Oct 30, 2014

Jalan-jalan ke Chiang Mai Part 2

October 30, 2014 0 Comments
Pagi itu di terminal kota Chiang Mai yang masih gelap saya mencoba keliling melihat isi terminal. Saya menemukan pusat informasi, lalu meminta peta sambil tanya transportasi ke pusat kota. “Car, tuk-tuk or motor bike” kata petugasnya. Oke masalahnya saya harus kemana? Saya belum booking penginapan hanya mencatat beberapa nama tempat yang harganya sesuai di kantong dan itupun akan menjadi alternatif yang terakhir. Karena tidak percaya informasi dari website yang kadang tidak sesuai dengan kenyataan, maklum backpackernya masih amatiran. 

Hampir jam 6 pagi tapi langit masih gelap baru ada sedikit cahaya kemerahan, saya tanya ke abang tuk-tuk tarif ke pusat kota. Katanya 120 THB. Lalu datang si abang motor bike (ojeg) nawarin 80 THB. Sudah pasti pilih yang lebih murah dan minta diantar ke tempat yang asal nunjuk peta di tempat yang kemungkinan banyak penginapan yaitu Night Bazar Place.

Sekitar 20 menit menembus dinginnya kota Chiangmai, sampailah ke sebuah gang kecil dan ruko yang bertuliskan Night Bazar Place. Ternyata sepi hanya ada beberapa toko masih tutup semua. Sambil membayar ke abang ojeg saya pastikan sekali lagi...

"Benarkah ini Night Bazar Place Bang?"
"Yes!. Macid macid" kata abang ojeg menunjuk ke sebuah tempat. Saya kurang mengerti minta tambahan ongkos atau apa? Setelah diperhatikan rupanya sebuah tempat yang bertuliskan Mosque. Ooh... maksud abang MASJID.
"Oke, kob kun kha.." lalu a
bang ojeg pergi.

Alhamdulillah Allah telah menuntun ke tempat yang benar. Lumayan bisa nebeng selonjoran di teras masjid menunggu siang. Tapi setelah mendekat ke pintu gerbangnya jadi menciut. Mesjidnya hanya kecil dan mojok diantara gedung tinggi seperti komplek sekolahan. Saya pikir bakal banyak orang ngaji atau sekedar duduk di teras. Ini tidak ada orang satu pun dan masjidnya tampak gelap. Jadi tidak berani masuk.

Masjidnya yang kubah kecil. Belakangan baru tau namanya Masjid Islam Hidayatul Banhaw. Foto dari google.

Saya duduk di kursi yang kebetulan ada di dekat pagar. Ransel saya geletakkan di bawah. Tiba-tiba ada seorang bapak berusia sekitar 50 tahun, melintas di depan saya.

“Where are you from?”
“Indonesia”
“Oh come here, sit down there…”

Beliau mengajak saya masuk ke gedung di sebelah masjid. Di pojok ruangan ada meja dan kursi panjang. Bapak sibuk mengelap meja dan menata kursi lalu mempersilahkan saya duduk. Kemudian memanaskan air dan membuatkan saya kopi dan juga menyuguhi sepiring kurma. Saya hanya senyum-senyum seperti putri solo karena bapak juga tidak banyak ngomong. Wajahnya serius dan datar.


