May 21, 2015

Sariawan Yang Menyebalkan

May 21, 2015 1 Comments
Seperti biasa nona temen sekamar sudah tertidur saat saya keluar dari kamar mandi. Saya mandi belakangan setelah beliau karena butuh waktu agak lama untuk menggosok gigi. Di mulut saya banyak sariawan ada beberapa titik di bibir dalam bawah, dalam atas, di lidah dan juga tenggorokan sakit untuk menelan. Bahkan diujung rahang terasa sakit jika dipegang. Sehingga untuk menggosok gigi harus ditutup dengan jari dan digosok pelan-pelan.

Selama di Bandung saya tak lepas dari sariawan satu sembuh muncul lagi dua, belum sembuh nongol lagi di sebelahnya. Jadinya perih sana sini seperti saat kau meninggalkan diri ini.. Sering kali kalau makan sambil berkaca-kaca bahkan menitikkan airmata. Di minggu terakhir jangankan makan, ketawa aja sambil nangis nahan perih. Bibir harus dijepit pakai tangan agar jangan sampai ketawa lebar. Nona Christine suka ngomong nyeletuk yang aneh-aneh, alhasil saya tak bisa menahan tawa dan diakhiri dengan meringis. Andaikan tidak lagi bertamu di tempat orang, saya akan menyendiri agar bisa diam membisu.

Biasanya diawal terluka di dalam mulut, sebelum melebar segera colok pakai obat cair ajaib berwarna coklat yaitu Alb*til yang bikin bibir sakiiiit perih kya disobek-sobek tapi seketika langsung sembuh. Kalaupun masih kambuh tinggal dicolok lagi 2-3 kali sudah pasti menghilang. Tapi kali ini sudah terlanjur melebar tak kuasa buat ngolesinnya. Kebayang bakal jingkrak-jingkrak kya ayam di potong.

Seorang sahabat yang biasa bergelut dengan obat-obatan menyarankan untuk membeli K*nalog untuk obat oles dan minum D*nsera agar tidak terjadi peradangan. Saya kurang suka dengan saleb K itu karena tidak enak di mulut dan lebih lama sembuhnya dibanding Alb*til. Seperti ngemut sesuatu rasanya pengen meludah terus dan bergerak sedikit jadi hilang tertelan.

Disarankan juga untuk minum vitamin dan air putih yang banyak. Saya memang mengurangi minum di Bandung alasannya males beser. Minum segelas aja tiap setengah jam harus bolak balik ke toilet. Paling males kalau lagi kerja dengan APD lengkap harus dicopotin satu-satu. Apalagi pintu toiletnya sering macet dan kuncinya susah dicopot. Bibir jadi kering dan pecah-pecah. Itulah gara-garanya.

Sekarang sudah terlanjur begini baru terasa mencegah memang lebih baik dari pada mengobati dan sehat itu mahal. Tapi alhamdulillah badan saya selalu sehat bisa beraktifitas apapun. Hanya sedikit dikasih cobaan jika dibandingkan dengan pasien di rumah sakit yang sering saya temui sehari-hari bisa dikatakan "halah segitu doank". Anggap saja latihan buat jadi wanita sholeha, pendiam, idaman para lelaki yang senyumnya penuh dengan misteri ciyeeee.... Prett !!

Sini om sariawannya diobatin...

May 17, 2015

Bandung Lautan Makanan

May 17, 2015 3 Comments
Baru juga jam 19.30 WIB nona Christine sudah tertidur pulas. Seharian dia pergi meninggalkan saya, maksudnya pergi ke gereja berlanjut nengok adiknya sampai pulang menjelang malam sehingga kecapekan dan langsung bobo. Tapi ga juga sih ga kemana-kemana pun dia mah pelor, sambil nunggu giliran mandi aja bisa ketiduran, selesai mandi juga langsung tidur lagi. Ga kya saya mau mulai tidur aja kadang susah banget dan akhirnya jadi susah bangun. Denger suara sedikit terbangun dan susah merem lagi, kalau nona yang satu ini mau ada suara kya apa diutak utik kya apa tetep angleerr. Paling bergerak sedikit pindah posisi sambil kretuk-kretuk kya ngunyah permen. Karena nona sudah tidur jadi saya merenung sendiri sambil baca buku dan nonton TV. Berita di TV banyak memberitakan kemacetan lalu lintas akibat long weekend termasuk arus dari Bandung menuju Jakarta.

