Apr 29, 2018

Nawar Hotel Di Turki

April 29, 2018 1 Comments
Sebelum menclok ke negara orang memang sebaiknya membooking penginapan terlebih dulu agar tidak kerepotan saat sampai di tempat tujuan. Apalagi negara bervisa yang mengharuskan bookingan penginapan sebagai salah satu syarat visa. Turki termasuk negara yang mudah dalam memberi visa pada wisatawan Indonesia yaitu dengan Visa On Arrival yang bisa dibuat secara online tidak perlu datang ke kedutaaan. Karenanya saat saya dan Amel pergi ke Turki selama 2 minggu, hanya booking penginapan sebagian. Di beberapa kota mencari hotel secara dadakan, berhubung bukan peak season dan banyak pilihan hotel dengan harga terjangkau.

Salah satunya di Antalya. Kami naik bus dari Fethiye dengan lama perjalanan sekitar 4 jam dan akan mencari hotel di sekitar terminal sesampainya di Antalya. Kami pikir itu hal yang mudah melihat pengalaman di kota-kota sebelumnya di sekitar terminal banyak tersebar penginapan dengan berbagi model dari yang murah hingga berbintang-bintang. Letaknya pun selalu di pusat kota.

Rupanya dugaan kami salah besar. Terminal di Antalya luas sekali dan letaknya menjauh dari pusat kota serta menyendiri seperti airport dan tidak ada penginapan di sekitarnya. Matilah kau..!! Akses ke kota bisa dengan kereta atau bus. Saat itu sudah hampir jam 11 malam, kereta sudah berhenti beroperasi. Hanya tersisa 1 bus terakhir. Tanpa pikir panjang segera naik ke dalam bus sekalian berlindung karena di area terminal banyak orang berteriak-teriak seperti demo dan suara ledakan berkali-kali. Memang kondisi Turki saat itu belum kondusif masih ada travel warning. Pikiran tak berhenti melayang membayangkan kejadian buruk terjadi di tempat yang sangat asing. Saat itu pergi modal nekad karena tiket terlanjur dibeli 6 bulan sebelum ada kabar miring tentang Turki (kasus kudeta).

Bus masih ngetem menunggu penumpang yang lain. Kami manfaatkan buat browsing hotel di tengah kota. Apesnya hotel yang murah sudah sold out. Dengan terpaksa kami turun di daerah yang terlihat masih ramai dan banyak hotel walaupun mahal-mahal. Saat itu yang termurah adalah Ayhan Hotel sekitar 500 meter belak belok dari halte. Dari luar tampak biasa tapi setelah masuk ke lobby terlihat sangat kinclong. Hati mulai menciut pasrah. Kamar termurah sudah habis tinggal tersisa harga 190 Lira per malam (sekitar Rp 750.000). Biasanya harga 180 Lira untuk 2 malam, ini hanya semalam dan check in telat. Kemahalan mak...!!


Foto dari google

Saya mencoba nawar ke resepsionis sambil pura-pura polos.

"Pak boleh ga 100 aja, kita kan check in udah telat"
"Ga bisa neng, paling bolehnya 150"
"Besok pagi banget kami check out deh"
"Sama aja neng mau check out jam berapapun"
"Ya udah, kalau gitu numpang ngecas hape ya pak"

Sambil browsing hotel lain dan mengingat menimbang harus geret koper lagi tengah malem serta mengatur perasaan agar ikhlas membayar lebih mahal, kami duduk di sofa empuk beralaskan permadani mewah made in Turkey. Tampaknya memang harus merelakan 150 TL agar sesekali merasakan seperti princess. Lalu saya kembali ke resepsionis yang saat itu sedang berduaan dengan bapak-bapak bermuka jutek dan tampaknya sedang membicarakan kami. Saat saya mendekat pak jutek pergi ke Bar di ujung ruangan, tapi sesekali masih melirik ke saya dan resepsionis.

"Pak saya hanya punya uang 100 kalau hotel yang lebih murah di sekitar sini dimana ya?"
"Memang kamu mau nginap berapa malam?"
"Malam ini aja pak, besok pagi sekali check out"
"Ya sudahlah boleh..." kata bapak meluluh
"Benarkah pak?"
"Iya boleh, tapi lihat tuh bos saya marah" ternyata pak jutek itu bosnya.