Disini saya dibuatkan kopi

“Baru datang dari Indonesia?"
"Iya pak, kemarin pagi dari Jakarta ke Bangkok, lalu dari Bangkok kesini”
“Ini pertama ke Chiang Mai”
“Iya”
“Sendiri?”
“Iya, di sini aman kan pak?”
“Aman tenang saja, banyak orang yang jalan-jalan kesini Insya Allah aman. Ada acara apa?”
“Liburan saja pak, tadi saya kesini karena pengen lihat mesjid” bohong banget memang sih mesjid ini ada di itinerary tapi ada diurutan yang kesekian.
“Iya sesama muslim harus saling silaturahmi”
“Masjid di sini hanya ini saja pak?”
“Tidak, di Chiang Mai ada 4 masjid, masjid Chang Klan agak dekat dari sini, tapi jangan tinggal di sana daerahnya kurang aman, dan dua lagi masjid tapi lumayan jauh, kamu tinggal dimana?"
“I don’t know, I am not reserve yet. Maybe I will stay in.…” saya sebut nama sebuah hostel.
“You moslem don’t stay there, not recommended for solo female because bla..bla..bla….”
“Oooh... Okay sir”
“Di belakang sini ada apartemen muslim kamu tinggal disitu saja, not expensive for you”
“Okay sir...” dalam hati beneran not expensive pak... Apartemen kan biasanya lebih mahal daripada dorm, tapi ya... Iya ajalah pasti bapak lebih tau.
“Rumah saya jauh seandainya dekat, kamu saya suruh menginap di rumah. Saya guru di sini dan tinggal di sini pulang seminggu atau sebulan sekali" W
aah... Baik sekali. Punya anak laki-laki ga pak? Eh!!

Beliau bernama Bapak MS asli Chiang Mai sekolah di Libya. Sebelumnya tinggal di Arab Saudi selama 15 tahun dan baru kembali ke Chiang Mai 1.5 tahun. Baru tahu rupanya tempat ini adalah sekolah muslim. Pantesan bapak kelihatan serius, bahasa Inggrisnya bagus ternyata pak guru.

Perasaan dimana-mana seringnya ketemu pak guru dan rata-rata seusia dengan orang tua saya. Padahal harapannya ketemu sesama solotraveler yang seumuran terus jalan bareng terus cinlok yang kya di film-film terus berduaan ciieee...
Setelah kopi mendingin saya buru-buru menghabiskannya agar bisa cepat berpamitan. Eh malah dibikinin lagi chinese tea, dan tidak bisa langsung diminum karena panas. Rasanya biasa aja seperti teh yang tidak pakai gula. Saat bapak masuk ke ruang sebelah, saya buang teh itu di wastafel karena tidak suka teh pait (maaf ya pak). Maksud hati gelas mau saya cuci tapi ketauan bapak diteriakin “Never mind... Never mind…” ya sudah ditaro gitu aja.

Lalu saya berpamitan untuk berkeliling sambil mencari penginapan. Ransel yang segede alaium gambreng saya titipkan beliau. Sebelum pergi saya tanya dimana yang jual halal food, beliau bilang di sepanjang jalan depan masjid ini tapi mulai buka nanti siang. Baru juga berbalik badan beliau memanggil lagi dan menawarkan untuk melihat masjid di tempat yang lain sambil mencari sarapan bersama. Wah oke banget pak dengan senang hati. Akhirnya saya diajak keliling kota Chiang Mai naik motor, salah satunya melihat mesjid Chang Klan.
Masjid Chang Klan

Kembali ke jalan utama, tak jauh dari masjid ini ada warung kecil yang menjual berbagai makanan halal. Hanya sebuah tenda dipinggir jalan mirip yang berjualan nasi uduk pagi-pagi di Jakarta dengan menu makanannya yang banyak dan beraneka.

“Mau makan apa?” tanya bapak.
“Saya mau nasi pak” perut saya kan asli Indonesia.

Melihat makanan yang serupa dengan kampung halaman saya ingin kasih tau bapak "Ini sama seperti di Indonesia pak” Eh malah dipesen semua. Ada ayam kentaki-ketakian, ayam cincang, sayur tahu campur toge dan masih ditawarin lagi terserah mau apa. Jadi malu hidangan saya banyak banget. Sedangkan bapak hanya semangkok gulai kambing tanpa nasi. Uniknya biarpun udara dingin kebiasaan orang di sana kalau minum selalu pake es batu. Bukan teh anget atau wedang jahe.

Karena kekenyangan, ayam gorengnya jadi ga kemakan. “Pak saya ga abis ini dibungkus plastik aja ya” beneran dibungkusin hihihi... Lumayan lah buat makan siang.

