Dec 9, 2020

Myanmar Pada Suatu Hari

December 09, 2020 0 Comments
Malam itu saya beruntung bisa melewati imigrasi di Yangon International Airport dengan lancar. Kebagian petugas yang murah senyum walaupun mukanya tetap dingin dan datar seperti lempengan es. Tidak ada pertanyaan yang mendebarkan hanya ucapan selamat datang "Enjoy your vacation".

Keluar airport mulai disambut dengan tulisan keriting seperti bawang goreng setengah gosong. Sebagian ada terjemahannya, sebagian polos. Paras orang Myanmar seperti orang Indonesia hanya beda penampilan. Mereka sehari-hari memakai baju khas yang disebut Longyi. Seperti sarung untuk laki-laki dan kebaya untuk perempuan. Bagaikan kaum adam yang pulang dari masjid atau sedang sunatan massal. 

Gigi mereka berwarna merah kehitaman karena sering makan sirih (nginang). Serta cemong-cemong di muka memakai Thanaka atau bedak dingin kalau di Indonesia.


Belanja oleh-oleh di supermarket

Untuk menyambung nyawa di negaranya Ibu Aung San Suu Kyi, saya menukar uang ke money changer di pintu keluar airport. Uang Myanmar tidak dijual di Indonesia sehingga membawa USD menjadi solusi yang tepat. USD juga diterima untuk pembayaran di Myanmar. Tapi hanya seri terbaru dan yang masih kinclong. Dolar kucel bakal ditolak mentah-mentah karena sungguh tidak pantas, masih banyak yang lebih baik di luar sana. Halah! 

Saya menukar 100 USD menjadi 142.600 Ks, kalau dirupiahkan tinggal ditambah nol 1. Dari selembar ditukar jadi berlembar-lembar mendadak berasa jadi orang kaya. Maklum banyak pecahan 1000 bikin dompet jadi tebal.

Tak lupa saya membeli simcard lokal untuk mengaktifkan paket data internet. Koneksi internet sangat diperlukan di Myanmar terutama untuk melihat google map dan memesan grab. Saya membeli merk Ooredo 5GB 7000 Ks. Ada juga merk lain di gerai sebelahnya. Mbaknya memasangkan simcard ke Hp dan diaktifkan sampai beres.

Saya ketinggalan info jika bus umum ke kota sudah bisa di akses dari pintu keluar airport. Bus jurusan ke Sule Pagoda yang mana dekat dengan penginapan yang saya booking. Tinggal jalan kaki 500 m. Untuk naik bus ke kota sebelumnya harus keluar airport sekitar 1 km. Karenanya saya memesan grab langsung ke hostel dengan ongkos 8000 Ks. Padahal naik bus hanya 500 Ks. Ya gapapa kan orang kaya. Dompetnya aja tebal penuh dengan uang seribuan.

Sepanjang jalan diam membisu tidak ada obrolan dengan babang grab karena keterbasan bahasa. Babangnya bebetan sarung digulung di pinggang, pakai atasan kemeja putih yang sudah berubah warna dan giginya merah kehitaman karena tak henti mengunyah racikan daun sirih. Di kampung jaman dulu banyak mbah-mbah nginang tapi sekarang jarang sekali generasi penerusnya. Pernah nyicip rasanya pedes-pedes getir pait bhaaghh.. Gak jelas! Entahlah kenapa sangat disukai di Myanmar ini.

Sampai di penginapan saya segera tidur karena perjalanan 8 jam ditambah transit di Malaysia 3 jam lumayan melelahkan. Menyiapkan tenaga untuk esok hari. Untuk makan malam masih ada bekal dari kosan. Petugas di hostel baik-baik semua, sopan dan lancar bahasa Inggris biarpun dialeknya beda.

Sarapan pagi disediakan di hostel. Ada 2 pilihan mie goreng dan sandwich. Ditambah buah semangka dan kopi atau teh bikin sendiri. Saya makan mie goreng. Makanan halal di Myanmar tidak begitu mengkhawatirkan. Penduduknya mayoritas Buddist dan banyak vegetarian.

Selesai sarapan saya duduk di rooftop dan berkenalan dengan traveler dari Perancis, Valencia dan Grace. Mereka traveling 3 bulan keliling Indochina.