Ya biarlah dia marah pak, besok-besok belum tentu ketemu lagi. Entah kapan lagi bisa ke Antalya. Terima Kasih Ya Allah... Terima kasih bapak resepsionis yang baik, terima kasih pak bos yang jutek, yakin deh biar jutek sebenarnya hati bapak lembut. Cakep pula pak. Kalau soal cakep dunia mengakui orang Turki memang cakep-cakep.

Bapak meminta paspor dan memproses administrasi lalu memberikan kunci kamar di lantai 6. Liftnya modern, dindingnya kinclong kemana-mana, semua lantai dilapisi permadani, beda sekali dengan hotel-hotel kami sebelumnya. Kuncinya pun pakai kartu atm bukan grendel krompyongan seperti di rumah. Lebih surprise lagi saat membuka kamar, namanya juga hotel mahal so pasti donk kasur bantal dan selimutnya bagus, kamar mandinya bagus, peralatannya mewah semua. View dari jendela langsung ke laut yang dihiasi tebing-tebing kars. Setelah browsing lebih lanjut ternyata lokasinya tepat di Historic City Centernya Antalya yaitu Kaleiçi. Lalu tersadar dan bengong sendiri...

"Pantesan mahal... Kok berani ya kita nawar hotel kya gini" kata saya ke Amel.
"Kyanya besok ga bisa bangun pagi deh..."
"Ga bakal diusir ini kan, ya udah sebangunnya aja, trus breakfast, pasti makanannya enak-enak"
"Yang penting gw sekarang mau tidur" jawab Amel mulai meringkuk ke dalam selimut.

Benar saja paginya kami keenakan tidur, berhubung saya sedang tidak sholat jadi bablas sampai jam 8 lewat. Kami hanya cuci muka lalu ke lantai paling atas untuk breakfast. Masih pakai baju tidur dan sendal hotel. Ternyata prestisius sekali. Makanan dan minumannya berderet segala macam ada. Piring, gelas dan sendoknya berat-berat, bagus seperti di sinetron rumahnya horang kayaaah... Daaan semua pengunjung berdandan rapi tidak ada yang pakai baju tidur seperti kami. Berhubung muka asing ditambah penampilan nyentrik kami jadi pusat perhatian selayaknya selebritis lewat. Perasaan semua orang menatap dalam-dalam. Semoga karena cinta. Biarinlah kapan lagi mereka melihat muka kya saya kan kasian kalau harus ngejar ke Pacitan.


Restoran di roof top, foto dari google

Jam 10.30 kami check out, syukurlah petugas resepsionisnya sudah ganti dan bapak bos jutek juga tak tampak. Kami masih minta tolong sekali lagi, titip tas sampai nanti malam. Sudah mah nawar masih titip pula... Tapi Alhamdulillah diijinkan. Orang Turki memang baik-baik. Setelah keliling Antalya seharian kami akan naik bus malam ke Cappadocia.

Oiya orang yang teriak-teriak di terminal malam itu ternyata bukan demo. Sebelum berangkat ke Cappadocia saya sempat melihat kerumunan orang berteriak-teriak tapi terlihat happy dan sesekali foto-foto bareng laki-laki gagah yang tampan sekali. Saya mendekat kesana dan tanya ke babang-babang yang ganteng semua.

"Who is he?"
"Ashkar, ashkar..."
"What is Ashkar? Soccer?" saya masih belum nyambung.
"No, Ashkar"
"Moto Gp?" duh pembalab atau apa ya...
"No..."
"Hmm????"

Lalu salah satu dari mereka mengutak-atik hp dan menunjukkan gambar tentara di lokasi perang.

"Ooouuw SOLDIER...!!!"
"YEESSS...!! semua menjawab senang.

Oalaahh kirain demo....
Jadi tentara yang akan ditugaskan atau pulang bertugas dari daerah peperangan akan disambut dan diarak diangkat-angkat sambil teriak "HI ASHKAAR...!!! HI ASHKAAR...!!!"

Begitulah kiranya, sekian dan terimakasih. Sampai jumpa di Cappadocia banyak kisah nangis berdarah (dibaca lebay) yang pernah saya tulis sebelumnya disini Bila Memang Harus Berpisah.