Selesai makan bapak membayar semuanya dan kami kembali lagi ke masjid. Kali ini lebih banyak lewat gang-gang kecil. Tiba-tiba motor berhenti di sebuah tempat mirip kos-kosan. “Kita cari penginapan buat kamu” kata beliau. Rupanya apartemen muslim yang pernah bapak jelaskan. Bapak ngobrol dengan penjaganya pakai bahasa Thailand, kira-kira maksudnya tidak ada kamar kosong untuk satu orang, tinggal kamar yang besar. Sepertinya sih begitu. Akhirnya kami kembali lagi ke masjid.
 

Sepertinya Bapak MS ini guru besar, ustadz, atau orang besar apalah karena sepanjang jalan setiap ketemu orang pasti pada hormat. Tentunya saya dihormati juga. Anak-anak kecil disuruh cium tangan saya. Wah keren ga sih di negara orang digituin… **biasa aja.

Sampai di masjid sudah banyak staf sekolah di tempat saya dan bapak minum kopi sebelumnya. Melihat kedatangan bapak mereka semua memberikan salam hormat selayaknya ada orang besar datang. Dari tatapan matanya seperti bertanya-tanya bapak mbonceng siapa? Saya hanya ikutan mengangguk dari jauh lalu berpamitan.

“Terimakasih banyak pak saya pergi dulu, tapi titip tas disini ya”
“Okay take care... Kalau ada apa-apa datanglah kesini cari saya"

Bersambung....

Oct 24, 2014

Jalan-jalan ke Chiang Mai Part 1

October 24, 2014 0 Comments
Sehari menjelang keberangkatan saya mendapat kabar dari seorang teman yang saat itu berada di Thailand bahwa besok penerbangan dari Jakarta kemungkinan akan dibatalkan, melihat situasi di Bangkok semakin memanas karena demonstrasi. Waduh. Masa harus gagal acara padahal sudah packing sudah siap semua. Oh tidak..!! Saya harus nekad dulu ke bandara, lihat saja besok.

Pagi buta saya gendong ransel kesayangan ke pinggir jalan tempat taksi biasa mangkal. Tapi tidak ada taksi satupun alhasil ojek jadi pilihan untuk mengantar ke poll bus damri. Perjalanan ke bandara cukup lancar masih tersisa waktu 2 jam untuk check in. Suasana cukup ramai dan antrian penumpang ke Bangkok lumayan panjang, tidak ada tanda-tanda akan dibatalkan. Kurang lebih setengah jam proses check in selesai. Saya duduk sejenak untuk menikmati nafas lega setelah sekian lama dihantui rasa was-was.

Mendekati waktu boarding saya ke imigrasi dan ternyata antriannya panjang sekali. Sampai pesawat memanggil saya belum juga bergerak dari antrian. O’o..!! Saya minta ijin didulukan syukurlah mereka semua tidak keberatan. Tadinya santai lupa kalau harus melewati imigrasi segala, dikira mau pulang ke Jawa. Ternyata masih banyak penumpang lain yang masih tertahan sehingga harus delay beberapa saat. It's okey yang penting jadi terbang. Bangkok I am coming...

Perjalanan ke Bangkok sekitar 3.5 jam. Setelah pesawat berhenti sempurna saya ambil ransel di bagasi kabin lalu menggendongnya keluar. Tiba-tiba terdengar seseorang menepuk ransel dari belakang.

“Lo mau backpackeran?” saya menoleh ke belakang, walaupun tidak yakin sayalah yang ditegur.
“Iya mbak"
“Ama siapa?” tanyanya lagi. Nah baru yakin ngomong dengan saya hihihi… 
“Sendiri”
“Mau kemana?”
“Chiang Mai”
"Gw bolak balik ke Thailand tapi belum pernah kesana, emang di sana ada apa?"
"Katanya ada bunga sakura mbak"

Beliau adalah Mbak Rn yang akan belanja bersama suaminya. Sebelum keluar saya minta peta ke Tourist Information. Beres imigrasi kami ke Airport Rail Link (City Line) yaitu stasiun kereta menuju ke kota. Kami akan ke St. Phaya Thai lalu ke BTS Skytrain (Sukhumvit Line) ke St. Mo Chit sedangkan Mbak Rn ke arah sebaliknya St. Rachathewi. Alhamdulillah dibayarin hihihi...

