May 3, 2015

Liburan Ke Jogja

Saat ini Saya dan Christine berada di dalam kereta ekonomi Pasundan jurusan Surabaya - Bandung. Kami naik dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta dan akan turun di Stasiun Kiara Condong Bandung. Biarpun kereta ekonomi tapi lumayan nyaman ada ACnya walaupun dinginnya sedang cenderung sejuk. Kursinya 3-3 berhadap-hadapan tapi alhamdulillah kami kebagian kursi yang paling belakang yang hanya untuk 2 orang dan menghadap ke depan. Sama juga seperti waktu berangkat. Itulah seninya naik kereta ekonomi jika tidak beruntung keretanya seperti berjalan mundur.

Setelah beberapa saat terdengar klakson panjang kereta bergerak meninggalkan Stasiun Lempuyangan pertanda liburan kami di Jogja telah berakhir sehingga besok kami harus bergelut dengan bakteri lagi. Ya, kami sedang pelatihan mikrobiologi di RS Hasan Sadikin sehingga kami pulang dan pergi bukan dari Cilegon. Kami ke Jogja karena ada tanggal merah di hari Jumat sehingga libur 3 hari. Dalam rangka menemui sang pujaan hati yang sedang kuliah. Tiga hari juga lumayan buat melepas kerinduan dua insan yang sedang long distance. Sejak sebulan setelah tiket confirmed, jantung selalu berdebar-debar membayangkan jalan-jalan sambil bergandengan tangan menikmati romantisnya kota Jogja, dinner berduaan di cafe atau angkringan di pinggir jalan. Tapi itu hanya berlaku untuk Christine bukan saya. Saya sih hanya pengen say hello dengan si ganteng yang selalu setia narik andong mengantarkan para pelancong yaitu kuda. Kasian banget, begitulah nasib jadi jomblo kuda aja kelihatan ganteng.

Ini loh hehehe....

Hari pertama kami sampai di Jogja jam dua siang. Setelah turun dari kereta kami makan soto di dekat Stasiun Lempuyangan hanya 20 ribu saja berdua sudah include es teh manis dan krupuk sepuasnya. Murah sekali pemirsa. Setelah itu kami jalan kaki ke daerah Malioboro yang jaraknya sekitar 1 km. Kami memilih jalan kaki pelan-pelan karena penasaran pengen melihat rumah-rumah penduduk yang unik sambil menggerakkan kaki setelah 9 jam digantung di kereta. Sepanjang jalan tak hentinya kamera saya menjepret apapun yang berada di pinggir jalan. Ternyata asyik banget. Baru kali ini saya jalan-jalan di Jogja padahal rumah orang tua saya di Pacitan hanya 3-4 jam dari Jogja. Saya sering sekali transit dari Jakarta dijemput kakak di Bandara Adi Sucipto atau naik travel langsung pulang ke Pacitan. Ga pernah mampir hehehe... Asli norak banget hari gini baru tau Jogja. Oh ya pernah jalan-jalan mungkin sekitar belasan tahun yang lalu saat masih kelas 4 SD (kalau ga salah) ikut tour dari kantornya bapak. Ke Borobudur, Prambanan, Monumen Jogja Kembali, Gembira Loka dan Keraton. Lupa semua wajah Jogja saat itu seperti apa.

Mungkin baru kali ini saya menginjakkan kaki di Malioboro, dulu hanya duduk manis bermain bersama anak-anak temen bapak yang seumuran. Seingat saya dulu suka terheran-heran setiap bertemu dengan turis berkulit putih.

Jaman dulu kamera masih pakai roll film setelah filmnya habis dicetakin ke studio, 5-7 hari kemudian baru bisa diambil. Sehingga kalau foto harus diirit-irit hanya untuk moment yang penting. Nah saya keheranan dengan turis berambut merah yang jeprat jepret tanpa mikir filmnya akan habis, satu objek bisa sampai beberapa kali jepret. Habis berapa roll ya? Wah pasti orang kaya...

Saat itu di Borobudur dan Prambanan hujan sehingga kami harus menyewa payung. Saya dituntun bapak kadang gantian dengan ibu. Saya keheranan lagi mendengar bahasa asing entah bahasa mana setau saya bukan bahasa Inggris dan juga melihat para penjual baju keliling yang menawarkan baju ke turis-turis berambut merah dengan bahasa Inggris. Yang paling mengherankan lagi guide-guide di setiap tempat wisata menyambut kami sambil menjelaskan semuanya, kok tau ya? "Bu, orang itu pinter ya" "Itu namanya pemandu wisata" kata ibu. Itulah beberapa kenangan tentang Jogja yang masih tersimpan di memory saya.

