Nov 22, 2021

Pasrah Ya Allah

November 22, 2021 0 Comments
Hal terberat anak perantauan adalah kala orang tua di kampung sakit. Sudah kewajiban seorang anak harus berada di sampingnya. Namun pilihan yang tak kalah beratnya pun harus ditentukan. Jika harus menemaninya di kampung artinya harus berhenti kerja. Berhenti kerja artinya tidak punya gaji. Lalu jika tidak punya gaji trus mau bayar biaya rumah sakit pakai apa?

Seandainya daun bisa disulap menjadi uang. Uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang. Istilah "Mangan ora mangan yang penting kumpul" itu tidak segalanya benar. Jangankan untuk beli makan jaman sekarang ke toilet aja harus bayar. Rasanya pengen tanya ke Koes Plus yang punya lagu "Hati tenang walaupun tak punya uang" Gimana caranya pak? Sepertinya itu hanya berlaku buat anak raja minyak yang kaya 7 turunan. Tak punya uang tinggal teriak panggil babehnya. Apalah saya yang turunan ke-12 ini. Haissh...

Doa saya saat ini Ya Allah jika bapak masih diberi umur panjang mohon segera angkat penyakitnya, berilah kesembuhan, jika bapak sudah saatnya kembali pada-Mu mohon mudahkanlah segalanya, mohon lindungilah beliau dari sakitnya sakaratul maut dan tutupilah aibnya. Tolonglah kami Ya Allah. Kuatkan kami dalam menghadapi semua ini. Apapun dari-Mu adalah yang terbaik.

* Cilegon, 21 November 2021, lagi galau di ruang PCR*

Jun 6, 2021

Terbalaskan

June 06, 2021 4 Comments
Saya mengakui bahwa saya bukanlah orang baik. Di lubuk hati masih sering menyimpan kekesalan yang kadang malas untuk menumpahkannya. Bisa dikatakan hanya masalah kecil yang seharusnya dilupakan dan dimaafkan. Tapi itulah jeleknya saya masih mengingat hal yang menyebalkan itu apalagi jika orang yang menyebalkan masih berkeliaran di depan mata.

Saya masih kesal jika teringat saat itu. Saat dimana kerja di ruangan baru dan kerjaan baru bersama teman yang saya kira orangnya asyik. Awalnya salut dengan anak baru sebutlah Nona Rosa dan Nona Viny. Masih fresh graduate tapi rajin sekali dan sikapnya sangat manis tidak emosional. Pernah kerja bareng beberapa bulan nyaris tidak pernah punya kenangan buruk. Semua berjalan baik dan akrab seperti yang lainnya.

Suatu hari saat corona menyerang dan dinyatakan pandemi saya ditugaskan di ruang baru. Sebut saja ruang corona. Saya disuruh memilih teman yang kira-kira bisa diajak kerja sama. Di tempat baru ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran menggunakan benda-benda yang berukuran kecil untuk menemukan keberadaan makhluk renik yaitu virus corona. Makhluk yang lebih kecil daripada bakteri. Sebelumnya saya dipercaya mengolah bakteri bersama beberapa teman yang berminat di bidang itu. Belum tentu semua orang sabar mengerjakan identifikasi bakteri yang terbilang rumit.

Saya memilih teman berdasarkan antusias dan kesabaran mereka saat berhadapan dengan bakteri. Ditambah status mereka yang belum karyawan tetap diharapkan pengalamannya bisa menjadi nilai tambah jika ada perubahan status ke depan. Terpilihlah Nona Rosa dan Nona Viny. 

Satu lagi yang lebih senior yaitu Ibu Nela yang memang mengajukan diri karena berminat belajar tentang corona. Kami berempat ditraining bersama sebelum akhirnya diturunkan hanya tiga orang yaitu saya, Nona Rosa dan Nona Viny. Ibu Nela untuk back up karena matanya sudah punya perpaduan minus dan plus sehingga tidak kuat berlama-lama menatap benda yang terlalu mungil.

Seiring berjalannya waktu dari yang kami bekerja sambil meraba-raba memperbaiki setiap kesalahan hingga akhirnya menemui jalan kelancaran. Dari sampel sedikit hingga berjibun. Saya sungguh menikmati pekerjaan ini karena setiap hari selalu ada pelajaran baru. Menjadi penemu dan saksi pertama orang-orang yang terinfeksi corona merupakan tantangan tersendiri. Telpon berdering setiap waktu. Banyak yang ingin menanyakan kabar tentang hasil tesnya. Tapi saya tidak pernah memberitahu sebelum hasil keluar secara resmi. Ada tim sendiri yang akan menelponnya.