Memasuki minggu ketiga di Bandung saya mulai gelisah berarti sebentar lagi tidak sampai 2 minggu saya harus kembali lagi ke habitat awal yaitu ke Cilegon. Tinggal di Bandung sebenarnya betah ga betah. Betah karena bisa refreshing dari rutinitas di tempat kerja yang tak dipungkiri kadang sangat membosankan. Pasien marah-marah, bos cemberut ngomel-ngomel kurang sajen, telpon krang kring sepanjang waktu beegghh... Rasanya males balik. Tapi namanya bertamu di tempat orang apalagi dalam rangka belajar banyak kikuknya, walau sudah dilatih ikut kerja tapi tidak sebebas di tempat sendiri. Banyak kekhawatiran takut salah, takut rusak, takut menggagalkan kerjaan orang jadinya pengen cepat berlalu dan kembali ke asal. Apalagi tinggal di kost-kost'an sementara dengan fasilitas seadanya, tidak seperti kost saya dengan semua perabot dan perbekalan yang saya butuhkan.

Saya kangen laptop. Biar laptop jadul tapi alhamdulillah sampai sekarang masih berfungsi dengan baik. Karena berat, saya tidak pernah membawanya kemana-mana. Selain itu kangen ama cobek. Saya suka sekali makan rujak tapi ga suka sambelnya yang pakai gula merah apalagi pakai kacang wueekk... Lebih suka ngulek cabe sendiri ama garam yang banyak trus ditambah sedikit bumbu sachet. Cceesss... #ngiler.

Selesai sholat isya saya sering keluar membeli capcay kuah di tenda romantis depan pager kost. Cemilan saya sebelum tidur. Ga bikin gemuk kok karena banyak sayurnya. Buktinya saya tetap langsing. Sambil menyendok pelan-pelan karena masih panas saya menikmati moment yang sebentar lagi akan saya tinggalkan. Biasanya banyak mahasiswa kedokteran makan disitu. Kadang ada yang nehi-nehi seperti ratu jodha. Abang penjualnya sampai hafal saya ga suka pakai krupuk. Harganya 11 ribu rupiah.

Tidak jauh dari tenda romantis ada Kantin 29, tapi bukanya hanya siang hari. Kantin prasmanan dengan beraneka masakan seperti masakan rumah, seperti masakan saya (ibu saya maksudnya). Sebelum tau adanya kantin ini saya selalu makan siang berpindah-pindah, asal masuk ke suatu tempat kadang rasanya cocok kadang asal kenyang. Sampai suatu hari nemu kantin favorit ini dan akhirnya enggan cari yang lain kecuali jika makanannya habis. Harganya standar tergantung lauknya apa.

Agak menjauh sedikit ke Jalan Sukajadi ada mie kocok bandung. Saya temukan tempat ini tidak sengaja saat jalan kaki sore-sore mau ke mall PVJ. Sebenarnya kurang suka mie yang pipih gede-gede campur toge, tapi karena kaki sapinya jadi sulit berpaling. Ada mie kocok biasa dan ada yang spesial, saya pilih yang spesial karena kaki sapinya lebih banyak tentunya harganya juga lebih mahal, seporsi 19 ribu.

Menjauh sedikit dari sekitar RSHS, yaitu ke Jalan Cihampelas. Disana ada mangkok manis, eskrim yang disajikan bersama kelapa muda di batoknya ditambahkan berbagai macam toping. Seporsi 25 ribu. Saya dan Christine sering sekali melipir kesana sepulang kerja, menghilangkan penat sekaligus mengobati rakus. Setelah itu mampir lagi ke bakso semar masih di Jalan Cihampelas juga tapi harus jalan kaki ke bawah sampai nyebrang perempatan di bawah jembatan layang pasopati. Saya suka banget dengan tulang rusuknya. Biasanya saya pesen bakso spesial berisi bakso gede 1, bakso kecil 5, tahu bakso dan tulang rusuk yang banyak sampai menuhin mangkok. Karena di daftar menu tidak dicantumkan harganya kirain sekitar 30 ribuan melihat tulang rusuknya banyak dan baksonya memang enak terutama yang tahu bakso, ternyata hanya 22 ribu saja.