**Mengenang tepat 2 tahun yang lalu tanggal 29 April 2016 saat pertama kali menginjakkan kaki di Turki**

Apr 27, 2018

Bermain Air Di Curug Pribadi

April 27, 2018 0 Comments
Kami menyebutnya Curug Pribadi bukan karena menyewa khusus seperti saudagar yang punya banyak kapal, hanya saat kami datang tidak ada pengunjung lain sehingga terasa semuanya milik pribadi. Curug Cigumawang, itulah nama yang sebenarnya. Terletak di Desa Kadu Bereum, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Dapat ditempuh dengan kendaraan umum maupun pribadi sekitar 1 jam dari Kota Serang.

Curug Cigumawang

Nama Cigumawang dalam bahasa sunda berarti bawang. Konon karena dahulu masyarakat di sekitar curug melihat jatuhan air dengan debit yang deras bentuknya menyerupai bawang. Mitosnya jika orang yang berpacaran berkunjung ke Curug ini pasti akan menikah dan airnya bisa menyembuhkan segala penyakit.

Sayang sekali "Yang Bebeb" tidak ikut serta kesini, tapi setidaknya penyakit lelah saya sembuh setelahnya. Bagaimana tidak, saya pergi bersama sahabat yang baik, asyik, kece dan modern ala jaman now. Teh Ida sang kepala suku yang masakannya paling enak seperumnas, Rizka si ratu endorse dan duo imut yang satu gece yang satu selow yaitu Ifada dan Nanda.

Sehari sebelum hari yang disepakati mobil sang kepala suku tiba-tiba ngambek tidak mau di'starter. Syukurlah setelah diajak jajan ke salon baikan kembali. Tapi drama belum berakhir, pagi itu cuaca cukup membuat hati menciut. Hujan gemericik dari subuh membuat kami enggan menyibakkan selimut. Janjian jam 08.00 diundur ke jam 10.00 sambil berdoa semoga hujan mereda. Ternyata menjelang jam 10.00 belum ada tanda-tanda air menghilang dari langit. Saya sudah mandi dan siapkan baju tapi melihat keadaan semakin deras saya pikir bakal diundur lagi. Sambil menunggu kabar saya bereskan sedikit cucian yang direndam sejak sore.

Selesai menjemur, duo imut yang sudah berdandan rapi dengan segala perbekalannya tiba-tiba mengetok pintu kamar saya mengajak berangkat. Hayo loo.. Kalang kabut loncat-loncat seperti kutu beras. Lari ke kamar sret sret sret...!! Untunglah tidak biasa berpolesan blush on merah kuning hijau, cukup tarik kaos oblong dan kerudung instant tanpa em es ge 10 menit selesai. Lalu pesan go car dan let's go!!

Teh Ida sudah menunggu di depan halte Masjid Agung. Ratu endorse masih otewe. Tidak sampai 15 menit semua pasukan terkumpul dan Bismillah kami berangkat dengan iringan gerimis kecil. Tak lupa mampir ke ke'ep ci di Ramayana beli bekal buat makan siang.

Perjalanan dari Cilegon ke Serang diiringi alunan lagu Yudika dan Rossa khas mobilnya sang kepala suku. Tidak lengkap rasanya jika tidak ada sesuatu yang bisa dikunyah. Duo imut mulai mengeluarkan snack permicinan untuk selingan ngobrol. Tak terasa satu setengah jam berlalu kami sampai di Desa Kadu Bereum Padarincang. Tidak ada parkir resmi disana. Banyak warga yang menawarkan jasa parkir di halaman rumahnya.

Untuk menuju ke curug harus jalan kaki sekitar 1 km melewati jalan setapak di kebun warga, jembatan kayu dan pematang sawah. Lincin sekali apalagi sehabis hujan. Duo imut yang biasa jalan ke mall sedikit kesulitan namun tidak mengurangi semangatnya. Justru jadi keracunan minta diajak naik gunung suatu saat nanti. Okey siaapp...!! Tidak ada tanda petunjuk arah jadi harus rajin tanya ke warga sekitar agar tidak salah ke curug lain yang lebih jauh. Karena kepala suku pernah pergi sebelumnya sehingga kami tidak kesasar.

Selfi dulu mumpung ada jembatan, kapan lagi.. Eh!