Di sela-sela asyiknya pekerjaan baru, saya mulai terusik dengan sikap para nona-nona ini. Mulai terlihat malas-malasan dan emosinya sebentar-sebentar meningkat. Jalannya edal-edol seperti kucing kekenyangan. Glendat-glendot antara mau dan tidak. Diajak mempercepat langkah jawabnya sengak "Ya udah duluan aja!!". Seakan "Ngapain sih ngatur-ngatur gue emang elu yang gaji gue!" Beda hal disaat jam pulang. Melesat secepat mungkin tak akan sabar menunggu saya untuk sekadar menukar sepatu. Sepatu untuk di luar ruangan beda dengan di dalam.

Ini sangat menyebalkan. Songongnya keluar 100% merasa di atas angin. Saat itu tes corona menjadi andalan utama sedangkan baru kami bertiga yang bisa mengerjakannya. Belum ada yang lain. Ibu Nela jarang diturunkan. Bangga sih tapi tidak perlu congkak juga. Siapapun juga bisa asal dilatih.

Mau mulai bekerja ada saja alasan untuk menundanya. Sarapan dan minum secukupnya menjadi kebutuhan utama sebelum memakai hazmat. Harusnya selesai ritual segera mulai bekerja. Tapi bermain henpon tampak lebih penting dari segalanya dan akan menunda pekerjaan bisa sampai 1 jam lebih. Disitu saya kesal sekali tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kecuali mengalah atau mulai lebih dulu dan itu akan membuat mereka cemberut sepanjang hari. Saya bukan gila kerja tapi menunda sesuatu karena bermain henpon bukan jiwa saya. Apalagi mengingat teman-teman yang bertugas di tempat lain sudah bertempur sejak pergantian shift. Tim saya masih haha hihi nonton youtube Aurel dan Atta Halilintar. Gondok nggak sih!

Itu baru drama di pagi hari sebelum ritual kerja. Di tengah-tengah ada saja masalah yang seharusnya tidak perlu dihadapi dengan emosi. Seperti setel musik untuk membunuh sepi. Daripada mendengar musik henpon bersuara cempreng saya menyambungkan ke speaker bluetooth agar lebih jernih. Pilihan musik sesuai selera mereka saya tidak pernah mempermasalahkan.

Suatu pagi seperti biasa saya memberikan speaker. Tiba-tiba Nona Rosa berkata sengit entah apa saya kurang dengar diikuti sikapnya yang cemberut sepanjang hari. Entah apa yang salah di pagi itu. Saya merasa tidak membuat kesalahan jadi berpura-pura seperti tidak ada masalah. Sampai jam pulang tetap diam melengos dan sebisa mungkin menghindari kontak mata. Kejadian seperti itu diulang sampai hari-hari berikutnya. Bahkan lebih sering cemberutnya daripada sikap baiknya. 

Seharusnya semakin lancar, kapasitas sampel ditambah bukan semakin malas-malasan dengan sisa waktu. Saya sempat membahas mengutarakan niat itu tapi ditolak mentah-mentah. Sikapnya selalu lebih galak seperti kucing jantan yang sedang birahi. Malah semakin tidak mau bertegur sapa sebisa mungkin menghindari saya. Hanya mengobrol antara mereka berdua. Nasib saya saat itu hanya sebagai orang-orangan sawah yang terdampar.

Ada lagi masalah yang membuat saya agak mendidih yaitu soal lampu. Mereka selalu ingin gelap-gelapan cukup dengan penerangan dari lubang jendela. Alasannya lampu terlalu terang menyebabkan pusing. Sedangkan mata saya minus 4 dan silindris 1 sungguh tersiksa dengan hal itu. Mata perih pedes capek kepala nyut-nyutan sepanjang hari apalagi ada satu tahap di pekerjaan yang memang membutuhkan sedikit cahaya dan saat itu masih menjadi tugas utama saya. Dari pagi kekurangan cahaya saat turun ke ruangan yang remang-remang mata saya semakin pedih sampai berair karena harus bekerja lebih keras. Tapi hal ini tidak berlangsung lama. Saya katakan keberatan dan mereka minta maaf. 

Saya juga minta maaf dan minta diingatkan jika tiba-tiba lalai. Menurutnya hal yang tidak disukai tentang saya adalah saya mudah menyalahkan orang lain. Contohnya, mengeluh tentang bos berulang-ulang saat keadaan panik, itu bukan solusi yang baik justru hanya menambah panik. Okey saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi yang dicontohkan agak kurang nyambung. Mungkin yang mereka maksud seperti tidak mengembalikan barang pada tempatnya saya tidak suka karena akan menyusahkan untuk selanjutnya. Biarpun sepele tidak seharusnya dianggap wajar. Disiplin dari hal kecil akan memudahkan semuanya karena kami kerja tim. Suasana harmonis sempat terjalin kembali. Saling pengertian dan menjaga komunikasi dalam urusan kerja. Namun sayangnya tidak berlangsung lama. Nona kembali bertanduk seperti meong sedang berebut pacar.