Bakso Semar 2 di Jalan Cihampelas, ada juga di Jalan Pasteur dll - Bandung.

Ini dia.. pulang dari sini dijamin bakal sibuk ngutek-utek gigi karena banyak yang nyelip.

Kalau males jalan ke bakso semar cukup mampir ke bakso malang tidak jauh dari mangkok manis, dekat dengan Hotel Aston. Ini lebih praktis karena searah dengan jalan pulang. Rasanya ga kalah enak hanya saja tidak ada tetelannya dan harganya 11 ribu saja. Atau kalau males makan bakso, makan soto madura di depan Rumah Sakit Advent, pakai usus dan babat. Lupa istilahnya soto apa. Seporsi 10 ribu sudah include nasi dan teh tawar sepuasnya.

Setelah pergi dari Bandung nanti, saya bakal merindukan semua tempat ini. Entah kapan bisa datang lagi saya tidak punya saudara satu pun di Bandung hanya beberapa teman saja yang tinggalnya entah dimana. Saya juga jarang punya kepentingan di Bandung, hanya pernah meninggalkan sedikit jejak dan membawa pulang seuntai kenangan tentang Bandung yang sejuk dan banyak makanan.

May 8, 2015

Makan Siang Gratis

May 08, 2015 0 Comments
Saya masih pelatihan di RSHS Bandung. Dua hari ini berturut-turut dapet makan siang gratis. Kemaren ada acara syukuran kelulusan dokter spesialis yang mana para petugas di tempat saya latihan, diundang semua. Saya dan Christine diajak juga. Awalnya kami malu untuk ikut acara itu karena kami bukan petugas disana, hanya orang hilang yang sekedar numpang belajar. Tapi namanya diajak oleh tuan rumah ga sopan banget kalau ditolak, itu kan suatu kehormatan buat kami sekaligus pengiritan dan perbaikan gizi hihhi...

Makanannya banyak dan enak semua dari makanan pembuka hingga dessertnya, jauh berbeda dengan makan siang yang kami beli sehari-hari. Bagaikan langit dan bumi. Ya iyalah namanya juga hajatan. Sayangnya perut kami hanya muat buat sepiring nasi dan es krim saja (padahal pengen nambah tapi malu). Kata hadist kan berhentilah makan sebelum kenyang.

Sedangkan hari ini kami dapet makan siang gratis lagi tapi pakai acara harus tebelin muka segala. Ceritanya bos saya lagi mengikuti simposium di gedung sebelah. Beliau menelpon kami untuk mengajak makan siang. Tapi berhubung pekerjaan kami belum selesai beberapa kali kami tidak bisa mengangkat telponnya lagi akhirnya beliau menjemput kami ke tempat latihan. Gubraakk... Kya anak kecil lagi sekolah trus ditengok orang tuanya. Canggung canggung gimana gitu, tapi mungkin bos pengen juga memantau anak buahnya belajar. Untung saja perkerjaan kami tinggal sedikit lagi sehingga beliau tidak menunggu lama.

Kami keluar mengikuti bos setelah meminta ijin kepada petugas disana tentunya. Ternyata kami diajak masuk ke ruang simposium dan disuruh makan disitu. WHAT..!!! Ga enak banget jadi tamu tak diundang, datang ucluk-ucluk mau numpang makan. Beghh... Dan ternyata panitianya para dokter yang sedang PPDS yang ketemu setiap hari di tempat pelatihan. Beliau-beliau kemaren juga jadi panitia di acara syukuran dokter. Oemjii... 2 kali numpang makan siang dengan panitia yang sama. Mau diterusin malu mau balik lagi juga malu sudah terlanjur dianterin oleh bos ke depan meja hidangan.

Peserta simposium kebanyakan sudah selesai makan tinggal satu dua saja yang masih berkeliaran mengambil makanan, dan sepertinya itu juga panitianya. Haduh bos tau gini mending kita makan sendiri aja. Saya berharap semoga dokter-dokter itu ga mengenali muka-muka kami. Tapi sepertinya ga mungkin hampir setiap hari kami bertatap muka walaupun ga pernah bertegur sapa, hanya sesekali saling melempar senyum kalau lagi baik hati. Kami sering berada di ruangan yang sama dengan kesibukan masing-masing sehingga jarang peduli karena memang tidak berkepentingan. Tapi berhubung di ruangan yang sempit saya sendiri pun bisa mengenali wajah-wajah beliau.