Masuk ke area curug dikenakan biaya 10rb per orang walaupun tertulis dipapan hanya 5rb. Dengan berbagai alasan dari abang penjaganya dari pada ribut ya dibayar saja. Pada akhirnya pun tergantikan karena terasa seperti milik pribadi akibat bukan hari libur tidak ada pengunjung yang lain. Semua fasilitas di dekat curug ada saung, mushola dan toilet, bebas dipakai tidak pakai antri.

Sebelum nyemplung kami sempatkan makan siang di saung yang disponsori oleh nasi dan ayam kfc. Ditutup dengan sedikit puding mangga buatan saya yang hanya cukup untuk menggelitik tenggorokan. Lalu berlanjut jungkir balik teriak-teriak sambil pepotoan selfi di bawah curug setinggi 40 meter itu. Air curug tampak kecoklatan seperti cappucino karena efek setelah hujan. Tapi air yang keluar dari sela-sela batu jernih sekali. Beberapa dibuatkan talang dari bambu untuk bilasan dan juga dialirkan ke toilet. Semua bisa dinikmati dengan bebas mau apa saja bebaaass tidak akan mengganggu orang lain.

Punya sendiri mah bebaaasss...

Apalagi si duo imut amat sangat kegirangan menemukan metode baru menghilangkan bulu kaki tanpa pergi ke salon dengan biaya mahal. Cukup digosok-gosok dengan batu kali. Semakin digosok semakin rontok membuat kaki kinclong bercahaya. "WOOOEE CIGUMAWANG TERBAIIIIKKK..."" Begitulah teriaknya berulang kali sambil mengepalkan tangan ke atas melihat kaki dan tangannya jadi mulus seperti artis Korea. Luar biasa senang bisa tampil seksi dengan sekejab bak disulap. Ternyata selain bisa menghilangkan segala penyakit Curug Cigumawang juga bisa menghilangkan bulu kaki. Cigumawang Terbaiiikk...!!!

Gosok teruuuss... Gece geceee...

Namun siapa sangka efeknya terasa setelah mandi dan ganti baju. "Kok perih ya, gatel, merah meraahh... huuaaa sakiiittt..." Saking semangat menggosok kulit arinya ngletek semua tidak berasa hahahaaa...

"Bisa tumbuh lagi ga?" tanyanya dengan muka pucat dan panik ketakutan.
"Bisa, sebulan lagi juga tumbuh"
"Hah sebulaaan?? Huaaaa.... Lamaa..."

Keesokan harinya kaki si duo imut menghitam dan kasar seperti luka yang baru mengering. Terutama si gece paling banyak di kedua kaki dan tangannya. Terpaksa harus rajin mengoles dengan minyak zaitun selama seminggu lebih. Terbaik emang terbaiiiikkk....!! Pengalaman terbaik, iya kan?? Jangan kapok yaa...




Mar 19, 2018

Lofoten Islands Norway

March 19, 2018 2 Comments
Norway

Kepulauan Lofoten terletak di Norwegia bagian utara yang secara geografis masuk ke dalam Artic Circle. Lofoten terkenal dengan keindahan alamnya yang luar biasa. Pegunungan, pantai, desa nelayan dan fjord (celah sempit semacam teluk di pantai yang berasal dari lelehan gletser atau tumpukan es yang besar).

Lofoten mempunyai iklim yang jauh lebih hangat dibanding bagian lain di dunia pada garis lintang yang sama. Antara bulan Mei sampai pertengahan Juli mengalami Midnight Sun atau matahari bersinar hampir 24 jam. Sementara Aurora Borealis atau disebut Northen Lights dapat dilihat pada malam hari di musim dingin antara bulan September sampai pertengahan April. Namun untuk menikmati keindahannya tergantung pada keberuntungan yang dipengaruhi oleh faktor cuaca. Saat cerah hampir semua tempat di Lofoten bisa terlihat aurora. Selain berburu aurora, hal yang dapat dilakukan di Lofoten diantaranya memancing, bermain ski, sea safari, hiking, caving dan bersepeda.

Moskenes

Pulau-pulau di Lofoten terhubung dengan jembatan atau tunnel sehingga memudahkan transportasi antara pulau yang satu dengan yang lain. Terdapat beberapa armada bus umum dengan hanya beberapa kali keberangkatan per hari. Harus hati-hati dengan jadwalnya karena dihari-hari tertentu ada beberapa bus yang tidak beroperasi. Jika ingin lebih mudah bisa menyewa mobil dan menyetir sendiri.