Semakin lama sampel yang semakin bertambah banyak. Tenaga tambahan mulai datang. Grup dibagi dua masing-masing beranggotakan 3 orang. Saya segrup bersama Ibu Nela dan teman yang baru masuk dari cuti melahirkan yang biasa saya panggil Nong. Grup Nona Rosa dan Nona Viny ditambah anggota Nona Bibie tenaga job order. Tidak ada training khusus bagi tenaga baru. Latihan sambil terjun langsung dengan bimbingan kami yang lebih dulu belajar.


Jika sampel tidak terlalu banyak hanya satu grup yang diturunkan. Grup kurcaci (begitu bos memanggilnya) sementara ditugaskan di ruang utama bersama teman yang lain untuk turun ke lapangan mengambil sampel swab. Mereka akan dipanggil sewaktu-waktu ke ruang corona saat sampel berlimpah.

Grup kurcaci sudah sangat pintar, cerdas dan di atas awan semua. Bekerja sesuai kehendak mereka. Punya cara sendiri yang paling ajaib. Tidak perlu diskusi apapun apalagi dengan mahluk yang penuh dosa seperti saya. Cara ajaib itu adalah "Kalau ada yang ribet kenapa harus mudah". Seperti menulis daftar nama harus dua kali. Di kertas dulu baru dipindahkan ke buku. Padahal bisa langsung di buku. Tapi tampaknya repot itu kebanggaan tersendiri.

Saat itu melaporkan hasil masih manual. Saya menuliskan dengan membedakan jarak atau memodifikasi warna bolpoint agar mudah ditandai dan dihitung. Meminimalisir kesalahan mana yang positif, negatif atau diulang. Kurcaci lebih suka ditulis sesuka hati. Jaman digital menulis merupakan hal yang terpaksa. Benar saja sesuatu yang tidak diharapkan terjadi yaitu sampel yang seharusnya diulang jadi tertinggal. Tidak terlihat apakah itu harus diulang atau dikeluarkan karena sekilas tulisannya sama. Kejadian itu membuat mereka sadar (lebih tepatnya malu) betapa hal sepele bisa berefek panjang dan merugikan orang lain. Lebih baik ribet sedikit tapi akan memudahkan semua termasuk petugas yang membuat laporan di ruang utama.

Mereka juga sering tidak membalas pesan di whatsapp. Bertatap muka juga rasanya enggan. Maklum kami makhluk yang penuh dosa sehingga tidak perlu diajak bicara apalagi didekati takut menempelkan najis. Sedangkan komunikasi antar grup saat itu sangat penting. Tapi mereka pura-pura tidak membuka whatsapp padahal biasanya tidak bisa lepas dari henpon. Kami sering kali dibuat bingung saat meneruskan pekerjaannya. Akibatnya kamipun malas untuk berkomunikasi kecuali memang mendesak sekali dan harus sabar menunggu responnya karena nona pasti sibuk sekali terlalu banyak endorse.

Suatu hari saya dan tim masuk seperti biasa. Jam 1 siang bersiap-siap menuju ruang tempur. Nona Rosa sedang sibuk bekerja sehingga tidak menghiraukan saya yang sedang kebingungan mencari troli untuk mengangkut barang. Sebisa mungkin membuang muka menghindari kontak mata jangan sampai ada kesempatan untuk berbicara. Saya juga sadar diri saya makhluk penuh dosa tidak mungkin mengusiknya.

Di tengah kebingungan salah satu senior kami mengatakan bahwa grup nona pagi itu salah jadwal. Troli sudah dibawa dan ditinggalkan di ruang corona. Mereka seharusnya tetap dinas di ruang utama tapi sempat diinformasikan dinas pagi di ruang corona. Padahal sampel sudah selesai semua oleh grup saya sehari sebelumnya. Nona tampak kesal sekali sampai tidak keluar sepatah katapun.

Itulah pentingnya komunikasi tapi mereka enggan melakukannya. Merasa tidak perlu bertanya kepada makhluk yang penuh dosa ini. Berangkat jam 5 pagi saat turun hujan itu lumayan perjuangan. Setidaknya harus bersiap-siap satu jam sebelumnya saat mata masih lengket. Eh ternyata salah. Di jadwal yang sebenarnya tidak perlu berangkat sepagi itu masih banyak waktu buat meringkuk di dalam selimut sembari menunggu hujan reda. Maaf ya kami harus tertawa puas karena merasa terbalaskan semuanya. Puaaass banget. Rasain!! Emang enaaakk...

Sekarang nona-nona ini jadi salah tingkah setiap bertemu. Sudah kembali bersikap baik. Dengan canggung dan dibuat-buat berusaha menciptakan suasana seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi berhubung sifat aslinya sudah ketauan yang kalau disenggol sedikit bisa meruntuhkan dunia saya malas berinteraksi lagi dengan mereka. Sudah cukup. Bye!!! Nah begitulah jeleknya saya hehehe...