Kembali ke masa kini. Di sepanjang jalan Malioboro banyak sekali penginapan sehingga kami tidak booking sebelumnya. Christine yang lebih tau karena setiap liburan pasti ke Jogja. Saya hanya mengekor di belakangnya masuk dari gang ke gang yang seperti labirin di kawasan Sosrowijayan menanyakan kamar kosong. Jadi teringat di Phi Phi Island, sepanjang jalan dan lorong berisi penginapan semua. Tinggal pilih mau yang seperti apa, tentunya harga membawa rupa. Setelah sekian lama ditolak karena full dan membanding-bandingkan akhirnya kami menjatuhkan pilihan di Pawon Cokelat Guest House. Harganya sedikit lebih mahal tapi demi kenyamanan kami memilihnya. Kalau di negeri orang biasanya saya ucluk ucluk sendirian tapi berhubung ada Christine ya ga mau pusing pengen terima beres "Kamu aja yang nanya-nanya" hehhe...

Guest House ini masih bangunan baru tapi disetting seperti kuno yang mana lantainya hanya disemen halus tidak pakai keramik sehingga pertama kali masuk ke kamar kami tidak mencopot sendal dikira lantainya kotor. Sempat tanya ke salah satu staf "Mas ini lantai belum jadi apa gimana?" "Ga mbak memang begini" Eh dasar norak ya dan ternyata bener setelah mencopot sendal, kaki kami tetap bersih. Karena terlanjur pakai sendal di kamar akhirnya saya meminjam sapu ke resepsionis. "Kok nyapu-nyapu sih mbak?" tanya mbak resepsionis yang ayu dengan logat Jogjanya. "Kelupaan tadi masuk kamar ga copot sendal".

Nungguin hujan reda di depan kamar, Pawon Cokelat Guest House

Setelah mandi, istirahat dan sholat maghrib Christine janjian dengan sang pujaan hatinya. Saya keliling sendiri ke Malioboro. Melihat batik, kaos oblong dan pernak-pernik yang lucu-lucu, bagus-bagus dan murah-murah. Tangan saya gatel rasanya pengen beli semua. Tapi mengingat kebutuhan, saya hanya membeli dua potong kaos berlengan panjang yang memang saya butuhkan untuk travelling suatu saat nanti. Kebetulan salah satunya tertulis nama saya "Cipta Wening Cipta Mandulu Cipta Dadi" bahasa kejawen yang artinya setelah saya browsing di google "Satu arah dan tujuan kepada yang Maha Tunggal".

Kemudian saya mencari tour ke tempat wisata di Jogja, seperti ke Borobudur, view Merapi dan Prambanan karena ga mau repot mengingat tempat wisata itu letaknya jauh dari kota. Ternyata jarang peminatnya minimal harus 3 orang, sedangkan saya hanya bertemu 1 orang turis Jepang yang bersedia untuk sharing. Bisa 2 orang tapi harus tambah duit lagi. Ada juga yang paket berangkat jam 4 atau jam 5 pagi untuk melihat sunrise tapi males bangun paginya.

Setelah sekian lama mampir ke beberapa travel dan hasilnya nihil saya makan nasi kucing di angkringan di pinggir jalan, sambil ngobrol dengan bapak penjualnya dan beberapa pembeli lainnya. "Ngapain ikutan tour mbak, udah mahal waktunya terbatas lagi mending naik bus sendiri aja" Eh iya juga ya kenapa baru kepikiran, di negeri orang aja saya sering keluyuran naik bus sendirian kecuali kalau tempatnya ga dijangkau oleh angkutan umum. Kenapa di negeri sendiri mau pakai tour. Untung ga nemu teman sharing jadi slamet duit saya.

