May 17, 2015

Bandung Lautan Makanan

Baru juga jam 19.30 WIB nona Christine sudah tertidur pulas. Seharian dia pergi meninggalkan saya, maksudnya pergi ke gereja berlanjut nengok adiknya sampai pulang menjelang malam sehingga kecapekan dan langsung bobo. Tapi ga juga sih ga kemana-kemana pun dia mah pelor, sambil nunggu giliran mandi aja bisa ketiduran, selesai mandi juga langsung tidur lagi. Ga kya saya mau mulai tidur aja kadang susah banget dan akhirnya jadi susah bangun. Denger suara sedikit terbangun dan susah merem lagi, kalau nona yang satu ini mau ada suara kya apa diutak utik kya apa tetep angleerr. Paling bergerak sedikit pindah posisi sambil kretuk-kretuk kya ngunyah permen. Karena nona sudah tidur jadi saya merenung sendiri sambil baca buku dan nonton TV. Berita di TV banyak memberitakan kemacetan lalu lintas akibat long weekend termasuk arus dari Bandung menuju Jakarta.

Memasuki minggu ketiga di Bandung saya mulai gelisah berarti sebentar lagi tidak sampai 2 minggu saya harus kembali lagi ke habitat awal yaitu ke Cilegon. Tinggal di Bandung sebenarnya betah ga betah. Betah karena bisa refreshing dari rutinitas di tempat kerja yang tak dipungkiri kadang sangat membosankan. Pasien marah-marah, bos cemberut ngomel-ngomel kurang sajen, telpon krang kring sepanjang waktu beegghh... Rasanya males balik. Tapi namanya bertamu di tempat orang apalagi dalam rangka belajar banyak kikuknya, walau sudah dilatih ikut kerja tapi tidak sebebas di tempat sendiri. Banyak kekhawatiran takut salah, takut rusak, takut menggagalkan kerjaan orang jadinya pengen cepat berlalu dan kembali ke asal. Apalagi tinggal di kost-kost'an sementara dengan fasilitas seadanya, tidak seperti kost saya dengan semua perabot dan perbekalan yang saya butuhkan.

Saya kangen laptop. Biar laptop jadul tapi alhamdulillah sampai sekarang masih berfungsi dengan baik. Karena berat, saya tidak pernah membawanya kemana-mana. Selain itu kangen ama cobek. Saya suka sekali makan rujak tapi ga suka sambelnya yang pakai gula merah apalagi pakai kacang wueekk... Lebih suka ngulek cabe sendiri ama garam yang banyak trus ditambah sedikit bumbu sachet. Cceesss... #ngiler.

Selesai sholat isya saya sering keluar membeli capcay kuah di tenda romantis depan pager kost. Cemilan saya sebelum tidur. Ga bikin gemuk kok karena banyak sayurnya. Buktinya saya tetap langsing. Sambil menyendok pelan-pelan karena masih panas saya menikmati moment yang sebentar lagi akan saya tinggalkan. Biasanya banyak mahasiswa kedokteran makan disitu. Kadang ada yang nehi-nehi seperti ratu jodha. Abang penjualnya sampai hafal saya ga suka pakai krupuk. Harganya 11 ribu rupiah.

Tidak jauh dari tenda romantis ada Kantin 29, tapi bukanya hanya siang hari. Kantin prasmanan dengan beraneka masakan seperti masakan rumah, seperti masakan saya (ibu saya maksudnya). Sebelum tau adanya kantin ini saya selalu makan siang berpindah-pindah, asal masuk ke suatu tempat kadang rasanya cocok kadang asal kenyang. Sampai suatu hari nemu kantin favorit ini dan akhirnya enggan cari yang lain kecuali jika makanannya habis. Harganya standar tergantung lauknya apa.

Agak menjauh sedikit ke Jalan Sukajadi ada mie kocok bandung. Saya temukan tempat ini tidak sengaja saat jalan kaki sore-sore mau ke mall PVJ. Sebenarnya kurang suka mie yang pipih gede-gede campur toge, tapi karena kaki sapinya jadi sulit berpaling. Ada mie kocok biasa dan ada yang spesial, saya pilih yang spesial karena kaki sapinya lebih banyak tentunya harganya juga lebih mahal, seporsi 19 ribu.

Menjauh sedikit dari sekitar RSHS, yaitu ke Jalan Cihampelas. Disana ada mangkok manis, eskrim yang disajikan bersama kelapa muda di batoknya ditambahkan berbagai macam toping. Seporsi 25 ribu. Saya dan Christine sering sekali melipir kesana sepulang kerja, menghilangkan penat sekaligus mengobati rakus. Setelah itu mampir lagi ke bakso semar masih di Jalan Cihampelas juga tapi harus jalan kaki ke bawah sampai nyebrang perempatan di bawah jembatan layang pasopati. Saya suka banget dengan tulang rusuknya. Biasanya saya pesen bakso spesial berisi bakso gede 1, bakso kecil 5, tahu bakso dan tulang rusuk yang banyak sampai menuhin mangkok. Karena di daftar menu tidak dicantumkan harganya kirain sekitar 30 ribuan melihat tulang rusuknya banyak dan baksonya memang enak terutama yang tahu bakso, ternyata hanya 22 ribu saja.

Bakso Semar 2 di Jalan Cihampelas, ada juga di Jalan Pasteur dll - Bandung.

Ini dia.. pulang dari sini dijamin bakal sibuk ngutek-utek gigi karena banyak yang nyelip.

Kalau males jalan ke bakso semar cukup mampir ke bakso malang tidak jauh dari mangkok manis, dekat dengan Hotel Aston. Ini lebih praktis karena searah dengan jalan pulang. Rasanya ga kalah enak hanya saja tidak ada tetelannya dan harganya 11 ribu saja. Atau kalau males makan bakso, makan soto madura di depan Rumah Sakit Advent, pakai usus dan babat. Lupa istilahnya soto apa. Seporsi 10 ribu sudah include nasi dan teh tawar sepuasnya.

Setelah pergi dari Bandung nanti, saya bakal merindukan semua tempat ini. Entah kapan bisa datang lagi saya tidak punya saudara satu pun di Bandung hanya beberapa teman saja yang tinggalnya entah dimana. Saya juga jarang punya kepentingan di Bandung, hanya pernah meninggalkan sedikit jejak dan membawa pulang seuntai kenangan tentang Bandung yang sejuk dan banyak makanan.

3 comments:

Comment tapi jangan spamming yess!! Salam hormat High Quality Gembel.