Dari St. Mo Chit saya disuruh mbak Rn naik taksi ke terminal bus Mo Chit, tempat bus jurusan Bangkok - Chiang Mai berada. Waktu masih panjang masih sempat jalan-jalan dulu ke Pasar Chatuchak yang terletak tidak jauh dari St. Mo Chit. Berhubung umpel-umpelan, panas, keringetan, lengket saya tidak betah dan keluar.

Saya ngadem ke taman di sebelah pasar yaitu Chatuchak Park. Selonjoran di bawah pohon sambil makan bekal dari kosan ada jeruk, permen dan beberapa biskuit. Jauh lebih nikmat dari pada jalan-jalan di pasar apalagi ditemani mas bule ganteng yang bersandaran ransel di pohon sebelah.

Chatuchak Park

Terlihat matahari mulai condong, saya bergerak mencari taksi untuk ke terminal Mo Chit. Taksi saat itu lumayan mahal karena efek demo. Sampai di terminal saya mencari tempat penjualan tiket bus ke Chiang Mai. Ada banyak armada bus dan pilihan kelas. Tentunya saya pilih yang paling murah, yaitu 563 THB (1 THB = Rp 390). Lalu saya diberi selembar tiket dengan tulisan keriting semua kecuali nama saya, jadi ragu benarkah ini tiket ke Chiang Mai? Beruntung bertemu dengan mbak mahasiswi di ruang tunggu dan menemani ngobrol.

“Mbak ini tulisan Chiang Mainya yang mana ya?”
“Ini Bangkok, ini Chiang Mai"
"Trus yang bawah ini apalagi?"
"Nomer platform 38, nomer busnya 139, bus berangkat jam 18.00” jelasnya.
“Coba lihat punya saya, yang tulisannya sama yang mana?” tanya beliau sambil menunjukkan tiketnya, seperti mainan carilah perbedaan pada gambar berikut ini.
“Ini Bangkok, trus ini Phuket” kata saya
“Ya betul”
“Ya iyalah dibawahnya ada tulisan Inggrisnya hahaha..”

Lalu mbak itu menerjemahkan tulisan di belakang tiket saya yaitu macam-macam fasilitas yang disediakan oleh bus.

"Oiya mbak gimana cara bilang "thank you" di Thailand?" tanya saya.
“Kob..kun..kha..” jawabnya seperti mengajari anak kecil.
“And you're welcome?”
“Yii..dee..kha..” entah spellingnya bener apa ga. Lumayan buat gegayaan nanti nun jauh disana.

Jam 17.30 saya disuruh cari tempat bus berada. Saya pikir bus akan datang ke depan ruang tunggu, ternyata harus cari sendiri ke platform 38. Dan rupanya semua penumpang sudah naik. Busnya lumayan nyaman tempat duduknya lega, ada selimut, bantal leher dan sandaran kaki. Melihat mbak sebelah kelihatannya enak sekali menyandarkan kakinya, tapi bingung cara bukanya. Tanyalah ke beliau, eh tinggal dipencet tombol di sebelah kursi dan di tarik sandaran kakinya sesuai selera. Norak banget hihihi…

“Thank you”
“You're welcome, where are you going?”
“Chiang Mai” jawab saya sesingkat mungkin biar tidak ditanya lagi, karena belum tahu sama sekali tentang Chiang Mai, takut ditanya Chiang Mainya mana? Nah lo...

Tak berapa lama ada mbak-mbak berpakaian rapi seperti pramugari membagikan snack dan air mineral. Lalu tepat jam 18.00 bus bergerak meninggalkan terminal Mo Chit. Di perjalanan mbak pramugari sering mider menawarkan berbagai minuman ada jus, teh dan kopi. Gratis.