Dengan cekikikan bercampur malu serasa muka di pantat saya dan Christine mengambil piring. Tiba-tiba simposium dimulai kembali, bos dan peserta lainnya yang tadinya berkeliaran di dekat meja hidangan, kembali ke tempat duduknya. Tinggallah saya dan Christine yang masih unyul-unyul menyendok nasi dan lauk pauk. Sesekali melirik ke sekeliling memastikan apakah sang panitia melihat kami. Pastinya donk, orang berhadap-hadapan jeh haaaissshhh....

Kami duduk di kursi kosong di belakang tapi bukan deretan kursi peserta. Tadinya mungkin kursi buat istirahat panitia. Sendok demi sendok nasi saya lahap tapi entahlah apa rasanya, sepertinya lidah saya tidak bekerja dengan baik karena tidak sinkron dengan pikiran. Saya hanya tertuju pada bagaimana caranya bisa keluar dari ruangan itu selesai makan nanti.

Saya coba telpon bos minta dianterin keluar biar ga berkesan datang hanya numpang makan, kalaupun iya ya biar tau bahwa diajak oleh beliau. Rupanya bos sibuk mendengarkan presentasi sehingga tidak menjawab telpon dan membaca sms saya. Untunglah kami bisa keluar lewat pintu belakang tempat mas cathering beres-beres. Sampai di parkiran bos menelpon, "Lagi dimana?" "Udah keluar bos, bos mah telat..." Kemudian saya ceritakan keadaan kami sebelumnya "Ga apa-apa..." "Ga apa-apa buat bos, lha kita besok masih bakal ketemu ama beliau-beliau itu hiks hiks..." Memang ga apa-apa sih bos lumayan bisa mengalihkan perhatian dari segala kejenuhan di tempat latihan dan yang pasti saya jadi terinspirasi buat menulis di blog ini.

Karena siang itu masih ada keperluan dengan bos kami tidak kembali ke tempat pelatihan. Nanggung sekali sebentar lagi juga waktunya pulang dan biasanya juga menjelang pulang lebih banyak ongkang-ongkangnya karena perkerjaan telah selesai.

May 3, 2015

Liburan Ke Jogja

May 03, 2015 22 Comments
Saat ini Saya dan Christine berada di dalam kereta ekonomi Pasundan jurusan Surabaya - Bandung. Kami naik dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta dan akan turun di Stasiun Kiara Condong Bandung. Biarpun kereta ekonomi tapi lumayan nyaman ada ACnya walaupun dinginnya sedang cenderung sejuk. Kursinya 3-3 berhadap-hadapan tapi alhamdulillah kami kebagian kursi yang paling belakang yang hanya untuk 2 orang dan menghadap ke depan. Sama juga seperti waktu berangkat. Itulah seninya naik kereta ekonomi jika tidak beruntung keretanya seperti berjalan mundur.

Setelah beberapa saat terdengar klakson panjang kereta bergerak meninggalkan Stasiun Lempuyangan pertanda liburan kami di Jogja telah berakhir sehingga besok kami harus bergelut dengan bakteri lagi. Ya, kami sedang pelatihan mikrobiologi di RS Hasan Sadikin sehingga kami pulang dan pergi bukan dari Cilegon. Kami ke Jogja karena ada tanggal merah di hari Jumat sehingga libur 3 hari. Dalam rangka menemui sang pujaan hati yang sedang kuliah. Tiga hari juga lumayan buat melepas kerinduan dua insan yang sedang long distance. Sejak sebulan setelah tiket confirmed, jantung selalu berdebar-debar membayangkan jalan-jalan sambil bergandengan tangan menikmati romantisnya kota Jogja, dinner berduaan di cafe atau angkringan di pinggir jalan. Tapi itu hanya berlaku untuk Christine bukan saya. Saya sih hanya pengen say hello dengan si ganteng yang selalu setia narik andong mengantarkan para pelancong yaitu kuda. Kasian banget, begitulah nasib jadi jomblo kuda aja kelihatan ganteng.

Ini loh hehehe....