Kota atau desa yang menjadi tujuan wisata di Lofoten antara lain KabelvÃ¥g, Svolvær, Ã…, Ramberg, Nusfjord, Leknes dan Reine.

View dari dalam bus dari Svolvaer ke Leknes. Saat musim dingin sepanjang jalan disuguhi pemandangan gunung berselimut salju serta pantai yang tenang dan membeku.

View sunset dari dalam bus dari Leknes ke Ã…, nama desa paling irit sedunia hanya 1 huruf. Dibaca "O" seperti baca "Gulo Jowo".

Di setiap pulau terdapat desa-desa nelayan dengan rorbu atau kabin tradisional dengan ciri khas berwarna merah yang merupakan tempat pemondokan nelayan. Banyak rorbu yang disewakan untuk penginapan wisatawan. Selain rorbu salah satu yang menjadi ciri khas dari Lofoten adalah Hjelle atau tempat jemuran ikan cod yang disebut Tørrfisk. Perairan Norwegia kaya akan ikan cod. Puncak penangkapannya pada bulan Januari hingga April ketika gerombolan ikan cod berpindah dari Laut Barentz menuju Vesfjorden. Saat itulah kegiatan memancing menjadi sangat menarik terutama di Lofoten.

Rorbu di Reine

Ikan cod yang belum kering digantung di teras rumah penduduk.
Jemuran ikan cod banyak dijumpai di Lofoten. Foto by Mbak Anna Khristriantri.
Ikan cod kering di Circle K tertulis di bandrol, harga per kg 950 KR x Rp 1800 = Rp 1.710.000,- Wuuaaaajegileeeeyy...

Ada berbagai cara untuk menuju ke Lofoten tentunya penerbangan adalah pilihan yang tercepat. Diantara beberapa pilihan rute yang bisa dilalui adalah : 

1. Dari Oslo penerbangan ke Bodo lalu dari Bodo naik ferry ke Moskenes (kepulauan Lofoten yang paling ujung) atau lanjut penerbangan ke Svolvær (ibukota Lofoten) atau ke Leknes.
2. Dari Oslo penerbangan ke Harstad/Narvik lalu naik bus ke Svolvær.
3. Dari Oslo penerbangan ke Tromso lalu lanjut ke penerbangan ke Svolvær atau bisa juga naik Hurtigruten Cruise.

Hurtigruten Cruise adalah kapal pesiar yang menyusuri sepanjang pesisir garis pantai barat dan utara Norwegia, dimulai dari Bergen sampai ke kota paling ujung yang berbatasan dengan Rusia yaitu Kirkenes lalu kembali lagi ke Bergen. Dengan total perjalanan selama 12 hari dan 11 malam. Cruise akan singgah di beberapa kota atau desa nelayan di sepanjang pantai utara Norwegia. Jika ingin ke Lofoten menggunakan cruise ini bisa mengambil beberapa rute saja yaitu naik dari Tromso ke Svolvær. Saat itu saya pergi bersama Ameilia memilih opsi ini atas saran dari sahabat mbak Anna Kristriantri, sang suhu yang kami contek itinerarynya.

Hurtigruten Cruise. MS Vesteralen singgah 1 jam di Stokmarknes.
View Forjd sepanjang perjalanan saat di Hurtigruten Cruise.
Penginapan kami di rumah Tante Oda di Ã…, booking via Airbnb. Saat itu ada 3 kamar di lantai 3 yang disewakan. Kamar saya dan Ameilia, kamar Babang Kamsun India beserta pasangannya dan kamar mbak bule 2 orang entah dari mana. Tante Oda dan keluarga berada di lantai 2.