Setengah perjalanan sekitar jam 00.30 bus berhenti di rest area. Saya pikir tempat apa karena sederhana sekali tidak seperti rest area di lndonesia yang menyerupai tempat wisata. Semua penumpang turun. Saya bermaksud ke toilet, tapi bingung tidak ada tulisan toilet hanya tulisan keriting dengan tanda panah di bawahnya menunjuk ke sebuah pintu dengan ciri-ciri seperti toilet. Tidak ada tulisan ladies atau gents, tidak ada gambar orang seperti di rest room pada umumnya. Semuanya alphabet Thailand. Lah meneketehe... Dari pada salah masuk, saya menunggu di depan pintu agar ada yang masuk duluan.

Artinya toilet

Selesai ritual alam saya ingin menggosok gigi, tapi sikat gigi ada di dalam bus. Sayapun keluar hendak mengambilnya. Tapi apa yang terjadi... Bus jurusan Bangkok-Chiang Mai tidak ada pemirsah, hanya ada bus Bangkok-Mae Hong Son dan satu kakek yang saya tanya entah ngejawab apa. LHAAH..!! Kemana? Apa maksudnya ini saya ditinggalkah? Perasaan ke toilet cuma sebentar. Trus orang-orang pada kemana?

Sepertinya tidak mungkin ditinggal pasti mbak pramugari bakal ngecek dulu penumpangnya sudah lengkap atau belum dan mbak di sebelah juga tidak mungkin diam kalau sebelahnya masih kosong.

Saya coba melangkahkan kaki ke teras paling ujung. Ternyata dikejauhan di sebelah rest area ada bus yang sepertinya sedang diisi bensin. Saya mendekat ke bus itu dan ternyata bertuliskan Bangkok-Chiang Mai.
“Chiang Mai?” tanya saya ke crew di dekatnya.
“Yes!” Mak…PLONG. Bapaknya ngomong bahasa Thailand yang saya tahu maksudnya “Nunggu disana aja”. "I want to take something pak".

Ternyata di dalam bus tidak ada orang satupun, lha terus pada kemana? Entahlah. Saya ambil sikat gigi dan kembali ke toilet lalu melakukan ritual secepatnya, takut ditinggal. Keluar dari toilet bus sudah kembali di tempat semula dan penumpang yang lain juga mulai masuk. Masih penasaran kok penumpangnya tiba-tiba menghilang lalu nongol lagi. Penasaran saya terjawab setelah hari ketiga di Chiang Mai setelah saya mengamati bekas tiket bus, ternyata ada bagian yang diberi pembatas bolong-bolong untuk disobek sepertinya kupon makan. Lha wong tulisane kriting mana saya tau. Jadi mungkin pada makan, tapi dimana rumah makannya? Ya sudahlah... kembali ke perjalanan... Bus kembali melaju dan saya kembali tidur.

Menjelang jam 4 pagi saya terbangun karena ada beberapa penumpang yang turun. Rupanya bus telah memasuki daerah Chiang Mai. Tak berapa lama kemudian bus berhenti di terminal Chiang Mai. Begitu turun dari bus mak brrrrghh... Dingin banget seperti di Ranukumbolo. Pakai jaket dan kaos kaki masih tembus.

Trus setelah ini saya harus kemana, entahlah belum tau. Hp pulsanya habis kesedot roaming internet, maklum hp baru masih gaptek. Baru beli seminggu. Cari free wi-fi sinyal lemah, ada sisa pulsa untuk sekali sms ke Monica teman yang saat itu di Chiang Mai ternyata pending. Di pojokkan ada yang jual password wi-fi 20 THB untuk 30 menit tapi masih tutup. Tanya ke penjaga toilet di sebelahnya malah dikasih charger. Yo wes lah pasrah menunggu pagi benderang.

Bersambung....

Oct 23, 2014

Penginapan Gratis Di Singapura

October 23, 2014 6 Comments
Ini pengalaman saya pertama kali backpacking ke luar negeri. Awalnya hanya berniat ke Batam ke tempat teman saya Joy bekerja. Sampai di Batam terlintas mampir ke negeri seberang, pengen lihat patung singa muntah yang selama ini hanya melihat di majalah travelling. Biar seperti horang kayah yang lagi liburan di luar negeri gitu hihihi...

