Mar 13, 2015

Cerita Dari Tanah Suci

Menyimak pengalaman orang saat berada di tanah suci, kadang seperti sesuatu yang sulit dipercaya. Masa sih? Kok Bisa? Ya memang benar adanya. Begitulah dahsyatnya kekuasaan Allah. Perbuatan dan perkataan apapun entah baik atau buruk begitu cepatnya akan mendapat balasan dari-Nya. Wallahualam saya sendiri beberapa kali pernah merasakan. Dikira hanya berlaku buat jamaah haji ternyata umroh pun juga begitu.

Saat di Madinah beberapa hari saya tidak pernah bermasalah meletakkan sandal di rak. Asalkan hafal nomer pintu dan raknya pasti tidak susah menemukannya lagi. Tapi hari terakhir sebelum pindah ke Mekah saya meletakkan sandal sambil bercanda dengan teman “Di sini mah sandal ga bakal ilang”. Setelah itu jadi membayangkan seandainya sandal hilang pulangnya gimana ya?. Ternyata benar saat pulang sandal tidak ada. Padahal disatukan dengan teman-teman yang lain berempat. Hanya tersisa sandalnya ibu-ibu, saya berdua teman sesama jomblo harus nyeker pulang ke hotel sambil panas-panasan.

Pernah iseng bareng teman di lift hotel. Kebiasaan orang Indonesia kalau antri lift suka dorong-dorongan tidak sabar. Saat itu kami bareng dengan jamaah di lantai 3 dan 4, hanya tersisa kami berdua yang akan ke lantai 7 tapi mencet tombol sampai lantai 10 sehingga akan bergerak terus ke atas dan berhenti di setiap lantai. Padahal di bawah masih ada yang antri. Dua hari kemudian setelah pindah ke Mekah, tidak ada yang iseng atau apa, tapi lift yang kami naiki tiba-tiba jatuh. BREGGGGG!!!! Baju saya ketumpahan kopi yang dibawa seorang bapak. Astaghfirullahaladzhim… Seketika gemetar ingat keisengan di Madinah. Kapok banget Ya Allah tidak akan pecicilan lagi. Kapoookk. Ampun Ya Allah.

Sholat di Masjidil Haram tenang sekali tidak banyak suara anak kecil nangis seperti di Masjid Nabawi. Saya membatin “Disini kok ga ada anak kecil nangis ya”. Eh pas sholat-sholat berikutnya ada saja anak nangis teriak-teriak malah ada yang persis di sebelah saya.

Pernah di sebelah saya entah orang mana, di depannya ada ibu-ibu Turki berbadan gede. Rakaat pertama masih lancar, rakaat kedua beliau susah berdiri dan melanjutkan sambil duduk. Tapi duduknya terlalu ke belakang sehingga menghalangi orang di sebelah saya untuk sujud. Jadi harus mendorong pantat ibu gede itu tapi karena terlalu gede susah bergeser sedikitpun dan sujud di tempat seadanya hampir mencium pantat orang. Selesai sholat beliau marah-marah menegur ibu Turki itu. Saya ketawa melihatnya. Tiba-tiba saat sholat berikutnya saya mengalami hal yang sama persis, susah sujud ada pantat gede di depan menghalangi. Astaghfirullahaladzhim... Tuh kan gara-gara menertawakan orang...

Melihat banyak burung berterbangan di atas Ka’bah, saya hanya berpikir “Burung segitu banyak apa ga ada yang buang kotoran ya?” karena Masjidil Haram selalu bersih tidak ada kotoran burung. Tak berapa lama tiba-tiba melihat kotoran burung yang sudah kering menempel di atap lantai satu. Jalan beberapa langkah melihat lagi, jalan sebentar melihat lagi terus saja sampai berkali-kali. Bahkan ada yang masih basah. Saya berdoa “Ya Allah sudah cukup jangan tunjukkan kotoran burung lagi”. Benar saja tidak pernah melihatnya lagi.