Keesokan harinya setelah sholat subuh saya dan Christine jalan-jalan ke sekitar Malioboro ke arah Keraton. Langit Jogja pagi itu mendung dan ternyata mengakibatkan hujan kecil rintik-rintik yang tahan lama. Karena hanya iseng jalan-jalan pagi jadi kami tidak persiapan apa-apa. Payung ditaro di dalam tas dan ditinggal di penginapan. Hanya membawa kamera dan selembar uang di saku untuk berjaga-jaga. Hujan semakin deras, kami berteduh di pojok perempatan jalan di gedung Bank BNI yang berseberangan dengan kantor pos. Biarpun menunggu katanya membosankan tapi tetap semangat melihat bangunan jaman Belanda yang masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik. Sekilas seperti Kota Tua di Jakarta atau di Penang dan Melaka Malaysia tapi menurut saya jauh lebih keren di Jogja.

Setelah hujan sedikit mereda kami berlari menerobos hujan untuk kembali ke penginapan. Sampai di kawasan Malioboro kami masuk ke emperan toko di sepanjang jalan tempat pedagang kaki lima sambil cuci mata melihat barang yang lucu-lucu. Sampai di pojok Jalan Sosrowijayan kami harus berhujan-hujanan lagi.

Sampai di penginapan breakfast sudah tersedia. Nasi, gudeg, krecek dan telor seketika langsung ludes kami habiskan. Kehujanan ternyata bisa menambah nafsu makan. Bilang aja laper. Selesai makan hujan semakin deras, sebagian penghuni penginapan yang telah berdandan rapi harus bertahan ngobrol sambil makan kwaci di teras, sebagian lagi meringkuk di dalam kamar termasuk kami. Hujan becek ga ada ojek memang paling enak buat bermalas-malasan. Jadinya hari itu saya dan Christine honeymoon saja memanfaatkan fasilitas yang bagus di dalam kamar. Springbed, bedcover, bantal yang empuk dan semuanya wangi.

Jam 11.30 hujan mereda, saya melangkahkan kaki meninggalkan penginapan. Christine tetap bertahan honeymoon sendiri di kamar. Saya mampir ke abang bakso di seberang pojok Jalan Sosrowijayan sebelum akhirnya sholat dzuhur di Masjid Malioboro lalu naik Trans Jogja ke Prambanan. Rupanya jauuh pemirsa memakan waktu 1,5 jam tapi hanya sekali saja naik bus. Itupun harus berjalan kaki yang lumayan oye sampai ke pintu masuk dan area candi. Syukurlah saya diberi kekuatan sehingga bisa menginjakkan kaki sampai mengelilingi candi. Saya disapa ramah oleh salah seorang guide disana "Mbak suka travelling ya? Udah kemana aja? Saya juga suka travelling, salam kenal ya" Senang sekali, lebih tepatnya sih bangga. Ga sia- sia saya memakai kaos andalan saya yang bertuliskan "Backpacker Dunia" yang memang tujuan saya buat nyari temen. Beberapa kali terlihat orang berbisik-bisik sambil membaca tulisan itu, cihuyy... Gaya euy. Terima kasih kepada mbak Elok sang penggagas grup Backpacker Dunia.

Jangan lihat orangnya baca tulisan di bajunya aja

Saya kembali ke penginapan jam 18.15 masih ada waktu untuk sholat maghrib. Seandainya bus Trans Jogja sampai di halte Malioboro waktu maghrib masih longgar. Karena hanya berhenti di suatu halte (lupa namanya), terpaksa harus jalan kaki yang lumayan jauh bersama turis ganteng entah dari mana dan 2 turis China. Christine sudah berdandan rapi menunggu sang pujaan hati menjemput untuk makan malam. Saya males keluar lagi sehingga dibawakan nasi kucing dan susu jahe.

Hari terakhir di Jogja cuaca sangat cerah. Kami jalan-jalan ke benteng Vredeburg dan Keraton. Sayang sekali waktunya terbatas sehingga agak terburu-buru karena jam 11.00 kami harus sudah kembali ke penginapan untuk mandi, cek out dan ke stasiun. Kereta kami ke Bandung jam 14.00. Di dalam benteng Vredeburg terdapat museum sejarah perjuangan Indonesia mengingatkan pelajaran sejarah semasa sekolah. Tapi semuanya telah lupa dan teramat susah untuk menghafalkannya kembali. Dulu ga pernah bisa sekarang lupa.

"Sebelum ke keraton bersihin dulu upilnya" "He'eh om..."

