Dec 19, 2014

Backpacking Bersama Ibu Part 1- Makan Nasi Goreng di'Cat

Setiap kali pulang keluyuran dari negeri orang ataupun di negeri sendiri saya selalu cerita kepada ibu pastinya beliau selalu merespon dengan ekspresi yang tak kalah senangnya. Lama-lama saya sadar kasian sekali beliau hanya menjadi pendengar setia alangkah baiknya kalau sesekali diajak biar ikut menikmati betapa indahnya dunia, ya setidaknya biar punya sedikit cerita.

Mengajak orang tua tentunya harus lebih prepare, itinerary harus jelas ga bisa sembarangan seperti biasanya saya yang asal berangkat. Mulai dari jam berangkat, flight jangan terlalu pagi atau malam agar ga mengganggu waktu istirahatnya, penginapan harus tinggal cek in ga mencari-cari lagi setelah sampai di tujuan, lokasi penginapan harus strategis terutama dekat dengan makanan halal, angkutan selama disana juga harus dipikirkan naik bus, subway atau taksi tentunya yang sesuai dengan kantong saya tapi yang tidak menyusahkan.

Jaman sekarang segalanya mudah tinggal booking online, semua beres. Tapi kebanyakan butuh kartu kredit dan saya tidak punya karena males punya kartu pinjaman. Lebih suka debit yang menurut saya masih praktis juga. Banyak cara beli tiket pesawat bisa langsung booking sendiri ke airlinesnya atau melalui situs-situs pembelian tiket online yang terpecaya dengan pembayaran sistem transfer.

Kalau  ga mau repot bisa pakai cara gampang tinggal duduk manis yaitu ikut travel tour tapi tentunya harus siap kocek yang lebih dan itu jarang tertulis di kamus saya. Lebih enak jalan sendiri bebas mengatur diri seenak udel dan ga terikat oleh jadwal. Destinasinya pun terserah mau kemana menuruti kata hati dan kaki ingin melangkah.

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya terlintas ingin mengajak ibu ke Singapura, Malaysia dan Thailand lewat jalur darat. Karena beliau suka diajak berpetualang melihat tempat dan sesuatu yang baru. Berangkat dari Singapura pulang dari Bangkok. Tapi setelah browsing ternyata tiket promo yang murah hanya ke Singapura dan pulangnya dari KL. Yang pulang dari Bangkok mahal-mahaal. Okey no problem ke Thailand bisa ke Hatyai aja cukup melihat daerah yang berbatasan dengan Malaysia, saya ingin ibu menginjak 3 negara sekaligus.

Beruntung sekali tiket yang paling murah saat itu berada di jam 14.00 untuk berangkat dan jam 11.30 untuk pulang. Jadi paginya ga terburu-buru ke bandara dan sampai di tempat tujuan pun masih siang. Masih banyak angkutan umum yang murah tentunya hehhe...

Setelah chatting dengan beberapa teman Backpacker Dunia ternyata tidak disarankan ke Hatyai dengan alasan terlalu jauh dan di sana ga banyak yang bisa dilihat. Kasian ibu hanya capek di jalan. Saya disarankan dari Singapura mampir ke Melaka dan lanjut ke KL. Banyak pilihan bus langsung dari Singapura - Melaka dan dari Melaka - KL. Tinggal diusahakan sampai di Melaka siang hari karena jarak terminal ke kota lumayan jauh. Baiklah saya dengarkan saran dari teman-teman sekaligus penasaran karena belum pernah ke Melaka.

Selain bus langsung ada juga bus yang sambung menyambung dengan harga lebih murah, yaitu dari terminal Queen Street Bugis Singapura naik bus Causeway Link ke terminal Larkin Johor Bahru dengan ongkos 3SGD/orang. Nah dari terminal Larkin banyak pilihan bus ke berbagai daerah di Malaysia seperti ke Melaka, KL, Penang, Kedah dan lain-lain bahkan ada juga yang ke Hatyai. Tapi mengingat membawa orang tua yang lebih praktis pastinya naik bus yang langsung okeylah harus membayar lebih mahal.

Beres urusan pesawat dan bus sekarang ganti ke urusan penginapan. Setelah browsing saya menemukan hostel private room 60SGD/malam di daerah Bugis dekat dengan stasiun MRT, halte bus, terminal Queen Street dan masjid. Pasti banyak makanan halal disekitarnya.