"Indonesia katanya negara yang bagus tapi kami belum bisa ke sana saat ini"
"Iya negara kami banyak pulau dan pantai. Apa kalian akan pergi ke Bali?" biasanya orang bule demennya Bali.
"Oh no, Bali banyak Australian rese kami tidak ingin kesana"
"Betul hahaha..."

Sok akrab sama bule ada untungnya juga. Sore harinya kami sama-sama pergi ke terminal Aung Mingalar yang jauh dari pusat kota Yangon. Ongkos naik grab 100 ribuan. Saya diajak bareng dan dikasih gratis. Rejeki anak mamih. Kami akan pergi ke Bagan naik bus malam. Bedanya saya naik yang bisnis class, mbaknya VIP. Segini dululah ya ceritanya kapan-kapan disambung lagi. Jiayou!!

Oct 27, 2020

Sebel Tak Berdaya

October 27, 2020 0 Comments
Akhir-akhir ini kerja sangat tidak nyaman. Temen satu tim tidak lagi asyik. Masih membuang muka saat berpapasan. Masih tidak terima karena salah satu anggota grupnya terseret namanya saat saya positif corona. Sebelum-sebelumnya pun memang telah bertabur kebencian. Sehingga saat kerja bareng di dalam satu ruangan selalu terjadi perang batin. Berusaha sebaik apapun jika terlanjur tidak suka ya tetap tidak suka. Jangankan menyapa, sekadar melirik pun sepertinya berat.


Saya memang bukan orang baik. Saya tidak akan bisa menyenangkan semua orang. Wajar jika tidak semua orang menerima saya. Saya pun tidak akan masuk ke dalam lingkaran orang lain jika mereka terlihat keberatan. Saya datang bukan untuk mencampuri urusan mereka tapi karena terpaksa urusan kerja. Hanya sebatas itu tidak ada tujuan lain.

Memang tidak perlu diambil hati mengingat teman yang tulus berteman di luar sana lebih banyak. Tapi tidak semudah itu pablo tidak bisa dibawa cuek. Mulut bisa ngomong "Biarin Aja" tapi hati tidak. Tetap ganjil selama masih tampak di depan mata. Muka ditekuk, cemberut, buang muka, jalan membusungkan dada.. Hiiyyy lengkap!!!

Seandainya bisa memilih pengen rasanya keluar dari tim yang baru terbentuk karena pandemi ini. Mending rebahan di rumah sambil ngelus-elus kucing. Namun apa daya saya bukan cucu keluarga cendana. Pengen cuti tapi bingung mau kemana. Pulang kampung tidak mungkin. Orang tua sudah manula sangat beresiko tinggi terhadap corona. Jalan-jalan juga tidak mungkin. Tempat kerja melarang untuk tidak bepergian selama kondisi belum aman. Tidak ada pilihan lagi selain harus berdamai dengan keadaan. Ya sudahlah nona terserah. Lanjutkan cemberutmu itu. Moodian sekali kau!!

Oct 21, 2020

Kenapa Tiba-tiba Aneh?

October 21, 2020 2 Comments
Selama pandemi saya tidak kemana-mana kecuali tempat kerja dan kosan. Karena kerjaan saya beresiko sekali yaitu mendeteksi corona lewat tes PCR. Setiap hari bergelut dengan ratusan sampel swab yang diantaranya positif. Biarpun dibekali dengan APD berstandar yang Insya Allah sangat aman tapi demi meminimalisir resiko saya lebih baik mengasingkan diri. Selalu menjaga jarak dengan orang lain. Soal belanja kebutuhan hidup saya sering titip ke teman atau mampir ke koperasi di tempat kerja saat suasananya tidak terlalu ramai. Sesekali jika harus ke supermarket, saya pasti mematuhi protokol kesehatan. Pakai masker, jaga jarak, cuci tangan dan mandi setelah pulang.

Suatu hari saya merasakan keanehan. Badan lunglai, meriang, demam yang tidak seberapa dan migrain. Apakah ini gejala covid? Masak sih? Untuk meyakinkan saya mencoba telpon teman yang saat itu sedang di rawat di ruang isolasi karena positif covid. Apa yang dirasakannya? Tidak enak badan atau ringkih sekali, demam, pusing, sesak nafas, insomnia dan anosmia. Bener-bener tidak bisa mencium bau dan merasakan apapun.