Hari pertama kami sampai di Jogja jam dua siang. Setelah turun dari kereta kami makan soto di dekat Stasiun Lempuyangan hanya 20 ribu saja berdua sudah include es teh manis dan krupuk sepuasnya. Murah sekali pemirsa. Setelah itu kami jalan kaki ke daerah Malioboro yang jaraknya sekitar 1 km. Kami memilih jalan kaki pelan-pelan karena penasaran pengen melihat rumah-rumah penduduk yang unik sambil menggerakkan kaki setelah 9 jam digantung di kereta. Sepanjang jalan tak hentinya kamera saya menjepret apapun yang berada di pinggir jalan. Ternyata asyik banget. Baru kali ini saya jalan-jalan di Jogja padahal rumah orang tua saya di Pacitan hanya 3-4 jam dari Jogja. Saya sering sekali transit dari Jakarta dijemput kakak di Bandara Adi Sucipto atau naik travel langsung pulang ke Pacitan. Ga pernah mampir hehehe... Asli norak banget hari gini baru tau Jogja. Oh ya pernah jalan-jalan mungkin sekitar belasan tahun yang lalu saat masih kelas 4 SD (kalau ga salah) ikut tour dari kantornya bapak. Ke Borobudur, Prambanan, Monumen Jogja Kembali, Gembira Loka dan Keraton. Lupa semua wajah Jogja saat itu seperti apa.

Mungkin baru kali ini saya menginjakkan kaki di Malioboro, dulu hanya duduk manis bermain bersama anak-anak temen bapak yang seumuran. Seingat saya dulu suka terheran-heran setiap bertemu dengan turis berkulit putih.

Jaman dulu kamera masih pakai roll film setelah filmnya habis dicetakin ke studio, 5-7 hari kemudian baru bisa diambil. Sehingga kalau foto harus diirit-irit hanya untuk moment yang penting. Nah saya keheranan dengan turis berambut merah yang jeprat jepret tanpa mikir filmnya akan habis, satu objek bisa sampai beberapa kali jepret. Habis berapa roll ya? Wah pasti orang kaya...

Saat itu di Borobudur dan Prambanan hujan sehingga kami harus menyewa payung. Saya dituntun bapak kadang gantian dengan ibu. Saya keheranan lagi mendengar bahasa asing entah bahasa mana setau saya bukan bahasa Inggris dan juga melihat para penjual baju keliling yang menawarkan baju ke turis-turis berambut merah dengan bahasa Inggris. Yang paling mengherankan lagi guide-guide di setiap tempat wisata menyambut kami sambil menjelaskan semuanya, kok tau ya? "Bu, orang itu pinter ya" "Itu namanya pemandu wisata" kata ibu. Itulah beberapa kenangan tentang Jogja yang masih tersimpan di memory saya.

Kembali ke masa kini. Di sepanjang jalan Malioboro banyak sekali penginapan sehingga kami tidak booking sebelumnya. Christine yang lebih tau karena setiap liburan pasti ke Jogja. Saya hanya mengekor di belakangnya masuk dari gang ke gang yang seperti labirin di kawasan Sosrowijayan menanyakan kamar kosong. Jadi teringat di Phi Phi Island, sepanjang jalan dan lorong berisi penginapan semua. Tinggal pilih mau yang seperti apa, tentunya harga membawa rupa. Setelah sekian lama ditolak karena full dan membanding-bandingkan akhirnya kami menjatuhkan pilihan di Pawon Cokelat Guest House. Harganya sedikit lebih mahal tapi demi kenyamanan kami memilihnya. Kalau di negeri orang biasanya saya ucluk ucluk sendirian tapi berhubung ada Christine ya ga mau pusing pengen terima beres "Kamu aja yang nanya-nanya" hehhe...

Guest House ini masih bangunan baru tapi disetting seperti kuno yang mana lantainya hanya disemen halus tidak pakai keramik sehingga pertama kali masuk ke kamar kami tidak mencopot sendal dikira lantainya kotor. Sempat tanya ke salah satu staf "Mas ini lantai belum jadi apa gimana?" "Ga mbak memang begini" Eh dasar norak ya dan ternyata bener setelah mencopot sendal, kaki kami tetap bersih. Karena terlanjur pakai sendal di kamar akhirnya saya meminjam sapu ke resepsionis. "Kok nyapu-nyapu sih mbak?" tanya mbak resepsionis yang ayu dengan logat Jogjanya. "Kelupaan tadi masuk kamar ga copot sendal".