Dec 9, 2020

Myanmar Pada Suatu Hari

December 09, 2020 0 Comments
Malam itu saya beruntung bisa melewati imigrasi di Yangon International Airport dengan lancar. Kebagian petugas yang murah senyum walaupun mukanya tetap dingin dan datar seperti lempengan es. Tidak ada pertanyaan yang mendebarkan hanya ucapan selamat datang "Enjoy your vacation".

Keluar airport mulai disambut dengan tulisan keriting seperti bawang goreng setengah gosong. Sebagian ada terjemahannya, sebagian polos. Paras orang Myanmar seperti orang Indonesia hanya beda penampilan. Mereka sehari-hari memakai baju khas yang disebut Longyi. Seperti sarung untuk laki-laki dan kebaya untuk perempuan. Bagaikan kaum adam yang pulang dari masjid atau sedang sunatan massal. 

Gigi mereka berwarna merah kehitaman karena sering makan sirih (nginang). Serta cemong-cemong di muka memakai Thanaka atau bedak dingin kalau di Indonesia.


Belanja oleh-oleh di supermarket

Untuk menyambung nyawa di negaranya Ibu Aung San Suu Kyi, saya menukar uang ke money changer di pintu keluar airport. Uang Myanmar tidak dijual di Indonesia sehingga membawa USD menjadi solusi yang tepat. USD juga diterima untuk pembayaran di Myanmar. Tapi hanya seri terbaru dan yang masih kinclong. Dolar kucel bakal ditolak mentah-mentah karena sungguh tidak pantas, masih banyak yang lebih baik di luar sana. Halah! 

Saya menukar 100 USD menjadi 142.600 Ks, kalau dirupiahkan tinggal ditambah nol 1. Dari selembar ditukar jadi berlembar-lembar mendadak berasa jadi orang kaya. Maklum banyak pecahan 1000 bikin dompet jadi tebal.

Tak lupa saya membeli simcard lokal untuk mengaktifkan paket data internet. Koneksi internet sangat diperlukan di Myanmar terutama untuk melihat google map dan memesan grab. Saya membeli merk Ooredo 5GB 7000 Ks. Ada juga merk lain di gerai sebelahnya. Mbaknya memasangkan simcard ke Hp dan diaktifkan sampai beres.

Saya ketinggalan info jika bus umum ke kota sudah bisa di akses dari pintu keluar airport. Bus jurusan ke Sule Pagoda yang mana dekat dengan penginapan yang saya booking. Tinggal jalan kaki 500 m. Untuk naik bus ke kota sebelumnya harus keluar airport sekitar 1 km. Karenanya saya memesan grab langsung ke hostel dengan ongkos 8000 Ks. Padahal naik bus hanya 500 Ks. Ya gapapa kan orang kaya. Dompetnya aja tebal penuh dengan uang seribuan.

Sepanjang jalan diam membisu tidak ada obrolan dengan babang grab karena keterbasan bahasa. Babangnya bebetan sarung digulung di pinggang, pakai atasan kemeja putih yang sudah berubah warna dan giginya merah kehitaman karena tak henti mengunyah racikan daun sirih. Di kampung jaman dulu banyak mbah-mbah nginang tapi sekarang jarang sekali generasi penerusnya. Pernah nyicip rasanya pedes-pedes getir pait bhaaghh.. Gak jelas! Entahlah kenapa sangat disukai di Myanmar ini.

Sampai di penginapan saya segera tidur karena perjalanan 8 jam ditambah transit di Malaysia 3 jam lumayan melelahkan. Menyiapkan tenaga untuk esok hari. Untuk makan malam masih ada bekal dari kosan. Petugas di hostel baik-baik semua, sopan dan lancar bahasa Inggris biarpun dialeknya beda.

Sarapan pagi disediakan di hostel. Ada 2 pilihan mie goreng dan sandwich. Ditambah buah semangka dan kopi atau teh bikin sendiri. Saya makan mie goreng. Makanan halal di Myanmar tidak begitu mengkhawatirkan. Penduduknya mayoritas Buddist dan banyak vegetarian.

Selesai sarapan saya duduk di rooftop dan berkenalan dengan traveler dari Perancis, Valencia dan Grace. Mereka traveling 3 bulan keliling Indochina.

"Indonesia katanya negara yang bagus tapi kami belum bisa ke sana saat ini"
"Iya negara kami banyak pulau dan pantai. Apa kalian akan pergi ke Bali?" biasanya orang bule demennya Bali.
"Oh no, Bali banyak Australian rese kami tidak ingin kesana"
"Betul hahaha..."