Melihat Aurora dari loteng penginapan yang berada tepat di depan jendela kamar. Tujuan utama kami kesini bukan untuk berburu si Tricky Lady ini, kalau ketemu syukur tidak juga tidak apa-apa. Malam itu sekitar jam 21.00 kami sudah ngantuk berat dan tidur seperti biasa. Satu jam kemudian ada suara grudak-gruduk babang dan mbak dari India di kamar sebelah lari-lari ke loteng. "Kamsun..kamsun..." panggil babang ke pasangannya (come soon). Saya terperanjat ikut lari keluar, begitu juga dengan mbak bule berdua di kamar sebelah. Dan ternyata si lady sedang menari-nari diatas kepala kami berwarna hijau kadang menipis kadang menebal. Subhanallah... Indah banget. Sayang sekali saya hanya berbekal Hp jadul dan kamera seadanya jadi tidak bisa menangkapnya dengan jelas. Selama 20 menit menari-nari lalu si lady menghilang. Saya kembali tidur ke kamar. Jam 00.00 ada suara grudak-gruduk lagi, si babang manggil "Kamsun... kamsun..." Saya ngintip dari jendela, kali ini si lady muncul lebih banyak dan lebih jelas. Saya serobot jaket dan kerudung lalu keluar menerobos hawa dingin di loteng. Alhamdulillah Ya Allah kami diberi kesempatan melihat fenomena spektakuler yang tidak akan pernah ditemukan di Indonesia. Terimakasih buat babang kamsun yang telah brisik membangunkan kami. Foto ini dari Hp Iphone partner saya Ameilia.

Aurora adalah fenomena alam yang menyerupai pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer dari sebuah planet sebagai akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh Matahari (angin surya). Di bumi, aurora terjadi di daerah sekitar kutub Utara dan kutub Selatan magnetiknya.

***Dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi...

Feb 12, 2018

Semangat 15 Menit

February 12, 2018 0 Comments
"Sudah deket kok tinggal 15 menit lagi" Yes!! Akhirnya perjalanan panjang yang melelahkan ini akan segera menemui ujungnya. Tanjakan menjulang dengan segala bentuk pijakan akan segera terlewati dan menghadiahkan surga dunia nan rupawan. Saya akan berada di puncak tertinggi sebuah gunung yang selama ini hanya mendengar dari cerita. Saya akan punya cerita sendiri dari pengalaman yang belum tentu dimiliki setiap orang. Tapi etapi 15 menit berlalu kok belum sampai juga? Baiklah 15 menit di gunung pastinya beda dengan di mall.

Beberapa jam berlalu masih menapaki tanjakan terjal diantara tebing dan jurang, kok belum juga ada tanda-tanda perjalanan akan berakhir. "Hayo semangat 15 menit lagi sampai, sebentar lagi ada nasi padang, ada es campur, ada indomaret". Begitulah seterusnya tiap kali berpapasan dengan pendaki lainnya. Perkataan tanpa dosa bikin pikiran melayang. Membayangkan nasi padang saat tenaga sedang terkuras, sendal pun jadi terlihat seperti ikan bakar. Air kali dan kerikil jadi seperti es campur dengan toping es krim serta coklat yang meleleh. Namun apa daya semua itu hanya bisa tergantikan dengan biskuit kering, selama persediaan masih ada.

Kata 15 menit lagi ini ternyata cukup menambahkan stamina. Dengan harapan bukan sekedar hoax. Pernah suatu ketika bertemu dengan pendaki yang teramat jujur "Masih jauh mas?" "Masih..." Waduh!! Ternyata bikin nyali semakin menciut seakan tiada harapan untuk segera makan indomie, makanan favorit saat mendaki gunung. Haruskah menyerah turun lagi? Oh tidak jalani saja, kalau capek berhenti istirahat sejenak lalu jalan lagi setapak demi setapak.

Apa sih yang dicari di atas gunung? Apa ya, tidak bisa dipungkiri memang cari capek dan menyusahkan diri. Capek jalan jauh dengan bawaan berat. Susah mau pipis tidak ada toilet. Jangankan bisa mandi, buat minum aja harus diirit-irit. Belum lagi harus meringkuk kedinginan tidur beralaskan tanah. Syukur-syukur kalau tidak turun hujan dan tenda bocor. Kalaupun tidak hujan pasti akan basah kena embun. Jadi tidak salah kan kalau dibilang cari capek dan susah.

Tapi percaya deh sekali coba pasti ketagihan. Saat masih menderita sih bilangnya kapok, ga akan lagi lagi. Tapi kalau sudah pulang dan merasakan betapa hangatnya pertemanan dan kekompakan di atas gunung, semua rasanya pengen terulang kembali. Pengalaman yang saya rasakan di atas gunung, disitulah segala kepribadian bakal terlihat. Memang tergantung setiap orang tapi kebanyakan berperilaku baik, menyenangkan, punya jiwa penolong dan pengertian yang didasari oleh ketulusan. Seolah puncak itu hanyalah bonus. Justru moment yang susah dilupakan adalah kebersamaannya. Seperti saling menyemangati di jalur pendakian dengan semangat 15 menit.