Tenggorokan sering terasa kering jadi harus sering minum. Tapi setelah minum selalu beser. Paling males terasa pengen pipis saat di dalam masjid. Masjidnya besar sekali kadang muter cari toilet tidak ketemu. Jadi mending ditahan sampai pulang ke hotel. Sejak itu sebelum minum air zam-zam selalu saya tambahkan doa “Ya Allah mohon jangan dikasih beser” dan benar saja selalu kerasa pengen pipis jika sudah sampai di hotel. Alhamdulillah.

Cerita dari seorang teman, sebelum berangkat umroh beliau berniat akan mengutamakan ibadah tidak akan belanja-belanja. Ternyata baru sehari sampai di Madinah diminta tolong temannya buat anter belanja. Rupanya jadi tergiur dan belanja juga. Eh pulangnya tersesat sampai 2 jam tidak ketemu jalan ke hotel dan ke masjid padahal jaraknya tidak seberapa jauh. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya ketemu tapi sampai di masjid kakinya sakit luar biasa. Sholat berikutnya tidak bisa ikut ke masjid. Lalu nangis memohon ampun kepada Allah sambil mencuci kakinya dengan air zam-zam dan Alhamdulillah sembuh.

Satu lagi cerita teman sekamar, kami hendak ke sholat ke masjid. Sebutlah Ibu Dian beliau akan bareng suaminya yang kamarnya bersebelahan dengan kamar kami. Kami pergi duluan. Ternyata suaminya tidak jadi berangkat dan Ibu Dian nekad berangkat sendiri.

"Emang berani?" tanya suaminya. 
"Berani" jawabnya dengan perasaan kesal. 

Tak taunya pulang dari masjid beliau tersesat sampai dua jam tidak ketemu jalan pulang. Padahal jarak hotel dengan halaman Masjidil Haram hanya 100 meter. Atap hotelnya pun terlihat dari pintu 1 King Abdul Aziz. Tapi kata beliau benar-benar lupa dan tidak melihat hotel itu. Akhirnya kembali ke masjid nangis sambil berdoa kepada Allah minta ditunjukkan jalan pulang, setelah itu baru kelihatan hotelnya "Ternyata deket banget". Sampai di hotel beliau nangis gemetaran.

Saya dan Ain teman iseng.

Doa yang dipanjatkan disana katanya akan dikabulkan. Saya berdoa pengen ke tanah suci lagi bersama ibu baik pergi haji ataupun umroh, alhamdulillah 2 tahun kemudian diberi kesempatan umroh lagi bersama ibu. Ada juga doa-doa yang lain yang terkabul tapi rahasia ah hehehe...

Suatu hari saya, ibu dan nenek teman sekamar, duduk di Masjid Nabawi selesai sholat dhuha. Tiba-tiba ada seorang ibu dari Indonesia yang terlihat jalan terburu-buru hendak ke Raudhah. Kami coba mengikutinya dan ternyata Raudhah masih dibuka. Saat itu jam 10.15, jika sampai jam 11.00 belum bisa masuk, kami akan balik ke hotel karena belum mandi ikhrom. Selepas dzuhur harus berangkat ke Mekah. Ternyata tidak sampai 30 menit bisa masuk ke Raudhah dengan gampang sekali tidak berdesakkan seperti sebelum-sebelumnya. Awalnya susah sekali tidak ada tempat sholat tergeser lagi tergeser lagi. Jangankan sholat berdiri saja susah. Saya berdoa dalam hati " Ya Allah mohon berikan kami tempat sholat". Dan seketika orang-orang disekitar kami seperti minggir sendiri-sendiri sehingga kami bisa sholat dengan membuat shaf bertiga. Seandainya di depan dibuat 1 shaf lagipun masih bisa. Benar-benar merinding begitu kecilnya Raudhah, taman surga tempat mustajab yang diinginkan oleh umat muslim di seluruh dunia, saat itu terasa longgar sekali. Kami bisa sholat dengan tenang tanpa tersenggol oleh jamaah lain. Subhanallah benar-benar kuasa Allah. Tepat jam 11.00 kami kembali ke hotel dengan perasaan seperti mimpi.