Nungguin hujan reda di depan kamar, Pawon Cokelat Guest House

Setelah mandi, istirahat dan sholat maghrib Christine janjian dengan sang pujaan hatinya. Saya keliling sendiri ke Malioboro. Melihat batik, kaos oblong dan pernak-pernik yang lucu-lucu, bagus-bagus dan murah-murah. Tangan saya gatel rasanya pengen beli semua. Tapi mengingat kebutuhan, saya hanya membeli dua potong kaos berlengan panjang yang memang saya butuhkan untuk travelling suatu saat nanti. Kebetulan salah satunya tertulis nama saya "Cipta Wening Cipta Mandulu Cipta Dadi" bahasa kejawen yang artinya setelah saya browsing di google "Satu arah dan tujuan kepada yang Maha Tunggal".

Kemudian saya mencari tour ke tempat wisata di Jogja, seperti ke Borobudur, view Merapi dan Prambanan karena ga mau repot mengingat tempat wisata itu letaknya jauh dari kota. Ternyata jarang peminatnya minimal harus 3 orang, sedangkan saya hanya bertemu 1 orang turis Jepang yang bersedia untuk sharing. Bisa 2 orang tapi harus tambah duit lagi. Ada juga yang paket berangkat jam 4 atau jam 5 pagi untuk melihat sunrise tapi males bangun paginya.

Setelah sekian lama mampir ke beberapa travel dan hasilnya nihil saya makan nasi kucing di angkringan di pinggir jalan, sambil ngobrol dengan bapak penjualnya dan beberapa pembeli lainnya. "Ngapain ikutan tour mbak, udah mahal waktunya terbatas lagi mending naik bus sendiri aja" Eh iya juga ya kenapa baru kepikiran, di negeri orang aja saya sering keluyuran naik bus sendirian kecuali kalau tempatnya ga dijangkau oleh angkutan umum. Kenapa di negeri sendiri mau pakai tour. Untung ga nemu teman sharing jadi slamet duit saya.

Keesokan harinya setelah sholat subuh saya dan Christine jalan-jalan ke sekitar Malioboro ke arah Keraton. Langit Jogja pagi itu mendung dan ternyata mengakibatkan hujan kecil rintik-rintik yang tahan lama. Karena hanya iseng jalan-jalan pagi jadi kami tidak persiapan apa-apa. Payung ditaro di dalam tas dan ditinggal di penginapan. Hanya membawa kamera dan selembar uang di saku untuk berjaga-jaga. Hujan semakin deras, kami berteduh di pojok perempatan jalan di gedung Bank BNI yang berseberangan dengan kantor pos. Biarpun menunggu katanya membosankan tapi tetap semangat melihat bangunan jaman Belanda yang masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik. Sekilas seperti Kota Tua di Jakarta atau di Penang dan Melaka Malaysia tapi menurut saya jauh lebih keren di Jogja.

Setelah hujan sedikit mereda kami berlari menerobos hujan untuk kembali ke penginapan. Sampai di kawasan Malioboro kami masuk ke emperan toko di sepanjang jalan tempat pedagang kaki lima sambil cuci mata melihat barang yang lucu-lucu. Sampai di pojok Jalan Sosrowijayan kami harus berhujan-hujanan lagi.

Sampai di penginapan breakfast sudah tersedia. Nasi, gudeg, krecek dan telor seketika langsung ludes kami habiskan. Kehujanan ternyata bisa menambah nafsu makan. Bilang aja laper. Selesai makan hujan semakin deras, sebagian penghuni penginapan yang telah berdandan rapi harus bertahan ngobrol sambil makan kwaci di teras, sebagian lagi meringkuk di dalam kamar termasuk kami. Hujan becek ga ada ojek memang paling enak buat bermalas-malasan. Jadinya hari itu saya dan Christine honeymoon saja memanfaatkan fasilitas yang bagus di dalam kamar. Springbed, bedcover, bantal yang empuk dan semuanya wangi.

