.

"Tadi dianter ke apotek, trus dia mo pulang gw nganterin ke airport"
"Bo'ong banget, orang gw ketemu tadi di gerbang depan pamitan cipika cipiki"
"Iya gw nganterin ke depan"
"Beda keles nganter sampe depan ama ke airport" malunya sampe mak jleb! Hiperbola sekali. Lalu saya masak lagi buat bekel jalan-jalan, tentunya bukan buat makan sendiri sekalian buat nona juga.

Hari berikutnya saya naik ferry ke Macau. Bukan mo maen judi ya sekedar lihat doank. Nona udah mulai jinak ga banyak cerita-cerita khayal yang menyebalkan lagi, udah banyak bercandaan yang real. Coba dari awal kya gitu.

Di Venetian Hotel doi pengen banget naik gondola tiruan Eropa. Harus, biarpun ga ada temennya. Saya sih ga tertarik karena udah pasti mahal dan tiruan pula mending nanti aja ke tempat aslinya (semoga). Eh pas lihat harganya langsung mundur teratuurr...

Malemnya kami nginep di apartemennya pekerja dari Indonesia, temennya tki kenalan si nona waktu masih di HK. Secara penginapan di negara judi ini ga ada yang murah. Lumayan dibantu orang. Nona tampak kurang nyaman, rencana mo nginep 2 malem ga jadi. Malam berikutnya balik ke HK booking lagi di Hommy Inn yang dia bilang jauh dari mana-mana itu. Ga kreatif amat hihihi... Sak karepmu!! Sedangkan saya naik ferry paling akhir langsung ke airport untuk bermalam disana, karena paginya harus balik ke Jakarta.

Setengah hari kami masih jalan bareng lalu siangnya berpisah. Sampe di airport, nona sama sekali ga kasih kabar, lalu saya coba kirim pesan. Katanya udah di Hommy Inn sekamar ama orang Korea yang baiikkk banget. Oh ya syukurlah... Itulah terakhir chat saya ama si nona. Jadi dia udah balik ke HK yaahh... **Note : catat baik-baik nanti ada lanjutannya**

Hari-hari berlalu si nona ga pernah berkabar lagi, ga pernah ada cerita lagi sejak berpisah di Macau, kalo ketemu di kantor jadi kya orang yang ga pernah kenal. Kadang mau negur kadang ga.

Eh suatu hari saya denger dari beberapa orang "Si nona hebat banget abis jalan-jalan sendirian ke Hongkong Macau Schenzen..." Apaahh?? Jadi itu maksudnya biar bisa cerita yang hebat-hebat ke orang... Bos dan senior percaya semua. Tapi akhirnya terbongkar juga.

"Jadi si nona ke HK itu ikut kamu?" tanya bos di wa.
"Iya"
"Dia bilang ke saya sendirian"
"Hahaha emang enak tertipu"
"Bener ga sih kalian nginep di Venetian Hotel?"
"Ya elah duit dari mana, kami nginep di tempatnya tkw"
"Astagahh gw tertipu mentah-mentah, katanya booking sebulan sebelumnya pas lagi promo"
"Waduh ga mungkin amat, mo naik gondolanya aja mundur apalagi nginep disitu"

Lalu bos nelpon ke saya bercerita tentang si nona. Lebih dari separonya dusta, seperempatnya hiperbola, sisanya khayalan belaka. Saking kagetnya bingung mo jelasin apa, cukup cerita versi asli ala kadar kalo beda silahkan konfirmasi sendiri ama yang bersangkutan. Ditambah lagi, katanya saat transit di Kuala Lumpur nona bilang sempet keliling dulu sewa mobil?? Ga mungkin amat secara transitnya cuma 1,5 jam.

Entah apa yang terjadi antara bos dengan si nona, tiba-tiba doi chat wa, kasih penjelasan kalo malam terakhir itu dia ga balik ke HK tapi ketemu dengan temen baru dan sharing ama mereka nginep di Venetian Hotel. Horang kayaaaahhh.....

"Oh ya, trus yang pas gw di airport lo bilang udah cek in di Hommy Inn sekamar ama orang Korea itu apa?"
**Ga bisa jawab**
"Pokoknya malem itu gw ga jadi balik HK, gw nginep di Venetian Hotel terserah mau percaya atau ga"

Lalu kirim foto bareng, bukan di hotel tapi di tempat wisata, yak elah kasih bukti jangan tanggung lah nona. Mana foto di dalem kamarnya?? Secara bungkus permen aja difoto masak hotel mewah ga. Boksinya kebangetan dan ga masuk diakal. Bilang ke bosnya booking sebulan sebelumnya, bilang ke saya reaksi spontan karena ketemu temen baru. Padahal siang itu beli tiket ferry balik ke HK bareng saya. Haiissshhh...

Ya sudahlah jadi bodoh sendiri kalo ngebahas si nona yang udah tenar dan berpengalaman keliling hingga ke ujung dunia. Cukup tau dan dijadikan pelajaran. Coba ya nona ga usah pake dusta-dustaan segala, hidup ini udah teramat indah. Makasih gara-gara nona tulisan ini bisa mengupdate blog saya yang kadang ga pernah ditengok. Yuhuu...