Sok akrab sama bule ada untungnya juga. Sore harinya kami sama-sama pergi ke terminal Aung Mingalar yang jauh dari pusat kota Yangon. Ongkos naik grab 100 ribuan. Saya diajak bareng dan dikasih gratis. Rejeki anak mamih. Kami akan pergi ke Bagan naik bus malam. Bedanya saya naik yang bisnis class, mbaknya VIP. Segini dululah ya ceritanya kapan-kapan disambung lagi. Jiayou!!

Oct 27, 2020

Sebel Tak Berdaya

October 27, 2020 0 Comments
Akhir-akhir ini kerja sangat tidak nyaman. Temen satu tim tidak lagi asyik. Masih membuang muka saat berpapasan. Masih tidak terima karena salah satu anggota grupnya terseret namanya saat saya positif corona. Sebelum-sebelumnya pun memang telah bertabur kebencian. Sehingga saat kerja bareng di dalam satu ruangan selalu terjadi perang batin. Berusaha sebaik apapun jika terlanjur tidak suka ya tetap tidak suka. Jangankan menyapa, sekadar melirik pun sepertinya berat.


Saya memang bukan orang baik. Saya tidak akan bisa menyenangkan semua orang. Wajar jika tidak semua orang menerima saya. Saya pun tidak akan masuk ke dalam lingkaran orang lain jika mereka terlihat keberatan. Saya datang bukan untuk mencampuri urusan mereka tapi karena terpaksa urusan kerja. Hanya sebatas itu tidak ada tujuan lain.

Memang tidak perlu diambil hati mengingat teman yang tulus berteman di luar sana lebih banyak. Tapi tidak semudah itu pablo tidak bisa dibawa cuek. Mulut bisa ngomong "Biarin Aja" tapi hati tidak. Tetap ganjil selama masih tampak di depan mata. Muka ditekuk, cemberut, buang muka, jalan membusungkan dada.. Hiiyyy lengkap!!!

Seandainya bisa memilih pengen rasanya keluar dari tim yang baru terbentuk karena pandemi ini. Mending rebahan di rumah sambil ngelus-elus kucing. Namun apa daya saya bukan cucu keluarga cendana. Pengen cuti tapi bingung mau kemana. Pulang kampung tidak mungkin. Orang tua sudah manula sangat beresiko tinggi terhadap corona. Jalan-jalan juga tidak mungkin. Tempat kerja melarang untuk tidak bepergian selama kondisi belum aman. Tidak ada pilihan lagi selain harus berdamai dengan keadaan. Ya sudahlah nona terserah. Lanjutkan cemberutmu itu. Moodian sekali kau!!

Oct 21, 2020

Kenapa Tiba-tiba Aneh?

October 21, 2020 2 Comments
Selama pandemi saya tidak kemana-mana kecuali tempat kerja dan kosan. Karena kerjaan saya beresiko sekali yaitu mendeteksi corona lewat tes PCR. Setiap hari bergelut dengan ratusan sampel swab yang diantaranya positif. Biarpun dibekali dengan APD berstandar yang Insya Allah sangat aman tapi demi meminimalisir resiko saya lebih baik mengasingkan diri. Selalu menjaga jarak dengan orang lain. Soal belanja kebutuhan hidup saya sering titip ke teman atau mampir ke koperasi di tempat kerja saat suasananya tidak terlalu ramai. Sesekali jika harus ke supermarket, saya pasti mematuhi protokol kesehatan. Pakai masker, jaga jarak, cuci tangan dan mandi setelah pulang.

Suatu hari saya merasakan keanehan. Badan lunglai, meriang, demam yang tidak seberapa dan migrain. Apakah ini gejala covid? Masak sih? Untuk meyakinkan saya mencoba telpon teman yang saat itu sedang di rawat di ruang isolasi karena positif covid. Apa yang dirasakannya? Tidak enak badan atau ringkih sekali, demam, pusing, sesak nafas, insomnia dan anosmia. Bener-bener tidak bisa mencium bau dan merasakan apapun.

Lalu saya mencoba menempelkan benda-benda yang berbau tajam ke dekat hidung, dari mulai parfum, sambel, ikan goreng bahkan kucing pun saya cium-cium. Semua masih tercium tidak ada perubahan apapun. "Oke, berarti bukan covid" pikir saya. Lagi pula demam juga tidak seberapa tinggi hanya sekitar 37°C, bersin hanya sesekali, tenggorokan kering juga masih bisa dimaklumi karena setelah minum pasti lega. Batuk juga hanya karena tenggorokan agak gatal seperti digelitik. Semua tidak terasa berat tetapi mengganggu aktivitas. Kepala terus-terusan berdenyut pusing seperti dipahat.