Jam 11.30 hujan mereda, saya melangkahkan kaki meninggalkan penginapan. Christine tetap bertahan honeymoon sendiri di kamar. Saya mampir ke abang bakso di seberang pojok Jalan Sosrowijayan sebelum akhirnya sholat dzuhur di Masjid Malioboro lalu naik Trans Jogja ke Prambanan. Rupanya jauuh pemirsa memakan waktu 1,5 jam tapi hanya sekali saja naik bus. Itupun harus berjalan kaki yang lumayan oye sampai ke pintu masuk dan area candi. Syukurlah saya diberi kekuatan sehingga bisa menginjakkan kaki sampai mengelilingi candi. Saya disapa ramah oleh salah seorang guide disana "Mbak suka travelling ya? Udah kemana aja? Saya juga suka travelling, salam kenal ya" Senang sekali, lebih tepatnya sih bangga. Ga sia- sia saya memakai kaos andalan saya yang bertuliskan "Backpacker Dunia" yang memang tujuan saya buat nyari temen. Beberapa kali terlihat orang berbisik-bisik sambil membaca tulisan itu, cihuyy... Gaya euy. Terima kasih kepada mbak Elok sang penggagas grup Backpacker Dunia.

Jangan lihat orangnya baca tulisan di bajunya aja

Saya kembali ke penginapan jam 18.15 masih ada waktu untuk sholat maghrib. Seandainya bus Trans Jogja sampai di halte Malioboro waktu maghrib masih longgar. Karena hanya berhenti di suatu halte (lupa namanya), terpaksa harus jalan kaki yang lumayan jauh bersama turis ganteng entah dari mana dan 2 turis China. Christine sudah berdandan rapi menunggu sang pujaan hati menjemput untuk makan malam. Saya males keluar lagi sehingga dibawakan nasi kucing dan susu jahe.

Hari terakhir di Jogja cuaca sangat cerah. Kami jalan-jalan ke benteng Vredeburg dan Keraton. Sayang sekali waktunya terbatas sehingga agak terburu-buru karena jam 11.00 kami harus sudah kembali ke penginapan untuk mandi, cek out dan ke stasiun. Kereta kami ke Bandung jam 14.00. Di dalam benteng Vredeburg terdapat museum sejarah perjuangan Indonesia mengingatkan pelajaran sejarah semasa sekolah. Tapi semuanya telah lupa dan teramat susah untuk menghafalkannya kembali. Dulu ga pernah bisa sekarang lupa.

"Sebelum ke keraton bersihin dulu upilnya" "He'eh om..."

Di Keraton suasananya adem dan santun pastinya bikin betah. Untuk bertegur sapa dengan abdi dalem saya berusaha menggunakan bahasa jawa kromo inggil walaupun jadinya kacrut. Penggunaan bahasa kromo inggil yang tidak tepat akan bermakna salah kaprah, ada beberapa kata yang santun ditujukan untuk menghormati orang lain tapi tidak tepat digunakan untuk diri sendiri. Contohnya kata "tindak" yang artinya "pergi". "Badhe tindak pundi" (mau pergi kemana), kalimat ini sopan untuk orang lain tapi jika digunakan untuk diri sendiri tidak tepat "Dalem badhe tindak" (saya mau pergi). Biarpun sopan tapi salah, sebaiknya memilih kata yang sedikit lebih biasa dari kata "tindak" (bahasa ngoko). 

Karena saking berhati-hati takut kesleo, bahasa jawa saya jadi campur aduk, kadang kecampur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pada akhirnya lebih lancar pakai bahasa Indonesia. Beda lagi kalau ngobrol dengan keluarga di rumah. Dari kecil terbiasa ngomong bahasa jawa sehingga susah untuk ngobrol dengan bahasa yang lain. Tapi karena tidak ada perasaan takut salah bisa langsung nyerocos tanpa a uu lagi. Inilah penyebab jadi suka dikatain orang gaya banget "Kalau sudah pergi dari kampung jadi lupa dengan bahasa Jawa" sebenarnya bukan lupa tapi efek karena terlalu berhati-hati takut tidak sopan.

Bersama abdi dalem di keraton, jadi malu saya ketauan aslinya "kalem"

Ini juga ga kalah kalemnya...

Sebelum kembali ke penginapan kami mampir ke pusat oleh-oleh khas Jogja untuk membeli sedikit buah tangan buat teman-teman di Bandung. Abang becak yang mengantarkan kami setia menunggu kami berbelanja. Tak lupa juga kami mampir ke salah satu toko batik tapi hanya membeli sepotong batik untuk diri sendiri. Sekian liburan singkat kami di Jogja. Diperkirakan jam 23.20 kereta kami akan sampai di Bandung.