Satu bulan kemudian... (kya sinetron)
Di suatu siang yang cerah pesawat murah air mendarat di bandara Changi. Saya menyeret koper keluar dari pesawat, berjalan berdampingan dengan ibu menyusuri lorong menuju terminal 1. Suasana tidak begitu ramai karena bukan peak season. Selesai urusan imigrasi kami menuju ke stasiun MRT mengikuti papan petunjuk yang telah terpasang dimana-mana. Walaupun jauh naik turun tapi untungnya serba eskalator dan lift. Tak lupa men'top up kartu Ez Link saya dan membelikan tiket single trip untuk ibu menuju ke stasiun Bugis.

Di Bandara Changi

Tak lama kemudian kereta yang tidak begitu penuh membawa kami ke stasiun tanah merah. Lalu kami pindah kereta ke arah Joo Koon. Disini kereta lumayan penuh tidak ada tempat duduk lagi, tapi salah satu penumpang langsung berdiri memberikan tempat duduk untuk ibu. Penumpang lanjut usia, ibu hamil, dan difabel memang diprioritaskan. Khususnya kursi yang di dekat pintu ditempeli gambar orang hamil, membawa anak, manula dan difabel. Penumpang disana punya kesadaran yang tinggi, mereka akan menghindari kursi prioritas itu.

Sampai di stasiun Bugis kami turun lalu mencari jalan keluar untuk menuju ke penginapan. Seingat saya ambil ke kanan arah Raffles Hospital dan nyebrang 3 kali. Ternyata lumayan jauh kira-kira setengah kilometer. Maaf ya bu.. Untungnya beliau terbiasa jalan. Tidak susah menemukan penginapan yang ternyata persis seperti gambar di internet. Berada di gang kecil dari depan bentuknya seperti warnet.

Setelah cek in kami diantar ke kamar oleh salah satu staf dan diajak berkeliling ditunjukkan semua kamar mandi, dapur dan seisinya yang semuanya boleh dipakai. Kamarnya sederhana sekelas hotel melati, berAC, tidak terlalu sempit tapi tidak juga luas masih cukup untuk gelar sajadah, bersih tapi tidak berjendela. Ada lemari dan gantungan baju, meja, handuk dan air mineral. Ibu sepertinya kurang nyaman apalagi kamar mandinya berada di luar walaupun tidak mengeluh tapi terlihat dari tatapannya. Akhirnya setiap mau ke kamar mandi saya selalu mendampingi dan menunggunya di depan pintu sampai selesai. 

Tapi akhirnya merasa senang setelah disapa oleh turis Afrika yang tak sengaja bareng ke kamar mandi "Hi mommy.." Ibu terheran-heran melihat keakraban dengan sesama penghuni hostel.

"Kalau di penginapan begini memang merakyat bu saling bertegur sapa, beda dengan di hotel mahal pasti jaga privasi. Disini ada dapurnya juga kalau mau air panas, masak mie, pinjem gelas, piring, mesin cuci, setrika semua boleh asal selesai diberesin lagi" jadi punya alasan buat membela diri.
"Enak ya berarti kya di rumah" akhirnyaa....

Selesai sholat maghrib kami keluar mencari makan sekaligus mencari masjid yang katanya dekat dari penginapan. Ternyata memang dekat, berada di belakangnya. Di sekitar masjid banyak restoran halal tapi beberapa sudah tutup. Saya mengajak ibu masuk ke salah satu restoran yang direkomendasikan oleh teman. Kami memesan nasi goreng dan es teh manis. Tak berapa lama pesanan kami disajikan. Ternyata porsinya buanyak kalau saya bisa dimakan 3 kali, warnanya meraaaahh, baunya lengus amis telur, campur ayam dan kambing. Padahal tadinya terbayang nasi goreng di lndonesia yang kuning-kuning merona, dicampur daging ayam trus pakai telur ceplok di atasnya. Yang ada malah kya gini...

Kata ibu nasi goreng di cat

Kalau tidak ingat harganya saya tidak mau makan, bener-bener bau uamiiis sepertu kambing yang tidak mandi setahun. Mendingan makan nasi putih pakai sambel trasi dan krupuk. Suapan pertama rasanya mau m*ntah tapi karena bayarnya pakai dolar terpaksa harus ditelen. Dua kali suap harus diselingi makan timun dan minum teh.