Kebetulan siklus datang bulan bersamaan dengan munculnya gejala ini. Biasanya memang tidak enak badan, lemes, migrain apalagi di hari pertama dan kedua yang sedang banyak-banyaknya. Tidak adanya anosmia meyakinkan bahwa saya tidak terkena covid. Badan lesu pasti karena sedang haid sehingga tetap masuk kerja seperti biasa.

Sampai hari-hari berikutnya perasaan aneh itu tidak juga menghilang. Tidak ada nafsu makan. Makanan favorit pun tidak mengundang selera. Tapi harus dipaksakan makan teratur. Harus makan nasi 3 kali sehari ditambah dengan sayur, buah dan vitamin. Karena itu akan menjadi penolong agar badan tetap fit dan imun terjaga. Untuk indikator kena corona atau tidak, lagi-lagi saya mengandalkan mencium parfum setiap saat. Jika masih tercium berarti tidak kena.

Pernah suatu ketika saya penasaran dan minta di'swab. Tapi teman saya meyakinkan bahwa itu semua wajar karena sedang haid. Sebenarnya dia juga takut seandainya saya positif berarti dia yang kontak erat dengan saya juga dipertanyakan. Saya mencoba mencium parfum lagi. Masih tercium bau wanginya. "Bukan kali ya..." Positif thinking dan tetap dibawa happy karena itu juga bisa meningkatkan imun.

Saya mulai curiga biasanya migrain karena haid hanya sekitar 1 - 2 hari. Ini lebih dari 3 hari kenapa belum hilang juga? Kali ini tidak mau terkecoh lagi dengan aroma parfum. Saya minta tolong teman untuk mengambil swab nasofaring sebelum saya mulai aktivitas pada hari itu. Setelah 9 hari merasakan keanehan. Hidung dikorek sampai kedalaman hampir 10 cm sungguh sangat tidak nyaman. Pedes perih seperti keselek kemasukan cabe. Menyisakan rasa mengganjal di hidung beberapa saat.

Saya kerjakan sendiri sampel saya bersamaan dengan pasien yang lain. Tahap demi tahap terlewati. Rasa deg-degan dapat terlupakan oleh canda tawa bersama teman satu tim sepanjang proses. Hingga akhirnya pada bagian terakhir saat pembacaan hasil. Teman saya menganalisa dan saya mencatatnya untuk laporan. Tibalah giliran punya saya. Mak Jreeeng!!! Warnanya merah yang artinya POSITIF. Saking bingungnya semua jadi lupa untuk bersedih. Kami saling menertawakan satu sama lain karena selama ini kontak erat di ruangan yang sama selama berjam-jam dan berhari-hari. WADUH KOK BISA?

Sepulang kerja saya mengingat kembali aktivitas selama 14 hari ke belakang. Kemana saja dan kontak dengan siapa. Saya tidak kontak langsung dengan pasien. Hanya dengan ratusan VTM (Virus Transport Media) yang sudah terisi swab nasofaring. Tapi Insya Allah selalu menggunakan APD sekali pakai saat mengerjakannya. Kontak dengan teman di lab utama tidak seberapa lama hanya saat mengambil logistik dan memberikan laporan. Semua pasti sedang memakai masker. 

Nah rupanya di lab biomolekuler sendiri yang saya merasa agak acak-acakan. 14 hari sebelumnya ada salah satu dari teman kami tenaga tambahan yang terkena flu dan tetap masuk kerja. Kami semua termasuk bos sudah mengingatkan untuk periksa swab atau istirahat dulu dari pada membahayakan orang lain. Tapi ditolak mentah-mentah dengan alasan "Kalau positif gimana?" Lah kok aneh ya kalau positif diobati. Terkena covid bukanlah aib tapi musibah. Seluruh dunia sedang berjuang melawannya.

Keras kepala tetap tidak mau dan masih masuk kerja karena merasa hanya flu biasa, badan masih kuat. Padahal sedang ketakutan juga karena sekeluarga terkena batuk. Ya kalau takut kenapa tidak mau swab, toh bisa periksa sendiri gratis. Ya Robbi lindungi kami semua...

Memang dia selalu memakai masker dan jaga jarak saat kontak dengan saya. Tapi gimana dengan pemakaian toilet? Delapan jam kerja tidak mungkin tidak ke toilet. Pegang kran, semprotan wc, gagang pintu dan yang lainnya. Setelah itu dipakai orang lain termasuk saya. Sangat disayangkan bos-bos yang mengetahui hal itu terkesan cuek tidak peduli keselamatan kami. Tidak ada keharusan untuk swab atau isolasi selama terkena flu. Dibiarkan semaunya yang penting kerjaan selesai. Ya Allah sedih sekali ingat hal itu.