Kami berniat menginap di tempat teman Joy yang bekerja di Singapura. Joy mengurus segalanya termasuk membeli tiket kapal ferry PP. Setelah semua beres kami menuju ke Pelabuhan Batam Center tempat kapal jurusan Batam-Singapura bersandar. Sekitar jam 6 sore kapal mulai bergerak meninggalkan Batam. Satu jam kemudian kapal merapatkan diri di Terminal Ferry Harbourfront.

Setelah proses imigrasi kami masuk ke Harbourfront Center, yang berada satu gedung dengan pelabuhan ferry. Harbourfront Center adalah salah satu shopping mall yang megah di Singapura. Di sini banyak pilihan transportasi umum untuk menuju ke bagian lain di Singapura seperti MRT, taksi dan Bus.

Singkat cerita, sampai di sini hp kami mati semua. Joy membawa 2 hp dan dua-duanya keok, padahal nomer telepon temannya tersimpan disana. Itulah kebodohan kami tidak mencatat nomer telepon dan alamatnya di kertas. Sambil menikmati Singapura diwaktu malam sesekali mencoba menyalakannya lagi tapi sia-sia. Akhirnya memutuskan akan duduk sampai pagi di area Merlion Park (tempat singa muntah bertengger). Anggap saja sedang dinas malam.

Kira-kira jam 12 malam kami berniat mencari mushola mengingat belum sholat isya. Keliling menyusuri tepi pantai tapi hanya ada bar dan hotel-hotel mewah. Melihat hotel mewah saya jadi teringat dahulu kala pernah menumpang sholat di lobby hotel bintang 5 di Jakarta. Lalu timbul niat untuk masuk ke salah satu hotel di kawasan itu dan menanyakan barang kali di lobby ada mushola.

Beberapa hotel kami datangi tapi yang terlihat sangat mewah dan exclusive tidak berani coba-coba. Sekian lama muter ketemulah hotel yang terlihat ramai banyak orang keluar masuk. Entah hotel apa. Kami masuk dan disambut oleh mbak resepsionis yang cantik.

"Hello..." sapa mbak cantik.
"Excuse me, do you have a prayer room?" tanya kami dengan polosnya.
"Prayer room...? Oh No!!" mbak cantik seketika berbalik badan.

Kami saling berpandangan bengong tanpa beranjak dari tempat itu. Saya melirik ke pojok kanan ada sofa bagus lengkap dengan meja dan di pojok kiri ada toilet.

"Joy kita numpang sholat di sofa itu aja trus wudhunya di toilet sana"
"Tapi dimarahin ga?"
"Ga kali cuma numpang sholat doank"
"Ya udah yuk"

Toiletnya sangat bagus, wangi, bersih dan kinclong. Seandainya diijinkan menginap di toilet itu juga tidak mengapa. Tak ada orang selain kami berdua sehingga dengan santainya foto-foto selfi dengan berbagai gaya. Maklumlah wong ndeso biasa mandi di kali.

Selesai wudhu kami ke sofa. Tidak banyak orang di dalam ruangan itu tapi masih terlihat ada aktivitas. Ada slow musik dan suara orang mengobrol kadang disusul dengan tertawa pelan. Saya memakai mukena dan sholat sambil duduk di pojokan. Joy berjaga-jaga, seandainya kami diusir.

Tempat sofa yang menjorok ke dalam di sebelah kanan. Foto dari google.

Selesai sholat saya bersandar di sofa yang wangi sekali, empuk dan lembut tentunya. Ruangannya sejuk sangat kontras dengan udara di luar. Tiba-tiba mata saya ingin dipejamkan.

"Joy kita tidur di sini aja yuk"
"Diusir bego"
"Kalo diusir kita tinggal pergi, lumayan kan udah tidur sejam dua jam"
"Iya juga ya, kadang-kadang lo pinter"
"Jidat lo, emang gw pinter"

Awalnya agak susah untuk menutup mata, was-was takut kena marah. Lama-lama saya pun terlelap ke alam mimpi. Tiba-tiba dikejutkan oleh suara...