Lalu saya mencoba menempelkan benda-benda yang berbau tajam ke dekat hidung, dari mulai parfum, sambel, ikan goreng bahkan kucing pun saya cium-cium. Semua masih tercium tidak ada perubahan apapun. "Oke, berarti bukan covid" pikir saya. Lagi pula demam juga tidak seberapa tinggi hanya sekitar 37°C, bersin hanya sesekali, tenggorokan kering juga masih bisa dimaklumi karena setelah minum pasti lega. Batuk juga hanya karena tenggorokan agak gatal seperti digelitik. Semua tidak terasa berat tetapi mengganggu aktivitas. Kepala terus-terusan berdenyut pusing seperti dipahat.

Kebetulan siklus datang bulan bersamaan dengan munculnya gejala ini. Biasanya memang tidak enak badan, lemes, migrain apalagi di hari pertama dan kedua yang sedang banyak-banyaknya. Tidak adanya anosmia meyakinkan bahwa saya tidak terkena covid. Badan lesu pasti karena sedang haid sehingga tetap masuk kerja seperti biasa.

Sampai hari-hari berikutnya perasaan aneh itu tidak juga menghilang. Tidak ada nafsu makan. Makanan favorit pun tidak mengundang selera. Tapi harus dipaksakan makan teratur. Harus makan nasi 3 kali sehari ditambah dengan sayur, buah dan vitamin. Karena itu akan menjadi penolong agar badan tetap fit dan imun terjaga. Untuk indikator kena corona atau tidak, lagi-lagi saya mengandalkan mencium parfum setiap saat. Jika masih tercium berarti tidak kena.

Pernah suatu ketika saya penasaran dan minta di'swab. Tapi teman saya meyakinkan bahwa itu semua wajar karena sedang haid. Sebenarnya dia juga takut seandainya saya positif berarti dia yang kontak erat dengan saya juga dipertanyakan. Saya mencoba mencium parfum lagi. Masih tercium bau wanginya. "Bukan kali ya..." Positif thinking dan tetap dibawa happy karena itu juga bisa meningkatkan imun.

Saya mulai curiga biasanya migrain karena haid hanya sekitar 1 - 2 hari. Ini lebih dari 3 hari kenapa belum hilang juga? Kali ini tidak mau terkecoh lagi dengan aroma parfum. Saya minta tolong teman untuk mengambil swab nasofaring sebelum saya mulai aktivitas pada hari itu. Setelah 9 hari merasakan keanehan. Hidung dikorek sampai kedalaman hampir 10 cm sungguh sangat tidak nyaman. Pedes perih seperti keselek kemasukan cabe. Menyisakan rasa mengganjal di hidung beberapa saat.

Saya kerjakan sendiri sampel saya bersamaan dengan pasien yang lain. Tahap demi tahap terlewati. Rasa deg-degan dapat terlupakan oleh canda tawa bersama teman satu tim sepanjang proses. Hingga akhirnya pada bagian terakhir saat pembacaan hasil. Teman saya menganalisa dan saya mencatatnya untuk laporan. Tibalah giliran punya saya. Mak Jreeeng!!! Warnanya merah yang artinya POSITIF. Saking bingungnya semua jadi lupa untuk bersedih. Kami saling menertawakan satu sama lain karena selama ini kontak erat di ruangan yang sama selama berjam-jam dan berhari-hari. WADUH KOK BISA?

Sepulang kerja saya mengingat kembali aktivitas selama 14 hari ke belakang. Kemana saja dan kontak dengan siapa. Saya tidak kontak langsung dengan pasien. Hanya dengan ratusan VTM (Virus Transport Media) yang sudah terisi swab nasofaring. Tapi Insya Allah selalu menggunakan APD sekali pakai saat mengerjakannya. Kontak dengan teman di lab utama tidak seberapa lama hanya saat mengambil logistik dan memberikan laporan. Semua pasti sedang memakai masker. 

Nah rupanya di lab biomolekuler sendiri yang saya merasa agak acak-acakan. 14 hari sebelumnya ada salah satu dari teman kami tenaga tambahan yang terkena flu dan tetap masuk kerja. Kami semua termasuk bos sudah mengingatkan untuk periksa swab atau istirahat dulu dari pada membahayakan orang lain. Tapi ditolak mentah-mentah dengan alasan "Kalau positif gimana?" Lah kok aneh ya kalau positif diobati. Terkena covid bukanlah aib tapi musibah. Seluruh dunia sedang berjuang melawannya.