Biarpun bukan pendaki profesional setidaknya saya pernah beberapa kali merasakan betapa indahnya alam ciptaan Yang Maha Kuasa yang belum tentu terjangkau oleh semua orang. Tentunya tidak hanya kenangan foto saja yang saya dapatkan, banyak sekali manfaat yang bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari serta rasa syukur sepanjang waktu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Setidaknya bisa diceritakan ke anak cucu kelak. Ciee...

Pertama kali naik gunung saya perempuan sendiri bersama 3 teman lainnya. Kami menginap di Kandang Badak dan memuncak keesokan harinya. Perlengkapan saya kurang memadai sehingga malam itu kedinginan dan tidak bisa tidur. Apalagi dibuatkan tenda sendiri dan merasa sedikit parno, takut ada binatang buas dan hal mistik. Hal paling lucu saat masak untuk makan malam. Seorang teman bernama Kang Armi membuat telur dadar dan menggoreng ikan asin. Saya hanya melihat sambil membantu doa, enaknya cewek sendiri diperlakukan seperti tuan putri. Selesai itu lalu merebus air untuk membuat kopi. Saya duduk mendekat kompor menghangatkan tangan yang mulai membeku. Lumayan hangatnya terasa sampai di pantat. Kenapa manasin tangan pantat ikutan anget ya? Astagaaa... Ternyata saya duduk diatas telur dan ikan yang baru selesai di goreng. Seketika tawa meledak dan diledek bersahut-sahutan. Namun tetap saja dimakan dibagi rata tanpa rasa jijik.

Kawah Mati Gunung Salak. Ini saat camping 3 hari di Gunung Bunder dan hanya trekking setengah hari. Tujuannya ingin ke Kawah Ratu tapi baru sampai di Kawah Mati turun hujan dan terpaksa harus segera kembali. Karena akan menyeberang sungai yang jika hujan bisa banjir. Selain itu jalur pendakiannya pun kebanyakan jalur air. Saya mempercepat langkah sampai tidak terasa kedua teman saya tertinggal jauh, dipanggil tidak ada jawaban. Di tengah hutan belantara gelap oleh pepohonan rimbun menunggu diam hanya membuat merinding. Apalagi di Gunung Salak yang punya seabreg cerita mistik. Dengan Bismillah dan dzikir tiada hentinya saya meneruskan langkah hingga sampai ke tenda penginapan. Tidak bertemu orang satu pun selama perjalanan. Selang 2 jam kedua teman saya baru sampai, berarti jarak kami lumayan jauh. Sempat bergidik jika teringat cerita tim evakuasi saat terjadi bencana pesawat Sukhoi, bertemu nenek-nenek tengah malem di jalur pendakian gunung itu. Masak iya nenek-nenek pergi ke gunung tengah malem mau ngapain? Kembali lagi ke niat keluyuran ke gunung, hanya ingin refreshing tidak untuk berbuat jahat, Insya Allah tidak akan ada apa-apa. Alhamdulillah sampai dengan selamat... 

Menuju Puncak Salak I. Kami ber-6 dan saya perempuan sendiri. Jalur pendakian lewat Cidahu lumayan jumpalitan. Tebing setapak berlumpur, berlumut dan sangat licin. Banyak sekali menaiki tebing yang harus bergelantungan pakai tambang dan saling menjaga diantara yang lain. Disinilah kekompakan begitu terasa.