Di Keraton suasananya adem dan santun pastinya bikin betah. Untuk bertegur sapa dengan abdi dalem saya berusaha menggunakan bahasa jawa kromo inggil walaupun jadinya kacrut. Penggunaan bahasa kromo inggil yang tidak tepat akan bermakna salah kaprah, ada beberapa kata yang santun ditujukan untuk menghormati orang lain tapi tidak tepat digunakan untuk diri sendiri. Contohnya kata "tindak" yang artinya "pergi". "Badhe tindak pundi" (mau pergi kemana), kalimat ini sopan untuk orang lain tapi jika digunakan untuk diri sendiri tidak tepat "Dalem badhe tindak" (saya mau pergi). Biarpun sopan tapi salah, sebaiknya memilih kata yang sedikit lebih biasa dari kata "tindak" (bahasa ngoko). 

Karena saking berhati-hati takut kesleo, bahasa jawa saya jadi campur aduk, kadang kecampur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pada akhirnya lebih lancar pakai bahasa Indonesia. Beda lagi kalau ngobrol dengan keluarga di rumah. Dari kecil terbiasa ngomong bahasa jawa sehingga susah untuk ngobrol dengan bahasa yang lain. Tapi karena tidak ada perasaan takut salah bisa langsung nyerocos tanpa a uu lagi. Inilah penyebab jadi suka dikatain orang gaya banget "Kalau sudah pergi dari kampung jadi lupa dengan bahasa Jawa" sebenarnya bukan lupa tapi efek karena terlalu berhati-hati takut tidak sopan.

Bersama abdi dalem di keraton, jadi malu saya ketauan aslinya "kalem"

Ini juga ga kalah kalemnya...

Sebelum kembali ke penginapan kami mampir ke pusat oleh-oleh khas Jogja untuk membeli sedikit buah tangan buat teman-teman di Bandung. Abang becak yang mengantarkan kami setia menunggu kami berbelanja. Tak lupa juga kami mampir ke salah satu toko batik tapi hanya membeli sepotong batik untuk diri sendiri. Sekian liburan singkat kami di Jogja. Diperkirakan jam 23.20 kereta kami akan sampai di Bandung.

22 comments:

  1. Di indonesia juga banyak sekali ya tempat wisata , salah satunya jogjakarta .. :-)

    ReplyDelete
  2. wah si mbak napa senang dan gembira liburan nya,, matap deh emang kota jogja sangat menarik untu di kunjungi berwisata,,,

    ReplyDelete
  3. pngalaman liburan yang sangat indah si mbak nampa senang dan gembira hehe

    ReplyDelete
  4. liburan yang menyenangkan,kota jogja yag sangat menarik dan alamnya sangat indah. http://www.komodofloresadventure.com

    ReplyDelete
  5. nice article nice trip... kalau ke kota Malang cobain jkuga wisata yang seruu dan edukatif, cuma di outbound Malang

    ReplyDelete
  6. ayo liburan ke jogja buat info kalau diperjalanan kehabisan uang bisa jual emas ke saya,bisa dijemput wilayah jogja kota..
    http://jualbeliemasjogja.blogspot.co.id

    ReplyDelete
  7. jalan2 ke jogja kurang lengkap jika gk mampir ke kalibiru wisata di jogja

    ReplyDelete
  8. Ulasanya sangat mantab dan sangat informatif . untuk ke jogja lagi slhkn hubungi kami www.busjogjabagus.com buruan dapetin garda [sewa bus pariwisata murah] tahun ini

    ReplyDelete
  9. terima kasih infonya sangat membantu.,.,.salam
    dktour jogja

    ReplyDelete
  10. wah mantap jiwa liburan ke jogja bikin kita menjadi freas dan bisa menghilangkan beban
    wkwkw
    ingin sekali ke sana ..
    thanks ya info nya
    main ke Blog saya atau Website saya ya

    ReplyDelete
  11. waw menarik sekali liburna ke jogja jadi ingin ke sana sama teman2 dan keluarga
    thanks ya info nya
    main ke Blog saya atau Website saya ya

    ReplyDelete
  12. Jogja menyimpan banyak pesona wisata yang menarik yang patut buat dikunjungi.

    Mau tau wisata apa saja yang ada di jogja? Yuk kunjungi simakpedia

    ReplyDelete
  13. terimakasih kak, artikelnya sangat membantu sekali, sukses selalu ya kak

    villa di puncak

    ReplyDelete
  14. terimakasih kak, artikelnya sangat membantu sekali, sukses selalu ya kak

    villa di puncak

    ReplyDelete

Comment tapi jangan spamming yess!! Salam hormat High Quality Gembel.