Walaupun begitu ya wallahualam saya terpapar dari mana. Tidak bisa dipastikan juga apakah dari teman saya itu atau bukan. Karena dia juga tidak diperiksa baik swab maupun cek yang lain. Tidak tau apakah positif atau memang flu biasa. Namun secara kronologis tepat sekali. Dari artikel yang saya baca gejala akan muncul 5-7 hari setelah terpapar. Pada beberapa kasus bahkan hanya 3 hari. Saya muncul gejala setelah 4 hari memakai toilet bekas teman saya. Tapi karena terkecoh dengan gejala saat PMS dan tidak ada anosmia saya tidak menyangka jika si penjahat itu telah bersarang di badan saya.

Saya baru swab setelah hari ke-9 bergejala dan dinyatakan positif. CT value sudah mulai merendah. Sepertinya virus tinggal sisa-sisa. Hari ke-11 saya swab lagi alhamdulillah hasilnya negatif. Agar lebih yakin hari ke-13 saya swab lagi dan tetap negatif. Secara klinis memang covid bisa menghilang antara 10 - 14 hari setelah terpapar jika daya tahan bagus. Jika benar saya terpapar di hari yang diperkirakan berarti di hari ke-14 virus sudah menghilang. Tapi lagi-lagi hanya Allah yang tau. Yang penting saya sudah sembuh dan bisa beraktifitas lagi.

Justru yang membuat khawatir adalah teman-teman yang kontak erat selama saya belum ketauan positif. Ada yang punya bayi, balita serta orang tua yang punya penyakit bawaan. Sangat mungkin sekali pulang kerja membawakan makhluk yang tidak pernah diharapkan kehadirannya itu. Tapi Allah menunjukkan kuasa-Nya. Alhamdulillah mereka semua negatif. Terima kasih Ya Allah.

Kisah ini bisa menjadi pelajaran khususnya buat saya sendiri. Jangan anggap remeh corona. Patuhi protokol kesehatan. Jaga jarak, memakai masker, cuci tangan dan makan teratur. Jika curiga tidak enak badan setelah kontak dengan orang sakit lebih baik langsung periksa apalagi jika ada fasilitas gratis atau jika keadaan tidak memungkinkan setidaknya isolasi agar tidak membahayakan orang lain. Selain melindungi diri sendiri lindungi juga orang lain. Gejala covid sangat bervariasi pada setiap orang tergantung daya tahan tubuh, usia, penyakit bawaan atau tingkat keganasan virus itu sendiri. Lebih baik mencegah dari pada berakibat fatal. Semoga Allah segera mengangkat si corona dari muka bumi ini. Aamiin Ya Robbal Alaamiin...

Oct 17, 2020

Corona

October 17, 2020 0 Comments
Novel Coronavirus si makhluk renik serta penjahat paling killer hingga saat ini belum menghilang dari muka bumi. Delapan bulan lamanya telah mampir ke Indonesia dan hampir merata ke seluruh dunia. Semakin hari kasus bukan semakin berkurang tapi malah meningkat dan terus meningkat. Beragam kisah sedih dari mulai kehilangan orang-orang terkasih hingga kehilangan penghasilan bertebaran dimana-mana. Entah mau jadi apa dunia ini. Hanya Allah yang tau.

Tenaga kesehatan di rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya menjadi garda terdepan dalam melawan virus ini. Dengan meningkatnya kasus meningkat pula tugas yang dihadapi. Berlipat-lipat dari biasanya. Tak sedikit dari beliau yang justru menjadi korban dari ganasnya virus ini. Gugur dalam tugas pasti akan diterima di surga-Nya yang luar biasa indah. 

Tidak bisa bertemu dan melewati hari bersama keluarga tercinta menjadi hal yang harus direlakan hingga waktu yang tidak ditentukan. Demi kebaikan bersama menjaga jarak sangat dianjurkan. Kita tidak tau diantara kita siapa yang telah terpapar olehnya dan tidak menunjukkan gejala apapun. Dia tidak pandang bulu. Siapapun bisa ditempeli dan diinjak-injak tiada ampun. Hanya daya tahan tubuh dan kekuatan dari Allah yang bisa melawannya.

Seuntai doa senantiasa dipanjatkan semoga kita semua tetap dalam lindungan Allah SWT dijauhkan dari makhluk paling menyebalkan ini. Innalillahi wa innaillaihi roji'un.

Aug 6, 2019

Terjebak Di Antara Suporter Bola

August 06, 2019 0 Comments
Gara-gara memanfaatkan tiket unlimited sore itu saya keliling sendirian di Amsterdam. Sekadar melangkahkan kaki daripada nganggur karena sudah beli tiket mahal kalau tidak dipakai sayang. Tiket yang mengcover hampir semua angkutan umum di Amsterdam seperti train, tram dan bus kota untuk 1 hari. Selagi masih berlaku ceritanya. Saya tidak berbekal itinerary apapun. Hanya selembar peta untuk keliling di sekitar jalur tram.