Sebenarnya kami ber-12, 9 orang dewasa dan 3 anak kecil. Tapi hanya camping di Ranukumbolo, yang sampai ke puncak Mahameru hanya ber-4, Saya, Kang Armi, Kang Udin dan Dokter Rudi. Total 5 hari 4 malam kami berada di alam nan indah tanpa sinyal. Alhamdulillah cuaca selalu cerah hanya hujan kipyik-kipyik tidak sampai membasahi baju, saat turun lagi ke Ranupane. Kami ber-4 menginap di Arcopodo saat hendak memuncak, tidur setenda memakai pakaian setebal mungkin yang kami bawa, bahkan Kang Udin ditambah jas hujan. Lalu meringkuk masing-masing di dalam sleeping bag. Eh ternyata tengah malam kegerahan. Ternyata suhu di Arcopodo tidak sedingin di Ranukumbolo. Jam 12 malem kami mulai memuncak hanya berbekal air dan beberapa makanan, semua ditinggalkan di tenda Arcopodo. Sekitar 1,5 km harus mendaki jalur berpasir setinggi lutut. Tiga langkah maju ke depan lalu mundur lagi 2 langkah. Kadang lebih mudah merangkak. Jalur berpasir terasa lebih berat. Semakin ke atas udara semakin dingin dan pasir semakin dalam. Tak jarang menimbulkan longsor yang bisa membahayakan pendaki di bawahnya. Kebetulan saat itu saya dalam keadaan dismenorrhea, sang tamu datang tepat di tengah jalur pendakian itu. Berbekal semangat dari teriakan pendaki diatas "Hayoo 15 menit lagi kita sampai...!!" Terus saja 15 menit, kenyataannya membutuhkan lebih dari 5 jam hingga sampai di puncak.

Mahameru, Puncak tertinggi di Pulau Jawa 3676 mdpl. Disini ada pendaki yang membawa puding mangga Nutrijel dan dibagi dimakan bareng-bareng. Saya cukup mengambil sesendok karena rame-rame biar yang lain juga kebagian. Rasanya itulah puding ternikmat yang pernah saya makan. Dingin seger kenyal-kenyal dan manisnya pas. Sampai-sampai saya berucap nanti jika pulang mau bikin yang banyak dan makan sepuasnya. Semenjak itu sampai sekarang, seringkali saya membawanya camping atau jalan-jalan sekedar ngumpul dengan teman-teman. Ternyata teman-teman pun juga merasakan nikmatnya puding mangga yang saya buat tanpa menambahkan apapun, hanya air secukupnya. Lalu mereka membuatnya sendiri di rumah. Terima kasih Nutrijel. Bukan iklan ya hanya sharing aja. Dibalik kebahagiaan ini sebenarnya saya lagi nahan pipis dan beabe serta pengen ganti pembalut. Berhubung di puncak tidak ada penghalang sama sekali, terpaksa saya menahannya hingga turun lagi ke Arcopodo, yang banyak semak belukar dan pepohonan untuk bersembunyi.
Puncak Prau, Jangan lupa sampahnya dibawa turun lagi ya gaes. Saya kesini hanya berdua dengan Pak Budi (senior Grupala in my office)

Para kaum adam sedang memasak. Lokasi : Jalur Pendakian Gunung Salak, belokan ke Kawah Ratu.

Puding Mangga Nutrijel menjadi menu favorit

Kaum hawa yang nyuci aja. Lokasi : Cilember.

Makaaann... Lokasi : Jalur Pendakian Gunung Salak.

Nasinya setengah gosong setengah mateng, nikmatnya tidak kalah dengan nasi Jepang

Behind the Scene, kalau ga nemu air ya pakai tissue basah.
Check Out, packing waktunya pulang. Lokasi : Kandang Badak Gunung Gede.

Kongkow sampe mid night. Om Adi dengan gitar favoritnya, Kang Armi siap menjadi vokalis dengan suara yang banyak keluar dari not nya. Yang penting Happy!!!

All Grupala, biasanya ibu-ibu dan balita bikin tenda di camping ground yang deket air biar anak-anak (junior grupala) bisa nyempung maen seharian. Nah bagi yang masih kuat silahkan memuncak. Lokasi : Cidahu Sukabumi.

Sumpah kangen banget dengan semua moment-moment ini. Jauh dari sinyal, listrik dan fasilitas seadanya adalah kenikmatan tiada tara. Penat sehabis kerja hilang seketika lalu kembali ke kantor dengan membawa semangat baru dan harapan baru semoga liburan nanti bisa mengulang kembali. Ingat selalu pesan nenek ya, jangan mengambil sesuatu kecuali gambar, jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak dan jangan membunuh sesuatu kecuali waktu. Be Smart Hikers!! Then I am so grateful for this life that Allah has given me. Alhamdulillah...!!!