"Woee... Bangun udah pagi..."
"Udah pagi? Kok kita ga diusir?" melihat ke jendela di luar sudah agak terang. "Kita sholat subuh dulu, selagi ada toilet"

Kami bersih-bersih badan, tidak mandi hanya dilap dan ganti baju. Badan terasa segar sekali efek kenyamanan bobok di hotel mewah. Beres urusan toilet saya sholat subuh di sofa lagi. Suasana pagi itu lebih sepi dibanding malam sebelumnya. Selagi saya sholat Joy berkeliling melihat isi ruangan.

"Ini bukan hotel tau"
"Hah, trus apa?"
"Ini BAR. Udah tutup semua pintu udah dikunci"
"Ah ngarang kamu"
"Beneran pintu yang semalem kita masuk juga dikunci"
"Pintu yang ngadep ke danau?"
"Dikunci semua"
**Mak Deg!!!**

Saya melipat mukena dan memasukkan ke dalam tas lalu mengikuti Joy yang ingin menunjukkan semua pintu akses keluar yang telah terkunci. Terbayang kalau bar bukanya pasti malem lagi, tiket pulang ke Batam gimana? Ini negara orang bok gimana kalau ditangkap trus dibawa ke polisi? Segala perandaian buruk melayang di pikiran, tidak percaya dengan apa yang terjadi. Mata jelalatan memperhatikan seluruh ruangan berharap ada pintu keluar.

Joy iseng masuk ke tempat bartender. Di ruang itu ada beberapa rak penuh dengan segala minuman. Di belakang rak ada pintu kaca yang hanya diikat dengan rantai. Jika didorong bisa terbuka sedikit. Joy mencoba mendorongnya dan berusaha keras keluar melalui pintu itu. Saya membantunya mendorong pintu dan badan Joy dari dalam. Dan ternyataaa BERHASIIIL....!!! Giliran saya, saya dibantu ditarik dari luar oleh Joy sambil berusaha keras menahan pintu. Sambil agak kejepit tapi akhirnya berhasil juga. Haaah... Alhamdulillah beruntungnya kami yang dikaruniai badan kecil-kecil.

Pintu tempat kami keluar di sekitar lengkungan paling ujung di bawah bendera. Foto diambil 2 tahun kemudian dan tidak ada pintu yang dirantai.

"Tengkyu ye penginapannye" teriak kami kegirangan.
"Kapan-kapan kita nginep lagi hahahaa...."

Setelah mengabadikan beberapa gambar kami segera menjauhi tempat itu, takut terlalu banyak terekam oleh CCTV. Mengingat kejadian semalem bikin tertawa ngakak sepanjang jalan, cari mushola kok di bar. Pantes aja mbak resepsionisnya langsung sewot. Ada dua makhluk culun berkaos oblong kucel dan sendal jepit. Datang bukan reservasi tempat malah tanya mushola. Mungkin bisa jadi inspirasi buat para pengusaha bar, kalau bikin bar sebaiknya dilengkapi dengan mushola.

Terlepas dari kasus bar pastinya kami bahagia sekali bisa menginap gratis di tempat mewah. Tidak merepotkan orang pula. Anggaran Rp 500.000,- per orang untuk menginap di penginapan yang paling murah telah terselamatkan. Alhamdulillah...

Setelah tanya-tanya ke mbah google memang benar tempat itu adalah Five Star Hotel - Luxury & Elegance in Singapore dengan tarif start from Rp 4 juta sekian / malam pada saat itu. Kami nyasar di Bar nya. Pantesan toiletnya aja bagus bangeet... Berhubung taunya hanya toilet jadi yang berkesan ya sebatas itu. Lokasinya dari tulisan "One Fullerton" belakangnya singa muntah ke arah kiri sekitar 150 meter. Mau gratisan juga? Silahkan dicoba hehehe...

Pintu masuk