Ibu lumayan lahap entah lapar, suka atau terpaksa. Tadinya khawatir karena beliau tidak biasa dengan makanan asing ternyata malah kelihatan menikmati. Justru saya sendiri yang seleranya masih kampung. Cukup sekali deh ke restoran lndia. Rasanya sih agak mending tapi baunya bikin kapok.

Selesai makan kami jalan-jalan ke Garden by The Bay. Lampu-lampu di tamannya bagus setiap saat berganti warna, saya juga baru pertama kali kesana. Sebenarnya mau lihat laser show yang gratisan di pantai marina tapi sudah kemalaman. Belakangan tau ternyata malam itu tidak ada pertunjukan. Lalu jalan-jalan di sekitar Marina Bay Sand, Helix Bride dan sesekali duduk-duduk sambil makan bekal. Malam itu tidak begitu banyak turis berkeliaran, kata ibu "Ternyata Singapura sepi". Sejak dari bandara memang sepi sekali. Hanya di MRT dari Tanah Merah ke Bugis yang banyak orangnya selebihnya sepi.

Pagi itu setelah sholat subuh kami bermalas-malasan di kamar. Kira-kira jam 8 saya keluar nengok ke dapur. Ada teh, kopi, roti, mentega dan berbagai macam selai. Lumayan membangkitkan selera dari pada nasi goreng yang di cat merah semalam. Saya membuat roti bakar dan teh manis dan membawanya ke meja di lorong sebelah. Saya berkenalan dengan traveler dari lndonesia mbak-mbak dari Kalimantan, yang sudah berdandan rapi dan siap jalan-jalan. Selain itu ada beberapa keluarga yang saya dengar dari Jakarta tapi tidak mau bertegur sapa hanya lirik-lirikan sesaat. Entah kenapa ketemu sesama lndonesian malah melengos.

Selesai makan saya balik ke kamar, rupanya ibu sudah bangun dan saya ajak keluar untuk makan. Saya bawakan juga makanan instant dari rumah seperti Indomie, mie gelas, energen, susu barang kali ibu tidak selera dengan sarapan di hostel. Tapi beliau pilih roti bakar.

Jam 10 lewat yang mana penghuni hostel lainnya sudah jalan entah sampai mana, kami baru siap beranjak dari hostel. Tujuan kami ke Merlion Park, katanya ke Singapura belum lengkap kalau belum berfoto dengan patung singa muntah. Cuacanya panas menyengat tapi saya telah menyiapkan topi dan payung untuk ibu.


Selfie sukaesih di Merlion Park

Puas berfoto-foto tiba-tiba panas berganti dengan hujan rintik-rintik. Untungnya kami sudah berada di depan esplanade lalu masuk ke dalam untuk berteduh sekalian dan naik MRT ke stasiun Harbourfront untuk melanjutkan jalan-jalan ke Sentosa Island.

Kesan dari ibu, Singapura bagus banget semua terlihat menarik. Naik ke bukit disediakan eskalator, di tengah hutan disediakan tempat istirahat yang dilengkapi dengan musik-musik, bus gratis, kereta gratis, dan yang paling disalutkan adalah kebersihannya. Singapura memang punya kesadaran sangat tinggi akan kebersihan lingkungan. Buang sampah dan meludah sembarangan akan didenda.

Sejak keluar hostel sampai ke Sentosa Island suasananya ramai tidak seperti malam sebelumnya yang terlihat seperti tidak ada orang. Melihat keramaian ibu jadi semangat berada diantaranya. 

"Singapura ternyata rame ya" hahaha...
"Ibu pengen ke tempat orang lndonesia belanja-belanja ga?" "Ga usah ga pengen..."

Hehehe... Baguslah saya juga males. Inilah salah satu kebiasaan yang diturunkan ibu ke saya, tidak suka shopping.

Sampai disini dulu ceritanya... Lain kali diterusin lagi yang di Melaka dan Kuala Lumpur. See you...

1 comment:

  1. Wah sangat mengispirasi nih. Bikin pingin liburan bersama ibu saya.

    ReplyDelete

Comment tapi jangan spamming yess!! Salam hormat High Quality Gembel.