Keras kepala tetap tidak mau dan masih masuk kerja karena merasa hanya flu biasa, badan masih kuat. Padahal sedang ketakutan juga karena sekeluarga terkena batuk. Ya kalau takut kenapa tidak mau swab, toh bisa periksa sendiri gratis. Ya Robbi lindungi kami semua...

Memang dia selalu memakai masker dan jaga jarak saat kontak dengan saya. Tapi gimana dengan pemakaian toilet? Delapan jam kerja tidak mungkin tidak ke toilet. Pegang kran, semprotan wc, gagang pintu dan yang lainnya. Setelah itu dipakai orang lain termasuk saya. Sangat disayangkan bos-bos yang mengetahui hal itu terkesan cuek tidak peduli keselamatan kami. Tidak ada keharusan untuk swab atau isolasi selama terkena flu. Dibiarkan semaunya yang penting kerjaan selesai. Ya Allah sedih sekali ingat hal itu.

Walaupun begitu ya wallahualam saya terpapar dari mana. Tidak bisa dipastikan juga apakah dari teman saya itu atau bukan. Karena dia juga tidak diperiksa baik swab maupun cek yang lain. Tidak tau apakah positif atau memang flu biasa. Namun secara kronologis tepat sekali. Dari artikel yang saya baca gejala akan muncul 5-7 hari setelah terpapar. Pada beberapa kasus bahkan hanya 3 hari. Saya muncul gejala setelah 4 hari memakai toilet bekas teman saya. Tapi karena terkecoh dengan gejala saat PMS dan tidak ada anosmia saya tidak menyangka jika si penjahat itu telah bersarang di badan saya.

Saya baru swab setelah hari ke-9 bergejala dan dinyatakan positif. CT value sudah mulai merendah. Sepertinya virus tinggal sisa-sisa. Hari ke-11 saya swab lagi alhamdulillah hasilnya negatif. Agar lebih yakin hari ke-13 saya swab lagi dan tetap negatif. Secara klinis memang covid bisa menghilang antara 10 - 14 hari setelah terpapar jika daya tahan bagus. Jika benar saya terpapar di hari yang diperkirakan berarti di hari ke-14 virus sudah menghilang. Tapi lagi-lagi hanya Allah yang tau. Yang penting saya sudah sembuh dan bisa beraktifitas lagi.

Justru yang membuat khawatir adalah teman-teman yang kontak erat selama saya belum ketauan positif. Ada yang punya bayi, balita serta orang tua yang punya penyakit bawaan. Sangat mungkin sekali pulang kerja membawakan makhluk yang tidak pernah diharapkan kehadirannya itu. Tapi Allah menunjukkan kuasa-Nya. Alhamdulillah mereka semua negatif. Terima kasih Ya Allah.

Kisah ini bisa menjadi pelajaran khususnya buat saya sendiri. Jangan anggap remeh corona. Patuhi protokol kesehatan. Jaga jarak, memakai masker, cuci tangan dan makan teratur. Jika curiga tidak enak badan setelah kontak dengan orang sakit lebih baik langsung periksa apalagi jika ada fasilitas gratis atau jika keadaan tidak memungkinkan setidaknya isolasi agar tidak membahayakan orang lain. Selain melindungi diri sendiri lindungi juga orang lain. Gejala covid sangat bervariasi pada setiap orang tergantung daya tahan tubuh, usia, penyakit bawaan atau tingkat keganasan virus itu sendiri. Lebih baik mencegah dari pada berakibat fatal. Semoga Allah segera mengangkat si corona dari muka bumi ini. Aamiin Ya Robbal Alaamiin...

Oct 17, 2020

Corona

October 17, 2020 0 Comments
Novel Coronavirus si makhluk renik serta penjahat paling killer hingga saat ini belum menghilang dari muka bumi. Delapan bulan lamanya telah mampir ke Indonesia dan hampir merata ke seluruh dunia. Semakin hari kasus bukan semakin berkurang tapi malah meningkat dan terus meningkat. Beragam kisah sedih dari mulai kehilangan orang-orang terkasih hingga kehilangan penghasilan bertebaran dimana-mana. Entah mau jadi apa dunia ini. Hanya Allah yang tau.