Saat itu malam minggu dan ternyata ada pertandingan bola Club Belanda melawan Club Jerman. Entah apa namanya karena bukan pecinta bola jadi tidak mau tau. Banyak orang segala usia keluar rumah untuk nonton bareng di cafe. Ramai sekali. Suara yel-yel dan teriakan bersahut-sahutan di beberapa sudut kota.

Semakin sore semakin ramai. Banyak orang berkejar-kejaran sambil teriak entah ngomong apa bahasanya Belanda semua. Segerombol pergi, segerombol datang lagi. Begitu seterusnya sampai beberapa kali. Saya mulai deg-degan teringat media massa yang sering memberitakan tawuran antar suporter bola. Jadi bingung, kalau kembali pulang berarti harus jalan ke Stasiun Central dan melewati kerumunan mereka, diam di pinggir jalan semakin tenggelam oleh mereka yang berdatangan dari segala arah, mau naik tram berjubel penuh dengan mereka. Bisa-bisa disangka penyusup karena secara pakaian saya beda sekali. Tidak ada orang berkerudung kecuali saya. Lalu hanya bisa pasrah di pojokan halte sambil makan rumput. Makan wafle ding tapi ketempelan rumput kering tidak sengaja kemakan hehhe... Syukurlah tidak memakai atribut apapun yang berbau bola. Warna baju juga tidak senada dengan kedua club itu.

Setelah agak sepi, datang tram di jalur 2 yang katanya jalur paling bagus banyak melewati landmark di Amsterdam. Karena lumayan kosong saya melanjutkan niat keliling memanfaatkan tiket unlimited. Saya naik dan duduk di tengah dekat ke jendela. Lumayan bisa berlindung dari pasukan yel-yel yang masih tersisa. Eh ternyata di halte berikutnya ada yang naik lagi. Sampai berjubel empet-empetan. Nyanyi teriak-teriak sambil gebrak-gebrak dinding tram. Tadinya kalau ketemu tempat yang bagus saya akan turun. Ternyata tidak bisa lewat. Ditambah bahasa pengumuman di tram juga roaming. Auto ngeblanck entahlah posisi sampai di mana. Pilihannya hanya pasrah dan berencana turun di pemberhentian terakhir lalu balik lagi.

Bonus di dalam Tram

Menjelang stasiun terakhir penumpang tersisa 3 orang. Lokasinya semakin menepi dan sepi, entahlah stasiun apa. Atau mungkin belum stasiun terakhir saya juga tidak tau. Semua penumpang turun. Saya ikut turun dan berniat naik tram ke arah sebaliknya. Namun sial, tidak ada tram ke arah sebaliknya. Jalurnya hanya satu. Beberapa meter dari halte tram terdapat halte bus. Dua penumpang itu jalan kesana. Saya mengikuti di belakangnya. Tiba-tiba mereka naik ke bus yang lewat entah jurusan mana. Tinggallah saya sendiri dan 2 orang di halte seberang. Pengen nangis kejer tapi ditahan.

Saat pasrah menunggu keajaiban datanglah 2 bus berwarna biru dan merah. Saya  bertanya ke pak sopir bus ke airport. Saya akan pulang. Hotel saya dekat dengan airport, sekali naik free shuttle bus dari sana. Tapi kata pak sopir, bus sudah berhenti beroperasi. Baru sadar biarpun masih terang benderang seperti jam 15.00 waktu di Indonesia ternyata sudah hampir jam 21.00. Sudah malam bok pantesan rumah-rumah banyak yang sepi. Musim panas waktu siangnya lebih panjang. Sedangkan angkutan umum tetap beroperasi sesuai jadwal tanpa tergantung pada musim. Pak sopir menyarankan naik bus berikutnya. 

Tidak ada bus langsung ke airport harus transit di sebuah terminal yang saya tidak tau namanya. Pokoknya bus berhenti terakhir disitulah saya turun. Beruntung sekali bus itu berhenti tepat di sebelah bus jurusan Schipol Airport. Dengan bonus mas sopir yang baik, gagah dan berambut klimis. Rejeki anak sholeha di tengah kesulitan.

Celingukan menunggu keajaiban

Setelah 30 menit menunggu, bus mulai meninggalkan terminal misterius itu. Biasanya dari airport ke pusat kota hanya beberapa menit menggunakan kereta. Berhubung naik bus ternyata jauh sekali. Melewati tengah kota dengan beberapa kemacetan akibat lampu merah dan masuk ke jalan tol. Syukurlah sampai di airport masih terangkut oleh shuttle bus terakhir ke hotel. Alhamdulillah akhirnya Inem bisa pulang dengan selamat. Sampai di hotel waktunya maghrib jam 22.30. Niat memanfaatkan aji mumpung malah berdebar sepanjang jalan.