Selain pengalaman-pengalaman diatas ada juga pengalaman lucu. Saat saya, ibu dan nenek teman sekamar sholat subuh ke Masjid Nabawi bersama Mbak Ida, ibu dan adenya. Kami duduk tidak satu shaf tapi berdekatan sehingga pulangnya masih bisa bersama. Ibu menggandeng nenek, saya mengikuti di belakangnya. Ibu Mbak Ida digandeng adenya diikuti Mbak Ida dari belakang. Tiba-tiba karena berdesakan saya kehilangan jejak ibu dan malah mengikuti ibunya Mbak Ida. Akhirnya misah mencari ibu tapi malah ketemu dengan Mbak Ida.

"Mbak ibu saya mana ya?"
"Tadi ada di depan gw, gw juga nyari emak gw mana ya?"
"Tadi juga ada di depan saya mbak"
"Waduh gimana ini emak kita ilang"
"Sandal saya dibawa ibu mbak"
"Sama gw juga"
"Gimana sih mbak ga bisa njagain ibunya"
"Lo juga ga bisa jagain ibunya" hahaha...

Kami mencari ke segala arah tidak juga melihat beliau-beliau semua. Sekian lama menunggu di halaman masjid akhirnya kami berdua pulang ke hotel sambil nyeker. Kami langsung ke restoran dan rupanya beliau semua sudah berada disana.

"Tadi nyasar ga bu?"
"Sedikit"
Hiks.. Kasian :(

Waktu di Mekah pulang dari masjid saya pernah kehilangan ibu juga. Saya pegang mukenanya dari belakang, hanya sebentar sekali ditinggal melirik cowok ganteng tau-tau kok jadi megang mukenanya orang. Sumpah ganteng bangeeett. Dan lagi-lagi ketemu dengan Mbak Ida yang juga kehilangan ibunya gara-gara lihat pedagang. Entah pedagang atau dagangannya yang dilihat.

Paling berkesan lagi, kami segrup kebanyakan manula dari 26 orang hanya beberapa saja yang masih muda termasuk saya (ciee..masih muda ya). Semua kompak sekali saling menjaga satu sama lain. Nurut semua tidak ada yang ketinggalan karena kebanyakan belanja. Ada nenek-nenek yang ribut mulu dengan anaknya, ada sepasang kakek nenek yang biasa kami panggil pak haji dan bu haji. Pak haji suka menghilang tapi tiba waktunya berangkat tiba-tiba nongol sendiri. Sedangkan bu haji, sandalnya dibawa siapa, tasnya dibawa siapa, handphonenya dibawa siapa, orangnya tidak ada. Kalau ketemu teman segrup senangnya luar biasa. "Alhamdulillah inna ma'al yusri yusron, untung ketemu neng ibu takut ga bisa pulang ".

Saya, Ibunya Mbak Ida, Nenek, Ibu dan Mbak Ida

Jika mengingat semuanya rindu sekali ingin kembali lagi ke tanah suci. Semoga suatu saat Allah memberikan kesempatan buat kita semua untuk pergi haji ataupun umroh. Aamiin Ya Robbal Alamin. Dan semoga semua ini bisa menjadi pelajaran untuk senantiasa menundukkan diri kepada Allah SWT dimanapun dan kapanpun. Insya Allah.

4 comments:

  1. wkwkwkwkwk....pengalaman umroh yg tak pernah terlupakan apa lg dng orang2 yg baik dan kompak. smoga suatu saat kesn lagi bisa bertemu orang2 seperti kalian

    ReplyDelete
  2. kok cerita yg aku naik jabal rahma dan foto2 di jabal rahmah ga di ceritain itu cerita lucu,,, ada tangga kok naiknya pake majat bebatuan serasa lg panjat tebing pake gamis hahahaha....kangen kangen kangen sumpah kangen bgttttt

    ReplyDelete
  3. Oh iya yaaa..kmrn dirimu ditanya diem aja, akyu kan lupa hahha... Ya udah ceritain aja dikomen sini :D

    ReplyDelete

Comment tapi jangan spamming yess!! Salam hormat High Quality Gembel.