Tenaga kesehatan di rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya menjadi garda terdepan dalam melawan virus ini. Dengan meningkatnya kasus meningkat pula tugas yang dihadapi. Berlipat-lipat dari biasanya. Tak sedikit dari beliau yang justru menjadi korban dari ganasnya virus ini. Gugur dalam tugas pasti akan diterima di surga-Nya yang luar biasa indah. 

Tidak bisa bertemu dan melewati hari bersama keluarga tercinta menjadi hal yang harus direlakan hingga waktu yang tidak ditentukan. Demi kebaikan bersama menjaga jarak sangat dianjurkan. Kita tidak tau diantara kita siapa yang telah terpapar olehnya dan tidak menunjukkan gejala apapun. Dia tidak pandang bulu. Siapapun bisa ditempeli dan diinjak-injak tiada ampun. Hanya daya tahan tubuh dan kekuatan dari Allah yang bisa melawannya.

Seuntai doa senantiasa dipanjatkan semoga kita semua tetap dalam lindungan Allah SWT dijauhkan dari makhluk paling menyebalkan ini. Innalillahi wa innaillaihi roji'un.

Aug 6, 2019

Terjebak Di Antara Suporter Bola

August 06, 2019 0 Comments
Gara-gara memanfaatkan tiket unlimited sore itu saya keliling sendirian di Amsterdam. Sekadar melangkahkan kaki daripada nganggur karena sudah beli tiket mahal kalau tidak dipakai sayang. Tiket yang mengcover hampir semua angkutan umum di Amsterdam seperti train, tram dan bus kota untuk 1 hari. Selagi masih berlaku ceritanya. Saya tidak berbekal itinerary apapun. Hanya selembar peta untuk keliling di sekitar jalur tram.

Saat itu malam minggu dan ternyata ada pertandingan bola Club Belanda melawan Club Jerman. Entah apa namanya karena bukan pecinta bola jadi tidak mau tau. Banyak orang segala usia keluar rumah untuk nonton bareng di cafe. Ramai sekali. Suara yel-yel dan teriakan bersahut-sahutan di beberapa sudut kota.

Semakin sore semakin ramai. Banyak orang berkejar-kejaran sambil teriak entah ngomong apa bahasanya Belanda semua. Segerombol pergi, segerombol datang lagi. Begitu seterusnya sampai beberapa kali. Saya mulai deg-degan teringat media massa yang sering memberitakan tawuran antar suporter bola. Jadi bingung, kalau kembali pulang berarti harus jalan ke Stasiun Central dan melewati kerumunan mereka, diam di pinggir jalan semakin tenggelam oleh mereka yang berdatangan dari segala arah, mau naik tram berjubel penuh dengan mereka. Bisa-bisa disangka penyusup karena secara pakaian saya beda sekali. Tidak ada orang berkerudung kecuali saya. Lalu hanya bisa pasrah di pojokan halte sambil makan rumput. Makan wafle ding tapi ketempelan rumput kering tidak sengaja kemakan hehhe... Syukurlah tidak memakai atribut apapun yang berbau bola. Warna baju juga tidak senada dengan kedua club itu.

Setelah agak sepi, datang tram di jalur 2 yang katanya jalur paling bagus banyak melewati landmark di Amsterdam. Karena lumayan kosong saya melanjutkan niat keliling memanfaatkan tiket unlimited. Saya naik dan duduk di tengah dekat ke jendela. Lumayan bisa berlindung dari pasukan yel-yel yang masih tersisa. Eh ternyata di halte berikutnya ada yang naik lagi. Sampai berjubel empet-empetan. Nyanyi teriak-teriak sambil gebrak-gebrak dinding tram. Tadinya kalau ketemu tempat yang bagus saya akan turun. Ternyata tidak bisa lewat. Ditambah bahasa pengumuman di tram juga roaming. Auto ngeblanck entahlah posisi sampai di mana. Pilihannya hanya pasrah dan berencana turun di pemberhentian terakhir lalu balik lagi.

Bonus di dalam Tram

Menjelang stasiun terakhir penumpang tersisa 3 orang. Lokasinya semakin menepi dan sepi, entahlah stasiun apa. Atau mungkin belum stasiun terakhir saya juga tidak tau. Semua penumpang turun. Saya ikut turun dan berniat naik tram ke arah sebaliknya. Namun sial, tidak ada tram ke arah sebaliknya. Jalurnya hanya satu. Beberapa meter dari halte tram terdapat halte bus. Dua penumpang itu jalan kesana. Saya mengikuti di belakangnya. Tiba-tiba mereka naik ke bus yang lewat entah jurusan mana. Tinggallah saya sendiri dan 2 orang di halte seberang. Pengen nangis kejer tapi ditahan.

Saat pasrah menunggu keajaiban datanglah 2 bus berwarna biru dan merah. Saya  bertanya ke pak sopir bus ke airport. Saya akan pulang. Hotel saya dekat dengan airport, sekali naik free shuttle bus dari sana. Tapi kata pak sopir, bus sudah berhenti beroperasi. Baru sadar biarpun masih terang benderang seperti jam 15.00 waktu di Indonesia ternyata sudah hampir jam 21.00. Sudah malam bok pantesan rumah-rumah banyak yang sepi. Musim panas waktu siangnya lebih panjang. Sedangkan angkutan umum tetap beroperasi sesuai jadwal tanpa tergantung pada musim. Pak sopir menyarankan naik bus berikutnya. 

Tidak ada bus langsung ke airport harus transit di sebuah terminal yang saya tidak tau namanya. Pokoknya bus berhenti terakhir disitulah saya turun. Beruntung sekali bus itu berhenti tepat di sebelah bus jurusan Schipol Airport. Dengan bonus mas sopir yang baik, gagah dan berambut klimis. Rejeki anak sholeha di tengah kesulitan.

Celingukan menunggu keajaiban

Setelah 30 menit menunggu, bus mulai meninggalkan terminal misterius itu. Biasanya dari airport ke pusat kota hanya beberapa menit menggunakan kereta. Berhubung naik bus ternyata jauh sekali. Melewati tengah kota dengan beberapa kemacetan akibat lampu merah dan masuk ke jalan tol. Syukurlah sampai di airport masih terangkut oleh shuttle bus terakhir ke hotel. Alhamdulillah akhirnya Inem bisa pulang dengan selamat. Sampai di hotel waktunya maghrib jam 22.30. Niat memanfaatkan aji mumpung malah berdebar sepanjang jalan.

Jan 23, 2019

Anti-flea Shampoo

January 23, 2019 0 Comments
A Couple months ago at my sisters house I took a shower in the morning and I washed my hair. When I brushed my hair with shampoo it didn't lather or foam and I began to wonder why? I thought I took too little shampoo then I took more but nothing changed. Instead my hair felt oily and it seemed to make my hair more dirty. It was then I had a closer look at the bottle of shampoo and to my utter shock and horror, it wasn't shampoo but a conditioner. Who is stupid? The bottle looks the same.

I looked for shampoo. I read all the bottles in the bathroom but there was no shampoo. I only found shampoo for babies can be seen from the bottle with a cartoon picture and smells of fruit. Who has this? My sister doesn't have a baby. I don't want to think about it. I was forced on using it just not make me feel more clean. But it's okay because I didn't have much choice.

When I am finished I told my sister. She was laughing so hard while saying "Honey that's not shampoo for babies but for Echia. Sorry I forgot to tell you I ran out of shampoo in the bathroom. But it's okay, never mind it's fair to say you don't have fleas in your hair because you used anti-flea shampoo".

Echia is her favorite CAT !!! 😭😭😭

Dec 15, 2018

Giethoorn Desa Bebas Polusi

December 15, 2018 0 Comments
Giethoorn merupakan desa di Belanda yang terkenal dengan keasriannya. Tidak ada jalan raya maupun kendaraan bermotor sehingga bebas suara bising dan asap knalpot. Desa ini terdiri dari pulau-pulau kecil yang dikelilingi oleh sungai berair jernih dan tenang. Transportasi utama di desa ini menggunakan perahu boat serta dayung sampan. Tapi hanya diperbolehkan perahu yang bersuara lembut atau whisper boat. Tidak ada perahu mesin diesel bersuara brisik sehingga suasana tetap hening, tenang dan nyaman. Jika tidak banyak pengunjung hanya terdengar suara kicauan burung dan celotehan bebek berenang. Cocok sekali untuk relaksasi mencari kedamaian. Biarpun tidak ada kendaraan desa ini sangat modern dan bersih tidak ada sampah.

Terletak di daerah Steenwijkerland, Propinsi Overijssel, Belanda utara. Sekitar 2 jam dari Amsterdam yaitu menggunakan kereta dari Amsterdam Central ke Steenwijk selama 1 jam lalu naik bus nomer 70 ke arah Zwartsluis dan turun di Dominee Hylkemaweg yang berangkat setiap 1 jam sekali. Jika oneday trip setidaknya sediakan waktu 5 jam untuk pulang pergi. Pastikan dengan benar jadwal keberangkatan bus karena jika tertinggal bisa menunggu lumayan lama.

Dari halte Dominee Hylkemaweg belum terlihat desa cantik itu. Jalan kaki sekitar 300 meter mulai terlihat adanya rumah tradisional khas Giethoorn yang sangat unik. Tidak ada gerbang khusus yang menandai pintu masuk. Hanya berderet perahu boat di sungai di pinggir jalan untuk disewakan. Saat musim panas pengunjung sangat ramai perahu ini selalu full booked. Sehingga disarankan untuk booking online sebelum berangkat. Syukurlah saya kesana saat musim semi pengunjung tidak begitu ramai dan masih banyak pilihan perahu.

Harga tergantung rute yang akan ditempuh. Ada rute 1 jam, 2 jam dan 3 jam. Karena rute 2 dan 3 jam hanya beda sedikit saya hanya mengambil rute 2 jam. Perahu berkapasitas 6 orang dengan harga 30€. Jika bepergian sendiri / solotravel bisa membeli tiket sharing perahu yang berkapasitas 45 orang seharga 7.5€ per orang untuk rute 1 jam. Bisa juga menyewa sepeda mulai dari 10€ per jam. Tapi pilihan sepeda tidak terlalu banyak. Agar terasa lebih dekat, gratis dan bebas pikiran dari mengembalikan perahu atau sepeda sewaan, jalan kaki adalah pilihan terbaik.

Kita lihat yuk seperti apa indahnya desa negeri dongeng ini. Jangan lupa siapkan kamera dan memori card sebanyak-banyaknya. Sekalian juga siapkan baju prewedding setidaknya 10 pasang. Desa romantis ini sangat cocok sekali dijadikan tempat untuk mengabadikan moment dan dicetak di kartu undangan.

Welcome to Fairy Tale "Rudolvo".

Saat musim dingin sungai ini akan membeku dan biasanya dijadikan tempat bermain ice skating.

Setiap rumah punya boat pribadi.

Terdapat sekitar 180 jembatan penghubung antar pulau kecil.

Atap jerami dan ijuk lebih mahal dari pada atap genteng.

Desa ini berada di tanah pertanian gambut dengan rumah tradisional beratap jerami dan ijuk yang berumur lebih dari 100 tahun. Desa yang dijuluki "Venice of Netherlands" ini konon dibangun pada tahun 1230 hingga saat ini berpenduduk sekitar 2600 orang.

Selain bekeliling dengan perahu boat kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah mengunjungi museum. Desa ini memiliki dua museum yang terkenal, yaitu Museum De Oude Aarde yang memamerkan batu atau mineral dari berbagai belahan dunia, serta Museum Het Olde Maat yang menampilkan Giethoorn 100 tahun yang lalu.

Semua tempat menarik untuk foto pre dan post wed-wed.

Di desa ini tidak boleh didirikan hotel, tapi banyak penginapan semacam guest house dengan konsep bed and breakfast.

Sungai yang jernih dan tenang.

Maen ke rumah nenek sekalian survey tempat untuk foto prewedding.

Whisper Boat.

Lelah berkeliling desa berfoto jeprat jepret di depan rumah negeri dongeng, bisa mampir ke restaurant dan cafe yang menyediakan berbagai menu kebarat-baratan. Yang pasti tidak akan ditemukan nasi ataupun bakso. Padahal duduk di pinggir sungai sambil nyeruput kuah bakso anget-anget akan menjadi hal yang istimewa tapi lupakan itu. Saya hanya membeli es krim dan wafle yang rasanya seperti es krim pada umumnya. Jangan lupa membeli cendera mata khas Giethoorn sebagai kenang-kenangan di toko pernak-pernik yang masih berada di kawasan desa ini.